Chapter 2
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, OC, Typo and Etc
~ • ~
Hari ini bunda tidak mengijinkan Hinata masuk sekolah, meskipun gadis cantik itu memaksa. Bunda kawatir karena semalam Hinata muntah - muntah. Badannya demam dan perutnya yang kena pukul terasa sakit. Makanya, meski pagi ini Hinata bilang sudah baikan, bunda tetap melarangnya pergi ke sekolah.
Walhasil, Hinata cuma bisa duduk didepan TV menonton Film Anime kesukaanya [Yamada-kun to Nananin no Majo]. Ketika sedang asik ber-hahahihi melihat yamada yang selalu sial, ponsel disaku piyamanya bergetar. Ada E-mail masuk! Dari Sakura, sahabat yang cantik dan centil.
To : Hinata
From : Sakura
"Kau dimana Hinata ! Apa kau bolos hari ini"
Langsung saja dibalas Hinata
To : Sakura
From : Hinata
"Aku ada dirumah Sakura-chan ! Aku tidak bolos hari ini aku sakit"
Tut tut tut
To : Hinata
Forn: Sakura
"Jadi kau sakit ! Apa boleh Kami kerumah mu setelah pulang sekolah"
Hinata yang mendapat balasan dari sakura pun membalas.
To : Sakura
Form : Hinata
"Tentu"
Beberapa menit kemudia tidak ada balasan hinata pun kembali menonton Anime yang sempat terlewat.
"Hime-sama, Ada tamu..." Bibi Shizune, pembantu dan juga istri sopir keluarga Hinata, paman Kakasih, datang tiba-tiba.
"Heh...Siapa, bibi?" Hinata mengubah posisi duduknya
"Yang kemarin mengantar Hime-sama pulang."
"Hah!" Hinata langsung deg-degan.
"Mmh...suruh masuk saja, bibi. Aku mau ganti baju dulu!"
"Baik, Hime-sama" Shizune beranjak pergi, tapi Hinata memanggilnya kembali.
"Eh, bibi, orangnya tampan tidak?" Hinata sambil nyengir.
"tampan sekali, Hime!" jawab Shizune semangat.
Hinata tidak langsung pergi kekamarnya untuk berganti pakaian. Dia malah berjingkat menuju ruang tamu, mengintip dari tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga. Di sana, duduk seorang pria keren memakai kaos putih yang bertuliskan It's Me dan celana jeans biru memiliki rambut kuning.
'Waaaaah...keren sekali!' batinnya, lalu tersenyum sendiri. Hinata masih terus memandangi raut muka pria itu. Garis wajah yang tegas, sepasang mata safir yang tajam, tapi terlihat jenaka, hidung mancung, kumis kucing yang berada dikedua pipinya, dan bibir yang merah seperti tak pernah bersentuhan dengan nikotin... Mahakarya yang sempurna...
Tiba-tiba pria itu balas tersenyum.
Hah! Hinata kaget sendiri, saking semangatnya. Tadi dia bukan hanya mengintip, tapi juga menampakan sebagian wajahnya. Hinata yang kepergok lagi ngintipin tamunya jadi nggak berkutik. Kepalang basah, dia melangkah ke ruang tamu tanpa mandi dan dan masih memaki piyama ayahnya yang kebesaran.
"Hai!" sapa pria tersebut ramah. Dia berdiri dan mengulurkan tanganya, "Naruto..." katanya memperkenalkan diri.
"Hinata..." Hinata menjabat tangan yang terulur di hadapanya. Dari jarak sedekat ini, Hinata bisa mencium wangi parfum Naruto yang kemaren nempel di baju seragamnya.
"Gimana, sudah baikan?" tanya Naruto sambil tersenyum
"Yaa...seprtinya begitu! Bunda tidak mengijinkan aku masuk sekolah. Padahal, aku sudah tidak apa-apa!"
"mungkin bunda masih kawatir dengan keadaan mu..."
"By the way, Terima kasih sudah menolong aku."
"biasa aja kok. Buat orang baik sebaik dirimu siapa pun akan melakukan hal yang sama" tutur Naruto bijak.
Mereka terdiam sampai bibi Shizune datang membawa segelas air putih dan dua toples kue kering.
"Lho, kok air putih?" tanya Hinata
"nggak apa-apa, aku yang minta kok."
"diminum dulu, Naruto."
"Terima kasih." Naruto meneguk airnya.
Hinata menatap tak berkedip. So sweet...,katanya dalam hati.
"O iya, hampir lupa ," Naruto mengambil sebuah amplop dari saku celananya. " Ini dari Momo. Dia nitip salam untuk ibu peri yang cantik."
Naruto mengeluarkan amplop itu, tapi hinata tidak segera mengambilnya. Wajahnya nge-pink dan dia mengerang dalam hati, ya. Ampun, kenapa dia juga tau?
"Dia terlalu berlebihan." Hinata menerima amplop berwarna putih itu. Ternyata isinya kartu ucapanya.
Buat Ibu Peri
Semoga cepat smbuh
Hinata tersenyum. " Makasih ya, Naruto-kun."
"Ya! Eh, kapan-kapn kalo kalian ketemuan lagi, aku boleh ikut tidak?"
"Tentu saja boleh!" Hinata tersenyum senang karena dia memang berharap ini bukan perjumpaan yang terakhir.
"Eh, bunda mu kemana?"
"bunda sedang bekerja!"
"ya sudah, aku pulang dulu. Aku cuma pengen mastiin kalo kau baik-baik saja. Mudah mudahan dalam waktu dekat pihak berwajib bisa mengatasi preman-preman itu. Kata paman ku mereka emang termasuk dalam daftar target operasi. Mereka bukan cuma pereman biasa, tapi juga terlibat dalam kasus curanmor dan jadi pengedar Narkoba." Naruto berdiri dan tersenyum manis hingga Hinata menjadi memerah.
"Naruto-kun sekali lagi thanks yaa..." Hinata mengantar Naruto sampai depan pintu.
Tiba-tiba Naruto membalikan badanya kembali, " Aku boleh kesini lagi kan?" tanyanya penuh harapan. Sebelah alisnya terangkat, dia jadi terlihat lucu.
"Hinata tersenyum geli melihatnya."Sure...," Jawab Hinata senang.
Hinata terus menatap Kepergian Naruto sampai mobil Honda jazz biru itu keluar melewati pintu gerbang.
"Yuuuhuu...! Aduh...!" Hinata meringis, lupa perutnya masih sakit.
Siang yang sangat panas...
Dikamarnya, Hinata sedang membalas e-mail dari Gaara, pacar Hinata yang sedang studi di Amerika.
Tok... tok... tok...
"Hime, Makan siang sudah siap!"
"Bawa kesini saja, Bibi!" Teriaknya tanpa menghentikan jemarinya yang lincah mengetik keyboard. Shizune pun masuk dengan nampan berisi makan siang Hinata. "Makasih ya, bibi...,"sahutnya tanpa menoleh.
"iya, Hime. Kalo butuh sesuatu, panggil bibi saja. Tadi Ibu pesan Hinata hime jangan terlalu lelah!" Shizune melihat anak majikanya menoleh dan tersenyum padanya.
Hinata selesai mengetik, dia tersenyum puas. Senyumanya makin lebar ketika mengingat pria keren bernama Naruto. Senyumanya yang...mmh manis banget. Gayanya yang asik banget. Kapan ya dia kesini lagi? Loh, kok aku malah mikirin pria itu? Lamunan Hinata berhenti. Dia mendengar langkah-langkah kaki mendekati kamarnya, lalu...
"Haaaaaiiiiii...Hinata!" teriak makhluk-makhluk berseragam SMU itu berbarengan, lalu berebut memeluk Hinata yang mulai gelagapan. Mereka sahabat-sahabat Hinata disekolah.
"kami kangen nih!" Teriak Sakura.
"iya, nggak ada Hinata, tidak rame!" ini Ino.
"sebenarnya kau sakit apa sih?" tanya tenten.
"Tenang...tenang...semua kebagian tanda tangan!" teriak Hinata menghindari tangan mereka yang berusaha mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa sih nggak masuk? Keliatanya lo segar - bugar gitu deh!" Sakura menyentuh dahi Hinata dengan punggung tangannya.
"aku sakit, tau nggak sih...," Hinata melemahkan suaranya.
"sakit apa?" tanya ino dengan wajah kawatir.
"sakit cintaaaa!" teriak Hinata bersemangat.
Langsung aja Sakura dan Tenten berebut ngejulekin kepala Hinata.
"Eh, kenapa nih, kok biru?" Tenten baru menyadari ada lebam dirahang sahabatnya.
"Iya Hinata. Kau habis berkelahi ya?" Sakura ikut memperhatikan luka memar itu.
"Aah...nggak apa-apa kok. Ini kan biasa. Kalo latihan, kau juga sering dapat oleh-oleh memar kan?" tanya Hinata pada Sakura. Mereka berdua emang sama-sama menekuni olahraga beladiri karate.
"Iya, tapi ini berkelahi kan?" tanya Sakura lagi. Hinata cuma meringis.
"anak mana lagi yang jadi korban?" tanya Sakura sambil membanting tubuhnya dispring bed Hinata.
"Ya ampun, Sakura...Kesanya aku yang penjahat deh...," Hinata pura-pura ngambek.
"iya, lo bukan penjahat, tapi pahlawan. Pahlawan pembela kebetulan." Ino membelai kepala Hinata.
"Kok kebetulan sih?" Tenten bingung
"Betul ama benar sama aja, kan? Nah, kebetulan dan kebenaranya juga sama dong!" ino merasa pintar kali ini.
Hinata, Sakura, dan Tenten tertawa.
"Wah, kita datang disaat yang tepat nih. Ini kan jam makan siang" Sakura melirik nampan makan siang Hinata dengan wajah yang lucu.
"Bisa aja !" Hinata melempar Sakura dengan bantalnya.
"Makan dong ? Laper nih Hinata!" Sakura memegang perutnya.
"alah...kaya nggak bisa nyari sendiri didapur," ledek Hinata.
"ya udah, come on, kita makan!" Sakura keluar duluan dari kamar Hinata.
"Makan...makan...!" teriak mereka ribut sambil menuruni tangga menuju meja makan.
"Bi Shizune, siapin makan siang dimeja ya? Temen - temen udah kelaperan nih!"
"Baik, Hime." Shizune langsung menyiapkan nasi dan lauk-pauknya. Temen-temen hinata sering makan disini.
"Eh, nggak terasa ya, bentar lagi ujian kenaikan kelas tiga. Uuhh...aku udah nggak sabar pengen cepet liburan !" teriak Sakura semangat.
"Ampun deh, bukanya mikirin belajar buat ujian. Malah mikirin Liburan!" Hinata geleng-geleng dengerin sakura.
"Abis gimana ya, kalo ngomongin tentang liburan, aku tuh jadi semangat. Kalo udah semangat, belajar juga jadi enak," Sakura membela diri.
"Hinata, besok ada ujian Speaking lho! Kau masuk kan?" tanya Tenten sambil mengunyah nasinya.
"Iya, aku masuk kok ! Sebenernya aku gak apa-apa. Bunda aja yang terlalu kawatir berlebihan..."
"Enak ya masih punya ibu, ada yang merhatiin!" Sakura jadi sedih.
"yang enak tuh kalo lengkap gitu, kaya Ino dan Tenten." Hinata memegang tangan Sakura.
"iya, aku cuma punya ayah. Itu pun nggak tau deh, jarang pulang, jarang bicara !" Wajah Sakura terlihat mendung. Matanya yang bagus mengeluarkan air mata.
"gimana kalo bunda Hinata dan ayah Sakura nikah aja kan sama-sama single parent tuh,ya nggak?" Ino memberi ide.
"Hah... Ngaco ! Bunda udah nggak nafsu nikah lagi!"
"Lagin, aku juga mesti pikir-pikir lagi kalo harus saudaraan dengan Hinata," goda Sakura.
"Yeee...yang ada juga akunya yang rugi saudaraan ama lo!" teriak Hinata sambil menghindari lap makan yang Sakura lempar ke arahnya.
Mereka tertawa dan keliatan Sakura udah tidak sedih lagi.
"Kenapa sih, Ayah mu nggak mau nikah lagi Sakura ?" tanya ino sambil meminum jusnya.
"aku nggak rela! Nggak nikah lagi aja, Ayah udah nggak perhatian gini. Gimana nanti kalo nanti Nikah lagi? Dibuang kali!" Sakura sedih lagi.
"Hah, dibuang kemana, Sakura? Emang ayah mu sekejam itu?" tanya Ino polos.
"Please deh Ino? Itukan perumpamaan,? Jawab Tenten Kesal.
"Udah deh, janhan ngebahas itu lagi. Aku lagi bahagia banget nih!" kata Hinata riang.
"Emang ada apa sih? Tanya Sakura penasaran.
"Ya, aku bahagia karena kalian bertiga dateng kesini. Aku jadi nggak kesepian," jawabnya kemudian.
"ya udah, kita kesini aja tiap hari!" Sambut Sakura,Ino, dan Tenten berbarengan.
"Hah...! Jangan...Jangan... Bisa bangkrut aku!"
Yap selesai Chapter 2 Maaf bila tidak jelas
Oh iya terima kasih untuk yang Review yang ngingetin untuk tag Karakternya saya bener bener lupa,
Sekaki lagi terima kasih.
Untuk Chapter tiga kemungkinan besok akan Update jam 20:00
Kalo begitu Refier Log out. By
