SHUKUN NO TAIYO
.
.
NARUTO©MASASHI KISHIMOTO
.
.
MASTERS 'SUN
.
.
DRAMA, HOROR, KOMEDI, ROMANTIS.
.
.
AU, OOC, TYPO. DLL.
.
.
"Giant-mall mempercepat pembangunan mereka, apa yang akan Anda lakukan?"
"Mereka benar-benar licik. Kita harus menarik minat dan perhatian pelanggan." kata Kakashi sambil meneropong keluar menggunakan teleskop kesayangannya yang berada di ruangan nya sendiri. "Mereka seharusnya memilih tempat lain, bukannya tepat di seberang Mall ku."
"Kalau begitu saya akan memeriksa beberapa hal dulu, saya permisi Kakashi-sama." kata Iruka lalu pergi keluar dari ruangan Kakashi.
.
.
"Sekertaris Iruka." panggil seseorang membuat Iruka berbalik.
"Sakura? Apa kau sudah mendingan?" tanya Iruka mengenai keadaan Sakura setelah kejadian 1 minggu yang lalu. Sakura mengangguk menjawb pertanyan Iruka.
"Ada apa?"
"Apa aku masih bekerja di sini?" tanya Sakura.
"Setahuku semenjak kejadian itu Presdir tidak pernah mengatakan kalau dia memecat mu." Jawab Iruka sambil tersenyum. Membuat Sakura ikut tersenyum.
"jadi aku masih bekerja di sini, iya kan?" Iruka tersenyum dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sakura.
"Aku harus bertemu Presdir dan mengucapkan terima kasih. Tapi, ada yag ingin aku tanyakan?" Sakura bertanya dengan wajah yang serius.
"Tentang apa?"
"Presdir mengatkan jika aku ingin tahu, aku harus bertanya padamu." kata Sakura berhenti sejenak lalu melanjutkan pertanyaan nya. "Ini tentang kejadian 15 tahun yang lalu."
.
.
.
"Jadi tempat kemarin aku diculik adalah tempat dimana Presdir dan Rin diculik 15 tahun lalu?" tanya Sakura.
"Iya, tapi kau tidak perlu sedih aku yakin Kakashi-sama baik-baik saja, lagi pula ini hari ulang tahun nya." kata Iruka Sambil tersenyum kembali.
"Ulang tahun Presdir?"
Iruka menangguk. "Apa kau tidak ingin memberikan sesuatu untuknya?"
"Akan aku pikirkan." kata Sakura sambil tersenyum lalu pergi pamit untuk memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Kakashi.
.
.
.
"Sayang, Ini hari ulang tahun Kakashi. Apa yang harus kita berikan? Apa aku harus memperkenalkan seorang wanita kepadanya?" tanya Tsunade kepada Suaminya sekaligus Wakil Presdir di Hatake Mall, Jiraiya.
"Aku rasa Presdir Kakashi sudah menemukan wanita pilihan nya sendiri." jawab Jiraiya dengan santainya, tanpa melihat kalau ekspresi wajah Tsunade sudah berubah.
"Hey... siapa yang kau maksud? Apa wanita dari petugas kebersihan itu? Siapa namanya, Sakuya?"
"Bukan Sakuya tapi Sakura." balas Jiraiya dengan cepat membuat dirinya mendapatkan tatapan deathglear dari Tsunade. "Yah sayang. Aku mencintaimu." kata Jiraiya sambil tersenyum berharap tatapan mematikan itu segera hilang.
...
"Presdir, rapat sebentar lagi akan dimulai." kata Iruka.
"Pergilah ke ruang rapat duluan, aku akan menyusul." kata Kakashi dengan santai, kemudian Iruka mengangguk. Setelah itu Kakashi merapikan meja kerjanya dengan rapih, lalu bergegas keluar dari kantornya dan menemukan Sakura tengah berdiri di depan pintu kantor nya yang baru saja ia buka, juga dengan senyum aneh yang terpasang di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa luka mu sudah lebih baik?" tanya Kakashi sambil menunjuk bahu Sakura yang terluka, juga memasang wajah yang sedikit khawatir.
"Aku sudah lebih baik, dan luka ini juga sudah mendingan." kata Sakura riang sambil tersenyum. Kakashi mengembalikan wajah datar nya kembali. Lalu Sakura melanjutkan.
"Tapi apa Presdir mengkhawatirkan ku?" tanya Sakura malu sambil memegang kedua pipinya. Kakashi sedikit terkejut lalu ia mencoba untuk agar terlihat biasa saja.
"Aku? Jangan mimpi aku akan mengkhawatirkan mu. Jika kau ke sini hanya untuk berterima kasih lebih baik Enyahlah." kata Kakashi sambil mengibaskan tangan nya lalu pergi meninggalkan Sakura.
"Tapi Presdir..." kata Sakura dengan nada yang sedikit berubah. Kakashi menghentikan langkahnya, berbalik kembali melihat Sakura. "Aku benar-benar ingin berterima kasih, jika Presdir tidak datang menyelamatkanku mungkin aku tidak akan ada di sini." Lanjut Sakura sambil menundukkan wajahnya.
Kakashi menatap Sakura sejenak, dengan pandangan datarnya seperti biasa, lalu berbalik.
"Akan lebih baik jika kau berterima kasih kepada Sasuke. Dia yang merencanakan semuanya." kata Kakashi setelah itu langsung pergi begitu saja.
.
.
.
"Naruto, kau periksa di lantai atas, biar aku saja yang menjaga di sini."
Naruto mengangguk lalu pergi ke lantai atas sesuai perintah Sasuke.
"Permisi."
"Ada apa?"
"Terima Kasih." kata Sakura sambil menunduk.
"Untuk?"
"Terima kasih karena telah menyelamatkanku kemarin." kata Sakura yang kini sudah menatap Sasuke sambil sedikit terseyum. Sasuke membalas senyum Sakura, lalu mengangkat tangan nya untuk megacak rambut pink Sakura.
"Ya, Syukurlah kau tidak apa-apa."
Tanpa Sakura sadari, Kakashi yang tak sengaja lewat melihatnya bersama Sasuke.
Sasuke yang melihat Kakashi sengaja menyentuh kepala Sakura, ingin melihat reaksi Kakashi sendiri, sementara Sakura hanya mengartikan hal tersebut dengan artian yang berbeda.
Kakashi hanya berhenti sebentar lalu mengalihkan pandang nya, dan melangkah pergi.
.
.
.
"Presdir, apa anda bertemu dengan Sakura?" tanya Iruka saat Kakashi baru mendudukkan dirinya di kantornya.
"Kau yang menyuruhnya menemuiku?"
"Dia bilang dia ingin menemui anda untuk berteima kasih."
"Aku menyuruhnya pergi. Dan menyuruhnya untuk berterima kasih dengan Sasuke." kata Kakashi yang kini menyandarkan punggung nya, melipat tangannya depan dada, dan menutup matanya sejenak.
"Kenapa? Jujur saja, saya senang melihatnya bersama anda." kata Iruka Jujur, sangat jujur membuat Kakashi membuka matanya.
"Aku... Dengan nya? Jangan bermimpi, dia mempunyai orang yang dia sukai." kata Kakashi mengambil kesimpulannya sendiri, lalu beranjak dari meja kerjanya dan meninggalkan Iruka sendiri yang masih terbingung-bingung dengan apa yang dimaksudkan Kakashi.
"Orang yang dia sukai?"
.
.
.
"Hei Hinata-nee" Seru Sakura saat baru saja sampai di restaurant tempat Hinata, kakak sekaligus sahabat terbaik Sakura.
"Kau mengagetkanku seperti biasanya. Kemana saja? Apa yang kau lakukan?" detik berikutnya Sakura diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan Hinata, sebagai kakak satu-satunya untuk Sakura, juga bisa dibilang satu-satunya anggota keluarga yang Sakura punya, wajar saja jika Hinata khawatir.
"Tentu saja aku bekerja."
"Kau bekerja?" tanya Hinata sambil meletakkan dua gelas kopi di meja tempat Sakura duduk.
"Ya, tidak jauh dari sini hanya di sebelah, di Hatake Mall, sebagai petugas kebersihan."
"Benarkah? Apa yang membuatmu bekerja disana?"
"Kau tahu, aku bertemu dengan Pria yang memiliki kekuatan ajaib." kata Sakura sambil membayangkan seseorang, seseorang yang tidak lain adalah Kakashi. Sementara Hinata hanya memandang Sakura bingung.
"Kekuatan ajaib?" tanya Hinata bingung. Sakura mengangguk dengan antusias.
"Ya, saat aku menyentuhnya 'Wushh' hantu-hantu yang kulihat langsung menghilang."
"Benarkah? Itu sangat bagus. Kau harus menyerap energi yang dia miliki sebanyak mungkin Sakura." kata Hinata sambil tersenyum memberi semangat untuk Sakura.
"Ya, aku sekarang sedang melakukan hal itu. Tapi..." wajah Sakura berubah menjadi murung, membuat Hinata kembali bingung dengan sikap Sakura yang mudah sekali merubah ekspresinya.
"Tapi?"
"Aku rasa dia sangat membenciku, dia selalu mengatakan 'Enyahlah' jika ingin menyuruhku pergi." kata Sakura sambil membayangkan betapa seringnya Kakashi mengatakan 'Enyahlah' apalagi gerakan tangannya yang menurut Sakura sangat menyebalkan.
"Itu adalah cobaan tersendiri Sakura, jika kau terus mencoba mendekatinya bukan tidak mungkin jika dia akan memberikan kesempatan agar kau tetap disisinya." kata Hinata sambil menggenggam tangan Sakura, membuat Sakura menjadi kembali bersemangat.
"Ya, menurutmu apa yang harus kuberikan kepadanya?"
"Untuk apa?"
"Hari ini dia berulang tahun." Sakura meminta saran kepada Hinata mengenai kado yang rencananya akan dia berikan untuk Kakashi, walaupun Sakura tidak yakin jika Kakashi akan menerimanya.
"Hmm..." Hinata berpikir sejenak. Lalu mendapat sedikit pencerahan. "Bagaimana kalau kau memberikan sesuatu yang sederhana, namun akan selalu dia gunakan, dan mungkin bisa menyatukanmu dengannya."
"Sederhana, namun selalu dia gunakan?"
Hinata mengangguk, sementara kali ini giliran Sakura untuk berpikir.
Sakura memutar-mutar isi otaknya memikirkan saran Hinata, 'Sederhana, namun selalu dia gunakan'
"Ahhhh!" seru Sakura saat mendapatkan satu pencerahan membuat Hinata kaget. "Aku tahu. Ini sesuatu yang sangat sederhana dan mungkin akan selalu dia gunakan, dan akan membuatnya mengingatku. Terima kasih Hinata-nee aku pergi dulu." kata Sakura lalu berdiri dan ingin meninggalkan Hinata, sebelum tangan nya dicegah. "Ada apa?"
"Bagaimana dengan kopimu yang satu ini? Kupikir kau mau meminum ini juga?" tanya Hinata saat melihat Sakura meninggalkan segelas kopi yang tadi ia berikan.
"Ah itu biarkan saja di situ dulu. Ada seseorang yang selalu datang padaku meminta kopi, dan katanya kopi di sini sangat nikmat, makanya aku memberikannya." jelas Sakura membuat Hinata sedikit merinding.
"Hei! pastikan kau membawa dia(hantu) juga dari sini." bisik Hinata kepada Sakura berharap si hantu tidak mendengarnya, walaupun rasanya itu mustahil. Sakura menggeleng dan langsung pergi mengabaikan perkataan Hinata.
"Aku selalu merasa aneh setiap kali Sakura datang ke sini." Sambil memandang gelas kopi yang ditinggalkan Sakura, lalu sedikit memberi senyum walaupun dia tidak melihat hantu yang dimaksud Sakura.
.
.
.
Kakashi berjalan seperti biasanya melihat perkembangan mall nya sendiri menyusuri tiap deretan toko yang ramai dengan pengunjung, tak lupa beberapa karyawan nya yang menyapa dengan sekedar bungkukan hormat.
Kakashi berhenti disalah satu toko saat melihat Sakura sedang melap kaca di toko tersebut, tapi Kakashi mencoba untuk tidak peduli dan lebih memilih melanjutkan perjalanan nya yang tertunda.
.
.
Kali ini Kakashi ada dibagian jejeran toko mainan dan juga arena bermain, melihat anak-anak yang bermain juga berbelanja mainan membuat Kakashi terseyum, bayangkan saja berapa uang yang akan dikeluarkan setiap anak untuk bermain. Tentunya sangat banyak. Tapi senyum Kakashi kembali hilang saat melihat Sakura tak jauh dari tempatnya berdiri. Kali ini Sakura sedang mengepel lantai dengan serius. Kakashi berpikir sejenak apakah Sakura sengaja mengikutinya atau memang Sakura hanya sekedar menjalankan tugas nya sebagai petugas kebersihan. Tapi sekali lagi Kakashi mencoba untuk mengabaikan hal ini, dan lebih memilih pergi ketempat lain.
.
.
Sekarang Kakashi berada di dekat pintu mall, melihat-lihat pelanggan yang keluar masuk dari atas, melihat berapa banyak barang belanjaan yang mereka beli, menghitung berapa banyak keuntungan yang akan ia peroleh, melihat berapa banyak pelanggan yang baru datang, membayangkan berapa banyak yang akan mereka beli, membuat Kakashi lebih tenang jika memikirkan hal itu, ketimbang memikirkan wanita aneh berambut Pink yang akhir-akhir ini sering ia lihat.
Belum genap 5 menit Kakashi membayangkan hal-hal yang menurutnya menyenangkan, sepasang mata onxy miliknya kembali menangkap siluet merah mudah yang berjalan didekat pintu masuk, berhenti tepat disebelah pintu masuk, dan kembali melap kaca jendela yang sebenarnya menurut Kakashi tidak kotor. Bukan nya merasa senang melihat pegawainya yang rajin, Kakashi merasa risih dan hendak turun bertanya langsung kepada Sakura sebelum sebuah teguran membuatnya berhenti.
"Kakashi-sama." Panggil seorang yang ternyata Iruka. Kakashi berbalik. "Tsunade-sama sedang menunggu di kantor anda."
"Aku akan segera kesana." kata Kakashi lalu turun, bukannya pergi ke kantornya yang berada di lantai 4 menemui bibinya. Iruka mengerenyitkan alisnya bingung, Iruka melihat arah tujuan Kakashi, dan tersenyum melihat Kakashi pergi mendekat ke tempat Sakura.
...
"Kau! apa maumu?" tanya Kakashi tiba-tiba membuat Sakura yang sedang melap kaca menjadi kaget.
"Presdir! Ada apa?" tanya Sakura polos, benar-benar tidak tahu apa yang Kakashi maksudkan.
"Kenapa kau selalu ada disetiap pandanganku!"
"Eh? Mungkin itu takdir." jawab Sakura ringan sambil terseyum.
"Takdir? Apa kau gila? Apa takdirku bertemu dengan 'Matahari Gila' sepertimu? Aku lebih suka bulan dibanding matahari." kata Kakashi sambil menatap tajam Sakura.
"Tapi matahari dan bulan tidak akan pernah bersatu."
"Ya benar. Kita tidak akan bersatu. Itu yang aku harapkan." kata Kakashi sambil tersenyum meremehkan.
"Padahal aku ingin bersama Presdir." bisik Sakura sekecil mungkin pada dirinya sendiri, tapi Kakashi masih mampu mendengar sedikit dari yang Sakura bisikkan.
"Apa?" tanya Kakashi dengan penasaran, secepat kilat Sakura langsung menggeleng.
"Kau datang ke kantorku saat pulang nanti, ada yang ingin kubicarakan." lanjut Kakashi lalu pergi.
Sementara tak jauh dari tempat itu Naruto sedang berusaha untuk mendengar pembicaraan, walaupun sebenarnya tak terdengar apapun, dari sikap Kakashi, Naruto hanya menyimpulkan sendiri. "Ternyata memang benar Kakashi-sama sepertinya menaruh hati kepada Sakura-chan."
"Siapa yang menaruh hati kepada siapa? Hmm...?" sebuah suara mengagetkan Naruto, orang itu adalah Wakil Presdir, Jiraiya.
"J-Jiraiya-sama? A-ku, ini..." kata Naruto gugup setelah melihat Jiraiya tepat berada di belakangnya. 'Habislah aku' batin Naruto takut.
"Jadi kau yang menyebarkan gosip kemarin? Iyakan?" tanya Jiraiya dengan serius, membuat Naruto sulit menelan ludahnya sendiri. Namun dia tetap menangguk.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya mengatakan apa yang selama ini kulihat juga saat malam itu. Sungguh." Naruto mencoba menjelaskan apa adanya walaupun dengan keadaan gugup, takut ia akan kehilangan pekerjaannya saat itu juga. Namun Jiraiya tidak berkomentar apapun, melainkan terlihat berpikir.
Naruto menambahkan. "Mulai sekarang aku akan diam dengan apa yang kulihat, tolong jangan pecat aku Jiraiya-sama." kata Naruto dengan wajah memelas yang sangat dibuat-buat.
"Tidak, tidak…mulut ada untuk berbicara. Kau tidak boleh menutupnya. Kau memiliki mata dan ingatan yang bagus. Tapi apa kau juga memiliki taktik yang bagus?" tanyanya pada Naruto.
"Aku mengerti maksud Anda. Mulai sekarang aku akan menjadi mata, telinga, dan mulut Anda." kata Naruto lalu tertawa.
"Aku mungkin bisa membuat buku tentang kisah mereka berdua seperti 'KakaSaku Love Story' , Ahahahaha..." usul Jiraiya sambil tertawa membuat Naruto juga meledakkan tawanya lagi bersama Jiraiya.
.
.
.
"Putri dari Presdir Sekang Group akan datang saat mall ditutup nanti jam 9 malam, bagaimana?"
"Kenapa harus saat mall ini ditutup?"
"Dia mempunyai waktu yang padat, sama sepertimu. Kalian bisa berbicara mengenai bisnis dan mungkin bisa melakukan bisnis bersama."
"Baiklah." ujar Kakashi setuju dengan apa yang dikatakan Tsunade.
.
.
.
Sakura sekarang sedang berjalan menuju lantai 4, kantor Kakashi, sambil memegang sebuah kotak perak.
"Aku tidak yakin Presdir akan menyukainya." kata Sakura sambil menatap kotak perak di tangannya, lau langkahnya terhenti saat melihat Tsunade bersama dengan seorang wanita tinggi juga cantik, berambut ungu panjang, sambil membawa sekotak hadiah kecil, dan juga bunga yang Sakura yakin itu untuk Kakashi.
Diam-diam Sakura mengikuti kedua wanita tadi dan benar saja, Tsunade dan wanita itu menuju kantor Kakashi. Tsunade dan wanita itu masuk di kantor Kakashi. Sakura menghela napas dan memilih untuk menunggu sebentar.
.
.
.
*Tok *Tok *Tok
Tsunade mengetuk pintu kantor Kakashi, dan langsung masuk bersama dengan wanita tadi, tanpa persetujuan sang pemilik ruangan, Kakashi yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya dengan bosan, dan langsung berdiri dengan senyum dan menyapa tamu yang datang ke kantornya malam ini.
"Kakashi, ini putri dari Presdir Sekang Group, Kahyo-san." kata Tsunade sambil memperkenalkan Kahyo kepada Kakashi. Kakashi tersenyum dan mengulurkan tangan nya untuk sekedar berkenalan.
"Kakashi Hatake. Senang bertemu denganmu Kahyo-san." kata Kakashi dengan senyum yang jarang sekali dia perlihatkan kepada orang lain.
"Senang bertemu denganmu juga, Kakashi-san. Ini ada sedikit hadiah dariku." Kahyo memberikan kotak hadiah dan bunga yang dia bawa tadi untuk Kakashi. Tepat seperti dugaan Sakura.
"Ini untuk?"
"Aku dengar dari Tsunade-san kau berulang tahun. Benarkan?"
Kakashi melirik Tsunade sekilas, bibinya itu hanya tersenyum tanpa dosa setelah membocorkan salah satu privasi keponakan nya sendiri kepada orang lain.
"Benar juga, terima kasih. Silahkan duduk." kata Kakashi menerima hadiah dari Kahyo dan mengajak Kahyo untuk duduk, sementara Tsunade keluar sebentar memberikan waktu untuk Kakashi dan Kahyo agar bisa berbicara.
"Aku keluar sebentar yah."
Kakashi dan Kahyo mengangguk, dan memulai perbincangan mereka.
Tsunade berjalan keluar dan menemukan Sakura sedang berdiri tak jauh dari kantor Kakashi.
"Permisi." tegur Tsunade saat Sakura akan pergi. Sakura berbalik dan membungkuk hormat.
"Tolong buatkan dua minuman dan bawa ke kantor Presdir."
"Iya."
Seperti yang diperintahkan Tsunade, Sakura langsung pergi membuat dua minuman, dan langsung membawa minuman itu ke kantor Kakashi.
*Tok *Tok *Tok
Kakashi menghentikan pembicaraan nya dengan Kahyo, dan menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Sakura membuka pintu sambil membawa minuman tadi, dengan sedikit menunduk. Ia membawa minuman itu mendekat ke tempat Kakashi dan Kahyo duduk berbicara, lalu meletakkan minuman di atas meja, mengadahkan kepalanya untuk melihat Kahyo dan terseyum, tapi tidak kepada Kakashi. Sakura langsung pergi keluar dari kantor Kakashi.
Kakashi menghela napas, kesal dengan perlakuan Sakura.
"Aku permisi keluar."
Kakashi keluar hendak menyusul Sakura, saat sudah berada di luar dia melihat Sakura sedang memegang sebuah kota berwarna silver sebelum akhirnya Sakura menjatuhkan kotak itu ketempat sampah.
"Sakura." Kakashi berjalan mendekat ketempat Sakura berdiri.
"Apa-apaan dengan wajahmu barusan? Kau membuatku merasa tidak nyaman."
"Maaf Presdir." kata Sakura sambil menunduk.
"Pulanglah. Apa yang ingin ku bicarakan besok saja. Aaaah! Dan jika kau bertemu Rin katakan padanya aku membenci dia. Dan jangan lupa..." ujar Kakashi diam sejenak lalu melanjutkan.
" 'Kau wanita murahan.' "
Sakura mengangguk mengerti dan berpamitan dengan Kakashi,
"Presdir sangat mencintai Rin-san sampai dia mengutuknya seperti itu." kata Sakura pada dirinya sendiri.
Sampai akhirnya Sakura menghilang dari pandangannya, Kakashi tetap berdiri di tempat itu. Ia melirik ke kotak silver yang dibawa Sakura.
"Aku tidak akan mengambil itu."
.
.
.
Sasuke dan Naruto baru saja selesai mengecek keamanan Mall setelah tutup dan melihat Sakura berjalan dengan lesu, membuat Naruto memanggilnya.
"Sakura-Chan!"
Sakura berbalik dan tersenyum melihat Sasuke dan Naruto, lalu menghampiri kedua pria tersebut.
"Kami akan berkumpul dengan teman-teman yang lain untuk makan malam. Apa kau mau ikut?" tawar Naruto berharap Sakura akan ikut.
Melihat Sakura hanya diam Sasuke ikut angkat bicara.
"Hanya di ruang tim keamanan, Naruto sudah menyiapkan makanan dan minuman. Kau bisa ikut, lalu setelah itu kita bisa pulang bersama. Bagaimana?" tawaran Sasuke sukses membuat membuat Sakura setuju, sementara Naruto hanya mengangguk dan menghela napas pasrah.
Disinilah Sakura, berkumpul bersama anggota tim keamanan yang lain nya, berkumpul sambil tertawa bersama membuat Sakura melupakan sejenak beban pikirannya.
"Sasuke-kun."
"Ya?"
"Katakan pada Naruto aku tidak bisa minum bir ataupun alkohol dan sebagainya, cukup air putih atau soda saja." Sasuke yang mendengar itu langsung berbisik pada Naruto.
"Memangnya ada apa dengan bir?" tanya Sasuke sedikit penasaran dibuat Sakura.
"Aku akan berubah menjadi orang lain jika mabuk."
"Semua orang akan berubah jika mereka mabuk."
"Aku akan berubah menjadi sangat mengejutkan." kata Sakura membuat Sasuke sedikit tertawa.
"Berubah seperti apa? Seperti Power Ranger?"
Sakura tertawa mendegar perkataan Sasuke, bagaimana bisa seseorang yang menurut Sakura sangat misterius dan pendiam seperti Sasuke bisa mengatakan hal seperti itu.
Sementara Naruto sibuk menuangkan bir kedalam masing-masing gelas, lalu tak sengaja teman di sebelahnya menyenggol tangannya, membuat bir itu sedikit jatuh di gelas soda yang akan diberikan untuk Sakura, Naruto tak ambil pusing, karena hanya sedikit bir yang masuk, itu tidak akan menjadi masalah yang sangat besar, pikir Naruto seperti itu, lalu membagikan minuman yang sudah dituangnya kepada yang lain.
"Bersulang!"
Beberapa menit setelah mereka menghabiskan beberapa gelas minuman juga beberapa makanan, Sakura mulai merasa pusing, walaupun bisa dibilang hanya sedikit alkohol yang ia minum reaksi yang akan ditimbulkan tetap sama, yaitu mabuk. Sakura berbisik kepada Sasuke untuk pergi ke toilet sebentar.
Sakura berjalan menuju toilet dengan susah payah menahan beban tubuhnya sendiri yang bisa dibilang menjadi semakin berat saat dia mabuk, rasanya ia bisa jatuh kapan saja.
Tidak sengaja Sakura menangkap siluet Perak melewatinya tak jauh dari tempat nya berada, saat Kakashi lewat ia melihat wanita itu lagi, Rin.
Rin sedang 'mengawasi' Kakashi lalu tak sengaja pandangan mata mereka saling bertemu.
.
.
Kakashi baru saja mengantar Kahyo pulang, seperti perintah bibinya, bagaimanapun sangat sulit untuk menolak sesuatu yang diinginkan bibinya. Kakashi bergegas menuju kantornya merapikan meja kerjanya dan saat semua sudah beres seseorang mengetuk pintu kantor Kakashi. Kakashi mengijinkan orang itu masuk, dan ternyata orang itu adalah Sakura.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kakashi saat Sakura baru saja membuka pintu. Sakura yang ditanya hanya diam memajang wajah datar dan berjalan ketempat Kakashi.
"Bukankah sudah kusuruh pulang? Apa maumu? Apa kau ingin ku pecat!" bentak Kakashi, entah kenapa rasanya dia sangat kesal melihat Sakura setelah apa yang semua Sakura lakukan padanya.
"Ini aku Kakashi-kun." Sakura buka suara, namun terdengar aneh ditelinga Kakashi.
"Kakashi-kun? Kenapa kau memanggilku seperti itu, siapa kau! Apa kau benar-benar ingin ku pecat."
"Ini aku, Wanita murahan yang kau benci."
Kakashi terkejut "Rin?"
"Aku bertanya-tanya seberapa sulitnya bagimu untuk terus membenciku selama ini. Kau benar-benar menyukaiku. Aku yakin seberapa besar rasa sukamu padaku, sebesar itu pula rasa dikhianati yang kaurasakan. Dan kau mungkin tidak bisa melupakannya karena terlalu mengerikan"
Kakashi teringat saat ia dalam keadaan terikat, Rin mendatanginya dan meminta maaf.
"Kakashi Hatake. Aku minta maaf, Kakashi."
Lalu ia berteriak histeris memanggil Rin sementara Rin tersenyum lemah dalam sebuah mobil yang terbakar. Sesaat kemudian mobil itu meledak, bersama Rin di dalamnya.
"Karena kau mati seperti itu, aku bahkan tidak bisa membalasmu. Begitu memalukan hingga aku bahkan tidak bisa mengatakan kalau aku sudah ditipu olehmu. Berkat kau, kau menjadi kutukan cinta pertamaku yang menyedihkan. Sekarang kau di sini, bagaimana kalau kau mengangkat kutukan itu sebelum pergi." ujar Kakashi sinis.
"Aku tidak menipumu, Kakashi. aku benar-benar menyukaimu. Aku berharap kau kembali seperti dirimu yang dulu lagi."
"Yang ingin kutemukan adalah penculik yang bekerja sama denganmu. Aku ingin menemukan uangku. Di mana uangku? Setelah aku menemukan mereka dan melupakan apa yang terjadi, kurasa kutukan itu juga akan terlepas."
Rin (di dalam tubuh Sakura) memandang Kakashi dengan sedih. Ia mengulurkan tangannya menyentuh wajah Kakashi.
"Selamat ulang tahun Kakashi. Aku... mencintaimu."
'Wusshh' Rin keluar dari tubuh Sakura dan menghilang, Sakura terkulai dalam pelukan Kakashi.
Kakashi sepertinya masih menyukai dan merindukan Rin walau ia selalu menyangkalinya. Ia benar-benar sangat sedih dan mengangkat tangannya memeluk Sakura, seakan ia memeluk Rin.
*TBC*
A/N :
*Kyaaaaaa* apa apan ini ? Dalam drama 'Masters'sun' gak ada pake acara ulang tahun Presdir :v tapi berkat imajinasi liar dari saya, semuanya bisa terjadi /Plak/
Jadi? Jadi Chap ini sudah dirancang untuk special ultah Kakashi *Yeeeeyy* Otanjoubi Omedetou ! Kakashi Hatake /PelukCiumKakashi/ + /DikejarFansKakashi/ :v
Saya mengetik chap ini dengan penuh semangat dan dihadang rintangan , disela-sela ulangan harian yang berturut-turut dari setiap mata pelajaran saya...
Raders: Wooyy ! Kenapa Curhat!
Saya: Maaf kebawa suasana :v
Intinya akhir kata *Riview* pleeeassee xD
Jaa Ne ...
© Masters 'sun
© Naruto - Masashi Kishimoto
