.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery/Crime/Friendship/Angst/Psychology/Tragedy
Pair : Slight SasuSaku/Slight NaruIno/Slight SasukeNaruko/Slight ItaSasu
Warning : T semi M rate/ Typo(s)/OOC(kind of)/Death Chara/Twisted(?)
By Devilish Grin
.
AFFLICT
Chapter 2
.
Sasuke terlihat sedang berjalan sendirian selepas pulang dari sekolah. Hari itu ia enggan menerima ajakan pulang bersama dengan Naruto dan Sakura. Ia memang seperti sedang menghindari keduanya.
Pemuda itu berjalan sambil menatap lamat pada sebuah kartu nama yang sedang ia pegang.
'Hatake Kakashi...,' gumamnya dalam hati sambil menimang-nimang apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Beberapa kali pemuda itu menghembuskan napasnya. Ia masih membutuhkan waktu dan ruang untuk sendiri. Rasanya ia belum sanggup kalau harus kembali mengingat kejadian malam itu.
Nyut...!
Sedikit kemudian rasa nyeri mendadak muncul pada bagian kepalanya sesaat ketika ia mengingat kejadian itu. Rasa nyeri itu perlahan mulai menjalar ke seluruh bagian kepalanya dan rasa sakitnya semakin menjadi, membuatnya mengerang tak tertahan.
"Ughh..." Sasuke memegangi bagian kepalanya yang terasa sangat sakit, bagaikan dihantam oleh ribuan gada berkali-kali.
Brukh...!
Sasuke langsung ambruk di pinggir jalan membuat orang-orang sekitar panik.
...
Sun Flower Clinic
Di sinilah sekarang, Sasuke, pemuda itu tampak terbaring lemah di dalam sebuah ruangan klinik setempat dengan kondisi yang memprihatinkan. Orang-orang setempat yang melihat Sasuke pingsan segera membawanya ke klinik terdekat yang letaknya tidak jauh dari sekolah.
Sasuke sudah terbangun sejak 5 menit yang lalu dan rasa nyeri di kepalanya masih terasa, tapi ia tak ingat alasannya kenapa ia bisa sampai di sebuah klinik. Sasuke memijit-mijit keningnya berusaha untuk meningat-ingat kejadian sebelumnya.
"Oh, anak itu ada di dalam. Dia baru sadar beberapa menit yang lalu." Terdengar suara seorang perempuan –kemungkinan suara seorang perawat klinik— dari arah ruangan kamarnya.
"Kalau begitu saya ingin menemuinya guna melakukan penyelidikan." Kali ini Sasuke mendengar suara seorang laki-laki.
"Dari kepolisian Konoha rupanya? Kalau begitu silahkan masuk." Wanita itu terdengar terkejut mengetahui laki-laki yang datang adalah seorang petugas kepolisian. Dengan cepat ia mempersilahkan pria itu masuk.
Krieeet...!
Pintu kamar ruangan Sasuke terbuka dan secepat itu pula Sasuke segera membaringkan tubuhnya di atas kasur, pura-pura masih tertidur.
"Terima kasih. Bisa tinggalkan kami berdua?" ucap pria tersebut dengan sopan.
"Tentu saja." Wanita perawat itu mengangguk paham. Ia segera keluar ruangan dan kembali menutup pintu tersebut.
Keadaan menjadi hening sepeninggalnya wanita itu, menyisakan Sasuke yang masih terbaring, berpura-pura tidur, juga pria tak dikenalnya masih berdiri menatap punggungnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah yang semakin mendekat ke arah Sasuke. Sang raven menyadari cepat atau lambat petugas itu pasti akan mengetahui dia hanya berpura-pura tidur saja. Maka dari itu ia memutuskan untuk segera bangun dari posisi tidurnya.
"Ah maaf, apa aku telah membangunkanmu, Uchiha-san?" Tanya petugas itu yang jelas-jelas sekali tidak merasa menyesal karena masuk secara tiba-tiba dan mengganggunya.
"Hn. Katakan saja, apa maumu datang kemari?" Balas Sasuke setengah mendengus. Dia benci orang-orang dewasa yang bersikap sok baik di depannya.
"Hah, kau ternyata emosional juga," ujar sang penyidik dengan memamerkan sebuah seringai yang membuat Sasuke semakin risih berdekatan dengannya, "kau pasti sudah mengetahui tentangku, karena aku sempat menitipkan kartu namaku pada Tuan Sarutobi." Tangannya bergerak menyeret sebuah kursi kecil berwarna putih.
'Jadi dia adalah investigator yang bernama Kakashi Hatake.' Sasuke being awarness at the time menyadari laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah seorang investigator. Satu hal yang ia ingat adalah kartu nama berwarna silver itu.
Sepasang onyx itu menatap intens pada pria yang kini duduk di bangku tersebut, menutup buku yang sejak tadi dipegang dan meletakkannya pada sebuah laci putih tepat di sebelah ranjang Sasuke. Kini pria itu mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Sasuke. Remaja yang menjadi salah satu tersangka pada peristiwa pembunuhan itu selain Itachi yang sampai detik ini belum diketahui keberadaannya. Nonetheless that boy is like disappeared from the earth dan membuat pihak kepolisian kerepotan mencarinya.
"Kau kemari untuk?" Sasuke melirik tajam sementara si petugas mengernyit.
"Tentu saja untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi di keluargamu," jawabnya dan mengambil posisi bersandar pada bangku tersebut.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu," jawab Sasuke sebelum Kakashi sempat melemparkan pertanyaan kepadanya.
"Aku bahkan belum bertanya tapi kau sudah menjawab." Petugas itu sedikit mendesis sinis.
Sasuke mendecih kesal, dan bergumam akan sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Kakashi walaupun ia memang menangkap pergerakan bibir pemuda itu, tapi dia tak mendengar apa yang dikatakannya. Sasuke bagai berbisik kepada angin. Yah, mungkin saja pemuda itu mengumpat pelan.
"Frontal saja, apa kau melihat pelaku pembunuhan pada malam itu?" Tanya Kakashi to the point. Dia tak mau bertele-tele karena itu akan menghambat proses penyelidikannya.
"Pembunuhan? Apa maksudmu?" Sasuke tampaknya bingung dan malah balik bertanya.
'Apa dia sedang mempermainkanku?' Batin Kakashi sedikit kesal. "Semalam terjadi pembunuhan yang memakan 6 korban. Dua wanita dan 4 laki-laki, kesemuanya terbunuh dengan cara yang mengenaskan, dan kejadian itu diperkirakan sudah terjadi beberapa jam sebelum jasad para korban ditemukan." Kakashi menjelaskan peristiwa itu secara terperinci kepada Sasuke.
"Hanya ada dua orang yang selamat, yaitu kau dan Kakakmu yang bernama Itachi. Apa kau ingat?" Tanyanya kemudian sambil mengamati ekspresi apa yang akan dikeluarkan Sasuke.
"Itu tidak mungkin!" Sasuke berteriak dan tampak sangat shock. Hal ini membuat Kakashi merasa muak melihatnya. Ia merasa pemuda itu sedang memainkan sebuah permainan drama padanya, dan menganggap kepura-puraannya itu akan berhasil.
"Jangan berteriak padaku anak muda," balas Kakashi dengan perasaan gusar. Ia menangkap ada hal tak lazim dari sikap pemuda di depannya ini.
"Kau bohong! Tidak mungkin keluargaku terbunuh! Aku tidak percaya!" Kakashi semakin tidak mengerti dengan tingkah Sasuke.
Pemuda itu dengan cepat segera berdiri mencari-cari sesuatu –entah apa itu— ke segala tempat. Terlihat sedikit frustasi karena tak berhasil menemukan apa yang dicari, sepasang onyx itu kemudian tertuju ke arah satu-satunya lemari kecil yang ada di sana dan membukanya. Kelegaan terpancar dari wajah datarnya ketika ia berhasil menemukan tas sekolah miliknya di dalam sana.
Dengan tak sabar Sasuke merogoh bagian dalam tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berwarna hitam. Jari-jarinya memencet tombol-tombol pada layar sentuh ponsel tersebut. Pemuda itu menghubungi seseorang, dan Kakashi masih setia terdiam di sana, mengamati setiap gerakan Sasuke.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama tak diangkat, pemuda itu terlihat kecewa. Lagi, ia menekan nomor seseorang (nomor yang berbeda dari yang pertama).
Tut... Tut... Tut...
Panggilan kedua juga tak ada jawaban dan si raven mulai terlihat cemas. Ia kembali menghubungi nomor yang berbeda.
Tut... Tut... Tut...
Sama halnya dengan panggilan pertama dan kedua. Nomor ketiga yang ia hubungi pun juga tak mendapat respon. Hal ini membuat Sasuke semakin panik bercampur dengan amarah.
"Ukh..." Sasuke terdiam sesaat, tampak depresi. "SIALAN!" Pemuda itu melemparkan ponsel tersebut begitu saja ke arah dinding saking frustasinya dan membuat ponsel tak bersalah itu menjadi hancur dan berserakan di lantai klinik.
"Sasuke, tenangkan dirimu. Kau mulai kehilangan kendali." Kakashi merasa sedikit jengah. Ia berdiri dan mencoba menenangkan pemuda yang emosinya sedang bergejolak. Ia menepuk pelan kepala raven remaja itu.
"Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang saat aku tahu keluargaku terbunuh!?" Pemuda itu meraung marah dan menganggap Kakashi terlalu meremehkan masalahnya. "Aku harus segera pulang dan mencari tahu sendiri!" Sasuke segera menyambar tas miliknya dan berlari pergi meninggalkan ruangan kamar.
Sekarang di sinilah ia, berada di sebuah rumah kediaman Uchiha yang cukup megah dengan arsitektur bergaya rumah adat tradisional Jepang dengan berbagai macam bonsai yang berjajar menghiasi halaman depan rumah tersebut.
Kakashi terpaksa mengikuti Sasuke yang melarikan diri begitu saja sampai ke rumahnya meskipun ia sudah memperingati remaja itu untuk berhenti dan tenang. Sasuke berlari masuk menerobos pintu pagar diikuti oleh Kakashi yang masih setia membuntutinya.
"Apa-apaan ini!?" Suara teriakan Sasuke terdengar bahkan sampai keluar. Kakashi dapat melihat pemuda itu menyambar kertas segel kepolisian dan menyobeknya dengan kasar.
Drap... Drap... Drap...!
Sasuke berlari di dalam rumah menelusuri tiap-tiap ruangan yang ada sampai di mana ia menemukan tanda yang membentuk posisi tubuh seseorang yang sudah digarisi. Sasuke berhenti sesaat, dan kembali berlari ke ruangan yang lain.
Lagi-lagi Sasuke menemukan tanda yang sama. Batinnya semakin dilanda ketakutan. Apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam rumahnya? Apa memang benar telah terjadi pembunuhan? Tapi, kenapa ia tak bisa mengingatnya? Bukankah kata petugas tadi kejadiannya semalam? Tak mungkin ia melupakan kejadian yang baru terjadi semalam. Dia tidak amnesia 'kan? Buktinya dia masih ingat siapa dirinya, teman-temannya juga hal lain, tapi kenapa? Kenapa dia tak menyadari telah terjadi pembunuhan di rumahnya sendiri? Sasuke semakin mempercepat langkah kedua kakinya dan kali ini ia menuju ke kamar kedua orang tuanya.
Sreeeeeeet...!
Sasuke menggeser pintu kamar tersebut dengan tergesa dan tanpa sadar ia menahan napas.
Meskipun ruangan di dalam kamar itu gelap, namun Sasuke masih dapat dengan jelas melihat apa-apa saja yang ada di sana, termasuk garis yang menandai posisi dua tubuh manusia, ayah dan ibunya yang kemungkinan tewas terbunuh pada malam itu.
"I-ini tidak mungkin...," ucap Sasuke dengan nada bergetar.
Seketika itu juga Sasuke merasa kedua lututnya seakan telah kehilangan daya serta kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri. Sasuke terduduk lemas, hingga akhirnya ia membungkukkan tubuhnya, meratapi apa yang telah terjadi.
"Kuso...! Kuso...! Kuso...!" Sasuke mulai menangis dan memukul-mukulkan kepalan tangannya pada lantai, membuat kulit tangan yang putih itu berubah memerah.
Kakashi yang sedari tadi bertindak sebagai pengamat diam-diam mulai menaruh rasa prihatin sekaligus simpatik pada Sasuke. Remaja tanggung itu terlihat sangat terpukul dan sedih. Namun, satu hal yang membuatnya bertanya heran. Benarkah Sasuke lupa pada kejadian pembunuhan itu?
Sasuke masih terlihat menangis dan kali ini sudah menghentikan pukulannya. Pukulan tadi menyisakan bekas luka dan jejak darah pada buku-buku jarinya. Perlahan Kakashi menghampiri Uchiha bungsu itu sambil berjongkok di sebelahnya.
"Laki-laki tidak boleh menangis, Sasuke," ucapnya seraya menepuk pelan kepala Sasuke dan sedikit mengusapnya secara perlahan. "Sekarang hapus air matamu dan ikut denganku." Sasuke tersentak dengan perkataan itu dan langsung menghapus jejak air matanya sambil melirik ke arah Kakashi yang sudah berdiri dengan tegap persis di sebelahnya.
Kakashi menyuruh Sasuke untuk mengambil beberapa pakaian ganti miliknya, karena ia berencana untuk mengajak anak itu menginap di tempatnya selama beberapa hari guna penyelidikan. Jujur saja, Sasuke sangat aneh. Remaja itu mengaku lupa pada kejadian pembunuhan itu, dan tentunya ia tak percaya begitu saja dengan pernyataannya. Maka dari itu ia perlu membuktikannya dan memerlukan beberapa tes pada pemuda itu.
Disaat Sasuke sedang sibuk mengepak pakaiannya ke dalam tas, Kakashi segera menghubungi salah seorang kenalannya, bisa dikatakan temannya semasa kecil dulu.
"Moshi-moshi!" Terdengar suara seorang pria dari seberang.
"Ah, Moshi-moshi, Yakushi-san," balas Kakashi dengan terlalu formal. Seakan lupa kalau orang yang diteleponnya merupakan sahabatnya.
"Seperti biasa ya, Kakashi? Jangan terlalu formal begitu padaku. Kita ini sahabat 'kan." Sebuah protes dilancarkan oleh pemuda itu.
"Ya, baiklah, Kabuto," ucap Kakashi segera meralatnya, "apa malam ini kau bisa datang ke apartemenku? Aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki seseorang," pintanya secara terus-terang.
"Wah, tentu saja. Pastinya ada hal yang menarik bukan." Kalau saja Kakashi bisa melihat, saat ini temannya sedang menyeringai senang. Kakashi memang selalu membawa kasus yang mampu menelisik hatinya. "Okay, aku akan ke tempatmu jam 8 malam tepat, apa perlu kubawakan sake?" Kabuto setengah tertawa pada bagian akhir kalimat.
"Tidak, terima kasih. Aku akan menunggumu jam 8 tepat." Kakashi memutar kedua bola matanya dan segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Tepat sesaat Kakashi mematikan ponselnya dan menaruhnya pada saku baju, Sasuke sudah berdiri di ambang pintu kamarnya sambil membawa sebuah tas berukuran sedang, menatap Kakashi dengan pandangan datar.
"Sebelum ke tempatku kita harus kembali ke klinik dulu karena aku memarkirkan mobilku di sana, aku harap kau tidak keberatan kita akan sedikit berjalan kaki," ujar Kakashi yang baru teringat ia tadi lari begitu saja mengejar Sasuke sampai-sampai harus meninggalkan mobil sport berwarna putih kesukaannya di klinik 24 jam tersebut.
"Terserah," balas Sasuke cuek.
Kedua laki-laki itu segera pergi meninggalkan rumah kediaman Uchiha yang telah resmi menjadi tempat kejadian perkara pembunuhan dan saksi bisu mengenai tragedi berdarah pada malam itu.
.
.
Tepat selang beberapa menit setelah kedua sosok laki-laki itu berlalu dari wilayah sekitar, Sakura datang bersama dengan rombongan para murid yang hari itu berniat untuk menjenguk Sasuke.
"Hei, apa benar Sasuke ada di dalam?" Tanya seorang pemuda berambut coklat dengan ragu. Entah kenapa semenjak kejadian pembunuhan itu, rumah Sasuke kini lebih terlihat seperti sarang hantu yang menakutkan baginya.
"Kau bodoh, Kiba. Tentu saja Sasuke ada di dalam! Kau pikir Sasuke ada di rumah yang mana lagi?" Ketus Naruto sedikit jengkel melihat Kiba yang seperti tak ikhlas untuk datang.
"Ah, kalian ini. daripada ribut lebih baik dipanggil keluar saja orangnya!" Ino yang terpancing emosi mendorong kedua pemuda itu dengan kasar. Kemudian ia sendiri berjalan ke arah pintu gerbang kediaman Uchiha dan mulai memencet tombol bel pada sisi tembok sambil sesekali meneriakkan nama teman mereka.
"Sasuke tidak ada di rumah," ucap seorang wanita yang sejak beberapa saat lalu memerhatikan anak-anak sekolah dari Konoha itu. Otomatis semua perhatian mereka teralih pada wanita paruh baya tersebut.
"Eh? Maaf, kalau boleh tahu, kemana Sasuke pergi?" Tanya Sakura dengan sopan.
"Masalah itu saya kurang tahu, tapi Sasuke tadi pergi bersama dengan seorang pria," jawabnya dengan sedikit perasaan menyesal. Ah, andai tadi ia bertanya kemana kedua laki-laki itu pergi, tentu saat ini ia bisa memberikan info kepada Sakura dan kawan-kawannya.
"Apakah laki-laki yang pergi bersama Sasuke adalah Itachi?" Tanya Naruto langsung menyela dengan napas yang memburu.
"Rasanya dia tidak seperti Itachi, tapi lebih mirip dengan polisi yang datang semalam melakukan evakuasi," jawab wanita tersebut sambil mencoba mengingat-ingat wajah pria yang membawa pergi Sasuke.
'Apa? Dari kepolisian?' Ucap batin semua murid yang datang saat itu sambil menunjukkan ekspresi terkejut.
'Apa..., jangan-jangan mereka menangkap Sasuke?' Sakura meremas bagian roknya sambil menduga-duga sendiri, dan entah kenapa setiap kali memikirkan polisi membuat perasaannya jadi kalut.
TBC
T
H
A
N
K
S
For Read :D
