Summer
.
.
EXO © Themselves
HnME © Yuki Midorika
.
Warning!
Cerita ini hanya fiktif belaka ya..., mengandung unsur shounen-ai atau malexmale, Kai!seme dan Sehun!uke, pantang di balik-balik.
Oiya, cerita ini aku ambil dari anime movie sekaligus manga yang judulnya "Hotarubi no Mori E". Nah, jangan heran kalo kalian ngerasa ( pernah liat adegan yang ini/kayak kenal jalan ceritanya) ini emang saya ambil dari anime movie yang satu itu. Tapi, nanti pasti ada alur yang beda dari aslinya kok. Yaaa~ intinya sih gak seratus persen mirip fufufu XD
.
.
This is an KaiHun fiction.
.
KaixSehun.
.
.
Apakah kalian percaya dengan yang namanya legenda, mitos, atau hal-hal sejenisnya? Atau kalau kalian percaya akan hal seperti itu, apakah kalian pernah melihat makhluk-makhluk yang ada di dalam legenda atau mitos tersebut? Percayalah bahwa mereka akan dapat kau lihat di saat kau tidak mengharapkan mereka, di saat kau tak menyadarinya, atau bahkan terkadang hanya dapat kau rasakan di sekitar tubuh mu tapi kau tidak benar-benar melihatnya.
Aku ceritakan sebuah kepercayaan yang berkembang selama beratus-ratus tahun lamanya di salah satu desa yang letaknya jauh sekali dari pusat kota Seoul. Kisah ini menceritakan tentang hutan Yamagami-sama di sisi lain Gunung Seongjisan. Yang konon katanya barang siapa yang menginjakkan kakinya ke hutan itu maka dirinya akan tersesat untuk selama-lamanya di hutan itu. Karena di dalam hutan yamagami-sama itu banyak terdapat youkai, entah siapa yang memulai gosip itu yang pasti pembicaraan yang mulanya dari satu mulut ke mulut itu sudah sangat terkenal sampai detik ini.
Akibat dari kepercayaan penduduk sekitar, meski gunung itu menjadi tempat wisata di musim gugur, meski sering di jelajahi oleh pendaki tetapi tidak ada yang mau datang ke hutan itu. Sehingga para pendaki yang sudah profesional membuat jalur baru, jalur yang menghindari hutan itu.
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
Hari ini adalah hari yang cerah.
Warna biru lazuardi membantai habis nirwana. Biru yang amat teramat bersih. Angin musim panas lagi-lagi menunjukkan keeksistensiannya, entah sudah yang keberapakalinya. Dedaunan yang hijau itu saling bersenggolan terkena semilir hangat musim panas. Fraksi dari pohon-pohon itu terlihat melayang ke udara beberapakali, barangkali pelakunya adalah angin.
Tak ada gunanya berdiam diri bagaikan pajangan di dalam rumah. Ini hari yang panas. Di dalam rumahpun tak ada bedanya dengan sauna. Sangat panas. Membuat tubuh mengalami dehidrasi lebih cepat. Sistem eksresipun rasanya bekerja dua kali lipat hari ini.
Dari selasar ruangan rumah Paman Sehun terdengar gelombang bunyi dari televisi -yang Sehun yakini tengah menetap di channel yang menyajikan berita kepada pemirsa setianya. Sehun sempat curi-curi dengar bahwa hari ini lebih baik berada di alam bebas daripada mengalami dehidrasi di dalam rumah.
Yah, alasan itulah yang menuntun tungkai Sehun untuk menyusuri hutan Yamagami-sama.
Satu.
Dua.
Satu.
Dua.
Dalam hati Sehun menghitung langkahnya sembari menatap angkasa yang sangat cerah. Secerah perasaannya saat ini. Garis horizontal di wajahnya terangkat, siapapun pasti mengetahui kalau itu merupakan sebuah manifestasi dari hatinya.
Sedikit alasan di tambah bumbu wajah yang memelas rupanya cara yang ampuh bagi Sehun untuk dapat keluar, menyapa dunia dengan segala isinya.
Kedua tangannya tak sanggup menutupi benda yang di pegangnya saat ini. Sebuah benda geometri berbentuk kubus yang memiliki perbedaan warna sebanyak enam warna. Orang awam mengenalnya dengan nama rubik.
Menurut Sehun hari ini schedule-nya dengan Kai cukup bermain dengan otak saja. Tidak perlu yang sampai menguras tenaga mengingat cuaca hari ini sangat panas.
Sama seperti hari-hari sebelum dan sebelumnya. Sehun selalu mengunjungi hutan yang terkenal dengan cerita magisnya. Tidak ada rasa takut. Tidak mengenal rasa letih. Dan, tidak mengenal rasa bosan. Ah, atau memang Sehun yang menolak rasa bosan itu sendiri untuk menggelayuti pikirannya.
Saat ini di dalam hutan sana pasti ada seseorang yang tengah menunggunya dengan sabar. Di tempat yang sama dengan posisi yang sama.
Siapa lagi kalau bukan Kai.
.
.
.
Kicauan burung yang sangat merdu terdengar indra auditif Sehun dari ufuk barat ketika Sehun mulai memasuki hutan.
Sambutan selamat datang? Bisa jadi.
Atau mungkin, itu merupakan suara youkai yang sedang mengerjainya? Bisa jadi. Sehun terlalu malas walau hanya menengok ke sumber suara.
Takut-takut kalau wujudnya benar-benar menakutkan. Sehun hanya malas untuk membawa wujud youkai yang menyeramkan itu masuk ke dalam alam bawah sadarnya nanti malam.
Butuh waktu sekitar kurang lebih dua menit untuk tiba di tempat yang acapkali menjadi tempat langganan mereka bertemu.
Gerbang hutan Yamagami-sama.
Senyuman bahagia tak bisa di pungkiri. Tungkaipun di ajak berlari untuk menghampiri.
Sosoknya yang sangat pendiam itu tengah duduk sambil menaikkan kaki kanan ke atas hingga dengkulnya mencium dada rata itu. Secara ekspansif, di mata Sehun sosoknya begitu sempurna dan mempesona.
Ah, memikirkannya membuat darah di dalam tubuhnya merambat sampai ke atas. Menuju ke kepala hingga akhirnya tampak di permukaan wajah. Kemudian, menjalar sampai ke kuping.
Semua pemikiran di telan bulat-bulat tatkala sampai di hadapan sang youkai. Itu bisa di pikirkan nanti, yang penting sekarang adalah kenangan apa yang akan Sehun dan Kai buat hari ini. Benda kubus yang di bawanya di simpan baik-baik di belakang tubuh. Sehun tidak ingin Kai bertanya-tanya di sepanjang jalan nanti.
"Ayo," ajaknya.
Tanpa harus di minta lagi, Sehun menyesuaikan tungkainya dengan Kai. Menembus puadai hijau hutan Yamagami-sama. Dengan lingkungan biotik dan abiotik yang menjadi saksi atas apa yang mereka bicarakan dan tertawakan di sepanjang jalan.
.
.
.
.
"Jreng~ jreenngg~" unjuk rubik Sehun kepada Kai.
Rubik yang masih rata warnanya itu di tampilkan oleh Sehun di bawah rindangnya pohon. Bayangan awan tercetak abstraksi di rerumputan hijau. Kembali, angin berhembus membelah udara seolah ingin mengetahui pula apa yang di bawa Sehun kali ini.
"Apa itu?" sahutnya memperhatikan benda kubus itu, tak lama matanya di ajak beradu dengan mata sepia Sehun.
Senyum itu masih berkembang dengan sempurna di wajah, "hoo~ Ini? di sekolahku ini di sebut rubik."
"Rubik?"
"U'um... rubik, ini permainan mekanis yang membutuhkan perjuangan dan ketelitian untuk memainkannya."
Sehun meletakan salah satu rubik itu di atas rumput. Kemudian mulai memutarnya secara random. Warna-warnanya pun tercampur aduk tak menentu. Kai memperhatikan dengan seksama tanpa suara. Bunyi gesekan antara kotak yang satu dengan lainnya masih terdengar. Betapa telatennya tangan Sehun saat mengacaknya.
"Nah, Kai harus bisa menyamakan warnanya lagi ke tempat semula. Begitu caranya."
Sehun memberikan rubik yang telah di acak warnanya itu kepada Kai. Kai menerimanya. Memperhatikan sesaat, membolak-balikan rubik itu kemudian terdiam.
"Kenapa diam?" tanya sehun.
Satu helaan nafas terdengar, "kalian aneh ya? Kalau tahu mengembalikan warnanya kembali seperti semula kenapa harus di acak seperti ini?"
Pertanyaan aneh yang di kemukaan oleh makhluk astral. Untung saja Sehun masih waras untuk tidak menabrakan kepalanya ke pohon, atau mungkin menenggelamkan dirinya ke dalam danau di depan sana.
"Ahaha...itu," Sehun memutar otak mencari jawaban yang –pastinya- harus di pahami oleh Kai, "em... itulah letak permainan dalam rubik ini, Kai. kau harus menggunakan keintelektualitas mu. Kalau begitu akan kutunjukan caranya."
Sehun mengambil rubik satu lagi yang sempat terabaikan sesaat tadi. Kemudian mulai mengacaknya. Setelah selesai Sehun menghentikan gerakannya, mengangkatnya ke udara, "lihat dan perhatikan ya."
Srak.
Srek.
Srak.
Desiran antara kotak yang satu dengan yang lainnya terdengar memasuki indra pendengaran. Secepat kilat Sehun mencoba membongkar dan mengembalikan warna itu menjadi utuh kembali. Visualisasi dan otaknya di ajak kerjasama untuk memfokuskan ke arah rubik yang sedang di mainkannya.
Ah ya, ingatkan Sehun untuk mengucapkan terimakasih kepada Luhan karena sudah mau bersabar mengajarkan permainan ini kepadanya. Mungkin sehabis liburan nanti Sehun akan menghadiahi Luhan satu cup bubble tea secara cuma-cuma.
Satu menit lewat duapuluh tiga detik. Waktu yang di capai Sehun dalam menyelesaikan rubik tersebut, "dan begitulah cara bermainnya. Kalau begitu sekarang giliran mu?"
Hening sesaat, "oi bocah, a-apa maksudmu dengan giliran ku? Kau bermain terlalu cepat yang terdengar di telinga ku hanya suara srak-srek-srak-srek saja tahu."
Sehun terdiam, ekspresi yang di gunakan Kai membuat Sehun teringat saat Sehun pertama kalinya di ajari oleh Luhan. Dalam hati Sehun tertawa, padahal Sehun hanya bercanda mengatakannya tadi.
"Ahahaha... bercanda, kalau beitu ayo! Akan ku ajari bagaimana cara bermain rubik ini."
Kai mendengus menahan sebal, sementara Sehun hanya mampu mengeluarkan simbol peace pada tangannya.
.
.
.
.
Warna awan di langit tampak seperti orange dan kuning yang sedang di gradiasi. Begitu elok dan memukau bagi siapa saja yang melihatnya. Sang surya juga sudah tampak mulai mengumpat di ufuk barat. Meninggalkan jejak-jejak cahaya keemasan di bumi, menyoroti hampir seluruh wilayah hutan Yamagami-sama.
Adikara dari hutan Yamagami-sama tampak semakin indah di jam-jam seperti ini. Dan, Sehun menyukainya. Langkahnya pun sengaja di perlambat sedikit.
Satu tarikan oksigen di ambil, kemudian di keluarkan dalam bentuk karbon dioksida.
Entah mengapa Sehun merasakan kalau hari ini waktu berjalan begitu cepat. Secepat ketika angin berhembus membelainya. Yah, ternyata istilah waktu akan cepat berlalu ketika kita melakukan suatu hal yang kita sukai itu ternyata bukan bualan semata saja.
Istilah itu memang benar. Dan, Sehun tengah merasakannya.
"Jadi..." sebuah suara mengusik pemikirannya.
"Hmm."
"Kau mahir bermain rubik ini sejak kapan?" tanya Kai setelah sekian lama kesunyian menyelimuti mereka. Pertanyaan yang bagus. Mata Sehun di palingkan ke atas. Mencoba mengingat-ngingat kapan dia mulai berlatih bermain rubik, "sejak... sejak... satu bulan lalu kalau tidak salah."
"Oh, kau belajar sendiri?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku di ajari."
"Oleh siapa?"
Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Kai. Bukan apa-apa, hanya saja tidak biasanya Kai bertanya sebanyak ini, "oleh Luhan, teman sekelas ku."
"Begitu...ya."
Sehun diam, hanya anggukan sebagai tanda menyetujui perkataan Kai.
Tak lama kemudian mereka sampai di gerbang hutan Yamagami-sama. Ah, gerbang menuju jalan keluar yang sekaligus menjadi gerbang pembatas antara mereka rupanya.
Sehun menuruni anak tangga yang jumlahnya masih mampu di hitung dengan jari. Sementara, Kai hanya mengamati dari gerbang sekaligus di puncak anak tangga.
Sebelum Sehun melanjutkan langkahnya menuju rumah Pamannya, tubuhnya berbalik menghadap ke arah Kai. Kedua rubiknya di angkat setinggi pinggul, untuk sesaat Sehun diam mengamati kedua rubik itu. Sebuah senyuman tepatri.
"Ini, ambilah punya ku," tanpa permisi Sehun langsung melemparkan rubiknya ke arah Kai. Beruntung bagi Kai langsung menangkapnya karena gerak refleksnya sangat bagus.
"Latihlah terus kemampuanmu yaa, tahun depan kau harus sudah bisa."
Kini bertukar adegan, Kai sekarang malah terdiam. Meratapi rubik yang kini di pegang oleh tangan kanannya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, annyeong," Akhir Sehun sambil melambaikan tangannya ke udara.
"Tunggu Sehun! apa tidak apa-apa. Ini kan punya mu."
"Tidak, tidak apa-apa. Lagipula, aku bisa minta ke Luhan lagi."
"Annyeong Kai~" kali ini tubuh Sehun sudah berlari, menghilang dari pandangan Kai. Tubuhnya hilang termakan pekatnya tanaman-tanaman liar di luar hutan Yamagami-sama.
Di balik topeng Kai tersenyum sembari memegang erat rubik itu, "gomawo Sehun," ucapnya. Sesaat kemudian, angin yang cukup kencang berhembus dari arah barat daya. Satu detik kemudian dirinya ikut mengilang mengikuti semilir musim panas di sore hari.
.
.
oOoOoOo
.
.
Keesokan harinya.
"Selamat pagi, Kai~ hehe," ucap Sehun di pagi itu. Kai hanya mengangguk ke arah Sehun kemudian lagi, lagi, dan lagi mengajak Sehun untuk menyusuri hutan Yamagami-sama, "ayo."
Di sepanjang jalan Kai tak henti-hentinya bertanya tentang apa yang di bawa Sehun hari ini. Sehun membawa sebuah benang yang sudah di bundel dalam kayu, di tambah lagi dengan benda berbentuk aneh yang di bawa oleh tangan kanan Sehun.
Bentuknya aneh, dua batang itu ditumpukan. Yang lebih pendek menjadi tumpuan yang panjang. Kemudian, ada sebuah kain, kertas atau apalah itu namaya melindungi kayu yang membentuk huruf T dengan sedikit pucuk di atasnya. Oh, dan jangan lupa sebuah ekor yang sepertinya menempel pada ujung benda itu.
Pikiran Kai masih di penuhi berbagai macam pertanyaan tetapi sedaritadi Sehun hanya menjawabnya 'nanti saja, akan ku ajari mainnya di tempat biasa.'
Mengalah itu sudah mutlak kalau begini.
Alih-alih berbicara, Sehun pasti akan diam seribu bahasa jika Kai masih menanyakan apa yang Sehun bawa. Dalam diam Kai mendengus.
.
.
"Wah, kebetulan sekali anginnya sangat mendukung," ujar Sehun ketika sudah sampai. Senyuman kebahagiaan di tambah guratan-guratan yang lebih dari biasanya itu membuat mata Kai seolah di kunci secara utopia pada suatu objek. Sehun.
"Kai, kami biasa menyebut mainan ini dengan nama layang-layang."
"Layang-layang?" ulang Kai.
"U'm... bedahalnya dengan rubik kemarin, cara bermain layang-layang ini lebih mudah."
Kai masih diam memperhatikan tatkala Sehun mulai mengulurkan benang yang sudah di pintal. Sebelumnya, Sehun memeriksa layang-laang itu terlebih dahulu. Memastikan apakah ada yang sobek, patah, atau gangguan-gangguan kecil yang nantinya bisa menggagalkan acara menerbangkan layang-layang.
Merasa tidak ada yang anomali pada layang-layang Sehun. Sehun mulai memegang layang-layang itu kemudian meminta Kai untuk memegangnya, "Kai, pegang ini ya... lalu mundurlah beberapa langkah."
Kai memegang ke dua sisi layang-layang itu, "seperti ini?" tanyanya. Takut-takut kalau salah pegang nanti layangannya rusak kemudian gagalah acara mereka hari ini, "ah ya... kemudian mundurlah beberapa langkah," celetuk Sehun kemudian.
Kai menurut, di pegangnya layang-layang itu tepat setinggi dada Kai. Kemudian tungkai kakinya yang jenjang di ajak mundur. Sementara Sehun memperhatikan langkah Kai sambil mengulurkan lagi benangnya.
"Bagaimana?"
"Ah, ya cukup. Saat aku bilang lepas, maka lepaskan ya. Siap?" ujar Sehun lagi. Kai mengangguk, menandakan dirinya paham mengenai perintah Sehun. Hanya tinggal menunggu perintah Sehun untuk melepaskan layang-layangnya.
Sehun diam sejenak mengamati angin sekitar, "Lepas!" lukasnya. Kai pun langsung melepaskan layangan itu. Layangannya terombang-ambing sejenak sesaat ketika Kai melepaskan layangannya. Tetapi, beberapa detik kemudian layangannya itu konstan berdiri kokoh di udara. Sambil melawan arus angin yang tengah berkeliaran.
Kai dan Sehun sontak langsung melihat ke udara. Sehun yang wajahnya di penuhi dengan senyuman kebanggaan tampak sangat menikmati layang-layangnya yang tengah berada di bawah kendali tangannya. Kai hanya diam di balik topeng kitsunenya.
Sehun yang menyadarinya langsung menghampiri Kai lalu memberikan benang layang-layang itu kepada Kai sembari tersenyum. Matanya menyiratkan 'ambil ini Kai'. Kai terdiam sesaat sebelum lengan kirinya menerima benang itu.
Tarik.
Ulur.
Tarik.
Kemudian, di ulurkan kembali.
Benar kata Sehun bahwa bermain layang-layang begitu mudah.
Yah, andaikan hidup juga semudah bermain layang-layang. Kau hanya perlu mengulur ketika harus mengulur. Kemudian, menarik ketika harus menarik. Bagi Kai hidupnya tidak semudah bermain layang-layang. Justru, hidupnya bagaikan permainan rubik. Begitu rumit dan mutlak.
Di balik topeng, Kai melirik Sehun yang masih tersenyum tatkala melihatnya menarik-ulurkan layangannya.
Andaikan Sehun tahu masa lalu Kai.
.
.
.
.
Lagi-lagi gradiasi awan oranye dan kuning menjenguk hutan Yamagami-sama. Bias-bias cahaya tampak terpantul dari sang mentari yang mulai memudarkan kehadirannya, di gantikan oleh satelit alami bumi. Meski begitu, bukan berarti aktivitas di hutan Yamagami-sama berakhir begitu saja.
Malam harilah baru hutan Yamagami-sama mengalami yang namaya kehidupan. Well, meski yang menempati bukanlah manusia sih.
Semilir angin sore tampak membelai sosok Kai dan Sehun secara bersamaan ketika mereka tengah berjalan berdampingan.
Layang-layang yang sudah menjalankan dengan baik tugasnya tadi, kini tersimpan baik di balik punggung Sehun dan di pegang erat oleh kedua tangan Sehun. Empat tungkai itu tidak seirama ketika berjalan, tetapi sama-sama mengarah ke jalan yang sama untuk di lalui.
Pemandangan sore hari masih di nikamati Sehun di perjalanan. Tetapi tak lama acara memandangi sore hari itu terhenti ketika Kai berhenti berjalan. Dan, Sehun baru menyadarinya ketika sekitar lima langkah berjalan.
Sehun terdiam melihat Kai yang tengah berhenti karena dua pasang kupu-kupu menyergapnya ketika berjalan. Kemudian, Kai membuka topengnya.
Di bawah rengkuhan cahaya sore hari di hutan Yamagami-sama, Sehun melihatnya. Sebuah senyuman penuh kedamaian di setiap lengkungannya. Senyum yang langsung menyapa visualisasi Sehun saat Kai membuka topengnya.
.
.
.
.
Beberapa pekan kemudian.
Tampak Sehun yang tengah berbaring di ruang tengah rumah paman Sehun. Sebuah kipas angin yang terbuat dari tangan di genggamnya sedari tadi tanpa ada niatan untuk di gunakan.
Memang hari ini Sehun tidak pergi ke hutan karena dirinya harus berkemas. Mengingat masa liburan musim panasnya akan segera berakhir. Sehun tidak mau sampai tertinggal pelajaran hanya karena tertahan di sini dan terus teringat sosok youkai hutan Yamagami-sama.
Pandangannya di tujukan ke langit-langit rumah pamannya. Terdapat garis-garis abstrak di atap itu. Wajar, karena atapnya terbuat dari kayu yang sudah di beri cairan anti rayap dan cairan kimia agar terus mengkilap.
Di pikirannya masih terbayang senyuman Kai tempo lalu. Begitu teduh dan penuh arti. Oh, andai Sehun dapat mengartikan senyuman itu. Pastilah Sehun tidak harus uring-uringan seperti ini.
Bagaikan seekor lalat yang terjerat jaring laba-laba, sepertinya Sehun sudah terperangkap dalam jaring Kai yang tak kasat oleh mata. Ah, atau barangkali hutan Yamagami-sama, Kai, dan para youkai lainnya berkerja sama memberi mantra agar Sehun tidak bisa lepas dari sosok Kai.
Tapi, itu terlalu imajinatif dan tabu. Alias tidak mungkin.
Waktu mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal seperti ini.
Oh... atau memang Sehun sudah terjerat dengan sendirinya ke dalam pesona Kai. Sebuah tali jeratan itu sialnya tak mau lepas dari Sehun.
Tali jeratan yang biasanya oang sebut dengan nama perasaan suka.
Sadar apa yang di pikirkannya barusan Sehun langsung membulatkan matanya lalu mengibas-ngibaskan kipasnya tanpa perasaan. Kibasannya terlalu kencang sehingga, poni-poni Sehun terurai tak beraturan dan terjuntai ke lantai. Kemudian, Sehun membiarkan kipas itu menutupi wajahnya.
Secara samar Sehun dapat medengar suara derap langkah yang sepertinya mencoba menghampirinya. Sehun pura-pura tertidur tidak mendengarkan. Pradugaannya itu pamannya.
"Ho... Sehun ayo kemari, paman membawa semangka segar untuk mu."
Benarkan pradugaan Sehun.
"Nde."
Sehun bangun dari acara berbaringnya. Menghampiri paman Sehun yang sudah menyantap semangka itu duluan di teras rumahnya.
Sehun mengambil satu buah semangka yang berwarna merah darah. Benar-benar segar, makanan yang cocok di konsumsi pada musim panas seperti ini.
Satu gigitan tergigit. Mulut mulai melaksanakan tugas mekanisnya. Mengunyah. Satu rasa langsung menyelimuti permukaan lidah. Manis. Biarkan sisanya semangka itu di produksi secara kimiawi di dalam tubuh.
"Panas ya," Ujar paman Sehun di sela kunyahan semangkanya. Tatapanya masih lurus ke depan. Meski demikian, Sehun tahu pamannya sedang membuka percakapan ringan.
Mengusir hawa kecanggungan mungkin.
"Ah iya, sangat panas di sini," Jawab Sehun sebelum mengunyah kembali semangkanya.
"Ah, kalau begini musim dingin pasti sangat dingin. Yamagami-sama sekalipun mungkin bisa membeku nantinya," celetuk paman Sehun yang tidak menoleh sama sekali ke arah Sehun. Satu arah pandangnya. Halaman di depan mata.
"Beku?" Sehun menjeda makannya. Tampak berpikir.
"Ya, begitulah. Daerah ini terletak di antara pegunungan dan laut, sehingga perbedaan musim panas dan dinginnnya sangat besar."
Merah legamnya semangka di perhatikan dengan seksama. Tatapan yang menunjukkan sebuah tanda tanya besar di dalam pikiran. Membayangkan bagaimana dinginnya musim dingin di sini nantinya.
Apakah dia akan baik-baik saja?
Sebuah ide terlintas sesaat di rongga pikiran, "Em... Paman?"
.
.
.
.
Matahari nampak menempati singgasananya di langit. Suara-suara khas binatang hutan samar terdengar oleh indra pendengaran. Tak nampak, hanya menunjukkan keesksistensiannya melalui gelombang bunyi. Hikuk-pikuk hutan Yamagami-sama ternyata tidak ada bedanya dengan hutan-hutan yang lain.
Sebuah kain panjang berwarna merah tampak terlipat sangat baik dengan plastik transparan yang membalutinya. Terdiam beberapa detik untuk memahami apa yang terjadi. Kai hanya mampu menatap kain itu dalam diam.
"Ini...?" tanya Kai.
"Itu syall, gunakan baik-baik saat musim dingin tiba ya," akhir katanya dengan sebuah senyuman. Tidak pernah berubah.
Tidak, Kai tahu. Sangat tahu malah kalau ini adalah syall. Yang dimaksud dari pertanyaannya adalah mengapa Sehun memberikan syall itu padanya. Apa maksudnya?
Sehun membuat ini semua menjadi sulit. Sulit bagi Kai untuk melihatnya pergi.
"Ha... kalau begitu aku pergi dulu ya~ annyeong Kai,"
Ah, kata itu lagi. Sebuah kata yang biasa di ucapkan tetapi sukar di jalankan. Kata perpisahan.
Mulutnya hendak terbuka menanyakan, tahun depan Sehun akan kembali lagi kan?
"Sampai jumpa tahun depan lagi~," ujarnya melambaikan tangan kanan ke udara seraya melangkahkan tungkai putihnya meninggalkan dirinya dan hutan Yamagami-sama.
"Ah, nde."
.
.
.
.
Setahun kemudian.
Hari demi hari berlalu, begitu pun dengan musim. Musim telah terganti dari waktu ke waktu. Musim semi, musim gugur, musim dingin. Semua telah terlewati dengan sendirinya.
Tak terhitung sudah berapa jam, menit, bahkan detik yang terlewati untuk dapat saling berjumpa lagi. Soal manis-pahitnya hari lupakan dahulu. Yang terpenting sekarang bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka di sini. Hutan Yamagami-sama.
"Sudah besar ya?"
"Tentu saja. Memangnya kau mau aku jadi anak kecil terus?"
"Hahaha... ayo."
Seperti biasa, sedikit gurauan kecil tersirat acapkali pembicaraan mereka tersirat.
Dua tungkai menjadi empat.
Dua lengan menjadi empat.
Sayangnya, dua hati belum dapat menjadi satu. Sebuah dimensi utopia yang menjadi pemicu dua hati itu sukar menjadi satu.
Lihat? Bukankah hidup begitu sayang kepada mereka hingga menjadi satu pun rasanya tabu. Bak mengharap bumi tidak memiliki gravitasi. Begitu—bahkan sangat mustahil.
Dua insan bercengkrama di pinggir danau. Beruntung hari ini awan putih itu menjadi perisai dari sinar ultraviolet sang surya. Begitu banyak hingga seperti gula-gula kapas yang melayang-layang di tengah siang bolong.
"Sekarang sudah SMA ya?"
"Yeah... begitu lah."
"Tidak mencoba berlari ke arah ku lagi?"
"Tentu saja tidak. Aku sudah kapok di pukul oleh mu," balas Sehun seraya mengembungkan kedua pipinya. Kai terkekeh di balik topeng rubahnya.
Pandangan Sehun teralihkan ke nirwana yang sepertinya sedang bersahabat dengannya. Tidak begitu panas. Di langit tampak awan-awan itu saling balap-membalap satu sama lainnya untuk mengitari bumi.
"Aku... sudah tidak sabar menantinya. Selepas SMA ini aku akan pindah kesini lalu mencari pekerjaan di sini—" Sehun masih setia menatap langit, Kai terdiam memperhatikan Sehun berbicara, "—dan saat itu tiba, kita akan selalu bersama. Entah itu musim semi, musim gugur, bahkan musim dingin sekalipun. Kita akan bersama, kan?"
Iya, Sehun yakin tiga tahun lagi mereka akan selalu bersama. Melewati hari-hari yang biasanya sendiri dengan canda tawa bersama. Tanpa perlu khawatir jarak dan waktu yang akan memisahkan mereka.
Sorotan mata yang di berikan Sehun kepada Kai begitu mengebu-ngebu. Sorotan mata anak polos yang menginginkan sebuah barang yang tidak pernah di milikinya. Kai bingung harus menjawabnya dengan apa.
Tentu inginnya Kai juga seperti itu, tapi...
"Sehun."
Ini bukan jalan takdir Sehun.
"Izinkan aku bercerita... mengenai diriku."
Karena, sampai kapanpun mereka tidak akan pernah berhasil bersama. Walau hanya duapuluh empat jam sekalipun.
"Aku ini bukan Youkai—" kini mata uang koin terbalik, Sehun kini terdiam seribu bahasa, "—tapi aku bukan manusia lagi," Kai menegakkan posisi duduknya pertanda mulai serius.
Tidak ada suara berarti mendengarkan, "Aku dulu pernah menjadi manusia. Saat bayi, aku di tinggalkan oleh kedua orang tua ku di hutan Yamagami-sama seorang diri. Saat itu aku tidak berdaya, karenanya aku hanya bisa menangis. Seolah-olah memanggil orang tuaku untuk kembali."
"Para Youkai di sini bercerita aku menangis tanpa henti. Seharusnya aku mati saat itu tapi... Yamagami-sama memberiku mantra sehingga aku bisa terus hidup. Aku... kini tak ada bedanya dengan arwah penasaran."
Pandangan Kai di alihkan ke arah Sehun yang tengah memperhatikannya. Tatapan Sehun bagaikan orang yang kagum sekaligus tidak percaya. Kagum Kai dulunya sama sepertinya, dan tidak percaya ada cerita seperti ini. karena, biasanya Sehun hanya mempercayai cerita seperti ini sebagai bagian dari dongeng pengantar tidur belaka.
"Sehun, tidak apa kalau kau ingin melupakanku—" tangan kiri Kai di angkat setara dengan bahu, "—karena tubuh yang bertahan dengan mantra, sangat rapuh. Jika aku tersentuh oleh manusia, mantranya akan rusak dan aku akan menghilang."
Helaan nafas terdengar dari sang Youkai, "Maka dari itu Sehun, tidak apa kalau kau ingin melupakan aku. Karena, tubuh ini—"
"Akan menghilang jika di sentuh—" jeda, "seperti salju saja, ya?" celetuk Sehun mengabaikan kata-kata yang ingin di utarakan Kai.
Tubuh Kai tersentak mendengarnya. Tatapan mata di balik topeng di layangkan ke lawan bicara, "Hei, Kai... apakah kau tau berapa banyak waktuku yang terbuang untuk memikirkan mu?"
"Musim dingin, musim semi, musim gugur... selalu... aku selalu memikirkan mu," tatapan yang sebelumnya di layangkan ke langit kini berpindah ke arah Kai. Sehun tahu persis cepat atau lambat perpisahan akan terjadi, maka dari itu, "Jangan lupakan aku ya Kai, Jangan pernah melupakan... semua tentang ku, ya."
Tidak, bukan maksud Sehun untuk menjadi naïf. Bukan seperti itu. Perpisahan itu pasti. Toh, semua ini serba sepasang bukan?. Layaknya Matahari dan bulan, perempuan dan laki-laki, kanan dan kiri, atas dan bawah, kalau begitu kalau ada pertemuan maka akan ada perpisahan.
Itu hukum absolut kehidupan. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Tak seorangpun. Meski sesungguhnya sangat ingin.
Maka itu, biarkan Sehun menikmati hari-harinya bersama Kai.
Sebelum perpisahan merenggut semuanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Balasan Review
daddykaimommysehun : Enggak kok, Sehun cuma kena MCL itu lhoo cidera di ligamen lutut. Gak berbahaya, cuma penderitanya gak boleh beraktivitas berlebih. Kalau berlebihan ntar cideranya makin parah. Gak bahaya kan? Fufufu. Ah, Sehun emang udah lucu dari lahir XD /taboked.
Whirlwind27 : Kai emang gak peka hajar aja diaaa wkwkwkwk /di lempar pisau. Gak, Kai gak boleh keluar hutan. Ntar kalau ada yang gak sengaja nyentuh Kai gimana? Kai bisa hilang dong? TwT. Ini namanya pengorbanan uke ngejenguk seme pffttt~ XD.
Auliavp : Waahhh... makasih pujiannya, saya jadi terhura XD. Tapi cerita aslinya bukan punya saya, saya cuma ngerombak disana-sini (T.T). suka gak yaa? Haha, disini udah di jelasin sedikit demi sedikit perasaan Kai, tapi tenang...chap depan di jelasin lebih rinci kok ^.^
Choi faifai : wahaha... Kalau udah SMA di ajak janjian, terus nge-date berdua khekhekhe XD, iyaa maap yak ada beberapa hal yang gak bisa di tinggal gitu aja. Lagian saya tipe orang yang lama kalau soal bikin ff XD /tendang.
Kaihun520 : Waahhh... iya makasih semangatnya, hwaiting ^.^9. Iyaa, gak papa~ selamat datang di dunia fantasi saya yaa XD /apaansih.
dia. luhane : ya ampun kamuuu hahaha... fantasi mu kejauhaaannn X3. Namanya juga hidup, selalu ada rintangan dimana-mana #eak. Duh, perasaan nyeseknya di tahan dulu yaaa... ini belum end kok XD /teleport.
izz. sweetcity : iya adegan jongkok itu emang gak ada, saya yang nambahin sendiri /taboked. Hnggg... kalo Sehun nyuapin mulut ke mulut ntar malah french kiss dong? May...Gatt O.O #jdukk. Ah, nggg... maap baru bisa apdet sekarang sebelum puasa saya bener-bener gak bisa nyentuh laptop, negtiknya pun lama -,- #bow.
Zhitha. Angel : Waahhh... tha kamu review banyak, saya jadi terhura #plak. Btw, maap aku gak bisa bales semua, yang pasti serius mulut ini gak bisa berhenti ketawa baca review dari kamu XD . iya, itu gunanya sahabat, hadir saat di butuhkan #eeaaakkk. Ah makasih review beruntunnya yaaa XDDD.
Jeseey : Ini udah gede kok. Di chap ini Sehun udah SMA kaaannn? Haha, tenang udah saatnya kita serius masalah perasaan dari sini /yaterus. Iya, mereka gak bisa saling sentuh. Kenyataan emang menyakitkan X3 /di tamvar.
.
A/N : Haahhh... Akhirnya chapter 5 selesaaaiiii teheeee~. Masih ada yang inget sama ff yang satu ini? yep, ini lho yang kisah romansa manusia sama youkai #plak. Gimana? Gimana? Masih kurang greget yaa? Haha, maaf soalnya saya kalau menuntaskan ff itu gak satu hari langsung selesai butuh satu minggu lebih bagi saya untuk menyelesaikan ff ckckckck /di tendang.
Ah, iya... maaf ya telat apdet. Bulan puasa ternyata masih banyak tugas-tugas yang numpuk. Well, saya tahu tugas seharusnya gak boleh jadi penghalang bagi saya untuk berkreativitas. Karena menulis dan membuat cerita itu pilihan bukan paksaan.
Tapi yaaa sekali lagi maap, namanya juga prioritas saya gak bisa nyuekin tugas gitu aja. Yaa pokoknya gitu laah yak XD.
Oh... satu lagi, terima kasih yang masih mau menunggu kelanjutan ff ini... yaa andai kata, ayah saya Sooman, pasti saya udah kirimin anak-anak EXO ke rumah kalian :'D. Yang follow dan favo jugaa makasih yaaa...
Makasih juga buat Zhitha. Angel yang udah mau berkenan menjumpai saya lewat PM, dan sukses bikin saya galau di sore hari padahal minggu-minggu itu saya masih ujian. Makasih lho Tha :'D
Dan, satu lagi makasih juga buat Boyce Avenue yang mau menemani saya membuat ff ini lewat salah satu covernya yang berjudul A Thousand Miles, berkat cover mereka yang satu itu otak saya jadi bisa berimajinasi hahaha #Gakjelas #abaikan.
dan maaf juga kalau ada typo yang lolos dari mata saya oke ^^
.
.
Yep, Sekian dari saya.
.
RnR juseyoo~
.
Salam,
Rein.
