Hai hai hai..
Para reader , saya datang lagi tapi maaf ya lama..
Hehehe.. ﹋o﹋)V
Terima kasih untuk yang sudah mau mereview FF saya, saya bersyukur ada yang masih mau mengoreksi dan membaca cerita saya ^^~)b
Setelah saya membaca ulang ch. sebelumnya ternyata memang alurnya terlalu cepat, untunglah ada yang mengingatkan saya. Kalau narasi saya kurang pandai membuat narasi. Biasa masih amatir hehe, tapi saya akan belajar kok.
.
.
Untuk ch. ini saya bingung memberi judul apa. Alurnya ga jelas nih... *hiks
Ch.5 ini menceritakan tentang Taufan's date sama Hali x Ying. Maaf ya kalo terlalu cepat dan aneh..
Jadi..
Happy reading..
.
.
.
Disclaimer:Animonsta studio
Warning. No power, romance, Diusahakan tidak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas dll
.
.
.
.
Chapter 5.
Pada hari Kamis malam sekolah mereka mengadakan Prom Nite Ekstrakulikuler. Acara tersebut diadakan untuk melantik setiap anggota anggota ekskul yang dipilih para siswa maupun siswi. Selain itu sesuai dengan nama acaranya, Prom Nite Ekstrakulikuler juga mengadakan pesta dansa untuk meramaikan pelantikan ekskul.
Acara itu dimulai 3 hari kemudian, tetapi Taufan sudah sibuk memilah pakaian dan jas yang akan ia kenakan nantinya. " Ah! Kenapa bajuku kaos semua!" Ujarnya frustasi hingga menarik rambut coklatnya.
Setelah membongkar seisi lemari bajunya dan dia tidak menemukan pakaian yang dia rasa cocok untuk dikenakan. Dia membanting tubuhnya di kasur. " Yah, payah! Aku juga sih beli kaos semua. Aku harus pakai apa?"
"Eehm, mungkin Gempa punya kemeja. Aku pinjam saja dari dia."
Taufan beranjak keluar dari kamarnya dan menuju kamar saudaranya yang pemalu itu.
'KLEK..
Kepala Taufan muncul melihat isi kamar Gempa. Dilihatnya Gempa sedang berbaring di kasur dengan memegang ponselnya, dia menatap Taufan sedang meringis. Kemudian kembali dengan layar ponselnya.
" Ada apa?" Tanya pemuda dengan topi dinosaurus yang terbalik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar benda elektronik itu.
Taufan memasuki kamar Gempa dan berdiri bersandar di pintu kamar saudaranya. " Acara Prom kan tinggal tiga hari lagi. Jadi, aku pinjam kemeja sama jas dong. Boleh, ya?" Tanya nya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Wajah Gempa kali ini tidak tertuju pada benda yang ia genggam melainkan pada wajah saudaranya. Sebelah alisnya terangkat. " Pinjam? Memangnya kamu ga punya?"
" Hehehe, kamu tau kan kalau seluruh lemariku penuh sama kaos dan celana pendek. Lagipula bukannya kamu punya banyak kemeja, jas sama celana panjang. Boleh ya aku pinjam."
" Ya sudah, ambil sendiri di lemari," ujar Gempa mengizinkan Taufan memakai pakaiannya. Gempa menggelengkan kepala kemudian beralih kembali ke layar ponsel.
Taufan melompat senang dan berjalan ke lemari milik saudara kembarnya. Sambil memilih baju, Taufan bertanya pada Gempa, " Kamu ngapain sih? Dari kemarin megangin hp terus? Kamu udah punya pacar?"
Gempa terdiam sejenak. " Suka suka aku dong. Kepo deh," jawabnya sambil menghentikan aktivitasnya. " Kamu ke Prom nanti bawa pasangan?"
Taufan mendekati kasur Gempa dan duduk di tepinya dengan membawa seperangkat pakaian yang telah ia pilih. Dia tertawa sejenak, " Ya iyalah aku nanti bawa pasangan namanya juga pesta dansa, memang kamu mau dansa sama tiang?"
Gempa lelah dengan saudaranya yang satu ini kalau ditanya jawabannya terkadang tidak pernah masuk diakal. Gempa hanya memberikan ekspresi wajah datarnya.
" Hahaha, sudahlah aku balik ke kamar. Thanks ya sudah mau kasih pinjam aku setelan ini," ujar Taufan sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.
" Siapa?"
Langkah kaki Taufan terhenti. " Siapa yang jadi pasangan kamu?" Tanya Gempa lagi.
Taufan tersenyum walau tidak terlihat oleh Gempa. " Liat saja nanti di Prom." Lalu ia menghilang di balik pintu.
Jantung Gempa berdebar-debar. Ia takut kalau firasatnya benar. Ikatan batin antar saudara apalagi saudara kembar sangatlah kuat. Gempa dapat merasakan kalau yang menjadi pasangan saudaranya adalah...
oooOooo
Taufan pov
Flash back on
Angin pantai berhembus menerpa helaian rambut gadis di sampingku yang sedari tadi duduk dan sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan, mungkin sedang mengetik sms untuk temannya.
" Kamu sms-an sama siapa?" Aku sedikit mencondongkan kepalaku untuk melihat apa yang ia tulis.
Dia menarik ponselnya dan menutup layar dengan telapak tangannya. " Eemm.. sama siapa, ya? Kasih tau ga, ya? Ga usah deh," jawabnya sambil terkekeh.
Tak puas dengan jawabannya, aku menggelitik pinggangnya. Dia menggeliat kegelian kemudian menyimpan ponsel dalam tas kecilnya. Kami berlari menuju tepi pantai dan bermain dengan ombak yang menyentuh kaki kami.
Setelah lelah bermain dan pakaian kami sudah setengah basah, akhirnya kami menyudahinya dan kembali ke tempat semula. Kami duduk di sebuah bangku taman di bawah naungan pohon kelapa.
Wajah cerianya sangat cantik jika rambut hitam pendeknya sedikit basah ia kibaskan pelan. Kemudian matanya terpejam menikmati suasana pantai yang semakin lama semakin ramai dengan pengunjung.
Ku perhatikan wajahnya yang putih terlihat dikit warna merah di pipinya, entah itu sebuah make up atau dia agak merasa malu. Bibir tipisnya menyunggingkan sedikit senyuman. Entah sudah berapa lama aku menatap wajahnya diam-diam.
Ying membuka matanya. " Taufan? Makan yuk, aku lapar nih. Udah jam sebelas," ujarnya sambil menggembungkan pipinya. Gemas rasanya saat melihat wajahnya yang seperti itu. Aku mencubit kedua pipinya hingga memerah. Dia mengaduh kesakitan.
" Sakiiitt!"
" Hahaha, habis muka kamu lucu banget kalo kaya' gitu. Ya sudah. Ayo kita makan. Tadi aku lihat food court dekat sini," ajakku sambil menarik tangannya.
Aku meliriknya sekilas lalu beralih kembali ke depan. Ying tidak menolak kalau aku menggandengnya. 'Apakah ini saatnya aku menyatakan perasaanku?' Aku meliriknya sekali lagi. Dia sudah sibuk kembali dengan ponselnya. ' Mungkin lain kali,' pikirku.
Flashback off
Aku mengingat dimana aku dan Ying bersama Sabtu lalu. Niatanku menyatakan perasaanku tertunda karena dia tidak bisa menahan untuk tidak memegang ponselnya.
'Aku lupa menanyakan apakah dia sudah punya pacar atau belum. Payah! eh mungkin Hali tau soal ini.' Aku bangkit dari posisi tidurku dan cepat menghampiri kamar Hali.
Ku buka pintunya dan segera aku masuk. Kulihat dia sedang sibuk menulis, belajar, mungkin.
" Hali?" Panggilku.
" Hmm," dia menjawabnya dengan bergumam seperti biasanya. " Apa?" Tanya Hali tanpa menatap ke arahku yang berdiri depan pintu.
" Kamu tau ga kira-kira Ying sudah punya pacar belum?"
" Bukannya waktu itu aku udah beri tau, ya," jawab Hali masih terpaku dengan buku dan pensilnya.
' Kapan Hali kasih tau aku?' Batinku bertanya. " Kapan? Kamu ga pernah beri tau aku." Aku menggaruk kepalaku yang tertutupi topi.
" Waktu itu aku kasih juga biodatanya Y-..." Ucapannya terhenti saat tatapannya beralih melihatku. Aku mengkerutkan dahiku mencoba mencerna apa yang ia katakan.
Taufan pov end
oooOooo
Halilintar pov
' Astaga! Hampir aku kelepasan. Aku harus bilang apa ke Taufan soal perkataanku tadi? Bodoooh..,' runtukku kesal dalam hati.
" Biodata? Biodata siapa? Aku ga pernah nerima biodata siapapun. Sebenernya kamu bicara apa sih?" Taufan mendekatiku di meja belajar lalu berdiri bersandar di dinding kamarku.
' Oke, dia mulai tanya. Aku harus jawab apa?' Aku mulai panik. Aku tidak melihat terlebih dahulu siapa yang datang. Lagipula suara dan perawakan Gempa dan Taufan hampir sama.
Alis Taufan mulai saling bertaut dan tatapan tajam mengarah padaku untuk meminta penjelasan. Tiba-tiba saja atmosfer di sekitarku menjadi panas. Bulir-bulir keringat dingin mulai bercucuran.
" Eh, eemmm.. itu.. itu.. " Aku terbata-bata tidak tau apa yang akan ku jawab.
" Biodata.. eemm..itu biodataku. Maksudku tadi, bukannya waktu itu aku udah beri biodataku, begitu. Ternyata belum, ya?" ujarku cepat.
Kulihat wajah tidak percaya dari saudaraku yang senang bercanda ini. Kuharap dia mau percaya. " Buat apa biodata kamu beri ke aku? Kamu kelihatan lagi nyembunyiin sesuatu," ujarnya yang sanggup membuatku panik seketika.
Sorot matanya seperti mengintrogasi diriku. Namun aku segera menguasai keadaan. Aku tetap bersikap dingin dan tenang.
" Sudahlah. Tadi kamu tanya apa?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ekspresi wajahnya berubah drastis yang semula seperti polisi yang menangkap maling sekarang menjadi seperti anak kecil yang mendapat permen. ' Memang aneh anak ini,' pikirku dengan menampakkan wajah datarku.
' Ini bakal jadi malam yang panjang. Taufan mulai membicarakan tentang kencannya kemarin dengan Ying. Huft..' keluhku sambil membenarkan posisi dudukku menjadi bersandar di kursi belajarku. Mencoba menjadi pendengar yang baik.
Skip time..
Jam wekerku mulai berbunyi. Aku terbangun dan mematikannya. Mataku sangat lelah dan kepalaku pusing, ini karena Taufan bercerita hingga larut malam dan mencegahku untuk pergi tidur.
Alhasil pukul 00.15 barulah Taufan merasa lelah dan membiarkanku menikmati dunia mimpi. ' Apa ga capek ya si Taufan itu selama 4 jam dia cerita tentang Ying?' Tanyaku heran dalam hati.
Pukul 04.45, aku bergegas ke kamar mandi dan bersiap. Yap, baju putih, celana biru tua, jaket hitam tanpa lengan kuresletingkan setengah dan yang terpenting topi dinosaurusku.
Selesai bersiap, aku keluar kamar dengan membawa tas punggungku dan pergi ke dapur. Sudah kujumpai Gempa dan Taufan di sana. Taufan? Dia bisa bangun pagi? Atau dia semalam tidak tidur? Sudahlah, tidak penting.
Aku duduk di samping Gempa. " Pagi, Hali. Kamu telat bangun, ya?" Sapanya sambil mengoleskan roti tawarnya dengan selai coklat.
Aku memberikan wajah datarku pada Gempa lalu beralih menatap Taufan. Kunaikkan sedikit alis kananku. Taufan hanya merespon dengan mengangkat bahunya dan melanjutkan memakan rotinya.
Kemudian aku mengambil selembar roti tawar dan selai coklat sebagai sarapan kami selama dua minggu ini. Orang tua kami bekerja di luar kota jadi selama 2 minggu kami disediakan banyak makanan di dalam kulkas.
Di dalam lemari pendingin penuh dengan makanan, seperti beberapa bungkus roti tawar untuk sarapan, 2 toples selai coklat, nugget, mie instan, telur, makanan beku yang tinggal dihangatkan dan adapula makanan ringan. Semua itu telah diperhitungkan untuk kebutuhan selama kami ditinggal pergi keluar kota.
Kami juga diajarkan memasak makanan yang mudah seperti memasak nasi-tentu saja menggunakan penanak nasi, menggoreng telur mata sapi, menggoreng nugget dan.. masak air-oke, itu tidak dihitung.
Setelah kami sarapan, kami pun segera berangkat ke sekolah. Sekolah kami dekat dengan rumah, hanya membutuhkan waktu 15 menit jadi kami berjalan kaki, hitung-hitung untuk olahraga pagi.
Pukul 06.15 kami telah tiba di sekolah. Setelah melewati gerbang, kami yang dijuluki kembar 3 keren mulai melangkah dengan arah yang berbeda. Taufan pergi ke ruang club bulu tangkis, Gempa pergi ke koperasi sekolah untuk membeli buku dan pulpen, sedangkan aku bergegas pergi ke kelas.
'BRUK!
Aku melempar tas ke atas meja dan segera duduk lalu menelungkupkan wajahku dengan kedua tangan sebagai bantal. Kepalaku masih terasa pusing akibat kurang tidur. Mungkin 10 atau 15 menit sampai bel masuk berbunyi bisa membuatku lebih baik. Tapi aku pikir itu tidak akan terjadi.
Terdengar suara seseorang sedang duduk di bangku sebelahku. Aku memiringkan sedikit kepalaku melihat siapa yang berada di sampingku.
" Kamu kenapa, wo? Sakit?" Perempuan dengan suara tinggi dengan logat China. Yap, dia yang duduk di sampingku adalah Ying.
" Kalau sakit aku antar ke UKS, ayo," ajaknya. Tapi aku tidak meresponnya, aku tetap menundukkan kepalaku bersandar pada tangan.
' Mau apa dia?' Tanyaku dalam hati saat sebuah sentuhan halus mendarat di dahiku tapi segera kutepis tangannya.
" Kenapa sih?" Tanyaku ketus.
" Jangan begitu lah, aku cuma ngecek kamu aja. Kamu sakit atau ngga? Gitu aja kok marah sih," ujar gadis China berkacamata bulat itu sambil mengerucutkan bibir tipisnya.
Aku menegakkan tubuhku dan menghadap ke lawan bicaraku. " Bawel ah. Aku ga apa-apa. Aku cuma kurang tidur gara-gara Taufan ce-..."
' Sial! Aku hampir kelepasan lagi. Bodoohh..' Aku mengutuk diriku saat menyadari aku hampir kelepasan bicara kalau Taufan semalam bercerita tentang Ying selama 4 jam nonstop!
Dahi gadis di depanku berkerut mendengar ucapanku yang terputus. " Taufan kenapa?"
Aku menggeleng perlahan, " Ga ada apa-apa, dia baik-baik aja."
" Oh begitu. Oh ya, eehm.. akhir-akhir ini Taufan sama Gempa agak aneh, ya? Tau ga mereka kenapa?" Tanya Ying sambil membuka kacamatanya dan menaruhnya di atas kepalanya.
Aku terpaku memandang wajahnya. Terlihat berbeda dan cerah. Apa ini yang membuat kedua saudaraku tergila-gila dengan sosok gadis bermata sipit ini?
Wajahnya putih bersih, tidak tampak satu jerawat pun yang hinggap di sana, bibir tipisnya berwarna merah muda mengkilap, matanya yang sipit namun dengan bulu mata yang lentik membuatnya tampak indah. Warna iris matanya pun coklat.
' Eh.. kenapa jadi mikirin dia? Kan aku sukanya sama Yaya. Tapi.. kalo dilihat lihat Ying ga terlalu buruk kaya' di pikiranku. Dia cukup perhatian.' Dalam diam hatiku malah memuji Ying. Apa yang salah dengan diriku?
" Hei! Halilintar!" Teriakkan suara melengking memekkakan gendang telingaku serta menyadarkanku yang berada di bawah alam sadarku.
Aku melotot tajam menatap Ying yang sudah sangat dekat denganku. 'Blush,' wajahku sedikit merona segera kutarik topiku agak ke bawah agar tidak terlihat siapapun. Tapi percuma, Ying dan teman-temanku yang melintas di dekat mejaku telah melihat semburat merah muncul di pipiku.
" Tuh kan, kamu sakit, Halilintar. Muka kamu merah tuh. Mungkin kamu lagi demam," ujar Ying sambil menunjuk wajahku.
" Aku udah bilang, aku ga apa-apa. Sudah, kamu jangan dekat-dekat sama aku," pintaku atau lebih tepatnya memerintahnya.
Gadis China berambut hitam pendek dikuncir dua itu mulai berdiri untuk pergi ke tempat duduknya. Huft.. syukurlah dia ingin pergi.
Kulihat ke belakang terdengar suara gaduh ada dua anak laki-laki berkejar-kejaran di dalam kelas. Saat mereka berlari mendekat dan tak tampak akan berhenti ataupun menurunkan kecepatan ke arah Ying yang akan berjalan menuju bangkunya. Dengan segera aku berdiri dan menarik lengannya kuat-kuat ke belakang.
" Hei! Hati-hati dong! Jangan main kejar-kejaran di dalam kelas! Dasar kekanakan!" Ujarku memperingatkan pada kedua orang itu yang berhenti saat mendengarku berteriak.
Mereka berdua dan teman sekelas diam terpaku. Bukannya mendengarkanku yang sedang berapi tapi melihat ke depanku atau seseorang yang ada di depanku. Kulihat arah pandangan mereka.
" Halilintar.. sudah lepasin aku. Aku maluu.." pinta seorang gadis dengan suara rendah namun masih bisa kudengar.
Aku terbelalak melihat kedua tanganku merangkul erat tubuh mungilnya. Gadis itu dengan wajah memerah menenggelamkan wajahnya di dadaku, malu. Dengan segera aku melepaskan pelukanku dari Ying.
Setelah itu aku berlari menuju keluar kelas. Saat di pintu masuk kelas, aku berpapasan dengan Yaya. Kupelankan langkah kakiku untuk melihat wajahnya sekilas, namun menyadari wajahku agak memerah kubuang niat itu jauh-jauh. Aku menarik topiku kembali dan berlari menjauhi kelas.
Next?
Huaaaahh... #nangiskejer *pukpukthor
Maafkan saya teman-teman para reader karena saya update terlalu lama..
Sedih..
Saya benar-benar ga ada waktu nih buat ngelanjutin dalam waktu singkat, mungkin butuh waktu sehari atau dua hari ga apa-apa kan?
Habis sebentar lagi saya mau ujian lagi, jadi saya harus pintar pintar membagi waktu untuk belajar dan waktu santai. Jadi dimohon pengertiannya...
Pokoknya trimakasih yang sudah baca FF saya dan..
REVIEW please..
