.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery/Crime/Friendship/Angst/Psychology/Tragedy
Pair : Slight SasuSaku/Slight NaruIno/Slight SasukeNaruko/Slight ItaSasu
Warning : T semi M rate/ Typo(s)/OOC(kind of)/Death Chara/Twisted(?)
By Devilish Grin
.
AFFLICT
Chapter 1
.
Kediaman Uchiha
Penduduk setempat yang tinggal di dekat kediaman Uchiha berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian. Hanya dalam sekejap tempat tinggal Sasuke didatangi banyak warga dan menjadi totonan banyak orang sekitar.
Naruto yang sedang menunggu Sakura juga Ino semakin tersisihkan ke belakang karena terdorong oleh para penduduk yang ingin melihat tempat kejadian dari dekat. Masing-masing dari mereka saling berebut untuk berada di bagian depan, seperti sedang menonton sebuah konser musik yang sedang digandrungi para remaja sekarang.
Bedanya yang mereka lihat saat ini adalah tempat kejadian juga para korban pembunuhan di keluarga Uchiha. Maklum saja, keluarga Uchiha merupakan keluarga yang cukup dipandang dan ternama di Konoha setelah keluarga Hyuuga, jadi animo masyarakat yang ingin mengetahui kejadiannya memang sangat luar biasa.
Seorang pemuda berambut kuning cerah tengah berdiri sambil mengacak-acak pelan rambutnya. Dari raut wajah yang tergambar pada parasnya menandakan ia sedang gelisah dan tak sabar. Tapi raut kecemasan pada wajahnya berubah menjadi suatu kelegaan saat ia menangkap dua sosok gadis yang sedang menuju ke arahnya. Gadis berambut dirty blonde tengah berlari, sementara gadis bersurai pink sedang mengayuh sepeda dengan cepat, membuat mahkota merah mudanya ikut berkibar di tengah kegelapan malam.
"Naruto!" Teriak keduanya dari kejauhan dan pemuda yang dipanggil itu lekas melambaikan tangan agar teman-temannya dapat melihat di mana posisinya.
.
.
"Hah... Hah..., aku buru-buru ke sini setelah mendengar berita ini darimu di telepon. Bagaimana dengan Sasuke dan yang lainnya? Siapa yang menjadi korban pembunuhan?" Sakura, gadis bersurai pink itu segera memberhentikan sepedanya tepat di depan Naruto dan melontarkan pertanyaan di sela-sela napasnya yang terengah-engah.
"Hosh... A-aku juga mau tahu, Naruto... Hosh... Bagaimana keadaan Sasuke...?" Sambar Ino yang berada tiga langkah di belakang dengan posisi tubuh agak membungkuk, sambil mencoba untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Itu wajar saja, karena begitu mendengar kabar dari Naruto, sama halnya dengan Sakura, ia lekas melompat dan meninggalkan rumah. Sepanjang jalan ia berlari, untungnya letak rumahnya tak jauh dari posisi rumah Sasuke.
"Aku juga tidak tahu, tapi tadi aku sempat melihat beberapa polisi sudah mengeluarkan dua korban dari dalam rumah, dan kemungkinan..., masih ada lagi...," jawab Naruto yang langsung membuat kedua gadis di depannya semakin panik. Ada lebih dari dua korban pembunuhan? Kemungkinan Sasuke terbunuh semakin besar dan pikiran-pikiran buruk mulai menggelayut dalam benak mereka bertiga.
"Ayo ke sana dan tanya!" Ino segera menarik tangan Naruto dan Sakura, sampai hampir membuat gadis itu terjatuh dari atas sepeda karena belum turun dari atas sadel.
.
.
Ketiga remaja itu mendatangi para polisi yang hendak mengangkut kantong jenazah itu ke dalam mobil, dan ada beberapa wartawan di sana, tengah memotret wajah para korban pembunuhan.
'Satu..., dua..., tiga..., empat..., lima, dan..., enam.' Naruto menghitung jumlah para korban pembunuhan yang telah dievakuasi keluar.
"Hei, tolong jangan menghalangi." Seorang wartawan pria berkacamata hitam menegur Naruto, karena telah berdiri persis di depan korban yang hendak ia foto.
"Ah, ma-maaf." Naruto secara reflek langsung menyingkir sembari meminta maaf.
Ia kembali mengalihkan perhatiannya ke arah 6 kantong jenazah yang telah disejajarkan. Dalam benaknya Naruto berpikir keras, siapa saja keenam korban tersebut? Apa Sasuke merupakan satu di antara mereka?
"Permisi, Kakashi-san, apa boleh saya memotret wajah-wajah para korban?" Wartawan laki-laki itu meminta ijin kepada salah seorang polisi yang bernama Kakashi dan permintaannya seperti mewakilkan rasa keingintahuan Naruto sesaat lalu.
"Oh, tentu saja." Ijin telah diberikan dan polisi berambut perak itu memerintahkan beberapa orang polisi untuk masing-masing membuka kantong jenazah itu sampai sebatas leher.
Satu-persatu kantong-kantong tersebut dibuka. Naruto, Sakura dan Ino memerhatikan dengan seksama sambil menahan napas. Dalam hati mereka berharap-harap cemas.
Kantong pertama dibuka memperlihatkan wajah seorang wanita tua yang dapat dikenali oleh Naruto dan kawan-kawannya sebagai kepala pelayan di kediaman Uchiha. Wanita tua yang ramah dan sudah menganggap Sasuke seperti anaknya sendiri. Kantong kedua dan ketiga dibuka, membuat Naruto beserta dua gadis lainnya terkejut. Kedua korban itu adalah Mikoto dan Fugaku, orang tua Sasuke.
Naruto mengeratkan kepalan tangannya sambil mendecih. Sungguh ia tak menyangka kalau kedua orang tua Sasuke menjadi korban. Sakura menatap miris, ia merasa kasihan pada Sasuke yang harus kehilangan kedua orang tuanya, pun Ino yang merasakan hal yang sama seperti kawannya. Beberapa orang di sekitar juga saling berbisik-bisik dengan kata "kasihan" begitu melihat kedua korban tersebut.
Kantong keempat dibuka dan memperlihatkan sosok laki-laki tua yang merupakan pekerja di keluarga Uchiha sebagai tukang kebun. Laki-laki ramah yang selalu menyapa setiap orang yang melintas saat ia sedang menyirami halaman depan rumah Uchiha.
Kantong kelima dibuka dan kali ini korbannya adalah seorang laki-laki berusia 30 tahunan, dan merupakan supir pribadi Uchiha dan salah satu asisten kepercayaan Fugaku. Tak banyak yang diketahui mengenai pria itu selain kepatuhan dan kedispilinannya soal waktu, karena ia pribadi yang tak banyak bicara.
Kantong terakhir dibuka, memerlihatkan sosok seorang pemuda yang tak lain adalah Shisui, sepupu dari Itachi dan Sasuke. Pemuda itu memang sudah sejak beberapa bulan lalu tinggal bersama keluarga Sasuke karena ia kuliah di tempat yang sama dengan Itachi.
"Syukurlah..." Naruto, Sakura dan Ino sama-sama bernapas dengan lega, karena Sasuke tidak menjadi salah satu dari korban-korban tersebut. Tapi, kalau Sasuke tidak menjadi korbannya, kemana ia? Itachi juga tak terlihat.
"Tunggu dulu, Pak polisi! Bagaimana dengan Sasuke dan Itachi? Di mana mereka berdua?" Naruto bergegas menghampiri polisi itu dan menanyakan mengenai keadaan kedua pemuda Uchiha yang tak terlihat di tempat.
"Ah, maksudmu Sasuke Uchiha dan Itachi Uchiha?" Polisi aneh karena memakai masker pada wajahnya itu melirik ke arah Naruto juga Ino dan Sakura yang berdiri di belakang pemuda itu.
Ketiga remaja itu mengangguk secara bersamaan dan polisi bermasker itu langsung menutup sebuah buku yang sedang dipegangnya dan mengalihkan perhatian seutuhnya terhadap Naruto dan kawan-kawan.
"Apa kalian ini teman kedua Uchiha itu?" Tanyanya dengan setengah membungkukkan tubuh jangkungnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata sayunya menatap intens.
"Kami teman sekolah Sasuke dan juga cukup dekat dengan Itachi-nii. Apa yang terjadi pada mereka berdua?" Sakura tiba-tiba menyela pembicaraan. Gadis itu bergerak maju ke depan dan tergambar jelas kalau gadis itu sangat mencemaskan Sasuke dan Itachi (terutama Sasuke).
"Justru hal itulah yang sedang kami selidiki, karena Sasuke Uchiha dan Itachi Uchiha menghilang," jawab polisi itu dengan nada penekanan pada kata terakhir, "dan kami mencurigai kalau salah satu dari mereka merupakan pelaku dari semua kejadian ini, atau jangan-jangan keduanya," imbuhnya dengan serius.
"A-apa...? Sasuke dan Itachi menghilang, dan merupakan pelaku pembunuhannya..." Seketika tubuh Sakura lunglai mendengar pernyataan dari polisi itu.
Di sebuah tempat
Jauh dari suara sirine mobil polisi juga kerumunan orang, tampak ada seorang remaja laki-laki sedang meringkuk, mendekap dirinya dengan tubuh yang gemetar. Pemuda itu tampak sangat shock dan ketakutan. Gigi-gigi atas dan bawahnya saling beradu menimbulkan bunyi gemeretuk dengan irama yang tak beraturan.
"Kenapa...? Kenapa...?" Sejak tadi hanya kata-kata itu saja yang terlontar dari bibirnya.
Bayangan-bayangan itu masih dengan jelas dapat ia ingat. Darah ada di mana-mana. Ia melihat satu-persatu orang-orang yang ia sayangi terbunuh. Mereka tewas dibantai dengan brutal.
"Sasuke, tetaplah hidup..., Ibu sangat menyayangimu..."
Sasuke masih ingat pada kata-kata terakhir ibunya pada waktu itu. Wanita yang selalu tersenyum padanya, memberikannya kehangatan seorang ibu setiap saat, wanita yang sering membelai halus rambut ravennya, dan selalu menjaganya setiap saat meskipun beliau termasuk wanita yang sibuk. Kalau ada waktu luang ia selalu menyempatkan diri membuatkan bekal untuk Sasuke.
Pelukan terakhir wanita itu teramat dingin dan berbau anyir, karena tubuhnya sudah terkoyak. Meski harus berlumuran darah, sang ibu masih memberikan cintanya dan melindung anaknya.
"Kenapa..., kenapa kau harus membunuhnya...? KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH IBUKU!" Emosi dan otaknya memberontak. Sasuke berteriak frustasi dengan air mata yang mengalir deras dari manik hitam matanya.
Keesokan harinya, Konoha High School
Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, kejadian yang terjadi pada keluarga Uchiha serta hilangnya kedua anak dari keluarga itu menjadi perbincangan hangat warga sekitar. Bahkan berita mengenai perseteruan Tsunade dan Danzo yang sedang memperebutkan posisi untuk menjadi kepala Negara di Konoha telah tergeser, seakan-akan warga telah melupakan perang dingin antar kedua pemimpin partai tersebut.
Di mana-mana orang membicarakan mengenai kasus pembunuhan itu, mulai dari di sepanjang jalan, bahkan sampai merambat ke sekolah, termasuk di dalam kelas. Naruto dan Sakura sampai kesal mendengarnya, apalagi keduanya juga mendengar beberapa selentingan yang tidak enak mengenai pembunuh dari kejadian itu adalah Sasuke dan Itachi, dengan motivasi ingin menguasai kekayaan Uchiha yang jumlahnya sampai ratusan miliyar itu.
Naruto menggeram, ia segera berdiri dari tempat duduknya yang kini hanya ia huni seorang diri tanpa Sasuke. Ia berjalan sambil memasang ekspresi marah, menghampiri beberapa anak yang tengah asik membicarakan keluarga Uchiha.
"Kalian bertiga, bisa diam, tidak!?" Ia berdiri di depan ketiga anak itu. "Jangan membicarakan Sasuke seperti itu!" Ucapnya yang merasa tidak suka kalau mereka terus menjelek-jelekkan Sasuke. Naruto yakin, Sasuke tidak ada sangkut-pautnya dengan pembunuhan yang terjadi semalam.
"Kenapa memangnya? Kau tidak suka?" Sambar pemuda berambut biru steel yang tidak suka dengan Naruto tiba-tiba saja datang menghardiknya. "Apa yang kami bicarakan itu tidak salah 'kan," tambahnya sok tahu.
"Jelas salah! Apa yang kalian katakan mengenai Sasuke itu tidak benar!" Naruto dengan lantang menepis tentang apa yang diucapakan pemuda itu dan kedua kawannya.
"Oh, ya? Apa kau bisa menjelaskan kemana Sasuke sekarang? Aku dengar setelah kejadian itu, Sasuke dan Itachi sama sekali tidak bisa ditemukan." Pemuda yang bernama Suigetsu itu mencibir, membuat Naruto semakin dibakar amarah. Sakura yang memerhatikan juga sudah sangat marah. Ia ingin sekali menghajar pemuda itu dengan karatenya tapi ia tahu, berkelahi tidak akan menyelesaikan masalah.
"Brengsek, jangan membuat keributan di dalam kelas! Futari wa aho desu!" Shikamaru masuk ke dalam kelas dan langsung menyemprot kedua pemuda itu.
Suigetsu dan Naruto yang merasa terhina langsung melemparkan deathglare ke arah Shikamau, sang ketua kelas. Tapi tatapan itu sama sekali tidak mempan untuk pemuda jenius itu. Dia malah balik menatap dengan tatapan yang lebih tajam. Harus diakui, Shikamaru jauh lebih menyeramkan ketika marah melebihi siapa pun.
"Tapi dia telah menuduh Sasuke yang bukan-bukan!" Naruto menunjuk Suigetsu dengan sengit tapi tatapannya beralih ke arah Shikamaru yang sekarang sudah duduk persis di sebelah Kiba yang hanya bisa geleng-geleng. Pertengkaran Suigetsu dan Naruto sudah seperti sarapan tersendiri di dalam kelas.
"Naruto duduklah, atau aku akan memberikanmu hukuman!" Tegas Shikamaru masih berusaha bersikap selayaknya ketua kelas sebelum ia benar-benar menghajar pemuda itu untuk diam.
Dia tahu bagaimana perasaan Naruto, karena dia sendiri juga tak percaya. Dia dan Sasuke memang tidak dekat, tapi mereka sama-sama anggota komite sekolah dan sedikit tidak percaya dengan rumor kalau Sasuke merupakan pelaku pembunuhan bersama dengan Itachi.
"Aku tidak akan puas sebelum menghajar wajahnya yang mengesalkan!" Sapphire itu kini menatap sengit ke arah Suigetsu yang sedang berdiri santai, seakan sedang menantang.
Baru saja tangan itu terkepal hendak mendaratkan pukulannya ke arah Suigetsu, namun suara Sakura yang setengah berteriak menghentikan aksinya.
"Sa-Sasuke...!"
Reflek Naruto berhenti dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Ternyata benar, Sasuke datang ke sekolah dan pemuda itu kini sudah duduk di bangkunya seperti biasa. Naruto dan Sakura segera berlari menghampirinya.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Sakuralah yang pertama kali buka suara menanyakan keadaan pemuda itu.
"Hei, teme. Semalaman kau kemana saja? Apa kau tidak tahu banyak orang yang mencarimu, huh?" Naruto ikut menimpali. Ia lega melihat Sasuke datang ke sekolah, itu berarti gosip mengenai Sasuke yang menjadi pelaku pembunuhan secara tidak langsung telah termentahkan. Mana ada pelaku pembunuhan yang berani muncul di depan publik, iya 'kan?
Sasuke sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari kedua temannya dan hal ini membuat Naruto maupun Sakura semakin khawatir. Meskipun telah masuk sekolah, tapi keadaan Sasuke jauh dari kata baik. Ia terlihat pucat dan berantakan.
"Sasuke, Kepala sekolah tadi menitipkan pesan padaku, kalau kau masuk ke kelas hari ini ia memintamu untuk menemuinya," sela pemuda dengan rambut khas yang dikuncir mirip buah nanas.
"Hn." Tanpa banyak bicara pemuda dengan gaya rambut emo itu beranjak dari tempat duduknya, dan tanpa permisi lagi ia segera meninggalkan ruangan kelas disertai dengan beberapa pasang mata menatapnya heran.
.
.
Sasuke berjalan menelusuri sepanjang lorong menuju ke ruangan kepala sekolah yang berada pada bagian sudut. Pemuda itu terkesikap saat ia bertemu dengan dua temannya, dan spontan ia menghentikan kedua langkah kakinya.
"Ohayou, Sasuke-kun," sapa seorang gadis indigo sambil memasang senyuman ke arah Sasuke. Di sebelahnya berdiri seorang pemuda berkulit pucat yang kalau secara sepintas dilihat memiliki kemiripan dengan Sasuke.
"Aku tak menyangka kau berani masuk ke sekolah, Sasuke. Apa kau tahu kalau kepolisian mencurigaimu sebagai pembunuh?" Sai bicara blak-blakan seperti biasa.
"Tutup mulut kalian berdua!" Bentak Sasuke secara emosional.
"Sasuke-kun, tolong maafkan Sai. Dia tak bermaksud untuk—" Gadis yang bernama Hinata mencoba untuk menenangkan Sasuke ketika ia membaca gurat kekesalan pada wajah pemuda itu.
"Diamlah!" Sela Sasuke dengan cepat, "Kalian ada di sana..., kenapa? Kenapa kalian tidak membantuku?" Entah apa yang dimaksudkan Sasuke dengan kata-katanya itu. Apa mungkin pada saat kejadian Sai dan Hinata ada di tempat kejadian?
"Hinata, kita kembali ke kelas." Sai sepertinya enggan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Sasuke. Ia dengan cepat menarik Hinata bersamanya menjauhi pemuda itu.
Ruangan kepala sekolah
Sasuke kini tengah duduk di dalam ruangan ber-AC berhadapan dengan seorang pria berusia sekitar 60 tahunan, bernama Sarutobi yang merupakan kepala sekolah Konoha dan tahun ini merupakan tahun terakhirnya menjalankan tugas, sebelum ia menyerahkan tugasnya itu kepada anak laki-laki satu-satunya yang ia punya.
"Bagaimana keadaanmu Sasuke? Pasti berat karena kau kehilangan segalanya dalam waktu kurang dari sehari." Sarutobi membuka pembicaraan dengan sedikit berbasa-basi.
'Tch...! Kenapa kau tidak langsung saja bicara, tak perlu berbasa-basi.'
"Sasuke, pihak kepolisian sudah menghubungiku dan mereka ingin kau segera melapor," ucapnya menyampaikan sebuah pesan penting yang dikirim langsung dari Kakashi, kepala penyelidik yang menangani kasus pembunuhan yang terjadi pada keluarga Uchiha.
"Aku mengerti," balas Sasuke datar. Ia sadar benar posisinya sekarang menjadi tersangka.
"Ini nomor telepon Kakashi. Segera hubungi dia sekembalinya kau dari sekolah." Sarutobi menyerahkan sebuah kartu nama milik Kakashi yang sempat datang pagi-pagi sekali ke sekolah.
TBC
A/N : So, who's the killer? Sasuke or Itachi? Or maybe any suspected?
T
H
A
N
K
S
For read and support!
