Can I See You Again? Chapter 3 by Izumi Akita Suzuki

Summary : Bertemu dengan nerd gang secara online dan kemudian mengenal mereka serta SFIT lebih jauh membuat Hiro Hamada akhirnya tertarik untuk masuk SFIT. Namun, pada saat showcase diadakan sebuah insiden justru terjadi disana. Dimana semua orang percaya bahwa insiden itu telah menewaskan Tadashi yang merupakan adik Hiro. Meskipun begitu Hiro percaya bahwa Tadashi masih hidup dan disinilah petualangannya serta nerd gang untuk mencari Tadashipun di mulai!

Big Hero 6 Movie belongs to Disney, Big Hero 6 Comic belongs to Marvel and as always I only have the storyline of this fic.

Jika anda menemukan huruf yang di-bold dalam cerita dibawah, itu berarti mereka sedang berbicara dengan menggunakan chat.

Fanfic ini mengandung unsur age swap dan modified canon, jika anda tak menyukai ini ada baiknya anda menekan tombol back.


Gedung SFIT benar – benar lebih luas dari apa yang ada di bayangan Hiro. Bahkan, untuk mencapai lab milik orang – orang yang ia juluki sebagai nerd gang, mereka membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit. Well, Hiro berharap ia akan terkesima dengan semua yang ada disini, karena dengan hal itu ia tak akan merasa bahwa perjalanannya kesini tidaklah sia – sia.

Well, dan dia benar – benar menemukan berbagai hal menakjubkan di dalam sana. Dan ia langsung menatap ke empat mahasiswa SFIT yang bersama dengannya dan Tadashi.

"Bagaimana caranya aku bisa masuk kesini?"

Tadashi tersenyum melihat repon kakaknya tersebut. Well, setidaknya permintaannya untuk ke kampus ini tidak hanya berguna bagi dirinya, tapi ternyata juga berguna bagi kakaknya tersebut.

"Setiap tahun universitas ini mengadakan showcase untuk menjaring bakat – bakat yang ada di sekitar San Fransokyo. Hmm, kau berminat, dude? Mungkin aku bisa konsultasikan pada Professor Callaghan." Wasabi menganggukkan kepalanya yakin.

"Heck! Aku harus melakukan sesuatu untuk showcase itu! Aku akan segera jadi bagian dari kalian!" Hiro berseru dengan sangat antusias dan menepuk bahu adiknya.

"Thanks untuk telah membawaku kemari, Dashi!"

Tadashi tersenyum pada kakaknya dan setelah itu melirik empat orang yang masih asing bagi Tadashi. Well, kalian tau kan bahwa yang menemukan mereka secara sepihak adalah Hiro? Jadi Tadashi memutuskan untuk bicara pada mereka.

"Omong – omong kalian kan sudah mengenal kakakku tapi kalian belum mengenalku dan akupun belum mengenal kalian. Jadi bisakah aku tau nama kalian?"

"Tentu saja, man! Namaku Fred." Sang maskot SFIT mulai menjabat tangan kecil milik Tadashi.

"Aku Honey Lemon. Well, aku harap nanti kau ikut jadi bagian dari kami. Itu akan menyenangkan1" Honey Lemon berkata dengan cukup excited.

"Gogo Tomago." Gogo bicara –sambil mengunyah permen karet favoritnya tentu saja-.

"Aku Wasabi, dan aku senang melihat generasi muda sepertimu. Ah ya kami punya sesuatu untukmu." Wasabi berkata sembari tersenyum.

"Kalian punya apa untukku? Sebuah robot yang bekerja di bidang kesehatan? Oh Astaga! Kalian jangan mendahuluiku untuk membuatnya!"

Tadashi menampakkan wajah cemberutnya. Sontak saja kelima manusia lain yang ada disana menahan tawa. Heck! Tadashi memang seorang nerd! Hiro menepuk kepala adiknya itu.

"Kau yang akan menciptakannya, nerd! Tak ada dari mereka yang bekerja pada bidang robotika dan kesehatan."

"Ah, itu bagus! Jadi apa yang akan kalian berikan padaku?"

Keempat mahasiswa SFIT akhirnya melirik Fred. Well, boleh dibilang ini semua rencana sang maskot SFIT, mengingat ia dan kawan – kawannya melihat bahwa Tadashi sangat ingin menjadi bagian dari SFIT, jadi Fred memutuskan untuk memberikan sebuah merch resmi dari SFIT untuk bocah 11 tahun tersebut. Fredpun mengangguk menanggapi lirikan dari teman – temannya.

"Ini untukmu calon bagian dari kami!" Fred berseru sembari meletakkan sebuah topi yang merupakan merch resmi SFIT pada Tadashi.

"Unbelievable! Lihat Nii-san mereka juga ingin aku kesini!"

Tadashi bersorak kegirangan dan memeluk kakaknya. Hiro kemudian balas memeluk adiknya tersebut dan tersenyum pada teman – temn barunya. Teman? Well, mungkin inilah saatnya ia kembali bergaul. Lagipula mereka tampaknya tak akan mem-bully dirinya atas kecerdasan yang dimilikinya.

"Omong – omong tadi kalian bilang mau konsultasi pada Profesor Callagha. Jadi, bisakah aku menemui Profesor itu?" Hiro bertanya seraya mengedikkan bahunya.

"Baiklah, dude. Kami akan bawa kau menemuinya."

Seusai mengatakan itu Wasabi segera membawa Hiro untuk menemui Profesor Callaghan. Ketika mereka sampai di kantor Callaghan.

"Profesor." Wasabi mengangkat suaranya.

"Ya?" Profesor Callaghan hanya membalas panggilan muridnya dengan singkat.

"Ada yang mau bicara padamu."

"Oh, baiklah."

Robert Callaghan adalah pengajar paling senior yang bisa kita temukan di SFIT. Keahliannya dalam bidang robotika sangatlah tidak diragukan, dia adalah Profesor yang bertugas meng-handle para mahasiswa yang memilih mendalami robotika. Profesor Callaghan akhirnya melangkah keluar kantornya dan mendapati Wasabi serta pemuda yang menurut tebakannya berusia sekitar 15 atau 16 tahun.

"Er, aku Hiro Hamada. Aku ingin menjadi bagian dari kampus ini dan aku sudah diberitahu oleh teman – temanku bahwa untuk masuk ke kampus ini aku harus menunjukkan sesuatu yang mengagumkan di dalam showcase." Hiro berkata dengan sedikit perasaan nervous.

"Hiro Hamada? Salah satu manusia tercedas di San Fransokyo, ingin jadi bagian dari kami? Nampaknya sebuah kabar bagus. Aku akan menunggumu di showcase."

Callaghanpun hanya tersenyum. Setelah itu ia mendapati anak kecil yang berdiri di samping Hiro. Callaghan akhirnya menepuk bahu anak kecil itu –yang tentu saja adalah Tadashi-. Tadashipun memandang Profesor tersebut dengan sedikit nervous. Heck! Dia adalah calon profesornya di masa depan.

"Jadi, kau mau apa disini? Sekedar menemani kakakmu atau kau punya motivasi lain? Hm, nampaknya kau punya motivasi lain melihat salah satu dari kami memberikan kau merch resmi kami."

"Sejujurnya justru kakakku yang menemaniku kesini."

"Memang apa yang ingin kau lakukan di sini?" Callaghan memandang ragu – ragu Tadashi.

"Aku ingin bisa bersekolah di sini. Ah ya! Aku ingin membuat robot kesehatan nantinya dan memberinya nama Baymax."

"Idemu nampaknya bagus juga. Aku harap hari itu akan segera datang."

Callaghan tersenyum kepada kedua kakak – beradik itu dan akhirnya Hiro hanya mengangguk guna menanggapi senyum Callaghan. Setelahnya Hiro dan Tadashi kembali bersama nerd gang. Hiro hanya tersenyum pada teman – teman barunya tersebut.

"Bagaimana reaksi Callaghan? Aku harap dia tak terkejut." Kata Honey Lemon sembari tersenyum.

"Reaksinya biasa saja. Dan kelihatannya dia juga ingin our little dude masuk ke sini." Balas Wasabi yang disertai oleh anggukan Tadashi dan Hiro.

"Itu hebat, man!" Fred membalas sembari tertawa.

"Uh, omong – omong aku rasa aku harus pulang sekarang. Dan kalau kalian membutuhkanku kalian bisa menghubungiku via chat. Bye!" Hiro berjalan bersama Tadashi dan mulai meninggalkan nerd gang.


Pada malam harinya, Hiro mulai serius memikirkan apa yang harus ia lakukan di showcase. Namun, ia gagal menemukan titik terang. Hiro mengacak rambutnya frustasi pada saat yang sama Tadashi menatap kakaknya yang terus saja meremat – remat kertas dan kemudian membuangnya ke sembarang arah. Tadashi akhirnya memutuskan untuk mendekati kakaknya tersebut

"Kau butuh bantuan, Nii-san?"

"Arghh, Dashi! Ini sulit, lebih sulit daripada yang aku kira."

Tadashi menatap kakaknya sebentar. Akhirnya ia menemukan sebuah ide.

"Kau bisa handstand atau tidak, Nii-san?"

"Kau lupa seberapa buruknya aku dalam pelajaran olahraga, Dashi."

"Bagaimana kalau kayang?"

"Mungkin bisa."

Hiro mulai mempersiapkan tangannya untuk melakukan posisi kayang. Tapi well, dia agak takut akan menjadi cedera oleh sebab itu gerakannya sangatlah pelan dan terlalu hati – hati. Tadashi taklah sabar dengan gerakan kakaknya yang begitu lambat dan akhirnya… Tadashi mendorong kakaknya itu dengan sedikit kera sehingga kini Hiro sudah benar – benar berada dalam posisi kayang.

"Lihatlah dari sudut padang berbeda, Nii-san!"

Heck! Adiknya kali ini benar – benar bertingkah gila. Namun pada saat ia memikirkan tentang tingkah gila adiknya tiba – tiba sebuah ide terlintas di kepala Hiro. Diapun langsung meloncat guna mengembalikan dirinya di posisi berdiri.

"Kau tadi hampir membuatku ceder tapi well Dashi kau juga memberikanku ide!"

Hiro segera berlari ke arah mejanya dan mulai menulis hal yang ada di pikirannya dan mulai membayangkan apa saja prosesnya. Tadashi tersenyum menatap kakaknya tersebut. Ah! Akhirnya kakaknya tersebut bisa melakukan apa yang ingin dilakukan, itu berarti tugas Tadashi untuk membantu kakaknya sudah selesai. Tadashi pun langsung melangkah kembali ke kasurnya untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.

TBC

A/N : Yow akhirnya ini cerita lanjut juga! Setelah di edit sana sini sama Ichan dengan waktu yang cukup lama karena Ichan mikir 'ah ini udah bener belum ya? Aduh kok masih kurang bagus! Ganti lagi ah' setelah kira kira 5 kali melakukan hal itu akhirnya Ichan bisa menulis chapter 3 dengan benar! Well seperti biasa Ichan mengharapkan review~