Desclaimer: Harvest Moon milik Natsume dan cerita ini milik Sierra.
Warning: Typo, OOC Maybe, Semi AU.
.
.
Enjoy Reading ^^
1st Summer, Year 1
(Claire POV)
Sudah semusim aku tinggal di Mineral Town dan menjalankan perkebunan itu. Sampai saat ini pun aku belum menjalankan perjanjianku dengan God itu padahal batas waktunya hanya sampai bulan purnama tiba yang jatuh pada 13 Fall.
Resiko kalau aku tidak menjalankannya? Mungkin aku akan kembali ke sana atau mungkin aku akan mati. Entahlah, tapi itu lebih baik daripada aku kehilangan Gray.
Hatiku perih saat memikirkan Gray. Aku takut untuk dekat dengannya. Takut semakin jatuh dalam pesonanya yang memungkinkanku untuk melakukan kesalahan fatal nantinya.
Tapi setidaknya aku harus menikmati masa-masaku menjadi manusia walaupun hanya sebentar, bukan?
Aku mendapat beberapa teman baik seperti Ann, Popuri, Elli dan Karen. Para penduduk juga sangat ramah padaku, membuatku nyaman untuk tinggal disini.
Tapi aku selalu menjauh dari satu orang. Ya, Gray tentu saja. Siapa lagi?
Pria itu selalu menatapku dengan tatapan aneh dan curiganya. Aku semakin takut identitasku terbongkar sebelum hari itu tiba.
Aku juga masih memikirkan novel yang Mary buat. Ingin sekali aku bertemu dengan gadis itu. Tapi bagaimana caranya?
"Hey."
Panggilan itu membuatku kembali ke alam sadar.
Segera kudongakkan kepalaku dan melihat seorang pria asing yang memakai bandana ungu di kepalanya.
Siapa dia?
Aku memiringkan kepalaku sedikit, hal itu membuatnya tertawa kecil dan mengulurkan tangan.
"Namaku Kai. Aku datang ke Mineral Town ini hanya pada saat Summer."
Mulutku membentuk bulatan namun dengan segera kutampilkan senyum ramahku dan membalas uluran tangannya, "Hey, Kai! Aku Claire, tinggal di perkebunan itu!"
Dia mengambil tempat untuk duduk di kursi panjang berwarna biru, tepat disampingku.
"Apa kau menanam nanas di kebunmu?" tanyanya antusias membuatku membuka ransel dan mengeluarkan sekantung bibit lalu tersenyum lebar ke arahnya, "Aku baru membelinya tadi."
"Wah, bolehkan aku meminta beberapa saat sudah panen nanti? Aku sangat menyukai nanas!"
Ia mengusap tengkuknya dan wajahnya sedikit merona, malu mungkin?
"Tentu saja, Kai! Oh ya, kudengar kau berpacaran dengan Popuri?"
Kai terlihat terkejut kini, ekspresinya itu membuatku geli haha.
"Wah, ternyata berita beredar dengan cepat! Padahal aku bermaksud menggodamu terlebih dahulu."
Plak
Seseorang memukul kepala Kai dengan sebuah gulungan kertas.
"Ouh my honey, bunny, sweety..." ucap Kai lebay saat mengetahui bahwa Popuri yang memukulnya, padahal dia tadi hampir memakinya.
Aku menutup mulut dengan tanganku untuk menahan tawa dan segera bangkit dari sana, "Baiklah selamat berkencan, Popuri, Kai!" ujarku langsung berlari meninggalkan keduanya sambil melambaikan tangan.
Bruk.
Aku jatuh terduduk di pasir pantai.
"Ughh..." rintihku pelan.
Kenapa kejadian seperti ini terulang lagi sih! Aku memang ceroboh.
"Kau tak apa?" tanya seseorang.
"Aku tak a- GRAY?!" pekikku kaget saat mengetahui kalau yang kutabrak tadi adalah Gray.
Detak jantungku otomatis langsung memompa lebih cepat.
Dia berjongkok di depanku. Jarak kami yang sangat dekat membuatku rasanya sulit untuk bernafas, dan tangannya dengan cepat menarik pergelangan tangan kananku.
"Kau berdarah..." katanya pelan yang membuat pendanganku yang sedari tadi tertuju pada Gray teralih ke telapak tanganku.
Berdarah dan terdapat pecahan kaca kecil disana.
Gray langsung membantuku berdiri dan membawaku keluar dari pantai.
"B-bagaimana acaranya?"
Ya, sekarang adalah Beach Opening Day dan pria didepanku ini ingin membawaku kemana?
"Tanganmu perlu diobati," ucapnya dingin.
Aku hanya diam, pasrah diseret olehnya yang kini ternyata membawaku menuju Inn. Kami langsung menaiki tangga dan memasuki kamar khusus pria itu.
Gray mendorong bahuku pelan untuk duduk di kasur dan sekarang dirinya sibuk mencari sesuatu di lemari. Tak lama ia kembali, duduk di sampingku yang kini membuat darahku berdesir. Ia memegang pergelangan tanganku, menarik pecahan kaca itu pelan.
"Akh," aku meringis pelan membuatnya mengalihkan pandangannya padaku.
Lalu ia menuangkan sebuah cairan bening pada kapas yang kini di tempelkannya padaku.
"Ahh!"
Aku menggigit bibir dan memejamkan mata kuat.
Rasanya? Sangat perih!
"Tahan sedikit, lukamu perlu dibersihkan dari pasir yang menempel," ucapnya datar.
Namun entah kenapa aku merasakan adanya nada lembut disana?
Ah sepertinya hanya perasaanku saja karena ini pertama kalinya kami berinteraksi seperti ini.
Aku membuka mata hingga tatapanku terhipnotis pada wajahnya yang terlihat serius mengobati lukaku.
Gray tampan. Semua orang pasti akan mengakui itu apalagi kalau dilihat dari jarak sedekat ini.
"Selesai," ucapnya dan langsung menoleh ke arahku.
Tatapan kami bertemu membuat kami sama-sama terdiam dan seketika rasa sedih menyelimuti hatiku.
Gray... tidak bisakah aku memilikimu?
Aku mengalihkan tatapanku darinya dengan segera dan langsung berjalan menuju pintu, "Masih sempat untuk mengikuti acara di pantai. Sebaiknya kita segera kembali kesana."
Aku membuka pintu dan berjalan –atau mungkin sedikit berlari untuk meninggalkan tempat itu tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.
.
.
.
(Gray POV)
Aku berbaring di kasur sembari menutup kedua mata dengan salah satu tanganku. Pikiranku berkecamuk. Bahkan obrolan Cliff dan Kai yang membahas tentang Event tadi siang pun tak kuhiraukan. Aku tak tahu dan tak mau tahu. Sejak kejadian siang tadi, aku tidak kembali ke pantai seperti ajakannya. Ya, gadis dengan tatapan mempesona itu.
Aku kembali teringat dengan kejadian siang tadi. Dia menatapku dengan tatapan yang entah apa itu hingga membuatku terhanyut ke dalamnya tanpa bisa beralih sedikitpun. Andai saja sedikit lebih lama, mungkin hormonku akan mengambil alih kendali untuk menariknya dan menciumnya.
Ah sial! Apa yang aku pikirkan?!
"Hey tadi aku berkenalan dengan seorang dewi!" perkataan Kai membawaku kembali ke alam sadar.
"Apa maksudmu?"
Aku sedikit melirik ke arah keduanya saat Cliff menyahut.
"Claire, gadis petani itu..." perkataan Kai kali ini membuat dahiku berkerut, "Entah kenapa kurasa kecantikannya itu bagai dewi. Andai aku belum berpacaran dengan Popuri, aku pasti akan mengejarnya!"
Aku mendengus dan melirik tajam ke arah pria yang datang hanya setiap summer itu.
"Hmm, Claire memang sangat cantik."
Kini kualihkan tatapan tajamku pada Cliff.
"Nah Cliff, kau sendiri mengakuinya!"
"Tidak hanya cantik. Dia juga baik, kami terkadang bertukar cerita."
Aku mendudukkan diri di kasurku sembari melipat kedua tangan di dada, "Bisakah kalian diam dan tidak bergosip?"
Reaksi keduanya terlihat seperti baru menyadari adanya sesosok manusia disini. Keterlaluan.
"Hey Gray! Kenapa kau tidak terlihat di pantai tadi? Apa yang kau lakukan?" cecar Kai dengan ekspresi bodohnya itu.
"Bukan urusanmu."
"Hey Gray! Apa kau mengenal Claire?"
Pertanyaan itu membuatku kembali mengerutkan dahi.
Tentu saja. Aku mengenalnya...
Aku mengenalnya bahkan lebih dulu dari kalian. Aku memujanya lebih dulu dari kalian. Tapi aku bahkan tak bisa mendekatinya.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Tapi rasa sakit itu berdenyut saat gadis itu mengacuhkanku atau bahkan menganggapku tak ada. Aku merasa marah saat dia berinteraksi ramah dengan pria lain, sementara padaku tidak sama sekali. Saat dia tersenyum untuk pria lain, sedangkan hanya dalam mimpi dia tersenyum padaku.
"Bukan urusanmu," jawabku pelan yang terselip nada dingin disana.
Aku bangkit dari kasurku, berjalan keluar dan sedikit membanting pintu kamar. Meninggalkan inn dan berjalan tanpa arah.
Aku kembali teringat saat Cliff mengatakan bahwa ia dan Claire yang terkadang bertukar cerita.
Sial! Bagaimana bisa Cliff sedekat itu dengannya?! Sementara aku baru berinteraksi dua kali! Padahal aku yang lebih dulu mengenalnya! Terserah walau itu hanya mengenalnya dalam mimpi atau apapun. Claire adalah milikku!
Argh! Kenapa aku bisa berpikir seperti ini? Gadis itu membuatku gila!
Tapi... ada satu hal yang salah dan itu membuatku berhenti melangkah. Sejak kapan aku melangkah kesini?
Aku menoleh ke kanan dan kiri. Ini...
Dengan segera aku berbalik badan dan berniat pergi.
"G-Gray? Apa yang kau lakukan di kebunku?"
Sial!
Langsung kubalikkan badanku perlahan saat mendengar pertanyaan itu.
"Kakiku yang membawaku kesini."
Gadis pemilik kebun dan pemilik nama Claire itu mengerutkan dahinya dan menatapku curiga, "Apa kau ingin mencuri tanamanku?!"
Aku mendengus geli mendengar ucapannya.
Cih, dasar gadis aneh. Mana mungkin aku mencuri tanamanmu, tak ada gunanya bagiku.
Tiba-tiba saja tatapanku tertuju pada tangan kanan Claire, "Bagaimana lukamu?"
"Ah ini..."
Claire mengangkat tangannya dan tersenyum err... manis.
"Sudah tidak terasa sakit. Terimakasih, Gray."
Rasanya jantungku seperti hendak melompat keluar melihat senyumannya. Tanganku langsung bergerak untuk menurunkan topiku guna menutupi wajahku yang mungkin mulai merona.
"Apa yang kau lakukan malam seperti ini masih berada di kebunmu?" tanyaku mengalihkan.
Dia terlihat berpikir sejenak dan menautkan kedua tangannya di balik punggungnya.
"Aku sedang melihat bulan."
Ia berbalik dan berjalan menjauh, membuatku dengan segera mengikuti langkahnya dari belakang. Kini Claire berhenti di pinggir sungai dan tanpa ragu mendudukkan dirinya. Aku dengan perlahan ikut duduk disampingnya, berusaha untuk tidak terlalu jauh namun masih menyisakan jarak di antara kami.
"Apa kau suka melihat bulan, Gray?" tanyanya yang membuat perhatianku teralih pada bentuk bulat di atas sana lalu mengangguk.
"Setiap hari."
Claire kini menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Tatapannya terus tertuju ke langit dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Tanpa sadar aku terus menatapnya, kembali terhanyut pada pesonanya yang tak bisa kualihkan.
"Gray..." gumamnya pelan menyerukan namaku, membuat dadaku berdesir.
"Hm?" gumamku asal untuk menyahutnya.
Claire terdiam beberapa saat sebelum kembali mengutarakan apa yang mungkin ia pikirkan.
Claire menoleh ke arahku membuat tatapan kami bertemu. Bola mata sebiru lautan itu kembali mempesonaku, menghanyutkanku hingga terombang-ambing di dalamnya.
"Saat seseorang dapat mengabulkan permintaanmu. Apa yang kau inginkan untuk dikabulkan?"
Apa ingin kuinginkan?
Memilikimu.
"Apa saja tiga keinginanmu untuk dapat dikabulkan?"
Kau yang tidak lagi mengacuhkanku. Kau yang selalu tersenyum padaku. Kau yang...
"Apa kau akan mengabulkan keinginanku?"
Claire terlihat tertegun saat mendengar pertanyaanku dan langsung menggeleng kuat.
"Aku tidak mungkin mengabulkannya," ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
Tidak mungkin ya?
Jadi, kau akan selalu mengacuhkanku. Kau tidak akan tersenyum padaku. Dan...
Claire kembali menengadahkan kepalanya, melihat sang bulan yang mungkin dimatanya lebih menarik daripada diriku. Namun tak sedetik pun tatapanku teralih darinya seakan pesonanya lebih kuat dari bulan yang setiap malam kulihat.
Semakin lama melihatnya membuatku semakin terpesona dan membuat keinginanku untuk memilikinya dan merengkuhnya dalam dekapanku semakin membuncah.
Aku akhirnya menyadari apa arti dari perasaan ini.
"Claire..." panggilku sepelan mungkin.
Aku mencintaimu.
Tidak bisakah aku bersamamu?
.
.
.
TBC
Oke~~ Sierra rasa kalian akan menyukai chapter yang satu ini :3
Ditunggu review/masukan/requestnya~ ^^
