Fanfic ini adalah remake dari Novel HR karya Julie Garwood yang berjudul The Gift..
Saya hanya mengurangi dan menambahkan sesuai dengan keadaan versi Yunjaenya..
Selamat membacaa~~ Happy Reading~
Heechul masih terus menjulurkan kepala keluar jendela, tapi pandangannya tertuju pada Yunho. Laki-laki itu membalas tatapan Heechul yang terbeliak dengan anggukan singkat sebelum kembali memperhatikan mempelainya. Heechul segera menyadari bagaimana lelaki kekar itu bisa membuat orang yang berniat jahat tak berani mendekat. Melihat badannya yang besar saja sudah tampak menakutkan. Perempuan itu juga menyadari bahwa laki-laki itu sebenarnya melindungi Jaejoong. Ia akan menunggu untuk menyebut tentang si penyelamat kalau Jaejoong sudah menyelesaikan tugasnya.
Yunho terus memperhatikan Jaejoong. Mempelainya itu benar-benar penuh kejutan. Ia merasa kesulitan menerima fakta itu, karena selama ini ia melihat betapa orang orang Kim sangatlah pengecut. Yunho merasa ia takkan terkejut jika Jaejoong mengeluarkan pistol dan menembak korbannya tepat diantara kedua matanya. Jaejoong jelas-jelas cukup marah untuk melakukannya. Jaejoong berjalan mengitari Sayeon, berhenti sebentar untuk melotot kepadanya, lalu bergegas masuk ke kedai minum.
Yunho segera menghampiri Sayeon. Direnggutnya leher pelayan itu, mengangkatnya ke udara, lalu melemparnya ke dinding batu. Para penontonnya lari terbirit birit seperti tikus. Sayeon menghantam dinding dengan suara keras, lalu terpuruk kelantai. Pingsan.
"Oh, Tuan?" panggil Heechul. "Kurasa sebaiknya kau masuk sekarang. Jaejae-ku pasti akan membutuhkan bantuanmu lagi."
Yunho berbalik untuk mendelik kepada perempuan yang berani memberi perintah kepadanya itu. Tapi saat itu juga suara siulan dan tawa keras menarik perhatiannya. Sambil menggeram frustasi atas apa yang dianggapnya sangat merepotkan itu, Yunho perlahan mengurai cambuknya dan berjalan menuju pintu.
Jaejoong menemukan pamannya duduk terbungkuk menghadap segelas arak di sebuah meja bundar di tengah kedai minum. Mungkin Jaejoong akan menggunakan rasa malu dan logika untuk mendapatkan cincin bibi Heechul kembali. Tapi saat ia benar-benar melihat cincin perak di jari pamannya, lenyap sudah semua strategi logisnya. Diatas meja itu ada sebuah gelas besar penuh arak. Sebelum Jaejoong bisa menahan diri, ia mengangkat dan mengguyurkan isinya ke kepala botak pamannya.
Laki-laki itu sudah terlalu mabuk untuk bisa bereaksi cepat. Ia berteriak lantang, memutus teriakannya sendiri dengan sendawa yang menguarkan bau tak sedap, lalu berdiri terhuyung-huyung. Jaejoong sudah berhasil melepaskan cincin kawin dari jari sebelum otak laki-laki itu cukup jernih kembali untuk menepis namja cantik itu.
Butuh waktu lama bagi Shindong untuk fokus pada wajah Jaejoong. Sambil menunggu, Jaejoong menyelipkan cincin itu ke jarinya sendiri.
"Ya Tuhan...Jae? sedang apa kau di sini? Apa ada yang tidak beres?" Shindong melontarkan pertanyaannya dengan terbata bata. Usaha itu rupanya menghabiskan sisa tenaganya.
"Ada yang tidak beres?" Jaejoong mengulang pertanyaan pamannya dengan nada mencemoh. "Kau menjijikan paman Shindong. Jika Aboeji tahu apa yang kau lakukan bersama saudara laki-laki yang lain terhadap bibi Heechul, aku yakin dia akan memanggil pihak berwenang dan memerintahkan kalian semua diseret ketiang gantungan."
"Apa katamu?" tanya Shindong. Ia menggosok dahinya sembari berusaha berkonsentrasi pada percakapan itu. "Heechul? Kau mengomel padaku gara-gara perempuan tak berguna itu?
Sebelum Jaejoong bisa menyemburnya lagi karena mengatakan hal yang memalukan seperti itu, pamannya berkata tanpa berpikir lagi, "Sejak awal Abojiemu ikut merencanakan ini semua. Heechul terlalu tua untuk mengurus dirinya sendiri. Kami tahu apa yang terbaik untuknya. Jangan mengamuk padaku, Nak. Karena aku tidak akan memberitahumu dimana perempuan itu."
"Kalian tidak tahu apa yang terbaik baginya." Teriak Jaejoong. "Kalian menginginkan warisannya, itulah alasan sebenarnya. Semua orang dikota tahu tentang hutang judimu paman. Kau sudah menemukan cara mudah untuk melunasinya bukan? Kau akan menyekap Heechul dirumah sakit jiwa bukan?"
Tatapan Shindong bergerak bolak-balik antara gelas kosong dan raut wajah berang keponakannya. Akhirnya ia sadar bahwa Jaejoong telah mengguyur kepalanya dengan arak. Amarahnya membuat kepalanya berdenyut-denyut. Ia butuh minuman lagi.
"Kami akan menyingkirkan perempuan keparat itu, dan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang pulang sebelum kuhajar pantatmu."
Dari arah belakang jaejoong terdengar suara terkekeh. Ia berbalik untuk melotot pada orang itu. "Minum saja minumanmu, tuan. Dan tak usah ikut campur." Baru setelah orang itu kembali mengarahkan pandangannya ke cawan didepannya, Jaejoong pun memutar tubuh menghadap pamannya lagi.
"Kau bohong soal Aboeji," katanya. "Dia tak akan pernah ambil bagian dalam kekejaman seperti itu. Sedangkan soal menghajarku, silakan saja dan hadapi amarah suamiku. Akan kuadukan kau padanya." Ancamnya sambil mengangguk.
Jaejoong berharap karena ancaman kosongnya tentang pembalasan dari suaminya sangat berhasil membuat si pelayan Sayeon mati kutu, ancaman yang sama mungkin akan berhasil juga pada kerabatnya yang mabuk itu.
Tapi harapannya kandas. Shindong sama sekali tak tampak terintimidasi. Ia mendengus keras. "Kau sama gilanya dengan Heechul kalau yakin seorang Jung akan datang membelamu. Aku bisa menghajarmu habis-habisan Jae..dan tak akan ada yang perduli, apalagi suamimu."
Namja cantik itu semakin jengkel dengan pamannya sampai tidak menyadari kalau beberapa tamu kedai itu perlahan lahan mulai mendekatinya. Yunho menyadarinya. Seorang laki laki yang menurutnya adalah pemimpin gerombolan itu bahkan menjilat bibirnya melihat santapan yang menurutnya akan segera dinikmatinya.
Jaejoong tiba-tiba menyadari kegagalan rencananya. "Kau tahu paman? Aku sudah berusaha agar kau berjanji untuk tidak menganggu Heechul lagi, tapi sekarang aku menyadari kebodohanku sendiri. Hanya laki laki terhormat yang akan menepati janjinya. Sifat busukmu terlalu kental untuk bisa memegang janji. Sepertinya aku hanya buang-buang waktu saja disini."
Pamannya bangkit untuk menamparnya, tapi dengan mudah Jaejoong mengelak. Namja cantik itu berhenti mundur ketika menabrak sesuatu yang keras, lalu berbalik dan mendapati dirinya dikelilingi beberapa lelaki yang tampak kurang ajar. Ia juga merasa mereka semua benar-benar perlu mandi.
Semua orang nampak begitu terpesona oleh namja cantik itu sampai sampai tak menyadari kehadiran Yunho. Mungkin mereka terlalu termakan hawa nafsu untuk waspada, pikir Yunho. Pada akhirnya mereka akan menyadari kesalahan itu, tentu saja. Yunho bersandar pada pintu yang tertutup disudut ruangan dan menunggu gerakan pertama.
Ternyata kesempatan itu datang secepat kilat. Begitu laki-laki pertama menyambar lengan Jaejoong, Yunho meraung marah. Suaranya dalam, parau, dan memekakkan telinga. Dan efektif. Semua orang ditempat itu hanya terpaku—semua kecuali Jaejoong. Namja itu terlonjak kaget, lalu memutar tubuh menghadap sumber suara.
Jaejoong pasti akan menjerit seandainya tenggorokannya tidak tercekat. Sebenarnya, ia kesulitan mengatur napas. Lututnya lemas ketika melihat lelaki tinggi besar berdiri didepan pintu. Jaejoong berpegangan ke meja agar tidak jatuh. Jantungnya seperti memukul-mukul di dalam dada, dan ia yakin ia hampir mati ketakutan.
Apa sebenarnya laki-laki itu? Bukan, bukan apa. Jaejoong meralat sendiri, tapi siapa. Jaejoong nyaris panik sendiri. Orang itu adalah seorang lelaki—benar, laki-laki—tapi laki-laki bertubuh paling besar, dan tampaknya paling berbahaya... Oh Tuhan, dia menatap Jaejoong.
Laki-laki itu mengisyaratkan dengan menekuk jarinya, memanggilnya.
Jaejoong menggeleng...
Laki-laki itu mengangguk.
Laki-laki bermata tajam itu kembali mengisyaratkan untuk menghampirinya. Jaejoong menengok ke belakang memastikan laki-laki itu tidak memanggil orang lain. Tidak ada siapa-siapa. Ia memang memanggil Jaejoong.
Lelaki itu kembali menggerakkan jarinya. "Kemarilah."
Suaranya dalam, berwibawa, arogan. Dan entah bagaimana, Jaejoong mulai mendekatinya. Seketika suasana menjadi kacau. Suara cambuk memecah keheningan, disusul jerit kesakitan dari si bodoh yang berusaha menyentuh Jaejoong saat ia berjalan menghampiri lelaki itu seperti bergema ditelinganya. Ia tak pernah menengok kearah semua keributan itu. Matanya tertuju pada laki-laki yang secara sistematis menghancurkan kedai minum itu. Pria itu membuatnya terlihat begitu mudah, hanya memutar pergelangan tangannya, gerakan yang terkesan ringan, telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang disekitarnya.
Jaejoong juga bisa melihat, semakin dekat dirinya dengan pria itu, semakin mengerikan tatapan marahnya. Sepertinya ia sedang tidak senang. Jaejoong memutuskan akan menghiburnya sampai ia bisa menenangkan diri. Lalu ia akan lari keluar, lompat kekereta bersama Heechul dan kabur ke pelabuhan. Rencana yang bagus, katanya pada diri sendiri. Tapi masalahnya, tentu saja ia harus menyingkirkan si viking itu dari pintu terlebih dahulu.
Jaejoong berhenti tepat didepannya, menengadah dan menatap mata tajam itu sampai akhirnya lelaki itu menunduk untuk menatapnya. Refleks, Jaejoong mengulurkan tangan dan mencubit laki-laki itu, sekedar memastikan dia bukan imajinasi belaka. Ternyata memang bukan ilusi. Kulitnya terasa seperti baja, tapi baja yang hangat. Sorot matanya menyelamatkan dari kegilaan. Warnanya menghipnotis dan dalam.
Aneh tapi semakin Jaejoong menatap pria itu, ia merasa semakin aman. Jaejoong tersenyum lega. Lelaki itu mengangkat sebelah alis melihatnya. "Aku tahu kau bukan orang jahat, Viking."
Tiba-tiba Jaejoong lemas. Ia merasakan seakan melayang di lorong gelap menuju Viking berkulit perunggu yang berdiri di bawah sinar mentari.
Yunho menangkap tubuhnya sebelum jatuh menyentuh lantai. Mempelainya benar-benar sudah tak sadarkan diri ketika ia memanggulnya. Matanya menelusuri seisi kedai minuman melihat apabila ada yang terlewatkan. Orang-orang bergelimpangan dilantai kayu. Ia merasakan keinginan begitu kuat untuk meninggalkan bekas luka pada si paman bajingan yang meringkuk ketakutan di kolong meja. Ia bisa mendengar isakannya.
Yunho menendang meja sampai keujung ruangan agar bisa melihat mangsanya. "Kau tahu siapa aku Kim?"
Shindong tetap meringkuk seperti bayi, tak sanggup bergerak. Ketika ia menggeleng, dagunya hampir menggesek lantai kayu.
"Lihat aku bajingan."
Suaranya terdengar seperti halilintar. Shindong mendongak. "Aku Jung Yunho. Jika kau sampai mendekati istriku atau perempuan tua itu, aku akan membunuhmu. Kau mengerti?"
"Kau...dialah orang itu?" amarah sudah sampai ditenggorokan Shindong, berkata-kata nyaris mustahil. Ia seperti hendak muntah. Yunho menendang dengan ujung botnya, lalu keluar dari kedai. Kim Shindong yang pongah itu muntah dilantai kedai.
Teriakan marah si pemilik kedai minuman bercampur dengan kesiap takut Heechul. Begitu melihat keponakannya dipanggul oleh orang asing itu, tangannya melayang turun ke dada.
"Apakah Jaejae terluka?" pekik Heechul. Benaknya sudah menggambarkan skenario terburuk.
Yunho menggeleng. Ia membuka pintu kereta, kemudian berhenti sebentar untuk menyeringai pada perempuan tua itu. "Dia pingsan."
Heechul terlalu lega untuk menyadari bahwa pria itu merasa geli melihat keadaan keponakannya. Ia bergeser untuk menyediakan tempat bagi Jaejoong. Tapi Yunho mendudukan mempelainya di bangku yang bersebrangan. Sepintas Heechul memperhatikan keadaan keponakannya, memastikan ia masih bernapas, lalu bepaling memandang penolong mereka lagi. Ia memperhatikan lelaki itu menggulung cambuk dan mengaitkan ke sabuknya.
Heechul tidak mengantipasi pria itu akan naik bersama mereka di kereta itu. Ketika ia melakukannya, Heechul beringsut sampai keujung. "Jaejae bisa duduk di sampingku," katanya menawarkan.
Lelaki itu tidak menjawab. Tapi ia mengambil semua ruang di sebrang Heechul, kemudian ia mengangkat Jaejoong, memangkunya. Heechul melihat betapa lembut laki-laki itu ketika menyentuh keponakannya. Tangannya tetap memegangi pipi Jaejoong sambil menyandarkan wajah namja itu ke lekuk lehernya. Jaejoong mendesah pelan.
Heechul tidak tahu siapa laki-laki itu. Kereta sudah kembali bergerak sebelum ia mengajaknya bercakap-cakap.
"Anak muda, aku Tan Heechul. Namja cantik yang baru saja kau selamatkan itu adalah keponakanku. Namanya Kim Jaejoong."
"Bukan," kata laki-laki itu dengan kaku. "Namanya Jung Jaejoong."
Setelah memberikan pernyataan tegas itu, ia mengalihkan pandangannya ke jendela. Heechul masih tetap menatapnya. Profil wajah lelaki itu bagus dan gagah. "Kenapa kau menolong kami? Sepertinya aku tidak yakin kau dipekerjakan oleh keluarga Kim," lanjutnya sambil menangguk tegas. "Mungkinkah kau disewa oleh salah seorang keluarga Jung?"
Lelaki itu masih tidak menjawab. Ia berharap Jaejoong akan siuman agar menyelesaikan keruwetan ini. "Aku sangat bergantung pada anak yang kau pangku itu tuan. Aku tak sanggup membayangkan sesuatu terjadi padanya."
"Dia bukan anak-anak." Bantah lelaki itu.
Heechul tersenyum. "Bukan, tapi aku sudah menganggapnya seperti itu." Heechul mengakui. "Jaejoong namja yang polos dan mudah percaya. Dia mewarisinya dari keluarga ibunya."
"Kau bukan seorang Kim, bukan?"
Heechul senang sekali akhirnya laki-laki itu mulai bercakap-cakap denangannya, ia tersenyum sekali lagi. "Bukan." Jawabnya, "Aku adalah bibi Jaejae dari pihak ibunya. Nama margaku Lee sebelum menikah dengan suamiku Hanggeng dan berganti dengan nama keluarganya."
Heechul kembali memandang Jaejoong. "Sepertinya dia belum pernah pingsan sebelum ini. Pasti apa yang terjadi dua minggu ini sangat menguras tenaganya. Dibawah matanya ada kantung mata pula. Dia pasti mencemaskanku. Tapi meski begitu, pasti dia telah melihat sesuatu yang cukup mengerikan. Menurutmu, apa yang..."
Heechul berhenti berspekulasi ketika matanya menangkap seringain laki-laki dihadapannya. Orang itu jelas orang aneh karena tersenyum mendengar komentarnya yang aneh.
Lalu laki-laki itu menjelaskan. "Dia melihatku."
Jaejoong mulai bergerak. Ia masih pusing, disorientasi, tapi sangat hangat. Ia menggosok-gosokkan hidungnya ke kehangantan itu, menghirup aroma maskulin yang segar. Dan mendesah puas.
"Kurasa dia mulai siuman," bisik Heechul. "Oh syukurlah."
Jaejoong perlahan mengalihkan pandangannya ke bibinya. "Siuman?" tanyanya diiringi kuap yang sangat lebar tak mencerminkan sikap sopan.
"Kau pingsan, sayang."
"Aku tidak pingsan," bisik Jaejoong, jelas-jelas kaget."Aku tidak pernah pingsan, aku..." ia berhenti menjelaskan ketika sadar ia duduk di pangkuan seseorang. Bukan seseorang. Pangkuan laki-laki itu. Seketika wajahnya pucat pasi. Ingatannya sudah kembali sepenuhnya.
Heechul mengulurkan tangan menepuk tangan Jaejoong. "Gwenchana, Jaejae-ah. Pria baik ini menyelamatkanmu."
"Yang membawa cambuk?" bisik Jaejong, berdoa semoga tebakannya salah.
Heechul mengangguk. "Iya, sayang. Yang membawa cambuk. Kau harus berterima kasih padanya, dan demi Tuhan, Jae. Jangan pingsan lagi. Aku tidak membawa amonia."
Jaejoong mengangguk. "Aku tidak akan pingsan lagi." Kata Jaejoong. Untuk menjamin janji itu, ia memutuskan sebaiknya tidak melihat orang itu lagi. Jaejoong berusaha turun dari pangkuan laki-laki itu tanpa ketahuan, tapi begitu ia mulai beringsut menjauh, laki-laki itu mempererat pegangan di pinggannya.
Jaejoong mencondongkan tubuh kedepan sedikit. "Siapa dia?" bisiknya pada Heechul.
Bibinya mengangkat bahu. "Dia belum memberitahuku," jawabnya. "Mungkin, sayang...kalau kau bilang padanya betapa kau sangat berterimakasih...yah, mungkin dia akan memberitahukan namanya."
Jaejoong tahu sungguh kasar membicarakan orang seolah-olah orang tersebut tidak ada. Ia menguatkan diri sebelum pelan-pelan berpaling menatap wajahnya. Dia sengaja memandang dagunya saja ketika berkata, "Terima kasih Tuan, karena telah menolongku di kedai tadi. Aku berutang padamu selamanya."
Lelaki itu mengangkat dagu Jaejoong dengan ibu jarinya. Sorot matanya tak terbaca. "Kau berhutang lebih dari ucapa terima kasih Jaejoong."
Mata bulat Jaejoong terbeliak lebar, kaget. "Kau tahu namaku?"
"Aku memberitahunya, sayang." Sela Heechul.
"Aku tidak punya uang lagi." Kata Jaejoong, kemudian. "Semua sudah kupakai untuk membiayai perjalanan kami. Apa kau akan membawa kami kepelabuhan?"
Laki-laki itu mengangguk.
"Aku punya kalung emas tuan. Apakah itu cukup sebagai imbalan untukmu?"
"Tidak."
Kekasaran jawaban lelaki itu membuat Jaejoong kesal. Ia merengut menatap pria itu karena telah bersikap sangat tidak sopan. "Tapi aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kutawarkan padamu." Katanya.
Kereta berhenti. Yunho membuka pintu. Ia bergerak dengan sangat cepat untuk ukuran laki-laki sebesar itu. Tiba-tiba ia sudah ada diluar dan membantu Heechul turun sebelum Jaejoong selesai merapikan pakaiannya. Pria itu praktis seperti melemparnya kepojok kereta.
Kemudian kedua lengan lelaki itu sudah kembali melingkari pinggang Jaejoong. Ia hanya sempat menyambar tasnya sebelum diangkat keluar dari kereta seperti sekarung beras. Lelaki itu bahkan berani merangkul bahunya dan menariknya sampai menempel kesampingnya.
Seketika Jaejoong memprotes kelancangan itu. "Tuan, kebetulan aku ini adalah seseorang yang sudah menikah. Tolong lepaskan tanganmu. Ini tidak pantas."
Lelaki itu jelas mengalami gangguan pendengaran, karena ia bahkan tak menoleh padanya. Jaejoong sudah hendak mencoba sekali lagi ketika tiba-tiba pria itu bersiul keras sekali. Tempat yang diterangi cahaya bulan itu sebelumnya kosong sampai detik itu. Dalam sekejap mata, Jaejoong mendapati dirinya dikelilingi sejumlah laki-laki. Awak kapal Yunho yang setiap menatap Jaejoong, bersikap seakan-akan belum pernah melihat namja cantik. Yunho menunduk memandang mempelainya, melihat bagaimana reaksinya terhadap tatapan memuja anak buahnya yang begitu kentara. Tapi Jaejoong tidak memperhatikan orang-orang itu. Ia sibuk melotot padanya. Yunho nyaris tersenyum melihatnya.
Yunho meremas bahu mempelainya sebentar untuk membuatnya menghentikan sikap kurang ajar itu, kemudian mengalihkan perhatiannya pada si wanita tua. "Kalian punya barang bawaan?"
"Apa kita punya barang bawaan, Jajae?" tanya Heechul. Jaejoong berusaha melepaskan diri sisi lelaki itu.
"Sudah kubilang aku ini sudah menikah," gerutunya. "Sekarang lepaskan aku."
Yunho bergeming. Jaejoong menyerah. "Ya, bibi, aku meminjam beberapa barang milik Eomma agar bisa kau pakai. Aku yakin dia takkan keberatan. Hyuk Jae menyimpan tas-tas kita ditempat Amber. Bagaimana kalau kita ambil saja sekarang?"
Jaejoong berusaha melangkah menjauh, tapi ditarik merapat keraksasa itu lagi.
Yunho melihat anak buahnya Changmin di bagian belakang kerumunan dan memberi isyarat memanggilnya. Seorang laki-laki jangkung menghampiri dan berdiri didepan Jaejoong. Mata namja itu terbeliak melihat sosok besar yang mendekati raksasa itu. Cukup lama Jaejoong menatapnya, hingga ia menyimpulkan lelaki itu pasti menarik andai saja telinganya tidak dilingkari anting emas yang aneh seperti itu.
Changmin pasti merasa kalau ia diperhatikan, karena tiba-tiba ia mengalihkan perhatiannya pada Jaejoong. Kedua lengannya yang bersedekap dan menatapnya sambil mendelik.
Jaejoong balas mendelik.
Tiba-tiba sepasang mata gelap itu bersinar, dan ia melempar senyum lebar pada Jaejoong. Namja cantik itu tidak tahu harus bagaimana menanggapi sikap anehnya.
"Suruh dua awak kapal mengurus barang mereka, Changmin." Perintah Yunho. "Kita akan naik Cassiopeia begitu fajar menyingsing."
Jaejoong segera menangkap bahwa si viking rupanya menyertakan dirinya dalam rencana Jaejoong.
"Aku dan bibi-ku akan aman sekarang." Kata Jaejoong. "Orang-orang ini sepertinya...cukup menyenangkan. Tuan, kami sudah membuang-buang cukup banyak waktumu yang cukup berharga."
Yunho masih saja tidak menghiraukannya. Ia memanggil anak buahnya yang lain. Ketika sesosok pria lebih tua yang berotot besar meski lebih pendek mendekat, Yunho menangguk ke arah Heechul. "Urus perempuan tua itu, Siwon."
Heechul terkesiap. Jaejoong pikir reaksi itu karena mereka berdua hendak dipisahkan. Tapi sebelum ia bisa berdebat dengan pelindung tak diundang itu, Heechul menegakkan bahunya dan pelan-pelan menghampiri lelaki bertubuh besar itu.
"Aku bukan perempuan tua, tuan. Dan aku sangat tidak bisa menerima penghinaan itu. Umurku baru setengah abad lewat setahun, anak muda. Dan masih merasa kuat."
Sebelah alis Yunho terangkat sedikit, tapi ia tetap menahan senyum. Perempuan tua itu tampak sangat lemah dimatanya, sehingga embusan angin keras saja pasti akan membuatnya terhuyung-huyung, tapi nada suaranya sangat tegas.
"Kau harus minta maaf pada bibiku." Kata Jaejoong. Ia kembali berbalik menghadap bibinya sebelum laki-laki itu sempat bereaksi atas pernyataan yang didengarnya. "Aku yakin dia tidak bermaksud menyakiti perasanmu, bibi. Dia memang kasar saja."
Yunho menggelengkan kepala. Percakapan ini sungguh konyol baginya. "Siwon, cepat." Perintah Yunho dengan suara tegas.
Heechul berpaling pada lelaki yang berdiri di sampingnya itu. "Dan kau pikir mau kau bawa kemana aku ini?"
Sebagai jawaban, Siwon bergerak menggendong Heechul.
"Turunkan aku, kurang ajar."
"Tidak apa-apa manis." Jawab Siwon. "Kau kelihatan agak pucat. Tubuhmu seringan kapas."
Heechul hendak memprotes lagi. Tapi pertanyaan laki-laki itu selanjutnya mengubah pikirannya. "Kenapa kau memar begitu? Beritahu aku siapa orang kurang ajar itu, dengan senang hati akan kugorok lehernya untukmu."
Heechul tersenyum pada laki-laki yang menggendongnya. Ia menilai usia orang itu sepadan dengannya dan menyadari betapa kekar badannya. Entah sudah berapa tahun Heechul tidak tersipu sipu. "Terima kasih tuan, kau baik sekali." Katanya sambil menepuk gulungan rambutnya kembali keatas kepalanya.
Jaejoong terkejut melihat sikap bibinya. Astaga, bibinya menggerak-gerakkan bulu matanya dan bersikap bagai gadis remaja penggoda! Jaejoong memperhatikan keduanya sampai mereka lenyap dari pandangan, lalu menyadari kerumunan orang tadi juga sudah menghilang. Ia menyadari ia hanya berdua dengan penyelamatnya yang keras kepala.
"Apakah bibi Heechul akan aman bersama laki-laki itu?" desak Jaejoong ingin tahu.
Jawaban yang diterimanya hanya geraman pelan, jelas tampak kesal. "Itu artinya ya atau tidak?" tanya Jaejoong.
"Ya." Jawab Yunho sambil mendesah ketika Jaejoong menyodok rusuknya.
"Tolong lepaskan aku."
Lelaki itu menuruti permintaannya. Jaejoong sangat terkejut sampai nyaris kehilangan keseimbangan. Mungkin, pikirnya. Jika ia bisa membuat lelaki itu menuruti perintah-perintah lainnya. Tentunya itu patut dicoba.
"Apa aku akan aman bersamamu?" lama Yunho tak menjawab pertanyaannya. Jaejoong berbalik hingga ia berdiri berhadapan dengannya. Ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu Yunho. "Tolong jawab aku." Bisik Jaejoong dengan suara manis dan penuh bujukan.
Sepertinya lelaki itu tidak terkesan dengan usahanya mengajak bercakap-cakap. Sebaliknya kekesalannya sangat terbaca. "Ya, Jae. Kau akan selalu aman bersamaku."
"Tapi aku tidak mau aman bersamamu." Pekik Jaejoong. Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, jaejoong tersadar betapa bodoh pernyataannya, dan buru-buru meralatnya. "Maksudku, aku memang selalu ingin merasa aman. Semua orang ingin merasa aman. Bahkan penjahat..."
Jaejoong berhenti berbicaraa ketika lelaki itu menyeringai lebar. "Aku ingin merasa aman tanpamu. Kau tidak berencana berlayar bersama Heechul dan aku, bukan? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Yunho menjawab pertanyaan pertama namja itu dan mengabaikan pertanyaan kedua. "Ya, aku akan berlayar bersamamu."
"Kenapa?"
"Karena aku mau," kata Yunho malas-malasan. Ia memutuskan untuk menunggu sedikit lagi sebelum menceritakan secara detail pada Jaejoong. Pipi namja itu kembali memerah. Yunho tak bisa memutuskan apakah penyebabnya rasa takut atau marah.
Masih ada tanda lahir itu di leher Jaejoong. Yunho senang dengan kenyataan itu, semua itu justru mengingatkannya pada namja cilik pemberontak yang digendongnya dulu. Tapi Jaejoong bukan lagi namja cilik. Dan ia sudah tumbuh menjadi seorang namja yang manis. Tapi ia jelas masih suka marah-marah.
Jaejoong bahkan mendorong dada Yunho dengan jarinya untuk menarik perhatiannya kembali. "Maaf tuan, tapi kau tidak boleh bepergian bersamaku dan Heechul." Katanya. "Kau harus mencari kapal lain. Tidak aman bagimu untuk naik kapal yang sama denganku."
Pernyataan aneh itu berhasil menarik perhatiannya. "Oh? Dan kenapa begitu?."
"Karena suamiku tidak akan menyukainya," kata Jaejoong, ia mengangguk ketika Yunho tampak tak percaya, lalu melanjutkan. "Apakah kau pernah mendengar tentang Jung Yunho? Oh, tentu saja pernah. Semua orang tahu tentangnya. Dia suamiku, viking, dan dia akan murka sekali ketika tahu aku bepergian dengan seorang...pelindung. tidak, sepertinya tidak bisa. Kenapa kau tersenyum?"
"Kenapa kau memanggilku Viking?" tanya Yunho.
Jaejoong mengangkat bahu. "Karena kau kelihatan seperti seorang Viking."
"Apa sebaiknya aku memanggilmu si Cerewet?"
"Kenapa?"
"Karena kau memang cerewet."
Rasanya Jaejoong ingin menjerit karena frustasi. "Kau ini siapa? Apa maumu sebenarnya?"
"Kau masih berhutang padaku, Jaejoong."
"Ya Tuhan, apa kau akan mengungkit-ungkit soal itu lagi?"
Anggukan pelan Yunho membuat Jaejoong berang. Laki-laki itu benar-benar menikmati semua ini. Ketika Jaejoong menyadarinya, luapan amarahnya lenyap. Ia tahu ia takkan bisa membuat laki-laki itu mengerti. Laki-laki itu dungu. Lebih cepat ia bisa melepaskan diri dari orang barbar ini, semakin baik. Pertama-tama ia harus mencari cara memenangkannya.
"Baiklah." Jaejoong mengalah. "Aku berhutang padamu. Nah, kita sudah sependapat. Sekarang, tolong beritahukan padaku, apa menurutmu hutangku padamu. Dan aku akan berusaha membayarnya."
Yunho maju agar bisa menangkap tubuh namja itu kalau-kalau ia pingsan lagi sebelum mendengar jawabannya. "Namaku Yunho, Jaejoong."
"Lalu?" tanya Jaejoong, bertanya-tanya mengapa laki-laki itu memutuskan untuk memberitahukan namanya.
Rupanya namja cantik ini memang agak lambat menangkap. Desahan Yunho panjang, terdengar lelah. "Dan kau, Jung Jaejoong. Berhutang malam pengantin padaku."
Mataram, 04 Februari 2015
Gomawooo neee buat Reader yang udah RnR di chapter sebelumnyaaa~
mian karena gak sempet bales Reviewnya karena masih dalam UAS... Gamsahamidaa -Bow-
Sampai ketemu di chapter berikutnyaaaa...
