Hai, semuaaa...
Hari ini saya sempatkan membuat dan mengupdate ch.7 dan akhirnya selesai, yee...
Benar-benar hiatus seminggu, ya, padahal saya kira nanti ada sedikit sela waktu untuk membuat next ch. ternyata ga bisa, hehe..
Okeh, waktunya balas review..
Guest : hmm, soal permintaan kamu , saya sulit dipertimbangkan, karena Taufan cinta banget sama Ying jadi kaya' nya ga mungkin dia sama cewek lain, kan kan kan? Hehe, maaf ya..
Nurhalimah : ide bagus untuk nambah Hali x Yaya, baiklah terimakasih atas saran idenya ^^~
Onozuka mikado : wow kamu review nya banyak banget, saya berterimakasih loh. okeh, sebenernya FF ini fokus ke kisah cinta segitiganya Taufan dan Gempa yang minta bantuan ke Hali, eh si Hali malah kepincut sama anak baru, Yaya. Hehehe, tunggu sabarnya keputusan Ying, nasib si kembar 3 dan acara prom nite nya masih disimpan di ch. selanjutnya (kok lama banget siii, huft), maaf ya..
Arina nee-chan : Taufan memang tau perasaan si Hali ke Yaya pake sok bijak lagi ˍ#dijitak Taufan
Aiko Chiharu : maaf ga bisa update kilat loh, ga janji ^^~)v
Okeh selesai balas review nya...
Ini dia Chapter 7, HAPPY READING..
.
.
.
Disclaimer : Monsta studio
Warning. No power, romance, Banyak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas alurnya dll
.
.
.
.
Chapter 7. Kenyataan
Gempa pov
'Tap..
Langkahku terhenti tepat di depan pintu masuk ruang musik, dimana seperti Halilintar memberitahuku keberadaan gadis manis yang kucintai. Ku ulurkan tanganku pada kenop pintu lalu mendorongnya.
Ruangan itu terbuka. Nampaklah sebuah ruangan besar atau lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai aula musik. Di ruangan ini sering digunakan untuk pentas seni, audisi musik, ruang kesenian dan tempat dimana akan diadakan Prom Nite Ektrakulikuler lusa.
Aku mulai memasuki ruang itu. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan yang sangat luas dan kosong ini mencari sesosok gadis China berkacamata dengan rambut hitam pendek dikuncir dua. Aku menutup kembali pintu masuknya karena ruangan ini ber-AC jadi tidak diperbolehkan terbuka terlalu lama.
'Klek..
Terdengar suara pintu seperti ditutup dari sudut belokan yang ada di ruangan ini. Mungkin itu Ying. Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke sebuah belokkan ruangan itu.
" Ying?" Panggilku lirih sambil sesekali menilik ke tiap sudut ruang ini.
" Eh? Ada orang?" Suara nyaring khas gadis yang kusukai terdengar dari tempat yang akan kutuju. Kemudian Ying, gadis China yang kumaksud-muncul dari suatu ruangan kecil yang digunakan untuk menyimpan peralatan musik.
Kuhentikan langkahku setelah kulihat wajah oriental Ying berada di depanku. " Hai," aku menyapanya ramah dan tak lupa dengan tersenyum.
Ying berdiri beberapa meter di depanku dengan kedua tangannya merangkul sebuah gitar akustik yang cukup besar untuknya. " Eh, eemm.. Gempa, ya?"
Aku tersenyum padanya. " Iya, kamu mau ngapain kok bawa gitar?" Tanyaku yang segera menghampirinya dan membantunya membawa gitar itu. " Memang kamu bisa main gitar?"
Wajah lugu Ying tampak ragu menggelengkan kepalanya. " Sebenarnya sih sedikit bisa, karena itu aku sering ke ruang musik buat pinjam gitar," jelasnya yang membuatku mengerti mengapa dia jarang berada di kelas atau kantin saat istirahat berlangsung.
Aku mengangguk paham, " Gimana kalau aku main gitar trus kamu yang nyanyi? Mau?" Usulku pada Ying, berharap dia akan menyetujuinya.
" Hmm, oke deh. Tapi aku kurang bisa nyanyi. Suara aku fals," ujarnya sambil memainkan rambutnya yang dikuncir itu. " Kalau suara aku jelek jangan ketawa, ya," ujarnya merendahkan diri.
Aku tertawa mendengar pengakuannya itu. ' Mana mungkin aku ketawa mendengar perempuan yang aku suka nyayi dan cuma buat aku tentunya, kan ga ada orang lain lagi di sini. Ying, andai kamu tau aku suka eh bukan aku mencintai kamu.'
Kemudian Ying mengambil sebuah kursi tanpa sandaran untukku duduk sambil memainkan gitar coklat yang sedang ku dekap. Aku melepas topiku dan kuletakkan di samping tempat dudukku. Ku biarkan udara sejuk AC menembus helaian rambut coklatku.
" Mau lagu apa?" Tanya Ying yang berdiri di sampingku menatap gitar yang kupetik asal.
Aku lirik dia sekilas. " Someone like you?" Ujarku dengan menunduk menatap senar gitar. Aku tak menyadari mengapa aku mengusulkan judul lagu yang menurutku artinya sangat menyedihkan.
" Oke! Siap?" Ying menyetujuinya kemudian dia berdiri tegak dengan kedua tangannya ke belakang.
Lalu, aku pun mulai memetik senar-senar gitar tersebut, hingga menghasilkan alunan musik yg enak didengar. Aku memulai intro lagu hingga selesai kemudian suara Ying menyelaraskan nada gitar yang kumainkan.
Aku terhenyak mendengar suaranya yang jauh dari kata fals seperti yang ia katakan. Dia sangat merendah diri tidak mau menunjukkan kelebihannya. Kini aku menemukan sifat lain Ying yang tidak dimiliki gadis lain. Ini membuat diriku ingin memilikinya.
Aku mengiringi lagu yang dinyanyikan indah oleh Ying, mataku pun terpejam menikmati suara-suara yang menggema memenuhi seluruh pikiranku. Lantunan lagu Someone Like You dinyanyikan dengan sempurna.
''Nevermind, I'll find someone like you,
I wish nothing but the best for you, too,
Don't forget me,
I beg,
I remember you said,
Sometimes it lasts in love,
But sometimes it hurts instead,
Nothing compares,
No worries or cares,
Regrets and mistakes,
they're memories made,
Who would have known how bittersweet this would
taste?
Nevermind, I'll find someone like you,
I wish nothing but the best for you,
Don't forget me, I beg,
I remember you said,
Sometimes it lasts in love,
But sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in love,
But sometimes it hurts instead...''
Ying selesai bernyayi dan aku pun menghentikan permainan gitarku. Aku memandang wajah Ying yang bersemu merah. Aku tersenyum melihatnya, " Suara kamu bagus Ying, kenapa kamu bilang suara kamu fals?" Pujiku.
Yang dipuji hanya tersipu malu sambil membenarkam letak kacamatanya. " Trimakasih kalau kamu bilang begitu. Aku hanya malu menunjukkannya," kata Ying.
Aku tersenyum kemudian berdiri dan meletakkan gitar akustik berwarna coklat tua itu di atas kursi yang tadi kududuki. Aku mendekati Ying yang sedang memainkan ujung baju seragamnya.
" Ying, aku..."
" TAUFAN! Dipanggil Hali tuh! Katanya suruh cepat kesana!" Suara seseorang dari luar ruangan yang memanggil nama Taufan membuatku terhenti bicara.
" Iya, sebentar dulu," disusul suara yang sangat familiar di telingaku. Itu suara Taufan dari balik pintu yang kulihat terlihat sedikit terbuka.
' Taufan mau ngapain di situ? mengintip segala,' batinku bertanya-tanya. Aku berpaling menatap arah pintu masuk dan menghampiri orang yang berada di balik pintu.
Saat pintu terbuka, aku melihat Taufan sudah berlari menjauh menuju kelas Hali. ' Mau apa dia mengintip aku? Jangan jangan Taufan mau cari tau siapa yang nanti aku ajak ke prom, trus dia meledek aku deh. Awas saja kalau dia berani meledek Ying, akan ku ambil lagi setelan jas yang dia pinjam.'
Aku menghela napas dan berbalik menutup kembali pintu ruang musik. Aku menghampiri Ying yang sedang mencoba memainkan sebuah nada lagu dengan gitar walaupun hanya sampai intro-nya saja.
Ying menghentikkan aktivitas jari-jarinya kemudian melihatku mendekat. " Kenapa?" Tanya Ying singkat.
Aku menggeleng, " Tidak, bukan apa-apa."
" Oh, ya, tadi kamu mau bilang apa?"
" Oh itu, aku mau tanya apa kamu udah punya janji sama orang lain buat pergi ke prom?" Tanyaku dengan penuh harap bahwa Ying belum punya janji pergi dengan siapapun.
Wajahnya menampilkan ekspresi bingung melihatku kemudian menjawab, " Kenapa kok nanya begitu?" Tanya Ying santai seperti tidak ada perasaan apapun padaku.
" Itu.. aku.. mau tidak kamu pergi bersamaku?" Tanyaku ragu sambil menggaruk pipi kananku yang tidak gatal. " Bagaimana? Mau ngga? "
" Eemh, bukannya tidak mau tapi aku akan berangkat sama Yaya. Maaf ya," ujarnya lirih. Ying benar-benar tidak peka. Padahal kan jika seorang laki-laki mengajak sang gadis pergi ke pesta bersama berarti laki-laki itu menyukainya. Mengapa dia terlihat biasa saja.
Rasa kecewa Ying menolakku untuk kuajak pergi. " Oh, jadi begitu ya. Tidak apa kok, aku balik ke kelas dulu ya," ujarku lirih. Kepalaku tertunduk lesu. Aku memutar badan dan berjalan menuju pintu.
Saat ku buka pintu, ku rasakan aura panas dari luar bercampur udara dingin dari AC dalam ruangan, menerpa kulitku. Aku memutar kepalaku menoleh ke arah Ying dengan wajah bersalahnya melihatku pergi. Aku tersenyum padanya. Kurasa Ying terlalu polos. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya saat aku meng-SMS dia.
" Ying?" Panggilku pada gadis berwajah oriental yang tertunduk itu lalu memandangku.
" Ayo, aku antar ke kelas." Tanganku melambai-lambai untuk bergerak ke arahku.
Wajah murungnya berubah ceria lalu berlari kecil mendekatiku. " Baiklah. Kupikir kamu marah sama aku."
' Mana tega aku marah sama kamu Ying. Kamu adalah belahan jiwaku, melihatmu sedih sama saja merasakan sebelah jiwaku mati.'
Aku tersenyum hangat padanya. " Ayo." Kugenggam tangan kirinya lalu menariknya perlahan. Kurasakan langkahnya tertahan akibat tangannya ku genggam. Tapi Ying akhirnya mau kugandeng di sampingku.
" Ying? Waktu aku meng-SMS kamu, apa yang kamu rasakan?"
Ying terdiam, berpikir. " Aku tidak tahu. Tapi aku merasa senang waktu kamu SMS aku,"
Aku tersenyum senang saat Ying berkata seperti itu. Hampir saja aku meremukkan telapak tangan gadis sebelahku karena terlalu senang.
" Aku senang ada temanku yang meng-SMS aku, jadi disaat aku lagi badmood, ada kamu deh yang hibur aku, trimakasih ya Gempa. Kamu teman yang paling baik,"
Tiba-tiba dia berkata seperti itu yang meruntuhkan bunga-bunga yang sedang mekar di hatiku. Mendengar kata 'TEMAN' dari gadis yang kucintai membuatku bagai tersengat petir. Tanganku lemas melepaskan genggaman tangan Ying.
" Loh? Kenapa Gempa?"
Aku tersenyum kecut menatapnya, " T-tidak apa-apa, cuma telapak tangan aku kesemutan, hehe," ujarku sambil pura-pura menggaruk tangan kananku.
Ying manggut-manggut dengan bibir membentuk huruf 'o'. Dia sangat imut, tapi sangat tidak peka karena saking polosnya. Aku menghela nafas berat saat mengetahui sebuah kenyataan pahit yang baru saja kuterima.
" Gempa, aku duluan ya. Udah sampai kelas nih, trimakasih,"
Aku berhenti melangkah dan menatap wajah Ying yang berseri itu. Wajahnya sangat menawan sampai aku ikut tersenyum karena melihatnya sangat ceria. ' Ying, andai kamu tau..'
Ying melambaikan tangannya ke arahku lalu berjalan masuk ke dalam kelas.
'TENG TENG TENG TENG..
Bel masuk sudah berbunyi. Siswa siswi segera masuk ruang kelasnya masing-masing dan menyisakan aku yang masih berdiri terpaku di samping kelas 8A. Aku menghela napas lagi. Mencoba lebih tegar menghadapi kepolosan seorang Ying.
Aku mengacak rambutku yang tak tertutup topi. Eh! Topiku masih tertinggal di ruang musik. Pantas saja tadi semua anak memandangku saat berjalan, ternyata rambutku tidak tertutupi apapun. Aku berlari melewati ruang kelasku dan kelas 8C untuk sampai ke ruang musik dengan kedua tanganku menutupi rambutku yang tak terlindung. Bagaimana aku bisa seceroboh ini?
Gempa pov end
oooOooo
Taufan pov
Guru matematika sudah datang ke kelas. Ah, aku bosan dengan guru itu. Memang sih dia guru wanita yang paling lembut, tapi karena terlalu lembut itulah yang membuatku bosan sampai pernah aku tertidur dalam pelajarannya.
Aku yang duduk di paling pinggir jauh dari pintu ruang kelas membuatku bebas menatap pemandangan depan kelas. Aku terpaku menatap ke luar kelas dan tak menghiraukan penjelasan dari Bu Siti, guru matematikaku. Lagipula kalau tidak mengerti aku tinggal minta Gempa untuk mengajariku.
Tiba-tiba seorang siswa berlari ke arah ruang musik melintasi depan kelasku. Siswa yang memiliki persamaan ciri dengan anak yang bermain gitar bersama Ying di ruang musik. Rambut pendek kecoklatan dan tinggi. Tapi wajahnya tertutup karena tangannya mencoba menutupi kepalanya.
Rasa penasaran membuatku ingin tau siapakah pemuda itu? Kelas berapa dia? Dan apakah dia pasangan dansa Ying? Namun niatku tak terlaksana saat aku meminta izin ke kamar mandi untuk alasan, Bu Siti tidak mengizinkanku karena bel baru saja berbunyi. Aarh, sial! Hari ini aku tidak bertemu Ying, sekalinya ketemu Ying bersama anak misterius itu dan sekarang rasa bosanku bertambah dengan pengajaran Bu Siti.
Akhirnya mau tak mau aku harus mengikuti pelajaran matematika hingga selesai. Dan anak misterius itu pasti sudah berada di kelasnya.
' Hari ini benar-benar payah! Aku hanya ingin tau siapa anak itu. Aarg, ini juga gara-gara Hali yang memanggilku hanya untuk menawariku sebuah biskuit buatan teman sebangkunya yang benar-benar rasanya sangat parah. Padahal sedikit lagi wajahnya kelihatan.' Aku meruntuk dalam hati.
" Eh? Gempa? Ngapain dia masih belum masuk kelas?" Ucapku pelan saat kulihat sosok salah satu saudaraku yang memakai topi menghadap belakang sedang berjalan santai menuju kelas sebelah, kelas 8B.
' Tak seperti biasanya dia masih berkeliaran di saat jam masuk, dia kan termasuk murid rajin yang selalu menanti guru yang akan masuk ke kelasnya. Darimana dia?'
' Dari arah jalannya Gempa, dia dari arah kantin, kamar mandi, dan ruang musik. Kalau dari kantin, Gempa tak mungkin dari sana. Kamar mandi? Tak mungkin selama itu? Kalau ruang musik...'
Yaaaahhhhh, beginilah hasilnya..
Saya pengennya langsung ke acara promnya tapi ga nyampe nyampe alurnya muter muter mulu ya? Maafkan atas segala kekurangan cerita saya..
Saya berterimakasih sudah membaca dan mereview fic saya.. ^O^
Ya sudah, untuk saat ini cukup sudah saya bicara. Saya bingung mau ngomong apalagi. Kalo curhat sih saya bisa sepanjang panjangnya, hehe..
Mohon REVIEW nya yaa jika berkenan saya ga maksa kok... #ngacungin piso ke leher reader
