THE DATE
Ditulis oleh Jeen Teppei
Kuroko X Reader/You/OC
Cast:
Kuroko No Basuke Original Chars
Reader/You/OC sebagai Haruka Yuna
Main Cast di Chapter 1 Narashiki Aihara
Ini buruk. Itulah yang seorang Haruka Yuna pikir di hari pertama sekolah saat melihat salah satu alumni SMP nya, Kuroko Tetsuya, masuk ke dalam kelas.
Tetsu-kun adalah cinta pertamaku. Aku tahu tidak ada kesempatan untukku dan Tetsu-kun akan bersama, itu sebabnya aku sudah berusaha keras untuk melupakan nya.
Perlahan tapi pasti, Yuna menggerakan
kepalanya sangat lambat menoleh ke arah bangku Kuroko.
Ini buruk. Kenapa kami harus masuk ke sekolah yang sama?! Lebih spesifiknya bahkan satu kelas.. Sedangkan perasaanku padanya belum sepenuhnya mati, dan dia kemungkinan besar bahkan tidak ingat padaku.
Yuna menoleh ke belakang, seperti biasa gadis berambut merah panjang yang selalu dikuncir kuda itu diam-diam memperhatikan Kuroko.
Setiap hari aku bersumpah pada diri sendiri untuk tidak melakukan hal ini. Tapi tubuhku selalu mengkhianatiku. Kepalaku bergerak sendiri dan mataku benar-benar butuh untuk melihat wajahnya.
Yuna segera mengembalikan pandangannya ke arah depan ketika Kuroko yang sepertinya menyadari sedang dipandangi menatap ke arahnya.
Cintaku tumbuh lebih dalam. Dan semakin dalam semakin menyakitkan karena aku tidak bisa bersamanya.
Kuroko mengoper bola pada Kagami. Kagami yang dijaga oleh Izuki mendribble bola ditempat sebentar lalu dengan gerak cepat melewati Senpainya itu. Kagami berlari membawa bola ke depan. Izuki berusaha mengejar Kagami, tapi Kagami terlalu cepat untuknya. Sesampainya di depan ring Kagami loncat tinggi dan memasukan bola dengan melakukan SLAM DUNK!
Kegagalan di kejuaraan Inter-Highs menjadi pukulan telak untuk Seirin, tapi mereka tidak diam di tempat meratapi kekalahan. Mereka berlatih sangat keras untuk menebus yang lalu dengan menjadi juara Winter Cup tahun ini.
"Narashiki-san apa yang kau bawa?" Riko bertanya riang pada Aihara yang baru memasuki aula.
Aihara meletakkan kardus yang dibawanya di bangku bench. "Ini minuman energi untuk tim dari Nenekku di Hokkaido."
"Wah.. Nenekmu sangat baik. Tolong sampaikan terima kasih dari kami semua padanya." Riko membungkuk setengah badan.
Aihara mengangguk. "Aku permisi pulang dulu, Aida." Katanya sambil berbalik pergi.
"Tunggu, Narashiki-san tidak tinggal untuk melihat Kagami-kun?"
Aihara membalas tanpa menoleh. "Tidak. Menatapnya dalam kondisi berkeringat seperti itu dalam waktu lebih dari 5 menit terlalu berbahaya untukku."
"Hah?" Riko bergumam bingung dengan setengah alis terangkat.
Perkataan Aihara membuat Kagami kehilangan fokusnya dan menabrak Hyuuga yang sedang loncat untuk menangkap bola di udara.
"ADA APA DENGANMU KAGAMIDIOT?!" Kata Hyuuga sambil menginjak-nginjak tubuh Kagami.
Kuroko berlari keluar dari lapangan untuk menghampiri Aihara.
"Narashiki-senpai." Panggil Kuroko.
Aihara yang sudah diambang pintu pun menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa?"
"Kalau Narashiki-san tidak sedang terburu-buru, aku ingin mengobrol denganmu sebentar."
"Oi Kuroko! Kembali ke lapangan!" Teriak Hyuuga.
"Bukankah kau sedang berlatih?"
"Aku akan minta izin."
"Aku menunggu di luar." Aihara berbalik keluar pintu aula.
Kagami menatap heran pada Kuroko yang sedang bicara dengan Riko, dan setelah itu berlari meninggalkan aula.
"Pelatih! Ini tidak adil kau memberi Kuroko waktu istirahat!" Kagami berteriak protes.
"Apa kau baru saja mengatakan kalau aku pelatih yang tidak adil?" Tanya Riko dengan nada sangat horror yang membuat bulu kuduk semua orang merinding.
"Bu-bukan begitu maksudku."
"Kuroko-kun mengatakan dia perlu bicara dengan Narashiki-san tentang sesuatu yang
penting, aku memberinya izin karena dia berjanji tidak akan lama."
Kagami mengalihkan pandangnya, menatap lurus pada pintu aula. Membicarakan sesuatu yang penting dengan Ara?
"Narashiki-senpai, aku ingin tahu apa yang membuatmu berani untuk menyatakan cinta pada Kagami-kun?"
Aihara menatap heran Kuroko. Itu adalah pertanyaan yang sangat random. Aihara bisa membaca jelas dari wajah Kuroko sepertinya juniornya itu sedang menyukai seseorang. Tapi sebelumnya.. "Apa kau yakin aku adalah orang yang tepat untuk kau ajak bicara tentang ini?"
Kuroko mengangguk. "Narashiki-senpai dan Kagami-kun sudah bersama selama 3 bulan dengan baik. Aku ingin mendengar saran darimu."
"Kalau memang begitu," Aihara mengalihkan pandangnya kembali ke depan. "Apa yang membuatku berani untuk menyatakan cinta pada Kagami-kun? Cinta bukan tentang berani atau tidaknya, cinta adalah tentang memilih mencintai atau tidak, dan kau harus melakukan bagianmu. Aku menyukai Kagami-kun. Aku memilih untuk mencintainya. Lalu aku datang padanya untuk melakukan bagianku. Itu adalah bagaimana semuanya bekerja."
"Narashiki-senpai tahu saat itu Kagami-kun tidak mengenalmu sama sekali. Bagaimana kalau seandainya Kagami-kun menjawab tidak?"
"Aku bukan gadis yang bodoh cinta. Aku tidak akan datang untuk mendapat kata 'TIDAK' dari mulut Kagami-kun. Karena itu untuk melindungi hatiku dari kehancuran, aku mengatakan padanya aku tidak mengharapkan atau menunggunya memberikan jawaban. Kalau dalam olah raga itu dinamakan taktik, yang sesungguhnya adalah tentu aku sangat menginginkan balasan atas perasaanku, tapi aku akan membutuhkan waktu untuk membuatnya jatuh cinta dulu padaku."
"Lalu Narashiki-san mengambil kesempatan di depan mata untuk menjadi guru privat Kagami-kun, dan kau berhasil membuatnya jatuh cinta padamu."
"Kau meneruskan ceritanya dengan benar, Kuroko." Aihara tersenyum tipis.
"Tapi, aku tidak memiliki kesempatan. Dan aku benar-benar tidak tahu bagaimana membuat nya jatuh cinta padaku."
"Aku kecewa kau bingung untuk hal-hal sesederhana itu. Kalau kau tidak memiliki kesempatan maka buat sendiri kesempatanmu. Kau seorang laki-laki, itu bahkan lebih memudahkan semuanya, ajak dia jalan bersama. Dan untuk membuat seseorang jatuh cinta padamu? Yang kau perlu lakukan hanya menjadi dirimu sendiri."
Semua yang Aihara katakan menyegarkan pikiran Kuroko. "Aku harus kembali ke dalam untuk berlatih," Kuroko membungkuk setengah badan. "Terima kasih atas waktumu, Narashiki-senpai."
"Yuna-chan!"
Yuna menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat orang yang memanggilnya. "Kelebihan tenaga di pagi hari, Aizawa-chan?"
"Bagaimana tidak...AAAAA!" Aizawa memeluk-meluk Yuna.
Yuna meneruskan berjalan menuju kelasnya, Aizawa mengikutinya di samping.
"Jadi, semalam aku upload foto kita yang kita ambil di Maid Cafe beberapa waktu lalu ke Instagram.."
"..Ke-kenapa kau melakukannya, Aizawa-chan?" Yuna memotong. "Kau janji foto itu hanya untuk konsumsi pribadi." Mengingat pose yang mereka dalam foto membuat pipi Yuna memerah karena malu.
"Kita sangat manis di foto itu jadi tentu janji yang kubuat adalah janji palsu," Aizawa nyengir tak berdosa. "Dengar, ini adalah keberuntunganmu, Reo Mibuchi mengomentari fotoku menanyakan nomormu."
"Re-reo Mibuchi?"
"Oh tidak. Jangan bilang kau tidak tahu dia?!"
Yuna menggeleng, membuat Karu menepuk wajahnya.
"Anak rumahan ini," Aizawa merangkul pundak Yuna. "Mibuchi-senpai adalah salah satu siswa terpopuler di SMA Rakuzan. Oh! Dan dia juga anggota reguler tim basket sekolah mereka. Itu bagus kan? Aku tahu kau sangat menyukai basket."
Yuna memaksakan sebuah senyuman lalu menunduk. Aku tidak suka basket. Aku menyukai seseorang yang benar-benar mencintai basket.
Dengan senyuman, Kuroko menatap balik Yuna yang sedang memandanginya.
Jantung Yuna berdetak sangat cepat dan wajahnya seketika berubah merah. Aku.. Tertangkap basah..
KRINGGG! Bel istirahat berbunyi.
Yuna menempelkan keningnya ke meja.
"Yuna-chan, kau baik-baik saja?" Tanya Aizawa.
Yuna menjawab dengan nada kelabu. "Ya~~~ak-aku baik-baik saja~~~" di bawah meja, kaki gadis itu bergetar. Ini tidak baik, tubuhku sangat tidak stabil. Tidakkkkk Tetsu-kun pasti menganggapku aneh karena tadi aku memandanginya sangat intens.
"Hhm.. Aku mengerti kau pasti sedang datang bulan ya?"
"Hhehehe," Yuna terkekeh horror. "Tolong jangan mengatakan hal itu dengan suara keras." Dan aku sedang tidak datang bulan.
"Jangan khawatir, Yuna-chan. Sebagai teman terbaikmu aku akan membawakan makan siangmu!"
"Te-terima kasih."
Aizawa menepuk pundak Yuna lalu keluar dari kelas.
"Apa kau sedang tidak enak badan, Haruka-san?"
Yuna mengangkat kepalanya perlahan. "Tet-tetsu-kun, sejak kapan kau di depan mejaku?!" Tanyanya kaget. Oh Tuhan, apa aku baru saja memanggilnya Tetsu-kun? Ini sangat canggung!. Yuna segera berdiri dan minta maaf sambil membungkukkan badan berkali-kali, salah tingkah. "Ma-maaf! Maksudku Ku-kuroko-san.. Hhehe.." Hiks, aku tidak bisa menjadi lebih aneh dari ini.
"Haruka-san, menurutku tidak apa-apa memanggil teman lama dengan nama pertama dan kun." Kuroko memutar kursi di depan meja Yuna dan mengambil duduk menghadap gadis itu.
Dalam bingung, Yuna kembali duduk. Teman lama? Tetsu-kun mengingatku?
Yuna menunduk dan tersenyum sendu. Aku senang.
"Haruka-san, kau sepertinya sedang tidak sehat. Mau ku antar ke UKS?"
"Ti-tidak perlu, Kuroko-san," menerima kenyataan mereka tidak pernah akrab, Yuna masih memanggil Tetsuya dengan nama keluarga. "Aku baik-baik saja."
"Aku lega mendengarnya," Kuroko mengeluarkan handphonenya. "Um, Haruka-san, kalau tidak keberatan apa aku boleh memiliki kontakmu?"
Yuna mengangkat kepalanya. "Kontakku?" Tanyanya dengan nada tidak percaya. Tetsu-kun menanyakan nomor dan email ku?
"Aku sangat berharap bisa memilikinya." Pinta Kuroko sambil menyodorkan handphonenya pada Yuna.
Yuna mengangguk pelan lalu mengambil handphone Kuroko.
"Um, Kuroko-san, soal tadi.." Yuna mulai mengetik. "Aku minta maaf."
Kuroko tersenyum. "Tidak apa-apa. Dan tadi bukan yang pertama kalinya, kalau Haruka-san benar-benar merasa bersalah setiap kali melakukannya lalu kenapa tidak minta maaf padaku setiap hari?"
Tubuh Yuna terasa seperti berputar-putar, semakin lama semakin menciut, sampai akhirnya menghilang masuk ke dalam pusaran air laut. Jadi selama ini dia menyadarinya...
Yuna berdiri dan mengembalikan handphone sambil membungkukkan badan berkali-kali. "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.." Aku mengerti. Tetsu-kun adalah orang yang baik. Dia minta kontakku pasti karena ingin memberitahuku untuk berhenti menjadi orang aneh 'memperhatikannya diam-diam' secara baik-baik melalui pesan.
"Aku sangat tidak keberatan," Kuroko mengambil handphonenya. "Dan, um, Aku ingin mengajak Haruka-san jalan bersama dalam waktu dekat."
Hah?
"Apa yang sedang terjadi di sini?" Aizawa yang baru kembali dari kantin meletakan paket bento yang dibawanya di meja Yuna.
"Aku akan menghubungimu untuk mengetahui waktu luangmu. Selamat menikmati makan siangmu, Haruka-san." kata Kuroko lalu berbalik, berjalan keluar kelas.
"Hhm.. Kalian berdua meninggalkan aura aneh," Aizawa menyipitkan matanya, memandang curiga Yuna yang masih mematung. "Pokoknya aku ingin tahu secara rinci apa yang tadi kau dan Kuroko bicarakan!"
Aku hampir menangis karena kukira Tetsu-kun membenciku. Lalu.. "Dan, um, Aku ingin mengajak Haruka-san jalan bersama dalam waktu dekat." tiba-tiba dia berkata seperti itu.
Dan yang Aizawa-chan katakan sangat tidak masuk akal. "Kuroko menyukaimu! Kenapa sih kau sangat tidak percaya diri?! Kau itu cantik! Duh, aku jadi gemas sendiri."
Yuna turun dari tempat tidur dan berdiri di depan kaca lemari. Aku tidak cantik. Dan sebagai gadis remaja aku bahkan tidak bisa bermake-up.
Yuna duduk di meja belajarnya dan menyalakan laptopnya. Melaui google dia membuka Youtube dan menontoni video-video tentang bermake-up.
Meong! Meong! Meong! Handphone Aihara berbunyi saat ia memasuki apartemen Kagami.
Aihara mengeluarkan handphonenya. "Kuroko?" Gumamnya lalu menekan OK untuk mengangkat panggilan.
"Narashiki-senpai, maaf kalau aku menganggu." Kata Kuroko di sebrang sana.
"Apa ada kau menghubungiku?" Aihara membaringkan tubuhnya di atas tubuh Kagami yang sedang membaca majalah di sofa dengan posisi tengkurap.
"ARA! Jangan seenaknya menindih tubuhku!" Keluh Kagami.
"Apa masalahnya? Kau sendiri bilang kalau aku sangat ringan."
Yang jadi masalahnya, aku tidak akan bisa menahan diri kalau kau melakukan hal-hal semacam ini?! Kagami berdecak kesal dan menutup wajahnya dengan majalah.
"Ringan?" Kuroko bertanya bingung.
"Maaf Kuroko tadi aku sedang bicara dengan Kagami-kun. Cepat katakan yang ingin kau bicarakan, aku sudah di atas Kagami-kun dan kami akan segera sibuk."
"Apa kau tidak punya malu berkata seperti itu padanya?!"
Kuroko tersenyum mendengar teriakan Kagami. "Ini tidak akan lama. Narashiki-senpai, menurutmu kemana aku harus mengajaknya pergi?"
"Tentang itu lagi. Ya.. Tergantung apa yang dia sukai. Kalau dia tipe suka belanja kalian bisa ke mall, tipe pecinta film: ajak ke bioskop untuk nonton film terbaru, dan.. Tipe gadis sangat bermacam-macam."
"Aku mengerti, jadi aku harus tahu dulu apa yang Haruka-san sukai."
"Jadi namanya Haruka."
"Terima kasih, Narashiki-senpai." Kata Kuroko lalu memutus hubungan telepon mereka.
Kagami membalik tubuhnya. "Apa kau kemari untuk mengecek pr ku?"
Aihara mendekatkan wajahnya ke wajah Kagami. "Tidak. Aku percaya kau sudah melakukannya, aku kemari hanya untuk menganggumu."
"Kau!" Menyebalkan seperti biasa. Kagami mendorong pelan kepala Aihara hingga bibir mereka menempel.
[From: Tetsu-kun]
Selamat malam, Haruka-san.
Beritahu aku apa yang kau sukai? :)
Pesan Kuroko membuat Yuna terjatuh dari kursi. "Ke-kenapa Tetsu-kun menanyakan pertanyaan seperti itu." Gumamnya malu.
Apa yang ku sukai? Maksudnya tentang apa? Apa dia ingin tahu tentangku? Tidak-tidak.. Aku sangat tidak penting, tentu bukan itu. Tetsu-kun sudah tahu aku menyukainya, jadi pertanyaan nya pasti tentang apa yang ku sukai tentangnya.
[Reply to: Tetsu-kun]
Aku menyukai semua tentang Kuroko-san. Terutama mata birumu, menurutku mereka sangat indah.
Yuna menarik napas dalam-dalam. Ugh jantung.. Berhenti berdetak sangat kencang.. Tidak perlu malu lagi, toh Tetsu-ku sudah tahu semuanya.
Benar, aku tidak perlu malu lagi!
Klik SEND!
"TIDAKKKKKKKKKK!" Yuna berlari masuk ke dalam selimut. "Sungguh pesan yang sangat memalukan. Bagaimana aku bisa sangat bodoh memutuskan untuk mengirimnya?!"
Kuroko menutup mulutnya, pipinya berubah merah. Balasan pesan dari Yuna membuatnya merasakan.. sejuta perasaan senang sekaligus.
[From: Haruka Yuna]
Aku menyukai semua tentang Kuroko-san. Terutama mata birumu, menurutku mereka sangat indah.
"Aku akan menyimpan pesan ini selamanya."
"Kuroko!" Kakeknya memanggil dari bawah. "Kau janji akan memijitiku."
"Ya, aku datang!"
SABTU SIANG..
Kuroko mengecek jam nya lagi. Dia sekarang berada di taman umum dekat Tokyo Plaza, menunggu Yuna untuk kencan pertama mereka.
Sebenarnya Kuroko sangat gugup, tapi dia masih bisa mengontrol diri untuk tetap terlihat tenang.
Begitu Yuna tiba, Kuroko tidak bisa berkedip menatap gadis di depannya. "Cantik." Kuroko berkata pelan.
Yuna mendengar dan tersipu malu. "Ini pasti karena rambutnya.."
"Digerai atau dikuncir, Haruka-san tetap cantik," Kuroko mengulurkan tangannya. "Aku sangat senang, terima kasih sudah menerima ajakanku."
Hhehehe.. Yuna hampir kehilangan kesadaran. Ini mimpikan? Tentu ini mimpi.
"Um, Haruka-san."
Suara Kuroko berhasil mengembalikan jiwa Yuna kembali masuk kedalam tubuhnya.
"Y-ya?"
"Tanganku mulai pegal. Kalau Haruka-san tidak mau bergengaman tangan, katakan saja."
"E.. Ma-maaf." Yuna memberikan tangannya padanya Kuroko. Kulit kami bersentuhan dan rasanya hangat, kurasa ini nyata.
Mereka duduk berhadapan di bangku taman dekat air mancur.
Keheningan.. Tidak ada satupun dari mereka bicara.
Yuna menyerah dengan menundukkan kepalanya. Dia sangat malu karena dari tadi Kuroko menatapi wajahnya. Rasanya seperti Tetsu-kun sedang balas dendam padaku. Aku benar-benar tidak bisa untuk tidak tersenyum. "Kuroko-san.. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kenapa kau ingin pergi kencan denganku? Bukankah kau sudah memiliki hubungan dekat dengan Satsuki-san?" Satsuki-san bahkan menjadikan foto bersamamu sebagai profile picture facebook nya.
"Sepertinya Haruka-san sedikit salah paham. Aku tidak berpikir aku dan Momoi-san dekat secara pribadi. Dia hanya teman, dan seperti yang kau tahu, dia adalah manajer tim basket Teiko."
"Tapi tetap.. Kenapa seseorang harus mengajak orang aneh yang suka memandanginya untuk kencan." Yuna bergumam sendu.
"Itu tidak aneh," Kuroko tersenyum. "Karena kebetulan orang yang dipandangi menyukainya."
Yuna mengangkat kepalanya dan bertanya sambil menunjuk diri. "Kuroko-san menyukaiku?"
"Oh, kau tidak tahu? Aku pikir Haruka-san sudah menyadarinya karena aku selalu menatapmu balik."
SUNGGUH? "Kenapa kau menyukaiku?"
"Sederhana karena Haruka-san adalah tipe ku."
Aku tipe nya?
"Sejak SMP, aku memperhatikan Haruka-san adalah orang yang suka membantu. Kau tidak keberatan ketika orang-orang menyalin pr mu. Kau tidak keberatan ketika orang-orang membuatmu membersihkan kelas sendiri. Kau tidak keberatan meminjamkan apapun yang orang-orang butuhkan. Gadis cantik dengan hati yang baik, tentu aku dengan mudahnya jatuh cinta padamu. Saat kenaikan kelas 2 aku kecewa mengetahui kita tidak sekelas lagi. Tapi waktu itu aku belum menyadari perasaanku dan kepalaku benar-benar dipenuhi oleh basket jadi aku tidak terlalu sedih. Aku sangat bersyukur, kita dipertemukan lagi di Seirin."
"Aku tidak sebaik yang Kuroko-san kira. Aku sulit berbaur dengan orang-orang karena aku jarang bicara. Jadi aku berharap dengan membantu mereka aku bisa berteman dengan semuanya, menjadi bagian dari mereka."
"Tidak banyak bicara, benar-benar tipeku."
Yuna memalingkan kepalanya ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah saja. "Aku tidak pernah mengira Kuroko-san bisa mengatakan hal-hal semacam itu."
"Aku sendiri juga terkejut. Tapi, pesan mu beberapa hari lalu membuatku bisa melakukannya."
"Pesan yang mana?" Kami saling berkirim pesan cukup sering akhir-akhir ini.
"Yang tentang mata biruku sangat menarik bagi Haruka-san. Kau sangat terbuka, jadi kukira aku juga harus seperti itu."
"Yang itu." Yuna tersenyum canggung.
"Jadi.. Ayo nikmati hari ini bersama," kata Kuroko, sedikit malu-malu. "Aku memilih taman ini karena sebenarnya aku agak bingung harus mengajak Haruka-san kemana, maaf karena aku tidak tahu banyak tentangmu. Tapi kalau Haruka-san lapar atau ingin nonton dan belanja, kita bisa masuk ke dalam mall." Kuroko mengatakan bagian masuk ke dalam mall dengan penuh percaya diri. Hari ini dompetnya penuh, dia mendapatkan banyak uang tambahan dari membantu ibunya membersihkan rumah dan memijiti kakeknya.
"Terima kasih banyak." Kata Yuna. Aku akan menikmati hari yang indah ini!
Kuroko dan Yuna masuk ke dalam mall dengan berpegangan tangan. Di dalam, banyak sekali pasangan yang berjalan dengan berpegangan tangan.
Yuna sangat senang karena merasa dia dan Kuroko sudah seperti sepasang kekasih yang jalan bersama.
Mereka masuk ke sebuah restoran es krim bernama CandyCandy.
Yuna memesan es krim sundae rasa strawberry sedangkan kuroko rasa vanilla. Mereka makan dalam diam. Sejak meninggalkan taman tidak satupun dari mereka bicara banyak.
"Kuroko-san, apa kau ingin mencoba milikku?" Yuna menyodorkan sendok makannya berniat menyuapinya. OH TIDAK.. AKU TERLALU TERBAWA SUASANA.
Kuroko dan Yuna membeku beberapa saat.
Sebelum Yuna menarik kembali tangannya, Kuroko membuat gerakan cepat dengan memajukan kepalanya dan memakan es krim yang disodorkan padanya.
Yuna tersenyum malu.
Mereka melanjutkan dengan bermain ice skating di lantai atas.
Yuna tertawa mengetahui Kuroko ternyata tidak bisa bermain ice skating.
"Kalau tidak bisa kenapa mau?" Tanya Yuna.
Kuroko memberi jawaban sederhana. "Karena Haruka-san ingin berskating."
"Karena kupikir kita akan menikmatinya bersama."
Kuroko berpegangan pada besi penyangga area ice skate. "Tidak apa, aku bisa menunggu di sini."
"Maksudmu.. Kau hanya akan menontonku saja?"
Kuroko mengangguk. "Maaf aku tidak bermain denganmu."
Yuna menatap wajah Kuroko beberapa saat lalu meletakannya tangan Kuroko di pundaknya. "Aku akan mengajarimu."
Kuroko benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Yuna.
Yuna menuntun perlahan Kuroko ke tengah lapangan.
Kuroko sangat takut pemain skating lainnya yang bermain begitu bebas dan cepat akan menabrak mereka.
"Haruka-san bisakah kau tertawa lagi?"
Yuna mengerutkan keningnya. "Apa?"
Perlahan tapi pasti Kuroko mendekatkan wajahnya, membuat Yuna gugup setengah mati.
Yuna memejamkan matanya. Ibuuuuuu, aku tidak siap untuk sebuah ciuman.
"Aku sangat suka tawamu." Bisik Kuroko di telinga Yuna.
Yuna menghela napas lega ternyata Kuroko tidak berniat untuk menciumnya.
Matahari hampir terbenam saat mereka selesai bermain skating.
Kuroko dan Yuna mampir lagi ke taman sebelum mereka berpisah untuk pulang.
Mereka duduk di ayunan di samping satu sama lain.
"Terima kasih untuk hari ini." Kata Yuna.
Kuroko menoleh pada Yuna. "Tidak, aku yang terima kasih. Hari ini sangat menyenangkan."
"Um, Kuroko-san, keberatan mendorongku beberapa ayunan?"
"Sama sekali tidak." Kuroko berdiri dan berjalan ke belakang ayunan yang sedang diduduki Yuna.
"Jangan kencang-kencang ya, aku sedikit takut pada ketinggian."
Kuroko mengangguk lalu mulai mengayun pelan.
Sekarang Kuroko mengerti alasan Kagami menjadi lebih terkendali. Bersama dengan seseorang yang kau cintai adalah sungguh kebahagiaan yang tidak ternilai, tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu.
"Haruka-san," Kuroko menghentikan ayunannya. "Aku punya permintaan."
Yuna menoleh kebelakang. "A-apa?" Tanyanya gugup. Apa yang Tetsu-kun inginkan?
"Apa boleh aku memanggilmu, Yuna-chan?"
"Tentu." Kau membuatku sangat senang Tetsu-kun.
"Permintaan lain, aku juga ingin kau memanggilku dengan nama pertamaku."
Yuna mengembalikan pandangnya ke arah depan. Aku selalu iri pada Satsuki-san karena keakraban kalian membuatnya bisa memanggilmu Tetsu-kun, dan hari ini aku merasa sangat tersanjung kau sendiri yang memintaku untuk itu. "Apa ada lagi yang kau inginkan, Tetsu-kun?"
"Ada."
E.. Aku menanyakan itu sebagai candaan karena aku kira dia akan menjawab tidak. Ternyata dia masih memiliki permintaan?
"Aku harap Yuna-chan akan menerima lagi ajakan kencanku yang selanjutnya."
"Ke-kencan selanjutnya?"
"Selanjutnya, dan selanjutnya. Aku akan mengajak Yuna-chan kencan sampai kau jatuh cinta padaku."
Jantung Yuna serasa ditancap oleh busur panah. Bukankah matahari sudah terbenam? Tapi kenapa ini sangat terang sekali?
"Aku akan mengajak Yuna-chan kencan sampai kau jatuh cinta padaku."
Tapi Tetsu-kun.. Aku sudah jatuh cinta sangat dalam padamu.
FIN
Terima kasih sudah membaca fanfic ini. Ingin Sekuel? Beritahu aku melalui Twitter JeenTeppei apa yang kalian inginkan terjadi antara Kuroko dan Yuna di dalam Sekuel.
NEXT: KISE X READER/YOU/OC: IN PROGRESS
