Title : The Gift
Story by : Julie Garwood
Remake by : A.J Kim
Cast : DBSK/JYJ, dll.
Genre : Romance, Humor, Family.
Jaejoong merasa lebih segar ketika bangun keesokan harinya. Akhirnya ia cukup istirahat dan merasa siap untuk menghadapi dunia. Lebih jelasnya lagi, ia merasa cukup kuat untuk bicara pada suami vikingnya-nya lagi. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan, tapi Jaejoong memutuskan kalau ia akan menuntaskan masalah yang paling menghkawatirkan terlebih dahulu. Jaejoong menginginkan masa pengenalan dan pernikahan yang semestinya. Tak peduli betapa kasar dan arogannya Yunho nanti ketika ia menjelaskan permintaannya, ia bertekad akan menahan emosinya. Hanya akan memakai nada bicara manis dan berpikir sejelas mungkin.
Ya Tuhan, Jaejoong ngeri membayangkan apa yang akan dihadapinya. Yunho bukan orang mudah diajak bicara. Suaminya itu bahkan bersikap seolah berada dalam ruangan yang sama dengannya sama sekali tidak menyenangkan.
Kesadaran itu memunculkan pikiran yang suram. Bagaimana ternyata dulu Yunho benar-benar tidak ingin dinikahkan dengannya?
"Mustahil." Gumam Jaejoong sendiri. "Tentu saja dia ingin dinikahkan denganku."
Usahanya untuk mempertebal percaya diri tidak bertahan lama. Ia sudah terlalu terbiasa menganggap Yunho sehingga ia tak pernah sekalipun membayangkan akan menikah dengan orang lain. Ia tumbuh dengan kepercayaan seperti itu dikepalanya, dan karena ia memiliki sikap yang santai dan pasrah, ia tidak pernah mempertanyakan nasibnya.
Jaejoong berpakaian dengan perlahan, berniat tampil menawan ketika menghadapi Yunho. Butuh waktu hampir satu jam untuk membongkar barang-barangnya. Kemeja warna hijau tua menjadi pilihan pertamanya, tapi karena baju itu terlalu kusut, maka akhirnya memilih yang berwarna merah. Garis lehernya tidak seterbuka baju biru yang pernah memancing komentar kasar Yunho, dan ia merasa hal itu mungkin akan membuat Yunho senang. Setelah mengenakan semua pakaiannya yang sesuai, Jaejoong menyisir rambut sebahunya dan mengikatnya agar tidak merasa panas dengan seutas tali ikat berwarna hijau. Ia menyambar payung merah dari tas besarnya, kemudian menemui Heechul.
Tapi karena Heechul sedang tidur nyenyak, dan Jaejoong tak ingin membangunkannya.
Ketika Jaejoong meninggalkan kabin bibinya, Jaejoong melihat sebuah lorong. Lorong itu terlihat gelap dan sempit tapi saat Jaejoong melewatinya sebenarnya lorong itu melebar menuju sebuah ruangan persegi panjang dan luas. Sinar matahari menyorot dari tangga membuat lantai kayunya berkilauan, sama sekali tidak ada perabotan dalam ruangan tapi ada banyak besi hitam mencuat dari langit-langitnya. Perhatiannya teralihkan ketika seorang awak kapal datang menuruni tangga. Laki-laki itu melongokkan kepalanya, dan langsung berhenti ketika melihatnya. Jaejoong mengenali awak kapal itu, tapi memutuskan untuk berpura-pura tidak kenal. Lagi pula ia telah bersikap kasar, dan kejadian itu sebaiknya dilupakan.
"Selamat siang tuan." Kata Jaejoong sambil membungkuk sopan. "Namaku Kim Jaejoong."
Laki-laki itu menggelengkan kepala padanya. Jaejoong tidak tahu apa maksudnya.
"Kau Jung Jaejoong."
Jaejoong terlihat terkejut. "Benar." Jaejoong mengiyakan. "Sekarang aku Jung Jaejoong, dan aku berterima kasih karena kau mengingatkan."
Pria itu mengangkat bahu. Anting emas di daun telinganya membuat Jaejoong terpukau. Begitu juga dengan kenyataan laki-laki itu tampak kikuk. Mungkin pelaut itu tidak terbiasa melihat Namja yang bertutur lembut di kapal ini.
"Aku senang sekali berkenalan denganmu, tuan." Kata Jaejoong lagi.
Jaejoong menunggu pria itu menyebutkan namanya. Tapi orang itu terus saja menatapnya. Lama, sampai akhirnya menanggapi. "Semalam kita sudah bertemu Jung Jaejoong-ssi." Katanya. "Kau memukulku, ingat?"
Jaejoong ingat. Ia memandang wajah lelaki itu dengan merengut karena sudah mengungkit sikapnya yang buruk, kemudian ia mengangguk. "Ya, aku ingat sekarang setelah kau menyebutnya. Dan karena itu aku harus minta maaf padamu. Satu-satunya alasanku adalah saat itu aku sedang agak kaget. Siapa namamu?"
"Shim Changmin."
Jaejoong mengulurkan tangan dan menyalami tangan kanan Changmin dengan kedua tangannya. Rasa halus kulit namja itu menyentuh tangan Changmin yang kasar sehingga membuatnya kaget. Payung Jaejoong jatuh kelantai tapi Changmin masih terlalu terpana oleh sentuhan Jaejoong untuk mengambilnya, sementara Jaejoong terlalu antusias untuk berteman dengan laki-laki itu untuk memungutnya sendiri.
"Apa kau memaafkanku karena memukulmu Changmin-ssi?"
Changmin tak sanggup berkata-kata. Namja cantik yang ditemuinya dua malam lalu sangat jauh berbeda dari namja bersuara lirih yang berdiri penuh hormat dihadapannya. Dan, astaga. Ia juga cantik sekali. Sepasang mata doe paling hitam yang pernah dilihatnya.
"Apa itu penting bagimu, kumaafkan atau tidak?" gumamnya.
Jaejoong meremas hangat tangan Changmin sebelum melepaskannya. "tentu saja sangat penting. Aku bersikap kasar waktu itu."
"Baiklah kumaafkan. Tidak ada yang parah." Laki-laki itu merasa kikuk seperti anak yang baru masuk sekolahan.
"Kau baik sekali Changmin-ssi. Aku sangat berterima kasih." Senyum Jaejoong menghapus wajah merengut Changmin, ia bahkan tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Jaejoong.
Karena Jaejoong merasa hati awak kapal itu sudah membaik, ia memutuskan untuk bertanya lagi. "Changmin-ssi, apa kau melihat pelayan pagi ini? Tempat tidurku belum dibereskan, dan ada beberapa pakaian yang harus diurus."
"kami tidak punya pelayan dikapal ini. Bahkan hanya bibimu wanita yang berlayar bersama kami."
"Kalau begitu siapa..." Jaejoong tidak jadi melanjutkan pertanyaannya, jadi siapa yang telah menanggalkan pakaiannya? Jawabannya muncul dalam sekejap. Yunho.
Changmin memperhatikan ketika semburat merah menghiasi pipi Jaejoong dan membatin apa yang dipikirkan namja itu.
"Ada satu lagi yang ingin kutanyakan jika kau cukup sabar mendengarkan."
"Apa?" jawab Changmin pendek.
"Ini ruangan apa? Kupikir tadinya hanya lorong biasa tapi ternyata jauh lebih luas. Aku tidak menyadari ada partisi waktu pertama kali naik."
"Ini ruang perwira, ruang untuk mengatur siasat. Atau setidaknya itulah sebutan di setiap kapal perang sebenarnya. Dan diruangan bawahnya tempat kami menyimpan amunisi"
"Amunisi? Untuk apa kita butuh amunisi?" tanya Jaejoong.
Changmin tersenyum. "Rupanya kau tidak memperhatikan meriam kami ketika kau naik?"
Namja cantik itu menggeleng. "Waktu itu aku agak kesal, jadi tidak memperhatikan terlalu mendetail."
Agak kesal? Batin Changmin. Namja itu jelas bisa dibilang murka.
"Totalnya kami punya delapan meriam, memang sedikit untuk ukuran kapal perang seperti ini. Tapi bidikan kami selalu tepat sasaran. Dan kami tidak butuh lebih dari itu."
"Tapi Changmin-ssi, kita tidak sedang berperang. Kenapa menyimpan senjata seperti itu?"
Changmin mengangkat bahu. Mata Jaejoong tiba-tiba terbeliak. "PAGAN" Jaejoong menyebut begitu saja nama bajak laut tersohor itu, lalu mengangguk-angguk.
"Pintar sekali kapten kita, sudah siap mengarungi samudra. Dia pasti berusaha membela kita dari serangan para perompak kan?"
Memang sulit, tapi Changmin berhasil menyembunyikan senyumannya. "Kau sudah mendengar tentang Pagan?"
Jaejoong sengaja menunjukkan kekesalannya. "Semua orang pernah mendengar tentang penjahat yang satu itu."
"Penjahat? Kalau begitu, kau tidak suka pagan?" Jaejoong merasa kalau pertanyaan paling aneh yang pernah diajukan padanya. Kilat dimata Changmin juga membuatnya bingung. Changmin sepertinya sangat geli dan itu tidak masuk akal. Mereka sedang membahas perompak yang mengerikan, bukan sedang menceritakan lelucon terlucu.
"Tentu saja aku tidak suka orang itu. Dia itu penjahat. Bukankah di Korea ada hadiah untuk yang berhasil menangkapnya? Jelas kau berpikiran tidak masuk akal jika kau mempercayai cerita konyol tentang kebaikannya."
Suara peluit yang melengking menyela omongan Jaejoong. "Suara berisik apa itu? Aku juga mendengarnya tadi waktu sedang berpakaian"
"Itu kepala kelasi memberitahukan pergantian. Kau akan mendengar setiap empat jam sekali, siang dan malam. Itu pertanda pergantian rotasi."
"Changmin-ssi?" tanya Jaejoong ketika lelaki itu hendak berbalik.
"Jaejoong-ssi, kau tidak kau harus memanggilku dengan embel-embel ssi." Gerutu Changmin. "Changmin saja sudah cukup."
"Kalau begitu kau harus berhenti memanggilku Jaejoong-ssi." Balasnya. "Kita teman sekarang, dan kau boleh memanggilku dengan Jaejoong saja."
Ia menyambar lengan pria itu. "Bolehkah aku bertanya pertanyaan terakhir?"
"Ya?." Changmin menengok dari kebelakang dari balik bahunya.
"Tadi malam... atau malam sebelumnya? Begini, aku melihat sepertinya kau adalah pegawai suamiku?"
"Ya."
"Apa kau tahu dimana Yunho? Aku ingin bicara padanya."
"Dia ada di Aft (Buritan)."
Jaejoong terperangah, tapi keterjutannya segera pulih. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala pada pria dihadapannya itu. Ekspresinya tampak mengancam membuat Changmin kembali memperhatikannya.
"Aku bilang dia ada di Aft (Buritan)."
"Ya... mungkin dia tidak sempurna, Changmin." Kata Jaejoong, diam sebentar untuk mengambil payungnya, lalu berjalan memutari lelaki bertubuh besar itu. "Tapi kesetianmu dipertanyakan ketika kau menyebut kaptenmu dengan subutan 'Daft' (Bodoh) seperti itu. Sekarang aku istri Yunho, dan aku tidak mau mendengarnya dipanggil seperti itu. Tolong jangan berlaku tidak hormat seperti itu lagi."
Siwon turun tangga saat temannya menggumamkan sesuatu tentang rasa hormat. Jaejoong tersenyum saat berjalan melewatinya.
"Ada apa itu tadi?" tanya Siwon kepada temannya. "Kupikir aku mendengarmu berkata..."
Changmin memotong dengan pelototan galak. "Kau tidak akan percaya, tapi aku baru saja diminta berjanji untuk tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau Yunho ada di Buritan."
Siwon hanya menggelengkan kepalanya. "Dia namja yang aneh ya? Aku heran, bagaimana namja sepolos itu bisa berasal dari keluarga yang kejam."
Percakapan mereka terhenti ketika jeritan melengking sampai ketelinga mereka. Keduanya tahu bahwa Jaejoong yang membuat keributan.
"Ah, dia merepotkan sekali ya?" kata Siwon sambil menghela napas.
"Merepotkan dan berisik." Gumam Changmin. "Kali ini apa yang memancing kemarahannya?"
Aneh, tapi mereka berdua dengan penuh semangat ingin kembali ke geladak untuk melihat apa yang terjadi. Dan keduanya juga tersenyum.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Jaejoong baru saja menemukan Yunho. Laki-laki itu sedang berdiri dibelakang kemudi kapal. Jaejoong hendak memanggilnya ketika Yunho berbalik membelakanginya lalu membuka bajunya.
Namja cantik itu melihat bekas luka dipunggung Yunho. Reaksinya sangat natural. Jaejoong memekik marah.
"Perbuatan siapa itu?"
Yunho bereaksi seketika. Ia memegang gagang cambuknya dan berbalik untuk menghadapi ancaman. Saat itu juga ia menyadari bahwa tidak ada musuh yang berusaha melukai mempelainya. Jaejoong berdiri sendirian.
"Ada apa?" bentak Yunho pada Jaejoong sementara ia sendiri berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. "Kupikir ada orang yang..."
Yunho menghentikan sendiri kata-katanya, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata. "Apa ada yang sakit?"
Jaejoong menggeleng.
"Jangan berteriak seperti itu lagi." Perintah Yunho dengan nada yang lebih lembut. "Jika kau ingin meminta perhatianku bilang saja."
Payung Jaejoong jatuh kegeladak saat ia berjalan menghampiri suaminya. Ia masih terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Jaejoong berhenti tak sampai setengah meter dari tempat Yunho berdiri.
Yunho melihat mata Jaejoong berkaca-kaca. "Astaga, ada apa lagi sekarang? Apa ada yang menakut-nakutimu?" Brengsek, aku tidak punya cukup kesabaran untuk menghadapi hal seperti ini, pikir Yunho.
"Punggungmu, Yunho." Bisik Jaejoong. "Penuh luka."
Yunho terperangah. Tidak ada seorangpun yang berani menyebut cacat itu padanya. Orang yang pernah melihat punggungnya selalu berpura-pura tidak memperhatikan.
"Terima kasih sudah memberitahuku." Bentak Yunho. "Aku tidak pernah tahu kalau..."
Sialan, Jaejoong mulai menangis. Rupanya sindirannya terlalu berlebihan bagi Jaejoong. "Begini, Jae." Gumamnya frustasi. "Jika pemandangan punggungku membuatmu terganggu, turun saja."
"Tidak, tidak membuatku terganggu...kenapa kau berkata seperti itu?"
Yunho mengisyaratkan Changmin agar mendekat dan mengambil alih kemudi, kemudian mengaitkan tangannya dibelakang punggung agar ia tidak menarik Jaejoong. Hasrat yang kuat untuk mengguncang tubuh namja itu agar mambuatnya mengerti.
"Baiklah kalau begitu, jadi kenapa kau tadi menjerit?" suara Yunho sedingin embusan angin musim dingin. Jaejoong menduga suaminya itu agak sensitif tantang bekas lukanya.
"Aku marah sekali saat melihat bekas lukamu, Yunho. Apa kau mengalami kecelakaan?"
"Tidak."
"Kalau begitu, ada yang sengaja melakukannya padamu?" Jaejoong tidak membiarkan kesempatan Yunho menjawab. "Monster macam apa yang tega menyakitimu seperti itu? Ya Tuhan, kau pasti menderita sekali."
"Oh, Demi Tuhan, kejadiannya sudah lama sekali."
"Apa itu perbuatan Pagan?" tanya Jaejoong.
"Apa?" Yunho balik bertanya.
Yunho tampak terperanjat. Jaejoong mengira dugaannya pasti benar. "Pasti Pagan yang melakukannya padamu, benar bukan?"
Changmin mulai terbatuk-batuk. Yunho menoleh dan menatapnya tajam, menyuruhnya diam. "Apa yang membuatmu mengira ini perbuatan Pagan?" Yunho menekankan setiap kata-katanya saat bertanya pada Jaejoong.
"Karena dia orang yang cukup kejam." Jawab Jaejoong.
"Eoh? Dan bagaimana kau bisa tahu?" tanya Yunho lagi.
Jaejoong mengangkat bahu. "Kudengar dia memang orang yang seperti itu."
"Bukan Pagan."
"Apa kau benar-benar yakin Yunho? Tidak ada yang tahu persis bagaimana wajah penjahat itu. Mungkin itu Pagan, dan kau tidak menyadarinya karena dia tidak memberitahukan nama sebenarnya."
Yunho sama sekali tidak menyembunyikan kekesalannya. "Aku tahu siapa yang melakukannya."
"Kalau begitu, apa kau mau memberitahukannya padaku?"
"Kenapa?"
"Supaya aku bisa membencinya."
Kemarahan Yunho lenyap. Kesetiaan seperti ini membuatnya terpana. "Tidak. Aku tidak akan memberitahumu. Tapi itu bukan Pagan"
Yunho berbalik memunggunginya, tanda pembicaraan mereka sudah selesai. Changmin kemudian meninggalkan kemudi. Jaejoong menunggu sampai ia hanya berdua dengan suaminya, lalu mendekat.
Yunho merasakan sentuhan ujung jari Jaejoong di bahu kanannya. Ia tidak bergerak. Usapan seringan kapas menuruni punggung itu sangat lembut, dan juga memancing. Ia tidak bisa mengabaikannya, perasaan aneh terbangkitkan oleh Jejoong.
"Aku tidak akan mendorong-dorong punggungmu semalam seandainya aku tahu tantang lukamu." Bisik Jaejoong. "Aku tidak melihatnya karena gelap, dan aku...tidak tahu."
"Sudahlah, sekarang tidak sakit lagi. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu."
Nada kasar Yunho mengagetkan Jaejoong. Tangannya terkulai kembali kesamping tubuhnya. Ia bergerak untuk berdiri disamping suaminya. Lengannya menyentuh lengan Yunho. Jaejoong mendongak memandang wajah Yunho dan menunggu suaminya memandangnya lagi. Ekspresi wajah laki-laki itu seperti bisa dipahat di batu, pikir Jaejoong. Yunho tampak persis seperti bayangan Jaejoong akan seorang Viking. Otot-otot menghiasi bahu dan lengan atasnya bergerak bagai riak air, seperti seorang petarung. Ia sibuk memperhatikan bentuk tubuh Yunho sampai tidak menyadari Yunho sedang memperhatikannya.
Jaejoong tersipu. "Yunho?"
"Apa?"
Apakah suaminya itu memang harus selalu bicara dengan nada sedatar itu dengannya? Jaejoong memaksakan diri terdengar manis ketika meminta maaf.
"Aku minta maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu." Yunho merasa kata-kata Jaejoong tidak perlu ditanggapi.
"Apa kau keberatan?" tanya Jaejoong kemudian.
"Keberatan apa"
"Keberatan kalau aku yang mengemudikan perahu ini?"
Senyum Yunho membuat Jaejoong senang. "Ini bukan perahu, Jae. Kau bisa menyebut Cassiopeia kapal atau bahtera, tapi tidak boleh menyebutnya perahu. Itu penghinaan memepelaiku. Dan kami para kapten kapal tidak bisa mendengar penghinaan seperti itu kepada kapal kami."
"Kapten kapal?" tanya Jaejoong seperti anak kecil. Yunho mengangguk.
"Oh Yunho, aku tidak tahu." Kata Jaejoong buru-buru. "Kalau begitu, kita kaya?"
"Tidak."
"Eoh? Kenapa tidak?"
Jaejoong tampak kesal. Yunho segera menceritakan pada namja itu bagaimana ia dan Yoochun temannya bersama-sama mendirikan perusahaan kapal itu, mereka memutuskan agar Yunho menjadi mitra pasif. Dan ia mengakhiri kisah singkatnya dengan fakta bahwa dalam waktu kurang lebih sepuluh bulan, perusahaan mereka bisa dipastikan akan menghasilkan laba.
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa hanya dalam waktu beberapa bulan kita akan kaya?"
"Karena perjanjian yang kutanda tangani."
"Maksudmu, perjanjian untuk jasa penyewaan?"
"Bukan."
Desahan Jaejoong terdengar sungguh dramatis. "Tolong jelaskan, Yunho."
Karena Yunho mengabaikan permintaannya. Jaejoong menyodoknya. Astaga, susah sekali membuatnya bicara. "Jika kau sangat yakin tentang hal ini, aku akan senang sekali membantumu."
Yunho tertawa, dan Jaejoong merasa lebih percaya diri. Tawarannya untuk membantu jelas telah membuat suaminya senang.
"Aku bisa membantumu mengurus pembukuan. Aku cukup pintar soal perhitungan... Tidak?" lanjut Jaejoong ketika Yunho menggeleng. "Tapi aku ingin membantumu."
Yunho melepaskan kemudi dan berbalik menghadap namja itu. Astaga, Jaejoong sungguh nampak cantik hari ini, pikir Yunho sembari memperhatikan Jaejoong yang berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Angin berhembus cukup kencang, membuat hal itu mustahil dilakukan. Pipinya merona segar, menambah kecantikannya. Tatapan Yunho berhenti pada bibirnya. Merah segar, sesegar seluruh penampilannya. Yunho menyerah pada dorongan tiba-tiba yang menguasainya. Sebelum Jaejoong bergerak mundur menjauhinya, Yunho mencengkram bahunya. Ia menarik namja itu kedadanya, sebelah tangannya menyusup diantara berkas berkas rambut yang menutupi tengkuknya. Rambut Jaejoong terasa selembut sutra bagi Yunho. Dicengkramnya sebagian rambut itu lalu menyentakkan kepala Jaejoong kebelakang sehingga wajah istrinya menengadah. Yunho berkata pada diri sendiri ia akan mencium Jaejoong hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Kita masing-masing punya tugas khusus yang harus dijalankan." Katanya pada Jaejoong. Bibirnya semakin dekat dengan bibir Jaejoong. "Tugasku menghamilimu, Jae. Dan tugasmu adalah memberikanku seorang putra."
Bibir Yunho mendarat di bibir Jaejoong tepat pada saatnya untuk membungkam kesiap marah namaja itu. Awalnya Jaejoong terlalu terperanjat untuk bereaksi. Bibir Yunho terasa panas, keras dan sangat menuntut. Yunho menenggelamkan Jaejoong dengan kehangatannya, rasanya juga aroma maskulinnya yang luar biasa. Yunho menginginkan tanggapan Jaejoong. Dan namja itu tidak mengecewakannya. seketika lidah Yunho menyusup ke dalam mulut Jaejoong, ingin bermain-main dengan lidahnya, kaki Jaejoong mendadak lemas. Jaejoong melingkarkan kedua lengannya ke leher Yunho, berpegangan erat meskipun ia berusaha menggeliat lepas dari rengkuhan lelaki itu. Baru ketika Yunho merasakan tanggapan sepenuhnya dari istrinya, ia memperlembut ciumannya. Namjanya begitu lembut. Yunho bisa merasakan panas yang membara dari tubuh mempelainya, ingin lebih mendekat, lebih dekat lagi. Kedua tangannya bergerak memegang bokong Jaejoong, dan perlahan-lahan mengangkatnya hingga pinggul Jaejoong menyentuh pinggulnya dan menariknya lebih dekat lagi padanya.
Saat itu suara siulan dan tawa riuh menerobos kesadarannya. Awak kalpalnya tentu saja menikmati tontonan yang diberikan kepada mereka. Yunho berusaha melepaskan tubuhnya dari Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak ingin melepaskannya. Ia justru menarik rambut Yunho agar memperdalam ciumannya lagi. Yunho menyerah pada permohonan tanpa kata istrinya dengan geraman lirih. Ciuma mereka begitu penuh gairah, tapi ketika Jaejoong memainkan lidahnya, Yunho memaksa diri berhenti. Mereka berdua sama-sama terengah saat melepaskan diri.
Begitu kapten mereka berhenti menyentuh mempelainya, semua awak kapal kembali ketugas rutin mereka. Yunho menatap mereka dengan tatapan lesernya yang membunuh sebelum kembali menatap Jaejoong. Ia menggeleng menyadari dirinya yang lepas kendali dan mendelik ketika melihat tangannya masih gemetar. Ciuman itu menimbulkan efek yang lebih besar dari perkiraannya. Dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya kembali ke kemudi.
Jaejoong butuh waktu jauh lebih lama untuk kembali fokus. Ia gemetar dari ujung kepala sampai kaki. Sama sekali tidak tahu kalau berciuman bisa terasa sangat... nikmat menyeluruh. Yunho jelas sekali tidak terpengaruh, pikirnya ketika melihat wajah suaminya kembali terlihat sangat bosan. Tiba-tiba Jaejoong merasa ingin menangis. Kemudian mengingat komentar terakhir Yunho tentang tugas khususnya.
"Aku bukan kuda indukan." Bisik Jaejoong. "Dan aku tidak yakin bahwa aku senang kau pegang seperti itu."
Yunho menengok kebelakang lewat bahunya. "Haa~ kau membuatku tertipu." Kata Yunho dengan suara yang sengaja di lambat-lambatkan. "Caramu menciumku seperti..."
"Aku tidak suka."
"Pembohong."
Ia menunduk menatap sepatunya dan melipat tangan malu-malu dihadapan Yunho. "Kau tidak boleh menciumku lagi." Ia berharap suaranya kedengaran sedikit lebih tegas.
"Tidak boleh?" kegelian Yunho terdengar jelas.
"Tidak. Tidak boleh." Kata Jaejoong lagi. "Aku sudah memutuskan bahwa kau harus melalui masa pengenalan dulu denganku, Yunho. Lalu kita akan mengadakan upacara pernikahan yang sepatutnya dihadapan pendeta, sebelum kau boleh menciumku lagi."
Jaejoong tidak menatap suaminya ketika menyampaikan pidatonya yang berapi-api itu, tapi begitu selesai dan kembali melihat pada Yunho. Suaminya itu memandangnya dengan datar.
Yunho akhirnya menunjukkan reaksinya. Sorot marahnya sepanas matahari tengah hari yang menerangi mereka. Tapi mata Yunho... warna mata itu begitu kuat, begitu tulus, begitu mempesona. Bila lelaki itu sedang manatap langsung matanya, Jaejoong seperti lupa bernapas. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Vikingnya sebenarnya sangat tampan. Mengapa ia tidak menyadari sebelumnya? Ya Tuhan, apakah ia mulai tertarik pada Yunho?
Jaejoong tersadar dari lamunannya ketika Yunho berkata. "Apa kau sudah menemukan cara untuk melanggar perjanjian ini?"
"Tidak."
"Bagus. Seperti yang kuperintahkan tadi, aku tidak akan membatalkan perjanjian ini Jae."
Jaejoong benci dengan nada arogan Yunho. "Aku sudah tahu sebelum kau memerintahkannya."
"Benarkah? Kau tahu aku sangat menginginkan uang dan tanah itu bukan? Itulah kenapa aku tidak bisa meninggalkan perjanjian ini"
"Ya. Aku sudah tahu. Kau juga pasti akan mau dinikahkan denganku"
"Bagaimana kau bisa tahu aku ingin dinikahkan denganku?"
"Yunho, apa yang ada didiriku adalah semua yang diinginkan." Celetuk Jaejoong. Ia berusaha terdengar searogan, seyakin Yunho ketika berbicara padanya. "Sungguh." Angguknya tegas.
"Oh ya?" Jaejoong bisa melihat kilat tawa di mata suaminya.
Keangkuhannya seketika mulai lenyap. "Iya." Kata Jaejoong.
Semburat merah menghiasi pipi Jaejoong. Bagaimana bisa ada orang yang bisa terkesan begitu arogan namun juga pemalu? Pikir Yunho. Namja cantik itu bagai sesuatu yang saling bertentangan dimatanya.
"Apa kau bersedia memberitahuku, mengapa kau merasa segala yang kuinginkan?"
"Tentu saja, karena aku tipe namja yang diinginkan setiap orang. Kau berani tersenyum mengejekku? Aku serius. Aku sudah dilatih untuk menjadi istri yang baik, sama seperti kau telah dilatih untuk menjadi pencari nafkah yang baik."
Semua yang dikatakan istrinya berhasil memancing rasa ingin tahu Yunho. "Jae, apa tepatnya yang diajarkan padamu?"
"Aku bisa mengatur rumah tangga dengan mudah." Jaejoong mula menjelaskan. "Aku juga bisa menjahit lurus tanpa tertusuk jarum." Jelasnya melebih-lebihkan. "Bahkan aku bisa mengelola perkebunan yang besar dan luas."
Jaejoong yakin bahwa Yunho akan terkesan. Bahkan ia sendiri terkesan. Tapi tentu saja semua yang dibanggakannya itu hanya karangan, tapi mustahl Yunho mengetahui kekurangannya kan?
"Aku bisa mempekerjakan orang untuk mengatur rumahku. Aku tidak harus menikah untuk bisa memiliki rumah yang nyaman."
Yunho nyaris tertawa terbahak-bahak, karena raut kecewa di wajah Jaejoong tampak sangat menggelikan.
"Lalu, sudah? Itu saja?" tanya Yunho. "Tdak ada hal lain yang diajarkan padamu?"
Kebanggaan Jaejoong terasa tercabik-cabik. Apakah tidak ada perkataannya yang akan membuat lelaki itu terkesan?
"Misalnya?"
"Misalnya, memuaskanku di tempat tidur."
Semburat merah dipipi Jaejoong semakin kentara. "Tentu saja tidak." Kata Jaejoong terbata-bata. "Kau yang seharusnya mengajariku bagaimana..." ia berhenti sejenak untuk menginjak kaki Yunho keras-keras. "Lancang sekali kau mengira aku akan terlatih dalam hal seperti...seperti..."
Jaejoong tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sorot matanya membuat Yunho bingung. Ia tak bisa memutuskan apakah Jaejoong ingin menangis atau ingin membunuhnya.
"Kurasa simpanan bisa melakukan tugas-tugas seperti itu." Kata Yunho, semata-mata ngin memancing reaksi Jaejoong.
Astaga, Jaejoong benar-benar menyenangkan untuk digoda, pikir Yunho. Reaksinya begitu terbuka, begitu...alami. Yunho tahu seharusnya ia berhenti mempermainkan Jaejoong, tapi Yunho masih terlalu senang untuk berhenti.
"Kau tidak boleh punya simpanan." Jaejoong meneriakkan larangan itu. "Tak perduli seberapapun cantik dia, seberapapun...berbakatnya dia, apapun itu. Aku tidak terima."
Yunho hanya mengangkat bahu.
Bagaimana Jaejoong tadi merasakan lelaki itu cukup menarik? "Kita ini sedang membicarakan masalah yang serius. Dan jika kau mengangkat bahu sekali lagi maka aku bersumpah akan berteriak lagi."
Yunho tidak merasa bahwa itu saat yang tepat untuk menyampaikan fakta bahwa sebenarnya jaejoong sudah berteriak. "Bukan kita." Kata Yunho dengan lembut dan menenangkan. "Kau yang merasa ini serius. Aku tidak."
Jaejoong menghela napas dalam-dalam. "Yunho, mengertilah perasaanku... apa kau mau menikahiku atau tidak?"
"Aku sudah menikahimu." Jaejoong geram sekali dengan laki-laki dihadapannya ini. Wajahnya memerah karena marah.
Jaejoong berbalik dan mendorong dirinya menjauh dari Yunho, saat berbalik ia mendapati sekitar sepuluh orang penontonnya tersenyum. Jaejoong malu setengah mati. Pasti sejak tadi mereka melihat ia berteriak-teriak seperti namja cerewet.
Jaejoong memutuskan untuk menyalahkan Yunho. Ia kembali berbalik dan menatap Yunho dengan tajam. "Apa kau memang harus mempermalukan aku begitu?"
"Kau yang melakukannya sendiri, mempelaiku. Sekarang kembalilah ke kabin." Perintah Yunho. "Dan lepas pakaian itu."
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Jaejoong.
"Lepas semuanya, Jae. Aku akan turun sebentar lagi."
Jantung Jaejoong nyaris berhenti berdetak ketika ia memahami sepenuhnya apa yang baru saja dikatakan Yunho. Hanya ia terlalu marah untuk berdebat lagi. Tanpa sepatah kata ia berbalik dan melangkah pelan untuk meninggalkan suaminya.
Jaejoong melewati Changmin saat berjalan menuju tangga. "Kau benar Changmin-ssi... Yunho memang bodoh."
Lelaki itu tidak diberikan kesempatan menjawab karena Jaejoong sudah menghilang.
Jaejoong mulai berlari secepat kilat saat sampai ruangan perwira, terus berlari sampai ke belokan ujung. Tempat kabin Heechul berada.
Walau badannya besar dan usianya sudah tidak muda lagi, rupanya Siwon masih bisa bergerak lues bila situasi menuntut, dan ia sampai didepan kabin Heechul bersamaan dengan Jaejoong.
"Jaejoong-ssi, kuharap untuk saat ini kau tidak mengganggu Heechul dulu." Kata Siwon dari belakang .
Jaejoong tidak mendengar lelaki itu datang dan terkesiap keras saat berbalik. "Kau membuatku kaget." Katanya. "Kau tidak boleh menyelinap seperti itu lagi, tuan. Siapa namamu?"
"Siwon."
"Senang berkenalan denganmu. Sedangkan soal bibiku, aku hanya ingin menengok keadaannya sebentar."
"Aku bertugas merawat bibimu. Ia sedang tidak bisa menerima pengunjung hari ini."
"Bibi Heechul tidak benar-benar sakit bukan? Aku melihat memarnya, tapi kupikir..."
"Dia akan sembuh. Heechul harus banya beristirahat. Tulang rusuknya retak.."
"Oh Tuhan, aku tidak tahu."
"Sudahlah, jangan menangis." Pinta Siwon. Mata Jaejoong sudah nampak berkaca-kaca. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya jika Jaejoong menangis dihadapannya.
"Terima kasih kau sudah merawat bibi heechul. Dia wanita yang baik hati, ia sudah menderita dan semuanya gara-gara aku." Ia meremas tangan Siwon membuat lelaki itu kaget dan tersenyum. Kemudian Jaejoong mambungkuk hormat padanya, dan mengatakan betapa senang Siwon adalah salah satu pegawainya. Lalu melangkah menuju kabinnya.
Jaejoong terus memikirkan Heechul sampai ia membuka pintu kabinnya. Begitu ia melihat ruangan besar kamarnya, masalah Yunho kembali menjadi proritas utamanya. Jaejoong tak berani membuang-buang waktu lagi. Ditutupnya pintu, memasang selotnya. Lalu menyeret peti yang berisi pakaiannya yang berat ke pintu kabin, memaksa punggungnya bekerja keras. Ia bergegas menghampiri meja, terpikir untuk menaruh perabot itu untuk mengganjal pintu bersama peti itu. Memperkuat benteng pertahanannya. Tapi tak peduli seberapa kuat Jaejoong mendorong, ia tetap tak bisa menggerakan meja itu, ternyata kaki mejanya terpaku ke lantai.
"Buat apa orang memaku kaki meja kelantai?" gumamnya sendiri.
Jaejoong juga berusaha memindahkan meja tulis, tapi ternyata meja itu juga terpaku. Untung saja kursinya bisa dipindah-pindahkan. Jaejoong mundur beberapa langkah untuk mengamati hasil kerjanya. Ia mengusap-usap punggung bawahnya berusaha menghilangkan sengatan nyerinya. Ia tahu mengganjal pintu hanyalah usaha sementara, tapi ia tetap merasa sangat cerdas. Seketika ia tersadar dengan sikap kekanak-kanakannya. Sikapnya memang tidak dewasa, tapi begitu juga Yunho. Jika laki-laki itu tidak mau bersikap rasional, kenapa Jaejoong harus bersikap logis? Mungkin saat malam tiba suami Viking-nya akan menyadari bahwa permintaannya memang berdasar. Dan jika lelaki itu tetap tidak mau, Jaejoong akan bertekad tetap tinggal didalam kabin sampai Yunho menyerah. Jika ia harus mati kelaparan, ya sudah.
"Aku lebih suka yang sebaliknya."
Jaejoong terlonjak kaget, kemudian seketika ia berbalik dan mendapati Yunho bersandar santai di tepi meja tulis, tersenyum padanya.
Yunho tidak menunggu pertanyaan keluar dari mulut Jaejoong, tapi hanya menunjuk pada pintu penyekat dilangit-langit. "Aku biasanya masuk dari atas." Bisiknya lembut. "Lebih cepat."
:::::::
To be continue
Anyeoong Reader-ssi... Mian nee sebelumnya... sebenarnya saya mau lanjutin,, tapi chapter ini udah panjaaaaaang bangeeeeeet m(_)m
Sengaja membuat agar Jaemma bisa mengenal seluk-beluk tempat tinggal barunya, biar alurnya gak terasa Nge-Jleb banget cepetnya.. baru satu hari kenal sama si Vikingnya,, langsung main NC-an aja hehehe~(walaupun saya juga pengennya cepet-cepet)... ( ื▿ ืʃƪ) semua butuh penyesuaian dan penjelasan #Ceilah (‾▿‾")
Untuk reader ada yang bingung atau lupa siapa itu PAGAN. (sudah dijelasin dichapter2) dia itu nama samaran Yunho saat jadi Bajak laut tersohor(Tapi udah insyaf) dan Jaejoong yang polos bin unyu dan keras kepala gak tahu kalau suaminya ternyata Penjahat yang dia gak suka (︶ω︶)
Dan untuk reader yang sangat menantikan Yunjae NC... ada dichapter depan... YEAAHH~
Sooooo...plisss tinggalkan Review kalian jika ingin Ff ini berlanjut dan Update cepet xD saya tipe orang yang malas mengetik dan Komen Chingu semua menambah semangat. (~)~
See you in next chapter~
Bye-bye ~
Chu~
