Desclaimer: Harvest Moon milik Natsume dan cerita ini milik Sierra.
Warning: Typo, OOC Maybe, Semi AU.
.
.
Enjoy Reading ^^
Musim panas telah berakhir, itu artinya Mineral Town kini telah memasuki musim gugur dimana kebanyakan warga menyukai musim ini karena waktu panen telah tiba dan banyaknya rempah-rempah yang dapat dijadikan sumber makanan di hutan. Namun musim gugur ini membuat salah satu penduduk Mineral Town menjadi muram dan bersikap tidak seperti biasanya.
Claire duduk beralaskan rumput, bersandarkan pohon apel yang ada di kebunnya. Pagi tadi ia kaget melihat beberapa apel yang berjatuhan. Tak ia sangkal, musim gugur memang menyenangkan.
Bola mata sebiru lautan itu menatap sebuah apel di genggamannya. Bibirnya menyungging senyum tipis, namun sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini," gumamnya pelan.
Gumpalan cairan bening kini menghiasi pelupuk matanya hingga tak tertahankan dan mengalir begitu saja.
"Meninggalkan semuanya..." gumamnya lagi.
Disandarkan kepalanya ke batang pohon dan memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir begitu saja.
"Meninggalkan, Gray..." gumamnya lirih.
Sebuah rasa sakit menyelimuti dadanya. Tidak. Ini bukan rasa sakit hati seperti biasanya, tapi rasa sakit yang lain. Rasa sakit yang timbul karena musim gugur telah tiba.
Bulan purnama akan muncul di setiap musim gugur dan seiring hari berlalu, waktu berlalu terus mendekati saatnya, Claire akan merasakan sakit yang luar biasa. Sama seperti bulan purnama sebelumnya.
.
.
.
[Gray POV]
"Gray!" teriak seseorang seiiring dengan terbukanya pintu kamarku.
Seorang gadis berdiri di depan pintu membuatku kaget, "Mary? Kapan kau datang?" tanyaku yang kini menghampirinya.
Ia terlihat terengah-engah. Apakah ia berlari kesini?
"Claire!" serunya disaat ia masih mencoba mengatur nafasnya.
"Claire?"
Sejak kapan Mary mengenal Claire?
Aku menuntun Mary untuk duduk di sebuah kursi dan memberinya segelas air yang langsung ia teguk begitu saja.
Aku duduk dihadapan gadis itu, "Sudah tenang?"
Mary mengangguk dan menarik nafas dalam lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, "Gray, tolong percaya apapun yang aku katakan," ucap Mary dengan tatapan entah apa itu yang membuatku sangat bingung.
"Percayalah padaku, Gray."
Aku mengangguk melihat tatapan memohon dari Mary.
Gadis itu meletakkan sebuah buku di atas meja, tepat dihadapanku, "Ini... novel menyedihkan buatanku," ucapnya pelan.
Aku menatapnya semakin bingung, "Ada apa sebenarnya, Mary?"
"Ini tentang Claire."
Entah kenapa seketika perasaan takut menyelimuti dadaku.
"Kau sudah membaca novel ini kan?" tanya Mary yang membuatku menggangguk.
"Kau tau ini bercerita tentang seorang dewi kan?" tanya Mary yang membuatku kembali mengangguk.
"Claire adalah seorang dewi!"
Ucapan Mary membuatku tertegun.
"Itu tidak mungkin, Mary."
Mary menggenggam tanganku semakin erat, "Gray, percayalah padaku. Claire adalah seorang dewi yang pada saatnya akan kembali ke tempat asalnya."
Rasa sedih itu kembali menyelimuti dadaku.
Claire? Akan pergi?
"Seorang dewi punya titik kelemahan masing-masing dan saat itu muncul... dia akan menghilang."
Tenggorokanku serasa tercekat hingga tak ada satupun kata yang mampu kuucapkan.
Tidak mungkin.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku menyelidik membuat Mary terdiam.
Kutarik tanganku dari genggaman Mary.
"Aku tidak akan mempercayai ucapanmu sampai kau memberikan bukti itu padaku," ucapku dingin lalu melangkah keluar kamar meninggalkan Mary sendiri.
Dia gila. Ini benar-benar gila. Gadis itu membuat semua orang gila!
.
.
.
[Claire POV]
Kupukul kencang dadaku yang terasa sangat sakit hingga secara tak sadar aku menggigit bibirku sendiri dengan kuat. Selalu seperti ini, rasa sakit yang kurasakan seiring dengan akan datangnya bulan purnama.
Namun kali ini situasinya berbeda karena sekarang aku adalah manusia dan tidak kusangka rasa sakitnya akan berlipat ganda seperti ini.
God, apakah kau menghukumku?
Aku tahu aku salah...
Aku mencintai seorang manusia...
Kutekan dadaku lebih kuat saat rasa nyeri itu kembali datang.
Aku berjalan tertatih hingga kini berdiri di hadapan kalender tua.
Ternyata musim gugur sudah memasuki tanggal 10.
Kupusatkan perhatianku pada tanggal 13 yang sudah kulingkari dengan spidol merah. Hari dimana orang-orang akan berkumpul dan melihat bulan yang sangat indah. Juga hari dimana aku akan pergi dari dunia ini.
Cairan bening itu lagi-lagi menetes dari mataku.
Apa yang harus kulakukan dengan hewan ternakku?
Bagaimana kalau mereka mati karena aku tak ada?
Bagaimana dengan kebunku?
Bagaimana dengan penduduk Mineral Town?
Air mataku mengalir semakin deras seiring dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di pikiranku.
Aku terdiam, berdiri disini dengan kepala tertunduk dan terisak pelan.
Kubiarkan diriku menangis untuk lima menit. Hanya lima menit. Setelah lima menit berakhir, kuseret langkahku menuju meja. Kuambil selembar kertas dan sebuah pena.
Sepuluh detik aku terdiam memikirkan kalimat pertama apa yang harus kutulis dalam surat perpisahan ini.
Tulisan demi tulisan tergores dalam selembar kertas putih dihiasi oleh bercak-bercak tetesan air mata yang tak mampu ku bendung.
Kuhapus air mataku kasar lalu memasukkan surat ke dalam amplop.
Aku berjalan perlahan keluar dari rumah untuk memasukkan surat ini ke dalam kotak surat. Berharap siapapun menemukannya saat ia telah tiada nanti.
.
.
.
[Normal POV]
Keadaan Claire seminggu terakhir semakin memburuk. Tubuhnya terasa sangat lemas bahkan tak mampu untuk berjalan hingga ia hanya mampu berbaring di sofanya. Selama itu pula Claire tidak pernah keluar dari rumah. Beruntung sebelum keadaannya parah seperti ini, Claire telah meminta bantuan para peri harvest untuk membantu mengurus kebun dan ternaknya.
Sebentar lagi, ah lebih tepatnya beberapa jam lagi bulan purnama akan muncul karena itu tubuhnya menjadi sakit luar biasa. Ini telah terjadi semumur hidupnya sebagai seorang Dewi yang menjaga bulan. Bulan purnama sesungguhnya menyerap energi bumi yang sangat besar dan itu sudah menjadi tugas dari Moon Goddess untuk melindungi seluruh manusia dan membuat bulan purnama menjadi sangat indah.
Apakah dalam bentuk manusia seperti ini Claire masih tetap menjaga bumi dan melakukan tugasnya sebagai seorang Moon Goddess?
Pertanyaan itupun terngiang di pikiran Claire. Gadis itu sendiri tidak tahu apakan bulan akan aman sementara dirinya tengah meregang nyawa disini.
Claire dengan susah payah mengulurkan tangannya ke arah meja untuk mengambil sebuah buku. Buku yang amat disukainya. Buku ciptaan milik Mary. Didekapnya buku itu lalu kembali memejamkan mata. Nafasnya berderu seiring dengan rasa panas yang terasa membakar tubuhnya.
"Gray..." rintihnya pelan dengan jatuhnya setetes air mata mengaliri pipinya yang pucat.
Claire memeluk buku semakin erat. Digigit bibirnya kuat untuk meredakan rasa sakit disekujur tubuhnya. Nafasnya semakin memburu. Peluh telah membanjiri wajahnya.
"Gray..." rintihnya lagi semakin lemah.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasarnya, menampilkan seorang yang sejak tadi dipanggil oleh Claire.
"Claire!" teriak Gray yang langsung berlari menghampiri gadis itu dan berlulut di hadapannya.
Gray mengusap peluh yang membasahi wajah Claire dan menggenggam erat tangan gadis itu.
"Bertahanlah... bertahanlah..." ucapnya yang sangat panik dan khawatir saat ini.
Air matanya kembali menetes dari mata yang tak mampu terbuka itu.
Gray merasa hatinya sakit bahkan sangat sakit melihat keadaan Claire seperti ini. Betapa bodohnya dia yang baru menyadari kealpaan Claire.
"Maafkan aku," gumam Gray pelan mengusap air mata di pipi Claire.
Gray menggenggam tangan Claire semakin erat dan menciumnya.
"Darah siapa yang kau butuhkan?" tanyanya lembut seraya mengusap pelipis Claire yang terus basah oleh keringat.
Claire tetap bergeming dengan nafas yang semakin melemah.
"Bagaimana jika meminum darah seseorang yang tidak kau cintai? Apa orang itu tetap akan mati dan kau tetap menghilang?"
Gray mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sesuatu hingga pandangannya tertuju pada sebuah lemari. Dia pun bangkit melangkah mendekati lemari dan membukanya perlahan.
Senyum tipis menghiasi bibirnya saat meilhat apa yang dia cari.
Sebuah botol kecil berwarna biru berisi cairan entah apa itu. Gray kini berjalan menuju dapur Claire dan mengambil sebuah pisau. Tatapannya kembali teralih pada Claire yang masih berbaring tak sadarkan diri di sofa.
"Claire... bagaimana jika darahku?" tanyanya lirih.
Sret.
Gray sedikit meringis saat permukaan tajam pisau menggores telapak tangannya hingga darahnya bercucuran. Dengan cepat Gray membuka botol tersebut dan mengalirkan darahnya sendiri ke dalam botol hingga menyatu dengan cairan disana.
Gray mengambil sebuah lap untuk membungkus tangannya yang terluka dan berjalan kembali mendekati Claire.
Diangkat tubuh Claire untuk duduk sementara ia sendiri duduk disamping Claire dan menyandarkan tubuh lemah gadis itu pada dadanya.
Ditatapnya wajah pucat Claire dengan tatapan sendu hingga setetes air mata terjatuh di pipi Claire. Gray mengusapnya lembut. Air matanya. Tetes demi tetes lain kembali terjatuh di pipi Claire.
"Aku mencintaimu," bisik Gray lemah, "Bertahanlah... bertahanlah untukku..."
Dan Gray memberanikan dirinya untuk mencium bibir pucat milik Claire. Mengecupnya dengan sangat lembut sementara air mata terus mengalir di pipinya sendiri.
Gray melepaskan ciumannya dan menghapus air matanya sendiri, "Aku tidak tahu apa ini akan berhasil tapi... kau harus mencobanya."
Tangan kiri Gray membuka paksa mulut Claire sementara tangan kanannya menuangkan cairan berisi campuran darahnya tadi ke dalam mulut Claire sedikit demi sedikit hingga Claire mampu menelan dengan sendirinya.
Diletakkan kembali botol yang telah kosong ke atas meja dan kembali mendekap Claire di dadanya.
Sudah lama Gray ingin memeluk Claire begini tapi tidak dalam keadaan seperti ini.
Tangan Gray terus membelai lembut wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Tatapannya tidak lepas dari wajah pucat Claire.
"Aku mencintaimu..." bisiknya lagi dengan lirih lalu mengecup lembut kening Claire.
Kembali dipeluknya dengan erat tubuh lemah Calire. Hingga rasa kantuk seketika menyerangnya hingga tak bisa ia tahan membuat matanya terpejam perlahan.
.
.
.
TBC
Oke~ mungkin chapter selanjutnya sudah selesai :3
Akhir kata, ditunggu reviewnya ^^
