.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery/Crime/Friendship/Angst/Psychology/Tragedy
Pair : Slight SasuSaku/Slight NaruIno/Slight SasukeNaruko/Slight ItaSasu
Warning : T semi M rate/ Typo(s)/OOC(kind of)/Death Chara/Twisted(?)
By Devilish Grin
.
AFFLICT
Chapter 3
.
Apartemen Kakashi
Sasuke kini sudah berada di apartemen milik Kakashi yang berada pada lantai utama. Sebuah apartemen yang bisa dibilang cukup mewah untuk seorang anggota kepolisian. Perabotan di dalamnya juga terbilang lengkap, ada TV layar datar berukuran besar, satu set sound system, komputer, bahkan ada mini bar pada bagian dapurnya.
"Maaf sedikit berantakan. Buatlah dirimu senyaman mungkin di sini," ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal saat melihat keadaan ruangan tamunya sendiri yang tampak berantakan dengan berbagai macam koran dan majalah berserakan di sekitarnya.
"Tak masalah," balas Sasuke dengan datar.
Pemuda itu kemudian mengikuti Kakashi masuk ke dalam ruangan tamu. Tampak sedikit kebingungan mencari ruang untuk duduk karena sofa berwarna putih pada ruangan tersebut tertutup oleh buku-buku, koran juga majalah yang menumpuk.
"Ah, aku mau mandi sebentar. Kau bisa meletakkan barang bawaanmu di mana saja yang kau suka." Kakashi menunjuk ke suatu arah secara asal, karena jujur saja dia sendiri juga bingung di mana Sasuke harus meletakkan tasnya itu.
Kemudian laki-laki berusia 27 tahun itu bergegas pergi masuk ke dalam meninggalkan Sasuke sendirian di sana. Keadaan menjadi sunyi, dan Sasuke tak tahu harus berbuat apa sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk merapihkan bagian ruang tamu Kakashi yang terlihat abstrak dengan tumpukan buku yang tergeletak secara acak di berbagai tempat.
Sasuke mulai memindahkan tumpukan-tumpukan buku itu satu-persatu, juga mengambil beberapa koran yang tercecer di lantai. Sampai pada satu titik aktifitas pemuda itu terhenti saat kedua manik kelamnya menangkap sebuah judul tulisan pada sebuah koran ternama di Konoha.
"TRAGEDI MALAM PEMBUNUHAN KELUARGA UCHIHA"
Tulisan itu dicetak dengan huruf yang besar dan mencolok. Seketika Sasuke menjatuhkan koran tersebut dan meremas bagian dadanya kuat-kuat. Jadi keluarganya memang benar-benar tewas dibantai pada malam itu seperti yang diucapkan oleh Kakashi. Tapi, kenapa tak ada secuil ingatan pun yang terlintas dalam memorinya.
"Yo!" Lamunan Sasuke buyar sesaat setelah melihat seorang pria berambut putih masuk ke dalam apartemen sambil memasang cengiran lebar.
"Apa Kakashi ada di dalam?" Tanyanya sambil berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Dia sedang mandi," balas Sasuke seadanya dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda beberapa detik yang lalu.
Ia kembali mengambil koran yang sempat dijatuhkannya dan menumpuknya dengan koran-koran lain. Meletakkan tumpukan koran-koran tersebut di bawah meja, sejajar dengan tumpukan buku. Sasuke kelihatannya terlalu larut dalam kegiatannya sendiri sampai tak menyadari kalau pria yang baru masuk tadi terus-menerus memerhatikannya.
Setelah pekerjaannya selesai, ia baru sadar telah dipandangi cukup lama oleh pria tersebut, akhirnya Sasuke berbalik ke belakang dan bertanya, "apa ada yang salah denganku?" Sambil mengernyit kurang nyaman dengan tatapan intens yang ditujukan kepadanya.
"Tidak, bukan begitu." Pria itu segera menggeleng sembari tersenyum canggung, "Aku hanya tak menyangka akhirnya Kakashi menyewa seorang service boy juga," sambungnya lagi sambil mengulum senyum.
"Excuse me, but I am not a service boy." Sasuke agaknya tersinggung karena dikira seorang pelayan oleh pria tersebut. Enak saja, masa seorang Uchiha disamakan dengan pembantu rumah tangga?
"Aw, maaf aku tidak tahu." Pria itu langsung memasang wajah penuh penyesalan. "Beberapa minggu lalu aku merekomendasikan Kakashi untuk menyewa seorang pelayan untuk membersihkan apartemennya. Kau bisa lihat sendiri 'kan, bagaimana kacau dan berantakannya tempat ini..." Laki-laki itu berdiri di tengah ruangan sambil menoleh ke berbagai sisi ruangan tamu yang memang sangat tak beraturan. Bahkan mereka bisa melihat satu kotak pizza bekas yang kardusnya sudah penuh dengan semut.
"Jadi aku pikir, kau..." Pria itu kembali tersenyum lebar dan tak meneruskan kalimatnya.
"Aku diminta Kakashi untuk datang kemari guna penyelidikan." Sasuke mendengus sesaat dan menjelaskan alasannya berada di apartemen investigator itu.
"Oh, ya? Kalau begitu kenalkan, namaku Yakushi Kabuto, cukup panggil Kabuto saja." Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Yakushi Kabuto. "Lalu, siapa namamu?" Tanyanya sambil menaikkan kacamatanya yang tampak berkilat sesaat.
"Sasuke Uchiha," jawab pemuda itu singkat namun mampu membuat laki-laki di hadapannya terlonjak kaget.
"Astaga, pantas saja rasanya aku pernah melihat wajahmu!" Ucapnya kemudian langsung berjalan mendekati pemuda itu dan mengamati wajahnya secara seksama untuk memastikan kalau dia memang pernah melihatnya di suatu tempat.
Sasuke mundur beberapa langkah, tidak nyaman dengan perlakuan yang didapatnya dari pria bernama Kabuto di depannya. Ia benci saat mendapati tatapan intimidasi seperti sekarang ini. Entah mengapa pandangan laki-laki itu membuatnya teringat pada Itachi, dan ada suatu gejolak rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Rasa marah, juga benci.
"Ah, rupanya kau sudah datang, Kabuto." Suara Kakashi menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Kabuto.
"Yo, Kakashi!" Laki-laki itu segera menoleh ke arah Kakashi, melambaikan tangannya ke arah pria yang baru selesai mandi dan hanya berbalut handuk dari bagian pinggang ke bawahnya.
"Yah, silahkan lanjutkan obrolan kalian. Aku mau berpakaian dulu." Kakashi kembali meninggalkan Kabuto dan Sasuke di ruangan tamu.
Sepeninggalnya Kakashi, Kabuto dan Sasuke sama-sama memilih untuk diam. Entah mengapa suasana menjadi sulit dan Kabuto tidak banyak bicara lagi setelah ia mengetahui Sasuke adalah seorang Uchiha. Keduanya sama-sama tenggelam ke dalam buku dan koran yang mereka baca masing-masing.
.
.
Selang beberapa menit Kakashi keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan kaos hitam dengan celana jeans pendek santai sambil membawa-bawa 3 buah kaleng soda. "Soda?" Tawarnya kepada Kabuto dan Sasuke.
"Tentu!"
"Hn."
Keduanya mengangguk secara perlahan dan Kakashi memberikan kaleng-kaleng soda itu kepada Sasuke dan Kabuto. Segera Kakashi duduk di antara keduanya, memposisikan dirinya sendiri dengan nyaman sambil membuka kaleng soda miliknya sendiri. Untuk sesaat masing-masing dari mereka menikmati segarnya air soda yang sedang diminum tanpa berkata satu patah kata pun. Kabuto dan Kakashi saling melirik sesaat, seakan seperti sedang melakukan suatu kompromi lewat kontak mata.
"Sasuke, kau bisa membawa tasmu itu ke kamar yang ada di sebelah kanan." Kakashi tampaknya melakukan pengusiran secara halus kepada Sasuke.
Sasuke tak banyak bicara. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, mengambil tas hitam miliknya dan lekas berjalan menuju ruangan kamar yang ditunjuk oleh Kakashi, letaknya bersebrangan dengan kamar satunya.
Setelah meletakkan tasnya secara sembarang di dalam ruangan kamar itu, Sasuke segera keluar, dan ia dapat melihat Kabuto dan Kakashi seperti sedang berbicara sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang baru saja kulewatkan?" Ucapnya dengan nada sarkastik.
"Duduklah Sasuke-kun." Kabuto menepuk-nepuk bangku sofa di sebelahnya dengan tersenyum ke arah Sasuke. "Aku dan Kakashi tadi sedang membicarakan dirimu. Apa benar yang dikatakannya kalau kau lupa pada kejadian pembunuhan itu?" Meskipun terlihat santai, tapi jelas Kabuto sedang mengorek informasi dari Sasuke.
"Dan kalian berdua tidak mempercayainya 'kan." Sasuke mendengus sebal, sudah tahu kemana arah tujuan pembicaraan ini. ujung-ujungnya dia tetap akan menjadi tersangka.
"Bukan begitu Sasuke." Kabuto menghela napas sesaat, "Kau ini terlalu sensitif," ucapnya dengan pelan, agar Sasuke tidak salah tanggap. "Kakashi memintaku untuk membantumu kembali ingat pada kejadian itu, kuharap kau tidak keberatan, Sasuke-kun." Kabuto sangat berhati-hati dalam memilih kata-katanya. Dia memang pandai menenangkan situasi, dan Kakashi merasa beruntung telah memintanya untuk datang membantu.
"Silahkan saja. Aku juga mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi malam itu," ujar Sasuke tampak begitu percaya diri. Dia tak merasa keberatan apalagi merasa takut.
"Yah, kalau begitu aku tinggalkan kalian berdua bicara di sini." Kakashi beranjak dari sofa, memutuskan untuk menyerahkan masalah Sasuke pada Kabuto.
Jujur saja dia kurang paham kalau harus dihadapkan dengan masalah psikologis seperti ini. Logikanya terkadang kurang bisa mencerna berbagai macam masalah kejiwaan yang menurutnya kurang masuk diakal, dan pemikirannya sangat menentang hal-hal absurd. Laki-laki berambut putih itu lebih memilih untuk berdiam di beranda sambil menikmati udara malam dan menyesap sebatang rokok di sana.
"Baiklah, Sasuke-kun. Aku minta kau relax dan jawab sesuai dengan apa yang kau ingat dan kau rasakan." Kabuto sempat melempar senyum ramah pada Sasuke. Tentunya dia tak ingin membuat suasana menjadi canggung dan akhirnya Sasuke malah tegang.
"Hal apa yang terakhir kali kau ingat sebelum jatuh pingsan?" Kabuto memulai pertanyaannya.
"Aku keluar dari sekolah memegang kartu nama bernama 'Hatake Kakashi'," jawab Sasuke sesuai dengan yang diingatnya terakhir kali sebelum ia diliputi kegelapan.
"Hanya itu? Lalu bagaimana dengan kejadian sebelum itu? Apa kau ingat...?" Kabuto kembali mengernyit sebelum akhirnya ia kembali melemparkan pertanyaan lainnya.
"Tidak, hanya saja..., aku merasakan sesuatu yang aneh..., seperti ada suatu hole yang terlewati tapi aku tak ingat apa itu...," jawab Sasuke dengan kedua alis yang saling bertaut satu sama lain. Pemuda itu tampak sedang berusaha mengingat sesuatu dengan keras.
"Oh, ya? Apa yang kau rasakan? Cerita saja." Kabuto tampak memajukan dirinya ke depan dan terlihat mulai tertarik untuk mengetahui penjelasan Sasuke lebih lanjut.
"Teman-teman di sekolahku juga kepala sekolah menunjukkan keprihatinan mereka padaku... Awalnya aku tidak tahu untuk apa mereka bersikap seperti itu, tapi sepertinya aku bisa menduga ini ada kaitannya dengan keluargaku yang terbunuh," tandasnya setelah mengingat jauh ke dalam dan mendapati gambaran wajah teman-temannya yang memberikan pandangan cemas juga iba kepadanya. Sasuke tak mengerti alasan kenapa teman-temannya bersikap demikian, seolah-olah dirinya baru saja ditimpa musibah besar.
.
.
Akhirnya perbincangan tersebut berlangsung sampai larut malam dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 malam. Kabuto yang merasa ia sudah terlalu lama berada di apartemen Kakashi memutuskan undur diri.
"Sepertinya aku sudah harus kembali," ucapnya ketika melirik sebuah jam dinding berbentuk bulat yang tertempel pada dinding ruang tamu. "Kakashi, aku pulang dulu, ya." Ia berteriak, melirik ke arah Kakashi yang tengah berjalan dari arah beranda ke arahnya.
"Yah, sudah selesai 'kah?" Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah yang sudah sayu. Kelihatannya ia sudah cukup mengantuk dan siap untuk pergi ke dunia mimpi kapan saja.
"Begitulah...," balas Kabuto dengan senyum tipis dan sesekali ia melirik ke arah Sasuke.
"Hah..., terima kasih sudah mau datang. Mari kuantar." Kakashi mengantarkan Kabuto sampai ke depan pintu apartemen.
Sasuke menatap kedua laki-laki itu berjalan ke arah pintu apartemen dengan tatapan gusar. Berada di antara dua laki-laki yang dengan jelas mencurigainya sebagai pelaku pembunuhan membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Apalagi sekarang, dengan dalih untuk penyelidikan dia harus tinggal sementara di apartemen milik Kakashi yang secara tak langsung membuatnya menjadi tahanan rumah.
"Menyebalkan," gerutunya pelan. Setelah itu ia dapat melihat Kakashi dan Kabuto sempat berbincang-bincang di depan pintu. Sasuke mendengus dan memilih untuk pergi ke ruangan kamarnya.
"Jadi, apa kau sudah mengetahuinya?" Tanya Kakashi saat melirik ke dalam dan mendapati Sasuke sudah tak berada di ruang tamu. "Apakah anak itu berbohong dan sedang menghindari dari tuduhan?" Sambungnya dengan perasaan lega karena ia bisa bertanya dengan leluasa.
"Aku rasa tidak. Dia memang benar-benar lupa dengan kejadian pembunuhan itu," jawab Kabuto yang langsung membuat Kakashi kesal, karena bagaimana mungkin hanya dalam selang waktu beberapa menit saja seseorang bisa melupakan suatu kejadian yang sangat penting? Menurutnya hal itu sangat tidak masuk diakal.
"Kabuto, seriuslah sedikit! Kau yakin dia memang benar-benar lupa? Tapi, bagaiāAh, sudahlah. Apa kau bisa menjelaskannya?" Kakashi mengacak rambut putihnya dengan frustasi.
"Sabarlah Kakashi. Kau ini selalu terburu-buru!" Kabuto tertawa renyah sambil menepuk-nepuk bahu teman semasa kecilnya. Kakashi tidak pernah berubah. Dia selalu bergejolak setiap menghadapi kasus yang menarik perhatiannya, tapi kalau ia tak hati-hati, hal itu malah bisa menjadi bumerang untuknya sendiri.
"Tenang saja. Aku akan menjelaskannya kepadamu besok. Sekarang aku harus pulang sebelum Shizune marah kepadaku, karena aku sudah janji tak akan pergi melebihi jam 11 malam." Kakashi hanya bisa menggerutu dan pasrah, meskipun rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.
"Selamat malam, dan jaga anak itu baik-baik." Kabuto melambaikan tangannya dan akhirnya benar-benar pergi dari apartemen Kakashi.
Kakashi kembali masuk ke dalam apartemen, mengunci pintu apartemennya rapat-rapat menggunakan kartu. Ia berjalan menuju ke ruangan kamar Sasuke untuk mengecek remaja itu. Senyum yang teramat tipis sempat menghiasi wajahnya, dan setelah itu, Kakashi memutuskan untuk masuk ke ruangan kamarnya sendiri.
Sasuke sendiri tampaknya tidak menyadari kalau beberapa saat yang lalu Kakashi memerhatikan dirinya dari belakang. Pemuda itu sedang berkutat dengan isi tasnya, mencari-cari ponsel pintarnya yang lain.
Greb...!
Seutas senyuman lega terukir pada bibirnya ketika ia berhasil menemukan apa yang ia cari.
Dengan tak sabar pemuda raven dengan model rambut emo itu memeriksa isi pesan pada ponselnya, dan ia mendapati belasan SMS yang masuk dari teman-temannya. Kebanyakan dari pesan itu didominasi oleh Naruto dan Sakura.
Sasuke membuka isi pesan tersebut satu-persatu.
Pesan terkirim 15:00
From : Naruto
Teme! Kau itu sebenarnya ada di mana? Kami tadi ke rumahmu tapi kau tak ada. Kata tetanggamu, kau pergi dengan seorang polisi? Apa mereka menangkapmu? Selain itu kenapa nomormu yang satu tidak aktif? Apa kau sedang dalam masalah?
Pesan terkirim 15:06
From : Sakura
Sasuke, kau ada di mana? Kenapa kau sulit sekali dihubungi? Aku sangat mencemaskanmu karena bibi yang tinggal di dekat rumahmu bilang kau pergi dengan polisi...
Pesan terkirim 15:10
From : Sakura
Sasuke kau ada di mana? Kenapa kau tidak memberi kabar? Apa kau sedang mengalami masalah? Kenapa aku hanya bisa mengirim pesan ke nomor ini?
Pesan terkirim 16:00
From : Sakura
Sasuke, apa kau sudah pulang?
Pesan terkirim 17:00
From : Naruto
Sasuke teme! Seriously, kau ada di mana? Apa kau tahu kalau Sakura mencemaskanmu? Setidaknya balaslah pesan salah satu dari kami! Kenapa susah sekali meneleponmu, teme?
Pesan terkirim 17:05
From : Ino
Sasuke, apa kau baik-baik saja? Aku turut merasa prihatin... Sekarang kau ada di mana? Kalau kau perlu teman bicara, datang saja padaku, tak perlu sungkan :D
Pesan terkirim 18:00
From : Sakura
Sasuke, setidaknya beri aku kabar, kau ada di mana? Tadi aku dan Naruto sempat ke rumahmu lagi, tapi kau masih belum pulang. Apa yang terjadi?
Pesan terkirim 18:20
From : Naruto
Oi! Brengsek! Sebenarnya kau ada di mana sih? Jangan membuat kami semua cemas, baka!
Pesan terkirim 19:00
From : Shikamaru
Sasuke. Untuk kegiatan komite besok, lebih baik kau libur dulu. Aku tak ingin membebanimu dengan tugas di tengah kondisimu yang seperti ini.
Ps : Aku dengar dari Naruto kau tidak ada di rumah? Apa kau tahu Naruto dan Sakura mengkhawatirkanmu.
Begitulah, pesan-pesan itu isinya menanyakan mengenai keberadaannya sekarang, juga bagaimana keadaannya. Untuk pertama kalinya Sasuke merasa bersyukur memiliki teman yang begitu peduli dan sebegitu cemasnya memikirkan keadaan dirinya.
Sasuke men-scroll pesan-pesan itu dan membacanya secara acak.
Pesan terkirim 1 jam lalu
From : Sakura
Sasuke..., aku cemas...
Pesan terakhir dari Sakura, entah mengapa membuat dadanya terasa sesak. Sakura mencemaskan dirinya, hal itu membuatnya ingat akan mendiang Mikoto, ibunya yang juga selalu mengkhawatirkan dirinya kalau berada jauh di rumah.
rasa sakit secara perlahan mulai menjalar ke bagian kepalanya. Sasuke mengerang pelan. Tubuhnya limbung ke atas ranjang sambil menahan rasa sakit. Ada suatu gambaran buruk yang mencoba menyerang memorinya dan Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk menepisnya, hingga akhirnya ia sendiri kembali pingsan.
TBC
T
H
A
N
J
S
For Read :D
A/N : Saya ingin mengadakan kuis, apa ada yang bisa menebak siapa pembunuhnya? Berikan alasannya dan hanya punya dua kesempatan. Bagi reader yang bisa menebaknya akan saya buatkan fic OS dengan tokoh favo-nya.
