Title : The Gift

Author N : Julie Garwood

Author Remake : A.J Kim

Cast : DBSK/JYJ, dll.

Rating : T (For Now)

Genre : Romance, humor, family


Jaejoong tidak pingsan, dia menjerit. Yunho tidak berusaha menenangkannya. Ketika Yunho sudah tidak tahan mendengar suara menjengkelkan itu lagi ia hanya menyeret namja itu ke kantor Shinki Shipping Company. Ditinggalkannya namja histeris itu di tangan bibinya yang cakap. Yunho baru tertawa begitu sudah berada diluar.

Yunho sangat menikmati reaksi mempelainya terhadap pernyataannya tadi. Jaejoong memang bukan orang yang suka menutup-nutupi emosinya. Ia ragu ia akan pernah merasa khawatir soal mencari tahu apa yang dipikirkan namja itu. Seumur hidupnya ia terbiasa menghadapi sikap licik tak terus terang, merasa kejujuran mempelainya seperti sesuatu yang baru.

Setelah membereskan beberapa hal kecil lainnya, Yunho bergabung bersama dengan sisa awak terakhir naik ke kapal. Changmin dan Siwon menunggu di dek. Mereka berdua mendelik, Yunho membiarkan sikap kekurang ajaran mereka terhadap sang kapten. Bagaimanapun juga ia sudah menugasi mereka berdua untuk membawa Jaejoong dan Heechul ke kabin.

"Apa akhirnya dia berhenti menjerit-jerit?" tanya Yunho.

"Sewaktu aku mengancam akan menyumpal mulutnya." Jawab Changmin. Laki-laki tinggi itu semakin mengerutkan dahinya dan berkata, "Lalu dia memukulku."

Yunho menunjukkan keputusasaannya. "Kurasa berarti sekarang dia sudah tidak terlalu takut lagi," katanya datar.

"Aku tidak terlalu yakin kalau dia pernah merasa takut." Siwon menyela, "Apa kau tidak melihat tadi matanya membara sewaktu kau menyeretnya ke kantor? Dia kelihatan marah sekali."

Changmin mengangguk enggan. "Setelah kau pergi, dia masih saja menjerit, mengatakan kalau semua ini hanya lelucon yang kejam. Bahkan bibinya-pun tidak bisa menenangkannya. Istrimu bahkan meminta agar seseorang mencubitnya supaya ia terbangun dan mendapati semua ini hanya mimpi buruk."

"Ya, benar sekali," Siwon mengangguk sambil terkekeh. "Dan Jonghyun menganggap serius kata-kata istrimu. Bocah itu, meski badannya besar, tapi tidak terlalu cerdas."

"Jonghyun menyentuhnya?" nada suara Yunho lebih terkesan tidak percaya ketimbang marah.

"Tidak, dia tidak menyentuhnya." Changmin buru-buru menjawab. "Dia berusaha mencubitnya, itu saja. Dia berpikir dia bisa membantu. Kau tahu betapa bocah itu suka menyenangkan orang lain. Mempelai mungilmu langsung berubah seperti kucing liar begitu Jonghyun mendekat. Aku yakin lain kali kalau istrimu memberi perintah, bocah itu tidak akan terlalu antusias mematuhinya."

Yunho menggeleng kesal, ia mulai berbalik. Siwon menghentikan langkahnya dengan kalimatnya. "Mungkin Jaejoong-ssi akan merasa lebih baik jika kita tempatkan dalam kabin yang sama dengan bibinya."

"Tidak."

Yunho sadar betapa cepat ia menjawab ketika kedua anak buahnya itu tersenyum padanya. "Dia tetap dikabinku." Yunho menambahkan dengan nada yang lebih lunak.

Siwon diam sejenak mengusap-usap dagunya. "Begini, mungkin itu akan jadi masalah," katanya lambat-lambat. "Dia tidak tahu itu kabinmu."

"Dia akan segera tahu kabin siapa yang ditempatinya." Yunho menjawab saat terdiam cukup lama.

"Kondisi bibinya cukup buruk," kata Siwon menjelaskan. "Kurasa beberapa tulang rusuknya retak. Begitu dia tertidur, aku akan membuka bajunya dan memasang perban."

"Keluarga Kim yang memukulinya?" tanya Changmin.

"Sepertnya Shindong yang merencanakan ini semua." Jelas Yunho, "Tapi keluarganya yang lain tahu apa yang terjadi."

"Kita akan memulangkan Heechul?" tanya Siwon.

"Kita memang berlayar kearah sana." Jawab Yunho. "Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan perempuan itu. Apa dia cukup kuat untuk menempuh perjalanan ini?" tanyanya. "Atau apa kita akan terpaksa menguburnya di laut?"

"Dia akan baik-baik saja," Siwon memperkirakan. "Dibalik semua lebam itu, sebenarnya dia sangat tangguh. Ya, jika aku memanjakannya, dia akan baik-baik saja." Ia menyikut rusuk Changmin, lalu berkata. "Sekarang aku harus jadi perawat untuk dua makhluk lemah."

Yunho tahu ia sengaja dipancing. Ia berbalik dan menjauh. Ia mengangkat sebelah tangan tinggi-tinggi mengacungkan isyarat kasar yang tidak senonoh, sebelum akhirnya menuruni tangga. Tawa girang kedua laki-laki itu seperti mengikutinya.

Beberapa jam berikutnya, semua orang sudah diatas Cassiopeia sibuk dengan tugas masing-masing. Kargo sudah diikat kuat-kuat, layar topang dikembangkan, sauh sudah diikat, dan delapan meriam sudah digosok dan diminyakkan sebelum komando berlayar diberikan.

Yunho mengerjakan bagiannya sampai-sampai perutnya terasa sangat mual dan ia terpaksa berhenti. Changmin mengambil alih kendali memimpin empat puluh dua kelasi ketika Yunho turun ke dek bawah lagi. Ini ritual mabuk laut yang biasa dialaminya selama satu-dua hari pertama kembali berlayar. Ia yakin tidak ada orang yang tahu kecuali Siwon dan Changmin, tapi kenyataan itu sama sekali tidak menghilangkan rasa malunya. Dari pengalaman sebelumnya, Yunho tahu dia punya waktu satu/dua jam sebelum benar-benar tak sanggup bergerak. Yunho memutuskan mengecek mempelainya, memastikan Jaejoong baik-baik saja. Jika keberuntungan berpihak padanya, mungkin Jaejoong sudah terlelap, dan konforntasi yang tidak terelakkan bisa tertunda hingga nanti.

Jaejoong sedang tidak tidur. Begitu Yunho masuk ke kabin, Jaejoong segera bangun dari tempat tidur dan berdiri dengan tangan terkepal disamping, menghadapnya.

Udara segar laut dan sinar matahari menyiram kabin. Perut Yunho seperti dikocok, ia menarik napas dalam-dalam, tetap didepan pintu dan bersandar disana. Disudut benaknya mengintai kemungkinan bahwa mempelainya mungkin akan memutuskan untuk kabur. Ia sedang tidak dalam kondisi bisa mengejarnya, karena itu ia pun menghalangi satu-satunya jalan keluar.

Jaejoong menatap Yunho cukup lama, merasakan betapa tubuhnya gemetar dan ia tahu tinggal masalah waktu sebelum ia benar-benar dikuasai amarah. Tapi ia tidak bertekad menyembunyikan amarahnya dari lelaki itu. Ekspresi wajah Yunho menunjukkan kepasrahan, kedua lengannya bersedekap, posisi berdirinya santai. Jaejoong merasa laki-laki itu cukup bosan sampai bisa tertidur. Tapi rupanya tidak. Tatapan tajam Yunho membuat nyali Jaejoong ciut juga. Ia tidak akan mundur di depan laki-laki itu, dan jika ada yang akan memenangi kontes melotot, Jaejoong-lah yang akan menang.

Jaejoong masih menggunakan pakaiannya yang berwarna biru tua jelek itu, menurut Yunho, garis lehernya terlalu rendah. Ia berpikir akan menyampaikan hal itu pada Jaejoong nanti, setelah namja itu berhasil menyingkirkan sebagian rasa takutnya, tapi dahi Jaejoong yang tiba-tiba berkerut membuatnya berubah pikiran. Jaejoong harus tahu siapa yang berkuasa.

"Bajumu seperti gadis bar."

Perlu semenit sebelum Jaejoong benar-benar mencerna hinaan itu. Awalnya Jaejoong terlalu kaget untuk bereaksi. Kemudian ia terkesiap keras.

Yunho menyembunyikan senyumannya. Jaejoong tak tampak seperti seperti hendak menangis. Bahkan ia tampak ingin membunuh Yunho. Awal yang bagus. "Garis lehermu terlalu lebar, mempelaiku."

Tangan Jaejoong segera menutup bagian atas bajunya. Wajahnya merah padam dalam sekejap. "Ini satu-satunya baju yang warnanya cukup gelap agar tidak menarik perhatian sewaktu aku berjalan..." Jaejoong terdiam begitu menyadari ia berusaha membela diri.

"Tidak menarik perhatian?" kata Yunho malas-malasan. "Jaejoong, baju itu gagal untuk tidak menarik perhatian. Lain kali, kau tidak boleh memakai baju seterbuka itu. Satu-satunya orang yang boleh melihat tubuhmu hanya aku. Kau mengerti?"

Oh tentu saja Jaejoong mengerti. Yunho mudah sekali membalikkan situasi sehingga merugikannya. Jaejoong menggeleng-gelengkan kepala, ia tak akan membiarkan Yunho menempatkannya pada posisi rapuh sementara laki-laki itu sendiri harus menjelaskan banyak hal.

"Kau seperti orang barbar." Celetuk Jaejoong tanpa berpikir lagi. "Kau berpakaian seperti...penjahat. penumpang yang bepergian naik kapal sebagus ini seharusnya menjaga penampilan mereka. Kau kelihatan seperti orang yang baru saja mengangkut tanaman." Lanjutnya sambil mengangguk. "Dan pelototanmu itu jelek sekali."

Yunho memutuskan bahwa ia tidak mau lagi melanjutkan percakapan konyol itu dan langsung ke pokok permasalahannya.

"Baik, Jae." Kata Yunho. "Silakan, keluarkan saja semuanya."

"Keluarkan saja apanya?"

Desahan Yunho panjang dan lelah, membuat Jaejoong emosi. Namja cantik itu mati-matian berusaha mengendalikan emosinya, tapi dorongan untuk berteriak pada laki-laki itu membuat kepalanya berdenyut-denyut, matanya pedih karena air mata. Yunho harus menjelaskan banyak hal sebelum ia mempertimbangkan untuk memaafkannya.

"Semua ratapan dan permohonanmu." Jelas Yunho sambil mengangkat bahu. "Aku sudah tahu kau pasti ketakutan dan sudah hampir menangis iya kan? Aku tahu kau ingin agar aku memulangkanmu. Tapi itu semua tidak berguna, Aku suamimu, Jae. Biasakanlah mulai dari sekarang."

"Apa kau khawatir aku akan meratap dan memohon untuk kembali pulang?" tanya Jaejoong dengan suara seperti orang dicekik.

"Sama sekali tidak." Kata Yunho. Tapi tentu saja ia berbohong, karena ia pasti akan khawatir bila melihat Jaejoong sedih, tapi ia tak akan mengakui kenyataan itu.

Jaejoong terus menatap Yunho sementara dirinya mengumpulkan keberanian untuk mengajukan semua pertanyaan menyakitkan yang sekian lama hanya tersimpan didada. Ia ragu Yunho akan mengatakan yang sejujurnya, tapi ia masih ingin mendengar apa yang akan dikatakannya.

Sejujurnya Yunho merasa agak kasihan pada namja itu. Mustahil Jaejoong ingin dinikahi dengannya. Bagaimanapun juga, Yunho seorang Jung dan Jaejoong dibesarkan sebagai Kim. Namja itu telah dilatih untuk membencinya. Jaejoong yang malang hanyalah korban sebuah rencana, pion yang digunakan sang raja untuk berusaha menyatukan perbedaan diantara dua keluarga yang berseteru.

Meski demikian, Yunho tidak bisa membatalkan masa lalu untuk Jaejoong. Tanda tangan Yunho telah tertera di perjanjian itu, dan ia telah terikat dan bertekad untuk menghormatinya.

"Mungkin sebaiknya kau tahu bahwa aku tidak akan meninggalkan perkawinan ini." Kata Yunho, suaranya tegas. "Tidak sekarang, tidak kapanpun juga."

Setelah mengatakannya, Yunho dengan sabar menunggu histeria yang pasti akan muncul.

"Kenapa lama sekali."

Begitu lirih bisikan Jaejoong, sehingga Yunho tak yakin dengan pendengarannya. "Kau tadi bilang apa?"

"Kenapa kau menunggu lama sekali?" tanya Jaejoong pada Yunho dengan suara lebih keras.

"Menunggu lama sekali untuk apa?" wajah Yunho tampak sangat kebingungan.

Jejoong kembali menarik napas dalam-dalam. "Untuk menjemputku." Jelasnya. Suaranya bergetar. Ia menggenggam tangannya sendiri, berusaha mengendalikan emosinya lalu berkata. "Kenapa kau menunggu lama sekali untuk datang menjemputku."

Yunho begitu terkejut mendengar pertanyaan Jaejoong sehingga ia tak segera menanggapi. Dan kenyataan bahwa Yunho bahkan tidak merasa pertanyaan Jaejoong layak ditanggapi adalah pukulan terakhir terhadap harga dirinya yang bersedia diterima Jaejoong.

Nyaris berteriak, Jaejoong berkata. "Apa kau tahu berapa lama sudah aku menunggumu?"

Mata Yunho terbeliak kaget. Mempelainya baru saja membentaknya. Ia menatap namja dihadapannya dengan sorot mata yang membuat Jaejoong merasa Yunho mengira istrinya sudah gila.

Saat Yunho menggeleng, benteng ketenangan Jaejoong hancur. "Tidak?" teriak Jaejoong. "Apa aku begitu tidak penting untukmu, sampai kau bahkan tidak mau repot-repot menyempatkan diri untuk menjemputku?"

Yunho terperangah diserang pertanyaan-pertanyaan itu. Ia tahu seharusnya ia tidak membiarkan Namja itu membentaknya, tapi komentar Jaejoong sangat mengejutkannya sehingga ia pun tak tahu harus berkata apa.

"Kau benar-benar ingin aku percaya kalau kau marah karena aku tidak menjemputmu lebih cepat?" tanya Yunho.

Jaejoong mengambil benda terdekat yang bisa dipegangnya dan melemparkannya pada Yunho. "Marah?" tanyanya dengan raungan lantang seperti seorang komandan. "Apa yang membuatmu mengira aku marah, Yunho?"

Yunho mengelak dari pispot terbang itu, dan dua lilin yang menyusul kemudian. Ia lalu kembali bersandar ke pintu. "Oh, entahlah," kata Yunho malas. "Kau kelihatan sedang gelisah."

"Aku kelihatan..." Jaejoong terlalu marah untuk mengucapkan sepatah kata lagi.

Yunho menyeringai lebar sambil mengangguk. "Gelisah." Ia menyelesaikan kalimat Jaejoong.

"Kau punya pistol?"

"Ya."

"Boleh kupinjam?"

Yunho memaksakan diri untuk tidak tertawa. "Untuk apa kau ingin meminjam pistolku Jaejoong?"

"Aku ingin menembakmu, Yunho."

Dan kali ini Yunho benar-benar tertawa. Jaejoong memutuskan ia benci pada lelaki ini. Amukannya kini lenyap. Ingin rasanya ia menangis prustasi. Mungkin selama ini para kerabatnya benar. Mungkin Yunho memang membencinya, mungkin bahkan sebesar yang dikatakan orang tuanya.

Jaejoong akhirnya menyerah dan duduk diranjang kembali. Ia melipat tangan dipangkuannya dan ia terus menunduk. "Tolong tinggalkan kabinku, jika kau ingin menjelaskan perbuatanmu padaku, kau boleh melakukannya besok. Aku terlalu lelah untuk mendengar alasanmu sekarang."

Yunho tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jaejoong berani memerintahnya. "Bukan begini kehidupan pernikahan kita Jae. Aku memberi perintah dan kau mematuhinya."

Suara Yunho terdengar kaku, marah. Ia sengaja karena ingin Jaejoong tahu ia serius. Sepertinya ia membuat Jaejoong ketakutan lagi. Mempelainya itu mulai memilin-milin tangan, kelihatan gelisah, dan meski Yunho merasa agak bersalah karena terpaksa memakai cara menakut-nakuti. Masalah mereka terlalu penting dan ia takkan melunakkan caranya.

Jaejoong masih terus memilin-milin tangannya, seakan leher suaminyalah yang dia cekik. Fantasi itu membantu memperbaiki suasana hatinya.

Yunho menarik Jaejoong kembali ke dunia nyata ketika ia berkata parau. "Kau dengar aku, Mempelaiku?"

Astaga, ia benci sekali sebutan "Mempelai" itu!

"Ya, aku dengar." Kata Jaejoong. "Tapi aku ingin paham, kenapa perkawinan kita harus begitu?"

Air mata kembali menggenang di matanya. Yunho tiba-tiba merasa seperti seorang monster. "Apa kau berusaha memancingku?" tanya Yunho.

Jaejoong menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya mengira kalau perkawinan kita akan berjalan sebaliknya. Aku mengira begitu."

"Dan menurutmu bagaimana seharusnya kehidupan perkawinan kita?"

Yunho benar-benar tampak tertarik pada pendapatnya. Jaejoong segera berubah serius. Ia mengangkat bahu dengan elegan. "Yah, kurasa tugasku adalah selalu memberitahumu apa yang kuinginkan."

"Dan?" desak Yunho ketika Jaejoong berhenti menjelaskan.

"Dan tugasmu adalah mewujudkan apa yang kuinginkan."

Jaejoong dapat melihat wajah muram Yunho kalau ia tidak suka dengan pendapat itu. Emosi Jaejoong kembali terpancing. "Kau seharusnya menyayangiku, Yunho. Kau sudah berjanji."

"Aku tidak berjanji untuk menyayangimu." Yunho ikut berteriak. "Astaga, aku tidak menjanjikan apa-apa padamu."

Jaejoong tidak membiarkan saja kebohongan Yunho itu. Ia melompat berdiri, kembali menantang. "Oh ya, kau sudah berjanji." Ia kembali balas berteriak. "Aku sudah membaca perjanjiannya, Yunho. Dari awal samapi akhir. Sebagai ganti tanah dan harta, kau harus menjaga keselamatanku. Kau juga harus menjadi suami yang baik, ayah yang penyayang, dan yang terpenting, Viking. Kau seharusnya mencintai dan menyayangiku."

Yunho tak sanggup berkata-kata. Tiba-tiba ia ingin tertawa lagi. Perubahan topik ini menjengkelkan tapi juga seru.

"Kau benar-benar ingin aku mencintai dan menyayangimu?"

"Tentu saja." Jawab Jaejoong. Ia bersedekap. "Kau sudah berjanji untuk mencintai dan menyayangiku, Yunho. Dan demi Tuhan, kau akan menepatinya."

Jaejoong kembali duduk ditempat tidur dan menyibukkan dirinya merapikan lipatan selimut. Semburat merah yang menghiasa pipinya menunjukan ia merasa malu.

"Lalu apa yang seharusnya kau lakukan sementara aku mencintai dan menyayangimu?" tanya Yunho. "Apa janjimu mempelaiku?

"Aku tidak menjanjikan apa-apa." Jawabnya. "Aku baru empat tahun, Yunho. Aku tidak mentandatangani perjanjiannya. Kau yang mentandatanganinya."

Yunho memejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh. "Jadi kau tidak merasa perlu menghormati tanda tangan Abojiemu? Janji yang dilakukannya atas namamu tidak mengikat, begitu?"

"Aku tidak bilang begitu." Bisik Jaejoong. Ia mendesah, kemudian menambahkan. "Tentu saja aku menghormatinya. Semua itu dilakukan atas namaku."

"Dan apa janjinya?" desak Yunho.

Lama baru Jaejoong menjawab. Ia juga tampak bersungut-sungut. "Aku harus mencintai dan menyayangimu juga." Gumamnya.

Yunho masih belum puas. "Dan?"

"Dan apa?" tanya Jaejoong, pura-pura tidak peduli.

Saat itu juga Yunho merasa yakin bahwa mempelainya berusaha membuatnya gila. "Aku juga membaca perjanjian itu dari awal sampai akhir." Bentaknya. "Jangan menguji kesabaranku."

"Oh, baiklah." Balas Jaejoong. "Aku juga harus menurut padamu. Nah, sudah. Kau puas sekarang?"

"Ya." Jawab Yunho. "Sekarang kita kembali ke awal... seperti yang kuperintahkan padamu sebelumnya, aku akan menjadi pihak yang memberi perintah, dan kau menjadi pihak yang mematuhinya. Dan jangan berani-berani menanyakan alasannya lagi."

"Aku akan berusaha mematuhi perintahmu, Yunho. Kalau aku merasa perintahmu itu logis."

Toleransi Yunho sudah nyaris habis. "Persetan apakah kau merasa perintahku logis atau tidak." Katanya lantang. "Kau akan tetap menuruti apa kataku."

Jaejoong sepertinya tidak marah karena Yunho bicara padanya dengan nada tinggi. Suaranya cukup tenang ketika berkata. "Kau seharusnya tidak mengumpat di depan istrimu, Yunho."

Ekspresi wajah Yunho begitu dingin. Jaejoong merasa kalah saat itu juga. "Kau membenciku, bukan?"

"Tidak."

Jaejoong tidak percaya pada Yunho. Astaga, sekedar melihatnya saja sudah membuat Yunho sakit.

"Oh, ya. Kau memang membenciku. Kau tidak bisa menipuku. Aku seorang Kim dan kau benci pada semua keluarga Kim."

"Aku tidak benci padamu."

"Kau tidak perlu berteriak padaku. Lagi pula aku hanya berusaha mengobrol denganmu, dan minimal yang bisa kau lakukan adalah mengendalikan emosimu." Jaejoong tidak memberi kesempatan Yunho berteriak lagi padanya. "Aku sangat lelah, Yunho. Sekarang aku ingin istirahat."

Yunho memutuskan untuk membiarkan namja itu. Ia membuka pintu untuk meninggalkannya, kemudian berbalik lagi.

"Jaejoong?"

"Ya?"

"Kau sama sekali tidak takut padaku, bukan?"

"Tidak." Jaejoong menggeleng. Yunho tampak terkejut.

Yunho berbalik lagi sehingga istrinya tak melihat senyumannya.

"Yunho?"

"Apa?"

"Aku agak takut waktu pertama kali melihatmu." Jaejoong mengakui. "Apa itu membuatmu merasa lebih baik?"

Jawaban Yunho adalah dengan menutup pintu. Begitu sudah sendirian lagi, tangis Jaejoong pun pecah. Naif sekali dia selama ini. Tahun-tahun yang terbuang percuma memimpikan ksatria gagahnya yang berbaju zirah emas datang untuk menjemputnya sebagai mempelai. Ia membayangkan lelaki itu seorang pria yang lembut, penuh pengertian, dan jatuh cinta sepenuhnya padanya. Rupanya impian Jaejoong justru menertawai dirinya. Ksatrianya ternyata lebih cocok dibilang kumal daripda berbaju zirah keemasan. Dan ternyata kesatrianya sama pengertiannya seperti seekor kambing. Jaejoong masih terus mengasihani dirinya sampai kelehan menakhlukannya.

Yunho menengok lagi satu jam kemudian. Jaejoong sudah tertidur lelap. Namja itu bahkan tidak melepas bajunya tapi tidur begitu saja diatas selimut. Ia terbaring tengkurap, lengannya terentang kesamping. Ada rasa puas dihati Yunho. Perasaan yang aneh, dan juga asing, tapi ia senang melihat Jaejoong ditempat tidurnya. Ia meilhat cincin kawin Heechul masih melingkar di jari Jaejoong. Aneh, tapi ia tidak suka melihatnya. Yunho melepas cincin itu dari jari Jaejoong, sekedar menyingkirkan rasa kesal yang sebenarnya tidak rasional, lalu mengantunginya.

Yunho kemudian memusatkan perhatiannya untuk menanggalkan baju Jaejoong. Setelah membuka sederetan kancing panjang itu, ia melepaskan bajunya. Berikutnya sepatu Jaejoong. Yunho merasa canggung dengan apa yang dilakukannya. Ia melepaskan semua yang melekat di tubuh mempelainya, selain baju dalamnya. Yunho menyerah pada keinginannya dan mengusap punggung namja itu dengan punggung tangannya. Jaejoong tidak terbangun, ia mendesah pelan dalam tidurnya dan berguling telentang tepat ketika Yunho melempar semua pakaian Jaejoong tadi ke kursi di dekatnya. Yunho tidak tahu berapa lama ia duduk di situ menatap Jaejoong, namja itu tampak begitu polos, begitu percaya, begitu rapuh saat sedang tidur. Bulu matanya hitam, lebat, tampak mencolok berlatar belakang kulitnya yang putih. Tubuhnya begitu indah dimata Yunho. Dadanya yang terlihat penuh, hanya tertutup baju dalamnya yang tipis, membuat Yunho bergairah.

Jaejoong berbalik lagi dan bibirnya menyentuh kulit Yunho. Ia segera menarik dirinya, meninggalkan kamar dan pergi menengok keadaan bibi Jaejoong. Heechul tampak pucat dan napasnya berat, namun tidak terlalu kesakitan. Raut wajahnya nampak tenang. Yunho teringat cincin di sakunya. Ia mengampiri sisi tempat tidur, mengangkat tangan Heechul, dan menyelipkan cincin itu kembali ke jarinya.

Heechul membuka mata dan tersenyum padanya. "Terima kasih, bocah manis. Aku akan beristirahat lebih tenang sekarang, setelah cincin Hangeng kembali."

Yunho membalas ucapan terima kasih dengan anggukan pendek, lalu berbalik dan kembali ke pintu.

"Menurutmu, aku ini orang yang terlalu sentimentalkan?" seru Heechul.

Senyum Yuho muncul sepintas. "Ye.. Mo~ kurasa begitu."

Kejujuran Yunho membuat Heechul terkekeh. "Apa kau sudah bicara pada Jaejae?"

"Sudah."

"Apa dia baik-baik saja?" Heechul kembali bertanya. Ia berharap Yunho akan berbalik, sehingga bisa melihat ekspresi wajahnya.

"Dia sedang tertidur." Kata Yunho. Ia membuka dan mulai keluar.

"Tunggu." Panggil Heechul. "Tolong, jangan pergi dulu." Yunho menangkap nada gemetar dalam suara perempuan itu, dan segera berbalik. "Aku takut sekali." Bisik Heechul.

Yunho menutup pintu dan berjalan kembali ke sisi perempuan tua itu. Kedua lengannya terlipat didada.

Yunho nampak santai, kecuali kerutan di dahinya. "Kau tidak perlu merasa takut." Suaranya lembut menenangkan. "Sekarang kau aman, Heechul."

Perempuan itu kembali menggeleng. "Bukan, kau salah paham." Jelas Heechul. "Aku tidak mengkhawatirkan diriku, Bocah manis. Aku menghkawatirkanmu dan Jaejae. Apa kau tahu pilihan apa yang telah kau masuki ini? Kau sama sekali tidak tahu apa bisa dilakukan orang-orang itu. Bahkan akupun tidak tahu sampai sejauh mana mereka bersedia merendahkan diri demi memuaskan kerakusan mereka. Mereka akan mengejarmu."

Yunho mengangkat bahu. "Aku akan siap." Jawabnya. "Keluarga Kim bukan tantangan untukku."

"Tapi, Manis. Mereka..."

"Heechul, kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Ketika kubilang padamu bahwa aku akan bisa mengatasi tantangan apa pun, kau harus percaya padaku."

"Mereka akan memakai Jaejae untuk mengalahkanmu." Bisik Heechul. "Bila perlu, mereka akan melukainya." Lanjutnya sambil menatap khawatir.

"Aku akan melindungi apa yang menjadi milikku." Suara Yunho kaku dan tegas.

Arogansi Yunho rupanya bisa menenangkan Heechul. Perlahan-lahan ia mengangguk. "Aku percaya. Tapi bagaimana dengan kebencianmu terhadap keluarga Kim?"

"Maksudmu?"

"Jaejae."

"Dia tidak apa-apa. Dia sudah bukan seorang Kim lagi. Dia seorang Jung. Kau menghina kemampuanku ketika kau mengkhawatirkan keselamatannya. Aku mengurus barang milikku."

"Barang?" ulang Heechul. "Aku tidak pernah mendengar ada istri disebut seperti itu."

"Kau sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari korea Heechul. Tapi sementara itu tidak ada yang berubah. Seorang istri masih tetap milik seorang suami."

"Jaejae namja yang sangat lembut." Kata Heechul, sedikit mengalihkan topik pembicaraan. "Beberapa tahun terakhir ini tak mudah untuknya. Dia dianggap orang luar karena perjanjian pernikahan itu. Beberapa bahkan menyebutnya seperti orang yang berpenyakit kusta di keluarganya sendiri. Jaejoong tidak pernah diizinkan menghadiri acara apapun yang sangat dinanti-nantikan anak sebayanya. Semua kehebohan pasti untuk kakaknya, Ahra."

Heechul berhenti sejenak untuk menarik napas, lalu melanjutkan. "Tentu Jaejae setia pada orang tua dan kakaknya, meski seumur hidupku aku tak mengerti mengapa dia masih saja peduli pada mereka. Sebaiknya kau berhati-hati pada kakak Jaejae, karena dia selicik pamannya, Shindong. Di tubuh mereka mengalir darah jahat yang sama."

"Kau terlalu khawatir Heechul."

"Aku hanya ingin kau mengerti...Jaejae." bisik Heechul.

Suara desah napas itu kembali lagi, dan jelas perempuan tua itu mulai kelelahan. "Lihat gambar-gambar karyanya, dan kau akan mengerti apa maksudku. Hampir sepanjang waktu kepalanya penuh khayalan. Dia hanya melihat kebaikan dalam diri orang lain, dia tidak mau percaya kalau aboejinya sama saja dengan saudara-saudaranya yang lain. Aku menyalahkan Ommanya. Selama ini dia berbohong pada putranya, membuat macam-macam alasan untuk setiap dosa yang dilakukan orang lain.

Yunho tidak berkomentar.

"Bocah manis." Heechul mulai lagi.

Kerut yang mendadak muncul di dahi Yunho menghentikannya. "Nyonya, aku akan berhenti memanggilmu perempuan tua jika kau berhenti memanggilku bocah manismu. Bagaimana, sepakat?"

Heechul tersenyum. Ia menyipitkan mata memandang laki-laki bertubuh tinggi-besar itu. Kehadiran Yunho seakan memenuhi ruangan. "Ya, memanggilmu bocah manis memang kedengarannya agak konyol." Katanya sependapat sambil tertawa kecil. "Apa kau mengizinkan aku hanya memanggilmu Yunho saja?"

"Boleh." Jawab Yunho. "Dan tentang kekhawatiranmu terhadap Jaejoong, semua itu tidak berasalan. Aku tidak akan membiarkan siapapun juga menyakitinya. Dia istriku, dan aku akan selalu memperlakukannya dengan baik. Pada saatnya nanti, dia akan menyadari keberuntungannya."

"Katakan padaku, Yunho. Maukah kau?"

"Maukah aku apa?"

"Mencintai dan menyanyanginya? Aku yakin semua orang dikapal mendengar kata-kata Jaejae. Aku harus berbicara dengannya soal teriakannya yang tidak sopan."

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. Heechul berseru ketika Yunho sedang menutup pintu. "Kau masih harus menjawab pertanyaanku. Apakah kau akan mencintai dan menyayanginya?"

"Apa aku punya pilihan, nyonya?"

Yunho menutup pintu sebelum Heechul sempat menjawabnya.


Jaejoong terbangun beberapa saat kemudian karena mendengar suara orang muntah. Suara tersiksa itu membuat perutnya sendiri menjadi mual. Ia terduduk kaget. Hal pertama yang dipikirannya adalah Heechul. Gerakan kapal yang terayun-ayun pasti telah membuat bibinya mual. Jaejoong segera menyibakkan selimutnya kesamping dan bergegas kepintu, ia masih sangat mengantuk dan bingung, ia bahkan tidak menyadari kalau dirinya tidak berpakain lengkap sampai tersandung salah satu pakainnya.

Jaejoong mendengar suara di lorong dan membuka pintu. Yunho baru saja lewat ketika ia mengintip keluar, laki-laki itu bahkan tidak memandangnya, hanya mengulurkan tangannya dan menarik pintu hingga menutup kembali ketika ia lewat. Namja cantik itu tidak tersinggung dengan ketidak pedulian suaminya, dan tidak lagi khawatir dengan bibinya. Begitu melihat suami Vikingnya yang garang itu tampak biru seperti laut. Mungkinkah? Tanyanya pada diri sendiri. Apakah Jung Yunho yang tak terkalahkan dan kasar itu mabuk laut?

Jajoong pasti akan tertawa terbahak-bahak seandainya ia tidak kelelahan. Ia kembali ketempat tidur dan melanjutkan tidur siangnya, hanya bangun sebentar untuk makan malam bersama Heechul sebelum kembali ke kamarnya untuk tidur lagi.

Suhu udara di dalam kamar turun cukup drastis di malam hari, dan Jaejoong bangun dengan tubuh menggigil. Ia mencoba menarik selimut untuk menutupi bahunya, tapi selimut itu tersangkut sesuatu yang padat. Akhirnya ia membuka mata, mengetahui penyebabnya. Selimut itu menjerat kaki Yunho yang panjang dan telanjang.

Laki-laki itu tidur disampingnya. Jantung Jaejoong nyaris berhenti berdetak. Ia membuka mulutnya untuk berteriak, tapi Yunho mengatupkan telapak tangannya yang besar menutupi separuh muka Jaejoong.

"Jangan berani-berani kau membuat keributan." Perintah Yunho.

Jaejoong menepis tangan Yunho. "Turun dari tempat tidurku." Perintah itu terlontar dalam bisikan marah.

Yunho mendesah malas sebelum menjawab perintah itu. "Jae, kebetulan kau tidur diranjangku. Jika ada yang harus pergi, berarti itu kau."

Suara Yunho terdengar mengantuk ditelinga Jaejoong. Ia merasa Yunho terlalu lelah sehingga ia hanya ingin tidur, dan kesuciannya dengan begitu masih aman.

"Baiklah. Aku akan tidur dengan bibi Heechul." Kata Jaejoong.

"Tidak. Tidak boleh." Kata Yunho. "Kalau kau mau, mempelaiku, kau boleh tidur dilantai."

"Kenapa kau masih memanggilku mempelaimu? Kalau kau harus memanggilku dengan sebutan selain namaku, panggil saja aku istri, bukan mempelai."

"Tapi kau belum menjadi istriku." Jawab Yunho.

Jaejoong tidak mengerti. "Aku tentu saja istrimu...benarkan?"

"Tidak sampai aku sudah menidurimu."

Semenit berlalu dalam keheningan sebelum Jaejoong menanggapi pernyataan itu. "Kau boleh memanggilku mempelai."

"Aku tidak membutuhkan izin darimu." Gerutu Yunho. Ia mengulurkan tangan untuk merangkul Jaejoong ketika namja itu mulai menggigil lagi, tapi Jaejoong mendorong tangannya menjauh.

"Ya Tuhan, aku tidak percaya hal ini terjadi padaku. Kau seharusnya baik, lembut, penuh pengertian."

"Apa yang membuatmu merasa aku tidak seperti itu?" Yunho tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Kau telanjang." Kata Jaejoong asal-asalan. "Itu membuatku malu. Dan kau sengaja melakukannya."

"Aku tidak dengan sengaja membuatmu malu." Bentaknya. "Seperti inilah aku tidur mempelaiku. Kau juga akan menyukainya, begitu..."

"Oh Tuhan." Jaejoong mengerang.

Jaejoong memutuskan tidak mau terlibat dalam percakapan memalukan ini. Iaperlahan ke ujung ranjang sehingga ia bisa turun. Karena salah satunya terhalang dinding, dan sisi lainnya terhalang Yunho. Di dalam kabin itu terlalu gelap untuk bisa menemukan syalnya. Tapi Yunho sudah menendang salah satu selimut dari tempat tidur. Jaejoong menyambarnya dan menyelimuti tubuhnya.

Namja itu tidak tahu berapa lama berdiri disitu, melototi punggung Yunho. Tak lama kemudian Jaejoong langsung kedinginan, pakaian tidurnya yang tipis tidak banyak memberikan perlindungan terhadap hawa dingin di dalam kamar itu. Namja itu merasa merana sekali, ia duduk di lantai membungkus kaki telanjangnya dalam selimut, lalu berbaling miring.

"Seumur hidup aku tidak pernah diperlakukan seburuk ini. Jika kau merencanakan untuk menyayangiku, Yunho. Kau sudah gagal."

Yunho mendengar semua bisikan marah namja itu, ia menahan senyum. "Kau cepat belajar, mempelaiku?"

Jaejoong tidak mengerti apa yang dibicarakan Yunho, "Apa yang menurutmu cepat kupelajari."

"Dimana tempatmu." Jawab Yunho ogah-ogahan. "Anjingku butuh waktu jauh lebih lama lagi."

Pekikan marah Jaejoong memenuhi kabin. "Anjingmu?" secepat kilat Jaejoong berdiri, lalu mendorong-dorong bahu Yunho. "Hei, bergeserlah suamiku."

"Panjat saja Jae." Perintah Yunho. "Aku selalu tidur disisi luar."

"Kenapa?"

"Untuk perlindungan," jelas Yunho. "Jika kabin diserang, musuh harus menyerangku terlebih dulu sebelum dia menyerangmu. Nah, sekarang kau mau tidur tidak?"

"Ini peraturan lama atau baru?"

Yunho tidak menjawab. Jaejoong kembali mendorong bahu Yunho dengan jarinya. "Apa pernah ada namja atau yeoja lain diranjang ini, Yunho?"

"Tidak."

Jaejoong tidak tahu mengapa, tapi ia sangat senang mendengar jawaban itu. Amarahnya perlahan sirna ketika menyadari suaminya benar-benar melindunginya. Ia masih seperti monster, tapi akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Jaejoong agar tetap aman. Jaejoong naik keranjang dan beringsut merapat kedinding. Tak lama kemudian tempat tidur seperti berguncang karena gemetar tubuh Jaejoong. Toleransi Yunho benar-benar habis sekarang. Ia mengulurkan tangan dan dengan kasar menarik Jaejoong kepelukannya, Jaejoong benar-benar tebungkus oleh kehangatan tubuh Yunho, dan ketelanjangannya. Yunho memakai sebelah kakinya yang berat menindih kedua kaki Jaejoong. Dada dan lengannya manangani sisanya.

Jaejoong tidak memprotes, ia tidak bisa. Tangan Yunho kembali membekap mulutnya. Jaejoong beringsut merapat pada laki-laki itu, memosisikan kepalanya di bawah dagu Yunho, lalu memejamkan mata.

Begitu Yunho melepaskan tangannya dari mulut Jaejoong, ia berbisik. "Jika ada yang harus tidur dilantai itu kau."

Yunho hanya menanggapi dengan gerutuan pelan yang menandakan kekesalannya. Jaejoong tersenyum sendiri, merasa jauh lebih baik sekarang. Ia menguap, beringsut semakin mendekati suaminya.

Jaejoong terlelap merasa hangat dan aman... dan agak merasa sedikit disayang.

Well, awal yang menyenangkan.


Mataram, 11 februari 2015


Terima kasih yang sudah RnR, follow, dan memfavoritkan FF ini... maaf jika banyak typo yang bertebaran.. mata saya agak rabun, dan gak mau-gak suka-pake kaca mata... ^^v

Jika ada yang reader tidak mengerti silahkan tanya saja biar lebih jelasnya :D

Ada beberapa reader Guest yang tidak mengerti dengan ceritanya..tapi saya agak kesulitan untuk membalas Review kalian... Gommene –Bow- jadinya saya belum bisa membalasnya... diusahakan chapter-chapter selanjutnya bahasanya akan saya permudah.. biar banyak yang paham :D

Ada yang tanya juga karakternya Jaejoong disini... iyaa~ Jajae disini emang sedikit...Oon—Telmi dan cengeng— sengaja mau nguji kesabarannya Yunppa :v

Daan untuk Reader yang nunggu MP-nya YunJae... Sabaaarrr neee */\* mereka lagi melakukan persiapan *Wink* hahaha~