Setelah itu keduanya berahli menuju ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil menikmati coklat hangat dalam diam. Sesekali keduanya saling melirik satu sama lainnya.
"Hm, Luhan. Ada yg ingin ku..bicarakan." Ucap Sehun dengan nada serius sambil menatap Luhan dengan pandangan yg sulit diartikan.
"N..ne?" Tanya Luhan bingung dan sedikit gelisah dengan pandangan Sehun padanya.
Blush~
Sehun menggenggam kedua tangan munafik Luhan yg terasa pas digenggamnya. Menatap Luhan dengan pandangan seolah ingin mengatakan sesuatu yg berharga. Luhan hanya mampu menunduk karna malu dan juga gugup bersamaan.
Semuanya masih hening, hingga kemudian Sehun mengucapkan sesuatu hal yg sudah dipendamnya selama bersama Luhan. Dia merasa harus mengatakan ini.
"Lu..."
Summary : Inilah hidup. Penuh dengan kenangan-kenangan yg tak terlupakan. Kesedihan dan kegembiraan, kasih dan cinta. Menerawang disetiap sudut kehidupan, yg belum tentu akan berbuah manis. Bagaimana kisah antara Sehun dan Luhan dalam sebuah takdir yg mempertemukan mereka? Akankah takdir yg itu membuahkan hasil yg manis?
●Chap.4●
"Lu, mungkin ini terdengar lucu. Tapi..." Ucap Sehun menjedah lagi.
Namja tanpa itu tampak gelisah, sedari tadi dia menunduk dan memandang kesana kemari. Seolah dia berusaha untuk tidak menatap mata rusa Luhan yg indah yg terus memandangnya.
"...kau mau kan jadi..em sahabatku. Aku tau ini terdengar aneh, cuma selama ini kan kita seperti teman. Jadi aku ingin kau menjadi sahabatku." Lanjut Sehun sambil menggenggam erat kedua tangan Luhan.
Luhan? Yeoja itu menampilkan wajah andalannya, cengo. Sungguh, dia kaget. Dikiranya Sehun mau menyatakan perasaannya. Tapi kenyataan? Astaga Wu Luhan. Apa yg kau harapkan darinya., gumam Luhan lirih.
"Te..tentu. Sehun. Tentu kita bersahabat." Ucap Luhan terdengar senang namun didalamnya terdapat ke-lirihan.
"Gomawo, Lu." Ucap Sehun kemudian memeluk Luhan dengan senang tapi sebenarnya didalam hatinya dia berteriak menjodohkan dirinya.
Keesokan harinya. Luhan kini tampak memasak sesuatu hal yg dia pun tidak tau. Sehun pulang sejak pagi karena dia harus segera ke sekolah.
Sejak tadi, Luhan tidak fokus dengan masakannya. Pikirannya menerawang kejadian dimana Sehun mengungkapkan hal yg tidak diharapkannya(?).
"Ah~" entah untuk ke berapa kalinya dia menghela nafas gusar.
Tangannya terus mengaduk masakan, namun pandangannya luruh ke depan dengan kosong. Dia merasa hatinya mendadak sakit, padahal ini tidak pernah terjadi pada diri nya yg sebelumnya.
Tak.
Dengan lemas dia menghentikan aksi memasaknya, dan kemudian mematikan kompornya. Tidak perduli dengan masakannya, Luhan terakhir masuk kedalam kamar. Setiba di kamar, dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur yg tetap saja membuatnya gelisah.
Lagi-lagi dia berlarut dalam pikiran. Membuatnya menekankan matanya gusar. Tiba-tiba sebuah ponsel berbunyi, tapi tidak diperdulikannya. Ketika bunyi ponsel berhenti, kembali lagi bunyi itu. Sungguh, Luhan tanpa melihat siapa penelepon langsung mengangkat dengan amarah.
"NUGU!" bentak Luhan kesal
"Hm, Lu. Kau..tidak apa-apa?" Tanya seseorang yg Luhan mualim sangat kenal suaranya.
"Se..Sehun." Ucap Luhan gugup karena membentak Sehun.
"Ah~ Lu. Ya, ini aku Sehun." Ucap Sehun si seberang sama dengan riang.
"Waeyo? Ada apa menelfonku?" Ucap Luhan sambil berpikir 'Sehun pasti merindukanku. Kekeke'.
"Hm, begini Lu. Ponsel yg sedang kau pegang itu... milikku." Ucap Sehun membuat Luhan membelak tidak percaya.
Langsung saja Luhan memandang kearah ponsel yg dipegangnya. Astaga, ini bukan ponselku - gumamnya gelisah dan malu.
"Lu?" Terdengar suara Sehun dan langsung saja Luhan kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ne. Apa kau ingin aku mengantarnya ke sekolah mu?" Tanya Luhan seolah tau keinginan Sehun. #ahh~ sejati rupanya.
"Ne, Lu. Tapi..Apa kau tau jalan?" Tanya Sehun tampak tidak nyaman. Pasalnya dia tau Luhan baru beberapa minggu di sini, tidak memungkinkan yeoja rusa manis sahabatnya ini biasa tau jalan. Bisa-bisanya dia di culik lagi, mengingat betapa cantik dan manisnya sahabatnya itu.
"Gwuenchanayo, aku kan bisa gunakan gsp. Tidak masalah, kau sekolah di performing high school bukan?" Ucap Luhan entah kenapa antusias jika akan ke sekolah Sehun.
"Ne, Lu. Aku tunggunya. Jika sudah sampai, telpon ke nomor ini saja." Ucap Sehun
"Ne." Jawab Luhan singkat.
"Hati-hati, Lu. Dan gomawo." Ucap Sehun kemudian menutup telponnya.
Tanpa menunggu waktu, Luhan langsung saja menukar pakaiannya. Dengan mengenakan kemeja panjang setengah paha, dan celana selutut berwarna biru. Tak lupa menggulung rambutnya menjadi bola dan kemudian mengikatnya. Dibawanya tas serta ponsel miliknya dan Sehun kemudian keluar rumah.
Sepanjang jalan. Luhan terus memperhatikan map sambil memikirkan sesuatu. Yg ada ddipikirkannya, jika tiba di sekolah Sehun pasti banyak yg mengira dirinya adalah kekasih Sehun. Memikirkan nya saja membuatnya malu dan terkikik kecil.
Sampailah Luhan di sekolah Sehun. Langsung saja Luhan masuk kedalam setelah mendapatkan persetujuan satpamnya. Setelah masuk, Luhan berdecak kagum dengan sekolah ini. Mewah dan indah. Pantesan Sehun sekolah disini, pasti fasilitas nya bagus - gumamnya.
Oya, Luhan baru ingat jika Sehun memesannya jika sudah tiba telpon dia. Luhan keluarkan ponsel Sehun kemudian menelpon nomor yg tadinya telpon ke ponsel Sehun. Menunggu jawaban, Luhan kembali melangkah memasuki koridor sekolah.
"Sepi, sepertinya sudah pada masuk kelas." Ucap Luhan kemudian menjauhkan ponsel Sehun dari telinganya saat ugh ditelponnya tidak mengangkat telpon.
Mau tak mau, Luhan harus menemukan kelas Sehun. Namun, dia harus menanyakkan pada siapa? Koridor sekolah sepi, dan tidak ada siswa melintas disini.
Luhan terus berjalan tak tau arah, kemudian dengan ucapan syukur dia menemukan seorang yeoja berseragam sekolah sini. Langsung tak pikir panjang, dia langsung mendekati yeoja itu.
"Hm, permisi." Ucap Luhan sopan dan yeoja itu memandangnya.
"Ada yg bisa saya bantu?" Tanya yeoja itu.
"Hm, begini. Apa kamu tau dimana kelas Oh Sehun?" Tanya Luhan
"Tentu, dia sekelas dengan saya. Jja, saya antar menemuinya." Ucap yeoja itu
Dengan perasaan senang, Luhan langsung saja mengikuti yeoja itu. Sepanjang jalan, Luhan mengangumi kecantikan yeoja didepannya. Wajah yg putih, mata lumayan sipit dan hidung mancung.
"Nah, sudah sampai. Masuklah, kami lagi tidak ada guru." Ucap yeoja itu kemudian membukakan pintu kelasnya.
Yeoja itu masuk kedalam kelasnya, Luhan hanya berdiri diambang pintu dengan segala kegelisahannya.
"Sehunnie, kau di cari seseorang." Ucap yeoja yg tadinya membantu Luhan setelah duduk sebangkunya yg tepatnya disebelah Sehun.
Luhan melihatnya. Bahkan dia melihat betapa mesrahnya Sehun mengelus rambut yeoja itu. Hingga dapat disimpulkan Luhan, bahwa yeoja cantik yg menolongnya tadi adalah kekasih Sehun.
Tanpa Luhan sadar, Sehun susah melangkah mendekatinya. Dapat dilihat yeoja itu menunduk membuat Sehun khawatir terjadi sesuatu pada yeoja rusa manis itu.
"Lu." Panggil Sehun dengan nada khawatir.
Luhan langsung saja mendongak dan menatap Sehun kaget. Kemudian dia mengubah ekspresinya tersenyum.
"Ah...Ini ponselmu." Ucap Luhan kemudian memberikan ponsel Sehun kembali.
Baru saja Sehun mau mengucapkan sesuatu, tiba-tiba namja yg berkulit tan merangkul baju Sehun dengan mesrah dan menatap Luhan dengan senyum tampannya.
"Ohohoh, Sehun kau dapat yeoja semanis ini dimana? Hallo, namaku Kim Jongin. Panggil saja Kai." Ucap namja tan bernama Kai
"Annyeonghaseyo, namaku Wu Luhan." Balas Luhan sopan.
Sehun sejak ke hadiran Kai, teman mesumnya, mendelik tidak suka. Sedangkan Kai dengan asiknya terus menggombali sahabatnya itu. Apa lagi Luhan yg terus meronta karna di gombali Kai yg tak modal itu. Bahkan teman-teman namja sekelas Sehun mulai menggombali Luhan juga.
Entah cemburu atau apa. Sehun menatap tajam semua teman sekelasnya dan di hadiah tatapan cuek. Marah dan kesal, Sehun langsung saja menarik Luhan pergi.
"Kuantar pulang." Ucap Sehun singkat.
"Eh? Gwuenchanayo, Hun-ah. Aku bisa pulang sendiri, kamu kan mas-"
"Tidak ada penolakan, Lu. Aku sudah cukup khawatir dengan kau yg datang sendiri ke sekolahku. Sekarang aku tak mau kau pulang sendirian. Tidak!" Ucap Sehun tegas.
Luhan hanya pasrah menuruti keinginan Sehun mengantarnya. Sepanjang jalan, keduanya diam. Sebenarnya Luhan ingin menanyakkan sesuatu.
"Hm, Hun. Aku ingin tanya padamu." Ucap Luhan dan seketika Sehun memelankan jalannya.
"Apa?" Tanya Sehun tanpa memandang Luhan.
"Hm, yeoja yg duduk disebelahmu. Apa dia kekasihmu?" Tanya Luhan sambil menunduk.
Sehun menghentikan jalannya, kemudian dia tertawa kecil. Dia berbalik dan menatap sahabat imutnya yg tengah menunduk.
"Lu, kau pernah ingat saat kita di cafe bubble tea Namsan Tower. Kau ingatkan, pernah menanyakkan apa aku tidak memiliki kekasih? Dan aku menjawab, apa kau mau menjadi kekasihku. Kau masih ingat." Ucap Sehun sambil menatap Luhan
Luhan hanya mengangguk, tanpa menatap Sehun. Hatinya terasa gelisah sekarang. Menanti jawaban pasti Sehun yg membuatnya deg-deggan.
"Lu, aku..." Ucap Sehun menjedah kemudia menatap kearah lain.
"...sudah memiliki yeoja yg kucintai. Namun, aku belum menyatakannya." Ucap Sehun lirih
Luhan kemudian tersenyum lirih, yeoja rusa itu tanpa sadar meneteskan air matanya. Yg ada dipikirkannya sekarang, pasti yeoja yg menolongnya tadi ialah yeoja yg dicintai Sehun.
"Ah~ Sehun, ayo kita ke tempat parkir. Kau katanya ingin mengantar ku pulang. Jja, sebelum nanti kau kena marah." Ucap Luhan mengalihkan masalah.
Luhan melepas genggaman Sehun kemudian jalan duluan. Meninggalkan Sehun menatap punggung Luhan dengan pandangan lirih.
'Lu, kau yeoja itu.' Ucap Sehun dalam hati kemudian dia menyusul Luha dengan cepat.
Tiba di samping Luhan, tanpa pikir panjang Sehun kembali menggenggam tangan rusa itu dan membawanya ke tempat parkir. Tentunya Luhan tidak menolak, namun perlakuan Sehun membuatnya tambah gelisah.
'Sehunnie, aku sedih. Aku..sepertinya sudah mencintaimu.' Gumam Luhan dari hati sambil menatap Sehun yg memandang lurus kedepan.
Setiba di parkiran, Sehun langsung mengeluarkan kuncinya. Setelah membuka kunci mobilnya, langsung saja dia dan Luhan masuk kedalam mobil. Kemudian mobil Sehun melaju melewati jalan dengan kecepatan normal.
Sepanjang jalan, Luhan hanya memandang keluar jalan dengan kosong. Dan itu cukup membuat Sehun gelisah. Entah kenapa, Sehun merasa menyakiti perasaan sahabatnya itu.
Bahkan saat tiba dirumah Luhan, yeoja itu masih saja diam. Sehun langsung keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk Luhan.
"Gomawo."
Singkat, dan kemudian Luhan pergi dari Sehun tanpa mengucapkan apapun. Sehun yg kaget kemudian mengejar Luhan dan menahan Luhan. Dipandangnya yeoja rusa itu yg terus menunduk seperti takut melihatnya.
"Wae, Lu? Apa aku mengatakan sesuatu yg salah?" Tanya Sehun khawatir.
Luhan tidak menjawab, dia hanya menggeleng sebagai jawaban. Dan itu semakin menyakinkan Sehun bahwa dirinya mengatakan hal yang salah.
"Lu, aku minta maaf humas mengatakan sesuatu hal yg membuatku marah. Ak-"
"Aku masuk dulu." Potong Luhan kemudian melepas genggam Sehun dan berahli masuk.
Sehun tidak mencegah. Yg dipikirkannya, dia terus mencari kesalahannya. Hingga saat dia mendengar suara tutup pintu, dia menghela nafas gusar. Kemudian dia pergi dari kediaman Luhan dengan perasaan gelisah.
TeBeCe.
Aigooo~ Bagaimana? Apa terlalu singkat dan tidak menyenagkan?
Kali ini author tak banyak ngomong. Yg diharapkan supaya readers menyukainya dan jangan lupakan tinggalkan reviewnya, oke.
