Because Of My Brother's Fault
Kyuhyun, Jongin, Kibum
Sehun, Siwon
Kali ini semoga minim typo.
Selamat membaca!
Ini Membingungkan
Pagi-pagi ada sebuah Taxi berhenti di depan bengkel. Ryeowook turun dari dalamnya, membawa rantangan besar empat tingkat dan berjalan masuk area bengkel.
"Yesung hyung ada?", tanyanya pada seorang montir.
"Ada", jawabnya. "Dia ada di belakang. Mau kupanggilkan?"
"Tak perlu. Aku akan kesana sendiri"
"Dia di bagian pemasangan onderdil. Masuk saja lalu belok kanan"
"Terima kasih!"
Ryeowook mengikuti arah tunjuk montir tadi. Masuk dan belok kanan. Ryeowook bisa melihat Yesung setelah memasuki bangunan dalam bengkel. Saat berjalan ke kanan untuk menghampiri Yesung, Ryeowook melihat seseorang sedang meringkuk di sofa dalam kantor bengkel itu. Ryeowook kenal, itu Kyuhyun. Ryeowook menunda menemui Yesung dan memilih menghampiri Kyuhyun untuk memastikan benar-tidaknya kalau yang dilihatnya sekarang adalah pemilik hotel tempat dia bekerja.
"Kyu!", panggil Ryeowook sambil hati-hati masuk ke ruangan. "Kyunie, itu kau?"
Ryeowook memeriksa Kyuhyun, mencolek pipinya agar dia bangun.
"Kyunie!", panggilnya sekali lagi.
Nampaknya Kyunhyun tak ingin bangun atau memang tak bisa bangun sekarang ini. Tidurnya terlihat lelap dan sepertinya panggilan Ryeowook tak kedengaran sama sekali di telinga Kyuhyun.
"Wookie?"
Yesung baru saja diberitahu anak buahnya kalau seseorang telah mencarinya. Yesung tahu hari ini Ryeowook akan datang, dia juga sudah menebak kalau yang datang mencarinya itu adalah kekasihnya, Ryeowook. Menurut yang dikatakan anak buahnya, Ryeowook sudah masuk bengkel tapi belum juga bertemu dengannya. Yesung mencarinya dan menemukannya disini.
"Kau mengenalnya?"
"Iya, Hyung. Dia pemilik hotel tempatku bekerja. Namanya Kyuhyun", terang Ryeowook.
"Dia istri temanku"
"Kibum itu temanmu?"
"Kau kenal dengan Kibum?" Ryeowook membetulkan. "Kau sudah tahu mereka menikah?"
"Tentu saja. Kibum pernah datang ke restoran dan mencicipi masakan buatanku" Dan Kibum tak pernah datang lagi walau Ryeowook dan anak buahnya sering mengiriminya pesan untuk datang. "Tapi aku tak tahu kalau dia temanmu"
Kyuhyun bahkan tak terganggu walau Yesung dan Ryeowook bicara keras. Dia masih saja tidur, matanya terpejam kuat dan nafasnya berhembus teratur. Satu-satunya pergerakan yang Kyuhyun buat adalah menggeser kepalanya lebih ke tengah bantal. Dia menghembuskan nafas keras, namun kemudian kembali tak bergerak.
"Sejak kapan Kyuhyun disini, Hyung?"
"Semalam. Dia datang malam sekali dan baru tidur jam tiga pagi" Yesung kasihan melihat Kyuhyun semalam. Dia tak mau tidur meski dirinya dan Kibum memaksanya. Kyuhyun bilang sudah tak bisa tidur lagi. Dia mengatakan ingin melihat Kibum dan Yesung bekerja. "Aku kasihan padanya, dalam keadaan hamil tak baik kalau dia kurang istirahat"
"Kyunie hamil?", tanya Ryeowook kaget.
"Iya"
"Pantas saja dia sering terlihat tak bersemangat akhir-akhir ini"
Ryeowook menyerahkan rantangan yang dia bawa pada Yesung. Dia kemudian mendekati Kyuhyun lagi. Berusaha mengecek keadaan Kyuhyun karena menurutnya orang hamil itu rawan sakit. Ryeowook meletakkan tangannya pada dahi Kyuhyun, tapi dia tak mendapati tanda-tanda kalau Kyuhyun sakit. Suhu kening Kyuhyun normal seperti pada keningnya, berarti Kyuhyun memang tidur seperti orang mati.
"Ada apa kalian berkumpul disini?", tanya Kibum yang muncul di dekat pintu.
"Kibumie", sapa Ryeowook.
"Kau ada disini?" Kibum melirik ke Kyuhyun, apa Kyuhyun yang memanggil Ryeowook kemari? Tapi sepertinya tidak. "Sedang apa?"
"Aku menemui Yesung hyung"
"Aku tak tahu kalau kalian saling kenal, tapi akan kuperjelas. Ryeowook ini kekasihku"
"Yang sering kau ceritakan itu?" Yesung sering bercerita tetang kekasihnya tapi dia tak menyebutkan nama. Yesung selalu bilang kalau kekasihnya jago masak, koki ternama disebuah hotel, tak disangka ternyata itu Ryeowook. "Aku kenal dia, kalau kau menyebutkan namanya, aku pasti tahu"
"Aku sering menyebutkan namanya, kau saja yang tak mau dengar"
"Kibumie, aku dan anak buahku punya tiga belas resep baru selama kau tak datang ke resto. Kapan-kapan kau bisa datang kan?" Kibum mengangguk. "Hari ini aku masak banyak" Ryeowook mengambil kembali rantangan yang tadi sudah diserahkan ke tangan Yesung. Dia membawanya ke meja dan membukanya. "Kibumie, kemarilah. Kutunjukkan makanan yang kubuat hari ini. Nanti kau bisa memakannya dengan Kyunie"
"Yah bukannya kau masak untukku?", protes Yesung.
"Tidak apa-apa, Hyung. Biarkan Kyunie makan dulu, kalau dia sudah kenyang baru kau oleh makan" Ceritanya Yesung diberi makanan sisa dari Kyuhyun, padahal Ryeowook tadi memasak khusus untuknya. "Kyuhyun hamil, dia harus dapat makanan sebaik mungkin biar dia dan bayinya sehat"
Kibum dan Yesung saling berpandangan. Mereka pernah berfikir kalau Ryeowook itu kekanakan, tapi ternyata dia juga keibuan. Ya sudahlah, Kyuhyun memang terlihat sangat kecapekan, wajar saja kalau dia dapat perhatian ekstra dari semua orang.
Lil' Bro
Ekor mata Jongin menangkap bayangan Kyungsoo berjalan di koridor sekolah. Kyungsoo sedang sendirian ketika itu, dia berjalan ke arah ruang jurnalistik. Sepertinya dia ada pertemuan disana. Maklum Kyungsoo kan anggota jurnalis. Karya-karyanya selain dipajang di mading dan majalah sekolah juga sering masuk tabloid-tabloid remaja. Itu yang membuat Jongin bangga dengan Kyungsoo. Tidak ada hubungannya sih, tapi kan Jongin suka Kyungsoo dari dulu, jadi kalau Kyungsoo terkenal, Jongin ikut senang.
"Hun, aku harus ke toilet. Kau mau jalan ke kelas sediri atau perlu ku antar dulu?" Sehun tidak menjawab, dia main pergi namun jalannya terhenti karena mungkin Sehun lupa kalau dari rumah sampai sekolah tangannya terus digandeng oleh Jongin. "Oh, kau mau ku antar dulu!" Jongin berasumsi demikian.
"Kalau kau mau ke toilet, pergi sana!", usir Sehun.
"Aku antar kau ke kelas dulu lah". Mau bagaimanapun keselamatan Sehun adalah tanggung jawab Jongin. Sehun sedang berbadan dua, itu salahnya. Demi menebus kesalahan itu, kewajibannya adalah menjaga Sehun. "Akhir-akhir ini cuaca sagat buruk. Negara-negara di bagian tengah bumi terkena badai El Nino, dan sepertinya Korea terkena dampaknya. Korea jadi makin dingin, kau merasakannya juga kan?" Kemarin Jongin nonton TV dengan Dasom. Ada berita badai El Nino itu di TV. Badainya mengakibatkan kekeringan jangka panjang. Jongin pikir, karena daerah tengah bumi mengalami kekeringan, pasti air-air itu mengalir ke daerah-daerah tepi. Seperti Korea dan negara-negara dekat kutub lainnya. Jadi karena kelebihan kadar air, Korea jadi makin dingin, seperti yang sekarang Jongin rasakan.
Jongin mengeratkan tautan tangannya dengan Sehun. Dia berusaha menyalurkan hawa hangat tubuhnya pada Sehun, sementara mereka berjalan ke arah kelas.
"Hari ini kita datang terlalu pagi, Hun. Tadi kau tak mau sarapan juga, kalau kau sakit bagaimana?"
"Aku sudah terbiasa". Bohong, biasanya Sehun-lah yang makan duluan setiap kali Dasom selesai memasak. Sehun itu gampang lapar, sehari bisa 4-5 kali dia makan. Belum juga camilan-camilan yang dimakannya setiap dua jam sekali. "Aku tak mudah lapar!"
Jongin mengangguk saja. Masih seperti yang dia yakini kalau orang yang sedang hamil punya kepribadian ganda. Suka menyangkal dengan apa yang sudah diperbuat dan sering merajuk. Jelas-jelas Sehun itu suka makan, besar badannya saja sudah bertambah setengah kali lipat. Coba kalau ditimbang, berapa kilo kenaikannya? Tapi Jongin maupun Dasom tak akan mengatakan Sehun gendut atau membicarakan soal timbang menimbang berat badan pada Sehun, kalau dia merajuk, mereka yang repot nanti.
Jongin mendudukkan Sehun di kursinya. Dia meletakkan tas di bangkunya lalu membuka dan mengeluarkan jaket dari dalamnya. Jongin kemudian kembali ke hadapan Sehun. Dia menyampirkan jaket itu ke punggung dan menutupi sampai kedua bahu Sehun.
"Aku akan mampir ke kantin juga. Makanan apa yang harus kubawakan untukmu?"
"Aku sudah bilang tak lapar kan?", tegas Sehun sambil mengeluarkan buku-bukunya dari tas.
"Kalau burger dan kentang goreng?" Jongin tahu kalau Sehun tak sedang menolak. "Atau ayam goren dengan bumbu saja?"
"Jangan junk food, tak baik untuk kesehatan. Bawakan aku martabak manis rasa keju!", kata Sehun berubah mood.
"Akan kubawakan!", kata Jongin sambil melenggang ke luar kelas.
Mengatasi Sehun sekarang lebih mudah dari yang dulu. Berikan saja apa yang Sehun minta, dan semua akan baik-baik saja. Sehun tipe penurut selama di dalam perutnya ada anak titipan dari Kyuhyun dan Kibum. Sehun memang sering merajuk tapi dengan diperlakukan dengan lembut, disayang sayang dan diberi makanan, marahnya hilang seketika. Namanya juga orang lagi hamil, selalu punya caranya sendiri mengekspresikan kehamilannya.
Jongin berjalan di koridor yang sama tempat Kyungsoo berjalan tadi. Di tikungan dia hampir bertabarakan dengan Chanyeol.
"Kai, jangan di tengah jalan saat sedang berjalan", tegur Chanyeol. "Kalau kutabrak, aku tak mau tanggung jawab"
Jongin angkat bahu saja, toh koridor itu bukan milik Chanyeol, terserah dia mau jalan di tengah atau di tepi.
"Kau dari mana?", Chanyeol buru-buru sambil membawa sekotak makanan. Martabak kelihatannya.
"Mau ke kelas". Bukankah barusan Kai tanya dari mana, bukan mau kemana? "Aku mau ke kelas, kau mau kemana?"
"Aku mau ke ruang jurnalis, mau bertemu Kyungsoo"
"Ada janji dengan Kyungsoo?"
"Tidak. Aku merindukannya, sudah sehari aku tak bertemu dengannya" Chanyeol mencibir. Berlebihan. "Kau dari mana?", tanya Jongin ulang.
"Aku mau bertemu Sehun. Apa dia sudah di kelas?" Yah Chanyeol menjawab tidak sambung lagi. Atau jangan-jangan memang dia mau merahasiakan tempat yang dia kunjungi barusan? "Sudah ada ya, aku ke kelas dulu, Kai. Aku mau memberikan martabak ini pada Sehun, dia pasti suka!", kata Chanyeol sambil tertawa tawa lalu pergi begitu saja. Padahal Jongin belum mengatakan apapun. Sebodoh lah, yang penting Jongin mau bertemu Kyungsoo dan menggoda namja imut satu itu. Jongin kangen menggodai Kyungsoo, terakhir yang Jongin ingat dia menggodai Kyungsoo itu kemarin siang dan belum menggodakan sampai pagi ini. Itu lama sekali.
Jongin kembali berjalan, meneruskan angan-angannya untuk bertemu dan menggodai Kyungsoo. Siapa tahu kali ini Kyungsoo mau jadi kekasihnya, kan lumayan. Saat berjalan itu seseorang lewat di sampingnya, sepertinya Jongin kenal dan dia memutuskan berhenti. Ketika dia berbalik ternyata seseorang yang baru melewatinya juga berhenti dan berbalik memandangnya. Oh, itu Luhan.
"Kai kau mau kemana?"
"Menemui Kyungsoo. Kau sendiri mau kemana?"
"Menemui Sehun?" Pagi-pagi begini sudah ada dua orang mau menemui Sehun. "Aku mau memberinya martabak. Kemarin dia bilang ingin sekali makan martabak"
Luhan tidak sedang membawa kotak martabak. Kalau dia mau memberi martabak pada Sehun, disembunyikan dimana martabaknya? Mungkin Luhan akan pergi ke kantin dulu, membeli martabak baru memberikannya pada Sehun.
"Tadi aku sudah beli, karena Sehun belum datang kusimpan di bawah mejanya Sehun", terang Luhan seakan menjawab pertanyaan yang tak sempat diutarakan Jongin.
"Oooo!" Jongin mengangguk angguk mengerti.
"Sehun sudah datang kan?"
"Sudah. Dia di dalam kelas sekarang"
"Ok Kai, kau temui Kyungsoo, aku akan temui Sehun"
Luhan melenggang pergi sama seperti Chanyeol tadi. Kali ini Jongin memandang kepergian Luhan sampai jauh. Sepertinya ada yang janggal dipikiran Jongin, tapi dia tak tahu apa itu. Jongin berharap itu perasaahn bahagia karena sebentar lagi akan bertemu Kyungsoo. Jongin sumringah kembali, dia membalikkan badan dan hampir bertabrakan dengan Tao.
"Tao, kenapa ada di belakangku?"
"Kau kenapa ada di depanku?"
Tadi Chanyeol, Luhan sekarang Tao. Menghadapi mereka ini membuat Jongin senewen saja. Paling-paling Tao akan menanyakan Sehun, lalu akan menemuinya dan memberikan martabak juga padanya. Jongin bahkan sudah melihat bungkusan yang dipegang Tao sekarang. Sekotak martabak dalam kantong plastik bertuliskan Delicious Martabak.
"Kau mau menemui Sehun kan?" Tao mengangguk. "Mau memberikan martabak pada Sehun kan?" Tao mengangguk lagi. "Sehun ada di kelas, Chanyeol dan Luhan juga akan memberikan martabak padanya"
"Ah, yang benar?", Tao terkejut. "Kalau begitu aku harus bergegas, nanti Sehun marah padaku kalau aku tak segera datang"
Jongin sebenarnya mau bertanya, kenapa semua orang harus memberikan martabak pada Sehun? Apa ini hari spesial untuk Sehun? Kalau iya, pasti Jongin sendiri tahu. Atau Sehun request martabak pada semua temannya? Namun Tao keburu pergi. Namja penyuka wushu itu bahkan sampai berlari demi segera menemui Sehun. Jongin mengabaikan Tao, dia memang menjanjikan martabak juga untuk Sehun, tapi itu nanti setelah dia bertemu Kyungsoo.
Pintu setengah terbuka ruang jurnalis diketuk oleh Jongin. Kyungsoo dan Xiumin bersamaan menoleh ke arah pintu. Keduanya menghela nafas bersamaan juga ketika melihat Jongin yang berdiri di pintu masuk.
"Selamat pagi Kyungsoo! Selamat pagi Xiumin!", sapa Jongin sambil memasang senyum cerahnya. "Pagi ini begitu cerah. Hawanya juga sejuk, pasti karena ada kalian di sekitar sini"
"Jangan menggobal, Kai!" Ini sudah kesekian ratus kali Xiumin mendengar Jongin menggombal. Dia tahu untuk apa Jongin melakukan itu. Jongin suka Kyungsoo, tapi bodohnya Jongin tak pernah meminta Kyungsoo jadi kekasihnya. Sampai matipun Kyungsoo tak akan bisa jadi kekasih Jongin. "Jadi kau datang pagi-pagi cuma untuk menggoda Kyungsoo?"
"Tidak" Tentu saja tidak. Jongin datang pagi-pagi atas permintaan Sehun. Dan karena Jongin datang terlalu pagi, duduk di kelas jelas bukan hal yang disukainya, lebih baik kalau dia datang ke ruang jurnalistik dan menggoda Kyungsoo. "Aku datang bukan hanya untuk menggodanya, aku juga menggodamu"
Xiumin mendengus, dia memilih mengabaikan Jongin.
"Kyung!", panggil Jongin sambil mendekat dan duduk di meja tempat Kyungsoo mengecek karya-karya bulan ini. "Kau sudah sarapan?"
"Sudah"
"Apa kau takut gendut kalau kubelikan makanan lagi"
"Aku tidak takut gendut, cuma takut perutku tidak bisa menampung makanan lagi", jawab Kyungsoo datar.
"Kalau nanti siang, perutmu pas sudah kosong, mau makan siang denganku?", pinta Jongin sambil menaik turunkan alisnya. Sayangnya Kyungsoo tak melihat ke arah muka Jongin, jadi tak ada gunanya dia membuat mukanya se-ekspresif mungkin. "Ada menu baru di kantin"
"Menu apa?"
"Martabak" Xiumin mendecih meremehkan Jongin. Martabak itu menu yang sudah ada sejak mereka belum masuk sekolah ini. "Ini martabaknya berbeda dengan yang lain. Martabak rasa cinta", terang Jongin membuat Kyungsoo dan Xiumin tersenyum sambil geleng-geleng. "Bagaimana?"
"Kalau Xiumin boleh ikut, aku akan bersedia makan siang denganmu"
"Tentu saja. Undangan makan siang dariku berlaku untuk kalian berdua" Sip, Jongin berhasil lagi mengajak Kyungsoo makan. "Eh, Kyung, kau baru makan biskuit ya?" Jongin asal tebak, tapi nyatanya Kyungsoo mengangguk.
"Kau tahu dari mana?"
"Ada remah roti di bibirmu" Kyungsoo kaget, dia kemudian mengusap bibirnya sendiri. "Belum hilang, sini kubantu hilangkan" Nyatanya tak ada apa-apa di bibir Kyungsoo. Jongin modus supaya bisa menyentuh bibirnya Kyungsoo.
Ketika tangan Jongin mulai terulur ke arah bibir Kyungsoo, seseorang berlari dan menabrak pintu setengah terbuka ruang jurnalistik. Ada Chen yang terengah engah berdiri disana.
"Kai, kau lihat Sehun?" Dan rencana menyentuh bibirnya Kyungsoo gagal. "Kau lihat Sehun tidak?", tanya Chen memaksa.
"Ada apa kau berlarian seperti itu" Jongin juga melihat bungkusan martabak di tangan Chen. Pasti mau diberikan pada Sehun juga. Sebenarnya ada apa dengan mereka semua, tertarik sekali memberi Sehun martabak? "Apa itu martabak?" Chen mengiyakan. "Kau mau berikan pada Sehun kan?"
"Martabak apa?", tanya Xiumin yang tiba-tiba ikut memperhatikan Chen. "Martabak rasa cinta ya?", tanyanya sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. Xiumin jadi kasar, menanggapi kedatangan Jongin dan Chen dengan cara yang beda. "Untuk Sehun?"
"Sepertinya begitu. Tadi Chanyeol, Luhan dan Tao juga membawa martabak untuk Sehun. Entah mereka kenapa perhatian sekali dengan Sehun", terang Jongin yang heran juga kelakuan teman-temannya.
Xiumin melotot dan mengeretakkan giginya sambil memandang Chen. Sepertinya dia ingin menguliti Chen.
"Tidak. Siapa bilang aku mau memberikan martabak ini untuk Sehun" Chen pura-pura jujur. "Ini untukku sendiri. Aku lapar, jadi harus beli martabak" Melihat Xiumin masih melotot, Chen mengubah arah bicaranya. "Tapi tadi aku sudah makan satu kotak di kantin. Kalau kau mau, ini untukmu saja" Chen segera masuk menyerahkan martabak itu ke tangan Xiumin tidak lupa tersenyum sok manis lalu segera mundur jauh. "Chanyeol, Luhan dan Tao kan suka dengan Sehun, jadi mereka ingin memberikan martabak rasa cinta itu padanya supaya cintanya diterima. Tapi aku tidak. Aku tak suka Sehun, maksudku aku tak ada rasa dengan Sehun. Kita teman. Iya kan, Kai?", tanya Chen sambil tertawa-tawa garing.
"Kau tidak bohong?", tanya Xiumin masih memasang tampang kejamnya.
"Tentu saja tidak. Aku mau mencontek PR-nya Sehun. Eh, sudah dulu ya. Aku harus mengerjakan PR sebelum bel masuk"
Chen berlari keluar bahkan sebelum ada yang menanggapi perkataannya.
Sekarang tak ada PR, itu nyatanya. Kalau ada, Jongin sudah pasti yang pertama mencontek pekerjaan Sehun. Tapi kenapa Chen harus berbohong di depan Xiumin? Xiumin bahkan tidak terlihat galak di depan Jongin, kenapa Chen bisa sangat takut padanya? Soal Chanyeol, Luhan dan Tao yang sedang berebut Cinta Sehun itu benar atau tidak? Jongin jadi was was. Kalau mereka bertiga bertengkar demi Sehun, lalu Sehun terkena imbasnya, Jongin akan merasa bersalah. Dia sekarang adalah pelindung Sehun, jadi apapun yang akan terjadi pada Sehun itu harus atas ijinnya, termasuk soal siapa yang akan menjadi kekasih Sehun. Jongin tek rela kalau salah satu dari temannya menjadi kekasih Sehun. Mereka itu rusuh dan bar-bar. Jongin tak ihklas.
"Eh, Aku lupa kalau hari ini memag ada PR. Aku juga perlu mencontek pada Sehun. Kyungsoo, Xiumin, aku pergi dulu. Sampai ketemu nanti siang!" Jongin melambaikan tangan pada keduanya lalu lari terbirit menyusul Chen.
"Hari ini tak ada PR di kelasku", kata Kyungsoo menjelaskan.
"Jadi mereka berbohong?", tanya Xumin kembali geram. Xiumin tak sekelas dengan Jongin se-gank dan Kyungsoo. "Mereka berbohong, Kyung?", tanyanya ulang.
"Kenapa akhir-akhir ini kau jadi sensitif" Xiumin tidak merasa demikian "Mungkin saja mereka lupa dan merasa ada PR", jawab Kyungsoo menenangkan Xiumin.
Lil' Bro
"Kau yakin mau bekerja hari ini?" Kyuhyun sendiri tidak yakin, tapi dia mengangguk. "Kau sedang tak enak badan katamu, tidakkah lebih baik kau istirahat?" Kyuhyun menggeleng. Dia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kyuhyun tak bisa terus terusan merepotkan Kangin dan Donghae untuk mengerjakan tugasnya. "Aku antar kau ke dalam!"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
Kyuhyun turun dari mobilnya, demikian juga Kibum. Kibum mau mengambil motornya yang semalam dia tinggalkan di parkiran hotel. Mereka ke bengkel naik mobil Kyuhyun semalam. Dan Kibum lebih merasa nyaman naik motor, makanya dia tak mau memakai mobil Kyuhyun kalau tidak terpaksa.
"Kibum!"
"Hm?"
"Tidak jadi"
Kibum mengernyit namun kemudian angkat bahu. "Kau mau mengatakan apa?"
"Tidak, lain kali saja"
"Nanti malam kau pulang jam berapa, aku ingin mengajakmu makan malam"
"Aku akan pulang larut, kau makan saja duluan" Kyuhyun sudah mengambil tas kerjanya, meyampirkannya di bahu namun tak segera berjalan pergi ke hotelnya. "Kunci mobilku"
"Oh" Kibum menyerahkan kunci mobil Kyuhyun, namun Kyuhyun masih belum meninggalkan tempat. "Ada yang ingin kau katakan?", tanya Kibum.
Kyuhyun menunggu sesuatu yang sering mereka lakukan dalam seminggu ini, tapi sepertinya Kibum lupa. Atau karena ini di luar rumah, jadi Kibum tak mau melakukannya? Tapi ini kan di basement gedung, tak ada orang disini, apa Kibum masih takut melakukannya? Kyuhyun cuma menunggu sebuah ciuman dijatuhkan ke keningnya, dia sudah mulai terbiasa dengan itu.
"Aku masuk sekarang!" Kibum agaknya lupa, jadi Kyuhyun lebih baik pergi sesegera mungkin. Namun belum jauh melangkah, Kibum memanggilnya lagi. Kyuhyun saking semangatnya langsung menoleh, dan berlajan balik ke hadapan Kibum. Dia merasa Kibum cuma pura-pura lupa memberinya ciuman. "Kau melupakan sesuatu?"
"Ya. Aku perlu memberitahumu bahwa…" Bahwa Kibum mencintainya? Kyuhyun belum siap menerima pernyataan cinta Kibum, tapi dia akan berusaha. "Aku akan ke Jepang besok"
"Hah?"
"Aku akan ke Jepang untuk menghadiri motor show dari Yamaha"
"Kenapa mendadak?", tanya Kyuhyun. Dia tak rela, tapi apa haknya melarang Kibum.
"Tidak mendadak, undangannya sudah datang sebulan yang lalu. Minggu kemarin aku sudah booking tiket dengan Yesung hyung", terang Kibum. Dia kira Kyuhyun akan marah karena memberitahunya terlambat, tapi reaksi yang ditunjukkan Kyuhyun berbanding terbalik dengan yang diinginkan Kibum. Kyuhyun cuma mengangguk-angguk tanda paham. "Kupikir aku perlu memberitahumu"
"Itu kan urusanmu, kau bisa pergi kapan saja kau mau!", jawab Kyuhyun sekenanya. "Aku harus bergegas, pekerjaanku banyak"
Kibum membiarkan Kyuhyun pergi. Dia tak meninggalkan tempat sebelum Kyuhyun masuk ke lift dan liftnya tertutup serta membawa Kyuhyun ke lantai atas. Kibum sedikit kecewa dengan yang barusan, dia pikir akan ada sedikit adegan Kyuhyun memarahinya atau apapun karena Kibum akan pergi besok. Kibum sudah berencana akan mengusulkan Kyuhyun ikut kalau memang Kyuhyun sampai marah padanya, tapi kenyataannya Kyuhyun tak marah. Sepertinya Kibum memang belum mendapatkan apapun selain status suami sah seorang Cho Kyuhyun.
Lil' Bro
Tadi pagi, setelah adu balap lari dengan Chen menuju kelas, Jongin yang menang. Dia sampai dalam kelas lebih dulu dari pada Chen. Disana Jongin langsung berlari ke meja Sehun, namun yang didapatinya adalah Sehun yang asyik dengan novel yang dipinjamkan temannya. Chanyeol, Luhan dan Tao sedang berlutut di sekitaran bangku Sehun. Mereka baru berdiri saat Jongin dan Chen datang.
Jongin melihat tiga kotak martabak itu di atas meja Sehun, seketika dia meraih ketiganya, membukanya satu lalu memakannya. Dia menarik Chen lalu menyerahkan sekotak padanya. Jongin menyuruh Chen untuk memakan martabak itu. Begitu radar pertemanan Chen bereaksi, dia dan Jongin jadi adu makan martabak. Cepat-cepat sampai mereka tersedak, namun terus menjejalkan martabak itu ke mulutnya. Jongin juga membagikan isi kotak lainnya pada teman-teman sekelah yang sedang duduk di sekitaran mereka.
"Heh, kenapa kau makan martabaknya?" Luhan menempeleng kepala Jongin, tapi Jongin berkeras untuk tak merespon. Dia memilih menggunakan tenaganya untuk menelan martabak martabak itu. "Kai!"
"Yah, itu martabak untuk Sehun!", pekik Tao sambil menempeleng kepala Jongin juga.
Chanyeol tak mau tinggal diam. Dia ikut menempeleng kepala Jongin walau tak ikut protes.
"Kalian mau memberikan martabak rasa cinta ini pada Sehun?", kata Jongin setelah berhasil menelan separuh lebih martabak dalam kotak. "Kalian pasti berharap Sehun menerima cinta kalian kan? Kugagalkan rencana kalian!" Jongin mengigit kembali martabak yang tersisa. "Jangan harap Sehun mau menerima kalian!", ucapnya setelah menelan satu gigitannya.
Sehun menyingkirkan novel dari mukanya ketika mengetahui keributan itu menganggunya. Dia melotot pada seantero penghuni kelas, tapi cuma ada lima orang yang bergidik ngeri. Jongin, Chanyeol, Luhan, Tao dan Chen. Sehun melihat martabaknya sudah berpindah tangan dan keadaannya sudah hampir habis, Sehun jadi geram.
"Kenapa kau makan martabakku?", tanya Sehun. Nada suaranya biasa saja, tapi Luhan, Chanyeol dan Tao langsung menyingkir ke belakang Sehun. Mereka memberi jalan Sehun untuk memarahi Jongin. "Mereka belum selesai berlutut karena telat membawakan makanan itu, dan sekarang kau makan!"
"Aku tak mau kau jadi kekasih salah satu dari mereka, Hun!", bela Jongin. "Mereka itu tak pantas untukmu. Mereka itu menyedihkan dan bodoh!
Teman sebangku Sehun tertawa dan berhenti dengan sendirinya. "Lalu siapa yang pantas untuk Sehun? Kau? Bukannya kau sama rusuhnya dengan mereka? Kau juga bodoh, amat sangat bodoh!", kata teman Sehun itu.
"Kau menghinaku?"
"Kau memang bodoh kan?"
"Iya, tapi kau tak perlu menghinaku seperti itu. Lagi pula walau aku ini bodoh, tapi aku tampan", sangkal Jongin. "Kalau aku sudah belajar, aku bisa lebih pintar darimu!", tunjuk Jongin ke muka temannya itu.
"Aku juga!", kata Tao.
"Aku juga!", kata Luhan.
"Aku juga!", kata Chanyeol.
Ok, mereka sama-sama bodoh tapi tampan. Mereka juga bisa pintar melebihi teman sebangku Sehun kalau mereka sudah belajar. Teman sebangku Sehun harus mengingat soal itu.
"Eh, aku juga tampan. Aku juga bisa pintar!" Chen terlambat mengatakannya, dia baru saja menghabiskan sekotak martabak. Dia kesulitan berkata-kata karena butuh air untuk minum.
"Kalau kalian tidak bodoh, kalian tahu kenapa Sehun menyuruh kalian membawa martabak?" Kelimanya menggeleng. "Karena kemarin aku ulang tahun", jawab teman sebangku sehun itu. "Dan kalian bertiga telat membawakannya", marahnya pada Luhan, Chanyeol dan Tao. "Kau, dan kau", tunjuknya yang kali ini pada Jongin dan Chen. "Kalian memakan martabaknya!", pekik teman sebangku Sehun itu. "Hun, mereka memakan martabak kita!"
Sehun menyipitkan sebelah matanya setelah dapat pengaduan dari teman sebangkunya. Sehun menuding tiga anggota genk Jongin untuk berdiri di depannya. Kelimanya sudah berjajar di depan meja Sehun sambil tersenyum kecut. Beberapa detik dipelototi Sehun, lalu kelimanya berlutut dan minta ampun pada Sehun.
Sekarang Sehun sudah digandeng Jongin lagi. Mereka dalam perjalanan pulang sekolah, dalam Taxi. Sebentar lagi sampai ke rumah Kyuhyun. Lima menit dan Taxi sampai depan rumahnya. Jongin membayar lalu mengajak Sehun turun. Sebelum berjalan masuk halaman, Jongin menggandeng tangan Sehun lagi.
"Hun, seandainya ada yang suka padamu bagaimana?"
"Semua orang suka padaku, Kai"
Jongin tahu itu, tapi yang dimaksudkan soal suka yang lain lagi.
"Kalau kau ingin punya kekasih, orangnya harus seperti apa?"
"Yang penting tidak bodoh"
Berarti Sehun menutup kesempatan buat Luhan, Chanyeol dan Tao. Tapi Jongin sendiri kan juga bodoh, jadi kesempatannya juga tertutup kalau begitu. Mau belajar sampai jadi pintar, jelas tidak mungkin. Kepintaran Jongin itu mentok disini sini saja.
"Kalau tampan bagaimana?"
"Tampan tak terlalu penting, yang penting isi otaknya"
Dan sepertinya Jongin tak punya kesempatan. Jadi Jongin harus belajar dulu biar pintar. Tapi berapa lama Jongin harus belajar agar pintar melebihi teman sebangkunya Sehun?
"Seperti Kyuhyun hyung itu, sudah pintar, tampan pula", puji Sehun. Dia melepaskan diri dari gandengan Jongin dan masuk duluan ke dalam rumah.
Jadi sebenarnya saingan terberat Jongin itu kakaknya sendiri? Jongin perlu beritahu Kibum biar tak menceraikan kakaknya. Kalau mereka bercerai bisa-bisa Sehun akan mengejar Kyuhyun. Siwon saja bisa kalah kalau Sehun yang jadi saingannya, kan Sehun tipe orang yang tak mudah menyerah.
Lil' Bro
Kyuhyun pulang larut malam. Hari ini Kyuhyun benar-benar sibuk. Dia mengerjakan laporan-laporan yang dalam seminggu ini tak dikerjakannya. Itupun masih belum selesai dan besok dia masih perlu lembur lagi. Ketika dia masuk kamar, Kibum sudah tidur. Di atas sofa kamarnya ada ransel yang sudah diisi penuh. Ada juga tas tangan yang diletakkan di samping ransel itu. Nampaknya Kibum benar-benar akan pergi besok.
Kyuhyun meletakkan tas kerjanya di atas sofa juga. Dia mengambil piamanya dalam lemari lalu pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, Kyuhyun segera naik ke ranjang, merebah di sebelah Kibum namun tak memejamkan mata. Kyuhyun lebih tertarik memandangi Kibum saat tertidur. Dia berfikir, kenapa Kibum begitu tega pergi ke Jepang dan baru mengatakannya tadi? Berapa lama Kibum akan berada disana? Kalau sampai lebih dari tiga hari, Kyuhyun di rumah dengan siapa?
Dia mendekat pada Kibum, melingkarkan lengannya ke tubuh Kibum. Sambil memandangi Kibum, dia berusaha menghadirkan kantuk. Dia mau tidur di pelukan Kibum sebelum besok ditinggalkan ke Jepang. Besok siang dia akan mengajak Kibum makan siang, untuk menebus makan malam yang tadi ditolaknya. Dia juga berencana mengantarkan Kibum ke bandara. Kyuhyun terlalu banyak berencana untuk besok, bukankah dia harus kerja lembur lagi, jadi mungkin lebih baik dia ke kantor dan makan siang atau makan malam dengan Kibum nanti ketika Kibum sudah pulang.
Kyuhyun bangun tepat pukul tujuh, seperti biasa dia memasang alarm jam tujuh agar tak terlambat ke kantor. Saat Kyuhyun hendak masuk kamar mandi, dia mendengar suara berisik dari luar kamar. Kyuhyun memutuskan keluar sebentar untuk mengeceknya, siapa tahu Kibum sedang butuh sesuatu di luar.
"Kyu, eomma bawakan makanan untukmu" Ternyata Leeteuk yang sedang ada di dapurnya. Tadi Leeteuk menjatuhkan tumpukan tupperware hingga terdengar sampai kamar Kyuhyun. "Sehun masih menginap di rumahmu ya?" Kyuhyun mengangguk. "Kan Kibum ke Jepang, kalau kau tak mau pulang ke rumahmu, kau bisa tinggal di rumah eomma"
"Tidak apa-apa. Aku bisa disini sendiri"
"Jangan begitu, kalau kau butuh apa-apa, siapa yang akan membantumu"
"Tidak akan terjadi apa-apa denganku, Eomma"
"Kau ini sedang hamil, kalau kau di apartemen sendirian selama seminggu, eomma jelas tak tega"
"Seminggu?", Apa maksudnya Kibum akan berada di Jepang selama itu? "Kibum akan pergi selama itu?" Kyuhyun jadi cemas. Seminggu itu lebih lama dari yang dia bayangkan. "Kibum mana, Eomma?"
"Dia bukannya sudah berangkat dari tadi ya? Pesawatnya berangkat pukul lima pagi. Masa dia tidak memberitahumu". Bahkan Kyuhyun mengira Kibum akan berangkat sore hari. Kyuhyun ingin mengajak Kibum makan siang lalu mengantarkannya ke bandara, tapi kenapa Kibum berangkat pagi-pagi sekali. "Kau kenapa, Kyu?"
"Dia tidak bilang padaku akan berangkat sepagi itu", adu Kyuhyun. "Kibum bahkan tak berpamitan padaku saat akan pergi"
"Kau pasti masih tidur, dia tak mau menganggu tidurmu. Tunggu sebentar, dia pasti akan meneleponmu"
"Tapi aku mau makan siang denganya, Eomma. Aku mau mengantarkannya ke bandara"
"Dia sudah berjanji padamu?"
"Tidak, tapi aku menolak makan malam dengannya semalam, jadi aku mau makan denganya siang ini" Kyuhyun seperti orang ling lung. Dia persis orang patah hati, baru saja ditinggalkan kekasihnya dan sepertinya tak akan pernah kembali. "Aku harus makan siang dengannya dulu baru dia boleh pergi"
"Kyu, kau masih bisa makan dengannya setelah dia pulang nanti"
"Tapi seminggu itu lama, Eomma" Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jari di atas meja dapurnya. Kyuhyun sedang cemas, bagaimana kalau Kibum tak kembali? Bagaimana kalau Kibum kembali dengan membawa orang lain? Bagaimana kalau Kibum kembali lalu akan menceraikannya. "Eomma, aku harus mengantar Kibum ke bandara"
"Pesawatnya sudah berangkat, Kyu" Leeteuk prihatin melihat menantunya. Sampai sebegitu cemasnya ditinggal Kibum seminggu saja. "Kyu, kau ikut Eomma ke ruah saja ya!"
"Aku akan bekerja"
"Kau tidak akan fokus bekerja kalau begini terus" Leeteuk mendekati Kyuhyun. Dia berusaha menenangkan menantunya dengan mengelus lengannya. "Lebih baik kau ikut Eomma dulu"
"Aku akan bekerja. Aku akan menunggu Kibum meneleponku. Aku akan menunggu teleponnya"
Kyuhyun sudah hampir gila cuma karena Kibum tak berpamitan padanya. Jepang bukan negara yang jauh, tapi bagi Kyuhyun jauh atau dekat negara yang dikunjungi Kibum tak menjamin membawa Kibum kembali dengan selamat. Dan yang terpenting, tak menjamin Kibum tak bertemu orang lain yang lebih menarik dari Kyuhyun.
"Aku akan bekerja"
"Terserah kau saja. Lebih baik kau mandi dulu, lalu sarapan baru berangkat bekerja" Kyuhyun belum meninggalkan dapur. Dia masih terdiam sambil mengetuk ngetukkan jarinya ke meja. "Aku akan menunggumu disini!". Leeteuk mendorong Kyuhyun masuk kamar dan memaksa Kyuhyun untuk mandi.
Saat Kyuhyun mandi, Kibum menelepon. Leeteuk yang menerima teleponnya. Leeteuk menceritakan keadaan Kyuhyun sekarang, Kibum berjanji akan menelepon lagi kalau Kyuhyun sudah selesai mandi, tapi Leeteuk menyarankan lain. Leeteuk meminta Kibum untuk membawa Kyuhyun ke Jepang. Kalau ada penerbangan lagi di hari ini, Leeteuk akan mengatarkan Kyuhyun ke bandara dan Kibum tinggal menunggu Kyuhyun sampai disana. Kibum menyetujui itu, asal Kyuhyun mau saja.
"Kyu, Kibum baru saja menelepon" Kyuhyun muram, dia tak berminat makan lagi. Kibum sudah menelepon dan bukan dirinya yang mengangkat teleponnya. "Dia akan menelepon lagi"
"Kapan?"
"Sebentar lagi" Telepon apartemen berbunyi lagi. "Itu pasti Kibum"
Kyuhyun segera mengangkatnya, menyapa Kibum dengan suara antusiasnya.
"Ada satu penerbangan ke Jepang sore ini, kalau kau mau kesini aku akan menunggumu di bandara" Kyuhyun tak mengiyakan atau menolak. Dia mau saja kesana, tapi dia punya banyak pekerjaan. Dia perlu kerja lembur. "Tapi kalau kau sibuk, tak masalah" Kyuhyun masih belum memberikan respon, pergi atau tidak? Dia bingung dengan dirinya sendiri, bagaimana dia bisa jadi dilema cuma karena di tinggalkan Kibum. Ada apa dengannya? "Kyu!"
"Hah?"
"Kau mau datang atau tidak?"
"Akan kupikirkan!", katanya dengan tenang, tapi tak setenang kenyataannya. "Aku akan meneleponmu nanti sore"
Kyuhyun mengakhiri pembicaraan dengan Kibum. Dia terlihat baik-baik saja awalnya, namun tiba-tiba dia bergegas ke kamarnya. Dia mencari-cari sesuatu yang membuatnya frustasi saat tak segera menemukannya. Kyuhyun menemukan tas jinjing kecil dalam lemari paling bawah, dia melemparkannya ke ranjang. Kyuhyun berpindah ke lemarinya, mengambil seluruh baju yang dia punya disitu dan dibawanya ke ranjang. Kyuhyun memasukkan baju-baju itu ke tas, tapi usahanya menyumpal-nyumpalkan baju itu tak begitu berhasil. Tas-nya tak muat, dan berakhir beberapa potong baju saja yang masuk tasnya.
"Jam berapa kau akan berangkat?", tanya Leeteuk yang tersenyum sedari tadi melihat kelakuan Kyuhyun.
"Aku akan lihat jadwal penerbangan dulu"
"Aku akan ke dokter kandungan, kumintakan obat agar kandunganmu kuat untuk perjalanan jauh" Kyuhyun mengangguk-angguk saja. Dia sedang terburu-buru membuka laptopnya. Dia mau memesan tiket pesawat. "Kau disini saja, sampai jam keberangkatan nanti"
"Eomma, kau akan mengantarku ke bandara kan?"
"Tentu saja" Tidak mungkin Leeteuk membiarkan Kyuhyun pergi ke bandara sendirian. Kyuhyun dalam keadaan tidak stabil sekarang ini. Kecerobohan orang yang sedang tidak stabil sama seperti kecerobohan anak-anak. Bisa terjadi apapun pada Kyuhyun, dan nanti akan terjadi apa-apa pula dengan calon cucu-nya. Leeteuk tak mau itu terjadi.
Lil Bro
Kyuhyun baru sampai di Jepang. Dia memasukkan paspornya dalam tas sebelum kelaur dari bandara. Kyuhyun melangkah ke kursi tunggu dan meletakkan tasnya disitu. Dia menyalakan handphone-nya bermaksud untuk menelepon Kibum. Percoban pertama Kibum tidak mengangkatnya. Kyuhyun cemas kalau Kibum tak mau datang menjemputnya karena dia tak memberitahukan perihal kedatangannya ke Jepang. Dia kemudian mencoba lagi dan kali ini berhasil, Kibum mengangkat teleponnya.
"Kibum, aku ada di Jepang sekarang. Kau sedang sibuk atau tidak? Kalau kau tak bisa menjemputku, aku bisa naik Taxi ke tempatmu. Berikan saja alamatnya padaku", kata Kyuhyun terburu-buru.
"Siapa bilang aku tak bisa menjemputmu. Aku di kananmu sekarang!"
Kyuhyun menolehkan kepalanya ke kanan. Benar ada Kibum sedang berjalan kearahnya. Padahal Kyuhyun tidak bilang kalau mau datang, tapi Kibum sudah ada di bandara menjemputnya. Apa Eomma-nya yang menelepon Kibum ya?
"Kibum, kau tahu aku datang kesini?", tanya Kyuhyun setelah Kibum dekat dan sama-sama mematikan telepon. "Eomma yang memberitahumu?"
"Tidak", jawab Kibum berbohong. Memang Leeteuk yang meneleponnya. Mengabarkan kalau Kyuhyun perlu dijemput di bandara. "Instingku saja!", katanaya. "Jadi, apa yang membuatmu memutuskan datang kemari?"
"Aku mau makan siang denganmu" Kibum tersenyum simpul. "Aku ingin mengantarkanmu ke bandara, tapi kau berangkat terlalu pagi. Kau tak berpamitan denganku", sesalnya.
"Kalau aku berpamitan, kau tak akan datang kemari" Kibum meraih tubuh Kyuhyun, membawanya kepelukannya untuk beberapa saat lalu melepaskannya. Dia mencium kening Kyuhyun persis seperti Kyuhyun inginkan pagi kemarin. "Kau perlu istirahat. Kuantar kau ke hotel"
Kibum sudah mengangkat tas Kyuhyun, tapi Kyuhyun tak mau bergerak. Dia merasa masih diacuhkan Kibum. Jauh-jauh dia menyusul Kibum ke Jepang dan Kibum mau meninggalkannya di hotel. Demi Tuhan, Kyuhyun tak suka itu.
"Aku tak akan pergi kemanapun. Aku akan tetap berada di kamar. Nanti malam kita dinner dan besok pagi baru ke Yamaha Motor Show"
"Ok, aku ikut denganmu!" Kyuhyun menelusupkan lengannya dan melingkarkannya di lengan Kibum.
Setelah ini mereka bisa dinner bersama tiap malam selama berada di Jepang.
To be continue
See you soon!
