Yuhuuu..
Saya kembali, hehe..
Maaf sekali akhir-akhir ini lama updatenya..
Tapi akhirnya ch.8 ini selesaaaaaiii.. ~^O^~
Nah, pertama saya balas review dulu yau..
Aiko chiharu : hahaha, trimakasih sudah mereview. Tapi maaf yoo piso nya ga mau lepas dari leher aiko.. #ditendangAikosampePulauRintis
T_T
Arina nee-chan : trimakasih sudah mau mereview. Dalam ch.7 belum saatnya untuk ketahuan biar si Taufan penasaran, hehe.. (Taufan : awas kau, ya Thor! #dilempardari ketinggian1Km)
Onozuka mikado : yah bagian Hali pada ch selanjutnya sangat berat loh perannya… hehe, trima kasih sudah mau review..
Nurhalimah : hmmm, maaf ya jalan ceritanya malah jadi gini, hehe habis dalam film aslinya kan Yaya kuat jadi saya buat seperti ini deh, untuk prom next chapter ya, trimakasih sudah mereview ^^~
Onozuka mikado : loh, kamu review dua kali? Hehe, trimakasih loh.. iya untuk puncak next chapter..^^~
Nanas RabbitFox : trimakasih sudah mereview, maaf saya tidak bisa update kilat, huhuu.. T_T saya coba update cepat deh..
Naflah : trimakasih telah mereview ^^~
Well, review sudah dibalas semua..
dalam chapter ini ceritanya tentang action gitu, tapi karena ga biasa jadi ga jelas dan malah kecepetan alurnya. Feel berantem berantemnya jadi ga dapet, maaf yoo.. ╯︿
Ya sudahlah, yang terakhir..
HAPPY READING.. ^^~
.
.
.
Disclaimer : Monsta studio
Warning. No power, romance, Banyak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas alurnya dll
.
.
.
.
Chapter 8. Battle
Bel pulang telah berdentang. Taufan dan seluruh siswa segera berkemas dan berhambur keluar kelasnya. Ia merasa senang dengan suara bel pulang yang selalu ia nanti. Kakinya dengan ringan melangkah menuju ruang kelas 8A. Pikirannya hanya terpusat untuk satu tujuan yaitu menemui Ying. Namun, saat ia melewati depan kelas Gempa, 8B, Taufan merasa ada yang memanggil namanya. Kemudian ia berbalik badan.
" Taufan!" Seorang anak mirip dengannya dengan topi menghadap belakang, berdiri di depan pintu kelas 8B sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk mendekat.
Taufan menghampiri Gempa sambil tertawa tidak jelas. " Ada apa?" Tanya Taufan kemudian.
Gempa memutar matanya melihat tingkah saudaranya yang paling itu. " Aku ada ekskul bola," ujar Gempa.
" Oh, begitu saja? Hmm.." dengus Taufan dengan wajah datar.
" Iya, emang mau apa lagi? Sudah pulang sana! Hus hus.." ujar Gempa dengan tangan dikibaskan
Taufan dengan wajah imut-sedih yang ia buat kemudian berkata, " Gempa gitu sama aku. Gempa ga sayang sama aku, masa aku diusir kaya' ayam gitu."
Gempa menatap wajah aneh saudaranya itu kemudian berlalu menuju lapangan sepak bola tanpa mempedulikan ucapan Taufan yang semakin aneh adanya. Sedangkan Taufan menatap saudaranya yang meninggalkannya lalu menjulurkan lidahnya kemudian melanjutkan pergi ke kelas 8A untuk menemui gadis oriental yang telah mencuri hatinya.
" Loh kok udah kosong?" Tanya Taufan saat mengintip ruang kelas 8A dari jendela yang sudah tidak berpenghuni lagi. " Yah, telat. Ah, Gempa sih tadi ngajak ngobrol, kan Ying jadi udah pulang deh," ujarnya sebal sambil berjalan lesu melewati koridor sekolah menuju gerbang.
Matanya yang tertunduk menjadi tegak kembali saat melihat Halilintar bersama Ying yang berjalan bersama sampai di gerbang.
" Hali! Ying! Tunggu!" Panggil Taufan yang seketika itu juga ia berlari kecil menuju dua orang yang ia panggil.
Yang dipanggil membalikkan badan melihat si pemilik suara lalu diikuti gadis itu, Ying, yang menoleh. Wajah Taufan terlihat cerah saat wajah Ying tampak di matanya. Dengan segera Taufan menghampiri Halilintar dan Ying.
" Hai, kalian!" sapa anak bertopi miring itu dengan tersenyum lebar yang menampakkan deretan gigi rapinya saat telah sampai di samping Halilintar. " Mau pulang bareng, ya," lanjut Taufan.
Halilintar menatap bosan anak di sampingnya yang datang dan terus melirik ke arah Ying. "Gempa mana?" Tanya Halilintar saat tidak melihat keberadaan Gempa di sekitarnya.
" Gempa lagi ada club bola jadi pulang agak telat nanti," jawab Taufan tanpa melihat ke arah Halilintar, namun matanya tertuju pada gadis di samping saudaranya yang sedari tadi memandang lantai dan tak sadar kalau sedang diperhatikan.
Taufan sedikit merendahkan kepalanya dan melihat ke arah Ying. " Hai, Ying!" Sapa Taufan dengan wajah cerianya pada gadis berkacamata bulat di samping Halilintar.
Ying tersenyum melihat Taufan, " Hai juga."
Halilintar memutar matanya kemudian menghela nafas. Ia berharap ia dapat mencari alasan agar pergi dari hadapan Taufan yang mulai menggeser tubuhnya menjadi di tengah antara Halilintar dan Ying. Lalu dalam sekejap perhatian Taufan hanya terarah pada Ying dan tanpa disadari oleh mereka berdua telah meninggalkan Halilintar yang masih berada di depan gerbang.
Halilintar hanya menatap tajam ke arah Taufan yang asyik dengan gadis pujaannya dan terus berjalan meninggalkannya. " Dasar! Tadi dia bilang mau pulang bareng, sekarang aku yang ditinggal. Menyebalkan!"
Lalu, Halilintar sembari menggerutu, ia berjalan menyusul Taufan dan Ying yang telah berbelok di suatu tikungan.
Saat akan berbelok, Halilintar mengingat bahwa ia ingin membeli buku rumus kimia di toko buku. Lalu ia melangkah berlawanan arah dengan arah rumahnya. Ia memasuki gang kecil dan sepi sebagai jalan pintas menuju toko buku yang ia tuju.
Ketika Halilintar sedang berjalan di gang sepi tersebut, ia mendengar suara keributan kemudian disusul suara pria yang terkekeh. Rasa ingin tau Halilintar membawanya untuk melangkah lebih cepat menuju sumber suara itu.
Tubuhnya menegang, matanya membulat saat pemuda bertopi itu sampai di tempat. Seorang gadis menggunakan seragam SMP yang sama dengannya sedang terkena pukulan tepat di telak gadis itu. Kemudian gadis yang berkerudung itu mundur beberapa langkah.
Seorang gadis berkerudung berkelahi dengan dua orang pria yang bertubuh kekar. Tidak seimbang memang, oleh karena itu terlihat baju seragam gadis yang membelakangi Halilintar itu sangat lusuh dan kotor.
Salah seorang pria bertubuh kekar dengan wajah layaknya preman melihat Halilintar yang sedang berdiri memperhatikan mereka. Kemudian dengan menyeringai pria itu memanggilnya.
" Hei, bocah! Sedang apa kamu di situ? Hah?! Mau melawan kita juga?" Ujar pria yang wajahnya terdapat bekas luka benda tajam di bagian dagu dan berambut panjang dikuncir kuda ke belakang.
Teguran dari pria berkuncir sontak membuat pria satunya lagi bertubuh tinggi dan berkulit hitam yang menambah kegarangan wajahnya diikuti gadis berhijab itu menoleh ke arah belakang. Gadis itu terbelalak saat melihat pemuda bertopi yang berdiri di belakangnya itu sudah tak asing lagi baginya.
" Hah?! Hali?!" Suara lembut meluncur dari seorang gadis sedang mengusap dagunya yang terkena pukulan dari salah satu preman di depannya. " Sedang apa kamu?"
Tak kalah terkejutnya Halilintar saat gadis yang melawan dua pria itu menampakkan wajahnya yang ternyata adalah Yaya, teman sebangkunya sekaligus gadis yang membuat jantungnya selalu berulah. Halilintar merasa tak percaya dan kagum melihat gadis yang ia cintai mampu berkelahi guna melindungi diri sendiri. Namun, ia juga merasa marah pada dua orang pria itu berani menyentuh gadisnya.
Halilintar sudah mengurungkan niatnya untuk pergi ke toko buku dan menolong Yaya dari dua pria garang di hadapannya. Lalu ia menunjuk kedua preman itu dengan tajam," Kalian jangan coba-coba menyentuh gadis ini lagi! Atau akan kupatahkan tangan kalian!" Ancamnya yang tidak peduli dengan ucapan Yaya.
" Hahaha… ooh, jadi dia pacarmu ya? Manis juga dia, tapi kelakuannya tidak semanis wajahnya," pria bertubuh hitam itu angkat bicara dengan tangan terlipat di depan dada.
Pria berkuncir itu menyeringai kembali, " Gadis itu sudah melawan kami dengan tidak membayar pajak untuk melewati gang ini, gang ini adalah kekuasaan kami jadi siapapun yang melewati gang ini harus membayar."
" Aku tidak akan mau kalian tindas! Jangan pernah menganggap wanita itu lemah! Jadi aku akan melawan kalian yang bertindak senaknya. Memangya untuk apa aku membayar? Gang ini kan untuk umum, memangnya kalian yang membangun jalan ini?" Ujar Yaya yang menahan amarah dan bersiap dengan kuda-kuda untuk menyerang.
Halilintar yang melihat Yaya yang berapi-api, lalu melepas tas punggungnya dan maju beberapa langkah sampai berada di samping Yaya, " Tunggu Yaya! Kali ini biar aku yang hadapi," ujarnya dengan merentangkan tangan kirinya untuk melindungi Yaya.
" Hahaha… mau jadi pahlawan kesiangan, ya? Itu ga mungkin terjadi. Kalian masih bocah mana mungkin menang melawan kita, ya ngga? Hahaha.." Ujar pria bertubuh hitam itu merendahkan Halilintar.
Kemudian kedua preman itu tertawa terbahak dan tidak melihat Halilintar sudah meluncurkan serangan. Sebuah tinju melayang dan tepat mengenai pipi pria bertubuh hitam itu.
" Jangan pernah meremehkanku!" Kata Halilintar yang tetap mengepalkan tangan kanannya di depan dada.
" Cih! Dasar bocah ingusan! Akan kuberi pelajaran kau! Hyaaa.." Pria berkuncir itu membalas serangan Halilintar yang tak terima perlakuan Halilintar pada temannya. Tangan pria itu terkepal dan mengarah ke wajah Halilintar. Namun Halilintar dengan cepat memiringkan tubuhnya mengelak serangan yang dilancarkan pria berkuncir itu.
Kemudian pria yang berkulit hitam itu melompat menuju Halilintar bersamaan dengan pria berkuncir yang menyerang dengan tendangan. Halilintar melihat pergerakan kedua pria yang bergerak cepat mendekatinya. Ia mundur beberapa langkah berusaha menghindarinya, namun waktunya tidak tepat. Halilintar berhasil menghindar dari tendangan pria berkuncir itu namun dari arah kanan pria berkulit hitam itu berhasil memukul pipi kanan Halilintar.
'Duakh..
Pukulan lumayan keras mendarat di pipi kanan Halilintar. Rasa nyeri menjalar ke kepalanya dan membuatnya ambruk ke tanah.
Rasa asin memenuhi sekitar mulutnya yang terkena pukulan. " Ukh, sial, preman ini sangat kuat," gumamnya sembari mengusap cairan merah yang mengalir di ujung bibirnya. Matanya menatap tajam ke kedua pria di depannya.
Halilintar terkejut saat sebuah rangkulan erat di lengan kanannya. Ia menoleh ke kanan, dilihatnya Yaya memegang lengannya erat.
" Hali ga apa-apa? Aku akan membantu untuk melawan mereka. Ayo hadapi bersama. Mereka sangat kuat," ujarnya lirih. Tampak wajah panik dan cemas dari gadis berhijab putih itu saat melihat Halilintar.
Halilintar tersenyum sinis kemudian mencoba untuk berdiri kembali dengan dibantu Yaya. " Tak usah! Aku bisa menghabisi mereka. Ini hanya luka kecil."
" Ta-tapi…"
" Sudahlah kamu berdiri tenang di situ saja, Yaya. Apakah itu sulit untukmu?!"
Akhirnya Yaya hanya dapat melihat pemuda bertopi itu bertarung dengan kedua pria atau lebih tepatnya disebut preman itu. Ingin sekali ia membantu pemuda itu, tapi pemuda itu pasti akan memarahinya lagi.
Dilihatnya Halilintar mampu menghindar dari semua serangan dari pria itu. Mulai dari pukulan, tinju, tendangan bahkan terkaman dapat ia tangkis dengan mudah. Namun adakalanya juga Halilintar terkena pukulan.
Saat pria berkuncir itu lengah, Halilintar menangkap lengannya dan menariknya hingga tubuh pria itu membungkuk kemudian Halilintar menyerangnya dengan menghentakkan lututnya di bagian perut. Tubuh pria yang dua kali lebih besar darinya itu ditegakkan kembali dan bersiap mengepalkan tangan kanannya untuk meninju pipi pria di depannya.
Belum sempat Halilintar menyerang, sebuah hantaman kasar dari pria berkulit hitam tepat mengenai punggungnya. Hantaman keras berhasil membuatnya melepaskan cengkeraman dari kerah pria berkuncir itu kemudian Halilintar mundur beberapa langkah dan topinya terjatuh, namun ia tak ada niat untuk mengambilnya. Tampak pria berkulit hitam itu menyeringai karena Halilintar menerima serangannya.
Pria berkuncir itu mengendap-endap mencoba menyerang kembali pemuda bertopi itu, namun..
'Buk..
"Keparat ini bocah!" Jerit pria berkuncir yang bibirnya berdarah setelah terkena tendangan di perut dari seorang gadis berhijab.
Pria berkuncir itu menendang ke arah Yaya namun kakinya tiba-tiba terasa nyeri luar biasa karena lebih dulu terhantam tendangan lawan. Tanpa bisa dielakkan lagi, tubuhnya terjelembab ke tanah empuk.
Halilintar istirahat sejenak kemudian menatap Yaya yang berada di sampingnya agar tidak ikut campur untuk melawan atau mencoba menolongnya.
" Biarkan aku membantumu melawan orang ini," tolak gadis manis berhijab yang kini menjadi gadis kuat, dengan tegas.
Sepertinya Halilintar tak tampak untuk mencoba menghalangi Yaya untuk membantunya. Dan kembali bersiap dengan kuda-kudanya.
Lalu preman berkulit hitam mengambil kayu di dekatnya, kemudian hendak memukul si pemuda. Tapi lagi-lagi meleset, pemuda tersebut berhasil menangkis dengan tangannya kanannya dan memegang kayu tersebut. Dengan kekuatannya pemuda tersebut menarik preman berkulit hitam. Ia berhasil memegang tangan si preman dan membantingnya dengan bantingan judo. Si preman jatuh menghantam tanah dengan keras. Halilintar berhasil mengalahkan preman berkulit hitam itu hingga tak mampu berdiri lagi.
Beralih pada Yaya yang sedang menangkis serangan pria berkuncir itu. Tentu saja dengan tenaganya sebagai seorang gadis ditambah pakaiannya yang membuat gadis berhijab itu cukup kesulitan untuk melawan preman di depannya. Kemudian preman itu mengambil sebuah batu dan mendekat menyerang Yaya. Namun gadis itu tak sempat menghindar dan menyilangkan tangannya menutupi wajahnya.
Yaya merasa serangan pria itu tak sampai mengenainya. Dengan perlahan Yaya menurunkan kedua tangannya untuk melihat apa yang terjadi.
'Tes..
Setetes benda basah dan hangat mengenai telapak tangannya. Mata coklat gadis itu membulat sempurna saat bertemu dengan wajah pemuda bertopi di hadapannya. Pemuda itu melindunginya dari serangan preman berkuncir itu yang membawa batu. Kemudian dengan cepat Yaya tersadar dan mengambil kesempatan memukul preman berkuncir itu tepat di ulu hati. Dan pria itu ambruk tak berdaya.
Yaya tersenyum melihat dua preman di depannya terkapar lemah. " Jangan coba-coba meminta uang pajak lagi! Atau tidak kami akan menghajar kalian lagi!" Ancam Yaya tegas.
" Cepat pergi dan jangan kembali lagi!" Lanjut Halilintar sambil membentak kasar. Kemudian kedua preman itu bangun dan dengan susah payah mereka berjalan menjauhi kedua anak SMP yang berhasil mengalahkannya.
Setelah kedua preman itu pergi, Halilintar menatap gadis berhijab di sampingnya yang nafasnya tersengal-sengal. Di hampiriya gadis itu, " Kamu ga apa, Yaya?" Tanya Halilintar cemas.
Gadis itu menghadap pemuda bertopi itu kemudian melihat wajah Halilintar di bagian pelipisnya mengeluarkan banyak darah, " Hali, kamu harus segera diobati!" ujar Yaya panik.
" Yaya, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Halilintar lagi karena pertanyaan sebelumnya tidak dihiraukan Yaya.
Yaya meringis melihat cairan merah yang mengalir di pipi Halilintar. " Darah kamu banyak sekali yang keluar! Ayo sini aku obati!" Ujar Yaya sembari menarik tangan Halilintar mendekat menuju tas yang tergeletak di samping pohon.
" Yaya, apa kamu baik-baik saja?" Untuk ketiga kalinya Halilintar bertanya pada gadis yang menarik tangannya dan lagi-lagi tak ada jawaban yang tepat.
" Lukamu harus segera diobati."
Dengan cepat Yaya mengobrak-abrik seluruh isi tasnya mencari sesuatu. Dari tangannya mengambil kotak kecil bertuliskan P3K dari dalan tas kemudian membukanya dan mengambil kapas, obat merah, perban dan plester.
Halilintar menghela napas, bersabar karena sudah tiga kali ia bertanya keadaan Yaya namun gadis itu tidak meresponnya. Pada akhirnya pemuda itu memilih untuk diam. Kemudian duduk bersila di dekat pohon.
Yaya mulai membersihkan luka Halilintar dan darah yang mengalir hingga sedikit menetes ke baju seragam putih milik Halilintar. Dengan cekatan gadis itu membalut luka di pelipis Halilintar dengan perban dan plester.
" Sudah selesai!" Ujar Yaya sambil bertepuk tangan pelan.
Halilintar mengusap lukanya yang telah diperban, kemudian memandang gadis manis di hadapannya. " Trima kasih. Mengapa kamu bawa kotak P3K di tasmu?"
Gadis itu tersenyum lembut pada Halilintar kemudian tertawa pelan. " Sama-sama. Aku selalu membawa kotak P3K ini untuk mengobati lukaku saat aku berkelahi," jawabnya dengan memandang Halilintar. " Oh, ya. Kamu sedang apa di sini?
Pandangan gadis di depannya membuat yang terkenal dingin itu menjadi bertambah jatuh cinta pada gadis itu.
" Aku tadi hanya kebetulan lewat di gang ini jadi pemuda aku melihatmu berkelahi dengan dua preman itu. Kamu hebat Yaya." Halilintar mengusap kepala Yaya yang terbalut jilbab putih.
" Ah, tidak. Biasa saja. Aku mengikuti club bela diri saat SD, itu sudah lama sekali jadi aku sering terkena serangan," ucap Yaya sambil mengusap dagunya yang memerah.
Halilintar memandang sendu luka itu kemudian tanpa sadar tangannya terulur dan mengelus lembut luka memerah di dagu gadis pujaannya. " Yaya, kamu sangat baik dan pandai dalam segala hal," pujinya.
Yang dipuji hanya tersipu malu ditambah pemuda tampan di hadapannya memandangnya lekat, maka makin merahlah wajah manisnya.
" Yaya, maukah kamu pergi ke Prom Nite Ekskul bersamaku?"
Dahi Yaya berkerut mendengar ucapan Halilintar kemudian memalingkan wajahnya sehingga usapan lembut Halilintar terlepas. " Tapi kan aku belum masuk club ekskul manapun. Memangnya boleh?"
Halilintar diam sebentar, " Tentu saja. Jika ada yang melarang, aku akan membantingnya hingga tulangnya remuk. Bagaimana?"
Yaya tertawa kemudian diikuti anggukkan pelan, " Ya tentu boleh kalau begitu. Sebagai ucapan terima kasihku padamu karena telah menolongku, aku akan ikut denganmu."
oooOooo
'Maaf, ya. Rencananya aku akan pergi dengan Yaya, jadi kita bertemu di sana saja.'
Kata-kata itu masih terngiang di telinganya. Pemuda bertopi miring itu melepas topi dinosaurusnya kemudian meletakkannya di atas meja belajarnya. Dia mengacak rambutnya, pusing memikirkan ajakkannya pada Ying untuk pergi bersama ke Prom Nite saat perjalanan pulang sekolah tadi siang.
Lalu pemuda itu, Taufan membantingkan tubuhnya di atas kasurnya dan memejamkan matanya mengingat sosok pemuda yang berada di ruang musik saat istirahat bersama Ying. 'Apa anak misterius itu sudah mengajak Ying untuk pergi ke Prom, jadi dia menolakku dengan alasan Ying akan pergi bersama Yaya?'
" Aargh, Yiinngg... kamu membuatku gila memikirkanmu!"
Beralih di ruang tamu, Gempa sedang menonton tv. Perhatiannya teralihkan saat melihat pintu depan terbuka dan tampak sosok pemuda dengan wajah mirip dengannya, namun keadaannya sangat buruk. Terlihat pelipis kiri diperban, bercak dan tetesan darah di bagian lengan dan kerah baju seragam menandakan bahwa pemuda itu, Halilintar, sudah pasti usai berkelahi.
Pemandangan seperti itu sudah biasa dilihat oleh Gempa maupun anggota keluarga lainnya. Namun sebagai keluarga pasti ada perasaan cemas dan khawatir terhadap keadaan Halilintar yang sesalu berujung luka di sekujur tubuh usai menghajar orang.
Gempa menatap tajam ke arah saudaranya, Halilintar, yang sedang menaruh tas punggungnya. " Barantem lagi? Sama siapa kali ini?" Tanya Gempa sembari melipat tangan di depan dada saat melihat luka pada wajah Halilintar.
Halilintar mendengus mendengar pertanyaan saudaranya itu. " Mambantu Yaya melawan dua preman," ujarnya sambil duduk di lantai membelakangi Gempa dan mulai membuka ikatan tali sepatunya.
Pemuda bertopi terbalik itu menautkan kedua alisnya. " Apa maksudnya 'membantu Yaya'? Apa itu berarti dia ikut berkelahi?" Tanya nya sembari meluruskan tangan.
" Yaya pintar bela diri. Dia melawan dua preman sendirian. Dia.. dia sangat hebat," ujar Halilintar dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya dan tentu saja ia sembunyikan dari saudaranya.
Gempa merasakan bahwa saudaranya yang super dingin dan datar itu sedang jatuh cinta pada Yaya. Terlihat dari caranya menceritakan gadis berhijab itu dengan sangat bersemangat membuat Halilintar menjadi tidak seperti sifat aslinya. Halilintar jarang sekali memuji orang bahkan ia pernah mengatakan kalau berbicara dengan orang lain sangat melelahkan dan membuang energi. Dan sekarang sifat dinginnya akan berubah lembut jika bicara berkaitan dengan sosok gadis bernama Yaya.
Gempa tersenyum memandang punggung saudaranya. Ia merasa dapat melihat sisi hangat dari seorang Halilintar. " Kamu menyukainya," kata Gempa singkat pada Halilintar yang akan berjalan menuju kamarnya.
Halilintar tak tahu harus berkata apa pada sudaranya itu. Sekarang ia tak dapat menutupi perasaannya pada Yaya. Bahkan Taufan tidak butuh waktu lama bisa menebak keadaan hatinya terhadap Yaya. Kini kedua saudaranya mengetahui perasaannya.
Halilintar menatap Gempa yang sedang tersenyum senang padanya dan ia untuk pertama kalinya membalas senyuman dari orang lain. Kemudian tanpa berkata lagi Halilintar mengelos pergi sambil menarik topinya ke bawah.
Next?
Huaaaaa..
Kok jadi aneh ya..
Udah updatenya lama dan ceritanya jadi aneh ga dapet feelnya. Saya ga pandai membuat cerita action malah jadi begini deh.. ~_~
Duuhh.. saya benar benar minta maaf ya malah membuat battle begini bukannya pairing Hali x Yaya.. #bungkuk-bungkuk
Baiklah untuk ch selanjunya tentang prom nite nya, yeeee... #niupterompet
Saya mengucapkan trimakasih atas review, saran, kritik, memfavorite, memfollow dan lainnya..
