The Adventure From Comics
Cast: Super Junior Member
Rate: T
Genre: Friendship, Adventure, Fantasy
Petualangan bisa datang dari mana saja bukan? Salah satunya ini...
Chapter 3: Approval be The Characters Comic
Enjoys
Waktu masih terhenti. Kyuhyun terbelalak melihat subjek di depan matanya.
"Su-sungmin hyung! Siwon hyung?" Kyuhyun terbata.
"Kyuhyun-ah?! Kibum?! Yesung hyung?" Sungmin mundur selangkah (refleks terkejut)
"Sungmin? Henry-ah?" Yesung yang asalnya menyipit menjadi membulat.
"Haa? Yesung hyung?! Zhoumi-ge?" Henry menunjuk dua orang yang ia kenal dengan gaya dramatis.
"Henry? Kenapa kau disini?" Itu Zhoumi, tetap stay cool.
"Kyuhyun?" Siwon sama seperti Zhoumi.
Sesuatu memaksa keluar dari pemikiran Kibum. Menerjemahkan ke dalam bahasa yang logis. Namun lidahnya seakan kelu. Di pikirannya berputar-putar sebuah retoris.
'Apa maksudnya semua ini?'
Kini bahkan cukup sulit untuk hanya menarik satu tarikan nafas.
"Kenapa kalian disini?" Pekik Kyuhyun.
"Itu Karena aku... "
Sebuah suara bass berat menyapu pendengaran mereka yang langsung menoleh ke asal suara.
Sayap lebar itu mengepak. Terbang rendah menghampiri mereka.
"Ka-kau... sungguhan?" Henry bergidik.
"Yang kau lihat?" Sautan itu keluar dari Paruh tajam di seberang.
"A-a..."
Henry terdiam. Tak tau harus berkata apa lagi.
"Aku memiliki sebuah tugas, dan itu bersangkutan dengan kalian..."
Mau tak mau alis mereka di buat mengernyit mendengar penuturan makhluk mitologi di depannya.
"Apa?" Itu Kibum, setelah berhasil bangkit dari pemikirannya.
"Komik itu mengundangku untuk menjemput kalian.."
Hening.
"Maksudmu?"
Kibum menatapnya.
"Kau tau bukan? Itu adalah komik kosong?" Kibum mengangguk.
"Wajah Chara yang kosong, bagaimana menurutmu?"
Kibum membeku.
"Kami, adalah Chara dalam komik kosong itu?" Tanya Kibum tak percaya.
"Betul sekali..."
"APA!" itu pekikan salah satu dari 6 orang di belakang Kibum.
"Aku berasal dari komik itu, dan Pohon Showroom adalah sebuah gerbang..."
Kibum sedikit menunduk. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kenapa..."
Kibum mendongak.
"Harus kami?"
Menatap sosok itu dengan penuh tanda tanya. Ini sungguh sangat tidak rasional. Ambigu untuk di pahami... pasti sebelumnya ia pernah terbentur sesuatu! Pasti!
Suara jauh dalam pikirannya seperti menyergah dirinya.
'Berhentilah Egois!'
Kibum kadang bertanya... Siapa suara itu? Lebih tepatnya.
Milik siapa?
Bertanya pada bayangan, lalu hilang bersama hembusan angin.
"Karena..."
Sebuah jeda.
"Aku tak bisa mengatakannya sekarang."
"Kenapa!"
Bukan pertanyaan. Namun dengan nada yang lebih menuntut... sebuah pernyataan keluar dari bibir Kibum.
"Oh... aku belum memperkenalkan diri. Panggil saja L..."
Mengalihkan pembicaraan. Terlihat jelas!
"Aku akan kembali dalam waktu dekat ini... Memberi sedikit waktu sangat dibutuhkan. Iya kan?"
"Hey! Tapi kan kami belum setuju!" Sungmin maju sepetak.
"Betul!" Dan Kyuhyun menyusul.
"Maaf... tapi sayangnya aku tak butuh persetujuan kalian. Tak ada penolakan. Atau sesuatu akan terjadi pada kalian!"
Egois...
"Egois..." gumam Kibum.
"Sama sepertimu, Kim Kibum."
Kibum tersentak.
"Kau mengenalku?" Kibum menyipit tajam.
"Itu tak penting. Ada pertanyaan? Tidak ada? Baik aku akan pergi..." L melebarkan sayapnya yang indah itu. Putih sedikit emas, indah bukan?
"Sampai jumpa... dan bersiap-siap lah..." itu perkataan L yang terakhir sebelum ia terbang ke arah pohon showroom. Mendarat di dekatnya dan hilang perlahan.
Hening kurang lebih 3 menit...
Seseorang menyentuh pundak Kibum dari belakang.
"Gwanchana?" Itu sahabatnya, Kyuhyun.
Dia tak bergeming. Kepalanya mendongak menatap langit biru diatasnya.
Brukk...
Kyuhyun menoleh,
Tak jauh dari sana...
Seorang lelaki terjatuh, hendak mengambil bukunya yang terhempas dari tangannya (buku yang terakhir kali Kyuhyun lihat melayang terhenti oleh waktu). Orang itu bangkit, menggaruk kepalanya tak gatal, kebingungan? Maybe... ia Membungkuk mengambil bukunya di atas tanah berumput lalu melangkah pergi.
Waktu kembali normal ternyata, pikir Kyuhyun.
"Ah... kepalaku sakit!" Yesung menyentuh kepalanya. Sedangkan di belakangnya, Henry menyangga tubuh Yesung yang sebelumnya terhuyung, nyaris terjatuh.
"Hyung... Gwanchana?" Tanya Henry.
"Pasti tadi itu khayalanku saja, aku bermimpi... Oh Tuhan..." rancau Yesung, tak mengindahkan pertanyaan Henry.
"Aku mimpi apa semalam? Sampai bertemu Griffin barusan?! Itu mengerikan!" Pekik Sungmin yang entah sejak kapan terduduk di bawah.
"Mengapa aku juga ikut terseret?" Siwon dengan mimik yang sulit dijabarkan.
"Waktu sudah berjalan normal?" Tanya Zhoumi entah pada siapa, menerawang ke depan dengan tatapan kosong.
Kibum menunduk, menatap komik yang kini digenggamnya. Seringaian tipis terpatri samar di wajah Kibum. Ia berbalik, melihat satu persatu 6 orang di depannya.
"Hey!" Semua menoleh kearah Kibum.
Ia melipat tangannya.
"Aku ingin bicara dengan kalian..."
~ oOo ~ oOo ~ oOo ~
Bentang alam yang hijau. Pohon-pohon besar mendominasi. Seperti Hutan liar yang lebat. Bukan seperti lagi,tapi itu memang.
Desiran terdengar, Sebuah air terjun tinggi berada di sisi Utara hutan, ditengah tebing jurang yang curam.
Di belakang itu, berdiri sebuah Kastil. Megah, namun suram... Begitu Dark jika di pandang.
Tamannya di penuhi tumbuhan mati dan bunga yang layu.
Seorang pria, berpakaian baju besi gagah dengan sebuah busur panah besar digenggamannya melangkah masuk ke dalam kastil. Langkahnya terburu, sampai ia terhenti dan bertekuk lutut.
"Rex Han, Praepositus telah kabur."
Pria itu semakin tertunduk. Ketika dirinya berhadapan dengan pemimpinya yang berada di singgahsana, Rex Han.
"APA!" Kepalan itu muncul, penuh amarah. Rex Han sontak bangkit.
"CARI DIA!"
Penuh ketegasan di setiap kata. Suara yang menggelegar memenuhi Kastil suram itu.
"Baik!" Pria itu berbalik, menerima sebuah titah untuk mencari seorang tahanan.
BRAAKKK!
Tembok itu seketika hancur. Membuat segelintir orang yang berada disana memundurkan langkahnya.
Rex Han telah murka. Kepalan tangannya membuat dinding kokoh itu retak dan hancur berlubang.
"KU BUNUH KAU PRAEPOSITUS!"
Seperti aungan singa, tak ada yang berani mengganggunya.
Tiba-tiba, dari tubuhnya menguar cahaya hitam.
Dengan mengerikan, Rex Han berubah menjadi Suatu makhluk yang amat besar dan gelap.
Suaranya menggema disetiap sudut.
Lamat-lamat...
Begitu memekakan telinga..
~ ¤ ~ ¤ ~ ¤ ~
"Apa kita harus memperkenalkan diri?" Kyuhyun menggaruk tengkuk.
"Ku rasa iya..." Sahut Henry.
"Baiklah... namaku Cho Kyuhyun."
"Zhoumi, dari China..."
"Aku Henry Lau... dari China seperti Zhoumi-ge."
"Choi Siwon, aku suka ke gereja," Yesung melirik Siwon.
"Apa?" Tanya Siwon.
"Yah... setidaknya ada anak Tuhan disini. Aku Kim Yesung, jangan tanya kenapa kepalaku besar..."
Henry menutup mulutnya.
"Pfffttt... Hyung, jangan melawak."
"Aku tidak melawak!"
"Namaku Lee Sungmin..."
"Aku Kim Kibum..."
Hening menyerang setelah beberapa detik lalu sebuah candaan usai.
"So?"
Suara itu mengoyak keheningan.
Suatu tempat di atap sekolah, sedikit kotor oleh debu, namun nyaman dan damai. Kau bisa melihat langsung pemandangan indahnya taman sekolah dari atas sini.
Ketara sekali, pasti ini adalah tempat favorit para remaja nakal yang bolos saat jam pelajaran.
"Ehem... bisa kita mulai saja pembicaraannya?" Henry tersenyum canggung.
"Bagaimana?" Kibum melepas kacamatanya, membersikan lensa yang memburam karena sedikit debu.
"Kalau aku setuju-setuju saja... aku suka game..." Kyuhyun mengendik, Kibum kembali memakai kacamata.
"Astaga Kyu... kau anggap ini permainan? Kau tau Griffin itu? Dia nyata... a-aku... Arghh..." Sungmin menggeram kesal ia lebih memilih bersender di dinding dan menikmati terpaan angin di wajahnya.
"Kalian tau? Kita yang terpilih." Kibum melipat tangannya.
"Apakah aku harus mempertanyakan alsan ini? kenapa harus kita? Kenapa aku?" Zhoumi menatap Kibum penuh tanda tanya.
"Kau ingin jawaban? Kalian juga kan? Satu cara... kita harus melakukannya. Ikut bersama L, menyusuri sebuah jalur petualangan. Bertemu dengan sesuatu... atau Jika kita menolak... entah apa yang akan terjadi"
Helaan nafas.
Lagi...
Mereka menunduk. Memikirkan sebuah persoalan ambigu.
"Kira-kira kapan L kembali...?" Itu Yesung.
"Jika kita siap. Seperti apa yang dia katakan..." Kyuhyun memasukan PSPnya kedalam saku.
"Aku ragu... Bagaimana jika itu berbahaya? Sebuah jebakan? Dan kita akan mati?" Henry bergidik.
"Itu mustahil..."
Henry mendengus mendengarnya.
"Aku ikut..."
Sungmin terbelalak. Ia menoleh ke asal suara.
"Ha? Siwon... Kau..."
Siwon tersenyum.
"Menurutku itu tak masalah... ini adalah hal yang langka. Mungkin kita hanya mendapatkan 1 kali kesempatan..."
"Tapi..."
"Aku hanya ingin hidupku sedikit tersentuh hal-hal yang seperti ini. Kau tahu Hyung? Hidupku ini membosankan. Dirumah seperti hidup sendiri, jangan tanya kenapa. Dan di sekolah? Aku tak pernah mau menjadi begitu populer. Jika bisa, akan ku berikan ke populeran itu ke pada orang lain..."
"Kau aneh..."
"Terimakasih..."
"Maaf..."
"Nothing hyung..." Sebuah senyuman kembali tampak.
"Baiklah aku juga..." Zhoumi menengadah menatap langit.
"Dengan setengah hati aku juga..." Henry menahan tawa melihat raut Yesung.
"Dua orang terdekatku ikut. Jadi aku juga..." Henry tersenyum.
"Oke... oke... aku ikut," Sungmin menghela nafas.
"Apa? Kan aku sudah jawab..." Ucap Kyuhyun ketika manik Kibum menatapnya seolah meminta sebuah jawaban.
Bunyi gemersik daun kering terinjak terasa indah.
Bel pulang terdengar. Sekumpulan siswa mulai terlihat meninggalkan sekolah dari gerbang abu-abu itu.
Bunyi bising yang lamat-lamat.
Sebagian matahari terhalang awan.
"Ini..."
Kibum menunjukan sebuah komik familiar di tangannya.
"Anggap saja adalah sebuah tiket liburan gratis... ketempat yang belum pernah terjamah."
"Terdengar mengerikan..." Henry menopang dagu.
"Jika Tiket itu adalah tiket pergi ke Hawaii, aku mungkin akan bersorak..." cibir Yesung.
"Yah sayangnya bukan..." Yesung meninju pelan bahu Henry.
"Bocah tengik!"
"Hahahaha..."
Ya mungkin sedikit gurauan di sela ketegangan kini sangat di butuhkan.
Bagaimana setelah itu?
Sesuatu yang mencengkam mungkin akan menghampiri mereka.
To Be Continued
yeahh bahasa yang masih amburagul/? xD
Reviewnya~ :D
Thanks ^^
