Pagi..
Siang..
Sore..
Para reader..
Untuk awal-awal saya balas review dulu ya mumpung lagi inget #biasanyalupa maaf..
Onozuka Mikado : Hali jangan dibuat broken heart? Hmm, nanti ya tergantung sama alur cerita, hehe..
Nurhalimah : maaf ya hali x yaya dikit saya ga punya inspirasi lagi. Kalau kamu punya inspirasi hali x yaya mau ngapain aja, tulis di review jika berkenan, thanks
Arina nee-chan : haha keliatan banget ya si Hali ooc ya? sifat dinginnya ilang berganti nge-blushing ria..
Indrikyu 88 : yee.. mulai membaik trimakasih, kali ini saya persedikit pov nya, makasih sudah mengingatkan..
Aiko chiharu : hehe, makasih jika kamu berpikir begitu, memang hali mengakui Ying tapi tetap menyukai eh cinta sama Yaya kok kan cinta pada pandangan pertama,.
okeh sepertinya review telah terjawab semua.. trimakasih ya sudah mereview, memfollow dan memfavorite kan cerita ini, trimakasih banyak.. *peluk-kalian-erat
Maaf ya ch. ini tidak terlalu menarik malah berbelit belit.. maaaff banget..
Baiklah tanpa basa basi lagi..
Jadi..
Happy reading..
.
.
.
.
Disclaimer:Animonsta studio
Warning. No power, romance, Diusahakan tidak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas dll
.
.
.
.
Chapter 6. Curhat
Gempa, pemuda kelas 8 ini memang sederhana dan pemalu. Ia akui itu tapi saat melihat saudara kembarnya, Gempa menjadi merasa kalau yang pemalu adalah Halilintar.
Saat di belakang sekolah, pemuda bertopi itu menemukan sosok pemuda berjaket tanpa lengan dan topi yang sama dengannya dengan cara memakai topinya menghadap depan. Halilintar sedang berjalan bolak-balik dengan tangan kanan menahan topinya agar tetap turun. Gempa tahu kalau Halilintar bersikap demikian berarti sedang ada yang ia coba sembunyikan.
" Hali!" Tegur Gempa sambil menghampiri saudaranya itu.
Yang dipanggil tersentak kaget mendengar namanya dipanggil dan menghadap suara itu berasal.
" Kamu ngapain di sini? Ada masalah di kelas?" Tanya Gempa cemas pada Halilintar yang masih menutupi wajahnya.
Beberapa detik kemudian, Halilintar menaikkan wajahnya menatap Gempa. " Masih kelihatan, ga?" Wajahnya agak memerah tapi terlihat khawatir.
Gempa belum menjawab saat melihat wajah Halilintar yang tanpa ekspresi menjadi tampak semburat merah di pipi. " Kamu kenapa? Sakit? Demam? Ayo ke UKS aku temenin."
" Ga usah. Aku ga sakit. Aku cuma.. cuma ngerasa malu." Jawabnya ragu dan pelan.
" Eeh? Malu?" Pemuda bertopi terbalik itu mengulum bibirnya mencoba menahan tawa. " Ahahaha.. Hali merasa malu? Kamu seriusan?" Ledek Gempa yang tidak bisa menahan tawanya.
Sorotan tajam menusuk ia tujukan pada saudaranya itu. " Ih, apa sih?! Malah ketawa. Aku serius. Masih kliatan merah ga?"
Gempa menenangkan diri meredam suara tawanya, " Sudahlah, jangan marah gitu jadi tambah merah muka kamu."
Halilintar menghela nafas panjang. Ia membenarkan posisi topinya. Akhirnya pemuda bertopi menghadap depan itu mulai tenang. " Kamu ngapain di sini?"
" Aku dari koperasi beli buku tulis sama pulpen, nih," jawab Gempa sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang 2 buah buku dan pulpen.
" Hali, coba kamu tanyakan pada Ying, dia sudah punya pasangan atau belum buat ke prom?"
" Tanya sendiri. Aku ga mau nanya kaya' gitu, kan kesannya aku yang mengajak dia buat ke prom. Nanti ada yang cemburu lagi?"
" Cemburu? Siapa yang cemburu? Memangnya ada yang suka sama Ying selain aku?"
' Bagus! Aku salah bicara lagi,' batin Halilintar.
" Yang cemburu.. eehm.. yang cemburu kamu lah, siapa lagi? Masa aku? Ngga mungkin, kan?"
" Ahahaha, benar juga. Oh ya, sebentar lagi bel masuk, aku balik ke kelas dulu. Bye." Gempa berlari menjauh meninggalkan Halilintar.
" Hei! Nanti tanya sendiri ke dia! Aku ga mau berurusan," teriak Halilintar pada saudaranya. ' Dia dengar tidak, ya?'
oooOooo
Pukul 9.15, bel istirahat telah berbunyi. Seisi tiap kelas berhamburan keluar untuk urusannya masing-masing, termasuk Gempa. Ia mempercepat langkah kakinya menuju ruang kelas Halilintar, kelas 8A.
Sesampainya di sana, Gempa mengintip keadaan ruang kelas itu. Hanya ada beberapa anak di dalamnya. Matanya menangkap sosok Halilintar sedang duduk di pojok kelas dengan kepala tertunduk menghadap meja serta tangan sebagai bantal. Tepat berada di sebelah Halilintar seorang gadis berhijab putih nampak seperti mengajak Halilintar bicara, namun saudaranya itu tidak menghiraukannya.
' Mana Ying? Kok ga ada? Cepet banget menghilangnya,' pikir pemuda dengan topi terbalik itu.
Kemudian Gempa memasuki ruang kelas Halilintar. " Hai, Hali!" Yang ditegur tidak merespon
" Dia sedang tidur," jawab seorang gadis dengan lembut.
Pandangan Gempa tertuju pada seorang gadis di samping Halilintar dan langsung berpikir bahwa gadis manis berhijab itu adalah kekasih saudaranya.
" Hai, aku Gempa. kamu siapa? Kok duduk di samping Hali?" Tanya Gempa polos.
Gadis itu terus memerhatikan Gempa dengan seksama. " Aku anak baru di sini. Aku Yaya. Aku duduk di sini karena memang tempat ini aja yang kosong. Kenapa?"
Gempa mengangguk pelan lalu menatap gadis bernama Yaya dan Halilintar secara bergantian.
" Ngga ada apa-apa. Hanya saja sejak masuk sekolah ini Hali jarang dapat teman sebangku. Kalaupun ada pasti hanya beberapa hari aja soalnya Hali kalo natap orang dengan tatapan sadis plus dingin plus datar plus tajam plus menusuk dan plus plus lainnya. Memang kamu tahan?"
Yaya tertawa pelan, " Ya, banyak anak bilang begitu tapi Hali baik kok."
Gempa mengernyit. " Kamu suka sama dia?" Tanyanya pelan pada gadis berhijab di depannya. Yaya hendak menanggapi ucapan Gempa tetapi tidak jadi setelah pemuda yang sedang dibicarakan terbangun.
" Huaamm.." Suara menguap tertahan berasal dari pemuda di sebelah Yaya.
Gempa mengamati kembaran di depannya. " Akhirnya bangun juga dia," ujar nya dengan wajah datar.
Mata Halilintar melebar seketika saat melihat Gempa sedang duduk di bangku depannya. " He? Ngapain di sini? Cari Ying? Dia tadi bilang mau ke ruang musik," kata Halilintar segera memberi informasi pada saudaranya.
" Hehe, belum juga nanya. Tapi makasih deh, aku ke ruang musik dulu, ya. Bye Hali, Yaya," pamit Gempa yang segera berlari ke luar kelas 8A.
Sepeninggalan Gempa, Yaya tampak bingung dengan Halilintar memberitahukan pada Gempa keberadaan Ying. Yaya mengetahui bahwa Gempa berada di kelas lain tapi mengapa Gempa mencari Ying?
" Gempa kenapa?" Tanya Yaya dengan wajah bingung.
Halilintar memutar matanya dan berpikir tidak ada salahnya Yaya ikut membantunya. " Gempa suka sama Ying," kata Halilintar singkat sambil bertopang dagu menatap Yaya.
" Suka? Trus dia mau ngapain sama Ying?"
" Dia mau ngajak Ying ke Prom Nite Ekskul buat jadi pasangannya. Begitu," jawab Halilintar.
Yaya menggangguk pelan dengan bibirnya sedikit membulat, " Ooohh."
Pandangan Halilintar tidak lepas dari wajah gadis di depannya. " Kamu tau Taufan, kan?"
" Saudara kembarmu yang satu lagi, kan? Memangnya kenapa dia?"
Halilintar menghela nafas sejenak, " Dia juga suka sama Ying," ungkapnya.
Mata Yaya membulat tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda di sampingnya. " Benar? Jadi nanti ada yang patah hati dong," ujarnya dengan kedua telapak tangannya ditempelkan ke pipinya.
Halilintar hanya menaikkan pundaknya sejenak kemudian menggeleng.
Yaya mengangguk kecil. " Trus kamu juga suka dengan Ying?" Tanya Yaya mencoba menebak isi hati Halilintar.
Halilintar menatap Yaya dingin. " Hei, kenapa kamu nanya gitu?"
" Hmmm, mungkin saja. Kenapa kedua saudaramu bisa menyukai orang yang sama tapi kamu ga suka?"
Halilintar menundukkan kepalanya." Entah, mungkin dia bukan tipeku," jawabnya asal.
Yaya tersenyum. " Memangnya tipemu seperti apa?" Tanya nya menggoda teman sebangkunya itu.
Halilintar menatap kembali gadis berhijab itu sebentar lalu pandangannya beralih ke depan. " Kamu ga perlu tau," jawabnya singkat dengan nada sarkatis.
Yaya hanya memutar matanya dan mengulang perkataan Halilintar dengan nada agak tinggi.
" Oh ya, rahasiakan hal ini ke semua orang termasuk Taufan. Mengerti?"
" Ya, mengerti. Kalau bisa aku bisa bantu kamu," ucap Yaya menawarkan.
" HAAII KALIAAANN..." suara teriakan yang Halilintar kenal betul. Dia hafal siapa yang berteriak di depan kelasnya tanpa melihat orang itu. Dia yang berteriak tidak jelas dan tidak tahu malu tak lain dan tak bukan adalah saudara kembarnya. Taufan.
" Hmm, dia lagi yang datang," gumam Halilintar sambil menarik turun topinya.
" Oh, jadi dia yang namanya Taufan. Dia agak sedikit eemm..."
Tanpa dilanjutkan perkataan Yaya pun Halilintar tahu apa yang dipikirkannya tentang Taufan.
oooOooo
Taufan pov
Aku tersenyum lebar ke penjuru kelas 8A. Yah, walaupun hanya beberapa orang berada di kelas ini. " HAAII KALIAAANN..." sapaku menggema ke seluruh isi kelas yang kukunjungi.
Aku melihat bangku orang yang kucari kosong. 'Dia pergi kemana, ya?' Tanyaku dalam hati.
Pandanganku beralih ke tempat duduk Halilintar. Eh? Ada seorang gadis di sampingnya. Cukup manis tapi lebih manis Ying dari pada dia.
Aku menghampiri mereka dan duduk di bangku depan Halilintar. Kuamati sebentar gadis berhijab di samping Halilintar, aku tidak pernah melihatnya." Hai! Kamu siapa? Pacarnya Hali ya?" Tanyaku menebak karena mereka berdua tampak dekat.
Halilintar dan gadis berhijab itupun berbarengan melotot ke arahku. " Apa? Aku salah?" Tanyaku sambil menunjukan tampang polosku. (O_o)
Saudaraku itu mendesah, " Ya, benar-benar salah. Dia Yaya, murid baru. Dia duduk sama aku karena di sebelahku kosong. Dan kita cuma teman, kuulangi lagi cuma TE-MAN. Puas?"
Aku mengangkat sebelah alisku lalu menarik Halilintar mendekat ke arahku. Kutempelkan telapak tanganku telinga Halilintar dan mulai membisikkan sesuatu. " Kalau suka bilang aja dari pada nanti diambil orang, ntar sakit loh. Aku ga akan tertipu sama omonganmu. Aku saudaramu jadi tau betul dari sorotan matamu kalau kamu menyukai Yaya," bisikku sepelan mungkin agar Yaya tidak mendengarnya.
" Hei kalian bisik-bisik apa sih?" Tanya Yaya penasaran dan mendekatkan diri ke kami.
Aku segera menyudahi acara bisik-bisik kami dan kembali ke tempat semula. Kulihat ekspresi wajah saudaraku, tampak tidak percaya karena analisisku benar. Dan aku hanya tersenyum lebar. Sedangkan Yaya cemberut dengan tangan terlipat di depan dada.
" Hehehe, tidak ada apa-apa kok. Oh ya, tadi aku ke sini mau tanya Ying kemana ya?" Aku menyampaikan tujuanku.
Halilintar maupun Yaya tidak segera menjawab. Mereka berdua hanya saling pandang seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku menatap lekat Halilintar dan Yaya bergantian. " Ying kemana?" Tanyaku sekali lagi pada dua orang di depanku.
" Ying? Dia tadi ke.." Yaya mulai menjawab tapi kemudian terhenti dan menyikut lengan Halilintar.
" Ga tau dia kemana. Mungkin ke kantin," Halilintar meneruskan ucapan Yaya.
" Oh, begitu. Ya sudah aku ke kantin dulu, bye, " ujarku sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauh dari mereka.
Setelah keluar kelas 8A, aku melihat jam tanganku. " Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum bel masuk, aku harus cepat ke kantin nih. Nanti udah ada yang ngajak Ying jadi pasangan lagi, nggak! ngga bisa!" Selama perjalanan menuju kantin, aku bergumam sendiri.
" Mana? Kata Hali Ying ada di kantin, kok ga ada?" kataku lemah. Saat aku tiba di kantin, aku perhatikan satu per satu wajah penghuni kantin.
Dengan malas aku pergi dari kantin karena orang yang ku cari tidak kutemukan. Aku berbelok ke koridor menuju ruang kelas 8C dan melewati ruang musik. Terdengar suara merdu seseorang sedang bernyanyi diiringi gitar.
Aku membuka sedikit pintu ruang tersebut. ' Ying!' Ternyata dia di sini. Suaranya merdu sekali menyanyikan lagu 'some one like you'.
Dan yang mengiringi bermain gitar. Tapi duduk membelakangi pintu masuk jadi yang terlihat hanya punggungnya saja. Tapi aku merasa familiar dengan ciri fisik si pemain gitar itu.
' Siapa ya? Tinggi dan rambut coklat?' Batinku mencoba menebak pengiring lagu yang dinyayikan Ying. Sungguh beruntung sekali dia bisa berdua dengan Ying. Atau jangan-jangan dia sudah mengajak Ying ke prom?
Lanjut?
Haaaaiii... *melambaikantangan lemah ﹋o﹋
Otakku terkuras oleh pelajaran jadi alur ceritanya menjadi aneh deh, hiks... maaf ya jadi curcol.. -_-''
Saya sudah tidak bisa berkata kata lagi akibat ke tidak jelasan cerita ini..
Jadi REVIEW pleaseee... ^^~
