Title : The Gift
Story by : Julie Garwood
Remake by : A.J Kim
Cast : DBSK/JYJ, dll
Genre : Historical Romance, Family.
PREVIEW
Jaejoong merasakan sesuatu yang lembab di dekat telinganya, mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, dan baru tersadar bahwa ia menangis. Astaga rupanya ia benar-benar tak bisa mnguasai diri. Kenapa tidak ada yang pernah memberitahunya kalau bercinta itu sangat menyenangkan?
Jantung suaminya berdetak seirama dengannya. Jaejoong mendesah bahagia.
Sekarang... ia adalah istri Yunho.
"Kau tidak bisa memanggilku mempelai lagi, Suamiku." Bisik Jaejoong di leher Yunho.
Jaejoong terlelap sambil memeluk erat suaminya. Esok akan menjadi hari pertama ia resmi membuka lembaran baru sebagai istri Yunho. Pasti rasanya seperti di surga pikir Jaejoong.
Hari ini Jaejoong merasa seperti di neraka. Yunho sudah meninggalkan kabin begitu ia terbangun. Suaminya sudah membukakan tutup cerobong asap untuknya, dan kamar merekapun dihujani sinar matahari pagi dan udara segar. Hari ini jauh lebih panas daripada yang kemarin. Setelah mandi, Jaejoong memilih mengenakan kemeja birunya lalu pergi mencari suaminya. Ia ingin menanyakan dimana mereka menyimpan seprai bersih sehingga ia bisa menggantinya. Ia juga ingin Yunho menciumnya lagi.
Jaejoong baru saja sampai ke tangga teratas menuju geladak ketika ia mendengar teriakan seseorang. Ia bergegas ingin melihat ada keributan apa gerangan, dan hampir saja tersandung seorang laki-laki yang tergeletak jatuh di lantai geladak. Kelasi yang agak tua itu rupanya terjatuh keras. Payung yang kemarin tak berhasil ditemukannya itu tersangkut di antara kedua kakinya. Changmin berlutut dengan sebelah kaki dia atas kepala kelasi yang terkapar. Ditamparnya pipi orang itu dua kali untuk menyadarkannya.
"Ada apa ini?" suara Yunho mengegelegar terdengar tepat dibelakang Jaejoong.
"Sepertinya ia tersandung sesuatu." Ia tidak berbalik menjawab pertanyaan suaminya.
"Ini bukan sesuatu tuan." Kata salah seorang awak kapal. Ia menunjuk ke dek. "Payungmu yang tersangkut di kakinya."
Jaejoong terpaksa bertanggung jawab penuh. "Ya, itu payungku." Katanya. "Cederanya adalah kesalahanku. Apa dia baik-baik saja Changmin? Aku benar-benar tidak sengaja membuatnya tertimpa kemalangan seperti ini. Aku..."
Changmin merasa kasihan pada Jaejoong. "Tidak perlu diteruskan seperti itu Jaejoong-ssi. Mereka tahu ini sumua hanya kecelakaan saja."
Jaejoong mendongak, mengedarkan pandangan pada kerumunan awak kapal. Kebanyakan mengangguk dan tersenyum padanya. "Gwenchana tuan, sebentar lagi Daesung akan siuman."
Seorang awak kapal berjenggot lebat mengangguk. "Jangan khawatir." Selanya. "Tidak separah itu. Jatuhnya terhalang oleh bagian belakang kepalanya."
"Minho?" seru Changmin. "Bawakan seember air. Pasti bisa menyadarkannya."
"Apa Daesung akan bisa memasak makan malam kita hari ini?" kali ini laki-laki yang seingat Jaejoong bernama Yesung yang bertanya. Ia mengernyit menatap Jaejoong.
Jaejoong balas mengernyit. Jelas sekali orang itu menyalahkannya. "Apa perutmu lebih penting daripada kesehatan temanmu?" tanya Jaejoong. Ia tidak memberikan kesempatan pada awak kapal itu untuk menjawab, langsung berlutut disamping Daesung dan pelan-pelan menepuk bahunya. Tidak ada reaksi. Mulutnya menganga.
"Ya Tuhan, Changmin, apa aku sudah membunuh orang ini?" bisiknya.
"Tidak, kau tidak membunuhnya." Kata Changmin. "Kau lihat sendiri dia masih bernapas, Jae. Dia hanya akan merasa sakit kepala berat begitu siuman nanti."
Yunho menarik Jaejoong berdiri dan menariknya menjauhi kerumunan. Tapi istrinya tidak mau pergi. "Aku bertanggung jawab atas kejadian ini." Katanya.
Pandangan Jaejoong masih pada Daesung, tapi ia masih bisa melihat anggukan dari orang-orang disekelilingnya, ia tersipu menyadari begitu mudah mereka setuju dengan pendapatnya. "Aku tidak sengaja." Pekik Jaejoong.
Tidak ada yang menentang. Dan itu membuat Jaejoong lebih tenang. "Aku akan merawat Daesung. Kalau dia sudah siuman aku harus minta maaf padanya, karena lupa menyimpan payungku."
"Sepertinya dia tidak akan ingin mendengar." Tebak Yunho.
"Ne." Minhyuk mengiyakan. "Daesung si Bengis bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan kecil. Dia suka mendendam, bukan begitu Jung shin?"
Seorang awak kapal bertubuh tinggi dengan mata hitam mengangguk sependapat. "Ini lebih dari sekedar kecil Minhyuk." Gumamnya. "Daesung pasti akan mengamuk nanti."
"Apa Daesung satu-satunya juru masak?" tanya Jaejoong.
"Iya." Kata Yunho.
Jaejoong akhirnya berbalik dan menatap suaminya, rona merah di pipinya begitu kentara, dan ia sungguh tidak tahu apakah panas yang menjalari pipinya itu karena ini pertemuan pertama mereka setelah keintiman mereka semalam atau karena ia menjadi penyebab keributan ini.
"Kenapa kalian memanggilnya Daesung si Bengis?" tanyanya. "Apa karena ia mudah marah?"
Yunho hampir tak memandangnya ketika menjawab. "Mereka tidak suka masakannya." Kata Yunho. Ia mengisyaratkan pada salah satu anak buahnya untuk mengguyur muka Daesung dengan air dalam ember. Juru masak itu seketika mulai terbatuk-batuk dan mengerang.
Yunho mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menjauh.
Jaejoong tak percaya pria itu pergi tanpa menghiraukannya. Ia merasa dipermalukan. Jaejoong kembali memandang Daesung dan berdiri sambil memilin-milin jarinya, menunggu kesempatan untuk minta maaf. Ia diam-diam bersumpah akan mencari Yunho dan memberikannya pelajaran soal etiket yang sepantasnya.
Begitu Daesung duduk tegak, Jaejoong langsung berlutut disampingnya. "Kumohon maafkan aku tuan, karena membuatmu cedera. Payungkulah yang membuatmu tersandung, meski seandainya kau memperhatikan jalanmu, aku yakin kau pasti akan melihatnya. Tapi walaupun begitu aku minta maaf."
Daesung mengusap-usap belakang kepalanya sambil melotot dengan mata sipitnya pada namja cantik yang berusaha melemparkan sebagian kesalahan karena kejadian yang nyaris membuatnya mati. Kekhawatiran dalam suara Jaejoong membuat Daesung menahan komentar kesalnya. Itu, dan fakta bahwa Jaejoong adalah istri kaptennya.
"Benturannya tidak terlalu keras." Gumam Daesung. "Kau tidak melakukannya dengan sengaja kan?"
"Tidak, tentu saja aku tidak sengaja. Apa kau cukup kuat untuk berdiri? mari kubantu?"
Ekspresi wajah Daesung yang tampak curiga mengatakan kalau ia tidak menginginkan bantuan Jaejoong. Changmin menarik juru masak itu berdiri, tapi begitu dilepaskan, Daesung mulai sempoyongan. Jaaejoong masih berlutut disampingnya. Seketika Jaejoong mengulurkan tangan untuk mengambil payung di antara kaki Daesung sementara seorang awak kapal lainnya mengulurkan tangan menopang temannya. Daesung yang malang tiba-tiba terjebak dalam semacam tarik tambang, karena istri sang kapten mendorong kakinya . ia kembali jatuh terduduk ke lantai.
"Minggir kalian semua." Raung Daesung. Suaranya dipenuhi emosi. "Kalian tidak akan mendapatkan sup mala mini. Kepalaku sakit, dan sekarang bokongku juga nyeri. Brengsek sialan, pokoknya aku mau tidur."
"Jaga bicaramu Daesung." Kata Changmin.
"Ya." Yang lain berseru. "Ada istri kapten disini."
Changmin mengangkat payung Jaejoong dan menyerahkannya padanya. Laki-laki itu berbalik dan hendak pergi, tapi kata-kata Jaejoong begitu mengagetkannya, sehingga ia berbalik lagi.
"Aku akan memasak sup untuk kalian semua."
"Tidak, tidak boleh." Kata Changmin pada Jaejoong. Suaranya yang tegas tidak memberikan peluang untuk menyanggah. "Kau istri kapten, dank au tidak akan melakukan pekerjaan kasar seperti itu."
Tak ingin berdebat dengan Changmin didepan seluruh awak kapal lainnya, Jaejoong menunggu sampai Changmin pergi. Kemudian ia tersenyum pada anak buah kapal yang menatapnya.
"Aku akan membuat sup yang enak untuk semuanya. Daesung? Apakah kau akan merasa lebih baik kalau libur dan beristirahat sehari ini? Setidaknya inilah yang bisa kulakukan untuk menebus keteledoranku."
Daesung berubah ceria. "Kau pernah memasak sup?" tanyanya setengah menyeringai setengah cemberut.
Semua orang memperhatikannya, jadi Jaejoong memutuskan untuk berbohong. Memangnya seberapa sulit membuat sup? "Oh ya ampun, tentu saja. Berkali-kali." Kata Jaejoong menyombong. "Aku sering membantu juru masak kami membuat makanan yang lezat-lezat."
"Kenapa namja cantik kelas atas sepertimu melakukan pekerjaan kasar?" Tanya Yesung.
"Karena sangat…membosankan didesa." Jawab Jaejoong. "Aku jadi bisa mengerjakan sesuatu."
Kelihatannya mereka percaya. "Jika kau cukup kuat untuk mengantarku ke dapurmu Daesung, aku akan segera memasak. Sup yang enak harus dipanaskan beberapa jam." Lanjutnya, berharap dugaannya benar.
Mereka menyusuri lorong demi lorong yang gelap sampai Jaejoong benar-benar kehilangan orientasi arah. Tapi Daesung hapal jalannya, tentu saja. Dan membawa Jaejoong langsung ke surganya.
Juru masak itu menyalakan dua batang lilin, menaruhnya di tempat lilin dari kaca lalu duduk di banku yang merapat ke dinding.
Di tengah ruangan ada sebuah oven raksasa. Oven paling besar yang pernah dilihat Jaejoong. Ketika ia mengatakannya pada Daesung, laki-laki itu menggelengkan kepala.
"Itu bukan oven, tapi kompor kapal. Disamping sana ada lubang terbuka, kau harus berjalan memutar untuk melihatnya. Disitu aku memasak daging. Di sebelah sini kau bisa melihat panci tembaga yang besar sekali. Jumlahnya ada empat dan semuanya dibutuhkan untuk membuat sup daging sapi. Dagingnya ada disana... sebagian sudah rusak. Aku sudah memisahkan sebelum aku ke atas tadi untuk bicara dengan Yesung. Disini pengap, dan aku butuh udara laut yang segar."
Daesung melambaikan tangan ke arah tumpukan daging busuk yang dibiarkannya tergeletak di meja panjang di samping, terpikir untuk mengatakan ia akan membuangnya ke laut begitu ia merasa lebih baik, tapi ia lupa menjelaskannya begitu kepalanya mulai berdenyut hebat lagi.
"Tidak banyak yang harus dikerjakan." Gumam Daesung sambil berdiri susah payah. "Tinggal potong sayurannya dan tambahkan bumbu. Tentunya kau tahu. Kau mau aku tetap disini sampai kau tahu dimana barang-barang dapurku?"
"Tidak." Kata Jaejoong. "Aku bisa sendiri. Kau pergilah dan minta Siwon memeriksa benjolan di kepalamu. Mungkin dia punya obat khusus untuk meredakan sakitnya."
"Dia pasti punya tuan." Katanya. "Dia akan memberiku segelas minuman keras untuk menghilangkan semua memar dan sakitku, atau kuhajar dia nanti."
Begitu Daesung pergi, Jaejoong mulai bekerja. Ia akan membuat sup terenak yang pernah dimakan semua awak kapal Yunho. Ia menambahkan sisa daging yang ia ditemukannya di meja samping, tiap panci ditambah sedikit. Kemudian ia menaburkan sedikit bumbu. Jaejoong menghabiskan sisa paginya dan sebagian siangnya di dapur kapal. Ia merasa agak aneh tidak ada yang mencarinya. Dan pikiran itu membuatnya teringat Yunho.
"Sungguh tidak sopan, dia bahkan menyapa." Gerutunya. Ia menyeka keringat dahinya dengan handuk yang dililitkan pada pergelangan tangannya dan menyibakkan berkas rambut yang basah ke belakang telinganya.
"Siapa yang tidak sopan?"
Suara yang dalam itu berasal dari ambang pintu. Jaejoong kenal betul suara Yunho itu.
Jaejoong berbalik dan memberengut menatap suaminya. "Kau yang tidak sopan karena tidak menyapaku."
"Sedang apa kau disini?"
"Memasak sup. Sedang apa kau disini?"
"Mencarimu."
Di dapur panas, dan Jaejoong yakin itulah alasan mengapa ia tiba-tiba merasa pening. Mustahil karena cara Yunho menatapnya.
"Apa kau sudah pernah memasak sup?"
Jaejoong menghampiri dan berdiri di hadapannya sebelum menjawab. Yunho bersandar di ambang pintu, santai setenang harimau kumbang hendak menerkam.
"Belum." Kata Jaejoong. "Tadi aku tidak tahu caranya. Sekarang sudah, tidak terlalu sulit."
"Jae..."
"Anak-anak itu semua menyalahkanku atas apa yang terjadi pada Daesung. Aku harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kesetiaan mereka. Lagi pula, aku ingin pegawaiku menyukaiku."
"Pegawaimu?"
Jaejoong mengangguk "Karena kau tidak punya rumah dan tidak punya pelayan, tapi kau punya kapal ini, jadi dengan begitu pegawaimu adalah pegawaiku juga. Begitu mereka mencicipi supku, mereka akan menyukaiku lagi."
"Apa pedulimu mereka menyukaimu atau tidak?" tanya Yunho.
Yunho berdiri tegak, menjauh dari dinding dan mendekati Jaejoong. Ah, brengsek, pikirnya. Namja cantik itu seperti magnet menariknya, membuatnya seperti pemabuk yang melihat minuman keras. Semua ini salah Jaejoong, karena ia begitu tampak manis dan lembut.
Wajah Jaejoong merona merah karena panasnya ruangan. Helai-helai rambutnya yang tak bertata basah. Yunho mengulurkan tangan dan dengan lembut menyibakkan seberkan rambut dari pipinya. Sepertinya ia lebih terkejut dengan spontanitasnya dibanding Jaejoong.
"Yunho, semua orang ingin disukai orang lain."
"Aku tidak."
Jaejoong menatap kesal karena Yunho tidak sependapat dengannya. Yunho maju selangkah. Pahanya menyentuh paha Jaejoong.
"Jae?"
"Ya?"
"Apa kau masih sakit setelah semalam?"
Wajah Jaejoong semakin bersemu merah. Ia tak sangguk menatap mata Yunho ketika menjawab, tapi hanya menatap tulang selangkanya.
"Semalam sakit." Bisik Jaejoong.
Yunho mengangkat dagu istrinya dengan ibu jarinya. "Bukan itu yang kutanyakan." Kata Yunho dengan bisikan lembut.
"Bukan?"
"Bukan." Ulang Yunho.
"Lalu apa yang ingin kau tanyakan?"
Suara Jaejoong seperti tersengal. Jaejoong butuh udara segar, pikir Yunho. Tentu ia tak ingin istrinya pingsan lagi dihadapannya.
"Aku ingin tahu apa yang sekarang masih sakit?" kata Yunho.
"Tidak." Jawab Jaejoong. "Sekarang tidak sakit."
Lama saling memandang, Jaejoong merasa Yunho ingin menciumnya, tapi ia tidak tahu pasti.
"Yunho? Kau masih belum menyapaku dengan semestinya."
Jaejoong meletakkan kedua tangan di dada Yunho dan memejamkan mata dan menunggu.
"Apa-apan itu, sapaan yang semestinya?" tanya Yunho. Ia tahu pasti apa yang diinginkan Jaejoong, tapi ia ingin tahu apa yang kemudian akan dilakukan istrinya.
Jaejoong membuka mata dan mengerutkan kening. "Kau seharusnya menciumku."
"Kenapa?" Yunho kembali bertanya, memancing. Namja cantik itu kelihatan jengkel.
"Sudahlah, lakukan saja." Perintah Jaejoong.
Sebelum Yunho sempat mengajukan pertanyaan menyebalkan lainnya, Jaejoong memegang kedua pipi Yunho dan menarik kepalanya turun mendekat. "Oh sudahlah, biar aku saja." Bisik Jaejoong.
Yunho tak melawan, tapi juga tidak mengambil alih inisiatif. Jaejoong mencium lembut bibir suaminya, kemudian menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Yunho. "Ini akan terasa jauh lebih menyenangkan jika kau mau bekerja sama, Yunho. Kau seharusnya membalas ciumanku."
Suara Jaejoong pelan, sensual, selembut tubuh hangatnya yang menempel pada Yunho. Seorang laki laki tentunya tidak sanggup menahan godaan sebesar itu. Yunho menundukkan kepalanya dan perlahan-lahan bibirnya menyapu bibir Jaejoong. Yunho menangkap desahan-desahan namja cantik itu ketika ia membuka mulut Jaejoong dan memperdalam lumatan bibirnya.
Jaejoong bagaikan meleleh di pelukan Yunho. Sekali lagi Yunho nyaris kehilangan kendali karena respon istrinya terhadap sentuhannya. Lidah mereka bergulat di sela-sela ciuman mereka, dan Yunho tanpa sadar menggeram pelan tanda menikmati.
Ketika Yunho akhirnya menghentikan ciumannya, Jaejoong menyandar di dadanya. Yunho segera merangkul Jaejoong dengan erat. Aroma tubuh Jaejoong seperti kayu manis dan mawar.
"Siapa yang mengajarimu berciuman?" bisik Yunho parau. Sebenarnya itu pertanyaan yang tidak logis, pikir Yunho, mengingat kenyataan bahwa istrinya masih perawan ketika mereka pertama kali bercinta. Tapi ia merasa harus tetap bertanya.
"Kau yang mengajariku." Jawab Istrinya.
"Kau belum pernah mencium siapapun selain aku?"
Jaejoong menggeleng, kemarahan Yunho lenyap seketika.
"Kalau kau tidak suka dengan ciumanku..." Jaejoong mulai membela diri.
"Aku suka." Jaejoong berhenti protes.
Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukan, meraih Jaejoong dan menariknya menghampiri lilin. Ditiupnya lilin itu, kemudian berjalan ke koridor.
"Yunho, aku tidak bisa meninggalkan dapur." Kata Jaejoong.
"Kau perlu tidur siang."
"Aku apa? Aku tidak pernah tidur siang."
"Sekarang kau tidur siang."
"Tapi bagaimana dengan supku yang enak itu?"
"Oh, sudahlah Jae! Aku tidak mau kau memasak lagi."
Jaejoong merengut menatap punggung lebar laki-laki itu. Ya ampun, Yunho benar-benar sok kuasa. "Aku sudah menjelaskan kenapa aku mau memasak." Gerutu Jaejoong.
"Kau pikir kau bisa mendapat kesetiaan mereka dengan semangkuk air rendaman?"
Seandainya Yunho memperlambat jalannya sedikit saja, pikir Jaejoong, ia pasti akan menendang betisnya. Tapi ia hanya bisa berteriak. "Bukan air rendaman."
Yunho tak mau berdebat dengan Jaejoong. Ia terus menarik istrinya sampai ke kabin mereka. Jaejoong agak terkejut ketika Yunho ikut masuk.
Yunho menutup pintu dan menguncinya.
"Berbaliklah Jae."
Jaejoong mengernyit padanya karena bersikap seperti diktator, lantas menuruti perintahnya. Kali ini Yunho lebih cepat membuka kancing bajunya dibandingkan kemarin.
"Aku benar-benar tidak ingin tidur siang." Kata Jaejoong lagi.
Yunho tak berhenti mendorong baju Jaejoong sampai jatuh kelantai. Namja cantik itu masih belum menyadari bahwa Yunho bukan ingin memaksanya tidur. Yunho melucuti pakaian Jaejoongsampai ke baju dalamnya. Tapi ketika ia hendak melepaskan pakain itu, Jaejoong menepis tangannya.
Yunho menatapnya lama. Tubuh namja cantik itu sungguh sempurna dimata Yunho. Sepasang dada yang terlihat penuh, pinggangnya yang ramping, serta kakinya yang panjang dan indah.
Sorot mata Yunho yang penuh gairah segera membuat Jaejoong gelisah. Ia menarik-narik tali baju dalamnya, berusaha lebih menutupi dadanya, tapi tak banyak membantu.
Jaejoong berhenti merasa malu ketika Yunho membuka kancing kemejanya. "Apa kau akan ikut tidur siang juga?"
"Aku tidak pernah tidur siang." Yunho mencampakkan kemejanya kesamping, bersandar ke pintu, dan mulai melepas sepatu botnya.
Jaejoong mundur selangkah.
"Kau bukan hanya ingin ganti baju kan?"
Yunho terkekeh, tampan sekali. "Tidak."
"Kau bukan mau..."
Laki-laki itu tidak menatapnya ketika menjawab. "Oh ya, aku mau." Kata Yunho lambat-lambat.
"Tidak."
Yunho langsung bereaksi. Ia berdiri tegak dan berjalan menghampiri Jaejoong. Berkacak pinggang. "Tidak?"
Jaejoong menggeleng.
"Kenapa tidak?"
"Ini siang hari." Celetuk Jaejoong tanpa berpikir.
"Oh sial, Jae. Kau tidak takut lagi kan? Demi Tuhan, sepertinya aku tidak sanggup kalau harus melewati cobaan itu lagi."
Jaejoong marah. "Cobaan? Kau menyebut bercinta denganku sebagai cobaan?"
Yunho tidak akan membiarkan istrinya mengelak dari pertanyaannya. "Kau takut?" tanya Yunho lagi.
Raut wajah suaminya itu menyiratkan seakan takut dengan jawabannya. Jaejoong tiba-tiba sadar, ia punya jalan keluar jika memang ingin. Tapi pikiran itu cepat disingkirkannya. Ia takkan berbohong pada Yunho.
"Semalam aku tidak takut." Kata Jaejoong. Ia bersedekap dan menambahkan. "Kau yang takut."
Komentar itu tidak perlu ditanggapi. "Katamu sekarang sudah tidak sakit lagi." Yunho mengingatkan sembari maju selangkah lagi.
"Sekarang memang tidak pedih lagi." Bisik Jaejoong. "Tapi kita sama-sama tahu bahwa aku akan kesakitan lagi jika kalau kau terus menuruti kemauanmu, Yunho."
Senyum Yunho menyiratkan kegeliannya. "Apakah rasanya tidak tertahankan?"
Sebentuk kehangatan mulai terasa di perut Jaejoong. Yang perlu dilakukan laki-laki ini hanya menatapnya dengan caranya yang khas dan seketika Jaejoong takluk.
"Apa kau akan ingin... bergerak lagi?"
Yunho tidak tertawa. Jaejoong terlihat sangat cemas, dan Yunho tidak ingin namja itu merasa bahwa ia mengejek perasaannya. Tapi ia juga tidak akan berbohong. "Yeah." Kata Yunho malas-malasan sambil mengulurkan tangan. Aku ingin bergerak lagi."
"Kalau begitu kita tidak akan melakukan apa-apa selain tidur siang."
Namja mungil ini benar-benar perlu mengerti siapa suami dan siapa istri, pikir Yunho. Ia memutuskan nanti akan menjelaskan segala tentang kewajiban Jaejoong untuk menurutinya. Sekarang yang ingin dilakukannya hanyalah mencium namja cantik itu. Ia melingkarkan sebelah tangan ke bahu Jaejoong, menariknya ke bawah pintu sekat, dan tidak melepaskannya saat ia meraih ke atas dan menarik pintu kayu hingga menutup.
Kabin menjadi gelap gulita . yunho berhenti sejenak untuke mencium Jaejoong. Ciuman yang panjang, basah, dan bergairah yang memastikan Jaejoong tahu bahwa Yunho akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kemudian Yunho berbalik untuk menyalakan lilin. Tangan Jaejoong bergerak untuk mencegahnya. "Jangan." Bisik Jaejoong.
"Aku ingin melihatmu ketika kau..." Yunho tidak meneruskan penjelasannya ketika merasa tangan namja cantik itu di bagian ikat pinggangnya. Tangannya gemetar, tapi Jaejoong berhasil membuka kancing celananya dalam waktu yang cukup singkat. Jari-jarinya menyentuh perut Yunho yang keras dan berotot. Tarikan napas Yunho menunjukkan ia menyukai apa yang dilakukan Jaejoong. Hal itu membuat Jaejoong semakin berani. Ia menempelkan pipi ke dada Yunho, lalu perlahan-lahan menarik celananya turun.
"Kau ingin melihatku ketika aku apa Yunho?" bisik Jaejoong.
Yunho berusaha keras berkonsentrasi memahami apa yang dikatakan Jaejoong. Jari jari istrinya pelan pelan mulai turun ke selangkangkangannya. Yunho memejamkan mata.
"Ketika kau mencapai kepuasan." Kata Yunho dengan erangan. "Oh Tuhan... Jae, sentuh aku."
Kini sekujur tubuh Yunho menegang. Jaejoong tersenyum sendiri. Ia sama sekali tidak tahu sentuhannya bisa membuat suaminya itu sangat bergairah. Ia mendorong pakaian Yunho sedikit lebih turun lagi. "Aku sedang menyentuhmu Yunho."
Tak sanggup lagi menahan siksaan itu, Yunho menarik tangan Jaejoong dan meletakkannya di mana ia paling mendambakan sentuhan.
Jaejoong ingin mengusapnya, tapi Yunho tak membiarkan. Lenguhannya dalam, serak. "Jangan." Kata Yunho. "Pegang saja, remas, tapi jangan... oh, Tuhan. Jaejoong hentikan."
Suara Yunho seperti kesakitan . jaejoong menarik tangannya. "Apa aku menyakitimu?" bisik Jaeejoong.
Yunho kembali melumat bibirnya. Jaejoong melingkarkan lengan di leher suaminya, dan merangkulanya erat. Ketika Yunho beralih kelehernya dan mulai menghujaminya dengan ciuman ciuman basah di bawah cuping telinganya, Jaejoong kembali berusaha menyentuh bagian sensitif Yunho.
Yunho meraih tangan Jaejoong dan memindahkannya ke pinggang. "Masih terlalu cepat kalau aku kehilangan kendali." Bisik Yunho. "Kau membuatku mustahil untuk menahan diri."
Jaejoong mencium leher bawah Yunho. "Kalau begitu aku tidak akan menyentuhmu diditu Yunho, jika kau berjanji tidak akan banyak bergerak kalau sedang bercinta denganku."
Yunho tertawa. "Kau pasti akan ingin aku bergerak." Katanya.
Yunho kembali menarik Jaejoong ke dadanya. "Kau tahu Jae?" ucap Yunho di antara ciuman ciuman penuh nafu.
"Apa?"
"Aku sudah memutuskan akan membuatmu memohon padaku."
Dan Yunho menepati kata katanya. Begitu keduanya berasa di atas ranjang, Jaejoong memohon padanya untuk segera mengakhiri siksaan itu.
Gairah yang membara dalam diri Jejoong seketika tak terkendali lagi. Yunho memang terpaksa menyakitinya lagi. Namja cantik itu begitu mungil, begitu bergairah, sungguh menyiksa ketika terpaksa memperlambat gerakannya, tapi tetap memuaskan. Ia berusaha menjadi pasangan yang lembut, karena tahu betapa istrinya masih rapuh, dan ia tidak bergerak sampai Jaejoong mulai menggelinjang.
Jaejoong mencapai kepuasan sebelum Yunho, dan getaran tubuh namja itu membuat Yunho menyusulnya. Yunho sama sekali tak mengatakan apapun selama itu, sedangkan Jaejoong tak henti hentinya berbicara. Ia terus saja berbicara, melontarkan kata kata sayang penuh cinta. Sebagian masuk akal, sebagian tidak.
Ketika Yunho akhirnya ambruk di atas tubuh Jaejoong, ketika ia akhirnya kembali mampu berpikir, ia melihat ternyata Jaejoong menangis.
"Jae.. apa aku menyakitimu lagi?"
"Hanya sedikit." Bisik Jaejoong malu malu.
Yunho mengangkat kepalanya, menatap mata bulat Jaejoong. "Lalu kenapa kau menangis?"
"Aku tidak tahu... semuanya begitu...luar biasa, aku sangat..."
Yunho emmotong ucapan Jajeoong dengan menciumnya. Ketika ia menatap mata Jejoong kembali, ia tersenyum. Jaejoong nampak bingung.
Tiba tiba Yunho tersadar kalau yang satu ini bisa mencuri hatinya. Suara peluit mandor kapal mengumumkan pergantian rotasi jaga bagaikan bunyi lonceng peringatan di otak Yunho. Berbahaya sekali jadinya jika ia menjadi terlalu tertarik pada istrinya, bodoh... tidak bertanggung jawab. Yunho tahu, merasa peduli pada namja cantik itu akan membuatnya lemah. Jika ada sesuatu yang dipelajarinya dari petualangan gila gilanya, maka itu adalah melindungi diri dari segala cara.
Mencintai Jaejoong bisa menghancurkan Yunho.
"Yunho, kenapa kau memberengut begitu?"
Yunho tak menjawab. Kemudian bangkit dari tempat tidur , berpakain dengan membelakangi Jaejoong, lalu keluar kabin. Menutup pelan pintu dibelakangnya.
Cukup lama Jajeoong tak beraksi apa apa karena terlalu terkejut melihat sikap Yunho. Suaminya praktis kabur dari kabin, seperti dikejar setan.
Apakah bercinta dengan Jaejoong sebegitu tidak berartinya bagi Yunho? Sehingga ia tak tahan untuk megera meninggalkannya? Tangis Jaejoong meledak. Ia menginginkan, membutuhkan kata kata cinta dari suaminya. Ya Tuhan... sikap Yunho seolah olah Jaejoong bukan apa apa, sekedar wadah untuk melampiaskan nafsunya. Cepat dipergunakan, cepat terlupakan. Pelacur saja mendapat perlakuan yang lebih baik daripada yang diterimanya, piki Jaejoong. Pelacur setidaknya dibayar satu-dua won. Jaejoong bahkan tidak layak menerima geraman pamit.
Ketika air matanya sudah kering. Jaejoong melampiaskan rasa frustasinya pada ranjangnya. Ia mengepalkan tangan dan memukul tengan bantal Yunho, puas dengan membayangkan kepala suaminyalah yang dipukulnya. Kemudian ia menarik bantal Yunho ke dadanya dan memeluk bantal itu dengan erat. Aroma lelaki itu masih menempel di sarung bantalnya.
Tak butuh waktu lama bagi Jaejoong untuk menyadari betapa menyedihkan sikapnya. Ia melempar bantal ke samping dan mengalihkan perhatiannya untuk merapikan kabin. Dan ketika kabin sudah bersih, ia duduk di salah satu kursi dan mulai membuat sketsa kapal menggunakan buku gambar dan arang.
Menggambar mampu mengalihkan perhatian Jaejoong dari Yunho. Siwon menyela keasyikannya ketika mengetuk pintu, menanyakan apakah Jaejoong ingin makan malam bersama kelompok jaga pertama atau kedua. Ia menjawab akan menunggu dan makan bersama bibinya.
Jaejoong ingin sekali mengetahui bagaimana pendapat anak buah Yunho terhadap sup buatannya. Ketika ia selesai mengaduk semua bumbunya tadi aromanya cukup enak. Pasti rasanya lezat sekali, pikir Jaejoong, karena sudah direbus berjam jam.
Sebentar lagi mungkin para awak kapal akan datang untuk berterima kasih padanya. Ia menyisir rambut dan mengganti pakain, bersiap siap menerima kunjungan mereka.
Pegawainya tak lama lagi akan setia seratus persen padanya. Lagi pula, memasak sup untuk mereka untuk mereka adalah langkah penting ke arah itu. Ketika malam tiba, mereka semua akan menganggapnya amat, sangat berharga.
To be continue~
Well~~ Anyeong Reader-ssi ^^/ Long time no see~
Sebelumnya saya mau minta maaf karena ff ini serasa lumutan karena baru di update lagi~ tapi sekali lagi... saya mau berterima kasih sama semua reader yang sudah menyempatkan RnR... Maaf kan saya kalau tidak bisa membalasnya... tapi semua Review reader sy baca, dan itu menambah semangat buat ngetik :D
Untuk chapter selanjutnyaaa... semoga saya bisa update cepet~ */\* GAMSAHAMIDA nee buat yang udah RnR, R, Follow, Favorite~
Sampai ketemu di chapter depan~~ ANYEOOOONGGG \^0^/
