*Jika anda menemukan typo harap dimaklumi
" Baby "
Disclaimer: Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi.
Story: InacchiFuri412
Rating: T
Pairing: AkaFem!Furi , KuroFem!Furi
Genre: Family, Hurt/Comfort
Warning: OOC. Alur kecepatan (mungkin), (sedikit) GAJE
Jika tidak suka, jangan dipaksakan untuk membacanya,ya
.
.
.
.
Enjoy \(=w=)/
-oOo-
Tetapi Tuhan berkehendak lain
Sudah seminggu setelah pulang dari rumah sakit, perilaku Seijuurou berubah drastis. Biasanya pukul 5 sore Seijuurou sudah ada dirumah tapi sekarang, dia sering pulang larut malam dan bahkan dia tidak pulang. Memang hal yang biasa bagi Kouki hanya saja setiap Seijuurou pulang, ia tidak pernah melihat Seiji, ataupun mengecup keningnya kecuali sang istri. Kouki hanya bisa menunggu dan berdo'a agar Seijuurou mau melihat Seiji meskipun hanya sebatas melihat. Hari ini adalah hari dimana Kouki sudah tidak bisa lagi menahannya. Seijuurou pulang seperti biasa -larut malam-.
"Tadaima" ucap Seijuurou tersenyum kepada Kouki.
"Okaeri, Sei" balas Kouki dengan senyumannya -seperti biasa- sambil menggendong Seiji. Seijuuroupun mengecup kening Kouki dan langsung pergi -Dia tidak pernah melihat Seiji meskipun Seiji berada didepannya-."Sei, apa kau ingin mandi atau makan?" tanya Kouki tiba-tiba.
"Mandi"
"Baiklah akan aku siapkan air hangatnya" Koukipun pergi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami sambil menggendong Seiji. Setelah selesai Koukipun menghapiri Seijuurou yang berada diruang tamu.
"Sei, air mandinya sudah siap"
Seijuurou pergi tanpa sepatah katapun. Pernah ketika Seiji menangis, Seijuurou tetap dipendiriannya –diruang kerja sambil membaca koran- tidak peduli dengan sekelilingnya padahal Kouki sedang sibuk didapur. Kouki beranggapan bahwa Seijuurou tidak akan pernah menganggap Seiji sebagai anaknya. Kouki sudah tidak kuat lagi dia lelah mengurus anaknya sendirian, akhirnya Koukipun berniat untuk pergi dari rumahnya dan tinggal bersama orang tuanya di Tokyo untuk sementara waktu. Diam-diam dia memasukkan baju-baju dirinya dan anaknya kedalam koper. Setelah selesai, iapun tidur diranjang-dirinya dan suaminya-nya.
Pukul 3 dini hari, Kouki bangun dari tidurnya. Ia melihat kearah Seijuurou yang masih tertidur lelap. Koukipun mendekatkan wajahnya kearah wajah Seijuurou sambil mengeluarkan air mata, iapun berbisik ditelinga Seijuurou.
"Sei, aku akan tinggal bersama orang tuaku di Tokyo untuk sementara waktu. Jaga dirimu baik-baik, aku mencintaimu" bisikKouki, Koukipun mengecup kening Seijuurou dan beranjak dari kasur untuk bersiap-siap. Setelah selesai, Koukipun pergi ke Tokyo menggunakan taxi tanpa sepengetahuan Seijuurou. Sampai disana, ia berjalan menuju rumahnya sambil menggendong Seiji plus membawa koper. Ketika sampai didepan rumahnya, Kouki melihat seorang pemuda –yang diduga kakaknya Kouki- terkejut melihat Kouki dan langsung menghampiri Kouki.
"Kouki ada apa?, kenapa kau pagi-pagi begini datang?"
"Memangnya tidak boleh ya aku pulang, Ni-chan?" ucap Kouki kesal sambil menggembungkan pipinya
"Eh? bukan kok tumben aja, sini biar Ni-chan yang bawakan kopernya"
Kakaknya Koukipun mengambil koper yang di bawa Kouki masuk kedalam rumah mereka –yang sederhana-. Ibunya sedang tidur di sofa sambil memeluk jaket sang ayah. Kakaknya Kouki membawa koper milik adiknya dan keponakannya ke kamar –bekas kamar Kouki-. Kouki menaruh Seiji yang masih tertidur lelap di kasur-bekas dirinya-nya.
Dikediaman Seijuurou, sekarang sudah pukul 7 pagi cahaya mataharipun muncul di sela-sela gorden yang sedikit terbuka. Seijuuroupun terbangun dengan sendirinya, ia merasa tenang karena tidak terdengar suara tangisan bayi hari ini. Dirabanya ranjang –dirinya dan juga istrinya- untuk mencari keberadaan istrinya dan ternyata tidak ada. Iapun beranjak dari ranjangnya dan mencari sosok istrinya di segala penjuru rumah tetapi tidak juga ditemukan. Ia mencoba untuk menelpon tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya iapun pergi kekamar anak-Kouki-nya - untuk pertama kalinya - memastikan bahwa anaknya ada atau tidak. Dilihatnya ranjang bayi ternyata kosong, lemari pakaiannyapun juga kosong itu menandakan bahwa sang istri dan anaknya telah pergi. Akhirnya, Seijuuroupun pergi keruang tamu –dengan pandangan kosong dan perasaan yang hampa- untuk membaca koran dipagi hari.
Di waktu yang sama dikediaman Furihata, Kouki menyiapkan makanan untuk sang ibu , ayah dan kakaknya. Merekapun makan bersama diruang tengah. Selama mereka sedang sarapan Kouki merasakan bahwa ayahnya tidak turun untuk sarapan bersama. Hingga mereka selesai sarapanpun, Kouki bingung kemana ayahandanya tidak keluar juga. Tanpa basa-basi Koukipun bertanya kepada sang ibu dan kakaknya.
"Ne~Okaa-san, Ni-chan."
"Iya" jawab mereka serempak
"Kenapa Otou-san tidak sarapan bersama kita, apa dia sedang sakit?" mendengar pertanyaan Kouki, mereka terkejut. Ibu dan kakaknya terdiam kaku tidak bisa menjawab.
"Ne~ kenapa kalian diam saja?" tanya Kouki lagi.
"Ma-maaf Kouki, tapi Otou-san sudah pergi duluan kesurga" akhirnya kakaknya angkat bicara.
Kouki kaget bukan main, dia datang kesini untuk melampiaskan sakit hati dengan bercanda gurau bersama sang ayah –anak kesayangan ayah-. Perasaan Kouki bertambah hancur berkeping-keping, sudah anaknya tidak dianggap suaminya ditambah lagi ayahnya yang pergi duluan meninggalkannya.
"K-kapan Otou-san meninggal?"
"Tepat ketika kau sedang melahirkan, sayang. Waktu itu, Seijuurou langsung menelpon Otou-san untuk memberitaukan bahwa dirimu berada di rumah sakit karena akan melahirkan Seiji. Otou-san gembira bukan main dia langsung memberitau Okaa-san dan Keiji bahwa ia akan langsung pergi ke Kyoto hanya untuk melihat dirimu dan cucunya. Tetapi ketika perjalanan menuju Kyoto, salju menutupi hampir seluruh jalanan dan menjadi sangat licin akibatnya, terjadi kecelakaan beruntun yang tak diduga. Banyak korban yang tewas dalam kejadian itu termasuk Otou-san" jelas ibunya. Mendengar penjelasan sang ibu Koukipun menangis.
"K-knapa Okaa-san d-dan Ni-chan hiks tidak memberitauku t-tentang Otou-san?" isak Kouki
"Maaf Kouki, Ni-chandan Okaa-san tidak tega memberitaukan tentang Otou-san, karena waktu itu kamu masih berkorban untuk melahirkan Seiji" ucap sang kakak.
"A-apa Sei hiks tau tentang ini?"
"Entahlah, mungkin tidak"
"Syukurlah hiks " ucap Kouki dengan nafas lega. Tiba-tiba Seijipun menangis, Kouki buru-buru mengambil Seiji -yang berada dikamarnya- dan kembali lagi ke ruang tamu.
"Ne~ Kouki kenapa kau kesini sendiri, dimana Seijuurou?" Tanya kakanya. Kouki yang sedang menimang Seiji kaget ketika kakaknya bertanya tentang suaminya.
"Di-dia ada dirumah" jawab Kouki grogi
"Kenapa dia tidak ikut kemari?".tanyanya lagi, Kouki hanya diam saja. Melihat tingkah adiknya kakaknya menyadari sesuatu. "Tunggu, apa jangan-jangan kau sedang bertengkar dengan Seijuurou?" kali ini kakanya bertanya dengan serius. Kouki lemas melihat wajah kakaknya yang menurutnya mengerikan.
"T-tidak kok" ucap Kouki membalik badan sambil menimang Seiji.
"Sayang, beritau kami apa yang terjadi diantara kau dan suamimu?" tanya ibu Kouki yang mulai cemas.
"B-begini, Okaa-san Ni-chan sebenarnya Seiji itu cacat" ucap Kouki sambil memperlihatkan kaki kiri Seiji yang cacat. Mereka kaget.
"Cacat?Tapi,apa kondisi dia sehat?"
"I-iya, Seiji hanya cacat fisik dikaki kirinya bisa dibilang dia tidak mempunyai jari kelingking di kaki kirinya tersebut. Hanya saja Sei kesal saat kuperlihatkan kaki kiri Seiji yang cacat. Aku tau keturunan Akashi memang harus sempurna tapi- "
"-Okaa-san mengerti" potong ibunya sambil senyuman. Kouki hanya bisa meneteskan air matanya -lagi- .
"Tch! Seijuurou sialan! Dia lebih memilih kedudukan dari pada kebahagian Kouki. Lihat saja nanti jika aku bertemu denganya dia lagi, akan kuhabisi dia biar mampus!" geram kakaknya.
"Sudahlah, kak. Kakak tidak boleh seperti itu dengan Sei" ucap kouki menenangkan kakaknya yang sudah mengeluarkan aura killer.
"Kau itu, selalu saja membelanya-" ucap kakaknya Kesal
"-Sudah, sudah. Lebih baik Keiji kau pergi kerja dulu" potong ibunya menutup konflik. Keiji -kakaknya Kouki- pergi untuk bekerja. Setelah sang kakak pergi, Kouki membantu sang ibu membuka tokonya -toko roti punya almarhum sang ayah- hingga siang.
Siangpun berganti malam dikediaman Seijuurou . Seijuuroupun pergi menemui ayahnya –entah apa yang dia pikirkan saat ini- untuk memberitau tentang Seiji. Mendengar hal itu ayahnya marah besar.
-oOo-
#TO BE CONTINUE
Hallo/Hai terima kasih sudah dibaca dan reviewnya ^w^)/ #dicium satu-satu
RisaSano: yup mereka memang kejam TToTT *nangis guling-guling, kalau itu sih lihat saja nanti di chapter selanjutnya huehehehe :3
VilettaOnxLV: iya disini saya pakai ganderbendnya Furihata, ok akan aku usahakan :3
Miharu348: Ok :3
Lala-chan ssu: Hahaha ini juga cerita gak sengaja muncul ketika aku tidur -makanya kusebut mimpi buruk karena menyakitkan bagiku-, dari pada mubazir akhirnya aku buat FF ini. Untuk alasan itu aku juga kurang begitu tau hehe ^^a.
Yozorra: Hehehe terima kasih :3
Authorpun kesal mengapa Seijuurou menghadap ayahnya hanya memberitau tentang Seiji *nangis guling-guling #curhat, tapi apalah daya memang itulah yang terjadi author hanya sekedar menulis idenya saja #ditimpuk massa. Dan maaf bila ceritanya gak nyambung atau apalah *sungkem.
Sekali lagi terima kasih dan sampai nanti dichapter selanjutnya *wink~
RnR?
