Title : The Gift
Story by : Julie Garwood.
Remake by : A.J Kim
Cast : DBSK/JYJ, dll.
Genre : Romance, family, humor.
Mempelai Yunho tampaknya tak bisa bersuara, Yunho memutuskan untuk memberikan sedikit lebih banyak waktu pada Jaejoong untuk menenangkan diri sebelum ia bertanya. Wajah Jaejoong pucat pasi seperti kapas. Dan ada kemungkinan pingsan gara-gara dirinya.
"Kurasa kau sedang berusaha mengubah letak perabotan?" suara Yunho terdengar ramah, menenangkan.
Kebalikan dari Yunho, Jaejoong ingin sekali berteriak, namun ia hanya berkata. "YA, aku lebih suka seperti ini."
Yunho menggeleng. "Tidak bisa."
"Tidak?"
"Mungkin kau tidak memperhatikan, tapi peti dan kursi itu sebenarnya menghalangi pintu. Lagipula kurasa, kita tidak akan ingin duduk...di atas situ."
Komentar Yunho menggelikan. Tentu saja mereka tahu untuk apa pintu itu diganjal. Tetapi Jaejoong berpura-pura berpikir, sebagai usaha menyelamatkan harga dirinya.
"Ya ku rasa kau benar juga. Perabotnya menghalangi pintu. Aku baru saja menyadarinya, terima kasih banyak sudah memberitahuku." Ia tidak berhenti menarik napas sebelum menambahkan. "Kenapa mejanya terpaku kelantai?"
"Kau tadi juga mencoba memindahkannya?"
Jaejoong mengabaikan tawa yang tersirat dalam suara Yunho. "Kupikir akan kelihatan bagus kalau kutaruh didepan peti. Meja tulisnya juga." Tambahnya. "Tapi kedua-duanya tidak bisa dipindahkan."
Yunho berdiri dan maju selangkah mendekatinya. Jaejoong seketika mundur. "Kalau ombak mulai ganas, perabotan akan bergerak." Jelasnya. Ia maju lagi selangkah. "Itu alasannya."
Jaejoong merasa seakan-akan ia sedang diintai. Rambut Yunho bergoyang di atas bahunya ketika bergerak. Otot-otot dibahunya seperti bergerak dengan gaya angkuh bak harimau kumbang. Jaejoong ingin melarikan diri dari Yunho, tapi disudut benaknya seperti ada pernyataan yang jujur bahwa ia ingin laki-laki itu menangkapnya. Ia sungguh menyukai cara Yunho menciumnya... tapi hanya itu yang disukainya. Jaejoong berusaha menghindar dengan setengah mengitari ruangan kabin namun terperangkap di kepala tempat tidur. Yunho berhenti ketika melihat ketakutan di mata namja itu. Ia mendesah panjang.
Yunho mengangkat dagu Jaejoong, memaksanya untuk menatap matanya. Suara Yunho sangat lembut ketika berata. "Jae, aku tahu semua ini sulit buatmu. Jika masih ada lebih banyak waktu lagi, mungkin kita bisa menunggu sampai kau lebih mengenalku. Tapi aku tidak akan berbohong kalau aku bisa atau akan berkencan denganmu. Karena sebenarnya aku tidak punya cukup kesabaran atau pengalaman untuk hal seperti itu. Meski begitu, aku tidak ingin membuatmu takut." Ia terdiam sejenak untuk mengangkat bahu, lalu tersenyum pada Jaejoong. "Semestinya tidak penting untukku apakah kau takut atau tidak, tapi ternyata penting."
"Kalau begitu..."
"Tidak ada waktu." Potong Yunho. "Seandainya kau tidak melarikan diri dariku delapan bulan yang lalu, saat ini kau pasti sudah mengandung anakku."
Mata Jaejoong terbeliak mendengar kata-kata itu. Yunho pikir reaksi itu karena ia menyebut-nyebut soal bayi. Jaejoong namja yang polos, dan Yunho tahu bahwa istrinya sama sekali tidak berpengalaman. Dan kenyataan itu sungguh membuatnya senang.
"Aku tidak melarikan diri darimu." Sergah Jaejoong. "Kau ini bicara tentang apa?"
Yunho menaikkan satu alisnya mendengar penyangkalan istrinya. "Jangan berani berbohong padaku." Ia agak meremas bahu namja cantik itu untuk lebih menekankan kata-katanya. "Aku tidak akan menerimanya. Kau harus selalu jujur padaku."
Ekspresi di wajah Jaejoong sama marahnya dengan suaranya. "Aku tidak bohong." Balasnya. "Aku tidak pernah lari darimu, Viking. Tidak pernah."
Yunho percaya. Namja itu terlihat terlalu tulus dan sangat marah. "Jae, aku mengirim surat pada kedua orang tuamu, memberitahu mereka mengenai niatku untuk menjemputmu. Aku mengirim kurir hari jumat. Kau seharusnya sudah siap hari senin minggu berikutnya. Aku bahkan memberikan waktu ekstra satu jam. Kau pergi ke pulau bibimu hari minggu pagi, sehari sebelumnya. Aku hanya menyimpulkan dari kenyataan saja."
"Tapi aku tidak tahu." Kata Jaejoong. "Yunho, orang tuaku pasti tidak menerima suratmu. Mereka tidak mengatakan apa-apa padaku. Saat itu sedang kacau, eomma sangat mencemaskan keadaan bibiku Heechul adiknya. Bibi selalu menulis surat setidaknya sekali sebulan, tapi eomma sudah lama tidak menerima kabar darinya, dan karena itu eomma jatuh sakit. Waktu itu dia memintaku pergi menemui adiknya dan mencari tahu apa ada yang tidak beres. Tentu saja aku langsung pergi."
"Kapan tepatnya eommamu menyampaikan kekhawatirannya padamu?"
Sikap sinis lelaki itu membuatnya kesal. Ia tahu yang dipikirkan Yunho. "Beberapa hari sebelum aku pergi. Tapi eommaku tidak akan pernah menceritakan kekhawatirannya padaku seandainya aku tidak menangkap basah dia sedang menangis. Dia enggan membebaniku." Tambah Jaejoong. "Sebenarnya, setelah kuingat-ingat. Akulah yang mengusulkan pergi ke pulau bibi Heechul."
Tiba-tiba Jaejoong menyadari sesuatu. "Bagaimana kau tahu tujuanku yang sebenarnya? Keluargaku bilang pada orang lain kalau aku pergi ke Jepang untuk menemui kakak perempuanku."
Yunho tidak menjelaskan kalau anak buahnya telah menguntit Jaejoong, dan ia tidak menyebutkan kalau namja itu memesan tiket perjalanan di salah satu kapalnya. Ia hanya mengangkat bahu. "Kenapa mereka tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Karena bibi Heechul sudah dianggap memalukan." Jelasnya. "Dia menikah dan kabur dari Korea bersama suaminya lebih dari empat belas tahun. Dulu aku yakin orang telah melupakan scandal itu, tapi ternyata tidak. Aku tidak akan membiarkanmu menduga eommakulah yang menipuku. Mungkin Aboeji atau nuna yang telah menahan suratmu, Yunho. Hanya untuk membuatmu menunggu sedikt labih lama lagi."
Yunho tersadar, jaejoong tidak berusaha melarikan diri darinya dan ia senang sekali mengetahuinya.
Jaejoong mendongak menatap suaminya sambil memeras otak, berusaha mencari cara lain untuk meyakinkan eommanya sama sekali tidak terlibat, namun ia tersadar satu hal dari apa yang dikatakan Yunho.
Yunho tidak melupakannya.
Senyum yang terkembang di bibir Jaejoong terlihat begitu menawan. Yunho tak mengerti apa yang mendasari perubahan drastis itu. Dan detik berikutnya Jaejoong menghambur kepelukan Yunho, tangannya memeluk pinggang laki-laki itu. Yunho semakin bingung dengan sikap Jaejoong yang aneh. Tapi ia menyukai rasa sayang yang tiba-tiba ditunjukan namja itu padanya, sangat menyukainya.
Jaejoong mendesah pelan, kemudian melepaskan pelukannya.
"Apa-apaan tadi itu?" tanya Yunho, dalam hati meringis kaget mendengar nada ketus dalam suaranya. Namun sepertinya Jaejoong tidak menyadarinya.
Ia menepuk-nepuk pipinya dan sedikit menyingkap rambutnya yang agak berantakan sambil berbisik. "Kau tidak melupakanku. Aku tahu kalau kau tidak akan lupa, aku yakin itu hanya kesalah pahaman kecil, karena aku..."
Ketika Jaejoong tidak melanjutkan, Yunho berkata. "Karena kau tahu aku mau dinikahkan denganmu?" Jaejoong mengangguk. Yunho tertawa.
Jaejoong melempar tatapan kesal padanya, kemudian berkata. "Yunho, ketika aku tidak bisa menemukan bibi Heechul, aku mengirim surat ke tempat tinggalmu beberapa kali untuk meminta bantuan, dan kau tidak pernah menanggapinya. Waktu itu aku lantas bertanya-tanya..."
"Jae, aku tidak punya tempat tinggal." Kata Yunho.
"Tentu saja punya." Sambar Jaejoong. "Kau punya rumah dikota. Aku pernah melihatnya sekali waktu sedang berjalan di...kenapa kau menggeleng?"
"Rumah itu terbakar habis tahun lalu."
"Tidak ada yang memberitahuku." Yunho mengangkat bahu.
"Kalau begitu, seharusnya aku mengirim surat ke rumahmu yang ada di pedesaan...sekarang kenapa kau menggeleng lagi?"
"Rumah itu juga terbakar habis." Jelas Yunho.
"Kapan?"
"Tahun lalu. Sekitar sebulan sebelum rumahku dikota terbakar." Jelas Yunho.
Jaejoong terperangah. "Sepertinya kau benar-benar mengalami banyak kemalangan ya, Yunho?"
Bukan kemalangan biasa. Kebakaran itu disengaja, dilakukan oleh musuh-musuhnya. Mereka mencari surat yang memberatkannya. Kala itu ia masih bekerja untuk pemerintahan, dan diakhir penyelidikan si bajingan pelakunya berhasil di tangani, tapi ia belum sempat memperbaiki kerusakan rumahnya.
"Kau benar-benar menulis surat padaku?"
Jaejoong mengangguk. "Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Kupikir pamanmu Jung Sung ahn yang berada di balik rencana ini."
"Rencana apa maksudmu." Tanya Yunho.
"Kupikir dia yang menahan suratmu pada orang tuaku. Dia kan cukup kejam."
"Apa yang mendasarimu berpikir dia itu kejam?"
"Pamanmu tanpa basa-basi menembak saudaranya sendirikan?"
Yunho mengangkat bahu. "Sung ahn punya alasan yang tepat."
"Untuk menembak saudaranya?" jaejoong terdengar tak percaya. Yunho mengangguk.
"Dan apa alasannya?"
"Saudaranya membangunkannya." Jaejoong tepana melihat Yunho tiba-tiba menyeringai lebar. Lelaki itu tampak tampan di matanya, tanpa disadarinya, Jaejoong tersenyum.
"Sung Ahn tidak membunuhnya, hanya membuatnya tidak nyaman duduk selama beberapa minggu, jika kau bertemu dengannya, kau akan..."
"Aku pernah bertemu dengannya." Potong Jaejoong.
Tangan Yunho tanpa sadar memijat-mijat lembut bahu Jaejoong. Namja cantik itu merasa sepertinya Yunho bahkan tidak menyadari apa yang dilakukannya, karena pandangannya menerawang. Mungkin ia sedang memikirkan kerabatnya, pikir Jaejoong.
Jaejoong ingin suaminya memijit punggung bawahnya, menghilangkan pegal yang dirasakannya, dan karena Yunho tampak sedang memikirkan sesuatu, ia memutuskan untuk memanfaatkan perhatian suaminya yang teralihkan itu. Jaejoong memindahkan tangan kanan Yunho ke tulang punggungnya.
"Pijat aku di situ, Yunho. Punggungku sakit gara-gara memindahkan perabot tadi."
Yunho tidak mendebat permintaannya, pijatannya tidak terlalu lembut sampai Jaejoong memintanya lebih pelan sedikit. Kemudian ia memindahkan kedua tangan Yunho kepangkal bawah tulang punggungnya. Ketika Yunho mulai memijit bagian itu, Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada Yunho dan memejamkan matanya. Rasanya seperti disurga.
"Sudah lebih enak?" tanya Yunho setelah beberapa menit mendengar desahan Jaejoong.
"Ya, lebih baik." Jawab Jaejoong.
Yunho tidak berhenti memijat punggungnya, dan Jaejoong-pun tak ingin ia berhenti. "Kapan kau bertemu Sung Ahn?" tanya Yunho. Dagunya ditopangkan pada kepala Jaejoong. Ia menghirup aroma Jaejoong yang manis.
"Aku bertemu di taman. Baik paman maupun bibimu ada disana. Sungguh pengalaman yang mengerikan yang takkan kulupakan."
Yunho terkekeh. "Sung Ahn memang kelihatan seperti orang barbar." Perlahan ia menarik Jaejoong lebih dekat dengan cara menekan punggung namja itu. Jaejoong tidak menolak. "Pamanku badannya besar berotot. Kurasa dia memang terkesan agak menakutkan."
"Istrinya juga." Potong Jaejoong sambil tersenyum. "Aku tidak bisa membedakan keduanya."
Yunho mencubit pinggang jaejoong karena komentarnya. "Sung Ahn berkumis."
"Istrinya juga."
Yunho kembali mencubit Jaejoong. "Perempuan Jung tidak segemuk keluarga Kim." Balas Yunho.
"Perempuan Kim tidak gemuk. Mereka hanya...sehat." sanggah Jaejoong.
Sudah saatnya membicarakan hal sebenarnya, pikir Jaejoong. Ia menarik napas dalam, kemudian berkata. "Yunho?"
"Ya?"
"Aku tidak akan melepaskan bajuku."
Pernyataan itu menarik perhatian Yunho sepenuhnya. "Tidak?"
Jaejoong bergerak menjauh sedikit agar bisa melihat raut wajah Yunho. Senyum laki-laki itu terkembang perlahan, begitu ringan. Dan itu membuat Jaejoong lebih berani menyampaikan pendapatnya.
"Tidak. Tidak mau." Kata Jaejoong. "Kalau kita memang harus melakukannya, aku tetap memakai bajuku. Terserah Yunho, kau mau terima atau tidak."
Jaejoong menggigit bibir bawahnya sembari menunggu reaksi suaminya. Yunho merasa kesal karena Jaejoong kembali merasa takut. "Astaga, Jae. Aku tidak akan menyakitimu."
"Oh, tentu saja." Bisik Jaejoong tak percaya.
"Kau tahu darimana?"
"Eommaku bilang rasanya selalu sakit." Pipi Jaejoong merah padam.
"Tidak selalu." Sambar Yunho. "Untuk pertama kali mungkin memang terasa agak...tidak nyaman."
"Kata-katamu sendiri bertentangan." Seru Jaejoong.
"Kau tidak harus bersikap seakan-akan..."
"Aku juga tidak akan terlalu menyukainya. Sebaiknya sekalian saja aku mengetahuinya sekarang. Berapa lama biasanya sakitnya? Dalam hitungan menit atau jam?" tanya Jaejoong. "Aku akan mempersiapkan diri."
Kini Yunho tak lagi memijit punggung Jaejoong, tapi mencengkramnya keras. Yunho nampak sedikit kaget mendengar pertanyaannya, dan Jaejoong-pun memanfaatkannya.
"Aku hanya punya satu permintaan kecil. Kumohon, bisakah kau menunggu sampai nanti malam untuk melakukannya? Karena kau sudah sangat bertekad, bisakah setidaknya memberikanku waktu beberapa jam untuk bersiap menghadapi takdirku?"
Menghadapi takdir? Ingin rasanya Yunho mencekik namja itu. Jaejoong bersikap seolah ia hendak menjalani eksekusi.
"Baiklah, kita akan menunggu sampai nanti malam, tapi hanya sampai itu yang bersedia kuberikan padamu Jae."
Jaejoong berjinjit dan menciumnya. Bibirnya menyapu bibir suaminya, tapi hanya sekejap saja, dan ketika ia kembali mundur ia sepertinya puas dengan keberaniannya.
"Itu tadi apa maksudnya?"
"Ciuman."
"Bukan, Jae." Gerutu Yunho. "Ciuman itu seperti ini."
Yunho menarik tubuh namja itu kedadanya, menengadahkan wajah Jaejoong dan mendaratkan bibirnya ke bibir Jaejoong. Yunho sama sekali tidak melakukannya dengan kelembutan, tapi Jaejoong tidak keberatan. Jaejoong seperti meleleh, menempel di tubuh lelaki itu, pasrah sepenuhnya. Kekuatannya, keintimannya, membuat lutut Jaejoong lemas. Ciuman itu berubah menjadi sebuah kepemilikan yang nyata. Ia berpegangan pada suaminya dan merintih lirih penuh kenikmatan saat lidah Yunho bermain-main dalam mulutnya. Semuanya terasa begitu erotis, menggairahkan. Yunho tak berusaha lagi menakhlukan jaejoong ketika ia menyadari ternyata namja itu sama sekali tidak melawan. Jaejoong justru sangat responsif.
Yunho menarik tubuhnya, mendudukkan Jaejoong ditempat tidur dan berbalik untuk keluar kabin. Ia harus memindahkan peti baju dan kursi sebelum sampai kepintu.
Ketika Yunho sudah berhasil membuka pintu. Jaejoong juga sudah berhasil menenangkan diri. "Lain kali Yunho, kau tidak perlu kekamar kita lewat cerobong asap. Aku berjanji tidak akan mengunci pintu lagi." Yunho menatapnya tak percaya.
"Masuk lewat apa?" tanya Yunho, merasa pasti sudah salah dengar.
"Cerobong asap." Jelas Jaejoong. "Dan kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah 'sesuatu' yang sangat kau inginkan itu akan memakan waktu berapa menit atau jam?"
Karena pertanyaan itu, Yunho tak lagi tertarik untuk menjelaskan bahwa pintu sekat itu bukan cerobong asap. "Bagaimana aku tahu akan perlu berapa lama?" gumam Yunho.
"Kau belum pernah melakukannya?" Yunho memejamkan matanya. Percakapan ini mulai tak terkendali."
"Jadi, sudah atau belum?"
"Belum." Bentaknya.
Yunho akan menutup pintu keluar, ketika ia berbalik dan tersenyum pada Jaejoong.
"Jaejoong?"
"Ya?"
"Kau tidak akan membencinya." Pintu itu tertutup setelah janji itu terucap.
:::::::
Sepanjang hari itu Jaejoong tidak melihat Yunho. Jaejoong menyibukkan diri dengan menata kabin dan memilih barang bawaannya. Karena ia tidak punya pelayan, ia menata tempat tidur sendiri, mengelap prabotan, dan bahkan meminjam sapu untuk menyapu lantai. Ia teringat payung yang ditinggalknannya di geladak, tapi ketika ia hendak mengambilnya, dia tak bisa menemukan payung itu. Selang beberapa saat, Siwon mengunjunginya dan memberitahukan bahwa bibi Heechul ingin bertemu dengannya.
Jaejoong tersenyum pada bibinya seraya bergegas menuju tepi ranjang dan mencium bibinya. Heechul bersandar pada tumpukan bantal empuk yang tinggi.
"Apa kau sudah merasa lebih baik hari ini?"
"Ya sayang." Jawab Heechul. "Dan kau, bagaimana kabarmu?"
"Baik, terima kasih."
Heechul menggeleng. "Menurutku, kau tidak kelihatan baik-baik saja. Kau duduk diujung ranjang, seperti siap lari begitu ada sesuatu. Apa Yunho yang membuatmu cemas?"
Perlahan-lahan Jaejoong mengangguk. "Aku juga mencemaskan keadaanmu. Tapi setelah melihatmu, aku tahu kau akan baik-baik saja."
"Jangan mengubah topik pembicaraan. Aku ingin bicara soal Yunho."
"Aku tidak."
"Tetap saja kita akan membicarakannya. Bagaimana hubunganmu dengan suamimu? Baik?"
Jaejoong mengangkat bahu. "Sebaik yang bisa diperkirakan, mengingat sifatnya."
Heechul tersenyum. "Apa dia sudah menciummu?"
"Bibi, ku tidak boleh bertanya seperti itu padaku."
"Jawab saja, sudah atau belum?"
"Sudah."
"Bibi...dia ingin tidur denganku." Kata Jaejoong tiba-tiba. Heechul tidak tampak kaget mendengarnya.
"Tentu, itu memang kewajibanmu. Kau takut Jaejae?"
"Sedikit." Jawab Jaejoong. "Aku tahu apa kewajibanku, tapi aku belum begitu mengenalnya."
"Sebenarnya apa yang kau khawatirkan?" Jaejoong kembali mengangkat bahu. "Apa menurutmu dia akan menyakitimu?"
Jaejoong menggeleng. "Dia bilang kalau dia tidak ingin aku takut padanya."
"Lalu? Sudah kuduga dia tidak mau menunggu Jae. Kau istrinya, dan aku bisa melihat dari caranya memandangmu malam pertama kalian bertemu. Dia menginginkanmu."
Jaejoong merasa pipinya memerah. "Bagaimana kalau aku mengecewakannya?"
"Kurasa tidak, dia akan memastikan kau tidak mengecewakannya."
"Kami harus punya anak jika Yunho ingin dapat harta yang diberikan raja. Kau tahu tidak, dia mengira aku melarikan diri darinya."
"Kurasa orang tuamu telah menipumu lagi. Aku tidak pernah berhenti menyurati eomamu. Aku bisa terima jika suratku hilang di tengah jalan, tapi tentu saja tidak keenamnya sekaligus"
"Eomma tidak akan mau berbohong seperti itu."
"Tentu saja mau, dia takut pada suaminya sejak dulu. Jika Kang In menyuruh eommamu berbohong maka dia akan patuh. Sudah, lupakan saja orang tuamu yang tidak beres itu. Aku ingin bertanya padamu"
"Apa?"
"Apa kau ingin menikah dengan Yunho?"
"Tidak penting apa yang aku inginkan"
"Ingin atau tidak?"
"Aku tidak pernah terpikir untuk bersama orang lain." Jawab Jaejoong ragu-ragu. "Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sesungguhnya. Tapi yang jelas, aku tidak suka membayangkan ada yeoja ata namja lain yang memilikinya. Oh, semua ini membuatku bingung."
"Ya, cinta memang selalu membingungkan."
"Aku tidak bicara tentang cinta, hanya sudah bertahun-tahun aku dilatih untuk menganggap Yunho sebagai suamiku."
Heechul mendengus geli. "Kau dilatih untuk membencinya. Mereka pikir mereka sudah membesarkan seorang yang persis seperti nunamu, Ahra. Tapi mereka tidak bisa bukan? Kau sama sekali tidak membenci Yunho."
"Tidak, aku tidak membenci siapapun."
"Selama ini kau telah melindunginya di dalam hatimu. Sama seperti kau melindungi eommamu kapanpun ada kesempatan. Kau mendengarkan kebohongan mereka tentang Yunho, lalu membuang semua cerita itu."
"Mereka pikir aku benci padanya." Jaejoong mengaku. "Aku berpura-pura sependapat dengan semua yang dikatakan keluargaku tentangnya, agar mereka berhenti menggangguku."
Percakapan mereka seketika terhenti ketika Siwon memasuki kabin. "Sudah saatnya beristirahat."
Jaejoong mencium Heechul dan kembali ke kabinnya, di dalam sana sudah siap air mandinya yang disediakan oleh anak buah Yunho. Ia berlama-lama berendam sampai air hangat di dalamnya dingin, kemudian berpakaian dengan jubah tidur putihnya. Jaejoong sedang duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya ketika Yunho masuk.
Dua laki-laki yang berusia lebih muda mengikutinya, mereka mengangguk pada Jaejoong kemudian mengangkat bak mandi dan menggotongnya keluar.
Yunho menutup pintu dan menguncinya.
Yunho tidak mengucapkan sepatah katapun padanya. Tidak harus. Tekad Yunho sudah bulat. Tidak akan ada lagi pertolongan, takkan ada lagi penundaan.
Jaejoong mulai gemetar.
Rupanya Yunho juga sudah mandi, pikir Jaejoong. Rambut Yunho masih basah, ia juga tidak memakai kemeja. Jaejoong menatap Yunho sambil melanjutkan menyisir rambutnya. Berpikir keras tentang apa yang bisa dibicarakan demi mengurangi ketegangan.
Yunho balas menatap Jaejoong sambil menarik kursi yang dirapatkan di meja, duduk dan pelan-pelan melepas sepatu botnya, kemudian ia berdiri masih menghadap Jaejoong, dan mulai membuka kancing celananya.
Mata Jaejoong seketika terpejam.
Laki-laki itu tersenyum melihat Jaejoong, ia tahu Jaejoong malu, tapi itu tidak menghalanginya. Yunho melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan melemparnya ke kursi.
"Jae?"
Jaejoong tidak membuka matanya ketika menjawab. "Ya, Yunho?"
"Lepaskan pakaianmu."
Yunho menyuruh dengan suara lembut, penuh rasa sayang. Yunho sedang mencoba berusaha menyingkirkan rasa takut namja itu.
"Kita sudah membicarakan hal ini, Yunho. Aku tidak akan melepaskan bajuku."
"Baiklah." Yunho mengiyakan sambil mendesah.
Setelah menaruh sisirnya, ia bertekad akan pura-pura menganggap ketelanjangan Yunho tidak mengganggunya. Aku ini istrinya, Jaejoong mengingatkan dirinya sendiri, dan aku tidak boleh bersikap seperti anak kecil yang polos. Tapi masalahnya, Jaejoong memang polos. Ia belum pernah melihat orang lain telanjang didepannya. Jaejoong tegang sekali.
Aku seorang namja dewasa sekarang, bukan anak-anak, katanya pada diri sendiri. Sama sekali tidak ada alasan untuk malu. Kemudian Jaejoong agak lebih memperhatikan suaminya dan semua pikiran tentang soal bersikap sebagai namja dewasa yang berpengalaman lenyap seketika. Yunho sedang menutupi pintu dilangit-langit. Dari tempat Jaejoong duduk posisi Yunho setengah berbalik, tapi Jaejoong masih bisa melihat cukup banyak tubuh bagian lelaki itu yang membuatnya seakan lupa bernapas.
Sekujur tubuh Yunho terbuat dari otot dan juga berwarna coklat, tiba-tiba Jaejoong berpikir, bagaimana bisa bagian pantatnya-pun hampir segelap bagian tubuh lainnya. Bagaimana ia bisa membuat bagian yang tertutup seperti itupun berwarna coklat?
Ia lalu mengamati Yunho menyalakan lilin, cahaya lilin yang lembut membuat kulit Yunho seperti bercahaya. Ia bersyukur selama itu Yunho memunggunginya. Apakah suaminya sengaja memberikan kesempatan padanya untuk membiasakan diri melihat tubuhnya yang besar? Jika memang begitu, tidak berhasil. Yunho bahkan bisa menyamar jadi pohon karena badan besarnya.
Yunho berbalik kepada mempelainya dan ingin merangkul Jaejoong, namun istrinya berlari ke tempat tidur. Yunho menyusulnya dan mencengkram bahunya, perlahan–lahan memaksa Jaejoong memutar tubuh menghadapnya.
"Apakah ketelanjanganku membuatmu tergangu?" Yunho menanyakan sesuatu yang sudah jelas.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" kedua tangan Yunho bergerak keleher Jaejoong. Ia bisa merasakan denyut nadi Jaejoong yang begitu kencang di bawah ibu jarinya.
"Kau suka kalau aku menciummu kan Jae?" namja cantik itu nampak kaget dengan pertanyaan itu.
"Suka?" tanya Yunho lagi ketika Jaejoong hanya menatapnya.
"Ya." Akhirnya Jaejoong mengakui. "Aku senang kalau kau menciumku." Yunho tampak bangga. "Tapi aku tidak yakin akan menyukai hal yang satunya lagi."
Yunho menunduk dan mengecup keningnya, lalu batang hidungnya. Mulut Yunho hanya menyentuh sesaat bibir Jaejoong. "Tapi aku yakin kalau aku akan menyukai hal satunya." Kata Yunho pada Jaejoong dengan suara husky-nya.
Yunho kembali mencium bibir Jaejoong, ia mendesah di bibir Jaejoong dan perlahan-lahan memperkuat pegangan di leher namja itu. Saat kulitnya terasa seperti tersengat, Jaejoong membuka mulut untuk meminta Yunho melepaskannya, tapi permintaan itu tenggelam dalam benaknya ketika lidah Yunho menyelinap ke dalam mulutnya.
Tanggapan Jaejoong positif, kebekuan dalam dirinya mulai mencair. Yunho melonggarkan pegangannya begitu istrinya mulai membuka mulut menyambutnya. Ibu jari Yunho membuat gerakan memutar di leher samping Jaejoong, ia sengaja berusaha membuat Jaejoong tehanyut. Desahan nikmat Yunho bercampur dengan geram Yunho menahan hasrat. Mulut Yunho melahap rakus bibir Jaejoong berulang kali sementara lidahnya berusaha membangkitkan gairah di dalam diri namja itu.
Yunho telah berhasil menaklukan mempelainya dan tiba-tiba menjadi tidak sabaran. Jaejong mengerang pelan ketika suaminya menarik tangan yang merangkul lehernya, Yunho terus menghalangi lengan Jaejoong yang hendak memeluknya.
"Nah, sekarang kau bisa memelukku lagi." Bisik Yunho saat mengakhiri ciumannya. Senyumnya penuh kelembutan. Ekspresi kaget keget Jaejoong tak menyembunyikan apa pun dari Yunho, nafsu dan kebingungan tampak jelas di wajah mempelainya.
"Jangan takut." Bisik Yunho dengan suara dalam dan serak. Ia mengusap pipi Jaejoong dengan punggung jarinya, kembali tersenyum melihat Jaejoong dengan refleks menengadah ingin merasakan usapan Yunho.
"Aku berusaha untuk tidak takut." Jaejoong balas berbisik. "Kekhawatiranku berkurang karena kau peduli pada perasaanku."
"Mengapa kau berkesimpulan seperti itu?"
"Ketika kau setuju kalau aku boleh tetap memakai pakaianku."
Desahan Yunho terdengar panjang, ia memutuskan tidak ingin mengaku jika ia barus saja melepas semua pakain Jaejoong. Yunho merasa namja itu akan mengetahuinya sendiri."
"Aku bukan orang yang memiliki kesabaran tinggi Jae. Apalagi ketika aku menginginkan sesuatu sebesar aku menginginkanmu."
Yunho memeluk pinggang Jaejoong dan menariknya merapat. Kulit menyentuh kulit. Mata Jaejoong terbelalak, tapi sebelum ia sempat berpikir apakah ia akan menyukai sensasi itu, mulut Yunho sudah menciumnya kembali.
Seketika Jaejoong seperti tak mampu untuk berpikir lagi. Sensasi yang ditimbulkan oleh ciuman Yunho begitu aneh, begitu menyenangkan, begitu kuat. Ia bahkan tak lagi merasa malu. Jaejoong tahu Yunho telah melepaskan pakaiannya, sengaja memancing Yunho ketika mengingatkan janjinya untuk membiarkan ia tetap mengenakan pakaian, ia ingin Yunho tidak terburu-buru untuk memberikan waktu padanya membiasakan diri dengan tubuh, kehangatan dan sentuhan Yunho.
Jaejoong sama sekali tidak menyadari bagaimana mereka kini sudah terlentang di tempat tidur. Yunho melepaskan ciumannya saat mengangkat Jaejoong dan membaringkannya di tengah ranjang. Ia tak memberikan kesempatan pada Jaejoong untuk menutupi ketelanjangannya, dan langsung menindih, menutupi mempelainya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tubuhnya yang hangat.
Namun semuanya terasa terlalu cepat, Jaejoong mulai terasa terperangkap dan sepenuhnya berada dalam kekuasaan lelaki itu. Ia tak ingin merasa takut dan mengecewakan Yunho. Lutut Yunho mulai mendorong kaki Jaejong, berusaha membuatnya mengangkang, tapi Jaejoong tak membiarkannya dan mulai memberontak, ia juga mulai memukul-mukul bahu Yunho. Yunho berhenti berusaha, ia menopang tubuh dengan kedua siku, sedikit menjauh dari Jaejoong, kemudian mulai menciumi sisi leher istrinya. Napas Yunho terasa hangat, manis, menggelitik telinganya hingga membuat tubuhnya bergetar. Yunho membisikkan mempelainya betapa ia begitu menginginkannya, dan merasa berhasil membujuk Jaejoong untuk menuruti kemauannya, tapi ternyata salah. Begitu Yunho mulai berusaha mendorong paha Jaejoong kembali, namja cantik itu lagi-lagi tak mau bergerak. Yunho mengertakan gigi frustasi.
Raut wajah Yunho membuat Jaejoong khawatir. Yunho seperti ingin membentaknya. Jaejoong berapas dalam kemudian memiringkan tubuh menghadap suaminya.
"Yunho?"
Yunho tak menjawab. Matanya terpejam, rahangnya terkatup rapat.
"Kau bilang kau orang yang sabar."
"Kadang."
"Kau marah padaku bukan?"
"Tidak."
Jaejoong tak percaya. "Jangan memberengut begitu." Bisiknya. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh dada Yunho. Reaksi Yunho seakan-akan sentuhan itu bisa membuatnya terbakar. "Apa kau sudah tidak ingin melakukannya? Apa kau sudah tidak lagi menginginkanku?"
Tidak menginginkan Jaejoong? Ingin rasanya Yunho meraih tangan namja cantik itu dan memaksanya merasakan betapa ia sangat menginginkannya.
"Jae, beri aku waktu sebentar." Kata Yunho dengan suara tercekat. "Aku takut kalau..."ia tak bisa melanjutkan penjelasannya, tidak mengatakan pada Jaejoong bahwa ia takut akan menyakiti jika ia menyentuh namja itu lagi. Pengakuan itu akan semakin membuat Jaejoong takut, jadi ia memilih diam.
"Kau tidak perlu takut." Bisik Jaejoong.
Yunho tak mempercayai pendengarannya. Ia membuka mata, menatap mempelainya. Mustahil Jaejoong benar-benar merasa ia...tapi kelembutan di mata Jaejoong menyiratkan bahwa Jaejoong yakin ia ketakutan.
"Astaga Jae, aku tidak takut."
Jari-jari Jaejoong mengelus dada Yunho. Lelaki itu mencengkram tangannya ketika sudah mencapai perutnya yang berotot. "Hentikan." Perintah Yunho.
"jaejoong tersenyum. "Yunho, kau suka menciumku bukan?"
Yunho pernah menanyakan hal yang sama tak sampai lima belas menit lalu, ketika ia berusaha menyingkirkan rasa takut dari diri namja itu. Sejujurnya ia akan tertawa andai saja tidak sedang menahan rasa nyeri di bagian organnya yang paling sensitif. Namja ini bersikap seolah-olah justru Yunho yang akan dimasuki. Yunho baru saja hendak meluruskan apa yang dipikirkan Jaejoong ketikan namja cantik itu beringsut mendekat. Ia sadar mempelainya tak lagi takut padanya.
"Ya Jae, aku suka menciummu."
"Kalau begitu cium aku lagi."
"Jung Jaejoong...yang ada di kepalaku bukan hanya menciummu. Aku ingin menyentuhmu. Sekujur tubuhmu."
Yunho menanti reaksi Jaejoong, namja itu pasti akan takut lagi. Oh Tuhan, ia berharap seandainya ia punya kesabaran untuk semua ini. Sarafnya seperti hendak putus, dan yang terpikir olehnya hanyalah bercinta dengan Jaejoong sampai puas.
Yunho memejamkan mata lagi dan menggeram pelan, ia merasakan Jaejoong meraih tangannya. Yunho membuka mata tepat ketika Jaejoong meletakkan tangan Yunho di atas dadanya yang cukup berisi meski ia adalah seorang namja.
Semenit lamanya Yunho tak bergerak. Begitu juga Jaejoong. Mereka hanya saling menatap. Tak lama kemudian namja cantik itu menjadi tak sabar, perlahan-lahan Yunho mengusap puncak dadanya. Perasaan Jaejoong tergelitik, pelan-pelan mendekat dan mencium Yunho.
"Aku benci merasa terperangkap." Bisik Jaejoong diantara kecupan-kecupan lembutnya. "Tapi sekarang aku sudah tidak merasa seperti itu lagi Yunho. Jangan berhenti suamiku. Ini pengalaman baru untukku. Sungguh."
Yunho dengan lembut mengusap pipi Jaejoong. "Aku takkan berhenti." Bisik Yunho. Ada sedikit tawa dalam suaranya ketika menambahkan. "Ini juga pengalaman baru untukku. Sungguh."
Jaejoong mendesah dan mencium Yunho tepat seperti yang diinginkannya. Ketika lidahnya menyelinap masuk dan bertemu dengan lidah Yunho, seketika kendali Yunho lepas. Yunho kembali menjadi si penyerang, memperdalam ciumannya dengan semakin buas lagi.
Jaejoong merasa tersambar petir ketika akhirnya Yunho melumat puncak dadanya. Tubuhnya melengkung keatas, menuntut lebih.
"Yunho, ayolah." Erangnya. Sama sekali tidak tahu apa yang dimintanya. Ia hanya tahu rasa panas yang luar biasa itu membuatnya hilang akal.
Yunho bertumpu pada pada sebelah sikunya untuk memperhatikan ekpresi wajah mempelainya. Jaejoong berusaha menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Yunho.
"Aku senang dengan reaksimu. Apa kau senang kalau aku menyentuhmu begini?" Yunho sudah tahu jawabannya. Ia bisa merasakan betapa Jaejoong sudah siap. Bergairah.
Kedua tangan Jaejoong hanya terkepal di sisi tubuhnya sampai detik ketika jemari Yunho masuk perlahan. Saat itu juga pertahanan Jaejoong runtuh. Tangannya bergerak mengusap bahu dan punggung Yunho.
Kuku jari Jaejoong menggores punggung Yunho. "Yunho." Bisik Jaejoong. "Jangan begitu. Sakit. Oh Tuhan, jangan berhenti." Yunho nyaris tak memahami apa yang dikatakan Jaejoong, tubuhnya bergetar dipacu nafsu.
Yunho mulai bergerak untuk menyatukan tubuhnya, tetapi berhenti sejenak. Ia mengangkat kepalanya menatap Jaejoong.
Lingkarkan kakimu di badanku."perintah Yunho, suaranya parau. Jaejoong melakukan apa yang dimintanya. Yunho menggeram pelan.
"Lihat aku Jae." Jaejoong membuka matanya dan melihat Yunho. "Kau akan menjadi milikku. Sekarang dan selamanya."
Mata namaja cantik itu diselimuti gairah yang membara. Ia mengulurkan tangan dan menangkup wajah Yunho. "Aku selalu menjadi milikmu Yunho. Selalu."
Yunho kembali melumat bibir Jaejoong. Mendorong dalam-dalam dalam satu kali gerakan cepat, ingin menuntaskan rasa sakit yang pasti akan dirasakan istrinya.
"Ssh, sayang." Yunho menenangkan saat Jaejoong memekik. Kini ia sudah sepenuhnya berada dalam tubuh namja itu. Kehangatan Jaejoong membungkusnya, menekannya. "Oh, nikmat sekali." Katanya sambil mengerang.
"Tidak, tidak enak." Pekik Jaejoong. Ia berusaha berganti posisi untuk meredakan rasa nyeri yang berdenyut-denyut, tapi Yunho memegangi pinggulnya, tal membiarkannya bergerak.
"Sebentar lagi takkan sakit." Kata Yunho. Napasnya tersengal-sengal. Yunho seperti kehabisan napas. Ia membenamkan wajahnya di lekuk leher Jaejoong, menggigit kecil kulit Jaejoong, sekaligus menggelitiknya dengan lidah. Perlakuan yang nikmat itu membuat Jaejoong melupakan sebagian rasa sakitnya.
Tangan Jaejoong mulai mengusap rambut Yunho. Lelaki itu nyaris tak sanggup lagi. Nyeri yang dirasakan akibat harus menahan diri menuntut untuk diredakan.
Jaejoong seperti tak bisa berhenti menyentuh Yunho. "Yunho cium aku."
"Rasa sakitnya sudah hilang sekarang?"
"Hampir."
Dengan pelan Yunho kembali mendorong dan terus melumat bibir jaejoong. Kemudian Jaejoong juga mulai bergerak. Pinggulnya mendorong naik menyambut Yunho. Tak lama sampai namja itu mulai menuntut. Yunho menganggapinya dengan mendorong dengan lebih keras. Jaejoong memeluk Yunho erat, dan dengan kekuatan yang sama menggerakkan tubuhnya.
Keduanya berpacu mencari kepuasan. Jaejoong tak bisa menahan diri, ia terlebih dahulu mencapai puncak, tak sanggup menahan teriakannya dan menyerah sepenuhnya sementara sekujur tubuhnya dikuasai kepuasan yang membara.
Yunho juga merasakan dirinya juga akan mengalami hal yang serupa. Dorongnnya semakin kuat dan kasar. Dengan beberapa dorongan keras ia mengalami puncaknya. Menggeram saat menumpahkan benihnya di dalam tubuh Jaejoong. Tubuh Yunho ambruk di atas Jaejoong, menindihnya dengan berat tubuhnya untuk meredam getar tubuh namja cantik di bawahnya.
Lama mereka berdua tak bergerak. Yunho terlalu puas dan jaejoong terlalu lelah.
Jaejoong merasakan sesuatu yang lembab di dekat telinganya, mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, dan baru tersadar bahwa ia menangis. Astaga rupanya ia benar-benar tak bisa mnguasai diri. Kenapa tidak ada yang pernah memberitahunya kalau bercinta itu sangat menyenangkan?
Jantung suaminya berdetak seirama dengannya. Jaejoong mendesah bahagia.
Sekarang... ia adalah istri Yunho.
"Kau tidak bisa memanggilku mempelai lagi, Suamiku." Bisik Jaejoong di leher Yunho.
