Di sini ceritanya ga ada Tok Aba ya. Saya lupa mencantumkannya. Mereka tinggal bersama orang tua mereka tapi sedang bekerja di luar kota. Nanti saya munculkan di chapter-chapter terakhir sebagai OC-ku.
Selamat membaca..
.
.
.
.
Disclaimer:Animonsta studio
Warning. No power, Romance, Diusahakan tidak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas dll
.
.
.
Chapter 3. Perasaan Taufan
Author pov
" Jadi begitu. Sudah paham?" tanya seorang siswi dengan logat China-nya selesai menjelaskan pelajaran sembari memandang cowok bertopi di depannya.
" Ooh. Paham." Halilintar memulai rencananya untuk mencari informasi dari gadis pujaan kedua saudaranya.
" Ying, tulis di sini biodata kamu," ucapnya kemudian menyodorkan selembar kertas putih kosong pada Ying.
Gadis pintar berkaca mata itu mengernyit dan memandang Halilintar dengan bingung seakan bertanya 'ini untuk apa?' Dengan cepat pemuda itu berkata, " Sudah, tulis aja." Akhirnya Ying melakukan apa yang temannya minta.
Beberapa menit kemudian. " Nih sudah." Ying memberikan kertas berisi biodatanya pada Halilintar.
Pemuda berwajah datar itu menyeringai membaca yang ada di kertas. " Okeh. Sekarang aku mau tanya yang satu lagi. Kamu udah punya pacar?" Tanya Halilintar sembari melipat kertas berisi biodata Ying dan memasukkannya dalam saku celana seragam.
Hening. Ying hanya diam terkejut dengan pertanyaan Halilintar yang tiba-tiba bertanya demikian. Itu membuatnya berpikir sejenak ada apa dengan Halilintar. Dekat pun tidak, mengobrol dengannya tidak, sekedar menyapa pun tidak pernah dan sekarang Halilintar bertanya mengenai pacar?
" Kenapa kamu tanya seperti itu, maa? Tanya pertanyaan yang lain lah," jawab Ying seraya merapikan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas.
" Ish, tinggal jawab sudah atau belum memangnya sulit?" Ujar Halilintar ketus tidak lupa wajah dingin dan tangan yang dilipat depan dada.
Ying memandang Halilintar lekat. " Memangnya penting banget ya?!" Ying menjawab tak kalah ketus. Matanya yang sipit kini tampak sedikit melebar walaupun hanya sedikit sekali perubahannya.
Halilintar memincingkan matanya. " Ish, dasar perempuan! Baru ditanya seperti itu saja lama sekali dijawabnya. Kalau tidak punya bilang aja pakai marah marah lagi. Pantas saja ga punya pacar!" Ledekan pedas keluar dari bibir Halilintar membuat wajah gadis itu memerah.
" Hiiy! Kamu menyebalkan. Aku pulang aja!" Gadis itu mengambil tas berwarna hijau-kuning miliknya dan hendak beranjak keluar kelas. Langkahnya tertahan saat ia merasakan ada yang menahan atau lebih tepatnya menarik tas punggungnya.
" Hei, tunggu. Maaf aku ga bermaksud begitu. Aku cuma mau berteman sama kamu."
" Ekh?!"
oooOooo
Taufan pov
' Kira-kira Ying udah pulang belum, ya? Aku liat aja deh di kelasnya,' batinku sambil berlari kecil menuju ruang kelas 8A. ' Ekh, itu Ying!' Mataku menangkap sosok mungil dengan rambut dikuncir dua tampak dari belakang. Aku pun tak sabar melihat wajah cantiknya dan dengan cepat aku berlari ke arah Ying yang sedang melangkah menuju lapangan.
" Hai, Ying!" Sapaku setelah tiba di samping gadis yang kusuka dan mensejajarkan langkah kakiku. " Pulang bareng yuk!" Ajakku sambil susah payah menahan tanganku untuk tidak menggenggam tangan mulusnya.
Ying tersenyum padaku. " Boleh, ayo. Tapi... memangnya rumah kita searah?" Tanya Ying dengan ekspresi yang menurutku sangat imut.
' Tahan Taufan, tahan. Belum saatnya,' batinku mencoba menenangkan diri. " Searah kok, ayo." Aku berbohong, tapi aku rela berjalan dua kali lebih jauh hanya untuk bersama berdua dengan makhluk Tuhan yang paling menggemaskan ini.
Ying berjalan di sampingku tanpa mengeluarkan suara. Untuk memecah kesunyian, aku pun mulai bertanya, " Hei, Ying. Kamu kan pandai, mau tidak mengajari aku matematika?"
Ying menoleh ke kiri, arahku, " Loh bukannya Halilintar pintar matematika, ya? Kamu minta ajarin dia aja." Alis kanannya sedikit dinaikkan.
' OMG! Dia manis banget kalo kaya'' gini.' Aku mengepalkan tanganku, ku tahan agar tidak mencubit pipi chubby-nya dan menjawabnya, " Hali? Hahaha, Dia pasti akan meremukkan tulang-tulangku jika aku terlalu banyak bertanya. Aku kan tidak bisa matematika jadi wajar dong bertanya terus."
" Begitu kah? Ya sudah aku bantu kamu," Ying tersenyum manis, sangat manis lebih manis dari es coklat kesukaanku. "Kalian saudara kembar sifatnya berbeda-beda. Halilintar pemarah, Gempa pendiam dan kamu orangnya lucu," lanjut yang mendikte sifatku dan saudara-saudaraku.
Aku hampir saja lompat memeluk Ying saat dia menyebutku lucu. Makin menggemaskan saja dia. " Hahahaha.. aku lucu? Makasih. Tapi kamu kurang satu hal dari aku."
Dia menatapku dan matanya yang terhalang kaca mata lensa bulat itu menyipit-memang sudah sipit sih. " Kurang? Kurang apa?" Suaranya yang merdu itu bertanya padaku.
Aku tertawa, " Kamu lupa menyebutkan kalau aku yang paling ganteng dan terkeren dari saudara-saudaraku," ujarku sambil membusungkan dadaku dan merapikan topiku yang menghadap samping.
" Suka suka kamu aja, maa. Ngomong-ngomong apa orang tuamu bisa membedakan kalian jika tanpa apapun sebagai membedakan?"
Aku tersenyum lebar. " Tentu. Jika dilihat baik-baik pasti tau kok itu aku, Hali atau Gempa. Tapi kadang aku iseng saat keluargaku menelponku dan aku sering berperan sebagai Hali atau Gempa. Itu menyenangkan." Aku menatap wajah Ying. " Kalau kamu bisa bedain aku sama Hali atau Gempa jika aku lepas topiku?"
" Entahlah, kalian tidak ada bedanya. Sangat mirip," ujar gadis mungil di sampingku yang hanya setinggi pundakku.
" Ying?" Aku meliriknya dengan ekor mataku. Kulihat mata coklat yang indah dan tertutup kaca mata, itu memandang sepatunya.
" Hmm? Ada apa?"
" Hmm.. kapan-kapan kita jalan-jalan bareng yuk! Mau ga?"
" Ehm, mau mau. Kemana? Kapan?" Dia menerima ajakanku?!
' Oh thanks God,' batinku kegirangan. " Sabtu ini, gimana? Terserah kamu mau kemana, aku sih oke aja."
" Besok? Oke. Nanti aku ajak temanku..."
" Eh? Jangan jangan!"
" Loh? Kenapa? Bukannya lebih banyak orang jadi lebih seru? Masa' hanya kita berdua aja."
Kelopak mata kanan bawahku berkedut. ' Dia tidak sadar ya kalau aku mengajaknya kencan?'
" Iya, kita berdua aja. Kalau terlalu banyak jadi merepotkan. Lagipula aku hanya mengajakmu, kan?" Jelasku mencari alasan yang tepat agar tidak membuatnya curiga.
" Ya, boleh deh berdua aja. Eh, sudah dulu ya. Aku sudah sampai. Daah aku pulang dulu. Bye, Taufan!" Ying berlari membuka pagar rumahnya kemudian menghilang di balik pintu.
Taufan pov end
oooOooo
Gempa pov
Pukul 4.45 sore.
'Clek..
Suara pintu terbuka. Kualihkan pandanganku ke pintu depan. Halilintar sudah pulang rupanya, nanti akan kutanya informasi apa yang ia dapat tentang Ying.
'Pluk.' Sebuah kertas putih terlipat dari saku celana, ia lemparkan ke meja. Penasaran dengan isinya, aku mengambil dan membukanya.
" Biodata Ying?!" Pekikku saat kubaca isi kertas itu. " Thanks." Aku tersenyum lebar sembari membaca biodata gadis pujaanku.
" Hm. Dia bilang dia belum punya pacar," ujarnya sambil melangkah menuju kamarnya kemudian menghilang masuk ke dalam kamar.
' Dia belum punya pacar? Berarti aku masih punya kesempatan dong. Baiklah aku akan berjuang mengambil hatinya,' batinku menyemangati.
'Clek..
" Taufan? Kok baru pulang?" Tanyaku pada Taufan yang sedang melepas sepatu. 'Ada yang aneh. Kenapa dia senyum senyum gitu?'
" Ga apa-apa. Tadi ada jadwal club bulu tangkis," jawabnya dengan senyuman yang menurutku tidak seperti biasanya. Ia tampak sangat senang sekali.
" Fan? Kamu ga apa-apa kan? Senyum senyum ga jelas. Kesambet?" Tanyaku memastikan. Aku khawatir saja kalau Taufan terjadi sesuatu saat perjalanan pulang.
Dia masih tersenyum dan duduk di sampingku. Dia menaruh tasnya di lantai kemudian meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan bersandar dengannya. Dia terkekeh melihat wajahku khawatir, " Hahaha, ga usah panik begitu. Bukannya kamu udah biasa kalau aku senyum senyum begini."
Memang sih dia setiap hari cengengesan tidak jelas. Tapi saat ini Taufan seperti ada sesuatu yang lain. Wajahnya agak memerah. " Bener ga ada apa-apa? Aku ga yakin."
" Sudahlah, aku ga apa apa. Oh ya, besok pagi aku mau pergi," ucapnya tanpa melihatku. Pandangannya seperti menerawang langit langit.
" Mau kemana?"
" Kepo..."
Gempa pov end
oooOooo
Author pov
Jam menunjukkan pukul 7.30. Sinar matahari pagi menghangatkan sebuah kamar dengan sang pemilik kamar itu sedang bersiul sambil menyisir rambutnya dengan jari di depan cermin. Wajah ceria setiap hari itu bertambah segar mengingat sekarang hari Sabtu. Yap! Kencan-eh jalan jalan maksudnya, dengan gadis idamannya.
" Hahaha, aku makin keren aja," ujarnya dengan pede tingkat dewa. Dia tersenyum menampakkan sederet gigi putihnya. " Mungkin untuk kali ini aku ga usah pakai topi." Taufan, pemuda yang sedang jatuh cinta itu menaruh topi kesayangannya di meja kemudian melangkah keluar kamarnya.
" Gempa, Hali! Aku pergi dulu.." Ia pamit dengan berteriak di depan kamarnya. Taufan berjalan menuju ruang tamu dan memakai sepatunya. Kemudian membuka pintu depan dan segera menuju rumah gadis pujaannya.
Skip time..
" Hai!" Sapa seorang gadis yang berada di belakang Taufan.
Taufan berbalik badan. Matanya hampir saja keluar dari tempatnya saat melihat Ying berbeda dari biasanya. Memakai kaos kuning muda dengan blazer hijau dan rok setinggi lutut dengan warna senada ditambah tas kecil yang diselempangkan di bahu. Yang membuatnya berbeda adalah ia tidak mengenakan kaca matanya dan rambutnya tidak dikuncir melainkan dibiarkan rambut hitam lurus sebahu itu terurai dengan sebuah jepit kecil di dekat telinga. Cantik. Dia terlihat lebih dewasa, itulah yang dipikirkan pemuda tanpa topi itu.
" Taufan? Kenapa? Aku aneh ya?" Tanya Ying saat melihat reaksi Taufan yang hanya menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.
Taufan tersadar dan mengatupkan bibirnya. " Ng-ngga kok, ga aneh. Kliatan cantik malah. Kamu jadi beda kalo kaya' gini," pujinya yang membuat siapa saja yang ia puji seperti itu pasti wajahnya merona, termasuk Ying.
" Benarkah? Terima kasih. Kamu juga beda. Ga pakai topimu," ujar Ying sambil menunjuk rambut Taufan yang tidak tertutup topi.
Taufan mengusap rambut coklatnya kemudian tertawa, " Iya, mungkin sekali kali pergi tanpa topi itu, hahaha. Aku jadi tambah keren kan?"
" Terserah kau lah," jawab Ying datar. " Ayo, cepat kita jalan. Kemana dulu ni?h"
Taufan menatap wajah gadis di depannya, " Ke.. ke hatimu.."
Memerah lagi wajah gadis oriental tanpa kaca mata itu. " Hei! Cepatlah kita pergi nanti keburu siang!" Gadis itu pergi terlebih dulu dengan wajah yang masih merona. Taufan hanya terkekeh melihat semburat merah masih terlihat di telinga gadis yang jauh berjalan di depannya.
Next?
Hohoho, saya hadir kembali #jeng jeng jeng..
Sudah selesai Taufan x Ying! Tapi agak aneh sih nulisnya, aneh ngeliat anak SMP udah pacaran, huft..
Tapi saya senang saat menulis ch yang ini, mengingat saya sudah lepas dari jeratan ujian minggu ini jadi tak ada halangan untuk membuatnya.
Oh ya, untuk tebakan tentang sad ending ada yang sedikit hampir benar
tapi belum tepat. Hehe..
Okeh, untuk chapter 4 tentang Gempa x Ying!
Terakhir saya mohon pada reader..
REVIEW please..
