Dedikasi untuk nekochanflat.
.
.
.
Happy Birthday!
"Miku-chan, bangun!"
Aku mendesah setelah mendengar suara itu, "Uahm.. Bentar lagi." tetapi orang ini terus menggoncang tubuhku.
"Miku-chan! Bangun!" paksanya.
"Ih! Bentar lagi kenapa sih!" balasku ketus sambil menutup wajahku menggunakan bantal.
Aku merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh perutku. "Perut Miku-chan langsing ya?" kata Len sok polos. Dia terus meraba-raba perutku. "Hehe... Geli tau!"
Alam bawah sadarku;
Miku 1 : Hatsune Miku! Bangun!
Miku 2 : Len-kun berusaha membangunkanmu dari tadi. Bangun!
Miku 3 : Aku masih ngantuk. Hoam *nutup mulut*
Miku 4 : Kya! Geli!
Miku 5 : WHAT!? Cuma itu responmu!? 'Hehe... Geli tau!?'
Miku 1-4 : Eh? Emang kenapa?
Miku 5 : Haduh, kayaknya aku disini yang masih normal. Dia lagi ngeraba-raba perutmu tau! E-Entar.. Kalo dia ngeraba sampe bagian itumu, kan bisa gawat!
Miku 1-4 : KYAAA! LEN-KUN PERV!
"KYA! JANGAN SENTUH AKU!" aku bangun lalu menampar tangan Len.
"Uh. Kok kamu nampar aku gitu? Apa salahku?" tanyanya sedih. Aku menggaruk pipiku, "Y-ya tadi kan salahmu sendiri ngeraba perut orang kayak gitu."
"Ya 'kan itu salahmu sendiri, Miku-chan. Daritadi aku sudah coba berusaha untuk ngebangunin kamu," balasnya sambil tersenyum. Yah, sepertinya aku kalah lagi berdebat dengan Len, si anak brondong.
"Uh... Baiklah, terima kasih," jawabku malu-malu.
Dia tersenyum hangat ke diriku, "...Apapun untukmu, Miku-nee."
"Jangan panggil aku Miku-nee! Itu membuatku terkesan...t-tua," balasku cemberut. Dia tertawa pelan, "Ternyata melihatmu cemberut lucu juga ya. Hadeh, coba tadi aku videoin," katanya seraya menahan tawanya.
"Hmph. Sekejam itukah dirimu, Len-kun?" godaku.
"Hm, tidak. Aku hanya kejam terhadap dirimu!" jawabnya sambil menepuk jidatku. Aku membalasnya dengan cepat. Dan terjadilah adegan tepuk-menepuk satu sama lain. Dan akhirnya tiba-tiba tanganku sudah berada di bahu Len. Secara tidak sengaja, aku terdorong ke depan sehingga aku berada di atasnya.
"Oh," dia menyeringai, "Kau ingin melakukan itu, Miku-chan. Padahal ini masih pagi, lho. Kita juga mau pergi jalan-jalan. Entar kita telat. Kita lakukan itu dilain hari aja, ya?" godanya sembari mendorongku ke belakang, lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Wajahku telah memerah.
Rasanya, digoda sama brondong...lumayan juga. Kesalnya itu loh, dapet banget. Pengen aku cabik-cabik tuh brondong sampe mati. Yap, sampe mati.
"Miku-chan! Giliranmu mandi!" suara Len terdengar ke seluruh ruangan.
"I-iya! T-tunggu sebentar!" aku mengambil pakaianku dan handukku lalu pergi menuju kamar mandi.
Ceklek!
Kamar mandi yang bernuansa kuning dan biru muda. Sugoi!
Aku langsung menuju bathtub dan segera menyalakan air. Eh, tapi yang kulihat airnya sudah terisi. Bagus deh, jadi aku bisa langsung masuk ke dalamnya. Aku perlahan memasukkan kakiku ke dalam air, lalu badanku. Seluruh tubuhku tidak memakai pakaian apapun yang artinya adalah naked.
"Uwah... Enak bener! Hotel Indonesia lebih bagus daripada di hotel Jepang! Sugoi ne!" pujiku sambil berendam.
Blub... blub...
Aku melihat ada gelembung dari bawah air muncul. Dan tiba-tiba ada rambut bewarna honeyblonde muncul. Benda itu naik perlahan dan akhirnya–
Aku melemparkan shampoku ke arah benda– maksudnya orang itu.
"HEE!? KOK KAMU ADA DI SINI!?" tanyaku panik. Aku lihat dia lagi-laginya bertelanjang dada, uhm maksudnya dia naked, sama sepertiku. Mungkin.
T-tunggu dulu. Naked? N-NAKED!?
K-kok...!?
"KYA! ...," teriakku histeri sambil menciprat-cipratkan air ke arah wajahnya.
"Ah, Miku-chan. Hentikan!" pintanya lembut. Dan akhirnya aku berhenti, berusaha untuk tenang. "K-Kenapa kau ada di sini? Aku 'kan mau mandi," kataku gugup.
Tetapi dia– maksudnya Len menghela nafas, "Tadi aku teriak, tapi aku masih ada di dalam sini. Eh, tiba-tiba Miku-chan sudah masuk. Yah, karena aku nggak mau ketahuan, jadinya aku semputan di bawah air. Tapi..Miku-chan sudah berada di satu bathtub yang sama denganku, dan aku juga sudah kehabisan nafas. Jadinya aku keluar dari air dan menampakkan diriku di depan dirimu...yang sama-sama...naked.
By the way Miku-chan, tubuhmu perfect!" jelasnya sambil mengedipkan satu mata. Oh jangan lagi, wajahku mulai memanas.
"O-oh...," begitu saja responku. Terjadi keheningan beberapa detik, dan akhirnya, "Mau mandi bareng? 'Kan tidak apa-apa kalo kita mandi bareng. Aku juga lebih muda darimu, dan kau lebih tua dariku. Anggap saja aku adikmu sendiri...," ucapannya terhenti.
"... Walaupun aku sama sekali tidak ingin dianggap adik oleh dirimu, Miku-chan. Aku ingin hubungan kita lebih dari saudara maupun teman," cibir Len pelan. Suaranya sangat kecil sehingga aku hampir tidak dapat mendengarnya. Tapi aku mengetahuinya dan tidak berbicara apa-apa. Lalu Len tersenyum.
"Baiklah!"
Setelah kami –aku dan Len– mandi, kami mulai beranjak menuju ruang makan hotel.
"Selamat pagi...," sapa pembantu di ruang makan ini. Biasanya aku mendengar Ohayo, bukan 'Selamat pagi'. Sepertinya aku mulai beradaptasi dengan lingkungan di sekitar sini.
Aku melihat ke arah tanganku. Tanganku –jariku– terikat di jari Len. Yap, kami berpegangan tangan.
...
Sementara itu;
Miku 1 : Hangat~
Miku 2 : Aku lapar!
Miku 3 : Kami berdua terlihat seperti pacaran. Hehe...
Miku 4 : NO! K-KOK BISA JARIKU TERIKAT DI JARI LEN!?
Miku 5 : Miku 4, aku bangga padamu. Akhirnya kau tobat juga... *nepuk pundak Miku 4*
Miku 4 : Yeeew... Itu semua gara-gara dirimu. T-tapi, makasih ya...
Miku 5 : Selalu...
Dan, aku langsung meresponnya seperti...
"LEPASIN!" bentakku tiba-tiba, membuat semua orang yang berada di ruang makan terkejut. Haha, ekspresi mereka ketika kagetnya itu loh. Jelek bener. Hahaha.
"Eh? B-baiklah, Miku-chan," respon Len gugup. Wajahnya sudah lumayan memerah. Lalu dia pergi menuju ke kerumunan cowok, meninggalkanku sendirian. Tapi gak lama itu, cewek-cewek yang lain datang menghampiriku, kok.
"Yo! Miku-chan!" Rin menepuk pundakku.
"Yoo! Rin-chan! Apa kabar?" Aku membalas tepukan Rin. "Baik, makasih. Kalo Miku-chan sendiri?" tanya Rin sembari merangkulku. Duh, Rin...enggak susah ya ngerangkul orang yang lebih tinggi darimu. Hehe... "Baik juga kok. Rin-chan sekamar sama siapa?"
"Aku sekamar sama Gumi-chan. Kami hampir begadang lho... Mikirin tentang –ahem– cowok. Em, Miku-chan sekamar sama siapa?" tanya Rin lagi. Aku terdiam sebentar.
"E-eh?"
Rin menatapku bingung, "Kenapa, Miku-chan? Kau tidur sama saudara kembarku, ya?"
"EH!?" lalu Rin menyeringai dan tertawa, "Sudah kuduga! Pasti kamu dipeluknya, ya 'kan? Soalnya kalo dia tidur sih, harus pake guling. EH— tapi aku gak pernah tidur sama Len-kun kok! Kami tidak dibolehi sama Okaa-san. Biar mandiri!" jelas Rin sambil masang pose Superman (?). Aku hanya tertawa kecil.
"Ya! Aku percaya. Sudah dulu ya, aku mau makan." Aku mengacak-acak rambut Rin. "Hehe...baiklah. Um, Miku-chan. Kau seperti seorang ibu. Mungkin...nanti ayahnya adalah...saudara kembarku— Oke! Abaikan ini. Jaa mata ne!" Rin langsung berlari dari hadapanku.
Kau seperti seorang ibu. Mungkin...nanti ayahnya adalah...saudara kembarku. Ucapan Rin teringat di kepalaku. Uh! Dasar Rin, dia terlalu jauh pola berpikirnya.
Aku mengambil makanan khas Indonesia. Begitu pun dengan anggota Vocaloid yang lain. Aku langsung mencari tempat duduk.
"Hm... dimana ya, tempat duduk yang kosong...," Aku memutar kepalaku, dan...akhirnya ketemu! Spontan aku langsung berlari menuju meja tersebut.
"...Pft! Akhirnya ketemu—" aku melihat ke arah tempat duduk di depanku.
"L-lah? K-kok kamu ada di sini?" tanyaku gugup. Dia tersenyum ke arahku, "Ya, karena gak ada tempat duduk lain. Tapi aku beruntung bisa duduk berdua bersama Miku-chan!" ucapnya senang. Wajahku berubah horor lagi. Tapi lebih baik aku hiraukan saja dia, dan makan sampai kenyang :D
Aku merasa Len menatapku sedang makan. Aku menatapnya balik, "Miku-chan..."
"Kenapa?" tanyaku sambil mengunyah makananku. Tangannya terangkat dikit dan dia berdiri, yah tapi kakinya masih agak ditekuk. Jarinya mengenai daguku dan wajahku ditariknya. Posisi diriku...agak sedikit menunggit. Dan akhirnya wajahku telah sampai di depan wajahnya. Wajah kami sangat dekat.
Aku melihat Len mengeluarkan sedikit lidahnya, dan dia...
Lick...
Len menjilat di daerah dekat bibirku. "Cie..." aku mendengar suara dari sekeliling kami. Apa-apaan ini!? batinku panik. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan menunggu sampai Len melepaskan daguku. Tolong jangan sampe ke bibir...
Untungnya, dia telah melepaskan daguku. Aku selamat...
"Miku-chan. Tadi ada kecap di dekat bibirmu. Hehe...dasar makan celemotan!" godanya sambi menjilat bibirnya menggunakan lidahnya.
Doki... doki...
"Uh...ya, m-makasih," Aku langsung pergi meninggalkan Len tanpa menghabiskan makananku.
Aku memegang wajahku. Hangat. Lalu aku memegang di daerah bibirku yang tadinya dijilat oleh Len menggunakan jariku. Dan aku tersenyum senang entah kenapa.
"Dasar bocah."
"Apa semuanya sudah di bus?" teriak Kiyoteru dari dalam bus.
"Sudah~" jawab kami semua.
"Baiklah. Sekarang tujuan kita...ke pantai!" kami semua langsung jingkrak-jingkrak. Akhirnya ke pantai juga.
"Kalian bawa pakaiannya?" tanya Kiyoteru.
.
.
.
.
.
"... Tidak," jawab kami polos. Kiyoteru langsung sweat drop. "Yalah. Gak jadi kepantainya."
"Yah... Tapi pakaiannya ada di koper," Balas kami semua kompak. Wajah Kiyoteru langsung bersinar-sinar, sampai melebihi sinar matahari.
"Oh. OKE! KITA KE PANTAI!" teriak Kiyoteru pake toa bus.
"AZEK!" kami semua bertepuk tangan.
To be continue.
