–Kisuu Present–
.
.
HUNHAN
.
.
PROMISE? PROMISE!
MAIN CAST :
Oh sehun (17th)
Xi Luhan (18th)
Huang Zitao (17th)
Zhang Yixing (17th)
SUPORT CAST :
-All Exo Member-
.
.
WARNING:Gender Switch,OOC,Typo(s).
Semua pemeran milik tuhan,saya cuman minjem nama. Alur cerita 100% murni dari hasil tangan dan otak saya. Karena saya masih pemula jadi tolong jangan di bash atau ngasih review yang tidak berkenan ya^^maybe ini cerita agak absurd so... you don't like? just don't read:) Cerita ini hanya fiktif belaka,mungkin ada sedikit cuplikan cerita yang terinspirasi dari kisah nyata.thanks before and... i hate plagiarism.
.
.
ENJOY
.
.
Chapter 3 : Call Me Baby
.
.
Preview Chapter 2 :
"Kalau kau mau bertanya apa hubunganya, dia.." Sehun merangkul Luhan mesra. "..Xi Luhan,tunanganku.." Sehun berkata tegas dan mantap.
Zhoumi terbelalak kaget,begitu juga Luhan yang masih mencerna maksud dari semua perkataan namja albino itu. Suasana menjadi hening yang terdengar hanyalah suara dentuman basket yang berpantulan dengan lantai.
"Kau tau,aku hampir gila!" Sehun berteriak frustasi tanpa membuka matanya. Sekarang ia sedang berada di kamar Kris. Sudah menjadi ritual memang,kalau-kalau Sehun mendapat masalah,ujung-ujungnya dia pasti akan datang ke 'pelukan' Kris. Kris merupakan sahabat Sehun yang paling dekat,mereka tidak perduli kalau umur mereka terpaut 1 tahun (Kris lebih tua). Walaupun kedekatan mereka tidak terlalu kontras memang,tapi hanya Kris-lah yang tau kebiasaan Sehun,begitu juga sebaliknya.
"Aku frustasi–astaga!" Ia kembali menggeram,masih memikirkan kejadian hari senin sore. Saat dengan–sangat–entengnya dia mengklaim bahwa Luhan adalah tunanganya. Ia tidak takut dengan yang bernama Zhoumi–atau siapalah. Ia sebetulnya malu,apalagi Luhan ada di sampingnya. dan–apa-apaan?! Dia bahkan merangkulnya? Seorang Oh Sehun,sering disebut sebagai pangeran sekolah yang khas dengan wajah dinginya bersikap romantis? Lebih parahnya lagi,ia meninggalkan Luhan begitu saja di tempat parkiran,tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan selama di sekolahan? Tingkah kekanakannya kembali muncul,dia menghindari Luhan. Ckck Oh Sehun.
"Aku tau,tercatat jelas di wajahmu," Kris terkekeh melihat tingkah kekanakan sahabat-nya itu.
"Ayolah wu,ini bukan bercandaan. Aku bahkan serius dan sangat serius."
"Aku juga serius. Apa yang mengganggu fikiran-mu itu? Apa kau membutuhkan uang? Kau ingin berlibur tapi tidak ada teman?"
"Bukan bukan! Ini soal yeoja. Kau tau–"
"I'm so sorry . tapi kalau ini masalah yeoja,aku masih dongkol soal itu. Kau tau kan? Apa perlu aku menceritakannya lagi?" Kris kembali mengingat kejadian kemarin sore. Saat ia menunjukan wajah memelasnya–untuk yang pertama kali–dihadapan yeoja.
"Aah. Ya. Aku tau,si panda. Apa terjadi sesuatu antara kalian?" Kali ini Sehun membuka matanya,lalu duduk tegap sambil memandang Kris.
"Kemarin aku mengejarnya lagi. Entah mengapa aku tidak pernah lelah,sungguh. Bahkan setiap kali aku melihat wajahnya,seperti ada magnet yang terus membuatku memperhatikanya. Ini gila,aku bisa gila. Tapi itu semua tak luput dari penyesalan atas apa yang sudah aku lakukan. Haah tuhanku."
"Tenanglah,ia hanya butuh waktu. Waktu sampai ia bisa menerima kehadiranmu lagi wu. Yang mungkin menurutnya itu mengganggu–"
"YA! Bahkan kau harus tau,tadi dengan lantangnya dia bilang bahwa aku sangat mengganggunya?! Astaga,lebih baik aku meminta Huang Ahjumma untuk merestuiku segera agar aku bisa menikahi Zitao secepatnya. Ini membunuhku." Kris menggila,tubuhnya seperti pemakai narkoba. Semakin hari semakin kurus,walaupun makan-makanan yang masuk kedalam perutnya itu merupakan makanan sehat dan bergizi.
"Hahh aku mengerti.. sebaiknya–tunggu. Bukankah tujuanku kesini untuk meminta bantuanmu? Kenapa malah kau yang– ah sudahlah. Lebih baik aku ke ahlinya saja. Percumah meminta bantuan kepada perjaka tua ditinggal tak dianggap sepertimu. Heheh"
"Kurang ajar kau,awas saja. Karma berlaku kalau kau mengataiku Sehun-ah!" Kris menyiapkan ancang-ancang untuk memukul kepala sehun,tapi sehun lebih cepat menahanya.
"Sudah ah,aku tidak ada waktu lagi. Aku pergi,nanti ku telepon lagi. Bye wu!"
"Yak! Sehun–Oh Sehun! Kau mau kemana?! Yak aku ikut! Aish sialan" Kris berteriak namun terlambat,Sehun sudah pergi meninggalkan kamar megahnya. Dengan cekatan ia mengambil mantel dan sneakers nya dan bergegas menyusul Sehun yg sudah mendahuluinya.
…
…
Tok Tok Tok
Pintu kamar berwarna putih dengan tulisan 'Xilu' diketuk oleh yeoja berpipi tembam.
"Lu,kau ini kenapa? Aku datang kesini kau malah bersikap buruk padaku. Harusnya kau menyambut kehadiranku,aku ini sepupu-mu Lu! Apa kau tidak me–" belum juga yeoja yang 'agak' berisi itu menyelesaikan pidato-nya,pintu berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga itu terbuka. Luhan mencondongkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengomel barusan.
"Eh Xiu jiejie,kenapa?" Kim Minseok atau yang lebih sering dipanggil Xiumin itu berdecak sebal.
"Aku sudah bulak-balik hampir 20 kali ke kamarmu,dan kau bertanya kenapa? Astaga,XiaoLu mungkin seharian ini aku bisa jalan-jalan keliling kota seoul tapi nyatanya mama Ah Rin menyuruhku untuk mengajakmu makan?! dan–apa-apaan kau ini?! Hah?! Tidak biasanya kau mengurung diri dikamar seperti itu! Yatuhan,bahkan kau belum sarapan?! Tadi kau berangkat sekolah belum sarapan?! lalu–"
"Jie,stop. Aku pusing. Astaga. Dulu aku punya dosa apa sampai kau memarahiku seperti itu. Masuklah,kita bicara di dalam saja." Luhan menggeser posisinya,sedikit memberi ruang agar Xiumin bisa masuk.
"Kau tidak berubah. Haah aku merindukanmu~ Kau harus tau,Beijing sekarang berubah–aah ya aku lupa,kau tidak pernah melihat hamparan Beijing." Xiumin memeluk Luhan dengan perasaan rindu yang terpendem. Jelas saja,mereka sangat dekat. Mereka sudah bagaikan adik-kaka. Xiumin dan Luhan sama-sama anak semata wayang di keluarga mereka. Mereka sudah seperti adik dan kakak yang sulit dipasahkan. Wajah mereka nyaris mirip dengan perbedaan Xiumin lebih chubby. Mereka lahir di tahun yang sama,namun Xiumin lebih tua beberapa bulan dari Luhan.
"Hahh yaa ya. Jadi,kapan kau mulai sekolah? Aku akan minta Eomma menempatkanmu di kelas yang sama denganku." Luhan membalas pelukan sepupu kesayanganya itu. Ia mengelus sayang punggung mungil Minseok.
"Senin,sebagai murid baru haha. Cih,kau ini. Selalu saja seperti itu,sudahlah aku tidak ingin merepotkan mama Ah Rin lagi." Xiumin melepaskan pelukanya,dan menghempaskan tubuh rampingnya diatas sofa berwarna soft pink yang terletak ditengah kamar Luhan.
"Lalu selanjutnya kau akan tinggal dimana?"
"mama Ah Rin menyuruhku untuk tidak membeli apartemen disini. Mama Ah Rin bilang 2-3 minggu lagi pembangunan kamarku dilantai dasar akan selesai. Jadi untuk sementara aku tidur di kamarmu dulu,bersamamu. Tidak apa?"
"apanya yang tidak apa? Ini bagus jie! Akhirnya aku memiliki roommate. Yayy" Luhan melompat kegirangan,ia kelewat bahagia.
"Lu,jangan melompat-lompat! Haish.. kebiasaan. Oh,ya. Bagaimana sekolahmu itu? Apa seru? Atau.. biasa saja? Kantinya–ah tidak. Beritahu alasan,kenapa kau mengurung diri di kamar? Semenjak pulang sekolah tadi kau tidak keluar-keluar kamar."
"aish padahal aku kira kau sudah melupakan topic itu. Baiklah,akan kuceritakan jie. Tunggu ya,akan aku ambilkan camilan!"
…
…
Sehun menghela nafas berat sebelum memencet bel rumah mewah yang ada di hadapanya. Baru juga ia akan memencet bel,namja tiang disampingnya mendahului.
"Kau lama sekali,seperti mau melamar seseorang saja." Kris terkekeh.
"berisik. Lagipula untuk apa kau mengikutiku? Merepotkan saja."
"sopanlah,aku ini lebih tua darimu."
Ting Tong.
Yeoja bermata panda yang tadinya sedang menonton tv,terperanjat mendengar suara bel. Ia bingung,kenapa para maid tidak membukakannya.
"Sujin eonni kenapa tidak dibuka? Haish biar aku saja yang membukanya"
"Maaf nona muda,"
Zitao sedikit berlari untuk membuka pintu.
"Ya,sebentar. Astaga apa yang si hitam itu lakukan,apa dia tuli?" Zitao bermonolog kesal.
"Si–Astaga kau!"Mata panda-nya terbelalak melihat siapa yang ada di depan pintu,yang tadi memencet bel. Ia tidak menyadari bahwa ada makhluk lain yang berdiri disana,menatap mereka panic.
"Zi–" Belum juga Kris selesai bicara,Zitao sudah membanting pintu itu.
"Bwahahah sudah kubilang. Seharusnya aku yg memencetnya. Dasar bodoh." Sehun tertawa puas melihat kejadian yang ada di hadapanya. Sebetulnya ia khawatir,tapi toh memang sudah biasa. Kris yang menanggapinya hanya menggeram. Tapi ia tidak kesal. "Akan ku telepon Kkamjong. Dan juga tujuanku kesini itu menemui Jongin,lalu untuk apa kau mengikutiku? Seingatku kau tidak dekat dengan jongin. Kau kan–aah! Aku tau! Kau hmpph!" –tangan besarnya tidak segan membekap mulut lelaki albino yg sedang bicara seenaknya.
"kalau kau sudah paham,jangan berbicara atau aku hancurkan seluruh rubiks yang ada di rumahmu. Paham?" Sehun mengangguk ketakutan mendengar ancaman sahabat-nya. Rubiks? Yang benar saja. Ia bahkan rela tidak makan satu bulan hanya untuk merengek pada kedua orangtuanya,demi rubiks segitiga limited edition. Hanya 5 pemecah rubiks terbaik di dunia yg bisa mendapatkanya. Saat itu dewi fortuna berpihak pada si kecil Oh Sehun–umurnya masih 8 tahun saat itu–pamanya merupakan pemecah rubiks terbaik terakhir dan dengan senang hati ia memberikan rubiks segitiga limited edition itu kepada keponakanya. Untuk apa rubiks itu bagi seorang pengusaha kaya seperti paman Sehun contohnya? Astaga,dia punya banyak uang untuk itu. Oke kembali ke cerita.
Sehun mencari-cari kontak bertulisan nama 'jongin'. Alisnya berkerut bingung. "hey,Kris. Di ponselku ada 5 nama untuk sebutan Jongin. Disini ada Kai,Kkamjong,Jongin,Kaijong,dan Huangjong. Kelimanya berada dalam daftar favorite-ku. Aku bingung harus pilih yang mana. Dia sudah 5 kali–"
"Cukup." –Kris mengangkat tanganya "apa ancamanku barusan masih kurang? Kenapa kau tidak coba saja hubungi kelimanya? Dasar bodoh." Dan disusul dengusan nafas Sehun yg menyebalkan.
15 menit setelah percobaan 'menelpon Jongin',pintu besar itu kembali terbuka,bedanya sekarang memunculkan si bungsu dari keluarga Huang.
"mau apa?" Namja itu bertanya dengan tidak sopanya–Huang Jongin. Putra bungsu dari keluarga Huang.
"Hey,calm down. Aku kemari bukan untuk mengajakmu bermain judi,hentikanlah wajahmu itu yg menunjukan bahwa kau siap kalah. Ck,yg benar saja."
"Bukan kau,dia" Tangan hitamnya menunjuk tepat didepan wajah namja jangkung.
"Aku juga bahkan lebih tua darimu. Cepatlah,kakiku pegal." Kris mengeluh sembari mengusap-usap pantatnya.
"Yasudah,masuk saja." Jongin member space agar kedua tamunya bisa masuk.
…
…
Dentingan sendok dan piring terdengar menghias suasana hening di meja makan itu. Tuan rumahnya yang tengah serius menyantap penutup,sedangkan tamunya sudah selesai dengan semua santapanya.
"ini sangat lezat,terimakasih atas jamuanya,keluarga Kim." Yixing membungkuk sopan,sedikit berhati-hati takut-takut menyenggol piring/gelas mengingat posisinya masih terduduk manis di meja makan.
"Tentu saja sayangku. Sebaiknya kita tidak usah terlalu lama jadi… bagaimana keputusanya tuan dan nyonya Zhang?" ujar nyonya kim sopan sambil membasuh permukaan bibirnya yang sedikit kotor dengan sapu tangan.
"Bagaimana kalau bulan depan?" Tuang Zhang mengusulkan.
"tunggu,apa yang sedang kalian bicarakan?" Joonmyeon menyela.
"Pernikahan kalian tentu saja,apalagi?"
"Tapi mom–"
"Tidak sayang. Tidak ada tapi."
"Apakah tidak terlalu cepat?" Yixing panic.
"Itu benar,sayang sebaiknya biarkan mereka bersekolah dengan benar dulu." Nyonya Zhang mengelus lengan suaminya sambil mengeluarkan suara dengan nada memohon.
"Benar kata nyonya Zhang. Bagaimana kalau setelah acara kelulusan kalian saja?"
"APA?!" teriak Yixing dan Joonmyeon bersamaan.
…
…
"Jadi... Kesalahanya dimana Lu?" alis pemilik pipi tembam itu terangkat sebelah.
"Astaga–Jie! Dia meninggalkanku diparkiran setelah semua yang ia lakukan itu!"
"Menurutku,itu biasa. Lagipula itu cerminan kalau ia sedang gugup. Kau saja yang tidak peka. Dasar bodoh. Ah–kudengar tadi kau cerita soal kencan? Dengan si Sehun sehun itu? Kalau kau cerita kejadian ia mengajak kencan kemarin dan rencananya itu akhir pekan,berarti besok? Iyakan?"
"haah…" Luhan menghela nafas berat sebelum melanjutkan kata-katanya. "Lupakan soal itu. Aku putus asaa." Setelahnya Luhan menggerang frustasi.
Xiumin berinisiatif mengusap pundak sepupu kesayanganya itu. Tangan satunya ia gerakan untuk menggenggam tangan lembut milik Luhan. "Dengar. Apapun yang terjadi,ada aku. Oke? Kau bisa menceritakan segalanya kepadaku. Jangan takut lu."
"Hey,siapa yang takut? Haish kau ini berlebihan. Sama seperti eomma. Sudahlah aku lelah." Luhan kembali menggerutu. Ia berjalan kearah kasurnya dan langsung merebahkan badan langsingnya disana.
"Eyy dasar tidak tau terimakasih. Kita belum selesai bicara! Yak Xilu wake up ppali! Haish tidak sopan"
Bugh
Xiumin melempar telak kepala luhan dengan bantal sofa yang ukuranya lumayan.
"Yak!"
"Hehehehe,mian mian.."
…
…
Jantungnya berpacu cepat ketika sang pujaan hati yang sedang ia tunggu tak kunjung menampakan diri. Sudah lebih 20 menit dari waktu yang ditentukan. Namja itu putus asa lalu membalikan badanya dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya menuju arah pulang. Langkah pertamanya terhenti ketika suara lembut yang selama ini menempel jelas di otaknya terdengar menyapa gendang telinganya. Bulu kuduknya berdiri seakan mendengar seruan bidadari.
"Maaf aku terlambat,apa kau baik-baik saja? Hidungmu merah" Tangan Luhan terulur guna menyentuh hidung Sehun yang memerah. Faktor kedinginan mungkin. Tapi dengan sigap Sehun menjauhi arah gerak tangan Luhan. Menurutnya ini terlalu cepat untuk melakukan skinship,apalagi mereka baru saja kenal.
Kalau kalian bertanya dimana mereka–Luhan dan Sehun–sekarang,mereka berada di Sungai Han,tempat yang mereka janjikan beberapa hari yang lalu. Awalnya Luhan ingin kabur dari kencan 'dadakan' ini sebelum sebuah pesan masuk membuatnya bersemu, "Berdandanlah dengan sangat cantik,kutunggu pukul 3 siang sesuai janji,Tuan Putri!". Akhirnya Luhan mau,dengan beberapa kalimat pidato dari Xiumin.
"A–aku tidak apa-apa. Lalu.. kita akan kemana sekarang?"
"Sepertinya Tao akan terlambat. Kita harus menunggu. Bukankah temanmu akan datang?"
"Apa kau bilang? Tao?"
"iya,memangnya kenapa?" Luhan memiringkan kepalanya.
"Astaga aku mengajak Kris" Wajah Luhan pucat,disusul dengan Sehun yang malah menyeringai senang.
Setelah 15 menit masa-masa susah yang dialami oleh Sehun dan Luhan–sebetulnya hanya Luhan,Yeoja China berbalut pakaian hangat yang sangat modis itu menampakan dirinya. Diikuti oleh namja yang lebih tinggi darinya,senyum manis tak pernah luntur dari bibirnya.
"Sehun,Kau harusnya bilang kalau Luhan membawa Zitao. Jadi aku bisa pergi membeli hadiah untuknya." Kris berujar sambil tersenyum kepada Sehun.
"Demi tuhan aku tidak akan menerimanya sialan" Zitao memberengut tak suka.
"Nice Zi,bahasa-mu"
"Hahaha,baguslaah. Ini seperti double date! Ayo Sehun,kita mau kemana?"
"Tsk,double date apanya. Sudahlah aku hanya mengawasi."
"Kita akan pergi ke tempat favorite-ku. Kau pasti akan menyukainya,Lu.." Sehun menggandeng tangan Luhan dan berjalan meninggalkan dua insan dibelakangnya yang saling memunggungi. Luhan hanya bersemua merah ketika kehangatan dari tangan Sehun mulai menjalar ke tubuhnya.
30 menit kemudian Sehun,Luhan,Tao dan Kris sudah sampai di tempat 'bersenang-senang' yang pertama. Tempat yang dimaksud oleh Sehun ini merupakan tempat berkumpulnya anak-anak yang memiliki penyakit keras.
"ini adalah panti biasa aku datang. Kemari Lu,aku akan menunjukan sesuatu kepadamu. Kalian jangan mengikuti kami terus,menyebalkan sekali." Sehun menggerutu sambil kembali menggandeng tangan Luhan.
…
…
Sepeninggalan Sehun dan Luhan,Kris dan Tao sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka seolah-olah tidak mengenal satusama lain. Jarah diantara mereka lumayan dekat,tapi seakan ada benteng china yang menghalagi mereka berdua.
"Zi.." Kris meruntuhkan bentengnya. Zitao hanya diam menghadapinya,tapi Kris sudah paham itu.
"Zi kali ini tolong tatap aku saat aku sedang berbicara. Anggap saja ini permintaan terakhirku. Mudah kan? Kurasa aku tidak perlu memaksamu." Zitao mendongakan kepalanya,mata pandanya bertabrakan langsung dengan mata mempesona milik Kris. Sudah lama semenjak ia terakhir menatap mata mantan kekasihnya itu. Setiap kali ia menatapnya,memori buruk itu selalu terulang. Mata panda-nya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
"Kau tau,kemarin aku mengunjungi rumahmu,kau pasti tau itu. Aku sedang menemani Sehun,dan… aku berbincang sedikit dengan adikmu. Ia tampak tidak menyukaiku haha" Kris tertawa getir "Aku paham itu,dia pasti tidak akan suka kalau dulu kakaknya disakiti oleh lelaki sepertiku".
"Kris tolong,aku tidak–"
"DENGARKAN AKU YANG SEDANG BERBICARA!" nafasnya memburu,emosinya mulai membuncah.
"Kau tau aku lelah zi. Kau benar. Mungkin suatu saat aku akan bosan mengatakan kata 'maaf' kepadamu,dan inilah saatnya. Aku mulai bosan zi. Tapi kau juga salah. Kalau kau bilang aku akan bosan mencintaimu,dan itu tidak terjadi hingga sekarang. Aku selalu menunggu kapan aku merasa bosan mencintaimu tapi tidak zi. Tanggal-tanggal di kalender itu sudah penuh dengan lingkaran yang bertanda bahwa aku masih mencintaimu. Aku tau aku salah saat itu,tapi kau tidak mau mendengar penjelasanku. Kau selalu seperti ini. Pergi lalu melupakan semua hal yang sudah terjadi. Seolah aku ini hanya buku bekas semester lalu yang tidak perlu lagi kau gunakan? Kumohon zi,maafkan aku.. sekali lagi ini menyik–ah tidak,ini membunuhku zi."
Zitao terisak,ia menangis. Bahunya bergetar,bulir airmata mulai berjatuhan membelah permukaan pipi tembamnya. Kris menjulurkan tanganya,ia mengusap pelan airmata sialan itu lalu merengkuh Zitao kedalam tubuh besarnya. Matanya terpejam,ia merindukan aroma ini. Aroma mantan kekasihnya yang tidak bisa ia lupakan selama 2 tahun ini. Tangan kanan-nya mengelus rambut bersurai hitam milik Zitao. Dia mati rasa,ia amat sangat merindukan tubuh mini mantan kekasihnya itu.
"Saat itu kau hanya salah paham. Semua perkataanku saat itu hanya kebetulan saja terdengar olehmu. Demi tuhan,aku mencintaimu zi. Aku tidak menganggapmu sebagai pelarian atau apapun hal sialan lainya. Aku jatuh cinta sampai tidak bisa berdiri lagi,kepadamu zi. Maafkan aku kalau aku datang hanya bisa menghancurkan kehidupanmu zi.. Jadi kumohon… Beri aku satu kesempatan lagi. Aku tidak akan merusaknya. Aku akan menjaganya seperti berlian bening diatas bantal merah lalu ditutupi oleh besi. Aku berjanji zi. Jangan biarkan aku menjadi buku bekas pakai semester lalu zi.." Kris melepaskan pelukanya. Air menggenang di pelupuk matanya,sudah tidak bisa ia bending lagi. Zitao menunduk. Isakan-nya mulai mereda bersamaan dengan terlepasnya rengkuhan Kris.
"Aku…." Kepalanya terangkat,mata sembabnya menatap Kris.
"…. Aku Akan menggunakan buku bekas semester lalu itu untuk ujian kelulusan,Kris-ge…" bibir kucingnya terangkat membentuk sebuah lengkungan manis yang sudah lama tidak ditujukan untuk Kris. Kris-nya sekarang.
"Demi Tuhan aku akan menikahimu sekarang zi,Thankyou!" Kris terlampau senang,ia kembali memeluk Zitao-nya tapi kali ini lebih erat. "Aku mencintaimu zi,aku amat-sangat mencintaimu. Terimakasih" Ia tersenyum sambil membiarkan air mata bahagia itu lolos dari mata elangnya.
"Aku juga ge,maaf sudah membuatmu menunggu" Zitao tersenyum lega,masalah batin-nya sudah selesai sekarang. Keduanya sangat bahagia sekarang.
…
…
Sepasang anak remaja itu kini sedang duduk behadapan di bangku salahsatu tempat penjual bubble tea. Tangan keduanya masing-masing menggenggam segelas plastik medium bubble tea dengan rasa yang berbeda.
"Sehun-ah,apa kau sudah menghubungi Kris?"
"Untuk apa?" Sehun berkata cuek sambil menyeruput bubble tea-nya.
"Kita meninggalkan mereka disana! Astaga Sehun. Aku khawatir dengan Zitao. Lagipula untuk apa kau mengambil ponselku? Kembalikan!" Tangan Luhan mengepal.
"Sudahlah Lu,yang sedang kencan itu kita bukan mereka. Ini.." Sehun mengambil sesuatu dari saku mantelnya. "Agar kita bisa lebih dekat tanpa gangguan apapun termasuk ponsel. Kau mengerti nyonya Lu?" lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan ponsel milik Luhan.
"Haishh dasar tidak sopan. Bagaimana kalau–yak,kau tidak memanggilku dengan sebutan 'noona' ?!"
"Kita hanya beda setahun astaga. Sudahlah,ayo kita ke tempat yang lain." Serunya sambil melempar gelas bubble tea-nya yang sudah kosong. Tangan Sehun yang satunya kembali menarik tangan halus Luhan.
Sepulang dari panti tadi,mereka langsung melaju meninggalkan 'dua insan berbahagia' menuju penjual bubble tea,tempat favorite Sehun,dan Luhan langsung menyukainya.
Keduanya berjalan menuju taman bermain,mereka hanya mengobrol sambil tertawa riang. Sesekali Sehun melontarkan leluconya untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka.
"darimana kau mengenal Kris?"
"dulu,aku sangat dekat dengan Tao dan Kris. Kami bertemu saat… tunggu aku lupa ah! appa sedang ada proyek di Beijing,tapi aku menetap di Qingdao bersama paman dan bibi Kim. Lalu aku sekolah bahasa China selama 5 bulan,setelahnya aku langsung masuk sekolah dasar. Dan… aku dekat dengan mereka. Setelah lulus sekolah dasar,aku harus kembali ke Korea,tapi Kris dan Tao tidak bisa ikut denganku. Dan kau tau apa yang terjadi? 2 minggu setelah kepindahanku ke Korea,di sekolahku ada 2 murid baru! Itu mereka! Kris dan Tao! Aku sangat senang sekali. Kami semakin lama semakin dekat,seperti tiga sahabat yang sangat berbahagia. Namun,semua berubah saat tingkat terakhir Junior High School. Zitao memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepada Kris,dan Kris yang yaah memang wataknya playboy dengan seenaknya menyatakan cinta kepada zitao,sampai kejadian nista itu terjadi.. dan…." Sehun menunduk,ia tidak bisa kembali melanjutkan kata-katanya. Tangan Luhan mengusap pundak lelaki yang ada di sebelahnya.
"Sudahlah.. tidak apa-apa… kita sekarang teman,bukan?" Luhan tersenyum manis,membuat kedua mata rusanya ikut tersenyum.
"Ya,kita teman" Sehun ikut tersenyum,melupakan rasa sesak yang sempat menjalar di dadanya.
"Terimakasih Sehun-ah…"
"Kenapa tidak memanggilku dengan panggilan 'sayang' saja Lu? call me baby!"
"astaga Sehun,kau menyebalkan!" Luhan memajukan bibirnya,terlihat sangat manis. Orang-orang yang berlalu lalang mengamati mereka dengan pandangan kagum,mereka seperti pasangan serasi. Keduanya kembali tertawa riang sampai tidak merhatikan ada 'bencana' yang akan datang.
"Xi Luhan!"
Mata rusa-nya membulat sempurna,wajahnya pucat dan bibirnya membuka tutup tidak karuan melihat seseorang yang ada di hadapanya sekarang.
"Eom–eomma…."
Waktu seakan berhenti,dan bendera merah tanda bahaya baru saja dikibarkan.
..To Be Continued..
Thankyou
–Sun,02 Aug'15,Kisuu–
Hey,Mian ya late update. Kan Kisuu gak janji kalau update-nya bakalan cepet. sekali lagi maaf hehe. thanks buat review-nya. ohya dan buat yang bilang kevin itu Kris,anggap aja Kevin disini bukan Kris okay? Kris dan Kevin itu beda. Dan buat chapter ini,HunHan moment-nya masih kurang. soalnya mau nuntasin masalah-masalah setiap Cast dulu tar baru deh masalah hunhan muncul,tapi disini masalah per cast-nya udh beres yaa. jadi gaada beban deh hehe/?. buat Chanbaek shipper,tunggu chapter depan yaa. mereka bakalan muncul kok^^okay sekian,Umm Review juseyoo~!
