Hai semuaaaa ^^~)v
Saya kembali membawakan chapter ke 4!
Saya minta maaf maaf maaaaaaaafff sekali lama mengupdatenya dan lupa membalas review..
Saya lupa siapa saja yang mereview jadi saya tulis saja jawaban jawaban saya, hehe maklum masih amatiran..
Okeh ini dia chapter 4..!
.
.
.
Disclaimer:Animonsta studio
Warning. No power, romance, Diusahakan tidak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas dll
.
.
.
.
Chapter 4. Rasa Cinta
Author pov
" Gempa! Halilintar! Aku pergi dulu.."
Suara teriakkan saudaranya membuat pemuda bertopi dinosaurus yang menghadap belakang itu terbangun dari mimpi dan mengelus telinganya yang berdengung. ' Uugh... Pamit sih pamit tapi ga usah pake teriak-teriak kali,' omel Gempa dalam hati sambil beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi, dilihatnya di meja belajar terdapat sebuah kertas. Dengan tubuh hanya terbalut celana pendek selutut tanpa mengenakan baju alias telanjang dada dan sebuah handuk di leherr, Gempa menghampiri meja belajarnya.
" Yah sekarang hari Sabtu, ngga bisa ketemu Ying," keluh Gempa seraya melihat kertas berisi biodata Ying. " Eh, ada nomor hp nya Ying. Aku sms dia aja."
Gempa membuka tasnya yang berada di samping meja belajarnya dan mengambil benda elektronik berbentuk kotak itu. Dengan sebuah senyuman yang mengembang di wajahnya, dia mengetik nomor telepon yang tertera di kertas itu. ' Tapi tunggu, nanti dia curiga lagi kalo aku langsung sms. Harus ada sms basa-basi dulu nih. Tapi sms apa ya?'
To. Ying
Ying, kamu sekretaris ekskul basket, kan? By Gempa.
' Okeh, terkirim!'
Drrrtt.. Telepon selular pemuda yang bertelanjang dada dengan sebuah handuk tergantung di leher itu bergetar, dengan secepat kilat ia membuka pesan yang baru saja diterima. ' Ah, dari Ying!'
From. Ying
Eh, Gempa, iya. Memangnya kenapa?
To. Ying
Kamu ikut acara prom nite ekskul?
From. Ying
Iya, tentu saja. Bukankah pengurus ekskul wajib mengikuti?
To. Ying
Oh iya benar juga.
Ying? Kamu sekarang ada di rumah?
From. Ying
Oh, sekarang aku tidak ada di rumah. Aku sedang di pantai.
To. Ying
Oh ya? Sebenarnya aku ingin ke rumahmu, tapi tak apalah besok saja.
Mulai pagi itu Gempa selalu berkomunikasi dengan Ying. Dia bahkan bertanya hal-hal yang sangat tidak penting demi agar dia lebih dekat pada gadis pujaannya. Sampai sampai Gempa tidak memperhatikan kalau Halilintar sedang berbicara dengannya.
Skip time...
Senin pagi datang kembali. Pukul 6.15, Taufan berangkat terlebih dahulu ke sekolah meninggalkan 2 saudaranya. Taufan tampak buru-buru sekali.
" Hali?" Panggil Gempa pada Halilintar di sampingnya saat hendak memakai sepatu.
" Hmm," Halilintar menjawab dengan bergumam tanpa menoleh ke arah Gempa.
Gempa dengan tatapan sendu sambil memakai sepatunya. " Begini. Aku punya firasat kalau Taufan juga suka sama Ying," ujarnya sambil menatap saudaranya dari samping.
Halilintar diam sejenak. " Belum ada buktinya. Itu ga mungkin. Memangnya kamu tau dari mana kalau dia juga suka dengan Ying?" Kali ini Halilintar menatapnya.
" Aku cuma berfirasat. Yah semoga saja begitu." Gempa berdiri kemudian mengenakan tas punggungnya lalu diikuti Halilintar.
" Ya sudah, ayo berangkat!" Halilintar kemudian mengunci pintu rumah dan berangkat bersama Gempa.
Sesampainya di sekolah, Gempa melihat Ying sedang bermain basket bersama teman sekelasnya dengan mengenakan kaos olahraga. Dia tampak sangat mungil dengan kaos itu karena kaos basket yang ia kenakan tampak kebesaran.
Tanpa sadar Gempa mengamati gadis itu sambil mematung di samping lapangan basket. Sampai...
" AWAASS!"
'DUAKH..
Rasa pening menjalar keseluruh bagian kepala seorang pemuda yang tertutup topi itu. Dia terhuyung sampai tubuhnya ambruk membentur aspal lapangan. Kedua matanya terpejam dan tangannya terus memegangi kepala.
Semua penghuni lapangan menghampiri Gempa. " Aduuh.. Gempa ya? Maaf, aku ga sengaja." Suara gadis dengan logat China. Walaupun matanya tertutup tapi Gempa tau kalau itulah suara gadis pujaannya.
Gempa membuka matanya. Sosok gadis yang disukainya berada tepat di depannya. Rasa pusingnya tiba-tiba menghilang berpindah pada jantungnya yang kini berulah. Ying tersenyum khawatir pada pemuda yang terkena bola basket akibat ulahnya.
Gempa tampak mencari seseorang di antara kerumunan orang-orang. ' Hali kemana? Bukannya tadi dia samping aku? Kebiasaan langsung ngilang.'
" Ayo Gempa aku bantu kamu ke UKS," Ying menawarkan bantuan sambil berdiri mengulurkan tangan.
Gempa tersenyum. " Trima kasih," ucapnya seraya berdiri dengan bantuan teman-teman yang sebagian ia kenal.
Author pov end
oooOooo
Gempa pov
" Masih sakit, ya?"
" Ngga kok, aku udah ga apa apaa," jawabku sambil membuka topi dan mengurut keningku. Tatapanku tak beralih pada sosok gadis China berkaca mata di dekatku.
Ying masih tampak khawatir dan mencari sesuatu di lemari UKS. Ying mendecak kesal mungkin karena ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Aku hanya menatapnya bingung. " Cari apa sih?" Tanyaku akhirnya.
" Gempa, sebentar ya." Hanya itu jawaban darinya dan kemudian meninggalkanku berbaring sendirian di ranjang UKS.
Tak lama kemudian, mataku menangkap sosok gadis yang memakai kaos basket warna biru itu sedang membawa baskom kecil-entah dari mana ia dapat, dan sebuah handuk di tangan kanannya. Kurasa dia ingin mengompresku.
Ying menaruh benda itu di meja kecil di dekatku dan menaruh handuk kecil ke dalam baskom lalu memerasnya. Ying meletakkan handuk basah itu di bagian kepalaku yang terkena bola basket dengan cukup keras.
Ying diam sejenak dan menatapku lekat.
Dahiku berkerut. " Kenapa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?"
" Ngga apa. Gimana kepalamu?" Tanyanya.
Aku tersenyum kecil. " Tenang, masih menempel sama leher." Dia tertawa kecil saat mendengar jawabanku.
" Ying? Kamu ga ikut pelajaran olah raga?"
" Oh, itu. Tadi aku sudah izin ke Guru buat nemenin kamu. Aku kan harus tanggung jawab. Aku juga sudah buat izin kamu ke Guru piket, aku bilang kamu sakit jadi harus di UKS dulu." Dia menaruh handuk ke dalam baskom.
" Oh, begitu. Kamu ga apa-apa berdua di sini sama aku? Ga ada yang marah?"
Ying menatap pintu keluar UKS. " Tidak, tidak ada yang akan marah. Kecuali saudaramu si Halilintar itu datang dan mematahkan tanganku yang sudah membuatmu di UKS," ujarnya tenang.
" Benar juga. Tapi Hali tidak begitu kok sama perempuan. Dia sebenarnya baik," jawabku dengan senyum. ' Oh Ying, kapan lagi kita bisa berdua seperti ini? Ini pun terjadi karena kecelakaan.'
Setelah beberapa menit dikompres, akupun mendudukkan diri di tepi ranjang UKS. Walau terasa pening saat aku terbangun. Aku terbangun hanya untuk melihat wajah Ying dengan jelas.
Ying berdiri hendak membuang air dingin dari baskom, aku pun mencegatnya dengan berdiri tepat di depan Ying. Aku menundukkan kepalaku menatap mata Ying yang memang Ying hanya setinggi bahuku.
Kutatap lekat-lekat bola mata coklat indah itu. Matanya yang sipit dan bulu mata yang lentik terhalang lensa bulatnya. Aku melepas kaca mata itu perlahan. Ying tidak memprotesku karena kedua tangannya sibuk memegang baskom berisi air. Dia memejamkan matanya saat kaca matanya telah kulepas dan ku letakkan dalam saku baju seragamku.
Aku mengelus kelopak matanya halus. Kemudian menyuruhnya membuka mata. Mata coklat itu kembali terlihat. Aku terus menatap dalam sang pemilik mata indah itu.
" Ying. Kamu cantik kalau begini," pujiku sambil merapikan poni nya yang menghalangi matanya.
Dia hanya diam dan wajahnya sangat merah padam. Aku menarik tanganku dari wajahnya. Aku menyudahi aksiku, aku takut akan terlewat batas nantinya. Aku mengambil tas dan topiku lalu memakainya.
" Balik ke kelas yuk!" Ajakku sambil mengambil alih baskom berisi air itu.
Dia masih diam mematung dengan kepala tertunduk. Aku berjalan terlebih dahulu. " Hei! Ayolah. Mau sampai kapan kamu di situ Ying?"
Dia menelungkupkan telapak tangannya di pipi. Dengan segera Ying berlari ke arahku. Aku hanya tersenyum melihatnya
Gempa pov end
oooOooo
Halilintar pov
' Mana tuh anak cerewet? Biasanya pagi-pagi pelajaran olahraga dia udah standby di lapangan. Kenapa sekarang ga ada?'
Aku berada di pinggir lapangan mengamati seluruh penjuru dan sudut sudut lapangan mencari seseorang. Dahiku berkerut saat kulihat Gempa dan Ying keluar dari UKS bersamaan. Tapi kenapa Ying wajahnya memerah?
" Hei!" Suara perempuan mengagetkanku. Aku sedikit terlonjak saat melihat di sampingku adalah Yaya. Aku mendengus dan memutar mataku. Kali ini seperti biasa jantungku bertingkah saat aku dekat dengan Yaya.
" Apa sih?" Tanyaku sinis padanya yang sedang tersenyum.
" Diem aja. Ayo ikut main basket!" Ajaknya. " Kamu liatin siapa?" Dia mencoba mencari apa atau siapa yang aku tatap.
" Ohh.. Kamu suka sama Ying, ya?" Ledeknya sambil tersenyum licik menatapku. " Eh! Tunggu, kamu punya kembaran ya?"
Aku memutar mataku, " Iya. Itu yang sama Ying namanya Gempa kelas 8B, satu lagi namanya Taufan, dia di kelas 8c," ujarku memberi informasi.
" Tapi ngomong ngomong kamu beneran suka sama Ying? Nanti aku bantu deh."
' Perempuan ini menyebalkan. Apa dia tidak dengar bunyi detak jantungku yang makin kencang? Hampir mati aku menahannya agar ga kumat lagi,' dengusku menatap Gadis berhijab putih, Yaya.
" Terserah," jawabku singkat padanya seraya mengambil bola basket di depanku. Aku mendribblenya sebentar mengarah ke tiang ring, lalu shot. Masuk!
" Wow, Hali kamu hebat. Ajarin aku dong!" Puji gadis berhijab putih dan berkaos olahraga lengan panjang hinga menutupi telapak tangan. Dia menghampiriku dan mengambil bola yang kupegang.
" Ayo dong! Ajari aku," pintanya.
" Gimana caranya? Aku ga bisa mengajari orang lain. Kamu minta sama yang lain aja," jawabku sambil menunjuk teman teman sekelas yang pintar bermain basket.
Yaya sedikit cemberut tidak puas dengan jawabanku. " Aku kan mau nya sama kamu."
'DEGG..
' Gawat! Kenapa dia bilang begitu? Jantungku langsung merespon berdetak lebih cepat,' batinku seraya mengepalkan kedua tanganku.
" Ya sudah. Sini aku bantu." Aku mendekatinya dan mulai melakukan yang kubisa untuk melatihnya. Sampai..
'ZREETT..
Aku menginjak tali sepatunya. Yaya hilang keseimbangan dan hampir terjatuh. Aku dengan sigap mendekapnya agar tidak terjatuh. Sekarang jantungku hampir lepas dari pembuluh darah karena wajah Yaya tepat berada di depan wajahku.
Untuk beberapa detik, kami dalam posisi berdiri tapi aku tampak seperti merangkul tubuh mungil gadis berhijab itu. Kami tersadar sampai ada salah seorang temanku memberitahukan guru olahraga sudah datang.
" Maaf! Maaf! Aku ga bermaksud begitu," kataku cepat meminta maaf karena Yaya berhijab tentu harus menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengan laki-laki.
" Iya, ga apa apa, ini juga salahku ga mengikat tali sepatuku dulu. Terima kasih udah nolongin aku," ujarnya sambil mengusap punggung tangannya bergantian.
Wajah kami berdua memerah. Kemudian aku dan Yaya masuk dalam barisan yang telah dibuat.
Next?
Selesai deh update Gempa x Ying! Saya juga sedikit nambahin yang terakhir Hali x Yaya karena ada minta Hali x Yaya..
Oke, karena ada yang minta Hali x Ying akan saya usahakan ya mungkin bisa sedikit sedikit saya selipkan, sedikit loh gapapa, ya?
Untuk sad ending yang saya maksud itu broken heart bukan berakhir dengan kematian loh, merinding saya nulisnya kalo ada yang mati eh meninggal. Pokoknya ga sampe ada pertumpahan darah.
Mungkin kalo berantem berantem ada dikit, dikit ya soalnya ga bisa bikin adegan berantem.
Okeh kayaknya sudah menjawab semua review kan kan kan?
oh ya ada yang bertanya soall ujian saya. Ujian saya sudah selesai buat minggu ini tapi masih ada ujian ujian lain yang sedang menanti, jadi saya minta maaf kalau update chapter chapter berikutnya agak lama. Harap bersabar ya..
Okeh trima kasih sudah mau baca chapter ini.. ^^~
Yang terakhir REVIEW please...
