Hari ini tepat memasuki awal dari musim yang paling merepotkan. Musim dingin. Awan kelabu menghiasi angkasa, mengusir indahnya langit di musim gugur tempo hari. Semilir hawa dingin menjelajahi setiap inchi bumi, membelah setiap oksigen yang tercipta. Seolah membisikan musim dingin sudah tiba.

Penghangat ruangan mulai menjalankan tugasnya. Pakaian-pakaian yang tebal nan hangat mulai menguasai negeri ini. Minuman-minuman yang berkepul asap putih mulai di jajahkan di pinggir jalan, seakan-akan menggoda para pengguna jalan untuk singgah di kedai-kedai itu.

Meski musim dingin sudah tiba, ternyata tidak menghentikan berbagai macam aktivitas yang biasanya di lakukan. Misalnya, masih banyak anak-anak kecil yang sedang berlarian kesana-kesini bermain petak umpat. Canda tawanya seolah mendatangkan kehangatan tersendiri. Membuat orang- orang yang sudah dewasa (ataupun yang sedang beranjak dewasa) ingin kembali ke masa itu.

Polos. Tidak memiliki beban. Bebas.

Tak terkecuali Sehun. Dari lantai lima di sebuah rumah sakit, senyumnya belum surut takkala melihat segerombolan anak kecil itu bermain. Sejujurnya, Sehun masih dapat bermain seperti mereka di luar sana mengingat umurnya yang masih cukup di bilang muda.

Tapi, mengingat kakinya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, tentu Sehun harus berpikir ribuan kali untuk bermain seperti mereka.

Tok. Tok.

Kriet.

Pintu itu terbuka, menampilkan sesosok manusia yang menggenakan pakaian jubah putih seputih awan di musim panas. Panjang jubah itu sampai selutut. Kacamata dengan list putih itu bertengger manis di pangkal hidung. Sebuah stetoskop memeluk lehernya erat. Senyum hangat menghiasi wajahnya. Selalu tersenyum lebar.

Kedatangannya bak matahari di musim dingin.

Hangat.

Terkadang Sehun berpikir, mungkin baut di wajah dokter itu terlalu kencang sehingga senyumannya tidak pernah luntur. Atau, mungkin hobinya menebarkan senyuman?. Entahlah.

Kursi dengan bantuan roda di sisi kanan dan kiri itu di putar 180 derajat. Menghadap dokter spesialis tulang yang sudah hampir satu bulan menjadi tempat Sehun menyerahkan penyakit yang di deritanya.

"Annyeong Sehun." Sapanya ramah, senyuman bak malaikat itu kembali bertengger.

"Annyeong Uisa." Sapa Sehun tak kalah ramah.

"Ah... bagaimana keadaan kaki mu? Membaikkah atau masih ada yang sakit?"

"Eum... saya tidak merasa sakit, Dok." Sehun melihat keadaan kaki kirinya sebentar, "Saya sudah membaik."

"Benarkah? Kalau begitu baguslah. Mungkin empat atau lima hari lagi kau sudah boleh pulang ke rumah. Tapi, ingat! Tidak boleh berolahraga yang dapat memberatkan kakimu. Kau masih dalam masa penyembuhan oke."

"Oke, oke, Suho hyung."

"Ku pegang kata-katamu."

"Dengan seluruh nafas yang ku miliki, aku jamin." Timpal Sehun menaruhkan nyawanya demi meyakinkan Suho, si dokter spesialis tulang. Alibi, hanya untuk mengecoh lawan bicara. Agar lawan bicara dapat mempercayainya.

Kim Jumyeon atau biasa di panggil dengan sebutan Suho, seorang dokter spesialis tulang itu terbilang masih muda. Dirinya baru menginjak dua puluh tujuh tahun, tetapi pengalamannya bukan isapan jempol belaka atupun omong kosong yang segunung. Akibat isi kepalanya yang terlampau pintar itu, Suho mampu menembus dunia pendidikan hanya dalam sepuluh tahun saja.

Jangan salahkan Suho, salahkan saja otaknya yang mampu mencicipi kelas akselerasi. Sehingga, Suho tidak pelu menunggu sampai bangkotan mengenyam dunia pendidikian. Mempunyai jiwa sosialisasi yang tinggi, pintar, rupawan, dermawan, rasanya kata-kata itu masih kurang untuk mendeskripsikan sosok Suho. Sosok yang beberapa tahun ini menjadi primadona di rumah sakit ini.

Suho hyung, Sehun biasa menyebutnya seperti itu. Itu bukanlah kemauannya tetapi kemauan dari Suho sendiri. Alasannya karena bagi Suho, Sehun itu manis, jadi Suho ingin menganggapnya sebagai adiknya.

Helaan nafas terdengar, "Oke, aku mempercayaimu. Nah, kalau begitu aku pergi dulu ada pasien lain yang harus ku periksa. Jaga kesehatanmu ya, wahai dongsaeng ku." Sebuah kekehan kecil sebagai penanda berakhirnya percakapan itu. Otot-otot di wajah Sehun saling berinteraksi, Sebuah garis horizontal terangkat ke atas. Senyuman pertamanya di awal musim dingin.

Sebulan terakhir di ketahui bahwa Sehun mengalami cidera dalam ligamen lututnya. Atau, Media Collateral Ligament (MCL) adalah jalinan sendi yang terbentuk oleh serat kolagen di sepanjang bagian dalam lutut, dari akhir tulang femur di paha hingga bagian atas tulang tibia.

MCL memberikan stabilitas untuk kinerja lutut dan mencegah peregangan sendi, tetapi dapat terkilir maupun robek jika terkena tekanan kuat. Cedera seperti ini memang cukup sering terjadi pada orang awam, bahkan tidak ada pengecualian untuk atlet profesional sekalipun. Biasanya di sebabkan gerakan yang tiba-tiba, benturan keras, atau terjatuh.

Akibat hal ini Sehun harus mengubur dalam-dalam impiannya menjadi seorang atlet lari yang profesioanal.


.

.

.

Summer

.

EXO © SM Entertaiment & Themselves

HnME © Yuki Midorika

.

.

Warning!

Cerita ini hanya fiktif belaka ya..., mengandung unsur shounen-ai atau malexmale, Kai!seme dan Sehun!uke, pantang di balik-balik.

Oiya, cerita ini aku ambil dari anime movie sekaligus manga yang judulnya "Hotarubi no Mori E". Nah, jangan heran kalo kalian ngerasa ( pernah liat adegan yang ini/kayak kenal jalan ceritanya) ini emang aku ambil dari anime movie yang satu itu. Tapi, nanti pasti ada alur yang beda dari aslinya kok. Yaaa~ intinya sih gak seratus persen mirip fufufu XD

.

.

This is an KaiHun fiction.

.

KaixSehun.

.

.

Chapter 4

.

.

.


Pertengahan musim dingin.

Kris, Luhan, Chanyeol, dan Tao baru saja angkat kaki dari rumah Sehun. Sisa-sisa kue blackforest masih terlihat dimana-mana. Puluhan balon berisikan gas itu masih melayang-layang di rumah Sehun. Sisa-sisa confetti masih berserakan di lantai. Menuntut untuk segera di pungut.

Ulang tahun?

Bukan, ini bukanlah ulang tahun Sehun.

Lantas apa?

Ini hanyalah pesta kecil-kecilan yang di buat sepihak oleh Chanyeol. Mereka sih lebih menyebutnya perayaan kembalinya Sehun dari rumah sakit. Chanyeol mengambil tema "Selamat datang kembali Sehun".

Semalam suntuk Sehun berhasil di buat tertawa lepas oleh mereka semua. Betapa indahnya dunianya ketika mereka hadir saat Sehun membutuhkan. Ya, meski terkadang pikiran-pikiran menyesal masih membanyangi hati yang paling terdalam. Sehun masih berusaha menyadari bahwa semua ini belum berakhir.

Nestapa, itu yang di rasakan Sehun saat ini.

Seharusnya, Sehun mengikuti kejuaraan musim dingin.

Seharusnya, namanya sedang di elu-elukan oleh pendukungnya. Dan,

Seharusnya, saat ini namanya sudah di panggil untuk berdiri di podium yang paling atas.

Rasanya, semakin di pikirkan akan semakin membuat Sehun menyesal. Bukankah dari awal dirinya yang salah. Berlatih dengan sangat keras, memaksa tungkainya untuk terus dan terus berlatih. Sehun terlalu memaksakan kakinya. Hingga akhirnya kaki Sehun memprotes tindakan kerja rodi yang di lakukan Sehun sendiri. Dirinya memang pantas mendapatkan hukuman ini.

Tapi, beruntung bagi Sehun karena dirinya masih memiliki sahabat-sahabat yang setia. Bahkan, ibunya selalu berkata kalau mereka berempat selalu setia menjenguki Sehun sesaat setelah berhari-hari Sehun terkapar di rumah sakit.

Tersenyum tipis. Setipis awan yang melayang-layang di nirwana.

Sehun hanya dapat menarik semua otot-otot di wajahnya saat melihat hasil jepretan kamera potrait tadi. Di dalam foto itu ada Chanyeol yang nampak memegang kamera, di susul Sehun yang tengah tersenyum manis, di sampingnya dengan jarak tak lebih dari dua sentimeter ada Luhan yang ikut tersenyum pula, di samping Luhan ada Tao yang tengah memakan kue blackforest, dan terakhir ada Kris yang tengah bergaya menunjukkan ke esksistensian jari telunjuk dan jari tengahnya ke kamera.

Chanyeol, Luhan, Tao, dan Kris. Dengan pertemuan dari yang konyol sampai tidak terduga membuat mereka kini bagaikan kumpulan semut yang menemukan makanan. Selalu bersama. Dan, tidak terpisahkan. Rasanya, Sehun ingin segera berlari bersama dan latihan bersama dengan mereka lagi.

Yaa... andaikan bisa.

Menurut Suho, kaki Sehun sudah tidak bisa di sembuhkan lagi. Cidera yang di alami Sehun benar-benar sudah tak terelakan. Kini, beasiswa hanya dapat Sehun jumpai dalam mimpi saja. Dengan kata lain, kini semua mimpi-mimpinya hanya delusi semata.

.

.

oOoOoOo

.

.

Penat dengan semua yang di alaminya, Sehun memilih untuk pergi ke kamarnya.

Cklek.

Membuka lalu menutup dengan pelan. Berusaha untuk tidak menimbulkan kebisingan malam-malam. Di arahkan tungkai kecilnya menuju pembaringan empuknya. Impulsif, Sehun menjatuhkan diinya ke atas kasur.

Decitan per yang saling berinteraksi terkena beban di atasnya terdengar dari dalam kasur king size itu. Visualnya di edarkan ke langit-langit kamarnya yang warnanya selurus dengan lambang kesucian. Putih. Tanpa ada noda ataupun bercak-bercak kotor. Cahaya temaram mengintipi kamar Sehun dari ballik gordyn. Meninggalkan jejak-jejak abstrak di lantai.

Satu, dua.

Satu, dua.

Sehun membuka dan menutup salah satu kulit tertipis di wajahnya. Senang kah? Sedih kah? Sehun tidak tahu apa yang paling di rasakannya saat ini. Seolah semua tengah berkecamuk di dalam pikirannya. Semua serba ambigu. Dan membingungkan.

Bolehkah Sehun berharap?. Berharap Kai ada di sini dan menghiburnya.

Rasanya, Sehun ingin segera menjumpai musim panas. Sehun merindukan hangatnya musim panas. Sehun merindukan aroma musim panas ketika tertiup semilir angin yang bersahaja. Sehun merindukan semua hal tentang musim panas. Atau, barangkali, yang paling dan sangat Sehun nantikan di musim panas adalah menemui Kai.

Sayangnya, butuh empat bulan dan satu musim lagi untuk menemui musim panas.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Awal musim panas.

Di luar rumah yang sudah sedikit peyot itu nampak Paman Sehun yang tengah memotong rumput.

Suara gaduh terdengar dari dalam rumah. Awalnya samar, namun seiring dengan percepatan detik, suara itu semakin jelas. Dan, tak lama suara gagang pintu yang di beri gaya dorongan ke bawah itu terdengar.

Sosok Sehun terlihat di balik pintu itu. Sang surya menyinari sosok Sehun yang berada di balik pintu. Helaian rambut Sehun sekilas tampak menutupi indera pengelihatannya. Rambutnya terhempas secara random ketika menyentuh dunia luar.

Semilir musim panas membelah halaman Paman Sehun. Bau khas musim panas langsung menyeruak memenuhi indera penciuman. Bau yang beraromakan panasnya mentari dan di tambah dengan rerumputan hijau yang ikut berdansa mengikuti arah angin membuat Sehun mengembangkan senyumnya.

Aroma yang paling dan sangat di rindukannya.

Suara seretan dari alas kaki yang di kenakan Sehun terdengar. Menandakan sang empu-nya tengah mencoba membawa sepasang alas itu pergi. Kembali menyusuri hutan Yamagami-sama.

"Paman, aku pergi dulu ya."

Suara Sehun mampu membuat Paman Sehun menghentikan kegiatannya sesaat. Belum sempat Paman Sehun menjawab, yang tersisa dari Sehun hanya bayangannya. Hanya bayangannya saja, tanpa adanya sosok tubuh aslinya. Tubuhnya dengan sempurna telah melesak pergi entah kemana.

Paman Sehun hanya mengedikkan bahu lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Seperti biasa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kini, Kai dan Sehun kembali berada di tempat dimana mereka berjumpa dan berpisah. Tempat dimana pintu gerbang dari hutan Yamagami-sama berada. Sepengelihatan Sehun tidak ada yang berubah. Gerbang merah menjulang tinggi ke atas. Seolah, ingin menyentuh langit di atas sana.

Yah, mungkin perbedaannya hanya warna dari pilar itu yang sudah lapuk. Warna merahnya semakin terkikis oleh cuaca dan angin. Keindahannya semakin terkikis seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi, dikara Yamagami-sama masih mampu di tangkap oleh visualisasi manusia.

"Apa kabar Kai hehe..."

Sapa Sehun dengan nada yang penuh dengan keriangan. Seperti biasa, Sehun tidak bisa menebak ekspresi apa yang di tunjukkan oleh Kai. Topeng itu masih dengan setianya memeluk erat wajah Kai. Tidak mau terlepas. Atau mungkin, tidak akan pernah di lepaskan.

"Kamu semakin besar ya?" Kai membalas sapaan Sehun dengan pertanyaan kembali.

"Tentu saja. Aku kan sudah SMP." Jawab Sehun dengan penuh kebanggan tersendiri.

Kai bangun dari posisinya yang tengah duduk di puncak anak tangga. "Ayo!" lalu menginstruksikan Sehun untuk segera mengikutinya. Sehun yang paham dari gaya bahasa tubuh itu kemudian mengangguk dengan penuh semangat dan mulai mengikuti langkah Kai dari belakang.

.

.

Di tengah-tengah perjalanan, tak henti-hentinya Sehun memperhatikan Kai.

Mengagumi kah? Entahlah, Sehun tidak tahu.

Dalam diam yang tak kunjung pergi, Sehun menarik ke dua sudut garis horizontal ke atas. Kai, Sehun tidak tahu diksi apa yang pantas untuk menggambarkan sosoknya. Begitu misterius, tertutup, dan penuh dengan puzzle. Mungkin hanya itu yang bisa Sehun tangkap dari dirinya.

Ah, dan mungkin daya pikatnya terlalu kencang yang membuat Sehun –tanpa sadar- terus dan terus mengunjungi Yamagami-sama. Semua hal tentang Kai bagaikan merek zat adiktif tersendiri baginya. Membuat Sehun ketagihan dan ketagihan secara berangsur-angsur.

Perlahan tapi pasti Sehun sudah terperangkap dalam keunikan Kai.

"Ada apa?" celetuk Kai, yang malah mendapatkan respon kaget dari lawan bicara.

Sial, ketahuan men-stalk Kai rupanya.

"Ehehe tidak ada apa-apa,... Ah, iya~ di SMP ini aku mempunyai teman yang sangat solid lho Kai. Mereka menganggapku sebagai dongsaeng mereka, dan aku pun sebaliknya..." Pada akhirnya Sehunlah yag berhasil mengalihkan pembicaraan. Oh, barangkali Sehun sudah jago berkamuflase sekarang.

Sehun terus berbicara mengenai teman-temannya di sekolah, tentang perjalanan awalnya memasuki SMP, bahkan topik yang tidak penting sekalipun di bahas olehnya. Tentu Sehun merahasiakan penyakitnya kepada Kai.

Sementara itu, Kai hanya meresponnya seperti biasa, dengan nada dan intonasi yang seperti biasanya. Terlihat monoton memang, tetapi itulah hubungan yang di lalui oleh Kai dan Sehun saat menjalani musim panas setiap tahunnya.

Dari itu semua garis besar yang bisa Sehun tangkap adalah Kai tidak berubah. Bahkan, tidak berubah sama sekali.

.

.

oOoOoOo

.

.

Keesokan harinya.

Seperti biasa, rutinitas Sehun selama musim panas yaitu; mengunjungi hutan yamagami-sama dan menemui Kai. Dengan berbagai macam alasan setiap harinya membuat Sehun mampu lolos dalam amukan ceramah yang panjang.

Tidak seperti biasanya, hari ini di tangan kanan Sehun terdapat bungkusan plastik yang di dalamnya berisikan adonan tepung, margarin, gula, soda kue, dan lain-lain yang sudah di oven sedemikian rupa hingga menimbulkan warna yang kecokelatan. Nampak sedap apabila di pandang secara ters-menerus. Roti yang benar-benar menggugah selera.

Lagi-lagi seperti kemarin, tungkai Sehun di ajak oleh tungkai Kai untuk mengelilingi Yamagami-sama. Dua ekor kupu-kupu tak sengaja lewat takkala Sehun mengadahkan kepalanya ke atas ketika berusaha menatap balik langit musim panas yang biru yang sedang mengintipi kisahnya dan Kai dari atas sana.

Visualisasi Sehunpun jadi terfokus pada dua ekor kupu-kupu itu. Sekilas, mereka melayang di udara tampak sedang saling mengejar. Barangkali, tengah bermain. Kupu-kupu yang indah dan tampaknya tengah berbagi kebahagiaan bersama. Tampak sangat harmonis.

Hingga beberapa menit kemudian, Kai dan Sehun tiba di tempat yang memang selalu mereka kunjungi di musim panas. Puadai hijaunya rumput yang meluas sampai ke ujung bumi, berbagai macam warna dan bentuk bunga, danau besar dengan sebuah dermaga kecil di sisi lain tempat itu, dan di tambah dengan satu-satunya pohon yang berdiri di tengah-tengah padang rumput itu menambah ke elokan abstraksi hasil ciptaan Tuhan yang sangat memukau sejauh mata memandang.

Setiap tahun, setiap hari, setiap menit, detik, bahkan setiap hembusan semilir musim panas selalu menjadi saksi atas setiap kenangan yang berhasil di ciptakan antara Kai dan Sehun setiap musim panas berlangsung.

Di bawah perlindungan ranting-ranting dan dedaunan pohon di tengah padang rumput itu mampu menyelamatkan Sehun dan Kai dari efek fatamorgana yang biasanya melanda ketika suhu jauh di atas angka 35 derajat celcius.

Kai langsung menduduki tubuhnya dengan alas rumput hijau, sementara Sehun tengah sibuk membuka bungkusan roti yang sedari tadi belum ternodai oleh tangannya sendiri. Bunyi gesekkan antara plastik dengan plastik yang tengah di buka dengan paksa itu terdengar oleh indera pendengaran.

Sedari tadi Kai sibuk memperhatikan Sehun dari balik topeng kitsune-nya. Entah perekat jenis apa yang membuat bungkusan itu menjadi sulit untuk di buka. Atau, memang jemari Sehun yang tidak kuat, entahlah. Yang pasti acara 'buka membuka' bungkusan roti itu membuat Kai pada akhirnya turun tangan juga.

"Sini, biar aku coba." Sehun sempat diam ketika Kai mengatakan kata itu sembari mengulurkan tangan kanannya. Dalam hati, diam-diam Sehun menyalahkan diri sendiri akibat kepayahannya yang sudah berkuadrat.

Crack.

Plastik yang semula satu itu kini telah bertransformasi menjadi dua bagian. Udara yang barupun mulai memasuki ruang hampa tadi. Mata Sehun mendadak berbinar-binar melihatnya. Kai yang mengerti tatapan Sehun itu langsung memberikan roti itu kepada sang pemiik.

"Ah... gomawo Kai." Jawab Sehun dan anggukan kecil sebagai balasan.

Tangan Sehun melekam, memasuki kemasan itu bermaksud untuk mengambil isinya. Sementara, Kai tengah sibuk melepas topeng yang selama ini selalu menjadi sahabat karibnya. Topeng itu diangkat sampai menunjukkan seperdelapan dari wajah Kai.

Krauk...krauk... nyum~ nyum~

Sehun menggigit ujung roti itu kemudian mengunyahnya. Sehun mencoba meresapi kenikmatan dari roti itu setiap gigitan. Sesekali menatap ke arah roti itu, lalu melahapnya kembali. Kemudian, Sehun teringat oleh keberadaan Kai. Rasanya tidak mungkin Sehun menikmati roti ini sendiri. Terlebih, tadi Kai sudah membantunya.

"Ng... Kai~ kamu mau?" Tanya Sehun sedikit tidak rela. Yah, wajar saja Sehun belum sarapan pagi ini. Lalu, rotinya juga sangat lezat. Sehun terjebak dalam khiar rupanya.

"Tidak, tidak usah."

"Jangan begitu! Kai." Celetuk Sehun dengan cepat, mungkin kecepatannya dapat mendahului sambaran petir ketika hujan turun ke bumi.

"Hhh, oke... Kalau begitu aku mau."

"Tidak boleh!?" Kai benar-benar dongkol. Bukankah tadi Sehun menawarinya, tetapi kenapa malah membelot seperti ini. Dasar bocah ababil.

"Kenapa tidak boleh?" kai mencoba sabar.

"Karena rotinya hanya ada satu." Dongkol kuadrat. Kai bertanya dalam hati, selama setahun terakhir apa yang telah menimpa kepala Sehun?.

"Lalu?"

"Ya, pokoknya tidak boleh. Tapi, aku akan memberikan roti ini kepadamu dengan cara yang berbeda." Kai bertanya –lagi- dalam hatinya, kali ini apa yang akan bocah ini lakukan?. Tidak mungkinkan kalau dia akan menyentuh Kai yang notabane-nya anti di sentuh oleh manusia.

"Tatap aku." Ujar Sehun. Kai memutar kepalanya 30 derajat, visualisasinya bertabrakan dengan manik hazel Sehun.

"Lalu?" Tanya Kai untuk yang kesekian kalinya.

Sehun menutup kedua visualnya, mulut kecil Sehun di buka sedikit –mencoba mengambil oksigen semampu yang berhasil paru-paru Sehun tangkap. Dada Sehun mengembang secara refleks.

Seketika, mata Kai membisu melihat Sehun yang tengah memejamkan matanya. Dalam diam Kai masih menanti aksi Sehun selanjutnya.

Fiuuuuhhh~

Sehun meniup udara yang tadi di tahannya selama beberapa detik. Lalu udara itu menentukan jalurnya sendiri menuju ke arah Kai. Secara random rambut Kai ikut menari-menari, terhempas ke udara terkena tiupan Sehun. Kai seperti di suntikan oleh obat bius, tubuhnya kaku, berkedip pun rasanya susah.

Sehun membuka matanya. Nyaris menangis mengetahui Kai tidak bergerak, justru terus menatapnya. Yang membuat Sehun takut itu karena tatapan Kai yang seolah ruh-nya pergi entah kemana. Tatapannya, kosong.

Panik langsung berkenalan dengan Sehun saat itu juga, "A-a-ee-... Kai bagaimana?" Tanya Sehun dengan intonasi panik, "A-aku rasa kamu tadi udah mencium aroma rotinya." Tatapan Sehun berdalih ke arah puadai rumput hijau di bawahnya. Sedikit takut. Sehun mencuri-curi pandang sedikit ke arah Kai.

"Ayo."

Tanpa melirik ke arahnya. Impulsif, Kai sudah berdiri di sampingnya dan mencoba membawa Sehun lagi entah kemana. Sehun hanya bisa mendesah.

Kai... apa dia marah?

.

.

oOoOoOo

.

.

Di ufuk barat hutan Yamagami-sama, sang surya sudah mulai bersembunyi. Belum sepenuhnya sih, hanya sebagiannya saja. Cahaya-cahaya berwarna oranye mulai menguasai langit yang sebelumya berwarna biru cerah. Kapas-kapas di langit itu pun terkena imbas dari cahaya oranye itu.

Dengan malu-malu sang rembulan mulai mengintipi bumi dari balik awan. Di ikuti dengan beberapa bintang yang juga mulai mengikuti jejak sang bulan. Dan, disini lah Kai dan Sehun masih berjalan mulai meninggalkan hutan Yamagami-sama.

Kesunyian sedari tadi masih betah menyelimuti mereka. Entah siapa yang mengundang. Yang pasti sejak kejadian di bawah pohon tadi, kesunyian lebih mendominasi. Sehun sedikit jengkel mengetahui hal ini, rasanya ingin mengutuk kesunyian itu.

Tatapan yang sedari tadi di berikan untuk pijakan itu kini mulai di angkat. Menghadap ke arah youkai penyelamatnya. Seperti biasa, dan mungkin tidak akan berubah. Bahwa, Sehun akan selalu seperti anak ayam yang selalu mengikuti induknya dari belakang.

Sehun... Sehun ingin tahu bagaimana dan apa yang di rasakan oleh Kai. Apakah Kai masih marah kepadanya mengenai hal tadi?. Rasanya ingin bertanya, tapi, mendadak suara itu tertahan di kerongkongan.

Langkah Sehun pun terhenti.

Kai yang menyadari hal itu langsung mengikuti Sehun. berhenti. Beberapa langkah di depan Sehun.

"Ada apa?" Tanya Kai.

"Apa Kai marah kepada ku?" pertanyaan di balas dengan pertanyaan.

Sehun kembali menunduk. Di balik poni-poninya itu tersirat wajah dengan penuh penyesalan. Ekspresi yang baru pertama kainya di tunjukkan oleh Sehun. Kai mendesah pelan, tungkainya di ajak untuk menghampiri Sehun. Tetap dengan adanya jarak yang memisahkan. Hanya antisipasi kalau sendainya Sehun menerjangnya seperti dulu.

Ukuran tubuh Sehun yang masih jauh di bawah Kai sukses membuat Kai berjongkok di hadapan Sehun. Kepalanya di dongakkan ke atas. Menghadap ke wajah Sehun –yang tengah menunduk- secara langsung. Tangan kanannya yang bebas kemudian menarik topeng kitsune yang di pakainya hingga terlepas. Kai membuka topengnya tanpa adanya perintah dari siapapun.

Semilir menyapa dua tubuh manusia dengan dimensi yang –tentu saja- berbeda. Rambut Sehun dan Kai melayang ke udara, tertiup semilir itu. Mengikuti arah perginya angin. Semerbak musim panas langsung tercium oleh indera penciuman.

"Hey... lihat aku." Itu suara Kai. Suara yang baru pertama kalinya di dengar oleh Sehun dengan penuh kelembutan. Indera pengelihatan Sehun pun mengikuti titahnya.

"Apa aku terlihat marah?" Tanya Kai.

Tatapan penuh kehangatan. Suara yang merdu seperti kicauan burung di pagi hari. Senyum yang tersirat di lekuk wajah itu. Jelas bukan mimik wajah yang sedang marah.

Sehun terdiam.

"Aku tidak marah kok."

"Tapi tadi..." Perkataan Sehun membuat otak cerdasnya mengikuti apa yang di alami Sehun seharian ini. Di mulai Kai yang mendadak diam. Hanya menjawab jika di beri pertanyaan. Itupun hanya di jawab dengan sangat singkat dan apa adanya. Ah, mengingat hal itu membuat Sehun kembali bersedih.

"Hanya karena aku mendadak pasif bukan berarti aku marah. Aku hanya terlalu senang kita bisa berjumpa lagi. Dari tahun ke tahun, kau selalu mendatangi hutan ini hanya demi diriku ini, mana mungkin aku bisa marah dengan hal seperti itu? Aku... sampai kapanpun tidak mungkin bisa marah kepadamu Sehun."

Jelas Kai panjang dan lebar. Ini pertama kalinya Sehun mendengar perkataan Kai yang seperti gerbong kereta itu. Kini, Sehun kembali terdiam. Dirinya seolah terkena amnesia. Bingung bagaimana menjawabnya.

Kicauan jangkrik mengusik kesunyian itu sendiri. Sehun menatap Kai, dan Kai pun menatap Sehun. Kai dengan senyumnya dan Sehun dengan mimik yang entahlah air matanya sudah tergenang. Bukan air mata seperti perempuan yang tengah bersedih. Hanya air mata dengan rasa penuh kebahagiaan di setiap tetesnya.

"Oh iya, mengingat kau sudah mulai dewasa bagaimana kalau jalan kita di rubah?" ujar Kai masih dengan posisi jongkoknya.

"Di-di ubah?" tanya Sehun menuntut penjelasan lebih rinci.

Kai berdiri dari posisinya, mata Sehun mengikuti pergerakan Kai, "Um... mulai hari ini..." jari telunjuk di bentangkan ke wajah Sehun, "Kau, Oh Sehun, berjalanlah di sampingku jangan di belakangku lagi. Jujur, itu sedikit mengganggu tahu." Nada jahil terselip di akhir kalimat.

Mata Sehun melebar mendengarnya. Rasanya bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang tengah mengepungnya. Setiap oksigen yang di hirup seperti tengah membisikan kata-kata kebahagiaan. Anggukan antusias pun sebagai jawaban atas pertanyaan Kai.

Kai kembali tersenyum. Topeng itu di kenakan kembali, "Kalau begitu, ayo." Sehun mulai menuruti perkataannya tadi untuk berjalan di samping Kai.

Suara tawa di sisa perjalanan pulang sebagai teman tambahan di antara mereka. Wajah sumringah tak lekas pergi dari wajah Sehun.

Kebahagiaan tentu tidak cukup untuk mendeskripsikan perasaan Sehun sekarang.

.

.

oOoOoOo

.

.

Malam harinya

Cahaya temaran bulan membentuk karya abstrak di lantai. Lentera di sudut ruangan melekuk-lekuk di balik kaca. Semua anggota keluarga yang ikut hadir di rumah Paman Sehun sudah jatuh ke dalam alam bawah sadar. Semua, kecuali Sehun. Senyum bodoh masih menempel di wajah Sehun.

Mengingat kejadian tadi sore sama saja dengan membuatnya berada di alam mimpi. Setiap kali menutup mata membuat Sehun mengingat kejadian tadi sore.

"Kai menyebalkan."

Sehun jadi tidak sabar untuk menjumpai Kai lagi esok hari.

.

.

.

.

TBC

.

.


It's review timeee~ /tebar cofetti.

sukha1312 : mending rasa penasarannya sampe ending aja gimana? Hahaha :v. Ini sedikit demi sedikit Sehun mulai dewasa XD.

whirlwind27 : Ini apdetnya lama gak? Kalau lama silahkan tendang saya wkwkwk XD. Ya, habisnya gimana? Kalau Sehun di tolong, Kai hilang dong pfftt XD. Ya begitulah mereka, harus nunggu momentum yang pas kalo mau skinship *ekh.

MaknaEXO : Tenang, sekarang masih aman. Kai belum bakal hilang di chapter kayak gini. Siapin hati aja kalo udah chap lima ke atas. Sewaktu-waktu saya bisa namatin ff ini #TawaJahat XD.

SparKyuCuttieKyu : Ah... masalah Sehun kuat atau enggak lihat aja nanti gimana Sehun ngehadaepin situasi itu bwahahaha XD. Yaa, begitulah nasib mereka. Masalahnya saya suka ff yang sad gitu. Jadi, tega sedikit gak papa kan ke KaiHun *Smirk /kicked.

YunYuliHun : Yaa, begitu deh~ biarin aja Sehun tumbuh biar tingginya sama kayak Kai, kan kalau kissing bisa gampang *Ekh. Itu karena Kai di beri mantra gitu, lebih detailnya nanti di jelasin di chapter berikutnya kok #Eak.

Choi fai fai : Umur Sehun berkembang setiap chapternya. Jadi gak mentok di umur tertentu doang kkk~. Oke,Ini udah lanjut walau ngaret lagi bwahahaha XD.

Jeseey : Sedikit demi sedikit udah mulai kenalan sama perasaan gitu. Tapi tetep ada batesnya, saya gak mau ngerusak moral anak SMP. Mungkin perasaan udah mantepnya pas SMA kekeke. Ah, maap ini gak apdet asap XD

Phcxxi : Tujuan awalnya saya emang pengen buat sedih ini ff nyahahaha! #TawaJahatLagi. KaiHun bersatu? Boleh,boleh, kalo kamu udah siap liat Kai hilang yaa xixixi :'D.

Nagisa Kitagawa : kalo gak di tutupin ntar gak ada yang ngira Kai itu youkai, kan kasihan X3. Oke, ini udah di lanjut.

Daddykaimommysehun : Jangankan kamu, saya yang bikin aja greget. gimana caranya bikin romance diantara mereka, sementara mereka gak bisa saling sentuh wkwkwkwk XD. Woke, ini sudah lanjut.

Izz. Sweetcity : adegan menuju TBC itu udah so sweet belum sih? Udah bisa masuk kategori romance belum? Soalnya saya sendiri bingung gimana caranya nyiptain adegan romantis diantara mereka wahahaha #Plak.

Hena Zitao : Okeee, ini sudah lanjut. I'm KaiHun Ship too~ XD.

dia. luhane : Kemudian saya ngakak lagi ngebaca review kamu bwahahaha :v. Kai emang item tapi gak sampe kayak arang kok~ XDD. Pantangan Kai juga tantangan buat saya, saya aja lagi muterin/? otak gimana caranya bikin adegan romantis sementara mereka gak boleh sentuh-menyentuh :'V.

Kaishixun : AAKKKK... demi apa~ aduh saya gak sejahat itu ngebiarin Kai jadi pedo! Nanti kalo di tangkep polisi gimana? Wkwkwk. Enggak kok, Kai udah segitu aja tingginya gak bakal ngecil XD. Yaaa di tunggu aja gimana mereka ngejalanin hidup mereka kekeke XD. Ah, do'ain aja romance bagi saya itu romance buat kamu juga /bhak.

Sayakanoicine : Okeee, ini sudah di lanjut yaaa~ XD

.

.

.

A/N : Yo~ chingu apa kabar? Gimana chapter ini? udah romantis belum sih? Menurut saya ya.. kelabu deh. Romantis, enggak. Sedih, juga enggak wwkwkwk. Jujur mereka yang gak bisa saling sentuh bikin saya gak bisa tidur semalam suntuk. Bingung banget malah. Tapi, yaaa semoga udah bisa masuk kriteria romantis deh di chap ini #Eak /Lho kok maksa.

Duh ya, maap sedikit keterlambatan dalam meng-update fanfict yang satu ini. Ini semua karena saya lagi galau. Bukan karena tugas, bukan karena kesibukan, bukan karena ide cerita yang mentok, bukan juga karena terserang WeBe.

Tapi karena ff saya yang judulnya "Fiction Boy" itu kena acara 'bersih-bersih ffn'. Jadi waktu saya ngelanjutin setengah ff ini, saya iseng buka Gmail. Dan saya kaget pas tau Fiction Boy saya di hapus, dan berakhir dengan saya yang uring-uringan. Bahkan saya ngerasa, semakin ke bawah diksi saya di ff ini semakin hancur.

Ah, efek apes emang besar banget ternyata. Saya sampe nyepam di akun sosmed saya. Jadi, yang harusnya ini apdet hari Jum'at malah apdet hari ini. saya ngeri kena hapus lagi. Jadi, mungkin pas apdet saya harus lebih hati-hati lagi.

Di sisi lain kesel sama pihak Ffn, tapi di sisi lain ini salah saya juga. Kan peraturannya emang gak boleh buat ff berdasarkan orang asli di ffn, iya kan?. Dan pemikiran saya itu semakin buat saya galau tingkat dewa.

Ah, tapi ya sudahlah. Toh, udah lalu. Sekarang move on aja. Nanti rencananya saya bakal apdet yang judul Fiction Boy itu lagi. Tapi di ganti namanya, saya belum nemu nama yang pas. Jadi mungkin apdetnya bakal lama. Sekitar selesai lebaran. Chap lima dari "Summer" juga apdet selesai Lebaran.

Bisa aja sih apdet di bulan puasa, tapi saya mau fokus ke tugas-tugas akhir saya sama gak mau nambah dosa dulu selama puasa /ceritanya tobat sesaat/.

Tapi kalau seandainya ff saya di hapus lagi. Mungkin cerita saya bakal di pindah ke AO3. Atau mungkin saya pindah fandom, jadi nulis khusus Anime/Manga. Atau mungkin saya bener-bener berhenti jadi seorang penulis. Yaa, kita tunggu aja panah takdir milih yang mana. Saya cuma bisa nurut kalo gini.

Kebanyakan curcol sepertinya. Mending saya akhiri aja deh yak.

Dan, beribu-ribu ucapan terima kasih saya ucapkan ke kalian para reviewers, followers, dan favoriters. Dukungan kalian sangat berarti gaes. Thanks a lot everybodeeeyyy X333.

.

Oke, cukup sekian.

RnR juseyoo

.

See you next chapter.

.

Rein.