"Good Bye"

.

.

.

Chapter 1

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Indonesian

Genre : Romance (gak terlalu bisa nentuin genre).

Cast : Sakura H., Shikamaru N., Ino Y., and other.

.

Semua karakter yang ada di sini milik MK.

Saya cuma minjem bentar.

.

WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).

.

.


Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya membawa fic baru lagi nih /bukannya terusin fic yang lain malah buat yang baru lagi/ Hahahaha, gomen-gomen. Lagi ada ide soalnya. Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya.


HAPPY READING ^_^ .

.

.

.

.

.

.


28 Maret 2014.


Pada waktu itu aku sangat senang. Hari di mana seorang pria yang sangat kucintai menyatakan cintanya kepadaku dan itu tepat pada hari ulang tahunku yang ke-24. Sebenarnya kami adalah rekan kerja, mungkin lebih bisa dibilang dia adalah atasanku dan aku bawahannya. Dia adalah lelaki mapan yang bekerja sebagai CEO di perusahaan milik keluarganya dan aku adalah sekertarisnya. Intinya kami terlibat cinta lokasi. Awalnya kami sangat tidak akur dan selalu bertengkar. Tapi akhirnya benih-benih cinta tumbuh di antara kami. Aku sangat mencintainya, Shikamaru Nara.

.

.

.


Tapi ceritaku bukan di mulai dari situ. Ceritaku di mulai sejak Shikamaru menikah dengan salah seorang perempuan cantik kaya raya bernama Ino Yamanaka. Ingin sekali aku tak hadir di pernikahan mereka, sangat. Tapi apa daya, aku hanyalah wanita biasa yang menginginkan hal yang tak bisa ku gapai. Dia, dia adalah lelaki yang sangat sempurna dan aku hanya upik abu. Ingat Sakura, kau hanya upik abunya, bahkan tak lebih dari itu. Menangis, aku juga ingin melakukannya, tapi tak tahu kenapa air mataku kering. Mereka memang pasangan yang sangat serasi, Shikamaru lelaki tampan, mapan dan kaya raya bersanding dengan Ino wanita cantik, dan juga kaya raya. Aku turut bahagia. Sangat bahagia. Sampai-sampai aku ingin menghilang dari dunia ini dan menjadi gelembung.

Acara telah berakhir dan akupun beranjak pergi dari tempat ini. Bukannya kabur hanya saja aku sudah tak ada urusan lagi di sini.

"Sakura,"Cegat Shikamaru sembari memegang pergelangan tanganku.

"Kenapa kau berada di sini? cepat kembali. Aku tak ingin dicap sebagai perebut suami orang atau penculik suami orang."Kataku sembari menoleh menatapnya diakhiri senyuman.

"Jangan seperti ini. A-aku..."

"Cukup Shika, lepaskan."Kataku memotong perkataannya sambil berusaha melepas genggaman tangannya.

"Tidak akan, sebelum..."

Plaak...

Itu suara tamparan. Tamparan yang dilayangkan oleh wanita bersurai pirang kepada pipiku.

"Kau wanita tak tahu diri. Kau ingin merebut Shika dariku?"Kata wanita itu marah. Dia telah melepas genggaman Shikamaru dari tanganku.

"Maaf."Aku hanya mengatakan hal itu lalu pergi. Aku tak bisa menyalahkannya jika berbuat hal seperti ini padaku. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya.

Aku terus berjalan menjauh. Bahkan aku tak tahu apa yang terjadi kepada mereka berdua. Aku hanya ingin menjauh, sejauh mungkin sampai mereka berdua tak dapat lagi melihatku.
Aku tak berharap Shikamaru mengejarku dan aku bahkan berdoa agar dia tak menemukanku di sini. Aku sedang berada di halte bus, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah. Menangis, untuk apa aku menangis? Lagi pula sudah kubilang air mataku kering, sangat kering. Aku mulai menggigit bibir bawahku, menggenggam erat-erat tempat duduk ini, lalu menundukkan kepalaku dalam.

"Su-sudah kubilang air mataku kering."Gumamku pelan.

"Hiks...hiks...hiks...su-dah ku-u bilang a-air mataku kering. Hiks...hiks."

.

.

.


Setelah kejadian itu, ingin sekali aku lari dari dunia ini terutama lari darinya. Tapi inilah hidup, aku juga butuh makan dan minum. Untuk mendapatkan itu semua aku harus mencari uang dengan cara bekerja. Aku juga mempunyai tousan dan kaasan yang harus kupenuhi semua kebutuhan hidup mereka. Aku tak boleh egois yang hanya memikirkan diriku, perasaanku dan semua tentangku sampai-sampai aku mengabaikan hal yang lebih penting. Apalagi aku adalah anak tunggal, tousan tak lagi bekerja karena kesehatannya akan semakin memperburuk kondisi beliau. Jika kaasan memang tak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga yang sangat baik.

"Selamat pagi Sakura-san,"

"Selamat pagi."Balasku sambil sedikit membungkuk lalu tersenyum.

Aku melangkah menuju ruanganku. Mengerjakan semua berkas-berkas yang harus kukerjakan.

Aku mulai menghela napas.

Melihat ke luar jendela.

"Semoga saja aku tak bertemu dengannya."Kataku pelan. Sebenarnya aku akan mencari pekerjaan lain. Setelah menemukannya barulah aku akan berhenti dari sini.

Tok...tok...tok...

"Masuk."Teriakku dari dalam sambil terus mengerjakan berkas-berkas yang ada di depanku.

"Sakura,"Katanya pelan.

Suara ini, aku bahkan sangat mengenalnya. Aku mulai menghela napas lalu menatapnya perlahan kemudian berdiri.

"Ada apa Nara-san?"Tanyaku diakhiri senyum.

"A-aku ingin.."

'"Ah, iya. Aku lupa. Anda harus menandatangani berkas-berkas secepatnya. Aku akan antarkan ke meja Anda."Kataku sembari mengumpulkan berkas-berkas yang harus dia tandatangani lalu melangkah pergi. Aku sudah berusaha untuk melupakan semuanya, aku sudah berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Tapi, aku tak bisa. Ini terasa lebih menyakitkan dari pada yang kubayangkan.

"Jangan seperti ini, menjauh dariku."Katanya sembari menggenggam pergelangan tanganku.

"Maaf Nara-san, aku tak..."Aku berhenti berkata. Tak terasa air mataku tumpah. Oh, ayolah. Padahal aku ingin terlihat kuat dan tegar di matanya. Aku tak ingin, tak ingin melakukan ini, aku memang sangat menyedihkan.

"Menangislah."Katanya sembari memelukku. Bukannya menolak atau menghentikan laju air mataku, malah air mata ini terus terjun dengan derasnya tanpa mau berhenti. Padahal...padahal... Aku sudah ikhlas melepaskannya.

"Hiks...hiks...hiks..."


.

.

.

.

.

3 hari berlalu setelah kejadian itu.

.

.

.

.

.


Aku sekarang berada di halte bus. Duduk diam sambil menunggu bus jurusan ke arah rumahku. Angin berembus sepoi-sepoi. Aku melihat sekitarku, menemukan pemandangan sebuah kupu-kupu yang sangat indah sedang mengepakkan sayapnya di batang pohon. Sungguh indah, tapi ketika aku terus memperhatikan gerak-geriknya ada sesuatu yang berbeda dengannya. Ternyata dia tak bisa terbang, padahal dia sungguh cantik. Cobalah kepakkan sayapmu lebih kencang lagi, kau pasti bisa. Tapi sayangnya dia terjatuh dan malah terinjak. Sungguh kasihan hidupnya seperti diriku. Aku tersenyum miris lalu menatap ke arah jalanan lagi.

Kulihat ada sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Terbuka pintu mobil tersebut dan menampilkan wanita cantik berambut pirang. Ino. Seketika mataku membola sempurna. Dia ingin apa di sini?

"Kau Sakura ya? Maafkan aku tempo lalu telah berkata kasar. Hanya saja aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."Katanya sembari tersenyum ramah.

Apa katanya? Ingin bicara denganku? Semoga saja ini bukanlah hal yang buruk. Aku mulai berdiri lalu tersenyum.

"Iya, aku Sakura. Tak perlu meminta maaf, malah aku yang harusnya meminta maaf kepadamu. Baiklah."

"Kalau begitu, ikutlah denganku."

.

.

.


Kami telah berada di sebuah restoran. Aku hanya memesan sebuah minuman sedangkan dia bahkan tak memesan apa-apa.

"Sakura,"

"Iya."Jawabku cepat.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."Katanya sembari memegang tangannku erat.

"Ah, masalah Shika. Aku tak akan merebutnya darimu."Kataku sambil tersenyum palsu. Aku berjanji akan terus berusaha melupakannya dan tak akan mengganggu hubungan kalian. Aku berjanji. Tenang saja.

"Aku percaya padamu tentang hal itu. Tapi, aku ingin kau membantuku melakukan sesuatu."Kulihat dia menghela napas panjang. "Shikamaru terus menjahuiku bahkan dia selalu tidur di luar rumah. Dia berada di rumah hanya untuk mengambil baju-bajunya. Ketika malam telah tiba, aku selalu menemukannya minum-minum di sebuah club. Kau tak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu hal itu. Tapi yang jelas aku sudah berusaha melarangnya tapi dia terus saja menghiraukanku."

Untuk apa dia mengatakan semua ini padaku. Aku tak mau lagi ikut campur masalah yang berhubungan dengan Shikamaru. Aku takut, sangat takut, jika aku terus berurusan dengannya aku tak bisa melupakannya. Tapi, minum-minum? Benarkah Shikamaru melakukan hal seperti itu? Bukankah dia sangat anti dengan hal yang menurutnya merepotkan. Tapi, bagaimana bisa dia melakukan hal itu? Sebegitu cintakah kau kepadaku, sebegitu inginkah kau bersamaku? Sebenarnya aku juga sama, tapi itu adalah hal yang salah. Hal salah yang kita perbuat. Karena kita tak akan pernah bisa bersatu, kau adalah matahari dan aku hanya angin yang lewat.

"Jadi aku ingin kau melakukan hal ini, mungkin dia bisa memulai untuk mencintaiku."Katanya sembari membisikkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang membuat hatiku begitu sakit. Kenapa harus aku yang menolong mereka? Dengan keadaanku yang begini saja aku sudah berasa sangat tidak baik-baik saja. "Bagaimana?"Tanyanya memohon.

"Baiklah."Kataku pada akhirnya. Tak tahu kenapa melihatnya seperti itu, memohon kepadaku. Aku jadi mengingat cerminan diriku yang lebih menyedihkan darinya.

"Kau sangat baik, kujemput nanti malam."Katanya senang lalu melangkah pergi menjauh dariku. Bahkan aku ditinggalkan di sini. Hah, seharusnya dia mengantarkanku pulang. Nasib-nasib.

.

.

.


Tak terasa malampun telah tiba. Aku telah siap dengan makeup tipis di wajahku serta dress selutut berwarna hitam tak lupa membawa tas berukuran kecil yang juga berwarna hitam.

Berjalan menuju jendela.

Melihat pemandangan yang ada di luar.

Sebuah pohon yang terus diterjang angin sehingga daunnya berguguran.

Bisakah hatiku juga ikut berguguran seperti daun itu? Pergi dari pohonnya, meninggalkannya.

.

.


Ah... aku mulai tersadar. Mobil yang kulihat tadi di halte bus telah berada di depan rumahku. Aku melangkah pelan menghampirinya. Kulihat Ino telah berdiri di depan mobilnya saat aku sudah berada di dekatnya. Aku tersenyum sekilas, bahkan senyuman ini lebih terlihat jelas bahwa amat sangat terpaksa kulakukan. Aku mulai memperhatikan Ino yang memakai baju hampir sama sepertiku, dress hitam.

Walau hatiku berasa sakit sekarang, tapi aku berharap, sangat berharap bahwa pohon itu dapat melepaskan daunnya agar bisa pergi jauh dari sisinya.

"Siap?"Tanyanya sembari tersenyum dan aku hanya mengangguk lalu mengikutinya untuk masuk ke dalam mobil. Melaju menuju sebuah club. Club tempat Shikamaru biasa minum-minum di sana.

"Kau siap?"Tanya Ino lagi dengan suara pelan.

"Aku siap."Kataku mantap sembari menarik napas dalam-dalam dan melangkah pergi ke dalam.

Terlihatlah lampu remang-remang yang berkelap-kelip. Para wanita dan pria yang sedang berjoged dengan wajah yang sangat bahagia, bau alkohol, dan keadaan yang sangat asing bagiku. Pasalnya baru pertama kali aku masuk tempat ini selama hidupku.

"Hei Nona."Kata seseorang sembari memegang bahuku.

Aku langsung pergi menghindar darinya. Untungnya dia tak menahanku atau berbuat yang macam-macam. Kemudian aku bergegas mencari Shikamaru. Ah, itu dia, sedang duduk ditemani minuman bening serta wanita yang sesekali mendekatinya.

"Shika."Panggilku dan detik berikutnya dia menoleh.

"Sakura, sedang apa kau di sini?"Tanyanya ala orang yang sedikit mabuk.

"Kau sendiri sedang apa?"Hanya itu kata-kata yang terpikirkan oleh otakku.

"Jangan di sini, kau tak boleh. Benar-benar tak boleh."

"Benarkah? Aku juga ingin minum."Kataku sembari duduk di sebelahnya dan memesan minuman beralkohol itu.

"Kubilang tak boleh."Katanya sambil merebutnya lalu meminum minuman yang aku pesan. Untung saja dia masih setengah sadar dan mengenaliku.

"Tambah."Kataku lagi.

"Jangan. Kau tak boleh. Tak boleh."

Aku terus melakukan hal itu dan Shikamaru terus meminumnya untukku. Dia membuatku benar-benar menjadi orang yang sangat jahat. Tapi kulakukan ini untuk kebaikanmu juga. Untukmu agar bisa lepas dariku.

Setelah aku merasa cukup karena dia telah mabuk berat saat ini. Aku mulai menuntunnya pergi. Pergi keluar menuju mobil.

"Sakura, aku mencintaimuuuuu...benaar benar mencintaiiimu."Kata Shikamaru mulai merancu.

"Aku tahu."Kataku terus membopong tubuhnya keluar club. Sekarang aku telah berada di luar, Ino yang melihatku langsung membantuku membopong Shikamaru.

Kami sudah berada di dalam mobil. Ino yang menyetir sedangkan aku dan Shikamaru duduk di kursi belakang.

"Sakuuraaa, jangan tinggalkan akuuuu."Kata Shikamaru sembari memelukku erat.

Dia hanya terus mengatakan hal itu berulang-ulang, membuat dadaku terasa sangat sesak. Bahkan dia terus memikirkanku. Aku harap dengan melakukan hal ini dia bisa merelakanku untuk pergi dari hidupnya.

.

.

.


Sampai di rumah mereka. Sebuah rumah yang megah dan indah. Aku bahkan tak terkejut bagaimana bentuk rumah mereka berdua, nyatanya mereka adalah orang kaya. Dan berbeda kasta denganku, yang bukan apa-apa.

Kami turun dari mobil. Membopong Shikamaru berdua menuju kamar mereka. Melemparnya dengan sangat tidak elitnya di kasur.

"Sakurrrrraaaaa."Panggilnya sedikit berteriak. "Jangaaan tingaalkan akuuu."

Aku kemudian keluar dari kamar tersebut.

"Terimakasih."Itu yang Ino ucapkan kepadaku dan aku hanya membalasnya dengan mengangguk.

Aku rela-rela, bahkan sangat rela mereka bersatu.

.

Aku kemudian belari, berlari sejauh mungkin meninggalkan mereka. Tak terasa hak sepatuku patah. Untungnya aku berada di sebuah jalan yang sepi sehingga tak ada seorang pun yang melihatnya.

"Aw."Ringisku yang telah terjatuh, terduduk di tanah. Tiba-tiba air mata meluncur dari mataku kemudian aku menundukkan kepalaku dalam.

'"Hikss...hikss...hiks..."

"Hikss...hikss...hiks..."

"Sakura...kenapa kau menangis? Bahkan hanya terjatuh seperti ini saja kau menangis. Hiks...hiks..."Kataku disela-sela tangisanku sambil memukul-mukul tanah yang tak bersalah.


.

.

.

.

.

1 bulan kemudian setelah kejadian itu.

.

.

.

.

.


Aku malah masih tetap berada di sini, menjadi sekertarisnya. Aku sudah berusaha mencari pekerjaan ke perusahaan lain, tapi tak tahu mengapa mereka malah langsung menolakku. Padahal mereka belum melihat berkas-berkas yang kuberikan, malah sudah mengusirku pergi. Tapi aku akan terus berusaha. Berusaha menjauh darinya sebisa mungkin.

Sekarang aku sedang berada di sebuah tempat makan. Kalian tahu aku sedang bersama Shikamaru di sini. Sebenarnya hatiku sangat senang tapi ini bukan hal yang benar, sangat tidak benar. Hanya saja, ada sesuatu yang mendorongku untuk mau ikut bersamanya.

"Selamat ya, atas hamilnya Nyonya Nara-san."Kataku sembari tersenyum.

"Ba-bagaimana kau tahu?"Tanyanya kaget.

"Tak usah berekspresi seperti itu. Hahahaha, bukankah berita ini telah tersebar di seluruh perusahaan. Harusnya kau bahagia akan segera menjadi seorang ayah."Kataku tertawa hambar.

"A-aku bisa jelaskan se..."

"Sudahlah Shika. Kau tak usah menjelaskan apa-apa lagi. Bukankah kalian suami istri, itu adalah hal yang wajar."Kataku memotong pembicaraannya. Kumohon, air mata jangan mengalir sekarang. Aku mohon. Sakura kau wanita yang sangat tegar. Lagi pula kau dan Shikamaru tak pernah ada apa-apa, hanya hubungan bos dan karyawan saja.

Aku menghela napas dalam. Berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin.

"Aku mencintaimu."Kata Shikamaru sembari menggenggam pergelangan tanganku. Mungkin saat ini aku adalah wanita yang sangat beruntung dan bahagia tapi nyatanya dia adalah lelaki yang telah mempunyai istri.

"Sebenarnya aku juga mencintaimu. Tapi, maafkan aku. Kita tak bisa bersama."Kataku sembari melepas genggaman tangannya.

"Kita masih bisa, aku akan menceraikannya."

"Apa?"Kataku kaget sembari berdiri, dia juga mengikutiku berdiri. "Kau ingin anak yang dikandungnya tak memiliki ayah. Kau ingin membiarkan dia tak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya, orang tua aslinya. Kau...kau..."Teriakku marah. Sembari membungkam mulutku, aku pergi.

Aku terus berlari sekencang-kencangnya. Berlari menjauh darinya. Berharap dia menghilang dari hidupku sekarang juga. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi, aku tak ingin mendengar suaranya lagi, aku...aku tak ingin.

Aku menghapus air mata yang keluar dengan sangat kasar menggunakan punggung tanganku. Aku tak ingin terlihat lemah, bagaimana bisa mereka keluar di saat seperti ini. Di saat aku tak ingin mereka mengalir.

"Sakura."

Aku mendengar suaranya memanggilku. Ah, kenapa juga dia mengejarku seperti ini. Kumohon berhenti, jangan kejar aku.

"Awas."Teriaknya. Dan seketika itu kepalaku terasa sangat sakit. Aku bahkan tak bisa merasakan apapun.

"Sakura."

Setelah mendengar suara itu, cahanya di sekelilingku mulai gelap, sangat gelap dan akhirnya aku kehilangan kesadaran.

.

.

.


"Sakura."

Ah, suara itu lagi, kenapa suara itu terus terngiang-ngiang di kepalaku.

"Sakura."

Aku mulai menutup telingaku. Tolong jangan sebut nama itu lagi.

"Sakura."

Aaaa, jangan-jangan. Jangan katakan lagi.

"Sakura."

Tolong hentikan, hiks. Tolong hentikan, hiks. Tak terasa air mataku jatuh.

"Sakura."

Hah, hah, hah. Aku mengatur napasku yang berpacu sangat cepat. Keringat dingin telah berada di dahiku. Kulihat keadaan di sini, semuanya serba putih dan bau apa ini, obat. Aku ada di mana?

"Kau sudah bangun."Kata seseorang itu senang.

Aaw, kepalaku sakit. Sangat sakit.

"Sakura."

Aku ingat semuanya sekarang. Aku tadi sedang bersama Shikamaru sampai aku berada di sini. Berakhir di rumah sakit.

"Aku ingin pulang. Aw."Kataku mencoba mendudukkan diri.

"Pelan-pelan. Kau baru saja siuman."

"Ah, aku tak apa. Hanya sakit seperti ini. Aku ingin pulang."

"Haruno Sakura, kau sedang sakit sekarang. Tidurlah. Aku tak akan membiarkanmu pergi. Ck, merepotkan."Katanya kesal tapi terselip nada khawatir di sana.

Sudah lama sekali aku tak mendengarnya berkata seperti itu. MEREPOTKAN. Dia selalu mengatakan hal itu setiap kali dia melakukan hal-hal yang menurutnya merepotkan. Bahkan sepertinya semua hal merepotkan di matanya.

Tunggu.

Untuk apa aku mengingat itu semua. Sakura, dia adalah suami orang, ingat itu, dia adalah suami orang. Jangan sampai kau merusak hubungan seseorang.

Tapi perasaanku saat ini sungguh bertolak belakang dengan akal sehatku. Aku malah ingin dia terus berada di sampingku bersamaku. Kumohon saat ini saja aku menjadi orang yang egois. Aku memerlukannya untuk tetap berada di sampingku saat ini. Hanya sekali...sekali saja, aku melupakan bahwa dia telah memiliki seorang istri.

"Ah, bagaimana kaasan dan tousan, apa kau memberi tahu mereka?"Tanyaku khawatir.

"Tidak."

"Syukurlah."Kataku bernapas lega.

"Kalau begitu tidurlah. Aku akan membawakanmu makanan."Kata Shikamaru sembari melangkah pergi.

"Tunggu. Shika."Panggilku.

"Ada apa?"Tanya Shikamaru sambil menolehkan kepalanya menatapku.

"Jangan tinggalkan aku."Kataku pelan sembari menunduk. Aku bahkan tak tahu kenapa kata-kata laknat ini bisa keluar dari mulutku. Tapi, aku telah berjanji, kali ini saja, hanya kali ini aku bersikap egois menganggapnya sebagai milikku seorang, hanya sebagai milikku.

"Tenang saja, aku akan kembali."Katanya sembari tersenyum. Senyum yang sangat jarang dia perlihatkan. Aku terus melihat punggung Shikamaru yang telah menghilang dibalik pintu.

Benarkah kau akan kembali? Bersamaku di sini?

Selamanya?


.

.

.

.

.

TBC.

.

.

.

.

.


Arigatou sudah mau membaca. *BungkukBungkuk

Jika ada pertanyaan, pernyataan, kritik dan saran monggo di keluarkan. Jangan sampai anda memendamnya. Review ya... Saya tunggu. Tapi jangan flame, kalau dikit-dikit bolehlah. Jangan sampai readers menjadi pembaca gelap*kedipkedip. Kalau gitu baca di tempat terang #Plaaaak. Ya udah Janee~ #SibukSEenyum+LambainTangan


THANK YOU FOR READING EVERYONE. REVIEW! REVIEW! THE MORE REVIEWS I GET THE MORE DETERMINED I FEEL TO UPDATE!


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.