Cinta kenapa kau harus pergi?
Mungkin itu kulakukan karena aku sangat mencintaimu.
Cinta tak bisakah kau tetap di sisiku?
Mungkin itu yang harus kukorbankan demi dirimu.
Cinta bolehkah aku tetap di sisimu?
.
.
.
"Good Bye"
.
.
.
Chapter 3
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Indonesian
Genre : Romance (gak terlalu bisa nentuin genre).
Cast : Sakura H., Shikamaru N., Ino Y., and other.
.
Semua karakter yang ada di sini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
.
WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya mengucapkan terimakasih buat para readers yang mau membaca dan mereview fic gaje ini. Dan Author juga mau minta maaf sebesar-besarnya apabila author melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sampai membuat readers tersinggung ataupun marah. Gomennasai Minna. Oh iya, author juga mau pamit ya, gak akan ngelanjutin semua fic author setelah liburan selesai. Author mau vakum cleaner dulu ya. :D #Plaaak. Ok dari pada author banyak bacot ntar dibacok lagi #plaaak. Langsung aja...
Sekarang waktunya menanggapi review :
KET : TANDA KURUNG DAN DIBOLD ADALAH BALASAN DARI SAYA ^_^ .
SasoSaku96 chapter 2 : Duh ini beneran ngebacanya sambil mewek wkwk:'( (Berarti saya berhasil membuat cerita sedih. hiks...hiks :'( /LohKokMalahLoYangNangis/) next lah ga sabar baca lanjutannya (Arigatou senpai, review lagi ya #Plaaak) apa mungkin nanti ino di tinggalin terus beralih kepelukan sai? apa nanti sakura udah move on terus malah suka sama sasori? *emangsejakkapanadasaisamasasori?* wkwwXD (Hahaha... Untuk lebih jelasnya pertanyaan senpai, langsung aja lihat cerita di bawah di bawah lagi #Plaaak) Pokoknya next lah min aku setia menunggu *sambillumutan* huha:D (Iya, arigatou senpai sudah menunggu, walau lumutan :D)
Krystal Cintia A chapter 2 : Ayo author-san! Ganbatte! (Makasih semangatnya senpai) Updet kilat ya hari ini penasaran bgt. (Iya ini sudah update hari ini #Plaaak) Pingin nanti ShikaSaku happy ending!. (Kita lihat saja nanti ya senpai) Saya juga fans ShikaSaku!. (Wah, sama dong *MataBerbinarBinar* Memangnya kenapa senpai suka pair itu?) Kapan kapan buat yang NejiSaku! Saya juga fans tuh. (Saya juga suka. All about pairing with Saku not Yuri. Insyaallah, nanti saya pertimbangkan. Sebenernya memang ada niat sih bikin NeejiSaku tapi belum kesampaian) Ganbatte! (Makasih atas semangatnya lagi senpai.)
BlackHead394 chapter 2 : sedih banget, author-san jadi pengen nangis hiks hiks (Berarti saya berhasil membuat cerita sedih. hiks...hiks :'( /LohKokMalahLoYangNangis/ Arigatou udah review senpai)
dara093 chapter 2 : gomen gomen typo, saku malah jadi sasu hihihi (hihihi gak papa Dara-san) jgn bilang yg ketemu sama saku itu...sasuke? (Kita lihat saja nanti ya senpai) saku, yang kuat ya. pasti akan ada hal indah untukmu *optimis kudu optimis :) (Iya, Saku yang kuat ya, aku juga ikut bersedih #Plaaak) hmmm, setauku ya author, bisa ketahuan hamil kalau udh 1-2 bulan gitu. nah satu minggu blum kedeteksi (Astaga*nepukjidat* berarti author salah. soalnya temen author kakaknya baru menikah pas dapet seminggu udah hamil :3) hwaiting next (Makasih atas semangatnya)
mr.F4k3 chapter 2 : update min (Sip (y) )
Myosotis sylvatica chapter 2 : ugh, kenapa ngidamnya bisa bikin hati sakit gitu sih? (Hehehe iya, bener tuh #Plaaak /GimanaSihLoYangBikin/) Niat menghindar malah ketemu, hwhwhwhww begini amat nasibmu sakplakk ditunggu (Iya, hah, kasihan /digebukinramerame) next chapnya Author-san (Iya Myo-san :) )
Lavender-San chapter 2 : huaaah.. tambah rame.. lanjut! lanjut! (Iya,... ok.. ok...) oh ya Lavender-San tau artinya, Ino tuh jadi angin . Terus si Sakura jadi pohon, Shikamaru jadi daun. bener gak? *sotoi lu* (Em, gimana ya. Kita lihat aja lagi yuk. *misterius* #Plaaak )
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih sudah mau review fic ini. Jangan bosen review ya. Janee~~~
HAPPY READING ^_^ .
.
.
.
.
.
.
Coklat dan Hijau bertemu.
.
Obsidian dan Emerald.
.
Shikamaru dan Sakura.
.
Aku mulai memalingkah wajahku untuk tak menatapnya. Kenapa? Kenapa dia bisa berada di sini? Padahal, padahal aku ingin menjauhinya. Padahal aku ingin menghindar darinya. Padahal...padahal...
"Sakura."Panggilnya membuatku tersadar dari lamunanku.
"Iya Nara-san."Jawabku masih terus memalingkan wajah karena aku tak ingin melihanya, aku tak sanggup.
"Sakura, tatap mataku."Kata Shikamaru lirih.
Maafkan aku, tapi aku tak sanggup. Aku takut, sangat takut benteng kokoh yang sudah kubuat kepadamu akan hancur berkeping-keping.
"Sakura.''Panggilnya sedikit berteriak, sekarang dia memegang kedua lenganku dan menyeretnya paksa agar aku menatapnya.
"Shika, tolong..."
"Aku tahu ini salah. Aku tahu, tapi aku tak tahan lagi hidup seperti ini. Aku tak bisa, aku tak bisa Sakura."Katanya memotong pembicaraanku.
"Jadi apa yang kau inginkan, HAH?"Kataku berteriak. Maafkan aku Shikamaru, tapi kita memang tak diciptakan untuk bersama.
Pohon...
Bukankah kau sudah merelakan daunmu diterpa angin.
Kenapa? Kenapa?
Kenapa sekarang kau malah mempertanyakan kemana daunmu?
Pohon...
Berhentilah, berhentilah, karena kita tak akan bisa bersama lagi.
Daun yang kau gugurkan tak akan kembali menempel di batangmu.
Daun...daun itu telah terbawa angin ke tempat yang jauh agar tak bisa kau gapai.
Karena itu.
Pohon...
Jangan sekali-kali kau menanyakan daunmu lagi.
"Aku tak bisa hidup tanpamu, aku membutuhkanmu, aku tak bisa melakukan semua ini, aku tak bisa."Kata Shikamaru juga berteriak.
Tak terasa air mataku mengalir.
Pohon...
Sebenarnya daun juga ingin terus bersamamu.
Sebenarnya daun juga tak ingin lepas darimu.
Sebenarnya daun terus ingin berada di batangmu.
Tapi...
Daun telah terbawa angin ke tempat yang jauh.
Ke tempat di mana daun tak lagi bisa bertemu pohonnya.
"Kau pikir aku bisa? Kau pikir aku bisa melakukannya? Kau pikir...kau pikir...Hiks...hiks..."Kataku sambil memukul-mukul dada Shikamaru pelan.
"Sakura, tatap aku."Katanya sambil memegang pergelangan tanganku yang memukulnya.
Tak terasa aku menatap matanya, mata yang sangat seharusnya kuhindari karena mata itu bisa membuatku tenggelam dan terjerat di sana tanpa bisa aku berpaling darinya. Sial, bahkan akal sehatku tak mempan sekarang.
Wajah kami semakin mendekat.
Terus mendekat.
Sampai jarak di antara kami telah tiada.
Bibir kami saling menempel, menyatukan satu sama lain.
Setetes air mataku jatuh.
Biarkan ini jadi kado terindah untukku.
Biarkan ini menjadi yang terakhir untukku.
Biarkan ini menjadi kenang-kenangan dalam hidupku.
Karena setelah ini.
Aku akan menghilang, menghilang dari pohonnya.
Tring...
Pintu lift terbuka.
"Shika."Teriak seseorang dari luar lift. Membuat kami terkejut sehingga melepaskan ciuman kami dan merenggangkan jarak di antara kami.
"Kalian."Katanya terkejut sambil membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Air mata telah mengalir di pipinya.
Ino.
Aku juga tak kalah terkejutnya. Bagaimana dia bisa berada di sini?
Kulihat Ino berlari saat Shikamaru mendekatinya. Tak terasa aku juga ikut berlari mengejarnya
Sakit.
Tak terasa hatiku sakit ketika melihat wajah Ino yang sangat terluka seperti itu. Memang aku benar-benar bodoh. Kenapa aku tak menolaknya, kenapa... Sudahlah, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Sekarang yang lebih penting adalah mengejar Ino yang terus berlari di tangga. Iya, kami sekarang berlari menuruni tangga, mungkin Ino berniat pergi dari sini.
"Ino...Kumohon berhenti."Kataku sambil terus mengejarnya.
"Tidak akan, kalian berdua jangan mengejarku."Kata Ino terus berlari, air matanya terus mengalir saat ini.
"Ino, berhentilah."Kata Shikamaru yang juga terus mengejar Ino. Dia berada di depanku. Sebenarnya kenapa aku ikut berlari? Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan Ino karena dia sedang hamil sekarang, perutnya sudah membesar.
"Tinggalkan aku."Kata Ino berteriak.
Braaak...
Kemudian detik berikutnya yang kulihat Ino telah terjatuh sekarang, berguling-guling di tangga.
Aku sangat syok, benar-benar syok sampai aku hanya terdiam seperti patung. Kulihat darah segar telah mengalir di kaki putihnya.
"Cepat telpon ambulan."Kata Shikamaru berteriak. Dia telah berlutut dan menyandarkan kepala Ino di pahanya. Seketika itu aku tersadar dan langsung menelpon ambulan. Ino, semoga kau dan anakmu baik-baik saja.
.
.
.
Kami telah terduduk di kursi tunggu sekarang. Menunggu Ino yang masih berada di ruang operasi. Lampu masih berwarna merah, menunjukkan operasi masih berlangsung.
Kulihat Shikamaru sangat terpuruk sekarang. Dia hanya diam dan terus terdiam dengan wajah yang sangat khawatir. Aku juga sama, khawatir, gelisah, waswas, aku juga merasakannya. Tapi ketika melihatnya mencemaskan wanita lain, hatiku benar-benar sakit, sungguh. Apakah ketika aku kecelakaan dia terlihat seperti ini ketika menungguku melewati masa kritis atau sekarang dia terlihat lebih lebih cemas dibandingkan pada saat aku kecelakaan?
Oh ayolah, seharusnya kau lebih memikirkan Ino dari pada perasaanmu. Mungkin memang benar aku adalah wanita jahat dan kejam, bahkan di keadaan seperti ini masih sempatnya aku memikirkan perasaanku.
Lampu telah berwarna hijau menandakan operasi telah selesai. Seorang dokter menghampiri kami. Membuat kami berdiri seketika. Terus berdoa agar dokter mengatakan mereka berdua baik-baik saja, Ino dan anak yang dikandungnya.
"Anda suaminya?"Tanya dokter tersebut kepada Shikamaru.
"Iya."Jawab Shikamaru cepat.
"Istri anda selamat tapi kandungannya tidak bisa diselamatkan. Jadi kami minta maaf. Mungkin istri Anda butuh dukungan sekarang, dia terlihat sangat frustasi."
"Terima kasih dok."Kata Shikamaru cepat lalu menghampiri Ino.
Aku hanya mengikuti Shikamaru sampai di depan pintu. Melihat mereka dari jendela kecil yang berada di pintu tersebut. Bukannya aku tak ingin ke dalam, hanya saja aku takut jika aku di dalam akan memperkeruh suasana.
"Anakku, Shikamaru anakku mati."Kata Ino menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Shikamaru. Kulihat Shikamaru hanya diam sambil mengelus kepala Ino. "Kalian berdua jahat. Hiks...hiks... Anakku mati. Hiks...Hiks."Lanjut Ino. Sekarang ia mulai memukul-mukul dada Shikamaru.
Deg.
Dadaku menjadi sakit ketika mendengarnya. Mungkin Ino benar, aku adalah wanita jahat yang telah membunuh anaknya. Air mata mulai mengalir di pipiku.
"Maafkan aku."Kataku pelan.
"Shika, anakku mati, kau tak tahu bagaimana rasanya. Padahal, padahal tinggal sebentar lagi aku bisa menggendongnya, melihatnya, mencium pipinya. Tapi, kenapa kalian begitu jahat? Apa salahku dan juga anakku? Hiks...hiks...hiks...''
Deg.
Dadaku kembali sakit. Oh Tuhan, aku telah membuat seseorang terluka sedemikian parah dengan merenggut kebahagiaan yang seharusnya dia dapat. Apa aku masih pantas disebut manusia jika seperti ini.
"Kenapa kau tak pernah menganggapku sebagai istrimu? Kenapa? Kenapa kau tak pernah mau membuka hatimu untukku? Kenapa? Hiks...hiks... Kenapa kalian malah menikungku dari belakang? Padahal aku sangat percaya dengan kalian berdua. Hiks...hiks."
Deg.
Dadaku kembali menjadi sakit ketika mendengarnya. Aku memang wanita jahat ya? Padahal Ino telah amat sangat percaya padaku. Tapi nyatanya, aku tak bisa menjaga kepercayaan Ino kepadaku. Jika begitu, kenapa aku terus berada di sini? Pasti itu membuat Ino setiap hari khawatir karena adanya keberadaanku di sekitar Shikamaru.
Aku mulai melangkah pergi. Aku tak sanggup mendengar kata-kata Ino yang tepat sekali kepadaku. Yang menjurus langsung ke ulu hatiku, membuatnya sangat sakit, benar-benar sakit.
.
.
.
Aku adalah gadis jahat.
Sangat jahat, sampai-sampai aku berhasil membunuh seorang bayi tak bersalah.
Aku mulai berlari...
Berlari sekencang-kencangnya dari sini. Menghapus air mataku dengan sangat kasar menggunakan punggung tanganku.
Angin...
Aku tak akan menyalahkanmu lagi karena membuatku pergi dari pohon.
Angin...
Terima kasih sudah menyadarkanku untuk bisa lepas dari pohon.
Angin...
Sekarang aku bisa pergi dengan ikhlas dari pohon.
Angin...
Angin...
Terus temani pohon di saat aku tak ada di sisinya.
Sekarang aku telah berada di rumahku, tepatnya di dalam kamarku. Mengemas semua barang-barangku secara brutal. Aku harus cepat pergi dari sini agar tak ada orang lain yang bisa menghalangiku.
"Kasaan."Teriakku sedikit kencang.
"Ada apa Sakura? Tunggu, untuk apa koper ini?"Tanya kaasan bingung setelah melihat koper yang berada di tanganku.
"Aku diterima kerja di luar negeri kaasan."Kataku berbohong.
"Kenapa kau tak bilang terlebih dahulu kepada kami Sakura?"Tanya kaasan, nada bicaranya terdengar sedih.
"Karena ini mendadak. Setelah kupikir-pikir untuk apa aku menolak. Mendapat pengalaman dan gaji yang lebih besar. Bukankah seperti pepatah mengatakan, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Aku akan sering-sering menghubungi kaasan."Kataku mencoba untuk terlihat seperti biasanya. Tapi air mataku malah keluar tanpa bisa kucegah. Aku langsung memeluk kaasan detik itu juga. "Aku pasti merindukan kaasan dan tousan. Ini ku lakukan agar keluarga kita hidup dengan layak."Kataku yang pastinya bohong.
"Kaasan dan tousan beruntung memiliki anak sepertimu Sakura."Kata Kaasan sembari melepaskan pelukanku kepadanya. Kulihat air mata kaasan juga turun di pipinya.
"Jangan menangis. Sakura sayang kaasan dan tousan."Kataku sembari menghapus air mata kaasan menggunakan ibu jariku lalu tersenyum. Bukan senyum palsu yang pertama kulihatkan pada kaasan, tapi sekarang aku benar-benar tersenyum sangat tulus. Kaasan dan tousan memang harta paling berharga yang Tuhan berikan untukku.
Tapi...
Maafkan Sakura yang telah berbohong dan meninggalkan kalian.
Karena Sakura tak sanggup lagi berada di sini bersama semua kenangan yang ada.
.
.
.
Sekarang aku telah berada di bandara. Membeli tiket jurusan... Kalian tak perlu tahu aku kemana. Yang jelas aku akan pergi jauh darinya, sejauh yang kubisa.
Karena tempatku sekarang bukan berada lagi di sisinya tapi pergi dari sisinya.
Aku telah duduk nyaman di kursiku di dalam pesawat. Melihat keluar jendela. Mengingat semua kenanganku bersamanya dulu.
FLASBACK ON.
12 Mei 2013.
"Saya Haruno Sakura yang akan menggantikan sekertaris lama Anda."Kataku sambil sedikit membungkuk lalu tersenyum.
"Hn. Aku telah melihat profilmu. Jadi aku harap kau tak mengecewakanku. Bekerjalah dengan baik."Kata Shikamaru dingin yang tengah duduk di kursinya.
Aku sekarang berada di dalam ruangan CEO. Tepatnya aku sedang berdiri di depannya sambil terus tersenyum. Apa-apaan dia, sangat dingin dan angkuh, apalagi aku tak dipersilahkan untuk duduk. Apakah aku harus bekerja dengannya, ogah banget.
"Kau mendengarkanku."Katanya ketika tak mendapat jawaban dariku. Aku langsung tersadar dan cepat-cepat menjawab.
"Saya akan berusaha bekerja dengan sangat baik Nara-san dan pastinya tidak akan mengecewakan Anda yang telah memilihku."
"Siapa juga yang memilihmu. Si Kuning itu yang terus membujukku untuk menerimamu. Lagi pula kau terlihat tidak meyakinkan."Katanya sambil menunjukku menggunakan bolpoinnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
Tiba-tiba perempatan siku-siku mulai muncul di dahi lebarku. Benar-benar dia adalah bos yang super duper menyebalkan. Dia pikir dia siapa? Dan siapa juga si Kuning? Hah, bodoh amat aku tak peduli.
"Aaa... Kalau begitu sampaikan terima kasihku untuk si Kuning."Kataku penuh penekanan di setiap nada bicaraku. Biar dia tahu, aku sedang menahan amarah kepadanya.
"Kalau begitu sekarang buatkan aku kopi."
"Baiklah."Kataku sembari melangkah pergi. "HAH? Memangnya aku office girl."Kataku setelah sadar. Sedikit berteriak dan berbalik menatapnya.
"Hahahaha."Tawanya keluar.
Hah, apa-apaan sikapnya itu. Aku benar-benar tak suka terhadap bos super menyebalkan sepertinya. Aku terus mengutuknya di dalam hati sambil berbalik arah dan berjalan meninggalkannya.
FLASBACK OFF.
Inilah saat kali pertama aku mengenal Shikamaru. Dia memang selalu saja bisa membuat orang lain sangat marah. Sampai-sampai dulu aku sering sekali mengutuknya dan menyumpah serapahi dia di dalam hati. Bukan karena aku tak ada kerjaan tapi itu terjadi ketika setiap kali dia membuatku marah dengan menyuruhku untuk melakukan hal-hal aneh. Bahkan aku lebih tepat disebut maid dari pada sekertarisnya.
FLASBACK ON.
24 Juni 2013.
"Sakura. Kau bisa memasak?"Tanyanya memulai pembicaraan.
Apa? Dia hanya memanggilku untuk menanyakan hal seperti itu dan membuat pekerjaanku tertunda karenanya. Oh, God Aku memang tak mengerti jalan pikiran bosku yang satu ini. Walau dia benar-benar jenius.
"Aaa. Saya tak bisa memasak."Jawabku sambil tersenyum kikuk. "Bolehkah saya..."
"Kau wanita kan?"Katanya memotong pembicaraanku.
"Iya saya benar-benar wanita Nara-san."Jawabku dengan senyum yang dipaksakan. Dia benar-benar menguji kesabaranku setiap hari.
"Harusnya kau bisa memasak. Jangan hanya terus bersikap seperti monster. Lebih bersikaplah seperti wanita."
Apa katanya? Monster? Sikapku tak seperti wanita? Dia benar-benar ingin mati di depanku sekarang juga.
"Shikamaru aku membencimu."Kataku berteriak. Amarahku tak bisa ditahan sekarang. Dia benar-benar keterlaluan. Persetan dengan yang namanya sopan santun, jelas-jelas dia yang memulainya.
"Belikan aku makan siang kalau begitu. Cepat pergi dan selesaikan tugasmu tepat waktu."
"Hah, baik."Aku mulai menghela napas. Meredakan emosiku serendah-rendahnya dan pergi melangkah menjauhinya. Sungguh aku benar-benar terlihat seperti maidnya. Kalau saja dia bukan bosku sudah kuhajar dari tadi.
Aku telah kembali dengan makanan dan minuman yang telah berada di dalam kresek yang kutenteng. Tepat waktu. Sekarang waktunya jam makan siang. Aku mulai melangkah ke arah ruangannya. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru Nara. Si Nanas menyebalkan itu.
"Ini."Kataku menyerahkan makanan untuknya.
"Kalau begitu sekarang kau temani aku makan."
"Baik. Aku boleh dudukkan?"Tanyaku polos. Pasalnya dia selalu tak mempersilahkan aku duduk ketika berada di ruangannya. Mungkin dia sengaja membuat kakiku pegal-pegal. Dasar.
"Hn."
Walau dia menjawab dengan gumaman tak jelas. Tapi aku langsung saja duduk dan menyantap makananku sebelum terlambat.
"Kau tak ingin menyuapiku."
Uhuk...uhuk...
Aku lekas-lekas mengambil botol air yang masih tergeletak di dalam tas kresek. Aku langsung membuka tutupnya yang masih tersegel rapat lalu meminumnya. Berharap aku bisa menetralkan tersedak tiba-tibaku.
Kau gila?
Tatapku tajam kepadanya setelah aku selesai meminum airku.
"Cepat. Tanganku pegal-pegal karena menandatangani semua berkas-berkas itu."
Memang kau pikir tanganku tak kalah pegal. Secara aku yang mengurus semuanya dan kau hanya menandatanganinya.
"Baiklah."Kataku pasrah lalu menyendokkan makanan ke mulutnya sedikit kasar.
"Kau memang monster."
Braaak...
Aku memukul meja yang berada di depanku lalu melangkah pergi. Bisa-bisanya dia memerintahku semaunya.
FLASBACK OFF.
Dia memang lelaki yang sangat menyebalkan. Hah, mungkin aku tak bisa lagi mendapatkan perlakuan seperti itu sekarang. Bahkan, ketika kami jadian dia tetap saja sedingin es kepadaku.
FLASHBACK ON.
28 Maret 2014.
Waktunya pulang. Hah, inilah waktu yang kutunggu-tunggu dari tadi. Beristirahat dan pulang ke rumah, melepas lelah setelah berjam-jam bekerja. Tapi pemikiran itu hilang sekejab ketika Shikamaru menyeretku pergi.
"Hei...hei... Jangan seret aku semaumu. Waktuku menjadi maid sudah selesai, dan sekarang kau bukan lagi bosku."Kataku terus protes agar dia melepaskan genggaman tangannya padaku.
"Berisik."
Sesuai yang kuduga. Dia tak akan peduli, secara gitu Shikamaru si wajah tembok (?). Dia juga keras kepala sekeras beton, jadi tak ada gunanya aku protes sampai mulutku berbusa. Tapi tetap saja aku mencoba, sedikit berusaha, siapa tahu dia akhirnya menyerah dan melepaskanku.
Kami telah sampai di parkiran tepatnya di depan pintu mobilnya. Dia mulai membuka pintu tersebut lalu memaksaku masuk. Tak kehabisan akal aku mulai membukanya kembali tapi...
"Kupecat kau jika berani-beraninya melarikan diri."Ancamnya sembari mendelik tajam ke arahku.
Hah, aku mulai menghela napas. Selalu saja kata pecat yang dia andalkan untuk mengancamku. Dan sialnya itu berhasil membuatku bungkam seribu bahasa. Aku kemudian menutup kembali pintu yang sedikit terbuka lalu duduk dengan nyaman.
"Shika, memangnya kita ingin kemana?"Tanyaku mulai penasaran. Sekarang Shikamaru telah duduk di sampingku lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Hn."Dia hanya bergumam aneh membuatku jengkel seketika.
"Jangan-jangan kau ingin menculikku lalu memper..."
"Mana mungkin. Hanya orang-orang tak waras yang akan melakukannya kepadamu."
"Apa kau bilang. Dasar Nanas jelek."Kataku kesal sambil menyilangkan kedua tanganku lalu menaruhnya di depan dada.
Setelahnya aku mulai diam. Diam di depan tak berarti di dalam juga. Aku sedari tadi mengutuknya dan menyumpa serapahi dia di dalam hati. Oh God, aku benar-benar terlihat seperti orang yang jahat. Nenek sihir. Tak sejahat itu juga, aku hanya sedang khilaf sekarang.
Kita telah sampai. Langit yang telah berwarna orange, membuatnya terlihat sungguh indah. Tak kalah indahnya dengan langit biru.
Aku mulai melangkah keluar dari mobil. Melihat pemandangan di sekelilingku. Semua tempat di kelilingi dengan bunga berbagai warna. Sungguh indah tempat ini. Tiba-tiba seseorang mengejutkanku dengan menaruh kalung di leherku.
"Apa ini? S untuk Sakura?"Tanyaku bingung sambil meraih liontin yang bertuliskan huruf S.
"Bukan bodoh itu S untuk Shikamaru."Katanya yang masih berada di belakangku lalu menjitak kepalaku pelan.
"Aw, tapi untuk apa kau memberikan ini kepadaku?"Tanyaku penasaran, aku mulai membalikkan badanku untuk melihatnya.
"Tetaplah seperti ini."Katanya lalu menghentikan pergerakanku dengan kedua tangannya yang mencengram lenganku. Membuat posisi kami seperti semula.
"Kau memang bodoh. Aku mencintaimu."Lanjutnya lagi dengan nada yang err sangat menakutkan.
Hei dia menyatakan cintanya atau sedang memarahiku sih. Tapi sudahlah, yang terpenting aku sangat senang sekarang. Walau aku selalu menyumpahi dia di dalam hati dan bersikap cuek tapi sebenarnya aku sangat peduli padanya, sungguh.
Aku mulai merasakan kedua tangannya yang memengang lenganku beralih melingkar di perutku, bergelayut manja di sana. Lalu dagunya mulai berada di bahuku. Membuat deru napasnya menggelitik leherku.
"Tak ada penolakan."Katanya membuatku terkekeh.
Dia...
Memang sangat keras kepala.
Tapi, aku menyukainya.
Senyuman lebar telah terukir di bibir tipisku.
FLASBACK OFF.
Setelah aku menjadi kekasihnya. Sikapnya tetap sama kepadaku menjadi penguasa di tempat kerja. Dan yang membuatnya semakin parah adalah di luar jam kerja dia tetap bersikap semena-mena. Walau terkadang kelakuannya membuatku terkekeh geli.
FLASBACK ON.
18 Juli 2014.
Waktu itu aku sedang sakit dan tak masuk kerja. Membuat ponselku letih karena selalu mendapat panggilan dari seseorang bernama Shikamaru. Setiap 15 menit sekali dia menelponku, membuat aku tak bisa beristirahat.
Tubuhku terasa panas sekarang dan yang paling menjengkelkan adalah pusing yang sedari tadi menyerang kepalaku. Aku telah meminum obat dan sesekali kaasan datang untuk menggantikan kompres yang telah kering di jidat lebarku.
Awalnya aku sangat senang ketika dia menelponku tapi lama-kelamaan membuatku jengkel juga.
Seketika mataku mulai terlelap tapi...
Drrtttt...drrtttt...Ada telepon...Ada telepon...
Itu suara laknat yang lagi-lagi terdengar dari ponselku. Membuat kesabaranku habis lalu kupisahkan saja baterainya dari ponselku.
MATI.
Hahahaha... Aku mulai tersenyum puas. Lalu aku kembali memejamkan mataku.
Duaaakkkk.
Terdengar suara pintu kamar yang dibuka dengan kasar. Membuat pintu malang itu terbentur tembok dan menghasilkan suara yang berhasil menggangguku.
"Kau baik-baik saja?"Katanya sedikit khawatir walau ekspresinya tetap datar. Tapi kulihat peluh yang telah berada di sekitar dahi dan hidungnya.
"Aku baik-baik saja Shika. Oh, ayolah jangan menggangguku."Kataku jengkel.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu."Katanya pelan sambil memalingkah wajahnya. Hampir aku tak bisa mendengar ucapannya yang terlampau sangat pelan.
"Aku ingin istirahat Shika mungkin besok aku bisa sembuh."Kataku pelan, mencoba agar dia mengerti.
"Baiklah aku akan biarkan kau istirahat. Tapi kau harus membalas SMSku tak lebih dari 15 menit."
Apa? Dia membiarkanku beristirahat. Tapi dia menyuruhku untuk membalas SMSnya.
Dia benar-benar membuatku marah.
Langsung saja aku berdiri dan mendorongnya pergi dari kamarku.
"Hei...hei..."Katanya protes.
Cklek...
Aku mengunci pintu kamarku lalu kembali tidur.
FLASBACK OFF.
Pada waktu itu aku tak tahu mendapat kekuatan dari mana sampai bisa mendorongnya keluar. Hah, mungkin karena kemarahanku yang meluap-luap.
Shikamaru, mungkin aku akan merindukan sikapmu kepadaku.
Sangat rindu...
Berlinang air mataku.
Saat aku mengenang masa-masa itu.
Masa-masa indah yang pernah kita miliki berdua.
Masa di mana aku dan kau bersama.
Biarkan ini menjadi kenangan terindah untukku.
Berbahagialah di sana seperti kau bersamaku.
Tetaplah menjadi dirimu yang dulu.
Yang tak pernah menunjukkan bahwa kau peduli.
Tapi sebenarnya aku tahu kau sangat peduli.
Pohon...
Daun pergi sekarang...
Maafkan daun karena pergi tanpa jejak.
Jika kau ingin menyalahkan, salahkan saja daun.
Jangan pernah kau menyalahkan dirimu, pohon.
Pohon, ingat.
Walau daun tak lagi menempel di batangmu.
Walau daun tak lagi menyelimutimu.
Walau daun tak lagi bisa berfotosintesis untuk mendapatkan oksigen.
Walau...walau...
Tapi tetaplah ingat kenangan kita bersama, di hati dan pikiranmu.
Maaf...
Karena aku tak bisa mengatakan...
Aku mulai menunduk dalam. Bulir-bulir air mata dengan derasnya turun sehingga membuat rokku basah.
"Good bye."ucapku pelan.
...tak bisa mengatakan selamat tinggal.
.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
Huaaa*Teriak* Ini fic Sad Ending pertamaku yang udah ku selesain di FFN. Yes, bikin Sad Ending. ^.^ . /digebukinramerame/ . Ya sudah waktunya REVIEW. Monggo jangan sampai menjadi pembaca gelap yo. Karena setiap REVIEW anda sangat berharga untuk saya, untuk membantu perekonomian mereka yang kurang mampu #Plaaak /tambahngawurnihorang/. Don't Flame, tapi terima kritikan. Saya masih belum kuat dengan yang namanya flame. Siksaannya sangat berat membuatku langsung tergolek lemah #Plaaak.
Saya Selaku Author Ingin Mendengar Pendapat Readers Sekalian Dengan End nya Fic Ini.
Ya sudah. Saya tunggu. Sakalangkong. Abdhina nyo'on edhi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
