2 minggu kemudian.
Huft...
Aku mendesah malas menatap layar interface status di depanku. Tidak ada yang berubah setelah pria bernama Lee teuk meninggalkanku dengan equipment baru –yang menambah berapa ratus statku-
'Cho Kyuhyun. Lv. 16."
Aku tidak terlalu mengerti game ini. Kukira ini akan sama dengan RPG yang biasa kumainkan. Kenyataannya, berbeda. Tidak ada Auto-path finding, Auto-play, Ataupun Auto-quest. Beruntunglah Teleport Scroll masih berguna, setidaknya aku tidak perlu capek berlarian di dalam satu kota.
"Ugh, Maaf."
Aku terhuyung sebentar saat seseorang menabrakku. Dia lebih kecil dariku. Oh, newbie juga?, batinku senang mendapat ada yang pemula sepertiku. Karena sejak tadi aku melihat banyak orang dengan level di atasku berlalu lalang di kota pertama. "Huh? A-Apa aku mengganggumu?" tanyanya saat aku belum melepaskan genggaman di lengan bajunya.
"Tidak. Aku..hanya ingin mengajakmu berkenalan." Ujarku setenang mungkin untuk tidak memeluknya karena terlampau senang. Bukan hanya sama-sama newbie, salahkan wajahnya yang juga imut!
"Henry." Ujarnya lirih.
"Cho Kyuhyun."
Disclaimer : Suju isn't mine.
SwordLand
LynCliff
Friendship, Romance, Advanture.
Wonkyu, Slight Allmember x Kyuhyun.
Warning : Typo, Author Nubi, dll, ide murni dari author.
Chapter 2
A/N : Kota pertama, itu memang nama kota, hasil translate dari "First Town" . Tempat Pertama, Tempat pertama Kyu masuk game yang Kyu sendiri gak tau namanya apa, makannya dia sebutnya Tempat pertama.
.
"Permisi, aku harus ke kota selanjutnya untuk mendapat Badge Class." Dia terlihat gugup. Apa daya, melihat bar statusnya yang tak jauh dariku, aku ikut saja mengekorinya. Kami berlari jauh dari kota tempat selama ini aku bersembunyi karena tidak tahu apapun. Ke sebuah desa, terlihat dari rumah yang terkesan hangat. Juga bau pepohonan yang cukup menyegarkan.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Henry begitu kami sampai di depan salah satu NPc. "Aku juga newbie, asal kau tahu." Jawabku asal.
"Kau..percaya padaku?"
"Tentu saja." aku masih belum tahu apa maksudnya dengan 'percaya', tapi melihat wajahnya yang tadi malu menjadi sedikit sumringah, aku tahu dia juga kesepian sepertiku.
"Syukurlah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita memulai bersama di kota permulaan? Di sana banyak seniorku. Kita bisa belajar bersama."
"Ne, Aku akan memilih class Warrior. Kudengar mereka pemegang pedang yang hebat." Henry mengotak-atik layar di depannya. Benar saja, sebuah pedang besar tersampir di pundaknya. "Lihat?," aku mulai mengerti. "Ada 3 class di dalam game ini yang dapat kau pilih. Diihat dari inventorymu, sepertinya kau pernah melewati cabang dungeon lv.10? equipment-mu campuran begitu." Ujar Henry sambil melongok baju yang kupakai. Aneh, ya?
"Ini pemberian dari seseorang. Memangnya aku masuk class mana?" tanyaku belum mengerti juga. Henry yang lebih muda dariku terkekeh geli. "Kau belum memilih Classmu."
"O-Oh.."
"Makannya baju-baju itu tidak bisa dioptimalkan combat power-nya. Ayo cepat pilih! Ada 3 yang bisa kau masuki. Warrior, mereka bisa disebut pemimpin di dalam game. Defense mereka besar, HP yang mereka punya juga banyak. Mage tinggi Attack dan bisa Healing dengan mudah. Lalu yang terakhir, yang katanya sudah punah. Assasin, pembunuh berdarah dingin. Critical-hit mereka sangat besar. Yah setidaknya itu yang aku dapat dari ceramahan Hyungku," lanjutnya.
"Kau punya saudara di sini?"
Henry tersenyum kecut. "Yah, dia kakakku. Tapi sudah meninggal saat ekspedisi melawan Boss Dungeon 1. Tidak ada yang selamat dari party yang terbentuk mendadak itu."
Mendengar itu, aku jadi semakin semangat. HP banyak mungkin bisa membuat hidpku lebih lama di pertarungan. Jadi, kuputuskan untuk... "Kalau begitu aku pilih Warrior!"
Kemudian sebuah pedang tersampir di pundakku. Berbeda dengan Henry yang berwarna silver, punyaku berwarna ungu. Modelnya juga berbeda, tapi intinya kami adalah pemegang pedang, Warrior.
"Tunggu! Apa kau sudah tahu kau bertarung dengan tipe apa?" tanya Henry.
"Memang harus tahu?"
"Class dipilih berdasarkan kemampuan bertarung. Yah, aku juga tidak tahu aku tipe apa. Biasanya menurut naluri-"
"Tenang saja, aku sudah mantap dengan class-ku." Jawabku yakin. Armorku berganti, statku bertambah hingga total mencapai 2500 di levelku yang masih 16 ini. Aku hanya mengerjakan quest ringan di kota pertama, tapi Exp sudah kukantongi hingga level 16.
"Setelah mendapat Class, kita harus mulai menjalani quest untuk pemula."
Aku membuka panel quest. Benar saja, kami ada panggilan di kota Sunshine Cliff. "Mau bergabung sebagai tim?" tawarku pada Henry yang tampaknya tidak tahu lagi harus bicara apa. "Tapi dengan satu syarat." Dia mengacungkan jarinya. "Hm? Apa itu?"
.
"Kau curang, bocah. Kau memaksaku mengubah setting jadi 'Free Pick up." Ujarku kesal setelah keluar dari Sunshine Cliff. Kami sudah berada di City of Ganesis dengan level 26. Tempat utama, juga tempat di mana para senior berkumpul. Membicarakan guild, misi bersama, atau hanya sekedar berkumpul. Armor mereka bercahaya, bukti bahwa mereka sering menempanya. Level mereka juga sangat menyilaukan mata.
"Tapi aku tak menyangka kau bisa secepat itu, Kyu-ssi." Henry tampak iri denganku. "Tapi kau mengambil semua MP potion-ku!" Henry mengibaskan tangannya, "Kita bisa beli lagi di Apochetary."
"Jadi?" tanyaku sambil terus memandangi player senior yang mondar-mandir di depan kami.
"Kita buru monster di beberapa tempat, cabang Dungeon. Bagaimana dengan Dawn Pier?" tawar Henry. Matanya juga terlalu takjub memandangi bangunan porselen yang megah. Jangan lupakan juga NPc wanita yang sepertinya sudah menggoda iman bocah di sampingku.
"Baiklah."
Aku berlari untuk masuk ke portal. Sebelumnya aku diseret Henry untuk melapor kepada Jeff, NPc yang menjaga portal masuk ke Dawn Pierr. "Dua orang dalam satu tim. Aku leadernya." Kataku lantang. Jeff dengan jenggot halusnya mengangguk sambil mencatat namaku.
"Semoga kalian selamat, dasar paley lemah. Perkuatkan senjatamu dulu sebelum masuk ke Dawn Pier. Aku tidak tanggung jawab jika kalian mati di sana." Sudah kuduga pasti ada saja NPc berkarakter menyebalkan sepertinya. Toh, pada akhirnya aku diberi 'tiket masuk' juga.
"Quest 30 selesai."
Sebuah suara dingin dan berat membuat bulu kudukku berdiri. Jeff mengangkat kepalanya untuk memandang player lain di sampingku. Player yang berpakaian serba hitam dan punya aura menyeramkan sedingin es. Tapi aku berani bertaruh dia bukanlah mage, karena dia tidak membawa tombak dengan ujung es. "Misi diterima," usai mengatakan itu, pria yang sempat membuatku mati ditempat mulai berjalan mendekatiku. Apa yang mau dia lakukan?
Sebuah panel Notifikasi muncul. Permintaan pertemanan. Tapi belum sempat aku membuka detail statusnya, dia langsung otomatis masuk ke dalam friend list-ku. Apa yang dia lakukan? Cheater?
"Sampai bertemu kembali."
Dia itu siapa?
"Hei."
Kurasakan Henry menepuk pundakku agak keras. "Ah."
"Kenapa bengong? Aku menunggumu masuk lebih dulu."
"Oh iya."
Tidak tahu kenapa, tapi firasatku mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan orang itu tak lama lagi. "Ini kali pertama aku masuk ke cabang Dungeon. Dulu aku pernah hampir masuk, tapi segera dilempar oleh kakakku. Levelku belum cukup. Dan sekarang, inilah saatnya. Dalam 20 detik kita akan diperlihatkan bagaimana isi dungeon. Setelah 20 detik itu habis, Batle mode akan otomatis menyelimuti kita," kata Henry. Sepertinya dia lebih Pro dari pada aku. Aku membalas dengan mengendikan bahu.
"Kau tahu Kyu-ssi? Satu hal yang sangat aku takutkan adalah bertemu monster. Kumohon padamu, biarkan saja aku jika aku bengong. Keluarlah dari sini dengan selamat."
'Bukankah ini hanya cabang dungeon? Kenapa serius sekali? Jangan bilang kalau-'
Batle Mode Switched : on.
Fight!
"HENRY!"
'Mosternya sangat sulit, ya?'
Satu persatu boss mulai keluar. Mereka seperti anak kecil dengan pakaian ular. Serangan jarak jauh adalah teknik mereka, cukup menyulitkanku yang notenya adalah tipe Warrior, penyerang jarak pendek. Henry bengong seperti yang dia katakan. Aku hanya bertarung di dekatnya, tidak berani melangkah lebih jauh kedalam dan meninggalkan rekan satu timku di sini. Hingga monster tingkat dua, raksasa berukuran sedang dengan sebuah kapak menghadangku.
"Ah! "
"Kyu-ssi!"
Henry sadar. Dia langsung mengayunkan pedangnya untuk melindungiku. Lenganku tergores. Sakit sekali rasanya, meski darahku kembali ke 100%, tapi tetap saja rasa sakitnya masih membekas. Inikah yang namanya Batle mode?
"Ayo serang, Henry!"
Ini yang terakhir. Raksasa itu akan tumbang sebentar lagi. Bar HP-nya semakin menipis.
"Yeah!"
'CONGRATULATIONS!'
"Hahaha.."
Portal otomatis mengeluarkan kami. Aku dan Henry melakukan tos bersama. Lihat? Levelku naik menjadi 27. Skill serta item baru yang kudapat lumayan juga. Henry mengajakku ke home stay yang selama ini dia tempati. Di City of trees, rumah pohon yang sangat besar untuk menampung player yang butuh tempat tinggal.
"Ahjussi, aku membawa salah satu temanku. Mungkin dia akan tinggal dikamarku sampai dia mati." Kata Henry di depan NPc Officer. "Asal kau mau bayar tepat waktu saja, Henry!"
"Henry! Ya ampun.."
Seorang pria, atau wanita? Turun dari lantai dua menghampiri Henry. Dia memeluk Henry begitu erat sampai Henry menggerakan tangannya meronta agar terlepas. "Wajahmu kucel begitu! Kutebak kau ngotot ke Dawn pierr setelah kuberi tahu soal class. Ngaku?"
"Hyung tau saja. Aku tidak bisa terus menjadi anak asuh di sini. Aku juga pasti akan pergi dari sini dan bergabung dengan Guild besar, lalu punya rumah sendiri." Ucapnya bangga masih berduka cita dengan 'hyung'-nya.
"Guild gundulmu. Ini bukan game biasa. Bisa hidup sampai sekarang saja sudah patut bersyukur. Aku tidak mau kau dalam bahaya, pabo! Ayo masuk. Dan kau..?"
Aku yang ditatap dengan intens oleh 'hyung' Henry menjadi sedikit gugup. "C-Cho Kyuhyun."
"Kyu-ah. Ayo masuk, makan malam sudah siap." Suaranya yang terdengar melambai itu benar benar...menyeramkan.
"Sebaiknya kau tidak usah keluar di minggu ini, Henry. Bahaya untuk player newbie seperti kalian. Apalagi kau tipe warrior. Warrior selalu mencolok untuk menarik musuh. Itulah kenapa aku membenci kakakmu!" Orang yang baru kuketahui bernama Hechul itu duduk di samping Henry. Henry terlihat memanyunkan bibirnya. Hechul beralih menatapku. "Kau sudah dengar soal Bug menyeramkan, Kyu-ah?"
"Um. Aku tahu itu."
"Karena itu sebaiknya kalian tetap di sini. Eskpedisi untuk Boss Dungeon 1 memang masih terus dilakukan. Tapi ada yang lebih penting. Assasin, kukira mereka sudah punah. Tapi ada satu yang kembali, hingga membuat beberapa guild gempar."
"Pantaslah dicari. Crit-hit mereka besar." Sahut Henry dengan mulut terisi nasi. Aku menyesap teh hijau di depanku. Sepertinya ini masalah penting. "Bukan begitu. Nama Pembunuh berdarah dingin mungkin memang pantas mereka sandang karena Crit-Hit dan Agillty mereka yang kelewat batas. Tapi, untuk player yang satu ini mungkin memang pembunuh berdarah dingin."
"Maksudmu?" tanya Henry.
Hechul menghela nafas sebentar, "Kau tahu penyebab kematian Hyungmu, Henry? Aku ada di sana. Menyaksikan satu player asing yang tiba-tiba menghabisi semua player di Dungeon itu hanya untuk mengambil item langka. Tapi hebatnya dia bisa keluar tanpa harus membunuh bossnya."
"Jadi, kau selamat-"
"Akulah yang satu-satunya selamat. Berkat perisai esku, aku berhasil kembali. Dan langsung mencarimu sesuai permintaan terakhir kakakmu. Aku menyembunyikan informasi ini dari semua guild besar."
Aku beralih menatap Henry. Dia tampak menahan tangisnya. Kesal, sedih dirasakan anak itu sampai kepalan tangannya memutih ingin menghacurkan meja. "T-Terima kasih untuk makannya. Aku...mau tidur...dulu." dan anak itu berlalu begitu saja ke lantai dua. Mungkinkah dia terpukul dengan pembicaraan ini?
Suasana jadi hening. Hechul mungkin terlihat ramah, tapi melihat aku yang statusnya anak baru di situ, aku agak takut untuk memulai pembicaraan.
"Memangnya ada player yang sekuat itu?" tanyaku pada Hechul.
"Ada. Assasin adalah jalan utama menjadi yang terkuat. Tapi, ada sebuah insiden yang membuat mereka terbunuh dengan sendirinya. Kabar burung berkata bahwa senjata mereka adalah racun, dan racun itulah yang membunuh mereka sendiri."
Hechul berdiri. Dia membawa cangkirnya ke jendela. Mataku mengkutinya. Jendela kayu itu menampilkan taburan bintang di langt. "Berdasarkan yang aku rasakan, jika kau berada di dekat orang itu, udara di sekitarmu akan terasa sangat dingin, mungkin kau akan mati rasa karena efek racun yang menguar dari tubuhnya sangat kuat. Beruntunglah waktu itu aku tidak dibunuh. Sampai sekarang Guild-guild besar masih mencarinya."
Hechul berbalik menatapku tajam yang sedang bengong. Cangkirnya sedikit retak karena menahan amarah saat menceritakan masa lalunya. "Selamat malam, Kyu-ah. Kamarmu ada di ujung lantai dua."
"S-Selamat malam.."
Mungkin dia marah padaku?
Aku lelah. Usai bertarung tadi kakiku dengan otomatis membawaku ke ujung lorong di lantai 2, kamarku. Tidak buruk. Dinding dan lantai serta semua perabot terbuat dari kayu asli. Itulah City of Trees. Sprei putih terasa nyaman saat bersentuhan dengan punggungku. Aku berbaring, lalu mulai melepas semua armorku dan menyimpannya di bag. Juga mengecek item apa saja yang masuk ke bag usai menang melawan Boss di cabang dungeon.
"Seharusnya ada di Friend list."
Aku teringat dengan orang asing yang seenaknya menambahkan akunnya di Friend list-ku.
"Blank..?"
Tanpa nama. Ini aneh.
"Mungkin Bug. Tidur sajalah.."
Mataku terpejam. Tapi detik berikutnya pikiranku berputar.
'Tunggu..
udara di sekitarmu akan terasa sangat dingin
kau akan mati rasa..'
Apakah hanya ada satu player yang bisa membuat efek begitu?
Jangan bilang kalau yang tadi aku temui itu...
"Assasin yang telah kembali?"
TBC.
Glosarium :
Badge Class : Tanda Class
NPc : Non Player Character. karakter ini tidak dikontrol oleh Pemain melainkan dikontrol oleh Bahasa Komputer atau Computer Player,karakter ini bisa bergerak sendiri tanpa ada yang mengontrol.
Combat Poweer : Daya Serang
Defense : Bertahan
HP : Health Potion
Party : Semacam Tim tapi lebih banyak player.
Quest : Misi
MP : Mana Potion
Apochetary : Apoteker. Tempat jual gear, dll dan beli potion.
Pojok Bales Review :
Desviana ; Oke ini lanjut / Sparkyubum ; Jawabannya ada di chapter depan. / Ichan ; Ada dong... -kedip kedip- / Kliieff ; Oke, ini udah. / Raein ; Itu cuma trap, udah aku jelasin di PM. /Mifta ; Stadium 3 palingan -author labil- / Pho ; Yah gak tau juga, tergantung alur lah. ini juga pollingnya gak cuma di sini. Gak tau itu kuat apa gak :3 Pengennya jadi rival, tapi mungkin mau aku jebak jadi friedzone aja. -ketawa laknat- / Kuroai ; Nah itu dia :v wkwkwkk banyak juga yang main PS. Jeff aku kurangin tsunderenya. Iya, emang waktu itu Teuk ngira Kyu cheater -tapi kayaknya cuma kamu doang yang sadar- tapi setelah tau Kyu bingung soal bug menyeramkan, Teuk jadi ngira Kyu juga termasuk dalam kesalahan bug itu.
Kalian bisa lihat seperti apa tempat-tempat di dalam gamenya ^^ kalo mau langsung main ini linknya : .com
Dan ini tempat-tempatnya : media/set/?set=a.501623363326113.1073741856.100004353605413&type=3
Terima kasih Reviewnya ^^
Mind To Review(again) ?
