TAKE ME BACK
Ditulis oleh Jeen Teppei
Kise X Reader/You/OC
Cast:
Kuroko No Basuke Original Chars
Reader/You/OC sebagai Shirota Shizuki
"Apa gunanya masuk ke sekolah yang sama jika kita tidak menghabiskan setiap hari di sini bersama-sama." Kata Kise sambil mengambil duduk di samping Shizuki. Raut kesedihan melingkupi wajah tampannya.
Shizuki meletakkan kembali sandwich yang akan dimakannya ke kotak bekal. "Tentang itu, aku sudah menyadari kalau aku telah mengambil keputusan yang salah."
Kise mencengkram kuat bagian atas pahanya sendiri dan hanya bisa menggertakkan giginya menahan sakit. "Kumohon hentikan semua ini. Aku tidak tahan lagi."
Shizuki selalu menghindari Kise, dan itu membuat Kise sangat frustasi. Kise merindukan Shizuki. Rindu ingin menyentuh Nya, menggoda Nya, bercinta dengan Nya..
"Aku tidak menghindari Kise-kun atau apapun, aku sudah mengatakan semuanya padamu dengan jelas minggu lalu."
Minggu lalu Shizuki memutuskan hubungan mereka sepihak. Kise mencintai Shizuki dengan seluruh hidupnya tentu dia tidak bisa menerima itu. Jadi, Kise berpura-pura itu adalah lelucon meskipun dia tahu Shizuki serius.
Shizuki membenarkan letak kacamatanya. "Aku benar-benar minta maaf aku tidak cukup kuat untuk berdiri di sampingmu ketika penggemar-penggemarmu di sekitarmu. Semuanya terlalu menyakitkan, terutama kata-kata tajam mereka. Dan yang mereka katakan benar, aku sangat tidak pantas untukkmu."
RING DING DONG! Bel tanda masuk berbunyi.
Shizuki menutup kotak bekalnya dan berdiri. "Aku permisi duluan, Kise-kun." Kata gadis berambut kuning terang lurus sepinggang itu lalu berjalan pergi meninggalkan taman belakang.
Kise menundukkan kepalanya. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes.. celananya mulai basah karena air matanya.
Dari hari ke hari kondisi Kise semakin memburuk. Ia sering bolos sekolah, bahkan ketika ada ujian pada hari itu. Dia tidak makan atau tidur dengan benar, yang mana membuat tubuhnya tidak cukup stabil untuk bermain basket dan kerja-melakukan pemotretan.
Kise menempelkan fotonya bersama Shizuki di kencan pertama mereka ke dadanya. Ini sungguh sebuah luka besar yang tidak akan pernah sembuh, aku membutuhkanmu Shizu-chan.
Kise melemparkan bola ke ring. Dan... Meleset.
Performa buruk Kise di lapangan menjadi tanda bagi semua rekan tim basketnya. Sebagai kapten tim Kasamatsu biasanya akan marah dan meninju Kise, tapi dia kali ini pandangan mata Kise membuatnya tidak bisa melakukannya. Juga, Kise sendiri sudah terlihat lebih menyedihkan dari pengemis di jalanan.
"Kise," Kasamatsu meletakkan tangannya di pundak kiri Kise. "Wajahmu pucat sekali. Pulang dan beristirahatlah."
"Aku akan pulang sekarang." Kata Kise tanpa mengangkat kepalanya.
Kise berbalik dan berjalan melewati Kasamatsu. Baru tiga langkah Kise berjalan, rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya, pandangannya mengabur-sampai akhirnya semua menjadi gelap.
"Kiseeee!"
"Moriyama, cepat bantu aku mengangkatnya!"
Hari sudah malam saat Kise terbangun.
"Akhirnya kau sadar juga." Kata Kasamatsu dengan raut wajah kesal.
Kise mendudukkan tubuhnya. "Sadar?" Tanyanya sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Tadi kau pingsan di lapangan basket. Ada apa denganmu? Kau tahu, karena harus menungguimu di UKS aku dan Rin-chan jadi batal nonton!"
"Maaf sudah merepotkan," Kise memasang senyum palsu di wajah sendunya. "Aku janji akan mengtraktir Senpai makan untuk mendapatkan pengampunanmu."
Kise berharap bercanda dengan Kasamatsu seperti yang biasa mereka lakukan seperti ini akan menghiburnya sedikit. Tapi, sayangnya tidak berhasil.
"Ya.. Kau memang sudah seharusnya merasa bersalah."
Kasamatsu benar-benar khawatir pada juniornya ini. Ia sangat ingin bertanya tentang apa yang terjadi, tapi takut itu akan membuat Kise semakin sedih karena harus bercerita padanya.
Kise menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang jatuh begitu saja.
Kasamatsu berdiri dari kursi dan meletakkan tangannya di atas kepala Kise. "Sedikit-sedikit menangis. Ingat kau itu laki-laki."
"Senpai.. Aku tidak ingin hidup lagi." Kata Kise penuh kepedihan.
"Sungguh kalimat yang benar-benar bodoh untuk dikatakan."
"Shizu-chan?" Murasakibara bergumam pelan saat membuka pintu.
Shizuki memindai cepat Murasakibara dari ujung kepala hingga ujung kaki: sangat berantakan, jelas baru bangun. "Aku tahu ini hari minggu, tapi baru bangun jam 5 sore itu sangat keterlaluan Mu-kun."
"Heh.. Ini sangat tiba-tiba.."
"Kau tidak mengangkat panggilan dan membaca sms ku jadi aku datang!"
"Oh.. Semalam handphone ku mati kehabisan batre dan aku lupa mengisinya. Tapi, ada apa sampai datang ke rumah segala, Shizu-chan?"
"Hari ini adalah pemutaran film Naruto The Last di bioskop. Temani aku nonton ya?" Shizuki mendorong tubuh besar Murasakibara masuk ke dalam rumah. "Pokoknya harus!"
"Eh, aku tidak punya uang untuk jalan."
"Aku akan membayar untuk semuanya."
"Tapi aku juga ingin melanjutkan tidurku, kenapa sih kau tidak pergi dengan.."
"Jangan banyak bicara! Cepat mandi dan ganti baju!" Kata Shizuki, sengaja memotong sebelum Murasakibara sempat menyebut nama Kise.
Kise masuk ke dalam studio bioskop dan duduk di barisan paling belakang. Kise membayangkan seandainya dia dan Shizuki masih bersama yang mengisi kursi di sebalahnya sekarang pasti bukanlah orang asing.
Secara pribadi Kise tidak tertarik pada Anime, dia sengaja datang ke pemutaran film Naruto The Last ini karena ingat Shizuki menyukai Naruto.
Semua orang di ruangan seketika terdiam ketika layar raksasa di depan menyala. Film akan segera dimulai.
"Oh tidak, filmnya sudah dimulai." Kata Shizuki pelan saat memasuki studio bioskop.
Mereka terlambat karena 'rempong' Murasakibara memesan begitu banyak makanan.
Kondisi studio gelap, tangan penuh makanan dan minuman membuat keduanya sedikit kesulitan menuruni tangga.
"Perhatikan langkahmu Shizu-chan, jangan sampai popcorn ku jatuh." Kata Murasakibara dengan volume suara biasanya, membuat penonton terganggu.
"Mu-kun seharusnya kau mengkhawatirkan temanmu bukan popcornnya."
"SSSSSSSSSHHHHHHHHHHHHH!"
Suara-suara yang sangat tidak asing, Kise mengalihkan pandangnya ke arah kebisingan. Matanya membesar melihat Shizuki bersama dengan Murasakibara.
Dengan mata mengembun Kise berdiri dan meninggalkan studio bioskop.
Di luar hujan deras. Tanpa berpikir dua kali Kise berjalan lunglai menerobos hujan.
Pagi sebelum kelas dimulai.
Kise berlari memasuki kelas Shizuki. Dengan berurai air mata dia bersujud di depan Shizuki, semua orang sontak sontak mengalihkan perhatian mereka pada keduanya.
"Aku lihat hidupmu lebih baik tanpa aku. TAPI aku benar-benar membutuhkanmu, Shizu-chan." Kata Kise, terdengar sangat pilu.
Shizuki terlalu marah untuk bisa berpikir jernih. "Kise-kun ku mohon tolong berdiri! Semua orang akan salah paham tentang ini!"
"Kau selalu berpikir keras tentang opini orang-orang tidak penting," Kise tertawa pahit dalam tangisnya. "Bisakah kau juga memikirkan tentang perasaanku? Tanpamu aku tidak bisa memikirkan atau melakukan sesuatu dengan benar. Kumohon terima aku kembali, aku membutuhkanmu. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, aku akan berhenti menjadi model! Pokoknya apa saja.. Untukmu.."
"Kise-kun," air mata yang sedari tadi ditanah Shizuki akhirnya jatuh. "Semua yang baru kau katakan membuatku terlihat seperti orang egois yang tidak berharga."
Shizuki tidak tahan dengan tatapan tajam 'jijik' yang gadis-gadis berikan padanya. Ia menutup mulutnya dan berlari keluar kelas.
"Shizu-chan.."
Shizuki menyembunyikan diri dari guru di UKS. Di sana, gadis itu menangis sejadi-jadinya.
"Bisakah kau juga memikirkan tentang perasaanku? Tanpamu aku tidak bisa memikirkan atau melakukan sesuatu dengan benar. Kumohon terima aku kembali, aku membutuhkanmu. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, aku akan berhenti menjadi model! Pokoknya apa saja.. Untukmu.."
Kau benar-benar mencintaiku, Kise-kun. Maaf tapi aku masih berpikir ini adalah yang terbaik untuk kita.
Jam istirahat. Tanpa mempedulikan tasnya masih di dalam kelas, Kise bolos meninggalkan sekolah dengan melompat pagar belakang yang lumayan tinggi.
Kise berjalan tanpa arah dengan kepala tertunduk, ia tidak benar-benar memiliki tempat tujuan.
Di persimpangan Kise tidak menghentikan langkah kakinya meskipun ia tahu lampu lalu lintas menyala merah.
TINNNNNNNNNNNNNNN.. Tak sempat mengerem, sebuah mobil yang baru berbelok menabrak Kise hingga tubuhnya jatuh terhempas.
"Maafkan aku...Shizu-chan." Kise bergumam pelan sebelum tidak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan anak ku?!" Ibu Kise bertanya panik. Bersama dua putrinya, mereka langsung datang ke rumah sakit begitu mendengar tentang kecelakaan putranya.
"Pasien Kise Ryota belum sadar. Tapi anda tidak perlu khawatir, dia hanya mengalami hanya mengalami beberapa luka ringan ditubuhnya yang akan sembuh dalam beberapa minggu." Dokter menjelaskan.
Darah kental menetes dari hidung Shizuki mengenai buku tulisnya.
Shizuki mengangkat tangannya. "Sensei, boleh aku izin ke toilet?"
Melihat darah membuat gurunya sedikit khawatir. "Apa kau baik-baik saja?"
Shizuki mengangguk. "Ini hanya mimisan kecil saja." Pasti karena aku kurang tidur.
Shizuki membasuh wajahnya lalu menatap lurus pada bayangan dirinya dalam cermin besar di depannya.
Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak.
Shizuki berjalan di koridor dengan menunduk risih. Gadis-gadis sangat terang-terangan dalam menghakiminya.
"Jadi mereka benar-benar ada hubungan?"
"Masa sih Kise-kun sampai bersujud?!"
"Aku terkejut selera seorang Kise Ryota dalam wanita ternyata rendah."
Bisik-bisik yang memuakan, Shizuki mempercepat langkahnya.
"Apa menurutmu kejadian tadi pagi ada kaitannya dengan kecelakaan yang Ryota-san alami?"
Tubuh Shizuki seketika lemas. KECELAKAAN APA?
Shizuki segera berbalik pada dua gadis yang di depan loker yang sedang membicarakan hal itu dan bertanya penuh kepanikan. "KECELAKAAN APA?!"
Semua orang di sekitar koridor seketika terdiam.
"Masa sebagai penyebabnya kau tidak tahu sih?" Kata gadis yang ditanya oleh Shizuki dengan nada mencemooh.
BENAR. AKU ADALAH PENYEBABNYA.
Sambil menutup matanya dengan lengan Shizuki berlari sekencang-kencangnya keluar dari koridor.
Karena tidak memperhatikan jalan, di depan gerbang gadis mungil itu menabrak seseorang yang ternyata adalah Kasamatsu.
"Maaf." Kata Shizuki.
Kasamatsu mengulurkan tangannya dan membantu Shizuki berdiri. "Shirota-san, ikut aku ke rumah sakit."
Shizuki mengangguk.
Dengan posisi setengah berbaring Kise menatap kosong dinding putih di depannya. Kepalanya berbalut perban dan tubuhnya dipenuhi luka lebam. Ia tidak bisa merasakan apa-apa, udara yang dihirupnya terasa seperti gas beracun, dia ingin mati.
"Aku datang," kata Kasamatsu saat memasuki ruangan.
Kise yang masih termenung tidak memberikan respon.
"Aku tidak sendiri."
Kise segera menoleh ke arah pintu. "Shizu-chan.."
Perlahan tapi pasti, Shizki berjalan mendekati Kise.
Rasanya seperti jantungku berubah warna menjadi hitam dan dalamnya dipenuhi oleh pecahan kaca. Melihatmu seperti ini sangat menyakitiku. "Kise-kun, apa aku yang menyebabkanmu seperti ini?"
Kise tersenyum sendu. "Tentu bukan. Aku begini karena kebodohanku sendiri tetap menyebrang jalan padahal lampu masih merah."
"Ternyata memang karena aku." Shizuki mulai menangis lagi.
"Jelas kalian membutuhkan privacy. Kalau begitu aku akan pergi sekarang," Kasamatsu meletakkan tas Kise yang dibawanya di ujung ranjang. "Cepat sembuh." Katanya lalu berjalan keluar.
Kise menyeka air mata Shizuki dengan ibu jarinya. "Terima kasih sudah datang kemari. Ini sangat berarti bagiku."
"Kise-kun.."
"Shizu-chan kau tahu, sebelum aku tidak sadarkan diri aku akhirnya bisa berpikir tentang sesuatu dengan benar. Hidupmu jauh lebih baik tanpa aku. Aku seharusnya bahagia tentang itu, bukan malah egois memaksamu untuk menerimaku kembali," Kise menghirup napas agak panjang sebelum meneruskan kembali, matanya mulai mengembun akan menangis. "Kalau memang menurutmu berpisah adalah yang terbaik maka aku akan ikhlas menerima keputusanmu." Maaf aku berbohong, Shizu-chan. Aku terlalu mencintaimu untuk bisa melakukan hal itu. Tapi demi kebahagiaanmu, aku janji untuk setidaknya mencoba. "Dan sebelum semua tentang kita berakhir biarkan aku mengoreksi permikiran orang-orang sialan itu. Mereka bilang kau tidak berharga, tidak cukup cantik untukku, dan sebagainya. Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu sedangkan mereka tidak tahu kalau gadis yang dibicarakan adalah gadis yang membuatku tersenyum setiap hari, gadis yang memberi pundaknya saat aku sedih, gadis yang menyelimuti dan mengusap rambutku saat aku tertidur, gadis yang selalu mengingatkan ku untuk makan, gadis yang merawatku ketika aku sakit, gadis yang mereka bicarakan adalah gadis yang memberikan segalanya untukku. Dan dia sangat cantik, mereka tidak tahu itu karena mereka tidak pernah..." Kise membuka kacamata Shizuki. "Melihat dirinya yang sesungguhnya."
Shizuki menatap lurus wajah dengan sangat dalam. "Apa kau sampai seberat ini menerima perpisahan kita karena kita sudah tidur bersama?" Seks sungguh berefek sangat besar dalam sebuah hubungan.
Kise menaikan setengah alisnya. "Hhm.. Itu adalah satu alasan yang kuat."
Keduanya berbagi senyum sendu.
"Tidak. Aku hanya benar-benar mencintaimu." Kata Kise sambil menempelkan tangannya ke pipi kiri Shizuki.
"Kalau kau berkata seperti itu, maka aku akan tetap menjadi gadis yang kau ceritakan."
Mata Kise membesar. "Shizu-chan, kau menerimaku kembali?"
"Aku akan menjagamu. Maaf karena aku sempat menyerah."
"Cium aku." Pinta Kise.
"Tapi bibirmu terluka, nanti akan sakit."
"Lakukan saja," Kise mendekatkan wajahnya ke wajah Shizuki. "Aku sangat merindukanmu."
FIN
Terima kasih sudah membaca fanfic ini. Ingin Sekuel? Beritahu aku melalui Twitter JeenTeppei apa yang kalian inginkan terjadi antara Kise dan Shizuki di dalam Sekuel.
NEXT: MIDORIMA X READER/YOU/OC: IN PROGRESS
