Sakura mengira Hashirama menganggapnya gila.

Setelah mendengar penjelasan dari perempuan berambut merah muda itu, si calon pemimpin klan Senju tampak bimbang. Dia menyuruh Sakura untuk beristirahat, sementara dia pergi dari sana.

Satu jam berlalu semenjak pembicaraannya dengan Hashirama. Sakura tak bisa tidur atau beristirahat. Dia hanya mondar-mandir gelisah di dalam ruangan tempat dia dirawat, memikirkan tentang putrinya dan juga cara kembali ke masa depan.

"Terlalu lama berada di zaman ini juga bisa berbahaya," gumamnya. Sakura tidak mau menjadi penyebab perubahan yang terjadi di masa depan karena dia tidak bisa menjaga mulut.

Kalau sejarah berubah, maka masa depanpun akan ikut berubah. Jika itu berdampak baik, tak masalah. Tapi jika itu beradampak buruk ... Sakura tidak berani memikirkannya.

Tadi Sakura hanya menjelaskan tentang nama, asal dari masa depan, dan juga alasan kenapa dia terlempar ke masa lalu pada Hashirama. Dia tidak memberikan gambaran secara detail seperti tentang desa asalnya Konoha, yang merupakan desa bentukan Hashirama. Dan juga statusnya sebagai menantu keluarga Uchiha, klan suaminya yang nyaris 'punah' di masa depan. Sakura berharap Hashirama mempercayainya, dan bisa mengerti kenapa dia tidak dapat memberi banyak informasi.

"Aku harus segera keluar dari sini dan mencaritahu bagaimana cara untuk pulang. Tidak ada gunanya terus berdiam diri dan menunggu Hokage pertama. Belum tentu dia percaya padaku dan mau membantu," dia berkata pada dirinya sendiri sembari beranjak menuju pintu.

.

.

.

"Kau mempercayainya?"

"Aku tidak melihat kebohongan di matanya." Tobirama mendengus mendengar jawaban Hashirama.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah bangunan semi permanen milik klan Senju, yang biasa digunakan untuk pertemuan membahas rapat darurat perang. Semua sedang berkumpul di tempat itu untuk membahas penyerangan mendadak klan Uchiha, di sebuah rumah singgah milik salah seorang anggota klan Senju, yang menewaskan beberapa anak kecil tak berdosa.

Hashirama dan Tobirama berdiri di barisan paling belakang, sambil menununggu sang ayah sebagai pemimpin klan muncul untuk membuka pertemuan. Mereka berdua saling berbisik membahas masalah perempuan Uchiha yang ditolong si sulung.

"Itulah yang kukhawatirkan, orang naif sepertimu memang tidak bisa membedakan mana orang bohong dan mana orang jujur."

Ctak. Perempatan siku-siku muncul di kepala Hashirama mendengar komentar adiknya.

"Apa maksud perkataanmu itu, hah?" tanya Hashirama tersinggung. Tobirama mengabaikannya.

"Setelah ini biarkan aku bicara dengannya. Biar aku saja yang menilai perempuan itu jujur atau tidak."

"Uhn. Uh," Hashirama tampak ragu,"Asal kau tidak buru-buru melaporkan dia pada Ayah."

Si tampan berambut perak itu mendengus mendengar perkataan sang kakak. Sejak kejadian dia melaporkan pada Ayah mereka mengenai persahabatan yang terjalin diantara kakaknya dan Madara Uchiha. Hashirama jadi sedikit meragukannya.

"Aku sudah bilang kan padamu. Kalau perempuan itu berbahaya, kau sendiri yang harus membunuhnya."

Hashirama tak menanggapi.

"Jikkukan no Jutsu."

"Hmmm?"

"Kau bilang perempuan itu datang dari masa depan menggunakan Jikkukan no Jutsu yang dikeluarkan oleh musuhnya." Tobirama memasang ekspresi serius seperti yang biasa dia lakukan ketika sedang berpikir.

"Hm-um, dia bilang begitu." Hashirama mengangguk, membenarkan.

"Dan musuhnya adalah seorang Uchiha?"

"Dia juga bilang begitu."

Pemuda yang mendapat julukan sebagai Shinobi tercepat dari klan Senju itu menatap kakaknya sebal. Menurut Tobirama, Hashirama terlihat bodoh saat mengucapkan kalimat tak bermutu secara berulang-ulang.

"Uchiha melawan Uchiha, sebenarnya apa yang terjadi dengan klan Uchiha di masa depan?"

Tobirama dan Hashirama berhenti berdiskusi setelah melihat ayah mereka memasuki tempat pertemuan, diikuti beberapa tetua klan Senju.

Saat pertemuan berlangsung, pikiran Tobirama tidak fokus pada topik pembahasan. 'Kalau perempuan itu benar berasal dari masa depan, dan tertarik ke masa lalu karena jikkukan no jutsu yang dikeluarkan lawannya. Itu berarti Uchiha lain lawan perempuan yang ditolong Hashirama, juga terlempar ke masa ini. Aku merasa sesuatu yang besar akan terjadi.' menarik napas berat. Senju Tobirama menggelengkan kepalanya sebentar, lalu mencoba fokus pada pertemuan yang sedang berlangsung.

.

.

.

Konoha masa lalu dan Konoha di masa depan benar-benar berbeda. Tak ada desa. Tak ada penduduk sipil yang melakukan aktivitasnya dengan bebas. Tak ada anak-anak yang bermain dan berlari riang karena merasa aman. Selain itu tak ada rumah-rumah penduduk yang dibangun berdekatan, menandakan keakraban.

Sakura berpikir bahwa di masa lalu orang-orang membuat wilayah dan membangun pemukiman berdasarkan klan masing-masing. Pasalnya, saat berjalan keluar dari kediaman klan Senju tadi, dia tidak melihat rumah lagi. Bahkan pemukiman warga, yang jumlah rumahnya pun bisa dihitung jari, letaknya sekitar dua ratus meter dari kediaman klan Senju.

Ketika para penduduk sipil itu berada diluar rumah dan melihat Sakura, mereka langsung ketakutan dan menarik anak dan istri mereka untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.

Sakura bisa merasakan tatapan ngeri penduduk yang mengintip saat dia berjalan melewati pemukiman tersebut. Peperangan antar klan shinobi yang terjadi, membuat mereka tak merasa aman. Sakura bisa memakluminya. Dalam hati dia merasa perihatin sekaligus bersyukur. Dia merasa perihatin pada kehidupan orang-orang di masa lalu yang hidup dalam ketakutan, dan dia juga bersyukur bahwa dia tidak dilahirkan di zaman ini. Haruno Kizashi hanya penduduk sipil yang mencari nafkah sebagai pedagang, dia lelaki payah yang takut istri. Sementara Haruno Mebuki adalah ibu rumah tangga biasa yang galak, Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan dia bersama ayah dan ibunya, jika dilahirkan di masa lalu.

Tanpa sadar, langkah kaki Sakura membawanya keluar dari pemukiman warga dan masuk ke dalam hutan.

"Sepertinya aku sudah terlalu jauh berjalan," gumamnya pelan. Dan sesaat kemudian matanya melebar saat merasakan keberadaan beberapa chakra shinobi di hutan itu. Dia menajamkan pendengaran.

Srakkk!

Tring!

"Akh!"

Suara tubuh yang melesati rerimbunan pohon dan juga dentingan kunai. Sebuah pertarungan sedang terjadi, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Penasaran, Sakura segera berlari dan melompat ke atas pepohonan. Pergi menuju sumber suara.

Dan betapa terkejutnya perempuan bersurai merah muda tersebut saat mengetahui apa yang terjadi. 'Demi kami-sama ...' Mata hijaunya melebar melihat dua bocah kecil (laki-laki dan perempuan) berusia sekitar tujuh tahun atau lebih, dan berpenampilan seperti shinobi, tampak dikepung oleh sekitar delapan orang shinobi yang jauh lebih dewasa dari keduanya. Sakura tidak mengenali lambang klan yang tergambar di belakang baju para shinobi tersebut.

Tanpa merasa iba bahwa musuh mereka hanyalah anak-anak. Para shinobi dari klan yang-entah-apa-itu menodongkan pedang pada si kunoichi kecil yang mencoba melindungi temannya yang sedang terluka pada bagian perut.

Walau gemetaran gadis kunoichi kecil itu tetap memasang kuda-kuda untuk melindungi teman laki-lakinya, kedua tangannya yang memegang kunai teracung ke arah lawan. Dari balik persembunyiannya, Sakura dapat melihat tekad yang terpancar dari mata obsidian gadis kecil itu. Dia mengingatkan Sakura pada dirinya di masa lalu (atau mungkin di masa depan?) saat mencoba melindungi Sasuke dan Naruto yang terluka waktu melaksanakan ujian chunin di hutan terlarang. Dan dia juga mengingatkan Sakura pada putrinya, Sarada, mereka sama-sama memiliki mata hitam dan kulit pucat bersih seperti khasnya klan Uchiha. Sarada dan gadis kecil itu juga sama-sama memiliki rambut gelap, namun bedanya rambut Sarada pendek, sementara rambut si gadis kunoichi kecil panjangnya sepunggung, seperti model rambut Sakura saat masih genin.

"M-menjauh ... menjauh d-dari kami ..." dengan suara bergetar takut, dia mencoba menggertak, menyabetkan kunainya pada musuh-musuh dewasa yang justru menertawakan.

"S-Sara ... lari." gadis kecil itu bergeming, mengabaikan saran dari temannya yang terluka.

"Hahaha. Anak-anak kecil Uchiha memang pemberani," Sakura terkejut bukan main saat mengetahui bahwa kedua anak itu adalah anak-anak Uchiha, "tak heran mereka selalu mati dengan cara menyakitkan." salah satu shinobi berkata dengan nada mengejek.

"Aku heran Uchiha adalah klan yang kuat. Tapi kenapa mereka mengirim anak-anak lemah seperti ini ke medan pertempuran," teman shinobi itu menimpali.

"Ah. Sudahlah, sebaik kita bunuh saja mereka dan penggal kepalanya untuk dikirim ke kediaman klan Uchiha."

'Demi Kami-sama, mereka hanya anak-anak,' batin Sakura ngeri. Gadis Uchiha kecil bernama Sara itu mengingatkan Sakura pada Sarada, putrinya. Mau tak mau, saat pedang salah satu shinobi terayun hendak melukai Sara. Tubuhnya bergerak maju untuk melindungi.

"SHANAROOO!"

TRAKK!

BUAGH!

Dia melompat dari pepohonan, dan menghantamkan kepala shinobi tak tahu diri (yang hendak melukai anak-anak itu ke tanah), menyebabkan ledakan dan retakan besar. Disaat para shinobi itu kelimpungan, dengan cepat Sakura menyambar Sara dan teman laki-lakinya untuk dibawa kabur dari sana.

.

.

.

(Konoha masa sekarang)

Sarada tampak gelisah dalam tidurnya. Dia menggeliat tak nyaman, bulir-bulir keringat membasahi kening putri pasangan Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura tersebut.

"Mamaaa. Hiks. Mamaa." Dia terisak penuh penyesalan. "Mama. Uhn. MAMAAAA!" Sarada tersentak bangun, mata obsidiannya membeliak ketakutan. Sesaat dia tampak linglung dan terorientasi. Kamar gelap tanpa pencahayaan dan berada di atas tempat tidur sendirian.

Pintu kamar terbuka, menampakan Yamanaka Ino dalam pijama tidurnya, melemparkan tatapan cemas ke arah Sarada. Di belakangnya Paman Sai dan juga Inojin. Mereka pasti terbangun setelah mendengar teriakan Sarada. Dan gadis kecil berambut gelapp itu baru ingat kalau dia menginap di rumah Bibi Ino, Ayahnya sudah pergi untuk menyelamatkan ibunya yang dibawa pergi oleh Akatsuki.

Mengingat Ibunya membuat Sarada kembali sedih. Dia memandang Ino dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis. Belum lagi mimpi buruk yang dia alami.

"Sarada Sayang, kau kenapa?" tanya Ino cemas sembari menghampiri ranjang tempat putri sahabatnya tidur.

Tak menjawab, Sarada langsung memeluk Ino. Menangis menenggelamkan wajahnya di lekukan perut wanita dewasa itu.

"Mamaa. Mamaa. Aku bermimpi buruk tentang Mama," isaknya.

Wajah Ino langsung berubah sedih, dia menoleh memandang suaminya yang juga tampak perihatin melihat kondisi anak Sakura tersebut.

"Sayang, tak apa. Itu hanya mimpi buruk. Mamamu pasti baik-baik saja," hibur Ino walau dalam hati dia juga menghawatirkan nasib sahabatnya sedari kecil itu. Sakura dibawa pergi oleh anggota akatsuki baru, menggunakan jikkukan no jutsu. Dan siapa yang tidak tahu sepak terjang akatsuki. Anggota akatsuki terdahulu saja begitu kuat dan sanggup membuat para shinobi dari lima negara besar kerepotan. Lalu bagaimana dengan anggota akatsuki yang sekarang? Tak menutup kemungkinan bahwa Sakura juga sudah dibunuh oleh mereka.

"Aku bermimpi Mama mati." Mata biru Ino melebar mendengar perkataan Sarada, dia kemudian mengeratkan pelukannya pada gadis kecil itu. "Bibi Ino, apakah Mamaku akan baik-baik saja? Apakah Ayah bisa membawa Mama pulang kembali?"

"Ayahmu pasti bisa membawa ibumu pulang," sahut Sai sembari berjalan menghampiri Ino dan Sarada diikuti Inojin. "Mereka berdua ninja-ninja yang kuat yang berhasil menghajar banyak musuh di perang dunia ninja keempat. Jadi mereka pasti bisa pulang," kata Sai yakin.

Sarada berhenti menangis. Dia menatap Sai penuh harap, dan itu membuat Ino tersenyum. Memiliki anak, membuat mantan anak buah Danzo itu sedikit lebih memahami tentang ikatan dan emosi.

"Benarkah?"

"Ya benar," kata Sai sambil tersenyum polos, "jelek-jelek begitu ibumu memiliki gabungan kekuatan badak dan gajah, hampir semua laki-laki teman satu timnya (kecuali Ayahmu) pernah terpental kena tinju mautnya." Sarada tidak tahu harus berekspresi seperti apa mendengar perkataan Paman Sai. Inojin bengong. Sementara Ino langsung memasang tampang aneh. "Sedangkan Ayahmu, walau tampangnya menyebalkan tapi dia ninja yang kuat. Satu-satunya lawan yang sanggup membuat Naruto kerepotan. Jadi Sarada, kau tidak perlu khawatir," ucap Sai sembari melemparkan sebuah senyum innocent yang membuat hati meleleh.

'Sepertinya aku harus mengajari Sai-kun tentang perbedaan menghina, mengibur, dan juga memuji,' batin Ino. "Nah Sarada, bagaimana kalau kau istirahat lagi? Bibi akan menjagamu disini?" kata Ino seraya naik untuk tidur di samping Sarada.

Sarada mengangguk.

"Ayo jagoan kita keluar. Kau tidur bersama Ayah," Sai mengajak putranya pergi.

"Ah. Tidak mau. Ayah ngorok," tolak Inojin menutup pintu kamar Sarada.

"Hn? Apa iya?"

.

.

.

"Lukanya tidak mengenai bagian vital. Kau akan baik-baik saja," kata Sakura sambil mengobati luka si bocah lelaki Uchiha dengan chakra penyembuhnya. Mereka sudah berhasil lari dari kelompok shinobi yang ingin melukai kedua anak ini tadi.

"Kau akan sembuh Kak, tenanglah." Uchiha Sara menggenggam tangan kakaknya, memberi dukungan.

Ah, rupanya mereka kakak beradik. Kembar kah? Mata anak-anak Uchiha itu membuat Sakura rindu pada keluarganya. Rindu pada Sasuke dan juga Sarada. Sakura bertanya dalam hati, kenapa manik gelap indah para Uchiha selalu menyiratkan kesedihan?

Kakak Sara menatap Sakura dengan sorot penuh terimakasih, "Namaku Uchiha Ryuzaki, dan ini adik kembarku Uchiha Sara. Terimakasih sudah menolong kami," kata Ryuzaki sopan.

Sakura tersenyum. Luka tusukan kunai di perut Ryuzaki mulai menutup. "Sama-sama. Lainkali ...," Sakura terdiam memikirkan kata-kata yang tepat. Anak-anak dari klan besar seperti Uchiha di zaman ini pasti sudah terbiasa dengan perang, orang-orang dewasa juga sepertinya mendorong anak-anak langsung untuk maju ke medan tempur. Melarangpun percuma, mereka tidak punya pilihan dan mungkin juga mereka akan tersinggung. "Lainkali kalian harus lebih berhati-hati dalam memilih lawan." Sakura berharap ucapannya terdengar bijak.

"Hn."

"Selesai."

Sara dan Ryuzaki menatap kagum pada luka di perut Ryuzaki yang telah sepenuhnya pulih.

"Kau seorang ninja medis?" Sara menatap Sakura kagum.

"Hu'um." Sakura mengangguk, mengistirahatkan diri dengan duduk bersila menghadap kedua anak itu. Serangan pada shinobi tadi dan juga pengobatan terhadap Ryuzaki menguras sedikit chakranya.

"Apa kami boleh tahu siapa namamu?" mata Sara tampak berbinar menatap Sakura.

"Sakura." Mata gelap itu membuat hati Sakura nyeri karena merindukan suami dan anaknya.

"Sakura apa? Aduh, Kakak, apa salahku? Aku kan hanya bertanya." Sara merengut pelan ketika sang kakak menggetok kepalanya.

"Aturan shinobi. Tidak boleh menyebutkan nama klan."

"Owh. Maaf. Aku lupa."

Setelah berbasa-basi sebentar, Sakura hendak berpamitan pada kedua anak tersebut.

"Cepat pulang ke rumah, dan berhati-hatilah."

"Iya kak. Dan ..."

"Ryuzaki! Sara!" Ryuzaki dan Sara menoleh melihat beberapa shinobi dewasa klan Uchiha menghampiri mereka.

"Paman Izuna!" kata Sara riang.

Sakura melotot melihat satu wajah yang sangat dia kenali. "S-Sasuke-kun," gagapnya. Dia tertegun sesaat, lalu menyadari kebodohannya. Bagaimana mungkin Sasuke ada di masa lalu? Dan berubah menjadi muda kembali? Bukankah Sara memanggil laki-laki yang mirip Sasuke tadi dengan nama Izuna? Ya Izuna Uchiha, dia sangat mirip dengan Sasuke ketika masih berusia tujuh belasan. Aura sadis dan suramnya juga hampir sama.

Para shinobi dewasa Uchiha itu bertanya khawatir tentang keadaan Sara dan Ryuzaki, keduanya menjelaskan keadaan mereka tadi, dan bercerita bahwa Sakura yang sudah menolongnya.

Mengalihkan perhatiannya dari Sara dan Ryuzaki, Izuna mengucapkan terimakasih pada Sakura. Namun sorot matanya tampak waspada, seolah mencurigai bahwa Sakura adalah musuh dalam selimut.

Setelah para Uchiha itu pergi, Sakura hendak beranjak dari sana.

"Kami sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada disini." Senju Tobirama muncul dari balik pepohonan, mata merahnya menatap Sakura tajam.

"Lain kali kalau mau keluar bilang-bilang dulu." Hashirama menyusul di belakang adiknya, berbeda dengan Tobirama si sulung terlihat santai. "Kami ingin berdiskusi tentang jikkukan no jutsu yang bisa mengembalikanmu ke masa depan."

"Benarkah?" tanya Sakura. Nada suaranya terdengar penuh harap.

Hashirama tersenyum tulus. "Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan membantumu?"

Sakura ikut tersenyum dengan keharuan. "Terimakasih. Terimakasih."

"Hm."

Tobirama menatap Sakura penasaran. "Tadi kulihat kau menatap Izuna dengan aneh. Kenapa?"

Sakura menunduk tersipu. "Dia ... Dia sangat mirip dengan suamiku ketika masih muda."

"APA?!" Sesaat kedua Senju (lebih tepatnya Tobirama) kehilangan pride-nya mendengar jawaban Sakura.

"KAU ISTRINYA IZUNA DI MASA DEPAN?!"

"Bukan." Sakura menggeleng cepat. "Nama suamiku Sasuke. Uchiha Sasuke. Bukan Izuna."

"Oh."

"Yasudah. Ayo kita kembali."

.

.

ToBeContinue

.

.

#Note : Kalau terlalu pendek atau tidak rapi atau alurnya diluar ekspektasi, tidak seperti yang diharapkan pembaca, saya minta maaf. Ini ngetik dan publish-nya pake hape via opmod 2.0 jadi serapi ngetik dan publish pake laptop.

Mind to Review?