Dedikasi untuk nekochanflat.
.
.
.
Happy Birthday!
"Hufft.. Untung saja kita sudah belajar bahasa Indonesia. Jadi 'kan kita mudah ngomong sama orang-orang Indonesia yang lain. Pokoknya aku udah lama banget buat ngunjungin Indonesia. Katanya, tempat-tempatnya itu bagus-bagus semua. Banyak hutan, air terjun, gunung, pantai, laut, dan lain-lain. Uwaaah... Aku udah gak sabar lagi," ucap Iroha panjang x lebar = luas persegi panjang.
Kami hanya menatapnya sambil sweatdrop.
"Len-kun! Tolong bawain koperku yah?" suara aneh itu.
"Um, maaf. Aku gak bisa, Neru-chan," dan...suara itu juga.
T-tunggu sebentar.
Len menolak permintaannya Neru?
"... Aku akan membawa koper Miku-chan," ucapnya lagi. "EH? Kok kamu gitu, sih? Kamu dengan Miku pacaran ya?" tanya cewek brengsek itu.
"N-nggak. T-tapi aku berharap aja j-jadi pacarnya," jawab cowok shota itu.
Hah? Len ingin menjadi pacarku? A-apa aku yang salah dengar? Ah, kayaknya aku memang salah denger, deh. Nggak mungkin aku pacaran sama brondong, batinku.
"Miku-chan! Akhirnya aku ketemu sama kamu juga! Aku tadi nggak sempet ngeliat kamu pas ngambil koper. Syukurlah aku bisa ketemu sama kamu sekarang," ucap Luka Megurine yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
Aku menghela nafas, "Yah, aku juga. Nih bus lama amat sih? Pak sopirnya ke mana!?" gelisahku.
"Hadeh, Miku-chan. Kamu lupa ya, sekarang kan kita lagi ada di Jakarta. Jakarta 'kan suka macet. Tunggu aja, entar pasti busnya datang," ucap Luka lembut.
Aku tersenyum ke arahnya.
"Tapi sekarang orang di Indonesia rata-rata pada sibuk Lebaran, lho. Jadi Jakarta sepi," celetuk Rin tiba-tiba.
"Iya yah. Tumben kau benar, Rin-chan," goda Luka sambil mencubit pipi Rin. "Heh kau ini, Luka-chan. Seperti menganggapku salah terus," kata Rin cemberut. Luka malah tertawa kecil.
"Oi Miku!" sahut orang dari belakangku. Aku menoleh kearah sumber suara.
"Mikuo-nii! ...," aku berlari menuju Mikuo.
"... Habis dari mana aja? Eh, minuman itu dapet dari mana?" sambungku sambil menunjuk ke arah minuman yang lagi dipegang Mikuo.
Mikuo langsung melihat ke arah minuman tersebut, "Oh, ini. Tadi aku barusan beli di mini market dengan Len-kun," balasnya sambil tersenyum jahil.
"Hah? Len-kun?" kataku dengan nada bertanya.
"Eh? Emang ada apa dengan Len-kun?" tanya Mikuo. Aku terkejut dan langsung menggeleng panik, "Uh, tidak ada. Aku harus menemui yang lain dulu, oke. Jaa nee!" aku langsung kabur dari Mikuo.
"... Miku kenapa?" suara Mikuo masih terdengar di telingaku. Uh!
Aku muak mendengar kata Len.
"Para anggota Vocaloid diharapkan segera masuk ke dalam bus!" teriak Kiyoteru pake toa bandara.
"HAI!" jawab kami semua.
Kiyoteru di sini sebagai pemandu kami. Yah, karena gayanya mirip seorang guru, alhasil kami semua memilihnya untuk menjadi pemandu kami selama di Indonesia. Kiyoteru juga katanya lagi suka sama seseorang. Tapi entah siapa namanya.
Kami semua masuk kedalam bus secara bergantian. Terdapat 10 bus yang tersedia untuk kami semua. Gila bener 'kan?
Aku duduk di kursi urutan ke empat dari depan. Aku juga duduk di samping jendela, sehingga aku bisa melihat pemandangan luar yang mempesona.
Aku merasa sedikit tekanan di tempat duduk sebelahku. Lalu aku menoleh ke arah samping, tepatnya di tempat duduk sebelahku. Aku melihatnya dari bawah lalu keatas– oh tidak.
"... Konnichiwa, Miku-chan," sapa 'seseorang' tersebut.
Aku menatapnya dengan horor, "K-kenapa k-kau berada di sini?" tanyaku gugup.
"Eh? Emang gak boleh? Kiyoteru-san juga sudah nentuin kok," jawabnya simpel. Wajahku langsung berubah menjadi lebih horor lagi, "J-jadi, k-kita duduk berdua terus sampe kita balik lagi ke J-Jepang?"
Dia ngangguk lalu tersenyum hangat. Oh astaga.
"Semua sudah masuk ke dalam bus?" teriak Kiyoteru.
"SUDAH!" jawab kami semua serempak.
"Jadi kita akan menentukan kamar untuk kalian inap nanti! Teman sekamar kalian adalah orang yang berada duduk dengan anda di bus ini," aku mendengar beberapa orang bersorak senang.
A-aku tidak akan bersorak. K-karena...a-aku akan tidur berdua dengan...brondong di sampingku ini.
"Miku-chan! Kita sekamar! M-mau tidur berdua di satu kasur atau–" aku memotong perkatannya.
"Dasar mesum! Ya iyalah aku tidur di kasur. Sedangkan kau tidur di sofa! Aku tidak akan tidur berdua denganmu sekasur! Kau pasti akan ngelakuin yang enggak-nggak ke diriku!" bentakku mantap.
Dia menatapku bingung, "Heh? Siapa bilang aku mau ngegituin ke kamu? Hm, jangan-jangan, kamu mikirin hal itu ya?" godanya sambil nunjuk ke arahku.
Aku menampar jari telunjuknya, wajahku sudah memerah, "T-tentu saja tidak, kau baka!–"
"Tapi wajahmu sudah memerah! Hehe...," balasnya sambil tertawa kecil. Aku mendecih lalu mengabaikannya.
"Tujuan kita sekarang adalah menuju hotel. Perjalanan telah ditempuh selama lima jam," Kiyoteru mengumumkan lagi.
Yep, kami semua telah mengantuk. Sekarang sudah jam sembilan malam.
Sreeett...
"Diharapkan untuk turun dari bus secara pelan-pelan dan langsung mengambil koper kalian di bagasi. Lalu kalian pergi ke lobby untuk mengambil kunci kamar kalian," lalu Kiyoteru keluar dari bus.
Aku mulai beranjak dari dudukku, tetapi Len masih tertidur, "Len..."
Tidak ada respon.
"Len...," tidak ada respon lagi.
Plak!
"Uh!" Len mengelus pipinya yang barusan aku tampar. Lalu matanya perlahan terbuka.
"Cepetan! Aku mau keluar!" bentakku.
Len bangkit dari posisi duduknya tadi dan berdiri, "Sabar dikit bisa gak?" balasnya kesal.
"Cih. Lihat tuh. Yang lain sudah pada keluar!" aku menunjuk keseluruh bus.
"Oh," tampaknya Len kalah berdebat denganku.
Aku mendapatkan kunci kamarnya.
Oh, ternyata kami tidur di kamar nomor 112, lantai 5.
Aku tersenyum lalu menarik koperku menuju lift. Len mengikutiku dari belakang.
Setelah sampai di dalam lift, aku akan memencet tombol '5'. Tetapi, jari Len sudah memencetnya.
Aku menatapnya sinis. "Hehehe... Aku senang bermain di dalam lift," ucapnya sambil nyengir. Aku menghela nafas.
Ting...
Akhirnya sampai di lantai 5.
Kami langsung mencari kamar kami. Dan akhirnya...
Ketemu!
Krieeett...
Aku membuka pintu kamar.
Gelap. Dingin. Segar.
Ternyata AC nya sudah dihidupin. Syukurlah, jadi aku tidak kepanasan.
Aku langsung melempar koperku lalu merebahkan diri di kasur.
Ceklek.
Aku mendengar suara pintu dikunci. Huh, palingan itu dari kamar sebelah.
Aku masih merebahkan diri, dan mulai menutup mataku. Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang berada di atasku, dan terdapat nafas hangat di leherku.
Lalu aku membuka sedikit mataku, dan..
Terdapat kuncitan kecil di rambutnya yang bewarna honeyblonde, di atasku.
"Hey! Apa-apaan ini! K-Kau tidak mencoba untuk melakukan itu ke diriku, 'kan?" tanyaku gugup.
Orang itu menjawab dengan suara rendahnya, "Begitulah..."
Wajahku langsung memerah, "D-Dasar bocah mesum!" aku mendorong dirinya. Lalu dia mulai berdiri, tersenyum ke arahku.
Oh astaga. Anak ini sudah membuatku takut, dan...dia dengan mudahnya tersenyum polos ke diriku.
"Miku-chan. Lihat! Kasurnya cuma ada satu, ukuran Queen Size. Dan, tidak ada sofa di sini. Cuma ada kursi," rengeknya sok imut, ah maksudku shota.
"Y-Yaa kalau begitu, kau tidur di kursi saja," jawabku malu sambil menutupi wajahku dengan poni panjangku.
"Tapi kursi itu terbuat dari kayu. Badanku pasti sakit pas mau bangun," balasnya lagi.
Uh, nih anak pinter ya bikin alasan. Dan.. Aku sudah tidak punya kata-kata lagi.
"Uh! Yaudah. K-Kita tidur –errr– berdua," jawabku pasrah. Wajahnya sudah bersinar-sinar bahagia. Lalu aku beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.
– 5 menit kemudian.
Setelah mengganti pakaianku yang sekarang–baju tidur–aku lansgung melihat ke arah Len.
Oh astaga.
Aku merasa pipiku mulai memerah. Aku cepat-cepat menuju kasur dan merebahkan diri di atasnya. Aku mengambil selimut untuk menutupi badanku dan wajahku. Dan...aku merasa ada tekanan di kasur.
"Miku-chan hangat...," Len memelukku dari belakang.
Kurasa sekarang wajahku telah sangat merah, "H-Hentikan!" teriakku tidak terlalu keras.
Len menarikku menuju dirinya. Dan ia menaruh kepalaku di dada datarnya yang terbuka. M-maksudnya dia bertelanjang dada.
Badanku sudah gemetaran hebat.
B-Bagaimana kalau dia ngelakuin itu ke diriku? batinku khawatir.
Aku menghela nafas, Uh, jangan berpikir yang buruk dulu, Miku. Tenang, dia juga masih polos. Pasti dia tidak akan ngelakuin itu ke diriku, batinku lagi, dan aku tersenyum. Len semakin memelukku dengan erat dan akhirnya...aku merasa Len telah tertidur. Dan aku masih di dalam pelukannya.
Mungkin dia menganggapku sebagai guling. Yah, mungkin saja.
Dan setelah hal-hal mengerikan itu terlewat, akhirnya aku juga tertidur.
Di dalam pelukan Len.
To be continue.
A/n: Oh ya, Selamat Hari Raya Idul Fitri :D
