"Good Bye"

.

.

.

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Indonesian

Genre : Romance (gak terlalu bisa nentuin genre).

Cast : Sakura H., Shikamaru N., Ino Y., and other.

.

Semua karakter yang ada di sini milik MK.

Saya cuma minjem bentar.

.

WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).

.

.


Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya mengucapkan terimakasih buat para readers yang mau membaca dan mereview fic gaje ini. Dan Author juga mau minta maaf sebesar-besarnya apabila author melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sampai membuat readers tersinggung ataupun marah. Gomennasai Minna. Oh iya, author juga mau pamit ya, gak akan ngelanjutin semua fic author setelah liburan selesai. Author mau vakum cleaner dulu ya. :D #Plaaak. Ok dari pada author banyak bacot ntar dibacok lagi #plaaak. Langsung aja...

Sekarang waktunya menanggapi review :

dara093 chapter 1 : aaa sedih banget bingo bingit. nyubit author *blum nglanjutin crita yg lain. kenapa cinta sasushika tragis :( hiks hiks. tapi aneh deh, masa cuma 1 minggu ino udh ketahuan hamil? *curiga *berharap ada sesuatu dibaliknya. hahahaha. keep writing ya :D

Jawab : Masak? Wah author ternyata berhasil bikin readers sedih...Hikss...hiks...hiks...(loh kok malah lo yang nangis? -_- ). Aw*sakitkenacubit*gomenne.*bungkukbungkuk* soalnya author lagi jenuh dengan fic yang lama, jadi bikin baru lagi deh#plaaak. SasuShika? maksudnya ShikaSaku ya :D. Kalo begitu orang hamil berapa lama ya?*mode berfikir* Hehehehe. iya, makasih udah mau review. :D .

Myosotis sylvatica chapter 1 : yaampun... feel nya dapet banget Author-sanGood Job lah~! ditunggu next chap nya

Jawab : Masak? Wah author ternyata berhasil bikin readers sedih...Hikss...hiks...hiks...(loh kok malah lo yang nangis? -_- ). Iya, arigatou Myo-san*bungkukbungkuk.

Lavender-San chapter 1 : kyaa.. rame banget.. ayo lanjutin! ayo lanjutin! *teriak-teriak GaJe* Oh ya, saya mau tanya, alasan Shika nikahin Ino apa ya? Padalahal kan Shika cintanya sama Sakura.*plaak!* tolong jawab yaa..

Jawab : Iya :D. Mungkin akan terungkap dichapter-chapter lain. Mungkin disini senpai bisa sedikit mendapatkan pencerahan. /maksudlo?/. makasih udah mau review. :D .

zielavienaz96 chapter 1 : Aduh thor.. Stress banget baca ff kamu ni.. Bikin Aku linglung.. Aku shikaino shipper tapi disini ino terlihat jahat.. Huhu.. Nga tau mau pasangan yang mana satu.. Update kilat..!

Jawab : Linglung kenapa senpai?*mukapolos* Wah, benarkah? kalau saya lagi suka ShikaSaku sekarang. Ngak kok, Ino baik#plaaak /digebukinramerame/. Sip (y). makasih udah mau review. :D .

mira cahya 1 chapter 1 : Hah?! Fict baru lagi? Authornya bener2 deh. Itu ide ngalir air terjun aja deh. Banyak bener. Hm... baca prolognya sih berasa mainstream ya, kaya nonton sinetron. Jangan bilang kalo anak yg dikandung ino bukan anak shikamaru, trus nanti ada cowok lain yg deketin sakura. Trus nanti banyak salah paham, dg ino sbg antagonis. (Hah...bener2 sinetron) Tapi, sbg author yg baik sopan tidak sombong n rajin menabung. Kamu jgn terpengaruh dg reviewku ini ya.. Buatlah fict ini sesuai konsep awal kamu, krn cerita ini sepenuhny milik kamu. Hm...anyway semoga dg bwrtambahnya fict kamu. Fict2 kamu yg lain moga ga terlantar ya.. author yg baik adalah author yg menyelesaikan fict nya sampai akhir. ;)

Jawab : Hehehe iya mira-san :D *dijitaksamamira-san* Hahahaha, masak sih?. Hmm, iya. Hahahaha, ngak juga kok. Hn iya aku gak akan terpengaruh*Ngangguk* Heheheh, iya. disini saya cuma mau bikin fic chapter pendek aja. gak banyak-banyak#pllaaak. /digebukinramerame/ makasih udah mau review. :D .

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih sudah mau review fic ini. Jangan bosen review ya. Janee~~~


HAPPY READING ^_^ .

.

.

.

.

.

.


Benarkah kau akan kembali?

.

.

Di sini?

.

.

Bersamaku selamanya?

.

.

Aku mulai menggelengkan kepalaku.

"Aw."Kataku meringis sakit. Aku lupa bahwa kepalaku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Aku mulai membaringkan lagi tubuhku. Menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Tak terasa setetes air mataku mengalir. Aku langsung menghapusnya kasar dengan punggung tanganku agar yang lain tak ikut turun menyusuri pipiku. Aku menangis bukan tak ada sebab, tapi teringat pada saat itu, saat di mana dia menghancurkan hatiku berkeping-keping.


FLASBACK ON.


"Shika, kau ingin yang mana?"Tanyaku dengan gembira.

"Sakura, aku ingin..."

"Tunggu-tunggu, kurasa yang ini lebih baik, bagaimana menurutmu?"Tanyaku sambil menunjuk pada salah satu undangan yang menurutku lucu. Berwarna pink dengan hiasan love. Bukankah itu imut? Hahahaha.

"Sakura. Aku..."

"Hehehe, aku hanya bercanda, bagaimana dengan yang ini?"Tunjukku lagi pada salah satu undangan berwarna coklat dengan pita yang menjadi penutupnya.

"Hentikan Sakura,"Kata Shikamaru sedikit berteriak sembari menarik kedua lenganku agar aku menatapnya.

"Ada apa Shika?"Tanyaku bingung, sungguh aku sedikit merasa ada sesuatu yang aneh darinya, pasalnya dia menatapku dengan mata yang terlihat sendu sekarang. Apakah karena dia terlalu bahagia karena akan menikah denganku? Sebenarnya aku juga, sangat syok malah. Iya, kami memutuskan untuk menikah tepat di hari ulang tahunku, yaitu 28 MARET 2015, dan itu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Menjadikanku sangat repot untuk menyiapkan segalanya. Sekarang aku dan Shikamaru sedang sibuk memilih undangan untuk pernikahan kami.

"Hei, jangan terus menatapku begini."Kataku mulai tak nyaman pasalnya Shikamaru hanya diam saja dari tadi.

"Sakura,"

"Iya."Jawabku cepat.

"Ini."Katanya memberikan undangan kepadaku.

"Kau telah memilihnya. Baguslah kalau begitu."Kataku senang.

"Bukalah."

Memangnya ada apa? Bukankah ini hanya contoh undangan seperti yang lain? Aku mulai membukanya perlahan, kulihat nama yang tertera di sana Shikamaru Nara dan Ino Yamanaka. Tunggu dulu Ino Yamanaka dan bukannya Sakura Haruno. Maksudnya ini apa? Apa jangan-jangan Shikamaru sedang mengerjaiku sekarang.

"Aku tak bisa kau tipu lagi."Kataku sambil menyerahkan undangan itu kepada Shikamaru. "Aku suka modelnya sederhana, tapi tetap menarik."Lanjutku sembari tersenyum. Undangannya berwarna kuning kecoklatan dengan garis-garis melengkung berwarna putih di sembarang tempat. Cukup bagus bukan? Tidak terlalu berlebihan dan tetap terlihat menarik.

"Sakura, aku tak sedang menipumu. Aku akan menikah besok dengan Ino."Katanya, membuatku syok seketika.

Aku hanya terdiam mematung. Mencoba melihat matanya, kumohon ada kebohongan yang terselib di sana. Tapi nyatanya tidak, dia sedang tidak berbohong kepadaku sekarang. Dan detik berikutnya rasanya aku sangat hancur, bahkan benar benar hancur berkeping-keping. Bolehkah aku menghilang, menghilang dari sini dan kembali pada saat di mana dia menyatakan cintanya padaku untuk tak menerimanya. Kenapa aku harus dipertemukan dengannya jika akhirnya akan seperti ini, kenapa?

Kumohon, jangan lakukan ini.

Kumohon, aku sangat mencintainya di bandingkan dengan nyawaku sendiri.

Jika dia tak di sisiku apa gunanya aku hidup. Hidup tak ada artinya jika tanpanya.

"Dengarkan Sakura, aku mencintaimu."

Apa katanya? Mencintaiku? Tapi apa yang kau lakukan kepadaku, menikahi wanita lain itu yang kau bilang cinta.

"Aku tak bisa menolaknya."

"Kenapa?"Tanyaku sedikit berteriak.

"Aku tak bisa memberitahukan alasannya kepadamu."

"Benarkah? Kalau begitu sejak kapan? Sejak kapan kau tahu akan dinikahkan?"Kataku sedikit berteriak, sungguh saat ini aku tak dapat mengontrol emosiku.

"Kemarin. Maafkan aku tak langsung memberitahumu. Aku tak sanggup melihatmu bersedih. Aku belum siap."

"Baiklah, aku mengerti. Aku akan pergi sekarang."Kataku melangkah pergi.

"Sakura tunggu, kau akan datang kan besok, di acara pernikahanku. Kumohon, aku ingin melihat wajahmu."Katanya mencegahku sambil memegang pergelangan tanganku.

"Iya, aku akan datang."Kataku cepat setelah itu aku benar-benar pergi tanpa melihat wajahnya lagi.

Tiba-tiba bulir-bulir air mata berjatuhan, aku langsung menghapusnya kasar sambil terus menjauh, sejauh mungkin yang kubisa.

Kumohon, jangan pergi dariku.

Kumohon tetaplah di sisiku.

Kumohon hiduplah bersamaku.


FLASBACK OFF.


Hahahaha, benar-benar lucukan? Aku bahkan tak sadar mengatakan iya untuk hadir di pernikahannya. Dan sampai sekarang aku tak tahu alasannya mau menikahi Ino. Tapi sekarang itu tak penting, sangat tidak penting karena aku sadar aku tak pantas untuknya. Bahkan ketika kami meminta restu kepada kedua orang tua Shikamaru mereka tak mengatakan apa-apa. Mereka setuju atau tak setuju, akupun juga tak tahu. Yang jelas, Shikamaru terus mencoba untuk membujuk mereka sampai akhirnya mengatakan ''iya''.

Mungkin, mungkin, mereka berpikir aku tak pantas bersanding dengan Shikamaru yang kaya raya dan dari keluarga terpandang. Menikah denganku yang nyatanya hanya dari keluarga biasa-biasa saja. Aku hanya beruntung bisa menjadi seorang sekertaris CEO di perusahaan yang besar ini. Itu berkat ayahku yang terus bekerja banting tulang untuk membiayai sekolahku sampai-sampai kesehatannya memburuk saat ini.

Waktu itu aku sempat berpikir untuk menghilang saja dari muka bumi ini. Tapi ketika melihat wajah kedua orang tuaku, aku sadar, aku adalah keluarga satu-satunya yang mereka miliki. Bagaimana jika aku tak ada, hidup mereka akan seperti apa. Tunggang langgang di jalanan, mencari belas kasihan orang atau bekerja menjadi apapun itu dan akhirnya membuat kesehatan mereka semakin memburuk. Memikirkannya saja aku tak sanggup. Bahkan sepertinya aku akan menjadi anak yang paling durhaka di muka bumi ini jika melakukannya. Karena itu sudah kuputuskan bahwa cintaku kepada Shikamaru bukanlah segala-galanya. Tapi tetap saja hatiku tak bisa berbohong, bahkan terkadang bisa mengalahkan akal sehatku.

Kriiiieeet...

Pintu terbuka menampilkan sosok pria tampan dengan postur tubuh tinggi serta rambut yang diikat tinggi-tinggi. Dia sedang membawa makanan bersamanya.

"Kukira kau akan kabur."Katanya sambil duduk di kursi dekat kasurku.

"Mana mungkin. Kepalaku sedang sakit sekarang."dan juga hatiku.

"Jadi kau harus makan."Katanya membantuku untuk duduk lalu menyodorkanku sesendok makanan yang lembek dari nasi (baca : bubur).

"Aku bisa makan sendiri Shikamaru."Kataku terkekeh karena kelakuannya. Biasanya juga begitu. Dia tak akan mau menyuapiku walau aku sedang jatuh sakit.

"Diamlah. Dasar merepotkan." Bukannya kesal mendengarnya bicara seperti itu aku malah tertawa. Aku sungguh sangat rindu sikapnya kepadaku. Walau dia bukanlah orang yang romantis, tapi itu tak jadi masalah karena aku mencintainya dengan apa adanya dia. Malah sikapnya terkadang membuat tawa keluar dari mulutku.

"Setelah ini, kau pergi."Kataku setelah sadar, sadar bahwa aku tak boleh terus menganggapnya sebagai milikku. Nyatanya dia telah menjadi milik orang lain yang sedang mengandung anaknya sekarang.

"Tak akan."

"Tapi, kau memiliki seorang istri dan anak yang dikandungannya. Pasti dia sangat membutuhkan perhatianmu Shika."Kataku mencoba berbuat sesuatu agar dia bisa menjauh dariku. "Kau boleh tak mempedulikan Ino, tapi anak yang dikandungnya. Pikirkanlah dia. Dia pasti membutuhkan ayahnya sekarang."Lanjutku lagi, sebenarnya aku tak sanggup melakukan hal ini. Tapi harus kulakukan agar pohon tersebut dapat merelakan daunnya yang terus berguguran diterpa angin.

"Tapi, bahkan aku tak sadar melakukan hal itu dengannya. Kupikir itu kau, kupikir kau yang bersamaku waktu itu. Kupikir dia adalah kau."Katanya sedikit berteriak.

Hatiku bagai diremas sekarang. Maafkan aku Shikamaru. Bahkan sepertinya aku adalah wanita yang sangat jahat. Telah memanfaatkanmu di saat kau mabuk, di saat kau tak sadar, di saat ...di saat...

"Aku tak perlu tahu itu. Yang terpenting kau harus pergi sekarang juga. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab."Teriakku tanpa sadar.

Setelah aku mengatakannya, dia pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang terus menjauh sampai hilang di balik pintu.

Kumohon jangan membenciku, kumohon...

Kau boleh meninggalkanku asal jangan membenciku.

Shikamaru Nara.


.

.

.

1 bulan.

.

.

.

2 bulan.

.

.

.

3 bulan.

.

.

.

4 bulan.

.

.

.

5 bulan.

.

.

.

6 bulan.

.

.

.

7 bulan.

.

.

.


Tak terasa sudah tujuh bulan berlalu setelah kejadian itu. Dia terus saja menghindariku, kami hanya berinteraksi jika diperlukan saja. Hubungan kami sekarang benar-benar hanya sebatas bos dan karyawan. Bahkan sampai sekarang aku tak menemukan pekerjaan lain, sial bukan hidupku.

Aku sedang ada di ruangannya, siapa lagi kalau bukan ruangan Shikamaru Nara.

Tepatnya aku sedang berdiri menunggu berkas-berkas yang kuberikan padanya untuk ditandatangani. Tapi yang benar saja ini sangat lama membuatku pegal untuk terus berdiri, padahal biasanya tak lebih dari 1 menit baginya untuk dapat menyelesaikan semuanya. Karena dia makhluk yang diciptakan oleh Tuhan sebagai seseorang yang jenius. Aku mulai tak tahan, apalagi dia tak kunjung mempersilahkan aku duduk.

"Nara-san..."Kataku terpotong pasalnya ada...

"Shikamaru-kun."Teriaknya sambil melangkah untuk memeluk Shikamaru.

Dia.

Dia adalah Ino Nara, istri dari Shikamaru Nara. Kulihat perutnya sudah membesar, maklum ini sudah menginjak bulan ketujuh kehamilannya. Dan seperti inilah kegiatannya sehari-hari menemui Shikamaru dengan membawa makanan, tentunya untuk makan siang.

"Shika-kun kita makan yuk."Ajaknya yang masih merangkul Shikamaru manja. Sekarang dia mulai mengecup pipi Shikamaru untuk mendapatkan perhatiannya. Tapi tetap saja Shikamaru tak meresponnya dan tetap mengerjakan berkas-berkas tersebut.

Padahal aku masih berada di sini dan tentunya berdiri di sini.

Hah, aku mulai menghela napas panjang. Bolehkan aku cepat-cepat pergi dari sini karena aku mulai tak tahan. Walau aku sudah terbiasa melihat tingkah laku Ino yang sangat manja, mungkin karena pengaruh kehamilannya, tapi tetap saja dadaku selalu sakit. Padahal-padahal aku sudah ikhlas melepasnya bersama wanita lain yang lebih pantas untuknya.

"Maaf Nara-san, apakah sudah selesai?"Tanyaku diakhiri senyum yang sangat tipis.

"Belum, nanti kau ke sini lagi setelah jam makan siang."Katanya sembari menutup berkas-berkas tersebut.

"Baik."Kataku sedikit membungkuk lalu pergi.

"Tunggu."Cegah seseorang membuatku menoleh.

"Ada apa Nara-san?"Tanyaku sembari tersenyum, oh ayolah aku ingin segera pergi dari sini.

"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu Sakura, cukup Ino saja. Makanlah bersama kami, aku juga membawakanmu makanan. Tak ada penolakan, ini keinginan bayiku. Kau tak inginkan anakku nantinya ileran."Kata Ino mengajakku sambil mengelus perutnya yang besar.

Hah, aku mulai menghela napas.

"Baiklah."Kataku lagi-lagi diakhiri senyum lalu duduk di kursi diikuti Ino yang duduk di sebelahku.

Kami mulai makan, oh ayolah jangan mesra-mesraan di hadapanku begini. Kulihat Ino sedang menyuapi Shikamaru sambil sedikit tertawa.

"Kau makan seperti anak kecil saja."Kata Ino sembari mengambil butiran nasi di sudut bibir Shikamaru.

Sakura...Sakura...bertahanlah...jangan menumpahkannya di sini.

"Aku selesai."Kataku sembari berdiri. Aku telah memakannya sampai habis dengan sangat cepat, karena aku sudah tak tahan berada di sini bersama mereka. Tempatku bukan di antara mereka tapi tempatku seharusnya jauh dari mereka. Kemudian aku mulai pergi dari sana tanpa memikirkan apa-apa lagi. Tanpa perlu persetujuan dari siapa pun.


Sekarang pohon telah ikhlas daunnya berguguran diterpa angin.

Tapi kenapa sekarang malah daunnya yang meronta untuk bisa kembali lagi bersama pohon?


Aku kuat, Sakura kuat.

Aku berlari ke arah ruanganku sebelum air ini mengalir, mengalir lagi dengan derasnya.

"Hiks...hiks...hikss."Tangisku pecah setelah aku terduduk di kursi, aku telah berada di dalam ruanganku.

Setelah sekian lama menangis aku mulai tersadar dan melihat ke arah jam dinding. Jam makan siang telah selesai sekarang, membuatku harus menemui Shikamaru untuk mengambil berkas-berkas yang ditanda tanganinya. Tapi sebelum itu aku menghapus air mataku lalu melangkah menuju kamar mandi. Benar-benar sulit untuk sampai di kamar mandi. Karena aku terus berusaha menghindar dari semua karyawan yang lewat agar tak melihatku. Tiba-tiba ada seseorang menarikku, menarik pergelangan tanganku sampai-sampai aku menabrak dada bidang orang tersebut.

Bau ini.

Dia adalah...

Aku mulai menengadahkan kepalaku untuk melihatnya. Shikamaru, kenapa dia bisa berada di sini. Untungnya kami berada di tempat yang lumayan sepi. Lorong-lorong yang kugunakan untuk mengendap-endap.

"Kau.."

"Stttsss."Katanya memotong pembicaraanku dengan menempelkan telunjuknya di bibirku.

Oh, ayolah. Apa lagi yang dia inginkan.

"Maaf."Katanya lirih.

Untuk apa dia meminta maaf?

"Untuk..."Ucapku terhenti. Dia malah pergi meninggalkanku. Hah, aku mulai menghela napas. Apa yang kuinginkan? Apa yang kuharapkan? Aku tak boleh meminta atau berharap lebih darinya. Dia milik Ino dan terus selamanya begitu.


Daun-daun terus berguguran meninggalkan pohonnya.

Terus menjauh sejauh mungkin tertiup angin yang membuatnya terlepas.

Angin...

Kenapa kau memisahkan kami?

Angin...

Kenapa kau melakukan hal ini?

Angin...

Jangan hempaskan aku lebih jauh lagi darinya.

Angin...

Kumohon berikan waktu sebentar saja untuk berbicara padanya.

Angin... Angin...Angin...


.

.

.

Keesokan harinya.

.

.

.


Aku sudah berada di sini-tempat kerjaku-menyusuri ruangan untuk menuju lift. Lift yang akan membawaku menuju ruanganku. Keadaan di sini sedikit sepi sekarang karena masih pagi. Hanya terlihat sedikit karyawan yang sudah datang. Tak tahu kenapa, alasanku pergi sepagi ini hanya untuk menghindar. Aku hanya ingin menghindar dari keramaian terutama darinya.

Tapi ketika pintu lift akan tertutup seseorang menghentikannya dan melangkah masuk.

Aku terpaku sejenak.

Mata kami saling berpandangan melihat satu sama lain.

Coklat dan Hijau bertemu.


.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


Pertanyaan, pernyataan, kritik dan saran monggo di keluarkan. Jangan sampai anda memendamnya. REVIEW ya... Saya tunggu. Jangan sampai readers menjadi pembaca gelap, jadi kalau baca di tempat terang. Jangan flame ya, kalau dikit-dikit boleh lah. Janee~


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.