.

.

.

Boboiboy © Monsta Studios

Warning... typo(s), alur kecepetan, OOC (mungkin), EYD belepotan, dan lain-lain...

Happy reading ^^~

Chapter 9. Prom Nite (Pesta Dansa)

.

.

.

Hari kamis adalah hari paling ditunggu-tunggu oleh semua murid di tempat si kembar tiga bersekolah. Pukul 4.45 sore, Halilintar memutuskan untuk berangkat lebih awal karena ia akan menjemput gadis manis yang bernama Yaya. Rumahnya dan rumah Yaya tidaklah terlalu jauh, hanya berjarak 2 blok dari rumahnya. Dengan bersemangat, Halilintar menuju rumah Yaya. Namun, ia juga harus berhati-hati agar bulir-bulir keringat tidak melunturkan penampilannya.

Halilintar yang biasanya terlihat tanpa ekspresi dan cuek kini terlihat sangat tampan ditambah sebuah senyuman tipis yang tak kunjung hilang dari wajahnya saat di perjalanan menuju rumah Yaya. Senyuman tipis itu mampu membuat gadis siapa saja yang melintas di dekatnya terpaku dan terus memperhatikannya. Tak sedikit dari segerombolan gadis remaja yang membicarakan Halilintar karena wajah tampan dan ditambah lagi ia sedang mengenakan jas maka tambah keren penampilannya.

Setelah menghindar dari tatapan para gadis saat di jalan, akhirnya pemuda bertopi itu sampai di rumah Yaya. Dia mengedarkan pandangannya di taman kecil di depan rumah Yaya. Sangat indah karena dihiasi berbagai macam bunga warna-warni disana. Halilintar melangkah maju menuju pintu depan melewati halaman rumah Yaya.

'Tok tok tok..

" Permisi, selamat sore."

Terdengar suara langkah sepatu dari dalam rumah yang makin terdengar di telinga Halilintar. " Iya, sebentar." Suara lirih dan lembut terdengar di balik pintu berbarengan dengan terbukanya pintu.

Sosok pemuda tinggi untuk seukuran anak kelas 2 SMP, mengenakan semi jas biru donker yang tidak dikancing dan bagian lengan ditarik hingga hampir sampai siku serta topi dinosaurus yang tak pernah lepas dari kepalanya. Sangat keren penampilan pemuda di depannya yang telah mengajaknya pergi ke prom.

Tanpa sadar Yaya terpaku dengan pemuda itu atau lebih tepatnya senyuman yang masih melekat di wajah Halilintar. Sampai suara deheman pemuda itu, Halilintar, menyadarkan gadis berhijab itu.

" Oh, hai. Cepat sekali kamu datang. Hmm, ayo masuk," ujar Yaya mempersilakan tamunya masuk.

Halilintar tersenyum dan memerhatikan sang pemilik rumah yang mengenakan gaun merah muda. " Tak usah, apa kamu sudah siap?"

Yaya sedikit bingung karena ia juga akan pergi bersama Ying, teman Cina-nya. " Eee.. Hali? Aku sudah siap. Tapi.. bisakah kita menunggu sebentar."

Halilintar memasukkan tangan kirinya dalam saku celananya. " Menunggu apa?" Tanyanya datar.

" Menunggu Ying. Maaf ya, aku lupa bilang kalau akan pergi bersama Ying juga.." dengan hati-hati Yaya menjelaskan pada Halilintar agar tidak marah karena lupa memberitahunya.

"... ehm, kamu duduk dulu disini," ujarnya segera sambil menarik Halilintar menuju kursi teras saat melihat pemuda itu memberinya deathglare.

Halilintar melepaskan tangan kirinya dari saku celana dan menuruti ucapan Yaya. Ia pun duduk lalu melihat Yaya pergi ke dalam rumah.

"Sebentar aku ambil minum dulu," ujar Yaya singkat dan pergi ke dalam meninggalkan Halilintar yang masih diam.

'Yah, kenapa ada Ying? Gagal deh jalan berduaan dengan Yaya,' batin pemuda bertopi itu seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

Halilintar menghela nafas dan memandang langit yang masih cerah di sore hari. Hari ini, hari yang indah. Tapi, pemuda itu merasa hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Mengingat kedua saudaranya dan Ying jika dalam satu pertemuan akan menjadi kacau. Taufan dan Gempa menyukai gadis yang sama. Dan mereka juga saling merahasiakan.

Yah, sebagai saudara yang netral, Halilintar harus memisahkan antara Taufan dan Gempa. Tapi, sampai kapan? Bukankah nanti akan ketahuan juga. Tapi, ia juga menginginkan kedua saudara kembarnya merasakan kebahagian bersama Ying bagaimanapun caranya. Yang penting, yang harus ia lakukan adalah berusaha sebaik mungkin agar kedua saudaranya dapat berdansa bersama Ying.

"Sangat merepotkan!" Ujar Halilintar tiba-tiba.

Disaat yang sama Yaya yang datang membawa nampan yang diatasnya terdapat 2 gelas sirup. Ia mendengar ucapan Halilintar pun merasa bahwa pemuda di sampingnya sedang bermasalah.

"Apanya yang merepotkan?" tegur Yaya sembari berjalan melewati Halilintar yang masih menatap langit.

Yaya menaruh minumannya di atas meja kecil yang berada di antara ia dan Halilintar. Lalu ia duduk di kursi lainnya di samping meja. "Kamu lagi ada masalah, ya?"

Halilintar memandang wajah Yaya sekilas kemudian pandangannya terarah pada deretan bunga-bunga di teras rumah Yaya. "Kamu tau, kan, tentang Taufan dan Gempa yang menyukai Ying?"

Yaya pun mengangguk menjawab pertanyaan Halilintar. "Terus?"

Kali ini Halilintar menatap Yaya lama. "Aku harus memisahkan mereka berdua saat salah satunya bersama Ying. Dan ini akan sangat merepotkan untukku," runtuknya kesal.

Yaya tertawa kecil mendengar permasalahan pemuda di sampingnya. Dan itu menambah kekesalan pada Halilintar. "Kok kamu malah tertawa? Aku serius."

"Oke, oke. Tenang aja, kan ada aku yang bisa bantu kamu. Jangan terlalu diambil pusing, mereka, kan saudara kamu. Yang ikhlas dong," ucap gadis manis berhijab itu sambil tersenyum.

Melihat senyuman gadis itu membuat Halilintar merasa lebih tenang kemudian diikuti dengan senyum tipis. "Thanks."

"Permisi, apa aku mengganggu kalian?" Tiba-tiba sebuah suara datang ketika keduanya saling menatap dan saling lempar senyum.

Yaya menoleh ke asal suara itu. "Eh, hai Ying! Sudah sampai." Lalu gadis itu berdiri dan menghampiri teman perempuannya.

Halilintar tampak tidak sedang dengan kehadiran gadis berparas oriental yang baru saja tiba. Senyumannya pudar seketika saat Yaya mulai sibuk mengobrol dengan Ying. Ia memutar kedua matanya.

Halilintar berdiri dan menghampiri kedua gadis yang mengobrol di teras rumah sambil berdiri. " Sudahlah, ayo berangkat."

oooOooo

Di depan gerbang sekolah, dua pemuda tampan atau para murid perempuan menyebut mereka 'Three Princes of School' (disingkat TePoS) tiba. Yap! Sudah pasti mereka menjadi pusat perhatian para murid perempuan, terutama kakak kelas mereka. Dan itambah lagi dengan penampilan mereka berbeda tidak mengenakan seragam sekolah tetapi mengenakan semi jas.

Dengan langkah pasti mereka, Taufan dan Gempa, dari gerbang menuju ruang musik tentu saja dengan cuek karena banyak mata yang memerhatikan mereka. Bagi Taufan itu adalah hal biasa bahkan ia melambaikan tangannya tebar pesona kepada kakak kelas. Sedangkan Gempa yang tidak terlalu menyukai keramaian, merasa risih dan selalu menundukkan kepalanya.

"Gempa?" Panggil kembaran dengan topi menghadap samping.

Gempa menoleh ke samping, "Apa?"

"Nanti kenalin, ya, pasangan dansa kamu ke aku. Nanti aku kenalin balik deh. Siapa tau bakal jadi double date," ujar Taufan dengan candaannya.

"Hmm? Oke deh," Gempa menyanggupi perkataan Taufan.

Kemudian Taufan tertawa tiba-tiba. Hal itu membuat kembaran di sampingnya bingung dan heran. "Kenapa ketawa?"

Taufan menghentikan tawanya. "Apa kamu tidak merasa lucu jika nanti acara dansa dan Hali..." Taufan tidak meneruskan kalimatnya saat melihat Gempa tersenyum mengerti maksudnya.

"Ya, memang aneh. Tapi menurutmu Hali akan dansa sama siapa?" Gempa bertanya dengan sedikit mengangkat alisnya. Kemudian disambut Taufan yang mengangkat alisnya juga.

"Kamu memikirkan siapa yang kupikirkan, bukan?"

"Yaya!" ucap mereka bersamaan.

"Dan sepertinya Hali pergi ke rumah Yaya dulu," ujar Gempa menebak.

"Kyaaaa...!" Terdengar suara teriakan melengking dari depan pintu ruang musik. "Itu itu Taufan dan Gempa! Kyaaa... mereka keren!"

Oke, kali ini suara itu bertambah ramai saat dua saudara kembar itu hampir sampai di depan ruang musik yang sudah penuh dengan gadis-gadis cantik dari kakak kelas mereka. Para gadis itu adalah anggota dari fansclub TePoS lovers.

Gempa melihat segerombolan para gadis yang tidak lain adalah kakak kelasnya segera berbalik arah menjauhinya. Tetapi niatnya terhenti sampai tangannya dicengkeram erat oleh Taufan.

"Jangan menghindar terus. Ini biar aku yang tangani. Lihat dan pelajari!" bisik Taufan yang menghentikan Gempa untuk pergi.

"Hai, para fansgirl-ku! Apa kabar?!" sapa Taufan dengan tangan melambai ke TePos Lovers. Dan tentu saja mereka berteriak tidak jelas saat mendengar sang idola menyapa. Sedangkan Gempa hanya menepuk jidatnya karena melihat kelakuan saudaranya yang satu ini.

"Taufan sama Gempa, nanti dansa sama siapa? Sama aku aja," ujar salah satu kakak kelas.

"Ngga! Jangan! Sama aku aja."

"Ngga! Sama aku!"

"Aku!"

"Aku!"

'Duh, mereka jadi ribut sendiri,' pikir Gempa dan Taufan melihat TePos Lovers mereka merebutkan untuk menjadi pasangan dansa Taufan dan Gempa.

"Kami sudah punya pasangan sendiri!" Gempa berteriak di tengah kebisingan suara para kakak kelasnya. Sedetik kemudian menjadi hening. Dan tatapan para TePos Lovers tajam mengarah pada Gempa dan Taufan seperti mengintimidasi mereka berdua.

"Siapa dia?" tanya salah satu kakak kelas yang memakai gaun hitam panjang. Dan yang lainnya hanya berbisik-bisik membicarakan siapa pasangan Gempa dan Taufan.

"Rahasia, lihat aja nanti. Kalian pasti tau kok," ujar Taufan dengan tersenyum lebar meninggalkan kerumunan itu dan menuju bagian dalam ruang musik bersama Gempa dibelakangnya.

oooOooo

Setelah 30 menit untuk acara pembukaan pelantikan anggota ekstrakulikuler yang dipilih masing-masing siswa, panitia prom nite mengumumkan peraturan pesta dansanya.

"...25. Tidak boleh saling dorong saat berdansa, 26. Jika ingin mengajak seseorang untuk berdansa tidak boleh memaksa, 27. Tidak boleh ada yang keluar ruangan tanpa seizin panitia, 28..."

"Ini peraturan mau sampai kapan dibacanya..." keluh Taufan yang tidak sabar dan terus melirik Ying.

"Sabar, Fan. Mungkin sampai 30 peraturan aja kok, tenang," hibur Gempa.

"Cerewet," ujar Halilintar tiba-tiba yang entah ditujukan pada siapa, pada panitia yang membacakan peraturan ataukah Taufan yang mengeluh.

"..., 31. Siswa dilarang..."

Taufan menatap tajam Gempa, "Kata kamu cuma 30?! Ah, menyebalkan." Taufan melipat kedua tangannya. Perasaannya mulai jenuh dengan pembacaan peraturan yang terlalu panjang itu.

"... yang terakhir 40. Siswa dilarang membuang sampah sembarangan. Bagi yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda. Hmm, demikian peraturan ini kami buat. Dan selaku kepala panitia berharap kalian mematuhi peraturan ini. Hmm, baiklah sudah pukul tujuh malam, maka pesta dansa dimulai!"

Suara riuh tepuk tangan mengakhiri pembacaan peraturan yang menurut Taufan sangat membosankan itu. Musik Dj mulai menggema. Dan semua siswa mulai mengajak pasangannya untuk berdansa. Ada juga beberapa siswa menyingkir untuk menuju meja yang disediakan untuk makanan ringan.

'Inilah saatnya aku memisahkan mereka,' pikir Halilintar saat melihat Gempa dan Taufan akan mendekati ke Ying.

"Gempa," panggil Halilintar seraya mendekati saudaranya.

Yang dipanggil menolehkan kepalanya dan berhenti berjalan. "Iya, ada apa, Hali?"

"Eh, eemm... kamu mau dansa, ya? Itu..." Halilintar bicara tergagap karena melihat Taufan yang berada di belakang Gempa, sudah mengajak Ying berdansa.

Gempa yang melihat aneh saudaranya, segera melihat ke belakang tetapi dicegah oleh Yaya.

"Eh, Gempa. Kita makan dulu yuk. Aku lapar, kamu temani aku makan, ya," pinta Yaya segera dan langsung menarik lengan Gempa agar menjauh dari tempat Taufan berdansa.

"Eh, tapi kan, aku belum bilang mau atau tidak. Mengapa kamu langsung menarikku, Yaya. Kamu kan tau aku ingin dansa dengan Ying," ujar Gempa pada gadis manis berjilbab merah muda itu sambil mengerucutkan bibirnya.

Halilintar sudah berada di belakang Gempa dan menepuk pundaknya. "Sudahlah, Gempa. Kita makan dulu aku tadi berangkat belum makan sama sekali," ucapnya sambil mengambil piring kecil untuknya dan untuk Gempa.

Dengan berat hati Gempa mengambil piring yang dipegang Halilintar. Kali ini Gempa yang jenuh dengan Halilintar yang seenaknya mengajaknya ke sini. Saat melihat Yaya yang disampingnya, Yaya sedang tersenyum manis di sana.

"Kenapa kamu tidak mengajak Yaya dansa?" tanya Gempa dengan berbisik. Karena tubuh mereka memiliki tinggi yang sama maka memudahkan mereka berbisik tanpa diketahui Yaya.

Halilintar memincingkan matanya, "Sudah kubilang aku lapar. Sudahlah kamu ikut aja," ujarnya keras-keras, lalu mempercepat tangannya untuk mengambil makanan yang akan ia ambil dan pergi menuju kursi yang kosong.

Gempa dan Yaya duduk di samping kanan-kiri Halilintar. Mereka menyantap makanan yang mereka ambil. 'Maaf, Gempa. Kamu harus mengalah dulu,' batin Halilintar yang merasa bersalah.

"Aku bosan, Hali. Kamu tau kan, aku ingin dansa sama Ying," ujar Gempa lesu sambil memasukkan makanannya malas.

"Ya, aku tau. Tapi lihat tuh, ramai orang dansa. Tunggu sampai agak sedikit sepi, kan jadi luas tuh buat dansanya. Benar kan, kataku?" jelas Halilintar memberi alasan yang sudah direncanakan.

Gempa menunduk, "Ya sudahlah."

'Kira-kira Ying dansa sama siapa, ya? Padahal aku ingin memperkenalkan Ying pada Taufan malah dicegah sama Hali,' batinnya.

"Wah ada si kembar Hali dan Gempa! Kalian kok ga dansa? Ga punya pasangan, ya? Ayo, sama aku aja," ujar salah satu dari tiga gadis yang menghampiri Gempa dan Halilintar.

Halilintar menatap aneh pada ketiga gadis yang mungkin adalah kakak kelas mereka. Mau apa mereka ke sini? Mereka tidak punya pasangan dan datang ke sini? Dasar perempuan, gerutu Halilintar dalam hati.

"Jangan dengarkan dia, mending sama aku. Aku jago dansa loh," ujar gadis lain yang di tengah.

"Ngga! Jangan sama aku aja. Aku lebih jago da..."

"Maaf, tidak terima kasih. Mereka dansa sama saya," ucap Yaya memotong perkataan gadis yang berada paling pinggir.

Ketiga gadis itu melotot ke arah Yaya. Tentu saja mereka kesal karena Yaya tiba-tiba mengatakan akan berdansa dengan kedua saudara kembar itu. Dan sedangkan Gempa dan Halilintar hanya melihat bingung ke arah Yaya yang tersenyum penuh arti.

"Huh! Menyebalkan! Memangnya siapa dia, berani sekali memotong pembicaraan kita?!" Gadis yang paling pinggir tadi mencibir pada kedua temannya.

"Iya, dia juga serakah dengan bicara akan dansa dengan Gempa dan Hali. Huh!" tambah gadis yang di tengah.

"Benar, menyebalkan. Memangnya dia cantik? Cantik juga kita. Benarkan?"

"Benar sekali. Ayo kita pergi."

"Bye, Hali. Bye, Gempa," ujar mereka bersamaan lalu pergi entah kemana.

Mereka bertiga menghela napas lega setelah kepergian kakak kelas mereka. "Terima kasih, Yaya. Tadi alasan kamu benar-benar membuat aku syok, tapi itu tidak mungkin, kan, kamu dansa sama kita berdua?" ujar Gempa memastikan.

Yang diajak bicara malah tertawa, "Ngga kok, hanya bercanda agar kakak kelas yang genit nan centil itu ga mengganggu kita," jawab Yaya sambil tertawa kecil.

Halilintar menunduk dan menggelengkan kepalanya sebentar kemudian menatap ke depan. Mencoba menikmati suasana pesta yang sangat meriah ini, namun dia juga harus waspada kalau-kalau Gempa tiba-tiba melihat Taufan. Tetapi beruntung saja Taufan berdansa agak di tengah jadi mereka tertutup oleh banyaknya pasangan yang sedang berdansa. Saat teman-temannya yang berdansa di depannya berpindah tempat sehingga terlihat Taufan sedang berdansa dengan Ying.

'Gawat!' batin Halilintar sambil melirik ke arah Gempa yang masih menunduk. Kemudian ia menyikut Yaya dan memberikan sebuah kode melalui gerak mata untuk melihat ke depan saat Yaya melihat ke arahnya.

Gadis bergaun merah muda dan jilbab dengan warna senada itu mengerti maksud Halilintar kemudian mengangguk. Dengan sigap dia meletakkan piringnya. Lalu Yaya berdiri di depan Gempa untuk menghalangi pandangan pemuda itu agar tidak melihat Taufan.

Gempa menaikkan pandangannya saat merasa ada seseorang berada di depannya dan orang tersebut adalah Yaya. "Ada apa Yaya?" tanya Gempa yang merasa aneh terhadap perilaku gadis di depannya.

"Mungkin Yaya minta kamu untuk menemaninya mengambil minuman," ujar Halilintar berbohong. Halilintar yang selalu bersikap santai dan dingin dengan sikapnya yang seperti itu memudahkannya untuk menyembunyikan perasaannya atau suatu kebohongan.

"I-iya. Aku haus, temani aku mengambil minum, ya," Yaya mengiyakan ucapan Halilintar.

Gempa menghela napas kesal dan menatap Halilintar tajam. "Baiklah, aku temani." Gempa hanya pasrah menuruti gadis di depannya karena ia merasa tidak tega menolak permintaan seorang gadis.

Seusai Gempa dan Yaya pergi, pemuda bertopi itu segera menghampiri Taufan dan Ying. Karena inilah saatnya bergantian Ying yang berdansa dengan Gempa dan memisahkan Taufan dari mereka berdua. Halilintar berdiri tepat di belakang Taufan dan berkacak pinggang menatap saudaranya itu.

"Ekhem!" Halilintar mendehem saat Taufan menubruk lengannya.

Taufan melihat Halilintar sedang berdiri di dekatnya. "Oh, Hali. Mana Yaya? Kalian ga dansa?" ujar Taufan dan berhenti berdansa.

"Bukan urusanmu. Apa kalian tidak capek berdansa dari tadi?" tanya Halilintar dingin dan masih dengan gayanya yang berkacak pinggang.

Ying hanya tersenyum melihat wajah Taufan yang berkerut saat mendengar perkataan saudaranya yang super dingin itu. "Memangnya kenapa, Hali?" tanya Ying lembut.

Pandangannya beralih ke arah gadis Cina yang sekarang tanpa kacamata itu. "Maaf Ying, Taufan aku pinjam dulu," ujar Halilintar sambil menarik lengan jas saudaranya yang bertopi miring itu.

"Wets. Ada apa nih? Kita mau kemana?" protes Taufan saat mulai menjauhi kerumunan.

"Temani aku keluar sebentar," jawab Halilintar singkat.

Taufan kesal pada Halilintar karena telah seenaknya menarik dan memisahkannya dengan Ying. "Huh, tapi ada Gempa, kenapa tidak kamu ajak dia aja," keluhnya seraya terus ditarik menuju panitia yang berada di dekat pintu keluar.

"Dia sedang bersama Yaya mengambil minuman. Aku bosan di dalam ruangan ini. Dan jangan tanya lagi!"

Kemudian saat sampai di dekat pintu keluar ada dua orang guru yang merupakan panitia prom nite menghampiri kedua saudara kembar itu.

"Mau kemana kalian?" tanya guru olah raga dengan tegas.

"Kami mau keluar sebentar, Pak. Kami mau cari udara segar di luar, nanti kami kembali lagi, Pak," izin Halilintar.

"Ya sudah. Jangan terlalu lama," ujar guru Geografi memperingatkan.

"Baik, Pak. Permisi," pamit Halilintar yang pergi dengan menarik Taufan di belakangnya.

Taufan meronta dan melepaskan tangan Halilintar yang sedari tadi menarik jasnya. "Sudah lepas! Kamu merusak jas-ku eh, maksudku jas milik Gempa yang aku pinjam," ujar Taufan sembari merapikan letak jas- nya .

Halilintar pun melepaskan tarikannya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Lalu ia berjalan menjauhi Taufan, "Ayo berkeliling," ajak Halilintar.

oooOooo

Setelah mengambil dua gelas untuknya dan untuk Yaya, Gempa melihat Ying sedang berjalan menuju tempat duduk yang tadi ia duduki, tetapi di tempat itu sudah tidak ada Halilintar. Segera saja Gempa menaruh salah satu gelas minuman ke tempat semula dan yang satu lagi ia berikan pada Yaya di belakangnya.

"Eh, emm Yaya, ini kamu pegang sendiri saja, ya. Kamu duduk aja duluan aku mau dansa sama Ying. Tidak apa-apa, kan?" tanya Gempa hati-hati agar tidak mengecewakan seorang gadis di depannya.

Yaya menerima minuman itu dan tersenyum. "Iya, ga apa-apa, kok. Ya sudah pergi saja, nanti keburu Ying diambil sama pangeran lain loh," ledek Yaya.

Gempa merasa lega dengan ucapan Yaya kemudian segera menghampiri Ying di tengah kerumunan pasangan dansa. "Hai, Ying!" sapa Gempa yang merasa senang saat telah di depan Ying.

"Oh, hai, Gempa? Kemana saja kamu? Dari tadi aku tidak lihat kamu," tanya Ying dengan tersenyum.

Gempa memerhatikan penampilan Ying hari ini yang sangat manis tanpa kacamatanya dan make up tipis hanya memakai lipgloss dan perona pipi. Tubuh mungilnya pun dibalut dengan dress hitam selutut dan cardigan mini untuk menutupi lengan putihnya. Sepatu wedges yang lumayan tinggi membuat gadis itu hampir manyamai tinggi Gempa yang seharusnya setinggi bahu pemuda itu.

Gempa tersenyum pada gadis berparas oriental itu kemudian membungkukkan tubuhnya seperti pangeran yang mengajak sang putri untuk berdansa. "Maukah kamu berdansa denganku, putri?" Gempa mengulurkan tangannya.

Ying tersipu malu melihat tingkah Gempa dan menyambut uluran tangan Gempa. "Tentu, dengan senang hati."

oooOooo

"Huh, aku tidak mau lagi! Aku mau kembali ke pesta!" seru Taufan pada Halilintar yang mengajaknya berkeliling keluar ruang musik. "Ini sudah lebih dari lima belas menit! Pokoknya aku mau kembali!"

Halilintar memutar matanya dan menyadari telah lama mereka meninggalkan ruang musik. Kali ini dia sudah tidak bisa menahan Taufan untuk lebih lama lagi. Dia juga berharap kalau Gempa telah selesai berdansa dengan Ying. "Oke oke, maaf kalau jadi lama seperti ini. Habis udara malam sejuk alami bukan dingin AC," ujar Halilintar beralasan.

"Ck, sudah ah aku mau ke ruang musik duluan!" cetus Taufan yang sudah tidak sabar.

"Ya sudah lah, ayo kembali, nanti para panitia menyangka kita diculik lagi." Kali ini Halilintar mencoba mencairkan suasana dimana saudaranya yang jahil dan periang itu mengambek karenanya.

Taufan melirik Halilintar tajam, "Ngga lucu!" Taufan pun akhirnya berjalan lebih dulu ke ruang musik.

'Jadi repot begini,' batin Halilintar mulai mengeluhkan saudaranya itu. Kemudian ia menyusul Taufan yang sudah menjauh darinya.

oooOooo

'Harusnya aku sedang berdansa dengan Yaya sekarang. Tapi sekarang malah menjaga Gempa dari Taufan dan Ying,' lagi-lagi batinnya mengeluh.

Memang bukan keberuntungan pemuda bertopi ke depan itu di hari yang besar ini. Sekarang Halilintar bersama Gempa setelah membujuknya untuk keluar ruangan. Sebenarnya Halilintar sudah kehabisan cara untuk memisahkan mereka berdua agar tidak saling bertemu saat masing-masing sedang bersama Ying.

Berbagai cara, berbagai kebohongan dan berbagai alasan telah ia luncurkan agar salah satu dari mereka berdua berpisah untuk waktu yang agak lama. Dari alasan untuk ditemani ke kamar mandi pada Taufan-alasan ini agak memalukan memang tapi harus ia lakukan, alasan kalau Yaya meminta dansa dengan Gempa, berbohong kalau Halilintar dan Taufan diminta untuk mengambil gitar di ruang olahraga-alasan yang tidak masuk akal tapi tetap ia jalani, alasan kalau pak guru Matematika mengajak Gempa untuk ikut olimpiade matematika-ini kebetulan, sampai alasan-alasan kecil lainnya. Halilintar juga harus berterima kasih pada Yaya yang sudah berjuang keras membantunya.

Salah mereka juga memiliki selera tipe pasangan yang sama. Beruntung Halilintar lebih terpikat dengan gadis berhijab itu yang selain cantik dan manis, Yaya juga tangguh dalam menjaga diri. Memang tipe perempuan yang Halilintar sukai. Walaupun Halilintar tidak menceritakan apapun pada kedua saudaranya, tetapi Gempa dan Taufan mengetahui perasaannya pada Yaya. 'Mungkin pada saat itu aku tidak berkonsentrasi untuk menutupinya,' pikir Halilintar yang mulai kesegala hal.

"Hali?" Gempa mulai pembicaraan.

"Hmm?" jawab Halilintar dengan gumaman tidak jelas.

"Ada apa sih sama kamu? Kamu dari tadi kelihatan aneh, kaya' ada yang disembunyikan. Kamu ga mau cerita sama aku? Yaaahh, walaupun kita jarang curhat tapi kan kita kan kembar, setidaknya aku bisa membantu setelah kamu cerita," ujar Gempa yang mengerti dengan keadaan saudaranya yang terlihat tertekan.

Halilintar mengambil napas berat. Berat sekali menceritakan masalahnya karena masalahnya adalah Gempa dan Taufan. Walaupun memakai kata 'perumpamaan' nama orang lain pun akan ketahuan juga.

"Tidak, tidak ada masalah," jawabnya singkat setelah memberi jeda agak lama disaat Gempa menyelesaikan ucapannya.

Gempa menggeleng pelan kemudian tertawa kecil. "Aku tau kamu pasti akan bilang begitu. Aku sudah menduganya. Aku adalah kembaranmu, Hali, jadi kalau hatimu gelisah maka aku pun juga ikut gelisah," jelasnya yang membuat hati Halilintar mencelos dan terus menatap saudaranya dari samping.

"Aku tau kenapa kamu aneh begini." Kalimat ini membuat Halilintar terhenyak dan berhenti berjalan.

Pikirannya sudah tak karuan dan berpikiran kalau Gempa mengetahui bahwa dia sedang menjauhkan Gempa dari Taufan. "Benarkah kamu tau semuanya? Sejak kapan?"

"Aku tau sejak kulihat ekspresimu saat Yaya selalu bersamaku," jawab Gempa dengan ringan.

"Hah?!" Halilintar tidak bisa berkata apapun lagi jika Gempa mengetahui kebenarannya. Ia siap untuk dibenci oleh saudara kembarnya karena telah merahasiakan hal ini.

"Kamu cemburu, kan? Kamu cemburu sama aku karena Yaya lebih dekat denganku dari pada kamu, benarkan? Jadi akhirnya kamu tidak dansa dengan Yaya dan memintaku untuk menemanimu di luar sini," ujar Gempa panjang-lebar yang membuat hati Halilintar sedikit lega.

'Huft, kupikir dia benar-benar mengetahuinya. Syukurlah.'

"Bodoh! Kamu bicara apa sih? Sudah kamu diam saja. Aku sedang pusing tau," ujar Halilintar.

Gempa hanya tertawa meledek Halilintar yang kemudian terhenti saat melihat Halilintar mengepalkan tangan kanannya dan meninju tembok tepat di depan wajah Gempa. "Glek!"

Aura hitam mulai menguar dari balik jas biru donker milik pemuda yang baru saja meninju tembok. "Mau merasakan? Aku sampai sekarang belum pernah memukulmu jadi ingin merasakan?"

"Eh? Hehehe, simpan saja untuk Taufan kapan-kapan. Lebih baik kita kembali," ujar Gempa mengalihkan pembicaraan.

Halilintar melihat ke arah jam tangannya. "Benar juga, ayo kembali." Halilintar memang tidak bisa untuk marah pada Gempa karena Gempa adalah anak yang sabar dan pengertian, tidak seperti saudara kembarnya yang satu lagi yang hanya bisa berbuat jahil dan tidak sabaran. Walaupun Taufan memang menyebalkan, tetapi Halilintar juga menyayanginya setelah Gempa tentunya.

Setelah memasuki pintu masuk ruang musik kembali, mereka berdua benar-benar dikejutkan dengan apa yang dihadapan mereka.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Huft, akhirnya update juga, setelah sekian lama ehehe... #jangan_ketawa #dilempar_sendal #maaf

Ini update-tan saya yang lumayan panjang, lho, jadi bingung dengan narasinya. Maaf kalau berantakan...

adegan Hali misahin Taufan sama Gempa kurang greget yak, duuhh maaf lagi deh...

Maaf banget terlalu banyak kekurangannya. Dan maaf lagi lama updatenya (untuk My Twins juga)... (promosi sekalian) #diilerin

Oh ya, maaf juga saya tidak sempat membalas review. Saya hanya mengucapkan terima kasih telah meriview,memfavorit dan memfollow ff saya. Dan terima kasih telah menunggu sampai ch. ini update...

Ya sudah lah, yang penting terima kasih sudah menyempatkan membaca ff saya ^^~

ARIGATOU

REVIEW ya kawaaann... ^^~)b