Dedikasi untuk nekochanflat.
.
.
.
Happy Birthday!
Akhirnya kami sampai di pantai (entah pantai apa. Yang intinya tetep ke; PANTAI :v). Kami semua berbondong-bondong keluar dari bus. Ada yang jatuh, ada yang keserempet, ada juga yang patah tulang– ah maksudnya ada yang sudah keluar dari bus.
Sesudah keluar dari bus, Kiyoteru mengambil satu persatu koper –untuk ngeluarin baju...er...pantai– dari bagasi bus.
"Kiyoteru-san! Koperku yang bewarna item!"
"Koperku yang bewarna coklat!"
"Koperku yang bewarna pink!"
"Koperku yang bewarna orange!"
"Koperku yang bewarna biru!"
"Koperku yang bewarna ungu!"
"Koperku yang bewarna merah!"
"Koperku yang bewarna hijau!"
"Koperku yang bewarna putih!"
Aku hanya sweat drop ketika mendengar teriakan dari mereka. Kata-kata nya itu sama semua, tapi beda pas dibagian warna. Gaje bener, dah.
"Miku-chan." S-suara itu lagi.
"Hh?" gumamku tanpa mengalihkan pandangan ke arahnya. "K-kopermu sudah ada di sana."
"Hah? Benarkah?" aku langsung menuju ke koperku. Tetapi ketika aku hendak mengambilnya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh kulitku.
Aku kaget seraya melirik ke arah orang yang menyentuhku tadi. Aku menatap wajah lelaki blonde, atau sebut saja namanya Len. Dia juga lagi menatap dalam ke mataku. Wajahku mulai sedikit merona, dan aku harus menahannya. Tapi apa daya yang kumiliki, wajahku sudah merah sampai ke telinga. Len tersenyum jahil, lebih tepatnya menyeringai.
"Kau ingin menyentuhku, Miku-chan? Apa kau masih berharap kita melakukan hal itu nanti, hm? Kau benar-benar mesum, Miku-chan. Aku tidak bisa membayangkan betapa mesumnya dirimu," bibir Len bagian kanan semakin menaik.
"OH MY GOD! WHAT'S WRONG WITH YOU, BOCAH?" Aku berteriak sembari berlari dan menarik koperku. Ketika aku hendak pergi meninggalkan Len, tiba-tiba dia menarik sikutku. Aku merasa nafasnya di pipiku.
"Aku tahu kau berusaha menghindar dariku, Miku-chan. Tapi pasti kau tidak akan pernah dapat pergi dari sisiku. Aku telah mengatur semua ini, jadi jangan harap...
Kau dapat menghindar dariku," ucapan Len terdengar dingin. Hembusan nafasnya yang dingin -atau angin- masih membasuhi pipiku. Lalu dia melakukan yang seharusnya tidak ia lakukan kepadaku.
#chu!
To be continue.
