.Korea, 1816
Ini akan menjadi penculikan yang rapi dan mudah.
Ironisnya, penculikan itu mungkin akan dinyatakan legal di depan pengadilan, kecuali untuk dakwaan membobol rumah orang, tentu saja. Tapi kemungkinan itu sama sekali tidak penting. Jung Yunho. Seratus persen siap untuk memakai cara apapun yang dipandangnya perlu untuk meraih keberhasilan. Jika keberuntungan berpihak padanya, korbannya mungkin dalam keadaan tidur nyenyak. Jika tidak, menyumpal mulutnya pasti akan meredam suara protes apapun. Entah bagaimana caranya, legal atau tidak, ia akan membawa mempelainya. Yunho, tidak harus bersikap seperti seorang pria terhormat—dan itu suatu berkat, mengingat kenyataan bahwa sifat halus adalah suatu yang sama sekali asing baginya. Disamping itu ia sudah kehabisan waktu. Hanya tinggal enam minggu sebelum ia terhitung benar benar melanggar perjanjian perkawinan.
Yunho belum pernah bertemu dengan mempelainya sejak hari perjanjian pernikahan tersebut dibacakan empat belas tahun silam, tetapi gambaran yang terpatri di benaknya bukan tidak realitis. Ia tidak punya ilusi apapun tentang namja itu, karena ia sudah melihat cukup banyak Uke keluarga Kim untuk tahu bahwa tidak ada diantara mereka yang spesial. Mereka semua mengecewakan dalam hal penampilan maupun sikap. Kebanyakan bertubuh bulat, bertulang besar, bokong lebih besar lagi, dan jika cerita yang didengarnya tidak melebih lebihkan, nafsu makan yang gila-gilaan. Maski didampi istri akan sama menariknya dengan berenang di tengah malam bersama ikan hiu, Yunho siap sepenuhnya untuk menjalani cobaan itu. Mungkin, jika ia benar-benar memusatkan pikirannya pada masalah itu, ia akan menemukan cara untuk mematuhi semua syarat perjanjian pernikahan itu tanpa harus bersama mempelainya siang dan malam.
Hampir sepanjang hidupnya dijalani Yunho sendirian, menolak menerima saran siapapun. Ia hanya menceritakan apa yang dipikirannya pada Yoochun, teman kepercayaannya. Meskipun begitu, pertaruhannya terlalu tinggi untuk diabaikan Yunho begitu saja. Barang rampasan yang akan didapatkannya dari perjanjian pernikahan itu setelah setahun hidup bersama Kim Jaejoong lebih dari cukup untukmengganti rasa jijik yang mungkin dirasakan atau ketidak nyamanannya yang mungkin terpaksa harus jijalaninya. Uang yang akan dikumpulkan dari surat keputusan kerajaan akan memperkuat kemitraan baru yang dirintisnya bersama Yoochun musim panas sebelumnya. Shinki Shipping Companya adalah bisnis legal pertama yang pernah mereka coba dirikan, dan keduanya berniat untuk menyukseskannya. Alasannya sederhana saja. Mereka berdua sudah lelah menjalani kehidupan yang berbahaya. Bisa dibilang secara tak sengaja mereka telah terjerumus dalam dunia bajak laut—dan cukup sukses juga—tapi resikonya tak lagi sepadan. Yunho yang baraksi sepagai Pagan sang bajak laut tersohor, sudah menjadi legenda tersendiri. Daftar musuhnyanya cukup panjang, bahkan bisa bisa menjadi karpet untuk mengalasi ruangan yang berukuran besar. Imbalan yang ditawarkan untuk kepalanya telah naik ke angka yang sangat luar biasa sampai-sampai seorang Santopun akan tergoda menjadi penghianat demi imbalan itu.
Mereka sama sama mengerti seluk beluk komunitas bisnis. Mereka sama sama lulusan dari Universitas terkenal, meskipun ketika masih menjadi pelajar. Yoochun tidak pernah kemana mana tanpa disertai serombongan teman, sedangkan Yunho selalu sendirian. Ikatan baru terbentuk ketika keduanya dipasangkan sebagai agen mitra dalam sebuah permainan rahasia pemerintahan yang mematikan. Mereka telah mempertaruhkan nyawa masing-masing untuk satu sama lain hanya untuk dikhianati oleh atasannya sendiri. Kakak laki laki Yoochun, Park Dong wook. Ia menikahi adik perempuan Yunho, Jessica, setahun sebelumnya, dan dengan begitu secara tak sengaja makin mempererat ikatan diantara kedua teman itu. Yoochun dan yunho menjadi saudara atas dasar hubungan perkawinan.
Bagi orang luar, kedua sahabat itu sangat bertolak belakang. Yoochun dianggap sebagai anak alim, sementara Yunho si pendosa. Tapi kenyataannya, sifat mereka sangat mirip. Mereka sama-sama pintar menyembunyikan emosi. Yunho menggunakan sikap penyendiri dan perangai kasarnya sebagai senjata melawan kedekatan. Yoochun menggunakan penampilan palsunya untuk alasan yang sama. Sebenarnya, senyum lebar Yoochun adalah topeng yang sama seperti tatapan galak Yunho. Tampaknya pengkhianatan masa lalu sangat berhasil berhasil melatih keduanya. Mereka tidak percaya dengan dongeng cinta atau omong kosong tentang hidup bahagia selamanya.
Wajah merengut Yunho tampak jelas ketika ia memasuki kantor. Ia mendapati Yoochun duduk santai di sebuah kursi bersandaran tinggi, kedua kakinya ditumpangkan ke kursi jendela.
" Jimbo sudah menyiapkan dua ekor kuda, Yoochun." Kata Yunho, merujuk pada teman sekapal mereka." Ada urusan yang harus kalian selesaikan?"
" Kau tahu untuk apa tunggangan itu Yunho. Kau dan aku akan berkuda ke taman dan melihat Kim Jaejoong. Siang ini akan ada banyak orang disana. Tidak ada yang akan melihat kalau kita tetap berada didekat pepohonan."
Yunho berpaling memandang keluar jendela sebelum menjawab."Tidak".
"Jimbo akan menjaga kantor sementara kita pergi."
"Yoochun, aku tidak perlu melihatnya sebelum malam ini."
"Ah, brengsek, kau harus benar-benar melihatnya dulu."
"Kenapa?" tanya Yunho. Ia kedengaran benar-benar bingung.
Yoochun menggelengkan kepala."Untuk mempersiapkan dirimu."
Yunho memutar tubuh."Aku tidak perlu mempersiapkan diriku." Katanya."semua sudah siap. Aku sudah tahu yang mana jendela kamarnya. Pohon di luar akan menahan berat badanku; aku sudah mencoba untuk memastikannya. Jendelanya tidak dikunci, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya, dan kapal siap berlayar."
"Jadi kau sudah memikirkan semuanya ya?"
Yunho mengangguk."Tentu saja."
"Oh?" Yoochun berhenti sejenak untuk tersenyum."Dan bagaimana jika dia tidak muat lewat jendela? Apa kau sudah mempertimbangkan kemungkinan itu?"
Pertanyaan itu memancing reaksi tepat seperti yang diinginkan Yoochun. Yunho nampak terperangah, kemudian menggeleng."Jendelanya besar, Yoochun."
"Mungkin dia lebih besar lagi." Yoochun menyeringai.
Jika Yunho ngeri membayangkan kemungkinan itu, ia tidak menunjukkannya." Kalau begitu aku akan menggulingkannya dari tangga." Katanya malas-malasan.
Yoochun tertawa membayangkan pemandangan itu."Apa kau tidak penasaran sama sekali melihat bagaimana dia sekarang?"
"Tidak"
"Oke, tapi aku penasaran." Yoochun akhirnya mengakui." Karena aku tidak akan ikut dengan kalian berdua saat berbulan madu, rasanya wajar jika memuaskan keingintahuanku sebelum kau pergi."
"Itu perjalanan, bukan bulan madu." Balas Yunho."Berhentilah berusaha memancingku Yoochun. Demi Tuhan, dia itu seorang Kim, dan satu satunya alasan kami berlayar adalah untuk menjauhkannya dari kerabatnya."
"Aku tidak tahu bagaimana kau akan menghadapinya." Kata Yoochun. Seringainya lenyap, kekhawatiran tampak jelas menghiasi raut wajahnya."Astaga,Yunho. Kau harus menidurinya agar bisa menghasilkan keturunan jika kau menginginkan tanahnya juga."
Sebelum Yunho bisa mengomentari pengingat itu, Yoochun melanjutkan." Kau tidak harus melakukannya. Perusahaan ini akan tetap berjalan dengan atau tanpa dana dari perjanjian pernikahan itu. Lagipula, sekarang setelah Raja In hwan resmi turun tahta, pangeran tentunya akan menghapuskan perjanjian itu. Keluarga Kim sudah melobi mati-matian untukk mengubah pikirannya. Kau bisa melupakan semua ini."
"Tidak" suara Yunho terdengar tegas."Tanda tanganku ada diperjanjian itu. Seorang Jung tidak melanggar janjinya."
Yoochun mendengus."Kau sudah pasti bercanda." Katanya."Laki-laki keluarga Jung terkenal melanggar apapun jika mereka ingin."
Yunho terpaksa sependapat tentang pengamatan itu."Memang, meski begitu aku tidak akan melupakan masalah ini. Sama seperti kau tidak akan menerima uang yang di tawarkan kakakmu. Ini masalah kehormatan. Oh, dan kita sudah membicarakan ini semua sebelumnya. Tekadku sudah bulat."
Yunho bersandar pada kusen jendela, lalu mendesah panjang dan lelah." Kau tidak akan berhenti sampai aku setuju pergi denganmu bukan?"
"Ya." Jawab Yoochun."Lagipula, kau perlu menghitung ada berapa paman Kim disana, jadi kau bisa tahu berapa orang yang harus kau hadapi malam ini."
"Tidak akan ada yang menghalangiku Yoochun."
Pernyataan itu disampaikan dengan suara pelan dan dingin. Yoochun menyeringai" aku sangat mengerti bakat spesialmu,kawan. Aku hanya berharap tidak ada pertumpahan darah malam ini."
"Mengapa?"
"Aku benci jika harus melewatkan hal seru seperti itu."
"Kalau begitu ikut saja."
"Tidak bisa. Bantuan harus dibalas dengan bantuan, ingat? Aku berjanji pada Tuan Han kalau aku akan datang ke ristal putrinya jika dia bisa mengusahakan agar Jaejoong-ssi datang ke pestanya."
" Jaejoong tidak akan datang." Tebak Yunho."Ayahnya si keparat itu tidak akan mengizinkannya datang ke acara apapun."
"Jaejoong-ssi akan datang. Kim kangin tidak akan berani menyinggung perasaan orang berpangkat tinggi seperti Tuan Han. Dia secara spesifik meminta agar Jaejoong-ssi diizinkan datang ke pestanya."
"Sialan." Setelah menggumamkan umpatan itu,Yunho beranjak dari tempatnya." Kalau begitu, ayo kita pergi"
Yoochun segera memnfaatkan kemenangannya. Ia berjalan keluar sebelum kawannya itu berubah pikiran.
Dalam perjalanan mereka melintasi kota yang padat itu ia menoleh dan bertanya pada Yunho." Apa kau tidak penasaran, bagaimana kita akan tahu yang mana Jaejoong?"
"Aku yakin kau pasti sudah memikirkannya." Jawab Yunho datar.
"Benar sekali." Yoochun membalas dengan suara ceria yang kasar." Adikku Karam sudah berjanji akan berada dekat-dekat dengan Jaejoong-ssi sepanjang sore ini. Dan aku sudah memastikan caraku berhasil."
Yoochun menunggu semenit lamanya sampai akhirnya Yunho bertanya bagaimana ia bisa memastikannya, kemudian melanjutkan." Jika Karam tak bisa melaksanakan tugasnya, aku sudah mengerahkan ketiga adik perempuanku lainnya untuk bergantian melakukannya. Hei kawan, paling tidak tunjukan antusiasmu sedikit saja."
"Ini sunggung membuang buang waktuku saja." Yoochun tidak sependapat, tapi ia menyimpan pendapatnya dalam hati.
Mereka berdua tidak berkata-kata lagi sampai akhirnya tiba ke daerah tanah tinggi dia atas taman, dan cukup melindungi mereka, tapi mereka bisa melihat dengan jelas para tamu berjalan jalan di taman rumah milik Tuan Han dibawah."
"Sial kau Yoochun, aku merasa seperti anak kecil."
Kawannya tertawa."Wow, serahkan pada Tuan Han soal melakukan sesuatu yang ekstrim." Katanya ketika melihat rombongan musisi masuk menuju teras bawah."Dia menyewa satu orkestra penuh"
"Sepuluh menit Yoochun, setelah itu aku pergi."
"Setuju" Yoochun menenangkan. Ia menoleh memandang temannya. Yunho mendelik." Kau tau, Jaejoong-ssi mungkin akan bersedia pergi denganmu Yunho, jika kau..."
" Apa kau menyarankan agar aku mengirim surat lagi padanya?" tanya Yunho. Ia mengangkat sebelah alis betapa konyolnya kemungkinan itu."Kau ingat apa yang terjadi terakhir kali aku mengikuti saranmu bukan?"
"Tentu saja aku ingat."jawab Yaoochun."Tapi semua mungkin sudah berubah. Bisa jadi ada kesalah pahaman. Ayahnya bisa jadi.."
"Kesalah pahaman?" Yunho terdengar tidak percaya."Aku mengirim surat hari kamis, dan aku juga jelas sekali menyebutnya Yoochun."
"Aku tahu, kau bilang akan menjemput mempelaimu senin berikutnya."
"Kau pikir aku harus memberikan lebih banyak waktu padanya untuk mengepak."
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa dia akan kabur. Dan dia cepat juga ya?" Yoochun tersenyum miring.
" Ya, dia cepat." Jawab Yunho, ada nada geli pada suaranya.
"Kau bisa mengejarnya."
"Kanapa? Anak buahku sudah mengikutinya. Aku tahu dimana di berada, aku hanya memutuskan untuk membiarkannya saja beberapa saat."
"Aku merasa aneh," kata Yoochun."Kau menyuruh anak buahmu membuntuti Jaejoong-ssi...dan juga menjaganya...tapi kau tidak pernah meminta mereka memberitahu seperti apa wajahnya."
"Kau juga tidak bertanya."balas Yunho.
Yoochun mengangkat bahu. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada kerumunan orang dibawah."Sepertinya, kupikir kau telah memutuskan kalau perjanjjian itu tidak sepadan dengan pengorbanannya. Bagaimanapun juga, dia..." Yoochun lupa apa yang hendak dikatakannya ketika adiknya berjalan kearah mereka. Seorang berjalan disampingnya.
"Itu Karam!" katanya"Kalau saja Namja konyol itu bergeser ke kiri sedikit saja..." kalimatnya tak terselesaikan. Tarikan napas Yoochun mengisi keheningan."Oh Tuhan...mungkinkah itu Jaejoong-ssi?"
Yunho tidak menjawab. Sejujurnya, ia ragu saat itu ia akan sanggup bicara. Benaknya sibuk menyerap pemandangan dihadapannya.
Namja itu sunggung menawan. Yunho harus menggelengkan kepala. Tidak, katanya pada diri sendiri, mustahil namja itu mempelainya. Namja lembut yang tersenyum malu-malu pada Karam itu terlalu cantik, terlalu feminin, dan terlalu kurus untuk menjadi seorang Kim. Namun ada sedikit kemiripan, pengingat yang seakan-akan terus membetot tentang seorang namja cilik empat tahun yang rewel yang pernah digendongnya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan yang mengatakan padanya bahwa namja itu adalah istrinya, Jaejoong-nya.
Lenyap sudah rambut ikal berwarna madu Jaejoong. Rambutnya sebahu, sedikit mengombak, tapi berwarna gelap, coklat kemerahan. Dilihat dari jarak yang memisahkan mereka, kulitnya nampak bersinar. Rupanya namja itu telah tumbuh setinggi rata rata para uke lainnya. Tapi jelas tidak ada yang rata-rata dari tubuhnya. Semua lekuk ditubuhnya berada pada tempat yang tepat.
"Lihat semua pria muda itu mendekatinya." Kata Yoochun."Mereka bagai ikan hiu mengelilingi mangsanya. Tampaknya istrimu menjadi sasaran mereka, Yunho." Lanjutnya."Dan kita pikir orang masih punya sedikit sopan santun dan tidak menggangu seseorang yang sudah menikah. Tapi sepertinya aku tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Ya Tuhan, Yunho. Dia cantik sekali."
Yunho sibuk memperhatikan pria-pria antusias itu mengejar mempelainya. Ingin rasanya ia menghapuskan seringai pesolek itu dari wajah mereka. Lancang sekali mereka mencoba menyentuh apa yang menjadi miliknya? Yunho menggeleng-gelengkan kepala atas reaksi tak logisnya terhadap sang mempelai.
"Ah, itu dia ayah mertuamu yang kharismatik," Kata Yoochun."Aku benar benar tidak menyadari kalau kakinya sebengkok itu. Lihat, dia selalu mengekori putranya yang berharga."
Yunho menarik napas dalam."Ayo pergi Yoochun. Aku sudah melihat cukup banyak."
Sama sekali tak terdengar emosi dalam suara Yunho. Yoochun berpaling menatapnya. "Lalu?"
"Lalu apa?"
"Brengsek kau Yunho, katakan apa pendapatmu?"
"Tentang apa?"
"Jaejoong-ssi." Desak Yoochun. "Apa pendapatmu tentangnya?"
"Yang sebenarnya Yoochun?" temannya segera mengangguk.
Senyum Yunho terkembang perlahan-lahan, santai. "Dia akan muat lewat jendela."
Waktunya sudah habis, Jaejoong harus meninggalkan Korea. Semua mungkin mengira lagi-lagi ia akan kabur. Ia pikir, mereka akan mulai memanggilnya pengecut dan meskipun fitnah itu akan terasa menyakitkan, ia masih bertekad untuk meneruskan rencananya. Jaejoong tidak punya pilihan lain. Ia sudah dua kali mengirim surat pada Jung Yunho untuk meminta bantuannya, namun laki-laki yang menurut hukum adalah suaminya itu sama sekali tidak menanggapi. Jaejoong tidak berani berusaha menghubunginya lagi. Tidak ada waktu lagi, masa depan bibi Heechul depertaruhkan, dan Jaejoong adalah satu-satunya yang bisa—atau, lebih tepatnya—yang mau menyelamatkannya.
Jika kalangan kelas atas percaya bahwa Jaejoong melarikan diri dari perjanjian pernikahan, biarkan saja. Dalam hidup ini, tak ada yang berjalan sesuai harapan Jaejoong. Ketika ibunya memintanya pergi ke pulau tempat tinggal Heechul musim semi sebelumnya untuk memastikan apakah bibinya baik-baik saja, Jaejoong seketika mengiyakan. Jaejoong dan ibunya sepakat tidak mengungkapkan alasan sebenarnya dibalik kepergiannya yang begitu tiba tiba itu. Mereka memutuskan untuk berbohong bahwa Jaejoong akan mengunjungi kakak perempuannya, BoA, yang tinggal di koloni Jepang bersama Suami dan putranya yang masih bayi.
Para Tetua keluarga Kim meninggalkan Heechul ketika ia mempermalukan mereka dengan menikahi seseorang dari kalangan yang lebih rendah. Pernikah itu dilakukan empat belas tahun lalu, tapi keluarga Kim bukanlah orang yang mudah memaafkan. Mereka sangat mendukung prinsip "Mata dibayar mata" . seharusnya Jaejoong lebih cepat menyadari hal itu. Jaejoong takkan mengizinkan heechul berkunjung jika seperti itu. Tidak ada reuni yang menyenangkan antara kedua saudara itu. Tidak ada yang sempat bicara dengan Heechul sebab ia menghilang beberapa jam setelah ia dan Jaejoong meninggalkan kapal. Akhirnya setelah ia tak tahan lagi didera kekhawatiran , pelayan setianya Hyuk jae mendapat informasi dimana paman-pamanya menyembunyikan bibi Heechul. Wanita itu rupanya disekap diloteng rumah paman Shindong dikota sampai urusan perwalian diselesaikan oleh pengadilan agar warisannya yang besar dibagi antara para tetua keluarga itu dan Heechul akan dikirim ke rumah sakit jiwa terdekat.
"Dasar Lintah." Gumam Jaejoong. Ia mengatakan pada diri sendiri, amarahlah yang membuatnya gemetar, bukan rasa takut.
Jaejoong menarik nafas dalam dalam , menenangkan diri sambil membawa tasnya menghampiri jendela yang terbuka. Dilemparkannya tas pakaian itu ke tanah. "Itu yang terakhir Hyuk jae. Sekarang cepat pergi sebelum keluargaku kembali. Hati hati kawan."
Pelayan itu mengambil tas terakhir dan bergegas menuju kereta kuda sewaan yang sudah menunggu. Jaejoong menutup jendela, memadamkan lilin dan naik ketempat tidur. Saat hampir tengah malam ketika orang tua dan kakak perempuannya, Ahra, kembali dari bepergian. Ketika Jaejoong mendengar suarang langkah kaki dilorong, ia berguling tengkurap, memejamkan mata dan pura pura tidur. Sesaat kemudian ia mendengar pintu berderik saat dibuka dan tahu ayahnya sedang melongok untuk melihat bahwa putranya berada di tempat semestinya. Bagi jaejoong rasanya lama sekali sebelum akhirnyya pintu kembali tertutup.
Jaejoong menunggu sekitar du puluh menit lagi agar seisi rumah sudah beristirahat. Kemudian ia menyelinap dari balik selimut dan mengambil barang barangnya dari tempat persembunyian di kolong lemarinya. Ia tak boleh menarik perhatian dalam pelariannya. Karena ia tak punya baju warna hitam, Jaejoong mengenakan baju lamanya yang berwarna biru tua, lehernya agak terlalu terbuka tapi ia tidak sempat mengkhawatirkan hal itu.
Setelah meletakkan surat yang telah ditulisnya untuk ibunya di meja rias, Jaejoong membungkus payung, dan sarung tangannya dengan mantel. Dilemparnya semua itu keluar jendela, kemudian memanjat ke birai jendela. Ranting yang ingin diraihnya hanya berjarak sekitar setengah meter darinya, tapi jarak kebawah sekitar semester lebih. Bibir Jaejoong mengucap doa singkat saat beringsut ke tepi. Cukup lama ia duduk di sana, sampai keberaniannya melompat terkumpul. Kemudian dengan rengekan ketakutan yang tak bisa ditahannya, ia memaksa diri melompat.
Yunho tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia baru saja akan memanjat pohon raksasa itu ketika jendela terbuka dan bermacam macam barang berjatuhan. Payung itu meninmpa bahunya. Ia menghindar dari barang barang lainnya dan menyelinap bersembunyi lebih dalam di kegelapan. Bulan memberikan pencahayaan yang cukup baginya untuk melihat Jaejoong ketika namja itu memanjat bingkai jendela. Yunho hendak meneriakkan peringatan, yakin namja itu akan patah leher, ketika tiba tiba Jaejoong melompat. Ia bergegas lari untuk menahan jatuhnya.
Tangan Jaejoong berhasil meraih sebuah dahan pohon yang besar dan mati matian berpegangan. Ia kembali menggumamkan doa agar tidak menjerit, kemudian menunggu sampai berhenti berayun-ayun keras dan perlahan lahan mendekati batang pohonnya.
"Ya Tuhan!Ya Tuhan!Ya Tuhan!" jaejoong membisikkan rangkaian doa itu selama turun dari pohon. Kain pakaiannya tersangkut di dahan. Dan begitu kakinya menyentuh tanah Jaejoong merapikan pakaiannya dan mendesah panjang.
"Ah sudah." Bisiknya. "Tidak terlalu menakutkan juga." Astaga, pikirnya. Jaejoong baru saja menipu diri sendiri. Jaejoong berlutut di tanah, mengumpulkan barang-barangnya. Sambil menggerutu, dan membuang waktunya yang berharga dengan mengenakan sarung tangannya, membersihkan mantelnya ternyata butuh waktu lebih lama, mengapit payung dan akhirnya berjalan menuju depan rumah.
Tiba tiba Jaejoong berhenti, merasa yakin mendengar suara dibelakangnya. Tapi ketika ia memutar tubuh, ia tak melihat apa apa selain pepohonan dan banyang banyang gelap. Imajinasinya berusaha menipu, pikirinya. Mungkin itu hanya detak jantungnya sendiri yang membuat keributan ditelinganya.
"Dimana Hyuk jae?" gumam Jaejoong pada diri sendiri beberapa saat kemudian. Hyuk jae sudah berjanji untuk menemaninya ke rumah paman Shindong. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tertunda, pikir Jaejoong.
Rumah paman Shindong berjarak tiga blok dari rumahnya. Semestinya takkan memakan banyak waktu berjalan kesana, lagi pula saat itu tengah malam, dan tentu saja jalanan akan kosong. Penjahat juga butuh istrirahatkan? Oh Tuhan semoga saja,pikirnya. Dia akan baik baik saja, katanya pada didri sendiri sambil bergegas menyusuri jalan. Jika ada yang mencoca menghalanginya, ia akan memakai payung sebagai senjatanya. Jaejoong lari secepat kilat melewati blok pertama. Rasa nyeri dipinggangnya memaksanya memperlambat larinya dengan kecepatan pelan. Ia sedikit santai saat menyadari jalanan cukup aman. Sepertinya tidak ada orang lain dijalan malam itu. Jaejoong tersenyum mensyukuri.
Yunho membuntuti. Ia ingin memuaskan rasa ingin tahunya sebelum menyambar mempelainya, melemparkan tubuh kecil Jaejoong kebahunya, dan menuju ke dermaga. Disudut benaknya ada kemungkinan menyebalkan yang mengatakan bahwa namja itu berusaha melarikan diri lagi darinya. Disingkirkan pikiran bodoh itu, karena mustahil Jaejoong tahu tentang rencananya menculik namja itu. Mau kemana Jaejoong? Yunho memikirkan pertanyaan itu sambil terus mengikutinya.
Tapi rupanya mempelainya itu cerdas juga. Yunho takjub ketika menyadarinya, mengingat Jaejoong adalah seorang Kim, tapi namja itu sudah menunjukkan padanya keberanian sejati. Ia mendengar sendiri tadi betapa Jaejoong memekik ketakutan ketika melompat dari jendela. Jaejoong juga tersangkut diantara ranting ranting, kemudian komat kamit berdoa pelan dan bersungguh sungguh sambil berdoa turun dari pohon, membuat Yunho tersenyum. Ia sudah melihat dengan jelas kaki panjang dan indah Jaejoong sementara namja cantik itu berada dalam kondisi yang menyedihkan, dan Yunho harus menahan diri untuk tidak tertawa keras keras.
Yunho segera menyadari bahwa Jaejoong masih tidak menyadari keberadaannya. Ia tidak percaya betapa naifnya namja itu. Andai saja Jaejoong terpikir untuk menengok kebelakang, Jaejoong pasti akan melihat Yunho.
Jaejoong sama sekali tidak menengok kebelakang. Mempelai Yunho berbelok ditikungan pertama, dan melewati gang gelap dengan langkah lebih cepat, kemudian memperlambat jalannya lagi. Tapi rupanya ada yang melihat Jaejoong lewat. Dua lelaki kekar, senjata siaga, menyelinap seperti ular keluar dari rumah rumahan mereka. Yunho yang tepat dibelakang mereka mendengar langkah kakinya mendekat, kemudian menunggu sampai mereka berbalik untuk menantangnya sebelum membenturkan kepala mereka satu sama lain. Yunho melemparkan sampah itu ke gang, selama itu pandangannya tertuju pada Jaejoong.
Cara berjalan mempelainya seharusnya dilarang oleh hukum pikirnya, ayunan pinggulnya terlalu mempesona. Dan tepat saat itu Yunho melihat ada gerakan lain dalam kegelapan di depan sana. Ia bergegas lari untuk menyelamatkan Jaejoong sekali lagi. Namja itu baru saja berbelok ditikungan kedua ketika bogem mentah Yunho menhgajar rahang calon peneyerangnya.
Yunho harus campur tangan sekali lagi untuk Jaejoong sebelum namja itu sampai ke tujuannya. Yunho menduga Jaejoong akan mengunjungi Paman Shindongnya, ketika mempelainya itu berhenti sejenak di anak tangga terbawah kediamannya dan mendongak lama kejendela gelapnya. Dari semua kerabat Jaejoong, Yunho merasa Shindonglah yang paling kejam. Dan ia tidak menemukan satu alasan logis mengapa Jaejoong akan mengunjungi bajingan pengecut itu ditengah malam seperti ini.
Jaejoong tidak berkunjung, Yunho menyimpulkan namja cantik itu menyelinap ke sisi rumah, Yunho mengikutinya kemudian bersandar ke tembok samping untuk mencegah pengacau lain keluar. Ia bersedekap memperhatikan Jaejoong berusaha menerobos diantara semak dan masuk ke rumah melalui jendela.
Sungguh aksi perampokan paling tak berpengalaman yang pernah disaksikan Yunho.
Jaejoong takkan pernah bisa menjadi pencuri yang ahli . yunho bisa mendengar suara pintu dibanting menutup dan tahu mempelainya yang membuat semua keributan itu. Bisa bisa orang matipun akan bangun kalau namja itu tidak berusaha pelan pelan. Dan apa sebenarnya yan dicarinya
Jeritan melengking memecah di udara. Yunho mendesah lelah. Ia mulai menaiki tangga untuk menyelamatkan namja bodoh itu sekali lagi, kemudian tiba tiba berhenti ketika namaj itu muncul dilantai atas dekat tangga. Ia tidak sendirian. Yunho kembali keceruk dan menunggu. Ia kini mengerti alasan kedatangan Jaejoong. Sebelah tangan Jaejoong memeluk pundak seorang perempuan yang terbungkuk bungkuk. Yunho tidak bisa melihat wajah wanita itu tapi ia tahu bahwa perempuan tua itu sedang dalam kondisi yang sangat lemah atau sedang kesakitan.
" Sudah, jangan menangis lagi bibi Heechul." Bisik Jaejoong. "semua akan baik baik saja sekarang. Aku akan mengurusmu." Ketika mereka sampai diserambi depan, Jaejoong melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Heechul.
"Aku tahu kau akan menjemputku Jae. Aku tidak akan pernah meragukannya, dilubuk hatiku yang paling dalam, kau akan tahu cara untuk menolongku."
Jaejoong mengulurkan tangan merapikan jepit dirambut bibinya."Tentu saja kau tahu aku akan menjemputmu." Bisiknya."Aku sayang padamu bibi Heechul. Aku tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi padamu. Nah," lanjutnya dengan suara seceria mungkin." Rambutmu sudah tampak cantik."
"Bagaimana caranya kau dapat menemukanku?"
" Itu tidak penting sekarang." Kata Jaejoong. Menarik kunci dan membukanya." Kita akan punya waktu banyak sekali untuk bicara setelah kita naik ke kapal. Aku akan membawamu pulang bibi."
"Oh, aku belum bisa meninggalkan korea."
Jaejoong memutar tubuh memandang bibinya."Apa maksudmu belum bisa pergi? Semua sudah diurus Heechul. Aku sudah memesan tiket perjalanan dengan semua uang yang kupunya. Sekarang bukan saatnya menjadi merepotkan. Kita harus pergi malam ini juga. Terlalu bahaya jika kau tinggal disini."
"Shindong mengambil cincin kawinku."jelas heechul. Ia kembali menggelengkan kepala." Aku tidak akan meninggalkan Korea tanpa cincin itu. Hangeng, semoga arwahnya beristirahat dengan tenang, menyuruhku untuk jangan pernah melepaskannya sejak hari pernikahan kami empat belas tahun silam. Aku tak bisa pulang tanpa cincin kawinku. Benda itu terlalu berharga."
"Ya, kita harus menemukannya." Jaejoong mengiyakan ketika bibinya mulai menangis lagi." Kau tahu kira kira dimana paman Shindong menyembunyikannya?"
"Itulah masalahnya, Shindong tidak mau repot repot menyembunyikannya. Dia memakai cincin itu diekelingkingnya, memamerkannya seperti trofi. Kalau kita tahu dimana pamanmu minum minum malam ini, kita bisa mengambil kembali cincinnya."
"Aku tahu dimana dia. Hyuk jae sudah lama mengikutinya. Apa kau sanggup berjalan sebentar sampai ke tikungan? Aku tidak berani meminta kereta sewaan menunggu didepan karena takut paman Shindong akan pulang lebih cepat."
"Tentu saja aku mau jalan." Jawab Heechul. Ia beranjak dari birai tangga. Jalannya kaku ketika ia perlahan lahan menghampiri pintu.
Jaejoong mulai mnutup pintu dibelakangnya kemudian berubah pikiran. "Mungkin sebaiknya kubiarkan saja pintu ini terbuka lebar lebar, semoga saja ada orang yang mau masuk dan merampok barang-barang paman Shindong. Tapi aku tidak terlalu berharap, memang." Lanjutnya. "Sepertinya sama sekali tidak ada penjahat yang berkeliaran malam ini. Waktu berjalan kemari, aku tak melihat satupun."
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalan gelap dan sempit, tawa Jaejoong masih terdengar. Kereta itu menunggu mereka ditikungan. Jaejoong segera membantu bibinya naik kekendaraan berwarna hitam itu ketika seorang penyerang yang sedang mencari mangsa bergegas menghampiri mereka. Yunho hanya perlu melangkah ke tempat yang diterangi sinar bulan. Si penyerang melihatnya, buru buru berbalik dan melebur dalam kegelapan.
Jaejoong jelas-jelas tidak menyadari keberadaan Yunho. Ia sibuk menawar tarif dengan kusir kereta, dan akhirnya menyetujui tarif yang sangat mahal. Ia bergabung dengan bibinya didalam kereta. Kereta itu dalam keadaan bergerak ketika Yunho menyambar bagian belakang pagar keretanya dan berayun naik ke birai. Kereta sempat bergoyang karena bebabn tambahan itu sebelum akhirnya kembali menderap cepat.
Kereta mereka menepi ke salah satu sisi jalan tapi laut dan berhenti tiba-tiba didepan salah satu bar yang paling berbahaya di kota itu. Yunho melompat turun dan bergerak menuju tempat yang disinari cahaya lebih ke belakang kereta. Ia ingin pria yang berkliaran didepan bar melihatnya dengan jelas, cambuk bertergulung dan dikaitkan di sabuknya, lalu mendelik melihat segerombolan orang itu. Tiga laki laki bertubuh lebih kecil beringsut kembali kedalam dan empat lainnya bersandar kembali kedinding.
Kusir kereta turun dari tempatnya saat menerima perintah baru dan bergegas masuk kedalam bar. Beberapa menit berlalu sebelum pintu kedai terbuka. Seorang lelaki berwajah masam dengan perut buncit menjijikan keluar dari kedai. Pakaiaannya kusut dan kotor kena tanah, kumal karena sering dipakai.
"Majikanku, Kim Shindong terlalu mabuk untuk keluar." Kata lelaki itu."aku disini untuk mewakilinya. Kusirmu mengatakan ada seorang perempuan dan uke yang membutuhkan sesuatu dan kurasa aku laki laki yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya."
Lelaki menjijikan itu menggaruk selangkangannya sambil menunggu jawaban atas tawarannya dengan antusias.
Jaejoong nyaris muntah karena bau mnyengat itu lewat jendela. Ia menoleh pada bibinya. "Apa kau kenal dengan orang ini?"
"Tentu saja. Namanya Noo Sayeon,Jae. Dan dia salah satu yang membantu pamanmu menyekapku."
"Apa dia memukulmu?"
"Ya, sayang. Benar. Bahkan beberapa kali"
Yunho berjalan kesamping kereta. Niatnya adalah mencabik lelaki itu dari ujung rambut sampai ujungg kaki karena pikiran mesum pada mempelainya. Ia berhenti ketika kepalan tangan terbungkus sarung tangan melayang melewati jendela yang terbuka dan menghantam keras samping hidung besar. Sayeon tidak siap menerima serangan itu. Ia melonglong kesakitan, terhuyung-huyung kebelakang dan tersandung kaki sendiri. Sambil melontarkan umpatan kasar i a berusaha berdiri. Jaejoong mengambil keuntungan . ia menendang keras pintu kereta hingga terbuka, mengenai bagian perut dan nyaris berjungkir balik ke udara sebelum terbanting ke got, pantatnya mendarat terlebih dahulu. Gerombolan laki-laki yang bersandar didinding itu berseloroh senang melihat tontonan itu.
Jaejoong terlalu marah untuk merasa takut. Ia berdiri didepan korbannya, kelihatan seperti malaikat menuntut balas. Suaranya bergetar karena marah ketika berkata. "Kalau kau sampai memperlakukan perempuan dengan semena mena lagi Sayeon, aku bersumpah pada Tuhan kalau kau akan mengalami kematian yang lambat dan menyakitkan."
"Aku tidak pernah melakukan perempuan dengan semena mena." Rengek Sayeon. Ia berusaha mengatur napas agar dapat menerkam namja itu."Darimana kau tahu namaku?"
Heechul menjulurkan kepala keluar jendela."Kau benar-benar penipu yang memalukan Sayeon." Serunya. "Kau akan terbakar dineraka bersama dosamu."
Mata Sayeon terbelalak kaget."Bagaimana kau bisa keluar..." jaejoong memutus pertanyaan itu dengan menendangnya keras-keras.
Sayeon kembali menatapnya, raut wajahnya tampak menantang."Kau pikir kau bisa melukaiku?" katanya mencemooh, sebenarnya pelayan itu lebih berasa malu ketimbang kesakitan."Satu-satunya alasan aku tidak membalas adalah karena tuanku akan ingin menghajarmu sendiri sebelum menyerahkanmu padaku."
"Kau tahu besarnya masalah yang kau hadapi, Sayeon?" tanya Jaejoong. "Suamiku akan mendengar tentang kekejaman ini, dan tentunya ia akan menuntut balas. Jung Yunho ditakuti oleh semua orang, bahkan cecunguk bodoh sepertimu. Begitu aku memberitahukan padanya apa yang kau lakukan. Dia akan memberikan ganjaran yang setimpal padamu. Suamiku melakukan apa saja yang kukatakan padanya."
Jaejoong berhenti sejenak untuk menjentikkan jarinya sehingga lebih dramatis."Oh, sepertinya aku berhasil mendapatkan perhatianmu dengan janji itu." Lanjut Jaejoong sambil mengangguk ketika melihat wajah sayeon berubah. Laki-laki itu tampak ketakutan setengah mati. Ia berusaha berdiri sendiri, dan malahan beringsut mundur.
Jaejoong senang sekali dengan apa yang dilakukannya. Ancamannya ternyata cukup berhasil. Ia tidak menyadari kalau Sayeon baru saja melihat dengan jelas sosok raksasa yang berdiri tak sampai tiga meter dibelakangnya. Jaejoong mengira ia baru saja membangkitkan rasa takut si pelayan terhadap Jung Yunho.
"Laki-laki yang memukul perempuan adalah pengecut sejati." Kata Jaejoong lagi." Suamiku membunuh pengecut semudah membunuh serangga yang menjengkelkan, dan jika kau meragukan kata-kataku. Ingat saja kalau dia adalah seorang Jung sejati."
"Jae, sayang." Seru Heechul."Kau ingin aku menemanimu masuk?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Sayeon saat menjawab bibinya."Tidak bibi, pakaianmu tidak sesuai untuk ini. Aku tidak akan lama."
"Kalau begitu cepat, nanti kau kedingin sayang." Heechul masih menjulurkan kepala keluar jendela, tapi pandangannya tertuju pada Yunho. Laki-laki itu membalas tatapan Heechul yang terbeliak dengan anggukan singkat sebelum kembali memperhatikan mempelainya.
Mataram, 09 Januari 2015
