SEBELUMNYA :

Dengan dibantu Yaya―teman sebangku sekaligus gadis yang ia sukai, Halilintar untuk memisahkan kedua saudaranya agar Gempa dan Taufan memiliki peluang untuk berdansa dengan Ying. Saat dimana setelah Halilintar mengulur waktu bersama Gempa, mereka berdua benar-benar dikejutkan dengan apa yang dihadapan mereka.

.

.

.

Yo, minna-san ~

Gomen bagi yang menunggu fic ini publish, saya sedang mencari inspirasi untuk kelanjutannya.

Terlalu lama, ya? Gomenasai... #bungkukbungkuk

Yosh! Akhirnya kita telah sampailah pada saat berbahagia, dengan selamat sentausa saya akhirnya dapat mengupdate finale chapter 'I Wish I Never Know'. Hehe^^~

Yup! Ch terakhir, huft selesai juga akhirnya. Untuk endingnya minna bisa tebak apakah happy atau sad ending...

Hahahaha... #tertawanista #plak

Dan tanpa banyak kata lagi...

Disclaimer © Monsta Studio

Warning. Typo(s), alur kecepetan, gaje, ending absurd, dll...

ENJOY IT

R 'n R

.

.

.

'DEG!

Kelopak mata pemuda temperamen itu melebar seketika. Jantungnya seakan akan berhenti berdetak. "Apa yang―..." Tak dapat berkata kata lagi setelah melihat kejadian ini.

Gempa melirik saudara kembarnya hati hati. Terlihat Halilintar berdiri mematung dengan tatapan tak percaya. "Hali, mungkin dia bukan―... yah, kamu tahu kan maksudku." Ujarnya sembari menepuk pundak Halilintar.

Halilintar tersadar dan tatapannya kembali datar. "Tak apa. Biarkan saja." Katanya dengan sangat dingin. Ia mencoba tidak peduli lagi walaupun hatinya terasa sakit. Sangat sakit.

HALILINTAR POV

Kalian tahu rasanya patah hati? Itulah yang kurasakan sekarang ini. Aku patah hati padahal belum menyatakan cinta. Well, bisa kalian lihat, Yaya―gadis yang kusukai, berdansa dengan pria lain. Hatiku sangat hancur ketika mengenali surai ungu berantakan itu. Yaya dengan Fang!

Well, Fang. Dia adalah ketua OSIS di sekolahku. Dia memang jarang terlihat karena tugas sebagai ketua OSIS sangatlah berat. Tapi tak kusangka pemuda oriental bersurai ungu gelap itu juga menyukai Yaya yang bernotabene siswi baru.

Mereka―Yaya dan Fang, tampak sangat akrab. Berdansa dan tertawa bersama. Hatiku seperti remuk ketika melihat gadis anggun berhijab itu tersenyum pada pria di depannya. Aku bahkan belum sama sekali dapat berdansa dengannya.

Patah hati ternyata sangat menyakitkan, lebih menyakitkan dari menerima pukulan dari lawanku. Luka memar di kulit dapat sembuh dengan sendirinya, tapi apakah luka di dalam dadaku ini bisa seperti itu?

Aku menghela nafas dan mengeratkan telapak tanganku. Gempa kembali menepuk pundakku lalu aku menoleh ke arah kiri, melihat Gempa yang tampak khawatir.

"Duduklah, Hali." Perintahnya pelan sembari mendorong punggungku ke arah kursi kosong di dekat kami.

"Kamu tidak marah, Hali, saat melihat mereka?" Aku tahu mengapa dia bertanya seperti itu karena kebiasaanku jika merasa tersinggung atau terganggu aku akan memberi mereka 'pelajaran'.

Aku melihat Gempa di sampingku dengan wajah datarku. "Sedang tidak berminat. Pergilah, buat dirimu senang, jangan pedulikan aku di sini."

"Benar tidak apa jika aku tinggal?" Tanya Gempa yang tidak yakin padaku dan segera kujawab dengan tatapan tajam super dinginku. "Hehehe, baik baik aku pergi."

Kulihat Gempa melangkah menjauhiku dan menghilang di kerumunan pasangan yang sedang berdansa. Aku menghela nafas berat.

'Patah hati.' Pikirku berulang kali. Aku terdiam, duduk dengan merendah dengan tangan bertumpu pada paha. Aku menatap kosong ke arah lantai.

Entah sudah berapa lama aku dalam posisi itu sampai aku tersadar saat ada seseorang berdiri di depanku. Kulihat kaki ramping dan putih mengenakan wedges hitam, pertanda seorang perempuan yang ada di hadapanku. Ku angkat pandanganku segera. Wajah keturunan China dengan rambut hitam tergerai sepanjang bahu sedang menatapku.

"Ying?"

"Sendirian Hali? Tidak sama saudaramu? Dimana mereka?" Tanya gadis itu sembari mengisi tempat kosong di sampingku.

Eh?! Tunggu! Ying bertanya dimana saudaraku? Apa aku tidak salah dengar? Walaupun musik DJ mengalun kencang dan suara Ying terdengar samar, tapi dapat kupastikan telingaku masih dapat berfungsi dengan normal.

"Ying?! Sejak kapan kamu tidak bersama Taufan?" Mataku melebar saat menanyainya.

"Hmm... entahlah, tapi saat Gempa datang dan ingin bicara dengan Taufan, mereka belum kembali. Jadi tadi kupikir mereka bersamamu." Jelas Ying.

Aku segera berdiri dari kursiku dan berlari mencari Taufan dan Gempa. Aku sangat ceroboh karena pikiranku sedang kalut, aku menjadi lupa untuk tidak mempertemukan mereka berdua. Firasatku buruk, sangat buruk! Tidak kutemukan dua saudaraku itu. Aku memutuskan untuk bertanya pada panitia prom. Dengan tergesa gesa aku melangkahkan kakiku menuju arah pintu keluar, sampai bahuku tanpa sadar menubruk seseorang dengan sangat kerasnya.

"Hei! Hati hati kalau jalan." Tegur orang itu.

Aku melihatnya tapi segera kuacuhkan. Orang yang kutabrak adalah Fang yang sedang bersama Yaya.

"Hai, Hali! Mari kukenalkan kamu sama―..."

"…―tidak perlu. Maaf, aku sedang terburu buru." Tandasku memotong ucapan Yaya. Well, kurasa dia akan memperkenalkan Fang itu padaku kalau mereka sudah pacaran. Kuulangi PACARAN! Ah, masa bodoh, yang terpenting aku harus menemukan Taufan dan Gempa segera. Dapat kupastikan mereka akan saling membunuh jika aku tidak segera menemukannya.

Aku menghampiri salah satu panitia di dekat pintu keluar. "Maaf, Pak. Apa tadi Taufan dan Gempa keluar ruangan?"

"Iya. Sudah agak lama mereka izin dan belum kembali."

"Iya, Pak. Saya ingin izin menyusul mereka."

"Ya, boleh boleh. Tapi jangan terlalu lama karena sebentar lagi acara penutupan."

"Baik, Pak."

Aku berlari keluar ruangan. Yup! Benar dugaanku. Mereka sudah berdiri di tengah lapangan. Aku mempercepat langkah lariku saat keduanya saling tatap dengan tangan yang terkepal melayang menuju lawan di depannya.

NORMAL POV

'Tap! 'Grep!

Kedua tinju yang melayang mampu Halilintar tahan dengan mudahnya. Gempa maupun Taufan terkejut dengan kehadiran saudaranya itu yang tiba tiba menghentikan mereka.

"Hali?!" Sentak mereka berdua bersamaan.

Taufan meronta untuk melepaskan cengkeraman tangan kanan Halilintar pada kepalan tangannya. Dan Halilintar melepas kedua tangannya saat dirasa Gempa dan Taufan agak tenang.

"Kenapa kamu menghentikan kami, Hali?!"

Halilintar menatap ke kanan ke arah Taufan yang sudah tidak mengenakan topi, tetapi Halilintar hafal benar jika itu adalah Taufan. Penampilannya sudah tidak karuan, kemeja lusuh dan kotor. Jas yang ia kenakan pun sudah tidak ada, teronggok jauh di belakangnya. Walaupun cahayanya hanya dari dua lampu sorot yang menerangi tengah lapangan itu, dapat dilihat banyak luka memar dan luka tergores aspal lapangan di kulit wajah dan lengannya. Sepertinya pukulan saudaranya yang biasanya kalem banyak mengenai Taufan.

Beralih ke arah lainnya. Tampak pemuda yang hampir tidak pernah marah itu, kelelahan tak jauh berbeda dengan Taufan. Keadaannya sama buruknya dengan Taufan. Jas sudah berada di sampingnya, kemeja lusuh dan kotor, luka lebam dan terlihat sedikit noda darah samar di ujung bibirnya.

"Apa yang kamu lihat, hah?!" Cerca Taufan beremosi saat melihat Halilintar hanya memerhatikan mereka berdua tanpa bicara sepatah katapun, menjawab pertanyaan sebelumnya saja tidak.

"Maaf." Ujar Halilintar singkat nyaris tanpa ekspresi.

"Hali, kenapa kamu tidak bilang padaku kalau Taufan juga suka sama Ying?" Tanya Gempa dengan nada tenang menahan emosi.

"Benaq, kenapa tidak bilang sejak awal, hah?! Kamu sengaja membuat kita berkelahi seperti ini?!" Desis Taufan tak berperasaan pada Halilintar.

"Apa kamu bisa merasakan rasanya patah hati?!" Lanjut Taufan.

Pemuda yang ditanyai itu masih terdiam. Ia menghela nafas dan menarik sedikit ujung topinya. "Dengar. Kalian yang bercerita padaku. Kalian juga yang menyuruhku berjanji untuk tidak memberitahukannya pada siapapun. Walaupun berat, setidaknya aku mencoba agar kalian bisa merasakan sedikit bahagianya bersama dengan Ying. Maaf, seharusnya aku bilang pada kalian sejak awal."

"Dan satu lagi." Halilintar menoleh ke arah kanan. Melihat ke sinar mata Taufan yang telah meredup."Kita ini saudara. Aku bisa merasakan rasa sakit di hati kalian karena aku lebih dulu yang patah hati." Lanjutnya dengan nada yang tidak berintonasi.

Gempa dan Taufan tersentak, terlebih Taufan yang belum mengetahui kejadian Fang dan Yaya. Taufan memekik keras pada Halilintar. "Apa! Jangan bercanda, Hali! Aku bisa pastikan kalau kamu dan Yaya―"

"Tidak Taufan. Tadi aku dan Hali melihatnya secara langsung, Yaya bersama Fang. Sangat akrab dan sangat dekat. Aku tidak pernah menyangka kalau Fang berpacaran dengan Yaya." Sela pemuda tinggi yang berada di samping kiri Halilintar.

Hening.

Mereka berdiri diam di tengah lapangan. Well, setelah kita melihat situasinya, ketiga pemuda kembar itu sama sama patah hati. Hidup begitu menyakitkan sehingga ketiganya sama sama merasakan kepedihan di hati mereka.

"Hali! Taufan! Gempa!" Suara nyaring terdengar dari arah pintu ruang musik membuat yang dipanggil terkejut. Tampak dua gadis anggun nan cantik berlari kecil menghampiri yang mereka panggil.

"Kalian sedang apa di sini? Eh―" Tanya gadis bermini dress itu yang segera memekik melihat dua dari 3 pemuda kembar di hadapannya dalam keadaan tidak baik.

"Ka-kalian berkelahi?!" Seru Ying khawatir pada Gempa dan Taufan yang sedang memegangi pipi mereka masing masing.

"Hmm, jadi? Sudah ketahuan, ya, Hali. Kurasa memang tidak bisa ditutup tutupi lagi, memang sudah waktunya." Kata gadis berhijab itu menghampiri Halilintar.

Kedua alis Ying saling bertaut tidak mengerti dengan apa yang Yaya maksud."Ketahuan? Memangnya apa hubungannya dengan Gempa dan Taufan berkelahi? Apa yang terjadi?"

Yaya hanya tersenyum penuh arti pada yang bertanya.

"Jadi, Hali bekerja sama dengan Yaya? Seharusnya aku menyadarinya sejak awal! Pantas saja Yaya selalu ingin berdansa denganku dan menghiraukan Hali." Gempa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.

"Maaf, ya Gempa. Itu semua hanya pengalih perhatian agar kamu tidak bersama Ying selagi Taufan bersamanya." Ujar Yaya lirih pada Gempa.

"..." Gempa tidak menjawab dan terus melihat ke arah lain.

"Ying, kamu harus membuat keputusan." Suara Taufan menginterupsi keheningan yang kembali tercipta membuat gadis yang ia maksud menatapnya bingung. "Ying, buatlah keputusan sekarang. Kamu memilihku atau Gempa?" Tuntut Taufan.

Ying terdiam. Air mukanya memancarkan kebingungan. Ia melihat ketiga pemuda itu bergantian. Ia tidak tahu harus berkata apa karena hatinya memilih...

"Aku... aku tidak bisa. Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian berdua." Jawab Ying setelah memantapkan hatinya.

"Kenapa Ying? Ada apa?" Tanya Gempa terkejut karena gadis yang dia dan Taufan sukai tidak memilih antara mereka berdua. Malah menolak semuanya.

"I-tu... karena aku... a-aku sudah berpacaran." Jawab Ying dengan rasa gugup.

Taufan mengernyit tajam menatap gadis China itu. "A-apa?! Tidak mungkin. Siapa dia Ying?" Sergahnya tidak suka.

"Dia itu Fang..."

"Hah?! Kamu bilang, kamu berpacaran dengan Fang?! Tapi... Fang tadi...- Brengsek!" Umpat Halilintar seketika. Ia melihat ke Yaya yang tenang tenang saja saat mendengar Fang―yang dikira pacar Yaya, malah berpacaran dengan Ying.

"Yaya. Apa kamu tidak marah atau merasa emosi saat mendengarnya?!" Sahut Halilintar. Kepalanya terasa panas, amarahnya mulai memuncak.

"Maksudnya? Untuk apa aku marah?"

"Si brengsek Fang itu menghianatimu, Yaya. Dia menduakanmu dengan Ying." Lanjut Halilintar yang sudah mengepalkan tangannya erat.

"Kenapa kamu jadi setenang itu? Apa kamu sudah menerima kalau Fang menduakanmu?" Tambah Gempa.

Terlihat wajah bingung Yaya dan Ying yang saling pandang. Dan sedetik kemudian kedua gadis cantik itu tertawa geli lalu berhenti setelah memandang ketiga pemuda di depannya. Tapi tak lama kemudian mereka kembali terkekeh.

Halilintar merasa sangat geram pada kenyataan yang mempermainkan kehidupannya. Setelah patah hati melihat dan mengira Yaya dengan Fang, sekarang melihat dua gadis di hadapannya tertawa bersama setelah mendengar Ying -juga- berpacaran dengan Fang.

"Tolong berhenti tertawa dan jelaskan padaku." Halilintar berujar dengan amarah yang ditahannya agar tidak segera berlari menghampiri si Ketua OSIS-Brengsek dan Playboy- di dalam ruang musik lalu memukulinya hingga ia puas.

Tawa Yaya dan Ying mereda dan mulai mengatur nafas mereka. "Begini si kembar tiga manis dan menggemaskan. Aku akan meluruskan apa yang ada di pikiran kalian, OK? Sebenarnya aku dan Fang tidak berpacaran―" Melihat Gempa akan protes dengan segera Yaya memperingatkan. "―biarkan aku bicara dulu sampai selesai agar tidak ada kesalahpahaman."

"Aku dan Fang adalah saudara sepupu. Kuulangi SAUDARA SEPUPU dan BUKAN BERPACARAN. Well, itu yang sebenarnya." Jelas Yaya dengan sedikit penekanan dalam kata kata yang diucapkannya.

"Jadi..." Halilintar terkejut.

"Yup! Benar! Fang adalah pacar Ying. Sebenarnya baru tadi sih mereka berpacaran. Dan aku ingin memberitahu pada kalian jika Fang akan menyatakan perasaannya pada Ying, tapi kalian aku cari tidak ada di dalam aula jadi ya, beginilah, Ying menerima cintanya Fang dan aku tidak dapat mencegahnya. Benar kan Ying?" Yaya melihat ke arah gadis oriental di sampingnya yang kini sedang merona.

"Dan tujuanku pindah ke sini untuk bertemu dengan Fang. Yah, kalian tahu bukan kalau dia adalah ketua OSIS super sibuk dan jarang terlihat berjalan jalan di sekitar sekolah, jadi aku berniat menemuinya di prom ini. Aku tadi bertemu dengan Hali dan akan kuperkenalkan Fang sebagai saudaraku tapi Hali malah pergi begitu saja." Lanjut gadis berhijab itu.

Halilintar menjadi salah tingkah setelah mendengar penjelasan dari Yaya. Barulah ia sadari bahwa dia sangat cemburu melihat gadis yang disukainya bersama dengan pria lain.

"Jadi begitu, ya. Maaf aku tadi berteriak padamu Yaya." Ujar Halilintar kikuk seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. Kemudian dibalas senyuman Yaya.

'Jadi, apakah ini berarti aku masih bisa mendapatkan hati Yaya? Tapi Gempa dan Taufan? Mereka benar benar patah hati.' Pikir Halilintar setelah melihat kedua saudaranya hanyut dalam pikirannya masing masing.

"Aku..." Suara Ying terdengar lirih tapi mampu membuat Gempa dan Taufan menatap lekat ke arah pemilik suara itu.

"Aku meminta maaf pada kalian berdua, Gempa, Taufan. Aku selama ini tidak menyadari perhatian kalian padaku karena aku sudah menganggap kalian sebagai sahabat dan sebagai kakak untukku."

"Maafkan aku. Aku tidak bisa membalas perasaan salah satu dari kalian. Maaf aku―"

"―tidak apa, Ying. Kamu tidak seharusnya minta maaf, kamu tidak salah. Itu adalah pilihanmu untuk memilih Fang. Tidak apa, kami bisa menerimanya." Sela Gempa lembut.

"Ya, benar. Jangan bersedih Ying karena ini saatnya berbahagia. Benarkan Hali?" Taufan kembali ke ceria tersenyum lebar.

Halilintar menoleh tajam pada Taufan yang sedang menyengir kuda. "Eh?! Apa maksudmu?" Dengusnya.

"Sudah saatnya, Hali. Jangan ditunda lagi, nanti malah berakhir seperti kami. Aku yakin kamu punya kesempatan." Ujar Gempa dengan tersenyum.

"Benar, Hali. Cepat katakan." Desak Taufan.

Kedua gadis itu tidak mengerti dan saling bertatap bingung."Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Yaya.

"Hali, kamu yang akan mengatakannya atau aku." Taufan masih dengan cengirannya menepuk nepuk bahu Halilintar.

"Iya iya, aku akan mengatakannya. Tapi jangan melihatiku seperti itu."

"Wah wah wah, Hali pemalu rupanya. Tidak apa, kami akan menjadi saksinya."

"Diamlah, Taufan!" Desis pemuda temperamen itu.

Halilintar menghela nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian. Ini adalah pertama kalinya ia merasa sangat kikuk dan gugup. Meskipun Halilintar selalu menang setelah berhadapan dengan berbagai lawan yang kuat, inilah pertama kalinya ia kalah di hadapan seorang gadis. Mulut pedas dan dingin seorang temperamen tiba tiba saja menjadi lembut setelah berhadapan dengan gadis itu. Raut wajah tanpa eksresi itu menghilang berganti senyuman hangat jika melihat gadis yang kini berada di hadapannya. Hatinya yang kosong telah terisi dengan bayang bayang sosok gadis manis itu. Ia memantapkan hatinya untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Pada Yaya.

"Yaya, aku menyukaimu. Pertama kali kita bertemu, aku merasakan sesuatu aneh dalam dadaku. Sebelum akhirnya aku menyadari perasanku, aku selalu ingin bersamamu."

"So, Want you be mine, Yaya? May I get your Love?"

"Ya, I give all of my love to you, Hali."

Yup! Pernyataan cinta yang romantis dari seorang Halilintar dan penerimaan cinta yang tulus dari seorang gadis manis bernama Yaya, mendapat tepukan tangan dari para saksi yamg ada.

"Well, setidaknya salah satu dari kami bertiga ada yang tidak patah hati. Aku turut bahagia, Hali. Selamat ya."

"Benar. Aku sangat yakin kalau kamu akan diterimanya, Hali."

"Kalian sangat romantis."

"Oh ya. Karena kamu sedang berbahagia maukan berbagi."

"Maksudmu apa, Taufan?"

Taufan melirik ke arah Gempa yang sedang tersenyum. "Bukan apa apa, hanya saja aku dan Gempa tidak sanggup berjalan sampai ke rumah, jadi..."

"...jadi, kami minta kamu membantu kami berjalan sampai rumah." Ujar Gempa melanjutkan ucapan Taufan.

"Ya, ya baiklah."

"Bolehkah kita izin pulang sekarang? Tidak mungkin kan kami masuk ke ruangan dengan babak belur begini." Tanya Gempa kemudian.

"Itu salah kalian sendiri. Apa tidak ada hari lain untuk berkelahi?"

Akhirnya Halilintar meminta izin pada panitia untuk pulang lebih awal bersama dua saudaranya yang lain dengan alasan Taufan sakit perut karena terlalu banyak makan dan Gempa yang sakit pinggang karena telalu lama berdansa. Alasan konyol Halilintar berhasil membuat mereka pergi dari area sekolah.

Mereka sampai di rumah dengan susah payah karena Halilintar memapah Taufan dan Gempa yang tidak bisa dikatakan ringan. Alangkah terkejutnya mereka saat memasuki rumah. Kedua orang tua mereka telah bersantai di ruang tamu dan melihat ketiga anak kembar mereka pulang dalam kondisi menggenaskan.

"Hali, apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu memukuli kedua saudaramu sampai seperti itu?"

"Mama aku bisa jelaskan." Pemuda yang sedang memapah kedua saudaranya itu membela diri.

"Papa, mengizinkanmu ikut kegiatan Karate untuk melindungi saudara saudaramu bukan untuk menganiaya mereka." Cerca sang Ayah.

"Tenang Pa, Hali tidak berbuat apa apa." Kilah Halilintar lagi.

"Lihat Taufan dan Gempa bahkan tidak bisa berdiri dengan baik. Apa salah mereka sehingga kamu bisa menghajarnya?" Tambah sang Mama seraya menghampiri Halilintar.

"Tunggu dulu, Ma."

"Kamu harus dapat hukuman, Hali." Ayah dari tiga saudara kembar itu memutuskan menghukum Halilintar.

Mata Halilintar membulat mendengar keputusan orang tuanya."Hah?! Apa?! Tidak?! Ini bukan salahku! Taufan! Gempa! Kenapa kalian tidak bicara?! Ayo bantu aku menjelaskannya pada Papa dan Mama." Bantahnya. Ia melihat kedua saudara kembar yang di samping kiri-kanannya, tersenyum.

"Iya, Pa. Hali, jahat. Aku dipukul." Keluh Taufan berbohong dengan wajah memelas.

"Iya, Ma. Hukum Hali segera." Tambah Gempa yang ikut ikutan.

"Apa yang kalian bicarakan?! Ini kan memang salah kalian sendiri, aku tidak melakukan apapun!" Halilintar berseru sambil meremas kedua bahu Gempa dan Taufan.

"Aduuhh, Pa sakit~." Rintih Taufan manja.

"Kalian mengaku atau kutambah rasa sakitnya sampai satu bulan full tanpa bisa berjalan. Mau pilih yang mana? Hmm?"

"Baiklah, oke oke. Kami menyerah, Hali."

FIN

OMAKE 1 :

Terlihat seorang gadis berhijab sibuk menorobos di antara pasangan pasangan yang sedang berdansa, sambil menarik tangan seseorang di belakangnya. Gadis itu memanggil temannya.

"Hai, Ying! Ini Fang, sepupu aku." Ucap gadis berhijab itu memperkenalkan pemuda yang sedari tadi ia tarik.

"Sepupu? Fang sepupunya kamu?" Tanya Ying memperjelas.

"Iya, aku sepupunya Yaya." Jawab Pemuda itu yang adalah Fang―ketua OSIS.

'Yaya, aku mau menyatakan perasaanku pada Ying. Bantu aku, ya.' Bisik Fang di telinga Yaya.

'Gawat! Dimana si kembar? Hali juga tadi kemana ya? Fang mau menyatakan perasaannya. Lalu bagaimana nasib Taufan dan Gempa?'

Fang menarik nafas dalam dalam bersiap dengan rencananya. "Ying, aku―"

Segera Yaya memotong ucapan saudara sepupunya itu. "He, Ying kamu tadi melihat si kembar tidak?"

"Ah, tidak. Aku tidak melihat mereka." Jawab Ying.

Fang melanjutkan percakapannya kembali. "Ying, aku―"

"Ying! Coba deh lihat di belakang jilbab aku ada apa? Tadi aku merasa ada yang bergerak." Teriak Yaya yang berpura pura agar dapat mengulur waktu sampai si tiga saudara kembar itu datang.

Ying mengecek di belakang hijab teman perempuannya. "Itu bros kamu, Yaya."

"Oh, begitu ya." Yaya tertawa garing. Ia gelisah karena yang ia tunggu tidak kunjung datang.

"Ying, aku―"

"Ying! Sepatu wedges kamu bagus sekali. Baru ya? Beli dimana? Aku juga ingin membelinya."

"Tidak, sepatu ini sudah lama dan ini hadiah ulang tahunku tahun kemarin."

"Ying, aku―"

"Ying! Kemarin aku―" Untuk kesekian kalinya Yaya mencoba mengalihkan perhatian dan mengulur waktu.

"―Yaya! Bisakah kamu pergi sebentar? Aku ingin bicara berdua dengan Ying." Fang jengah dengan tingkah Yaya yang selalu memotong pembicaraannya.

Yaya akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi mencari Halilintar. "Ya, oke oke aku pergi."

OMAKE 2 :

Yaya dan Ying berada di dalam toilet.

Yaya mencuci tangannya di wastafel. Ia melihat Ying yang sedang merapikan rambutnya melalui pantulan kaca wastafel. "Hei, Ying! Jika kamu menolak Fang dan disuruh memilih antara Gempa atau Taufan, kamu akan memilih siapa?"

Ying terkejut dan melihat ke arah gadis di sampingnya. "Aku tidak bisa memilih mereka." Jawabnya lugas.

"Kenapa?"

"Karena aku menyukai Hali."

'Deg! Yaya tertohok mendengar pengakuan dari temannya itu. "A-apa?! Kamu tidak serius kan Ying?"

"Ahahaha, tentu saja tidak. Calm down."

"Fyuh, aku lega mendengarnya. Kamu membuatku terkejut, Ying."

Tiba tiba saja pikiran Ying melayang pada saat Halilintar menyuruhnya menulis biodata dan menuliskan tipe pacar yang diinginkannya. Dan dia terdiam memerhatikan Halilintar saat itu.

'Yang sepertimu...'

.

.

.

Gimana endingnya? Sebenernya sih saya bingung. Kalau dibuat sad kasian~ , tapi kalau dibuat happy juga kurang greget gitu...

Yah... akhirnya beginilah jadinya. Sad ending tapi ga sedih sedih amat. Kalo happy ending juga ga happy happy juga...

Yah, gomenasai minna-san...

.

.

.

REVIEW please...