Desclaimer: Harvest Moon milik Natsume dan cerita ini milik Sierra.
Warning: Typo, OOC Maybe, Semi AU.
.
.
Enjoy Reading ^^
[Gray POV]
Claire terdiam di sudut perpustakaan dengan sebuah buku yang menjadi fokus perhatiaannya, sementara aku yang sedari tadi duduk di balik meja counter terus menatapnya.
Sementara aku terdiam disini memperhatikan gadis berambut pirang itu sejak setengah jam lalu. Memperhatikan setiap inci wajahnya, setiap gerak-gerik tubuhnya, dan setiap ekspresi yang ditampilkannya.
Sejak kejadian malam itu, aku merasa semakin dekat dengan Claire walaupun gadis itu masih sedikit manghindariku.
Aku tersenyum.
Gadis itu perlahan bangkit dari duduknya dan menghampiriku, "Gray, bolehkah aku meminjam buku ini?" ucapnya sedikit memohon.
"Kenapa kau sangat menyukai buku itu?"
"Eumm..." Claire terlihat berpikir atas pertanyaanku barusan, "Aku... menyukai ceritanya," ucapnya kini diikuti oleh senyum manisnya yang nyaris membuatku meleleh.
"Bagaimana? Apa aku boleh meminjamnya?" tanyanya lagi kali ini dengan tatapan memohon.
Siapa yang tega menolak tatapan seperti itu?
"Tentu saja."
Ia bersorak kegirangan, senyuman manisnya mengembang, "Terimakasih, Gray!" serunya lalu berlari ke arah pintu, "Aku pulang dulu."
Blam.
Pintu tertutup dan seketika suasana berubah menjadi sangat sunyi.
Aku menghela nafas.
Kukeluarkan secarik kertas yang penuh dengan tulisan rapi dengan sebuah nama akhir kalimat.
Mary.
Surat dari Mary. Aku masih berhubungan dengan gadis itu. Mary sekarang tinggal di Forget-Me-Not Valley bersama dengan suaminya.
Kukeluarkan secarik kertas lain yang masih kosong. Jemariku menggoreskan pena di atasnya dengan lancar.
Hey Mary.
Kabarku baik-baik saja. Keluargamu baik-baik saja dan semua orang di Mineral Town dalam keadaan baik.
Ada seorang gadis yang datang ke Mineral Town dan menjalankan perkebunan milik Jack.
Namanya Claire.
Dia sangat sangat menyukai novelmu yang menyedihkan itu.
Kurasa kau pasti akan penasaran dengannya. Seperti apa yang aku rasakan.
Salam,
Gray.
Kulipat kertas yang telah kutulis menjadi empat bagian lalu memasukkannya ke dalam amplop. Aku bangkit dan kini berjalan untuk meinggalkan perpustakaan. Kumasukkan amplop tadi ke dalam kotak surat yang akan di ambil Harris setiap sorenya, kemudian dikirimkan menuju alamat yang tertera.
Kuhela nafas kembali, lalu mengunci pintu perpustakaan.
Pikiranku lagi dan lagi untuk kesekian kalinya kembali pada gadis itu. Gadis yang membuatku gila.
.
.
.
[Claire POV]
Aku berkemas secepat mungkin. Memakai jaket tebalku dan membawa ransel yang kali ini berisi beberapa pakaian dan sedikit makanan ringan.
Kulangkahkan kaki keluar dan tak lupa mengunci pintu lalu menggendong anjing kecilku.
Hari mulai memasuki waktu fajar membuatku segera berlari menyusuri setiap jalan Mineral Town menuju ke dermaga.
Kulihat Zack telah berdiri disana, di depan kapal dan tersenyum melihat kedatanganku.
"Hai Claire, sudah siap?" tanyanya dengan cengiran yang khas membuatku ikut tersenyum dan mengangguk.
"Ah ya. Aku mau menitipkan Obby," ucapku seraya mengelus kepala anjing kecilku yang kini malah tertidur dalam pelukanku.
"Masukkan saja ke dalam rumahku. Aku masih harus mempersiapkan beberapa hal."
"Baiklah."
Aku melangkah menuju rumah Zack, membuka pintu secara perlahan dan memasukinya.
Kuletakkan Obby di lantai secara perlahan. Setelah kurasa aman, aku kembali melangkah keluar dan kulihat Zack yang telah selesai dengan urusannya.
"Ayo berangkat, Claire!" seru Zack dari atas kapal membuatku buru-buru menaikinya.
Suara klakson kapal yang panjang menandakan dimulainya perjalanan.
Perjalananku menuju Forget-Me-Not Valley tempat Mary berada.
Aku berjalan menghampiri Zack yang memegang kemudi kapal.
"Zack apa kau lapar?" tanyaku yang kini mengeluarkan sekotak onigiri dari dalam ransel dan menyodorkannya pada Zack.
"Wah kebetulan sekali aku belum sarapan!" serunya terlihat gembira seraya mengambil sebuah onigiri dan melahapnya begitu saja.
Aku duduk dan menikmati angin laut yang menerpa wajahku. Hamparan laut biru yang luas memanjakan mataku, menikmati setiap keindahan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku tersenyum membayangkan bila saat ini Gray bersamaku menikmati keindahan ini. Tangannya yang kekar itu memelukku dari belakang dan mencium puncak kepalaku.
Teetttt
Suara klakson kapal membuyarkan imajinasiku membuatku memukul kepalaku sendiri.
Aish apa sih yang aku pikirkan?
Aku menggelengkan kepala membuang pemikiran itu jauh-jauh dan melahap onigiri buatanku sendiri.
.
.
.
[Normal POV]
Perjalanan Claire menuju Forget-Me-Not Valley memakan waktu sekitar 2 jam. Gadis itu turun dari kapal perlahan.
"Hati-hati, Claire!" teriak Zack yang kini kembali menjalankan kapalnya.
Claire melambaikan tangannya pada Zack hingga kapal Zack menjauh. Ia berbalik badan dan menghela nafas melihat pemandangan baru yang ada di depan matanya.
"Jadi aku hanya harus lurus saja dari sini kan?" tanya Claire entah pada siapa seraya mulai melangkahkan kakinya melewati jalan kecil yang dipenuhi oleh pepohonan di kiri dan kanannya.
15 menit berlalu dan langkah Claire terhenti melihat adanya rumah penduduk yang terletak di dekat kincir angin. Claire berjalan mendekati bermaksud bertanya pada seseorang.
Cklek.
Pintu terbuka tepat pada saat Claire hendak mengetuknya.
"Ah."
Claire dan seorang pemuda di balik pintu sama-sama kaget.
"Maaf, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Claire dengan sopan membuat pemuda itu mengangguk.
"Silahkan, nona."
"Apa kau mengenal seseorang bernama Mary?" tanya Claire yang kini membuat pemuda itu berpikir sejenak.
"Mary istri Jack?" ujar si pemuda yang kini malah balik bertanya.
Claire mengembangkan senyumannya, "Benar! Bolehkan aku tahu dimana rumahnya?"
Pemuda itu berbalik badan membuat Claire mengerutkan keningnya.
"Celia, aku pergi sebentar ke perkebunan milik Jack untuk mengantar nona ini," ucap pemuda itu yang membuat Claire tersenyum senang.
Seorang wanita yang dipanggil Celia melihat ke arah nona yang dimaksud dan tersenyum kepada Claire, "Baiklah, Marlin."
Sang pemuda yang diketahui bernama Marlin melangkah keluar, "Ayo kuantar."
"Terimakasih banyak!" ucap Claire yang kini membungkukkan badannya pada Marlin membuat pemuda itu tertawa.
Marlin dan Claire berjalan beriringan. Keduanya berjalan dalam diam, sementara Claire sibuk melihat-lihat pemandangan indah Forget-Me-Not Valley.
"Siapa namamu, Nona?" tanya Marlin memecah keheningan dan membuat Claire menoleh.
"Aku Claire, dari Mineral Town."
"Oh, Mineral Town. Aku Marlin."
Keduanya saling melempar senyum hingga langkah mereka kini memasuki sebuah perkebunan.
"Nah, ini perkebunan milik Jack. Disana rumah mereka," ucap Marlin menghentikan langkahnya membuat Claire lagi-lagi membungkukkan badannya.
"Terimakasih banyak, Marlin."
Marlin hanya tersenyum, "Aku pergi dulu."
Pemuda itu berbalik badan dan meninggalkan area perkebunan. Claire menatap sebuah rumah yang lumayan besar dihadapannya.
Sebuah helaan nafas mengiringi ketukan pada pintu.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan membuat Claire menelan ludahnya merasa gugup.
Seorang wanita berkaca mata terlihat dari balik pintu.
"Mary?" tanya Claire gugup.
"Ya," jawab Mary yang kini mengerutkan dahinya.
Perasaan Claire membuncah mengetahui bahwa seorang wanita dihadapannya ini benar-benar Mary.
"Perkenalkan aku Claire."
Mary terbelalak kaget, "Calire? Bagaimana mungkin kau bisa sampai kemari? Astaga..." ucap Mary panik membuat Claire bingung, "Ayo masuk dulu."
Mary membuka pintunya lebih lebar mempersilahkan Claire untuk masuk.
Claire menduduki salah satu kursi disana sementara Mary mengambilkan sebuah minuman untuknya.
Bola mata safir Claire bergerak-gerak melihat keseluruh ruangan hingga tertegun melihat sebuah kereta dorong bayi di sudut ruangan.
Mary meletakkan minuman dihadapan Claire. Matanya melihat ke arah pandangan Claire tertuju dan tersenyum.
"Anak kami baru berumur 5 bulan. Jack sedang menemaninya di kamar," jelas Mary yang kini duduk di hadapan Claire.
Claire tersenyum dengan sedikit berkaca-kaca, "Kalian pasti bahagia."
"Tentu saja," Mary tersenyum lembut, "Jadi apa yang membawamu datang kesini, Claire?"
Claire langsung ingat tujuannya dan langsung mengeluarkan sebuah buka dari dalam ranselnya.
Mary terdiam, "Ini..."
"Novelmu," Claire melanjutkan ucapan Mary.
Mary mengangguk dan kembali menoleh pada Claire, "Apa kau sangat menyukai novel ini hingga ingin bertemu denganku?" canda Mary namun membuat Claire menggeleng.
"Tidak. Aku ingin menanyakan beberapa hal," ucap Claire serius.
"Apabila dapat kujawab pasti aku akan menjawabnya," balas Mary yang kini tersenyum manis.
Claire memejamkan mata, menghela nafas berat lalu membuka mata kembali dan manatap Mary dengan intens, "Mary... bagaimana kau bisa membuat cerita seperti itu? Apa kau mengenal seorang Goddess?"
Pertanyaan Claire membuat Mary tertegun beberapa saat, tak mengira bahwa Claire akan bertanya tentang Goddess.
Claire terus menatap Mary yang kini membolak-balik beberapa halaman bukunya.
"Di bukit sana... Mother hills..." Mary memulai ceritanya perlahan, "tinggal seorang Goddess..."
Dahi Claire berkerut mendengar ucapan Mary.
Siapa?
"Aku berteman baik dengannya. Seorang Spirit Goddess..." ucap Mary seraya menoleh ke arah Claire yang kini terdiam.
"Spirit Goddess," gumam Claire pelan.
Mary mengangguk, "Spirit Goddess menceritakan kisah tentang seorang dewi yang mencintai seorang manusia serta adanya perjanjian dengan God yang malah akan benar-benar memisahkan keduanya."
Claire menggigit bibir bawahnya berusaha menahan rasa sakit yang mulai menyelimuti rongga dadanya.
"Apa cerita itu akan berakhir seperti yang kau tulis?" tanya Claire yang dengan susah payah mengeluarkan suaranya.
"Aku tidak tahu. Aku hanya menulis seperti yang Spirit Goddes ceritakan padaku..." Mary terdiam sesaat, "Seorang Goddess akan mengabulkan permintaan manusia yang dicintainya, lalu meminum darah orang itu yang akan dicampurkan pada sebuah cairan hingga membuat orang tersebut mati dan membuat goddess itu sendiri merasa tersiksa karena telah membunuh orang yang dicintainya."
Claire tertunduk kini, tak ada cara apapun untuk membuatnya bersatu dengan Gray.
"Claire, apa yang membawamu hingga kesini? Apa kau mengenal seorang Goddess?" tanya Mary kini hingga Claire mengerjapkan matanya bingung.
"Hmm... ya, aku mengenalnya... Seorang goddess, moon goddess yang mencintai seorang manusia," ucap Claire sangat pelan bahkan seperti bisikan namun Mary masih mampu mendengarnya.
.
.
.
TBC
Maaf lama update. Saya benar-benar sibuk belakangan. Tapi urusan saya sudah selesai jadi bisa melanjutkan ff ini lagi :3
Diharapkan reviewnya untuk menambah semangat~
