Because Of My Brother's Fault

Kyuhyun, Jongin, Kibum

Sehun, Siwon

Sorry lambat, baru saja backpacking ke lain pulau. Nggak ada duit, jadi jangan tanya oleh-oleh. Tapi kalau kepingin gantungan kunci aja ada. Mau? Ada syaratnya. Jawab pertanyaan berikut.

Coba tebak siapa bias gue (bukan Kyuhyun or Kibum)?

Kalau bener gue kasih gantungan kunci plus gantungan lainnya.

Happy reading!

Kehilangan

"Kau saja yang bilang"

"Kenapa tidak kau sendiri?"

"Aku tidak berani"

"Tapi kau yang menghamilinya"

"Kita sudah bahas ini dari dulu. Itu tidak sengaja. Lagi pula bayinya nanti akan jadi anaknya Kyuhyun hyung dan Kibum hyung"

"Lalu kau akan biarkan Sehun kesana kemari dengan perut besar begitu?"

"Kan belum terlalu kelihatan"

"Iya sekarang, tapi nantinya bagaimana?"

Jongin dan Dasom sedang membahas soal penampilan Sehun saat ini. Bukan Sehun jadi keren atau semacamnya. Sehun sudah keren muka dan tampilannya, tapi soal perut, dia sama sekali tidak keren. Membicarakan soal tidak keren, perut Sehun membuncit. Bajunya yang semula berukuran M sekarang jadi L. Celana yang biasanya ada kancing dan zipper, sekarang Sehun menggunakan celana berkaret. Tapi dari perubahan tidak keren itu, Sehun terus aktif. Dia seperti tak punya lelah. Ada saja yang dikerjakannya sepanjang hari, termasuk soal mondar-mandir demi melakukan hal sepele. Seperti sekarang saat Dasom dan Jongin duduk di sofa sambil mengamati gerak gerik Sehun, Sehun sendiri malah menyusun koleksi pajangan di dalam lemari kaca milik Kyuhyun.

"Ngomong-ngomong, Sehun apa tidak lelah dari tadi mondar-mandir terus?", tanya Jongin mengalihkan pembicaraan awal.

"Sehun makan tiga kali sehari dan dua kali semalam, dia punya banyak kalori untuk sumber tenaganya" Intinya Sehun juga banyak makan. "Dia baru saja request untuk dibuatkan Aglio Olio sebelum tidur"

Jongin menggaruk kepalanya kemudian menggeleng takjub untuk Sehun.

"Apa tidak apa-apa kalau dia banyak tingkah saat sedang hamil?"

"Tidak, karena sekarang usia kandungannya memasuki masa stabil" Jongin mengangguk. "Bahkan diusia kandungan seperti itu, si ibu sudah diperbolehkan berhubungan badan lagi" Kali ini Jongin tak mengerti. Apa Dasom sedang memancingnya? Mengujinya dengan kalimat barusan supaya Dasom bisa menyimpulkan bahwa kejadian hamilnya Sehun itu disengaja atau tidak. "Aku tidak bilang kau boleh menidurinya lagi"

"Aku juga tak berfikir kesana. Aku tak mau ada dua anak di perut Sehun", terang Jongin dengan sok tahunya. "Kyuhyun hyung bisa marah kalau aku menghamilinya doble"

Dasom melirik Jongin. Dia mengekpresikan rasa jijiknya punya majikan bodoh seperti Jongin lewat cengiran. Memang dia sudah terbiasa dengan Jongin yang bodoh, tapi kali ini bodohnya kelewatan. Mana ada orang hamil bisa dihamili lagi? Kalau Jongin bukan adiknya Kyuhyun, dan Kyuhyun itu majikannya, tak sudi Dasom berdekat-dekatan dengan Jongin. Untung juga Jongin sering memberikan sebagian uang jajannya untuk Dasom, jadi Dasom lumayan betah bekerja dekat Jongin.

"Eh, Sehun sudah hamil ya. Pasti tidak bisa dihamili lagi", tutur Jongin melarat perkataannya. "Ini sudah empat bulan, berarti menunggu lima bulan lagi dan anaknya akan lahir. Menurutmu anak itu nanti akan mirip siapa? Kyuhyun hyung atau Kibum hyung?"

"Kalaupun tidak mirip mereka berdua, kuharap tak mirip kau juga!"

"Kenapa? Aku kan tampan", protes Jongin. "Kau tahu, di sekolah aku banyak ditaksir orang. Di jalanpun gadis-gadis cantik terpesona saat aku lewat"

Itu karena mereka tak mengenal Jongin lebih jauh. Mereka tak seperti Dasom yang setiap hari bertemu dengan Jongin. Amit-amit kalau kata Dasom. Seandainya dia punya saudara, anak atau siapapun, tak akan diijinkannya dekat-dekat dengan Jongin. Siapa tahu virus kebodohan Jongin menular, kan berabe kalau ketularan jadi bodoh.

"Pokoknya jangan mirip kau", tolak Dasom. "Kalau mirip kau, aku tak mau membantu mengasuhnya!"

"Kau jahat sekali!"

"Bukan masalah jahat atau tidak, Kai. Ini masalah prinsip" Prinsip untuk tidak melihat Jongin lain selain yang ada di dekatnya saat ini. Satu Jongin saja kadang membuat sakit kepala, apalagi ada dua Jongin. "Lagipula kalau anak itu mirip denganmu, siapapun tak akan percaya kalau itu anaknya Tuan Kyu dan Kibum"

"Kau benar. Jadi bagaimana agar anaknya nanti tak mirip denganku?"

"Jangan biarkan Sehun membencimu"

"Sehun tak benci padaku"

Dasom mendecih. Jelas-jelas Sehun sering anti dengan Jongin. "Dia kadang-kadang benci padamu. Kudengar orang hamil tak boleh membenci orang lain atau anaknya akan mirip yang dibencinya"

"Jadi aku harus bagaimana agar Sehun tak membenciku?"

"Turuti semua yang diminta Sehun"

"Kan sudah!"

"Belum. Barusan kubilang Sehun minta Aglio Olio sebelum tidur kan?" Jongin mengangguk. "Belikan untuknya"

"Tidak ada restoran Italy dekat sini"

"Pergilah lebih jauh. Kudengar restoran Itali favoritnya Tuan Kyu itu masakannya enak-enak. Coba kau kesana!" Bukannya segera beranjak, Jongin cuma menggaruk dagunya. "Kenapa? Kau tak ingin menyenangkan Sehun?" Jongin menggeleng. "Kau tak ingin dibencinya kan?" Jongin menggeleng lagi. "Lalu?"

"Apa harus? Restoran itu jauh sekali, aku kesana naik apa?" Jongin menggaruk dagunya lagi. Dia masih gamang untuk keluar malam-malam begini. Bukan Jongin tak mau, tapi dia sangat capek hari ini. Jadi bodyguard Sehun, ternyata menguras tenaga juga. Sehun kan banyak tingkah akhir-akhir ini, sedangkan Jongin sendiri kurang istirahat demi menjagai Sehun.

"Seharusnya kau punya kendaraan sendiri biar kemana-mana tak capek seperti ini" Kyuhyun dan Jongin itu kaya, tapi entah kenapa Jongin tak pernah punya inisiatif untuk meminta dibelikan kendaraan oleh Kyuhyun. "Coba lain kali kau minta Tuan Kyu membelikanmu motor atau mobil sekalian. Kalau alasannya untuk mengantar jemput Sehun, permintaanmu pasti akan dipertimbangkan" Kalau Jongin punya mobil sendiri, kemana-mana Dasom bisa nebeng juga.

"Benar juga. Ingatkan aku untuk meminta mobil pada Kyuhyun hyung", kata Jongin setuju dengan usul Dasom. "Aku akan ambil uang dulu. Kau mau kubelikan pasta juga, tidak?"

Nah itu juga yang ditunggu Dasom. Sebodoh bodohnya Jongin sebagai majikan, dia tidak pelit.

"Boleh juga. Aku mau yang original"

Lil' Bro

Kenyataannya Kibum mencintai mesin lebih dari apapun di dunia ini.

Kyuhyun setengah menyesal menyusul Kibum ke Jepang. Malam pertama dunia terasa milik mereka berdua. Mereka dinner, jalan-jalan, belanja, tidur bersama sampai melakukan kegiatan malam yang absent beberapa hari ini. Semuanya indah malam itu, namun keindahannya tak berbekas setelah pagi tiba. Kibum memang mengajak Kyuhyun kemanapun dia pergi, tapi tak pernah sekalipun Kyuhyun dianggap saat mereka sampai di tempat pameran. Kibum mengagumi semua benda yang dipajang di setiap jengkal ruang pameran. Mulai dari ban hingga yang paling kecil, busi. Kyuhyun berani bertaruh, kalau ada model seksi telanjang berlenggokan di ruangan itu, tak satupun orang akan meliriknya, termasuk Kibum. Karena pegas racing yang jelas-jelas keras dan dingin bisa lebih seksi di mata Kibum.

Hari kedua di tempat pameran, Kibum dan Yesung membeli banyak barang. Kyuhyun menyembunyikan dompet Kibum, agar di hari ketiga dia tak bisa beli apapun lagi. Kibum kehilangan dompetnya tetap bisa membeli dengan uang milik Yesung. Hari berikutnya Kyuhyun juga menyembunyikan dompet Yesung, namun uang Kyuhyun yang digunakannya untuk belanja. Karena keberadaan Kyuhyun hampir tak dianggap, terbesit di kepalanya untuk membubarkan pameran yang diadakan selama seminggu itu. Untungnya cuma berwujud keinginan saja, Kyuhyun juga tak sudi dipenjara hanya karena membuat keributan di pameran onderdil motor.

Ini hari terakhir mereka di Jepang. Kibum berjanji menemaninya kemanapun sebelum sore nanti kembali ke Korea, tapi setengah siang begini Kibum belum bangun. Kyuhyun kesal setengah mati, namun tak sudi membangunkan Kibum yang tertidur di sofa depan.

"Kau tak bangunkan aku?" Kibum memasuki kamar dan meletakkan piston yang semalam dipeluknya tidur. Dia menempatkannya hati-hati di atas sofa kamar hotel mereka. "Hari ini kau mau kemana?"

"Memangnya aku terlihat sedang bersiap-siap pergi?", tanya balik Kyuhyun ketus.

Kibum naik ke ranjangnya dan merebah di sebelah Kyuhyun. Kyuhyun sendiri sedang sibuk mengutak atik laptop Kibum. Dia sedang membuka emailnya, terhubung dengan manager hotel resto dan KK Mart untuk memonitor dua perusahaan itu.

"Kau tak ingin beli apa-apa sebelum kita pulang?", tanya Kibum lagi setelah menguap lebar.

"Tidak"

Kibum menarik selimut untuk menyelimuti dirinya sendiri. "Kau tak ingin jalan-jalan dan makan di luar?"

"Tidak"

"Kita masih akan pulang nanti sore, masih punya waktu untuk berjalan-jalan. Kita sedang di Jepang, sayang sekali kalau dilewatkan"

"Aku bisa kesini lain waktu"

Kyuhyun sedang merajuk. Dia mengabaikan Kibum dan pura-pura sibuk dengan pekerjaannya

"Kyu"

"Oya, sampai di rumah kau harus mengganti uangku. Uang untuk belanja onderdil itu, uang tiket pesawat, uang belanja kemarin malam juga"

Bicara soal uang, Kibum dan Yesung belum menemukan dompetnya. Dia jadi teringat untuk memblokir kartu kreditnya sebelum digunakan orang yang menemukannya dan tak bertanggung jawab.

"Kau juga perlu memberiku uang untuk membelikan parfum titipan Eomma"

"Dompetku hilang. Bahkan aku belum sempat memblokir kartu kreditku"

"Dompetmu dan dompet Yesung hyung ada di tasku" Kibum yang ingin memejamkan mata menundanya dan memutuskan melirik pada Kyuhyun. "Aku masukkan dompet kalian disitu"

"Kau menyembunyikannya?"

"Tidak", dalih Kyuhyun. "Aku menemukannya lalu kumasukkan tasku sebelum kuberikan pada kalian, tapi aku lupa" Kyuhyun memandang balik pada Kibum "Kau pikir aku berbohong? Untuk apa aku menyembunyikan dompetmu? Aku juga punya uang sendiri kalau ingin membeli apa-apa"

"Aku tidak bilang begitu" Kibum menarik pucuk kaos Kyuhyun. "Ya sudah kalau dompetku ada padamu. Nanti kuganti uangmu beserta semua yang ingin kau beli" Kibum kembali menarik-narik ujung kaos Kyuhyun. Dia mau Kyuhyun meninggalkan laptopnya lalu beralih padanya. "Kyu!"

Kyuhyun melirik Kibum sejenak tanpa menyahut.

"Singkirkan laptopnya", pinta Kibum. "Kalau kau tak mau keluar, kita tidur sajalah. Jangan bekerja terus"

"Aku sudah tidak bekerja selama berhari-hari. Banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan di kantor karena aku kemari"

"Jadi maksudnya kau menyesal kemari?"

"Sangat menyesal"

Kyuhyun sangat menyesal karena kehadirannya di Jepang dikalahkan oleh onderdil motor di pameran. Kyuhyun sangat menyesal karena di Jepang dengan Kibum bukannya untuk senang-senang tapi diacuhkan.

Kibum bangkit. Dia meraih laptop di pangkuan Kyuhyun dan menyingkirkannya. Kibum menarik Kyuhyun merebah setelah meletakkan laptop itu di meja disampingnya.

"Lain kali tak akan kusuruh kau menyusulku", kata Kibum sambil merangkul Kyuhyun di pembaringan. "Katakan apa yang harus kulakukan untuk menebusnya!"

"Tidak ada!", jawab Kyuhyun. Dia menyerah lagi pada Kibum. Dipeluk Kibum adalah suatu hal yang sanggup meluluhkan segala kemarahannya. Kyuhyun hanya butuh berpura-pura merajuk karena tak pernah dianggap ketika Kibum berhadapan dengan dunia mesin. "Ganti saja uangku, beserta bunganya kalau kau tak keberatan"

Kyuhyun memasukkan badannya dalam selimut yang sama dengan Kibum. Moodnya untuk jalan-jalan sudah hilang, setidaknya dengan menghabiskan hari ini tiduran dengan Kibum akan lebih baik dari pada jalan-jalan. Hampir seminggu mereka sama-sama di Jepang, dan baru sekali mereka tidur seranjang. Diawal kedatangan Kyuhyun itu, selebihnya Kibum lebih memilih tidur dengan piston Yamaha berteknologi baru yang dibelinya di pameran. Dan dari pada harinya terbuangan percuma untuk jalan-jalan, lebih baik diam di kamar dengan Kibum.

"Kibum, usia kehamilan Sehun sekitar tiga empat bulan. Perutnya sudah pasti membesar" Kibum mendengarkan dengan meraba perut Kyuhyun. Perut Kyuhyun rata. "Eomma tahunya aku yang hamil, Eomma pasti curiga"

"Sehun harus terus bersembunyi. Di rumahmu aman. Eomma tak akan pergi kesana cuma untuk bertemu Sehun" Kibum masih meraba perut Kyuhyun. "Kita yang akan jadi orang tuanya nanti, jadi biarkan Sehun dan Kai menghindar dari Eomma"

"Justru itu masalahnya. Perutku tak jadi besar dan tak akan pernah membesar"

Kibum mengelus kembali perut rata Kyuhyun. "Kau tak bisa hamil?" Kibum tersenyum kecut ketika Kyuhyun mengenyahkan tangan dari perutnya. Kyuhyun lalu melengos menghindari perhatian Kibum. "Kau bisa menyumpalkan apapun agar perutmu terlihat besar. Cukup di depan Eomma saja" Toh Kibum tak berani berharap banyak. Hubungannya dengan Kyuhyun memang suami istri, tapi bukan untuk selamanya.

Kalau memang Kyuhyun bisa hamil, dia mungkin sudah menikah dengan Siwon. Dia pernah bermimpi punya keluarga, punya anak dengan Siwon dan hidup dengan kekasihnya itu. Pada kenyataannya dia memang bukan namja yang bisa hamil. Selain permasalahan Siwon yang belum pernah bertemu kakek neneknya, dia juga tak punya masa depan bagus kalau menikah dengan namja itu. Siwon anak tunggal dan orang tuanya jelas menginginkan cucu kandung darinya. Maka dari itu Kyuhyun lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya, dan mengurusi Jongin, seperti amanat orang tuanya.

"Ya, aku namja. Jelas tak bisa hamil"

"Bisa hamil atau tidak, kau akan tetap punya anak setelah ini"

Meski Sehun namja dan sekarang juga hamil, Kibum tak mau membahas itu. Kibum juga ingin bilang, kalau dia bisa menerima Kyuhyun walaupun dia tak bisa hamil. Kibum ingin pernikahannya bertahan, tapi mengingat pernikahan mereka cuma untuk menyelamatkan adik-adik mereka dan juga Kyuhyun telah memiliki kekasih, tampakknya egois sekali kalau Kibum menghalangi kebebasan Kyuhyun. Bisa menjadi suami Kyuhyun untuk sembilan atau sepuluh bulan kedepan saja sudah lumayan. Kibum akan coba memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya.

"Aku akan berusaha jadi ayah yang baik", kata Kibum sambil kembali meraih Kyuhyun ke rengkuhannya. "Akan jadi suami yang baik" Lalu membawa Kyuhyun ke dadanya.

Walau terdengar mengada-ada, Kibum serius seumpama ada kesempatan.

"Memang itu tugasmu", jawab Kyuhyun sambil melingkarkan tangannya ke badan Kibum. "Selama Jongin belum bisa bekerja, aku akan sangat sibuk. Aku punya dua perusahaan yang harus kuurus. Setelah anak kita lahir, kau bisa mengurusnya saat aku bekerja"

"Aku juga bekerja", balas Kibum. "Lagipula mana ada ayah merawat bayi, itu tugas ibu. Kau kan bisa bawa dia ke kantormu"

Kyuhyun berdecak sebal. Mana bisa mengajak bayi bekerja, nanti mengganggu konsentrasinya. "Kau bilang mau jadi ayah yang baik"

"Memang, tapi aku tidak bilang akan merawat bayinya. Dia kan anakmu!"

"Dia juga anakmu!"

"Iya, tapi tidak harus aku yang merawatnya" Kibum belum pernah menyentuh bayi sebelumnya, jelas dia tak tahu sama sekali cara mengurus bayi. "Begini saja, aku mengurusmu, kau yang mengurus bayinya!"

Kyuhyun melirik tajam pada Kibum walau Kibum telah menjatuhkan ciuman di dahinya. Kyuhyun tak terima, kenapa dia harus bersusah susah mengurus anaknya Kibum kalau bekerja mencari uang lebih menyenangkan?

"Aku jadi suami yang bertanggung jawab", tutur Kibum sekali lagi. "Nanti kalau bayinya sudah besar, aku akan mengajarinya merakit mesin. Kuajari otomotif" Kibum merambatkan sebelah tangannya ke perut Kyuhyun. Mengelus perut rata itu lagi sambil menganggap bila memang ada calon anak mereka disitu. "Kau bisa mendanainya untuk mendirikan perusahaan motor. Dan aku akan mencarikannya relasi bisnis"

Sementara Kyuhyun harus menjadi ibu, merawat bayinya, lalu Kibum akan mengambil alih anaknya saat sudah besar. Kyuhyun yang merelakan waktu dan Kibum menyabotase masa depan anaknya. Harusnya, siapa yang mengasuh, dialah yang pantas menentukan masa depan anaknya. Seperti Kyuhyun menginginkan anaknya jadi penerusnya. Menjadi pembisnis, meneruskan perhotelan yang dikelolanya sekarang.

"Tidak, dia akan jadi pembisnis. Dia akan mengelola restoran dan hotel denganku"

"Di bidang otomotif itu juga bisnis"

"Tapi tidak akan kubiarkan dia berkutat dengan oli, aki, busi dan teman-temannya" Belajar dari kejadian minggu ini, Kibum mengacuhkannya karena barang-barang tersebut, bukan tidak mungkin anaknya akan sama seperti itu. "Dia akan lebih bersih kalau bekerja di kantor"

"Aku kan ayahnya, keahliankulah yang harus diturunkan padanya"

Kyuhyun menggeleng tak setuju.

"Kalau begitu kita buat dua anak" Kibum melarat. "Tiga atau empat lebih bagus. Akan banyak yang membantu kita mencari uang"

"Aku tidak mau merawat banyak anak. Kecuali kau mau merawatnya, terserah kau mau berapa anakpun"

Benar juga. Punya banyak anak kalau sudah besar tidak perlu dijagai lagi, tapi saat masih kecil akan sangat merepotkan. Mungkin mereka perlu babysitter dan nanny. Beli rumah yang lebih besar dan pembantu yang banyak. Kalau semua itu benar akan terjadi, berapa banyak pengeluaran Kibum tiap tahunnya? Kyuhyun tak mungkin mau mengeluarkan uang secara cuma-cuma walau itu untuk kebutuhannya sendiri, jadi Kibum akan menanggung semuanya. Sayang sekali uang banyak dihabiskan untuk hal-hal seperti itu, bagi Kibum hal yang bermutu itu adalah memperbesar bengkelnya dan membuat cabang dimana-mana, bukan rumah besar dengan banyak pembantu.

"Bagaimana kalau Dasom yang merawat anak-anak kita?" Kyuhyun menghela nafas di pelukan Kibum. "Dia hebat dalam banyak hal" Tapi untungnya hanya Kyuhyun yang hebat dalam menahklukan hati Kibum. "Kita tinggal di rumahmu dan biarkan Sehun dan Kai tinggal di apartemenku. Tambahkan satu asisten rumah tangga untuk membantu Dasom. Kita bisa punya empat anak tapi tetap bebas bekerja" Ini lumayan irit, tidak perlu beli rumah besar dan menggaji pembantu yang banyak.

"Terserah kau sajalah, asal kau yang membayar semuanya!"

Kibum sedang mengkhayal dan Kyuhyun juga. Ini cara mereka menghabiskan hari terakhir di Jepang. Kalau menganggap ini honeymoon, harus dihiasi dengan yang manis-manis. Kibum bisa mengajak Kyuhyun makan siang nanti atau jalan-jalan di detik-detik sebelum berangkat ke bandara, tapi Kibum tak memilih itu semua. Dia mau mengajak Kyuhyun membuat satu anak lagi, dua lainnya bisa dilakukan di Korea.

Kibum mengangkat tubuhnya sendiri. Dia merayap naik ke atas Kyuhyun, memaksakan bibirnya agar diterima Kyuhyun di setiap inci kulit mukanya. Dan dia juga berusaha mengenai bibir Kyuhyun.

"Jangan menciumku, kau belum mandi!"

"Buat anak dulu baru mandi!"

"Yang benar saja. Kau bau, Kibum!"

Saat itu handphone Kyuhyun bergetar. Itu kesempatan Kyuhyun menghidar dari Kibum. Kyuhyun menjulurkan tangannya meraih handphone-nya, tapi Kibum merebutnya dan menjawab panggilan.

"Kyu, aku terlambat bangun. Kau dan Kibum sedang jalan-jalan ya? Dimana? Aku akan menyusul kalian secepatnya" Itu suara Yesung.

"Aku sedang di kamar, Hyung", terang Kibum.

"Kalian menungguku?"

"Tidak, kita tak jadi jalan-jalan. Lain kali saja kalau kesini lagi" Kibum mendengar Yesung ber'Oh' ria di seberang. "Aku dan Kyuhyun mau buat anak lagi"

"Kalian kan sudah mau punya anak"

"Aku mau empat anak, jadi harus sering-sering buat". Kibum meringis saat Kyuhyun menoyor kepalanya. "Kyuhyun menungguku, Hyung!"

"Baguslah kalau begitu, aku bisa tidur lagi!" Yesung agaknya memang terpaksa bangun karena sudah janji jalan-jalan dengan Kibum dan Kyuhyun hari ini, tapi karena sahabatnya merubah rencana, dia bisa melanjutkan tidurnya. "Kibum, bangunkan aku dua jam sebelum berangkat ke bandara"

"Ok!"

Lil' Bro

Jongin terbangun ketika mendengar jeritan keras dari arah kamarnya. Masih merasakan pusing efek bangun mendadak, Jongin memutuskan bergegas mendatangi kamarnya. Disana ada Sehun, tentu saja teriakan barusan itu suaranya. Dengan Jongin didapuk jadi penjaga Sehun, kalau ada apa-apa dengannya Jongin yang harus menanggung.

Ketika Jongin keluar kamar tamu yang ditempatinya, Dasom menyalip pergerakannya. Asisten rumah tangganya itu tergopoh berlari dari dapur. Dia terlihat cemas, dan kecemasan itu segera menular pada Jongin.

"Dasom, ada apa?"

Dasom menghentikan larinya. Dia menggeleng. "Aku tidak tahu. Ayo lihat dia!"

Keduanya bersamaan berjalan cepat ke arah kamar yang dihuni Sehun. Tak reda rasa cemas mereka, tambah cemas lagi ketika mendapati Sehun meringkuk, menggeliat dan mengerang di atas kasurnya. Sehun menekan bawah perutnya, seakan menahan pergerakan bayinya yang mendorong ingin keluar. Sehun kesakitan, dia meremat dan kadang memukul-mukul kasurnya.

"Sehun, kenapa? Ada apa denganmu?", tanya Jongin bersama dengan Dasom yang panik setelah mendekati Sehun. "Hun?"

"Ada apa dengan perutmu?", tanya Dasom sama tak mengertinya dengan Jongin.

"Perutku sakit!", desis Sehun kemudian diikuti teriakan memilukan. "Perutku sakit!", katanya sekali lagi.

Sehun hamil masih empat bulan, perutnyapun masih kecil, tidak mungkin itu tanda-tanda melahirkan. Pasti ada yang salah dengan bayinya, atau mungkin Sehun masuk angin, kecapekan atau kelaparan sehingga bayinya marah lalu menyakiti Sehun dari dalam?

Sehun mengerang lagi dan lagi. Dia menunjukkan kesakitan yang amat sangat sedangkan Jongin dan Dasom cuma bisa bertanya. Ada apa? Kenapa? Sakit yang mana? Apa yang bisa mereka lakukan? Kemudian Dasom memutuskan menelepon rumah sakit agar dikirimkan ambulan. Jongin menemani Sehun selama ambulan itu belum datang.

Dan mereka berakhir di rumah sakit.

"Apa dia akan baik-baik saja?"

Jongin tak mengerti apapun kali ini. Dia merasa tak terjadi apa-apa pada Sehun sebelumnya, harusnya hal seperti ini tak terjadi juga. Sehun dalam keadaan baik setelah mereka bertiga pulang dinner dari restoran Italy tadi malam. Sehun makan banyak, dia juga terlihat sangat bersemangat ketika itu, tapi kenapa hal seperti ini terjadi? Adakah yang salah dengan perlakuan Jongin pada Sehun sehingga mengakibatkan kesakitan yang demikian?

"Aku tak tahu"

Dasom juga sama tak mengertinya dalam hal ini. Dia menyarankan Jongin membeli makanan pesanan Sehun di restoran tapi berakhir mereka bertiga pergi ke restoran itu dan dinner disana. Semua baik-baik saja. Mereka berangkat, makan dan kembali pulang dalam keadaan aman. Sehun tidur juga paling awal dari Jongin dan Dasom, tak ada tanda-tanda kesakitan apapun saat itu.

Melihat Sehun kesakitan di perutnya, Dasom hampir menebak kalau ada yang salah dengan bayinya. Apa bayinya kecapekan di dalam sana? Apa bayinya berontak, tak mau terus berada di dalam perut Sehun? Dan bagaimana kalau itu benar terjadi lalu keselamatan Sehun terancam karenanya? Namun Dasom menepis pemikiran itu, dia memilih berpikiran positif. Mungkin saja Sehun cuma sakit perut biasa dan akan sembuh setelah diobati dokter.

"Apa kita perlu menelepon Kyuhyun hyung dan Kibum hyung?"

Dasom menggeleng. "Mereka akan pulang sore ini" Dasom menepuk kursi di sebelahnya. Dia mau Jongin duduk dan bicara soal kemungkinan terburuk pada majikannya itu. "Kalau terjadi hal buruk, kita perlu menelepon orang tua Sehun", kata Dasom lemah.

"Untuk apa?"

"Untuk meminta ijin pada mereka"

Jongin menggeleng tak paham. "Ijin untuk apa?"

Dasom tak mau melanjutkan sekarang. Dia menjernihkan pikirannya untuk beberapa saat, lalu bertekat menutup mulutnya hingga dokter menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

"Biasanya dengan kehadiran orang tua, seorang anak akan lebih cepat sembuh", jawab Dasom mengalihkan ke segi positif tinking. "Atau kita perlu menunggu Kibum dan Tuan Kyu pulang saja. Mereka akan lebih tahu dan bisa mengatasi situasi yang seperti ini. Ini kan tentang Sehun dan calon anak mereka"

Jongin mengangguk, walau masih ragu dengan jawaban Dasom tapi dia setuju dengannya.

"Sehun akan baik-baik saja", kata Dasom sambil menepuk nepuk punggung Jongin.

Mereka menunggu hingga setengah jam kedepan baru ada seorang suster keluar dari ruang periksa Sehun. Jongin dan Dasom menghentikan suster itu, meminta sedikit bocoran tentang keadaan Sehun di dalam. Suster itu tersenyum ramah, menjawab sebisanya namun tak memberikan kepastian untuk Dasom dan Jongin sendiri.

"Dokter masih memeriksanya"

"Kami sagat berharap dia baik-baik saja suster"

"Kami berharap juga begitu", jawab suster itu masih dengan keramah tamahannya. "Maaf saya harus segera pergi!"

"Tapi suster, tolong dia. Selamatkan dia!", pinta Dasom. "Katakan pada dokter untuk menyelamatkannya!", pinta Dasom lagi.

Dasom sedih, dia cemas lebih dari yang Jongin lihat. Dasom seorang wanita, dia tahu hal seperti ini selalu berhubungan dengan pertaruhan. Pertaruhan hidup dan mati. Maka dari itu dia perlu membuat permintaan khusus untuk menyelamatkan Sehun dan bayinya.

"Akan saya sampaikan!", kata suster itu sebelum berpamitan dan pergi meninggalkan keduanya.

"Sehun akan baik-baik saja, kan?", tanya Jongin sekali lagi.

"Ya!", jawab Dasom mantap.

Lil' Bro

"Mana tasmu?"

"Belum keluar"

Kyuhyun duduk di atas kopernya, sedangkan Kibum dan Yesung masih menunggu ranselnya datang. Bagaimana bisa koper Kyuhyun keluar lebih dulu sedangkan ransel kecil milik Kibum belum kelihatan sedari tadi. Kyuhyun capek menunggu-menunggu terus. Tadi dia harus menunggu Kibum dan Yesung di ruang tunggu bandara sedangkan Kibum menemani Yesung berbelanja oleh-oleh untuk Ryeowook. Kyuhyun menunggu juga di dalam pesawat, sedangkan Kibum malah berbincang dengan teman baru yang akan ke Korea. Dia bahkan hampir berpindah ke kursi kosong dekat teman barunya itu seandainya Kyuhyun tak mencegahnya. Dan sekarang, dia menunggu lagi demi sebuah ransel kecil milik Kibum. Kenapa Kyuhyun harus sering menunggu apapun yang berhungan dengan Kibum. Jangan-jangan dia harus menunggu juga untuk sebuah cinta dari seorang Kibum. Repot sekali berurusan dengan mahkluk satu itu. Untung Kyuhyun tidak berharap dicintai Kibum, kalau tidak dia pasti harus menunggu lagi.

"Dari tadi aku harus menungu menunggu terus", protes Kyuhyun. "Aku mau pulang dan segera ke kantor. Pekerjaanku banyak, Kibum"

"Sabar sedikit, Kyu. Kau itu menunggu tas keluar saja sudah protes", timpal Yesung membela sahabatnya. "Jangan-jangan kau protes juga kalau Kibum pulang terlambat"

"Tidak. Pulang atau tidak itu bukan urusanku"

"Yang benar saja. Kemarin ketika Kibum lembur, kau sampai harus meneleponnya. Sampai datang ke bengkel dan tidur disana juga", terang Yesung. "Apa benar kau tak mempermasalahkan kalau Kibum pulang terlambat?"

"Tidak", jawab Kyuhyun tegas.

"Setelah ini aku dan Kibum akan sering ke luar negeri. Kau yakin tak masalah walau kita sering pulang terlambat?"

Kyuhyun mengernyit sejenak namun kemudian memutuskan mengacuhkan pertanyaan Yesung. "Tidak. Asal Kibum tidak berselingkuh"

"Aku tidak akan berselingkuh!", tegas Kibum sebelum berjalan ke sisi lain tempat untuk mengambil tas-nya yang sudah keluar. "Terlambat dan berselingkuh itu tidak ada hubungannya", katanya setelah kembali kehadapan Kyuhyun dan Yesung.

Kyuhyun menarik sudut-sudut bibirnya. Merasa bahagia atas pernyataan Kibum. Memang begitu sikap yang benar. Seseorang yang sudah berkeluarga, tidak seharusnya berselingkuh. Hina sekali kalau hal itu sampai terjadi. Kibum kan suaminya, otomatis Kyuhyun punya hak untuk melarang Kibum berselingkuh.

"Ayo pulang!" Kibum memakai ranselnya lalau menarik koper milik Kyuhyun. Kyuhyun sendiri cuma membawa tas kecil milik Kibum kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Kibum. "Kau cari tasmu lalu segera menyusul, Hyung!"

"Ya, duluan saja. Aku akan menunggu tasku sekaligus cari selingkuhan", kata Yesung sambil terkekeh melihat Kyuhyun mencibirnya.

Kibum dan Kyuhyun meninggalkan Yesung. Mereka berjalan duluan untuk keluar badara.

"Kau mau makan malam dulu?"

"Tidak usah. Kita makan di rumah saja"

"Makan apa di rumah? Kita tak bisa memasak selain mie instan"

"Kalau begitu makan mie instan saja"

Kibum ikut. Kyuhyun masih dalam keadaan mood buruk sejak dibiarkan menunggu tadi. Kibum tak mau menambah keburukan itu dengan berdebat dengannya.

"Kau masih akan pergi ke hotel, malam begini?"

"Ya. Aku ada janji dengan Donghae"

"Mau kuantar?"

"Tidak usah. Nanti Donghae menganggapmu selingkuhanku lagi" Kyuhyun juga tak mau kejadian ketika kemah waktu itu terulang. Meski tak sempat terjadi apapun pada Kibum dan Donghae, Kyuhyun masih sangsi kalau Kibum dan Donghae bertemu kembali. Siapa tahu, Donghae menarik bagi Kibum, lalu Kibum lebih memilih sahabatnya itu. "Kau di rumah saja"

"Semua orang sudah tahu kalau aku ini suamimu, kenapa tak kau beritahu dia juga"

Ide yang bagus, tapi bagaimana tanggapan Donghae kalau mengaitkannya dengan Siwon? Siwon masih sah jadi kekasihnya sampai saat ini.

"Tidak. Donghae tahu aku sudah punya kekasih. Kalau dia kuberitahu kita sudah menikah, aku akan dianggap menghianati kekasihku", terang Kyuhyun. "Dia mengenal kekasihku"

Kibum tersenyum kecut. Dia lupa soal itu. Dirinya dan Kyuhyun bukan menikah betulan.

Kibum menarik lengannya dari dalam lingkaran lengan Kyuhyun. Dia juga menyerahkan koper pada pemiliknya. "Nanti aku akan di rumah saja. Aku lupa ada sesuatu yang ingin kukerjakan juga"

"Kau mau kemana?", tanya Kyuhyun yang melihat Kibum melangkah mundur dua langkah.

"Aku ke toilet. Kau tunggu di depan, tidak akan lama", pamit Kibum sambil melangkah mundur dua langkah lagi.

"Aku ikut ke toilet"

"Tidak usah. Aku cuma sebentar. Aku juga janji tak akan berselingkuh di toilet", kata Kibum sambil menyengir. "Tidak akan lama!", pamitnya sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan pergi.

Kyuhyun keluar duluan, menunggu Kibum dan Yesung di depan bandara. Nyatanya cuma sebentar, bahkan belum ada dua menit pergi pundak Kyuhyun sudah ditepuk. Mungkin Kibum berubah pikiran lalu mengajak Kyuhyun sekalian ke toilet. Tapi ketika Kyuhyun menoleh, bukan wajah Kibum yang dijumpainya, namun Siwon. Kyuhyun tersenyum paksa karena sesuatu yang tak diharapkannya datang terlalu tiba-tiba.

"Hyung, sedang apa kau disini?"

Siwon tidak segera menjawab. Dia menjatuhkan tasnya kemudian berpindah untuk memeluk Kyuhyun. "Aku merindukanmu, Kyu!" Dia menyempatkan mencium kening Kyuhyun disela-sela pelukannya. "Aku baru dari Cina. Kan aku sudah bilang padamu kalau aku kesana, kau juga tak mau kuajak kan?"

Kyuhyun ingat dia menerima telepon dari Siwon ketika ada di pameran onderdil. Siwon bilang akan ke Cina bertemu klien, dan dia menelepon Kyuhyun agar ikut serta, tapi Kyuhyun menolak tanpa memberi alasan.

"Aku yang harusnya tanya, sedang apa kau disini? Kupikir kau mau menjemputku, tapi melihat kau juga bawa koper, kau pasti baru bepergian juga"

"Aku dari Jepang menemui klien juga"

Ketika Siwon menjatuhkan ciuman lagi ke keningnya, Kyuhyun melihat siluet Kibum berdiri di kejauhan. Dia sepertinya enggan untuk datang, namun terpaksa berjalan juga mendekati keduanya. Kyuhyun segera melepaskan diri dari Siwon, dia berharap semua akan baik-baik saja setelah ini. Semoga Kibum cuma lewat di sampingnya, pura-pura tak mengenalnya agar tak perlu ada interaksi antara Kibum dan Siwon. Dan dia bisa jelaskan soal ini pada Kibum nanti.

Kibum mendekat dan sesuai harapan Kyuhyun, dia hanya lewat pura-pura tak mengenali keduanya. Namun harapan itu musnah ketika Siwon memanggil Kibum. Kibum yang sempat pura-pura tak dengarpun terpaksa berhenti karena Siwon terus memanggilnya dengan suara keras.

"Kibum, kau dari mana?". Tanya Siwon sambil menggandeng Kyuhyun mendekat.

"Dari Jepang?"

"Benarkah? Kekasihku juga dari sana. Perkenalkan ini Kyuhyun, kekasih yang keceritakan dulu", Siwon dengan bangga menunjukkan Kyuhyun pada Kibum. "Kyu, ini temanku, yang memodifikasi motor yang kugunakan untuk memboncengimu dulu"

Kyuhyun dan Kibum saling pandang dan berakhir dengan saling senyum dan saling tunduk.

"Ada apa di Jepang? Apa tentang onderdil motor lagi?"

"Ya, pameran produk baru Yamaha"

"Kau beli beberapa kan?" Kibum mengangguk. "Aku akan melihatnya nanti, kalau aku suka kau bisa pasang di motorku" Kibum mengangguk lagi. "Oh ya, aku meninggalkan mobilku di parkiran bandara, kau mau sekalian kuantar pulang?"

"Tidak usah. Aku dengan Yesung hyung"

"Yesung hyung ikut juga? Sekalian saja kuantar kalian berdua pulang. Ngomong-ngomong aku juga mau memperkenalkan Kyuhyun pada Yesung hyung. Dia dulu ingin sekali melihat Kyuhyun"

"Tidak usah sekarang. Yesung hyung sudah memesan taxi dan sedang menungguku"

"Begitu ya!", sesal Siwon.

Kibum cuma mengangguk. Dia tak bisa bicara apa-apa lagi. Baru tahu kalau Kyuhyun itu kekasih Siwon, rasanya seperti dia menjadi perebut kekasih orang. Siwon itu juga temannya walau bukan sahabat akrab. Dia sering mendengar Siwon mengatakan sangat mencintai kekasihnya, ingin sekali melamar dan menikahinya. Dia sangat bangga pada kekasihnya dan berharap bisa hidup berdua dalam ikatan pernikahan. Kibum jadi seperti orang ketiga yang telah menghancurkan hubungan Kyuhyun dengan Siwon. Dia bahkan berkeinginan memperistri Kyuhyun secara benar, padahal ada orang yang lebih dulu mencintai Kyuhyun dari padanya.

Ya, Kibum mencintai Kyuhyun. Tidak salah karena Kyuhyun memang istrinya tapi salah ketika ia tahu kalau Kyuhyun adalah kekasih yang sangat dicintai temannya. Dia benar-benar telah berdosa menodai hubungan temannya dengan hal seperti ini. Mengambil kekasihnya untuk dinikahi, menidurinya dan sekarang mencintainya. Meski Kibum belum mengatakan apapun soal perasaannya pada Kyuhyun, dia telah memiliki hutang besar. Mungkin memang benar setelah Sehun melahirkan, Kibum dan keluarnya yang akan mengurus anak itu. Dia bisa menceraikan Kyuhyun dan mengembalikannya pada Siwon. Dia bisa menjelaskan pada semuanya kalau pernikahannya dengan Kyuhyun itu tidak pernah ada, Yesung atau siapapun pasti bisa mengerti. Dan Siwon akan bahagia lagi dengan Kyuhyun.

"Ah sebentar hyung" Kibum mengambil handphone-nya. Ada panggilan masuk. "Yesung hyung meneleponku!", katanya pada Siwon. "Hallo!" Kibum terpaku sejenak mendengar penjelasan dari seberang. Dia hampir tak bicara sama sekali sampai kalimat terakhir diucapkannya sebagai penutup. "Aku akan kesana sekarang!"

"Kenapa?"

"Yesung hyung menyuruhku cepat" Padahan Kyuhyun juga tahu kalau Yesung belum keluar sedari tadi. "Maaf hyung, aku harus pergi"

"Padahal ada yang ingin kuberitahukan padamu"

"Lain kali saja"

"Nanti kau telat mengetahuinya" Siwon mendekatkan mulutnya ke telinga Kibum. Dia membisikkan sesuatu yang segera dibalas senyuman oleh Kibum. "Bagaimana?"

"Ide bagus, semoga beruntung!" Kibum menunduk pada Kyuhyun sebelum berbalik arah.

"Aku akan segera menyusul kalian!", kata Siwon sedikit keras karena Kibum sudah menjauh.

Kibum menanggapinya dengan lambaikan tangan ke belakang. Kibum sedang tidak beruntung, tapi semoga Siwon bisa beruntung. Semoga lamarannya tak ditolak Kyuhyun seperti sebelum sebelumnya.

Lil' Bro

Kibum baru saja menandatangani surat pernyataan. Dia sebagai anggota keluarga bersedia dilakukan operasi untuk mengangkat janin mati di perut Sehun. Sehun keguguran. Bayinya mati tepat diusia empat bulan. Berarti sudah tidak ada lagi yang menghalangi Kibum untuk bercerai dengan Kyuhyun. Dia harus membiarkan Kyuhyun bahagia dengan Siwon. Tidak ada bayi, tidak ada Kyuhyun, tidak masalah. Bukankah memang seperti itu kehidupan Kibum sebelum ini? Yang penting sekarang Sehun dioperasi, dikeluarkan janin mati itu dari perutnya agar adiknya bisa selamat.

Dasom berkali-kali mengusap air matanya sedangkan Jongin bengong saja seperti orang gila. Keduanya benar-benar tak percaya kalau Sehun akan kehilangan bayinya. Mereka merasa bersalah, mereka yang menjaga Sehun, tapi begini akhirannya. Mereka sudah seperti pembunuh terhadap bayi Sehun. Dan sekarang tak ada yang mereka bisa lakukan kecuali berdoa untuk keselamatan Sehun.

"Tidak apa-apa, Sehun akan baik-baik saja", tutur Kibum menguatkan keduanya. "Itu bukan salah kalian"

"Itu salahku, Hyung. Aku biarkan Sehun bertingkah polah. Dia pasti kecapekan"

Kibum diam saja.

"Aku juga salah. Tak kuberi dia makanan yang sehat. Malah kuajak dia makan di luar cuma karena aku malas memasak", tutur Dasom sambil sesekali menyeka air matanya.

Kibum membiarkan Jongin dan Dasom menyalahkan diri mereka sendiri. Dia biarkan keduanya terus berkata-kata, tapi bukan berarti membenarkan mereka. Kibum cuma tak tahu bagaimana menenangkan mereka. Lagi pula ini semua telah terjadi. Sehun akan sembuh itu saja cukup. Semua akan kembali normal setelahnya. Dan mereka juga masih bisa berteman.

Sampai operasinya berhasil, Sehun dipindahkan ke ruang rawat khusus, Jongin dan Dasom sudah bisa sedikit lega. Mereka tak lagi menyalahkan diri sendiri, dan sekarang fokus untuk menjagai Sehun. Jongin dan Dasom menunggu Sehun dalam ruangannya ketika Kibum pamit keluar. Diluar, Kibum bertemu dengan Kyuhyun.

"Bagaimana Sehun?", tanya Kyuhyun canggung. Canggung karena kejadian Siwon tadi. Sama seperti Kibum, Kyuhyun juga terkejut mengetahui Siwon dan Kibum ternyata saling mengenal.

"Operasinya berhasil. Dia akan segera pulih", jawab Kibum sama canggungnya.

Kyuhyun berdehem tanda mengerti. "Aku akan menjenguknya"

Kibum menahan tangan Kyuhyun ketika Kyuhyun hendak masuk ruang rawat. Dia membawa Kyuhyun menghadapnya.

"Ada apa?"

Kibum menghela nafas. Tak rela untuk berucap sepenggal kalimatpun. Tapi dia harus katakan, atau selamanya akan terjebak dalam situasi tak nyaman bahwa dia telah mencintai kekasih orang.

"Aku akan segera mengurus perceraiannya" Kyuhyun mematung tapi Kibum masih melanjutkan. "Semuanya akan normal kembali", lanjutnya sambil melepas tangan Kyuhyun. "Senang bisa mengenalmu dan menjadi suaminya dalam beberapa bulan ini. Semoga kita bisa berteman setelahnya"

Kibum pergi lebih dulu sebelum menyaksikan dua tetes air mata jatuh dari dua belah mata Kyuhyun.

To be continue

Btw gue ketemu pasangan gay dari Thailand. Ternyata mereka lebih mesra dari adegan mesra-mesraannya teman gue dengan cowoknya. Mesra-mesraannya gue dengan cowok gue (sekarang jomblo lagi) Teman gue sih jelek, cowoknya jelek juga. Coba gantengan dikit, kan enak dilihat.

lupakan yang ini, see you next time!