Angin berhembus kencang mengantarkan sang fajar kembali untuk menjalankan tugas kekalnya menyinari permukaan bumi. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela membuat seorang pemuda yang sejak tadi terlihat tengah tertidur pulas di sofa berwarna coklat, mulai membuka matanya perlahan. Ia sedikit mengerang saat merasakan sakit kepala yang luar biasa.

"Argh," pekiknya tertahan seraya meremas helaian rambut pirangnya dengan kedua tangan.

Ia terdiam selama sepuluh menit hingga pusing di di kepalanya mereda. Dikerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Entah kenapa ia merasa pikirannya sangat kosong.

Ya, pemuda itu memang Gray yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

"Apa yang terjadi...?" tanyanya pelan entah pada siapa.

Ia memegang kepalanya yang masih sakit dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya diletakkan di depan dadanya.

Ia tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan.

Seperti ada sesuatu yang hilang entah itu dari raganya, hatinya atau pikirannya?

.

.

.

MOON GODDESS

-Last Chapter-

By Sierra Vuc

.

Desclaimer: Harvest Moon Natsume

Warning: Typo, OOC Maybe, Semi AU.

.

Suggest for Back Song:

Adam Levine – Lost Stars

Secondhand Serenade – Last Time

Secondhand Serenade – Like A Knife

.

.

Enjoy Reading ^^

.

.

.

Mary berlari pelan memasuki lahan sebuah perkebunan. Ia menghela nafas lega mendapati seseorang yang ia cari. Namun ada yang aneh dengannya.

Beberapa meter didepannya Gray berdiri menatap hamparan perkebunan milik Claire dengan tatapan kosong.

Gadis manis berkacamata itu berjalan mendekat, "Gray..." panggilnya pelan.

Pemuda itu menoleh dengan tatapan yang tak dapat di artikan oleh Mary.

'Apa yang terjadi?' batin Mary.

Ia mengamati sekitarnya sesaat sebelum kembali mengalihkan perhatian pada Gray.

"Dimana Claire? Apa dia baik-baik saja?" tanya Mary cemas.

"Claire..." gumam Gray pelan menggantungkan ucapannya, "Siapa dia?"

Mary tertegun. Tak ada sepatah katapun yang mampu terucap dari bibirnya. Ia hanya mampu menatap Gray dengan tatapan tak percaya.

Sungguh sulit dipercaya.

"Apa yang sebenarnya terjadi..." gumam Mary seiring dengan langkah kakinya yang kini menerobos memasuki rumah milik Claire.

"Claire!" teriak Mary memanggilnya seraya berlari ke tiap sudut. Memeriksa setiap ruangan yang ada. Mencari sang pemilik nama.

Namun, nihil.

Tak ada tanda keberadaan Claire sama sekali.

Sudut matanya menatap sebuah botol kecil di atas meja, juga tetesan darah yang telah mengering. Tangannya terulur untuk mengambil botol tersebut. Ia dapat menyimpulkan satu hal.

Segera dimasukkan botol kecil itu ke dalam sakunya dan dengan cepat membersihkan bekas tetesan darah di lantai hingga ke meja dapur.

Mary memeriksa rak buku Claire berusaha mencari apapun itu yang dapat membantunya.

Ya, mungkin membantunya untuk mengetahui keberadaan Claire saat ini?

Atau mungkin untuk mengembalikan ingatan Gray akan cintanya?

Tapi gadis itu hanya dapat menghela nafas ketika tak mendapati apapun disana. Ia melangkahkan kakinya keluar rumah dengan wajah tertunduk juga lesu.

Bruk.

Diangkat kepalanya saat ia merasa menabrak seseorang.

Gray ternyata.

Ia masih berdiri disana dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Seperti kosong, hampa atau seperti lainnya Mary tak mengerti.

"Gray..."

Angin berhembus kencang menerbangkan sebuah bisikan yang teramat pelan yang mampu di dengar oleh sang pemilik nama.

Gray menoleh pada Mary, "Kau memanggilku?" tanyanya datar.

Mary mengerutkan dahinya bingung, menggeleng perlahan.

Angin berhembus lebih kencang membuat keduanya harus menutup wajah agar debu tidak memasuki mata.

Sebuah kertas putih mendarat di bawah kaki Mary setelah berterbangan tertiup angin.

Angin mereda.

Mary kembali tertegun dan memungut kertas tersebut.

Sebuah amplop yang ia dapatkan segera ia buka untuk membaca surat yang terdapat di dalamnya.

...

Kepada,

Siapapun yang membaca surat ini.

Aku, Claire.

Ingin meminta maaf sebesar-besarnya karena harus pergi meninggalkan Mineral Town secara mendadak.

Andai saja diberi kesempatan. Aku ingin tinggal disini selamanya.

Andai saja aku bisa.

Tapi kenyataan berkata lain.

Aku sangat senang dapat tinggal di Mineral Town walau hanya beberapa bulan.

Terimakasih untuk semua penduduk yang telah bersikap sangat baik padaku.

Aku menyayangi kalian semua.

...

Mary mendengakkan kepalanya saat air matanya dirasa akan menetes. Dikerjapkan matanya berkali-kali untuk menghilangkan genangan air mata itu.

Ia pun kembali membaca.

...

Kepada siapapun yang membaca surat ini,

Aku memohon bantuan.

Tolong jual semua ternak yang ku punya dan berikan semua uangnya kepada Mayor Thomas.

Maaf aku sangat menyusahkan.

Sekali lagi,

Terimakasih banyak.

...

Surat berakhir.

Claire sama sekali tidak meninggalkan tanda apapun mengenai keberadaannya.

'Apa Claire baik-baik saja?' batin Mary yang semakin cemas.

Gray masih terdiam disana seakan tak ada kehidupan dalam dirinya.

Mary menggandeng lengan Gray dan menuntunnya perlahan keluar dari perkebunan. Diusapnya bahu Gray perlahan berusaha memberi kekuatan pada pemuda itu.

Ia tahu. Ia mengerti. Hati Gray pasti merasakannya. Kehilangan sosok Claire.

Juga pikirannya... yang benar-benar menghilangkan sosok Claire dalam dirinya.

"Semua akan baik-baik saja..." lirih Mary seiring dengan setetes air mata yang terjatuh di pipinya.

.

.

.

16th Autumn, Year 1

Sudah tiga hari berlalu sejak menghilangnya sosok Claire dari Mineral Town. Sudah tiga hari sejak Mary mendapati Gray berdiri di depan rumah Claire dengan tatapan kosong.

Dan... sudah tiga hari sejak kenyataan bahwa Gray kehilangan semua ingatannya yang berkaitan dengan Claire.

Mary menghela nafas panjang. Sudah sejak tiga hari itulah ia masih berada di Mineral Town bersama suami dan anaknya yang untuk sementara mengurus perkebunan milik Claire.

Mary sendiri mengarang cerita sedemikian rupa tentang kepergian Claire yang merupakan sebuah urusan 'keluarga' di suatu tempat yang sangat jauh. Dengan alasan Claire yang pernah mendatangi Mary untuk meminta bantuan suaminya, Jack, untuk membantu mengurus kebunnya selama ia tak ada.

Mary menghela nafas.

Pintar sekali ia mengarang cerita. Dan belum tentu juga Claire akan kembali lagi ke Mineral Town.

Mary menghela nafas untuk yang kedua kalinya.

"Mary..."

Gadis itu menoleh saat seseorang memanggilnya yang tengah menyirami beberapa sayuran yang Claire tanam.

"Gray?!" serunya tak percaya. Ia letakkan alat penyiram di tanah dan langsung berjalan menghampirinya, "Apa yang membawamu kesini? Apa kau mengingat sesuatu? Tentang Claire?" tanya Mary dengan tak sabaran membuat kepala Gray berdenyut sakit.

Mary langsung panik saat melihat Gray memijat pelipisnya sendiri.

"Ah... maafkan aku," gadis itu menunduk menyesal.

Ia lupa bahwa Gray sekarang sangat sensitif apabila seseorang menyebut nama 'Claire' di hadapannya.

Gray yang sempat jatuh sakit di hari pertamanya kehilangan ingatan tentang Claire. Berujung dengan kepalanya yang selalu berdenyut apabila mendengar nama Claire.

"Ada apa mencariku, Gray?" tanya Mary.

Gray tak menyahut.

Ia menatap hamparan lahan perkebunan dengan tatapan itu lagi. Tatapan yang sampai sekarang belum Mary mengerti.

"Gray," panggil Mary pelan yang membuatnya menoleh kali ini, "Ada apa mencariku?" lanjut Mary mengulangi pertanyaannya.

"Aku mengantarkan cangkul pesanan Jack," ucap Gray seraya menyerahkan sebuah cangkul yang berada di tangan kirinya.

"Ah terimakasih, Gray. Oh, ayo masuk dulu sebentar. Kubuatkan minuman dulu," tawar Mary yang berjalan mendahului Gray masuk ke dalam rumah. Rumah Claire tentunya.

Gray hanya menatap Mary yang menghilang di balik pintu dengan bingung, kemudian mengangkat kedua bahunya dan berjalan menyusul gadis itu.

Blam!

Pintu tertutup di belakangnya.

Suasana rumah yang sunyi membuat Gray mematung di tempatnya dengan tatapan kosong itu lagi, terarah ke sebuah sofa panjang berwarna coklat.

.

.

.

[Gray POV]

Perasaan aneh ini datang lagi. Seperti ada suatu gemuruh di dadaku dan rasa sakit di hati yang menyebar hingga terasa menyesakkan.

Tatapanku terus tertuju pada sofa itu.

Aku seperti mengenalnya, tapi... aku tidak tahu.

Seperti aku mengingat sesuatu, tapi aku bahkan tidak ingat sama sekali.

Apa yang sebenarnya telah hilang dari memoriku?

Orang-orang selalu menyebut tentang Claire.

Siapa dia? Siapa gadis itu?

Kenapa rasa sesak itu selalu datang saat aku mendengar namanya?

Claire...

Apa yang telah kulupakan tentangmu?

"Gray..."

Suara Mary menyadarkanku. Aku menoleh kearahnya. Lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan khawatir itu.

"Ayo duduk," ucapnya seraya meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.

Aku hanya mengangguk dan duduk di hadapannya.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sepi sekali.

"Dimana Jack dan anakmu?" tanyaku kemudian.

"Jack sedang membeli pakan ternak dan Yuki ada di rumah orang tuaku," jawab Mary dengan suara lembut seperti biasanya.

Yuki adalah anak pertama Mary yang masih berusia kurang dari satu tahun.

Aku tak ingat kenapa mereka tiba-tiba kembali ke Mineral Town.

"Apa kau belum mengingat sesuatu?" tanya Mary dengan nadanya yang terkesan berhati-hati.

Ia menyodorkan secangkir teh yang kusambut dengan baik. Aku menggeleng lalu menyeruput teh herbal yang di hidangkan Mary.

Aku mengecap rasa teh yang sangat asing ini. Terbilang cukup pahit namun masih terasa nikmat.

Mary menatapku dengan seksama. Dapat terlihat dengan jelas gadis itu tengah memikirkan sesuatu.

"Mary," panggilku pelan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

"A-ah! Ya? Maaf aku melamun..." ucapnya terbata.

Aku tersenyum tipis.

Mary masih tetap seperti yang dulu ku kenal. Gadis pemalu dan sering gugup.

Aku menyukainya. Dulu sekali, sebelum ia menikah dengan Jack.

Sudahlah, itu hanya masa lalu.

Sekarang hatiku sudah dihuni oleh seseorang.

Tunggu... Seseorang?

Siapa?

Kepalaku kembali berdenyut sakit, namun berusaha kuabaikan.

"Bisakah kau membantuku?" tanyaku yang kini menimbulkan ekspresi bingung di wajah Mary. Aku pun melanjutkan, "Aku ingin... mengingat kembali semua tentang Claire..."

Tch.

Hanya dengan menyebutkan namanya saja sudah membuat rasa sesak itu kembali.

Claire...

Aku ingin mengingatnya kembali, karena sepertinya gadis itu adalah seseorang yang penting bagiku.

"Kau mencintainya..."

Aku terdiam. Tertunduk seakan lantai sangat menarik perhatianku.

"Kau sangat mencintainya..."

Sebuah rasa sakit menguar di dadaku. Tepatnya hatiku.

Aku mencintainya?

Ya... sepertinya begitu. Aku masih merasakannya. Sesuatu yang lain.

Ya... seperti cinta.

Sepertinya...

Aku memang mencintainya.

.

.

.

[Normal POV]

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mary telah menitipkan anaknya –Yuki- pada kedua orang tuanya, sementara gadis itu bergegas pergi menuju Mother Hills.

Tangan kanannya menggenggam sebuah botol kecil yang berada aman di kantungnya.

Ia menginjakkan kaki di rerumputan yang sedikit basah karena embun pagi.

Mary berdiri di hadapan salah satu pohon besar di sana. Menutup matanya sejenak seraya menggumamkan sesuatu, "Spirit Goddess... aku Mary, ingin bertemu denganmu."

Beberapa detik kemudian cahaya putih menyelimuti dan membuat waktu disana terhenti. Muncullah sesosok wanita cantik bersayap biru dan mengenakan gaun dengan warna yang senada.

"Ah, Mary... Lama tak jumpa, hm?" ucapnya sangat ramah, tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

Mary membalas senyuman itu, "Spirit Goddess..." panggilnya pelan.

"Ada perlu denganku?" tanya Spirit Goddes yang dihadiahi anggukan oleh Mary.

"Aku ingin memohon bantuanmu," ujar Mary pelan dengan tatapan memohonnya.

Spirit Goddess mengangguk, "Apa ini ada hubungannya dengan Moon Goddess?"

Mary tersentak kecil, namun ia dapat mengerti dengan cepat bahwa Claire sebenarnya adalah sosok dari Moon Goddess. Ia memberikan anggukan antusias.

Spirit Goddess terlihat murung, ia menggeleng pelan, "Aku tak dapat membantu banyak. Kasus Moon Goddess sangat berbeda."

Mary menghela nafas sedih, "Begitu..." lirihnya.

"Padahal mereka saling mencintai, tapi sepertinya God memang membuat agar Goddess tidak dapat bersatu dengan seorang manusia."

Mary sedikit kaget mendengar ucapan Spirit Goddess.

"Jadi... Claire juga mencintai Gray? Ah, maksudku Moon Goddess..."

Spirit Goddess mengangguk menjawab pertanyaan Mary, "Benar. Tapi pemuda itu terlambat memberikan darahnya pada Claire sehingga dia masih hidup, namun kehilangan ingatan tentang Claire."

Pikiran Mary berkecamuk.

Ia bersyukur dalam hati karena sahabatnya masih hidup. Tapi bagaimana caranya ia membantu Gray?

"Apa Claire dapat kembali kesini, apa mereka dapat bersatu?" tanya Mary penuh harap.

Spirit Goddess tersenyum mencoba menenangkan, "Kau sangat baik Mary. Kejadian ini bahkan tidak ada hubungannya denganmu."

Mary menyergah dengan cepat, "Tapi Gray adalah sahabatku. Gray terlihat sangat tersiksa," ujarnya dengan suara yang lemah di akhir kalimat.

"Bukankah Gray akan lebih tersiksa lagi apabila dia mendapatkan ingatannya kembali tentang Claire, sementara gadis yang dicintainya tak ada lagi di dunia yang sama dengannya?"

Kalimat yang diucapkan Spirit Goddess membuat Mary membeku.

Itu benar.

Gray akan semakin tersiksa nantinya.

"Aku ingin mengingat kembali semua tentang Claire..."

Ucapan Gray kembali terlintas di pikiran Mary. Ia ingat saat itu Gray mengatakannya dengan tatapan yang sungguh-sungguh.

Dirogoh sakunya dan memberikan sebuah botol kecil berwarna biru kepada Spirit Goddess.

"Sepertinya itu botol cairan milik Moon Goddess," ucap Mary sementara Spirit Goddess memperhatikan botol tersebut lalu mengangguk. "Saat kutemukan masih tersisa setengah."

Spirit Goddess yang bingung hanya menatap Mary meminta penjelasan lebih.

"Kemarin aku mencampurkan setengah cairan itu pada teh herbal yang kamudian di minum oleh Gray," lanjut Mary yang membuat Spirit Goddess sedikit tertegun.

"Kau terlalu berani, Mary. Kita tidak tahu bagaimana efeknya nanti pada pemuda itu," komentar Spirit Goddess namun tidak adanya nada marah, ketus atau apapun disana. Sepertinya Spirit Goddess dapat mengerti apa yang telah dilakukan Mary.

Mary menunduk, "Maafkan aku telah lancang."

Spirit Goddess mengusap kepala mary dengan lembut, "Sudahlah, semoga tak ada hal buruk yang akan terjadi," ucapnya sambil tersenyum, "Lagipula keadaan Moon Goddess sendiri masih belum membaik."

Mary mengangguk, "Terimakasih telah mendengarkanku, Spirit Goddess."

Gadis itu memejamkan matanya kembali dan cahaya putih langsung menyelimuti. Spirit Goddess menghilang. Waktu kembali berputar.

.

.

.

[Gray POV]

Aku membuka mata perlahan, namun seketika cahaya putih menyilaukan menguar membuatku akhirnya kembali menutup mata.

"Gray..."

Aku tersentak pelan. Ada suatu gemuruh kecil yang bergejolak di dadaku saat mendengar suara bisikan itu.

Aku kembali membuka mata dan kembali terkejut. Disini, aku berdiri di tengah hamparan padang rumput yang sangat luas.

Tak ada apapun selain rumput hijau sepanjang mata.

Aku menolehkan kepala ke kiri dan kanan, "Apa ini mimpi?" tanyaku pelan pada diri sendiri.

Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang, menerbangkan apapun.

Aku melihatnya. Rumput-rumput yang berterbangan kesana kemari tak tentu arah. Namun anehnya aku tetap berdiri disini. Bergeming seperti tak tertiup angin kencang ini.

"Gray..."

Suara itu kembali melintas di telingaku. Tapi kali ini lebih terdengar sendu.

"Gray..."

Suara itu lagi. Suaranya yang lebih lirih dari sebelumnya.

"Gray..."

Aku terdiam. Suara yang kali ini terdengar semakin lirih, terasa menyakitkan sekaligus menyesakkan dada..

"Gray..."

"Hentikan," ucapku pelan, namun suara suara itu terus terngiang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan serapat mungkin.

Tenang.

Hening kembali kurasakan.

Aku membuka telingaku kembali. Kuhela nafas lega saat tak ada suara itu lagi.

Angin yang entah sejak kapan berhenti berhembus kini kembali berhembus dengan lebih kencang. Namun, kali ini aku dapat merasakan hembusan angin yang membuat diriku seolah melayang.

Aku memejamkan mata dan melihat sosok seorang gadis berambut pirang dengan mata biru yang sangat indah. Gadis itu menatapku dengan senyuman manisnya. Membuatku terpesona.

Sangat cantik.

"Gray..."

Ah, suara itu lagi. Namun sekarang terdengar lembut di telingaku. Sangat menenangkan.

Kini aku melihat gadis itu terduduk di pinggir sungai beralaskan rumput dengan aku yang duduk di sampingnya, memandang dengan tatapan penuh pesona ke arahnya.

Gadis itu menoleh ke arahku, dengan senyumnya yang terlihat... miris?

Membuat hatiku perih saat itu juga.

"Gray..." panggilnya pelan dengan tangannya yang terulur untuk menyentuh pipi kiriku. Mengusapnya dengan sangat lembut.

Aku memejamkan mata, menikmati sentuhannya. Entah kenapa sakit dan sesak itu kembali menyebar di dadaku. Seakan aku sangat merindukannya.

Sentuhan tangannya masih dapat aku rasakan. Semakin lama usapannya semakin perlahan.

"Gray... ini aku..." ucapnya pelan yang membuatku membuka mata.

Ia tersenyum manis dan getir di saat yang sama, "Ini aku... Claire."

Saat itu juga sosok gadis di depanku menghilang bagai bayangan yang tak kasat mata dan aku terhisap ke dalam kegelapan dengan kesadaran yang seolah ikut terhisap.

"Claire..." panggilku pelan sebelum kegelapan mengambil alih seluruh kesadaranku.

.

.

.

[Normal POV]

Gray membuka mata perlahan. Cahaya putih lampu berpendar sedikit menyilaukan sehingga ia harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk membiasakannya. Diperhatikan ruangan yang kini terasa sangat asing baginya.

"Dimana ini?" tanyanya pelan.

Ruangan serba putih dengan sebuah tirai yang juga berwarna putih membuat Gray menyimpulkan bahwa dirinya berada di klinik.

Nyut.

Sakit kepala yang hebat ia rasakan. Diremas pelan helaian rambutnya. Namun, denyut sakit itu semakin lama semakin menguat.

"Argh," jerit Gray tertahan.

Ia menarik nafas panjang berkali-kali berusaha menetralkan rasa sakitnya. Ternyata berhasil meredakan sakit di kepalanya walaupun sedikit.

Sekelebat bayangan yang tiba-tiba melintas di kepala Gray membuatnya membeku di tempat.

Wajah pucat seorang gadis yang berpeluh dan menahan rasa sakit terbaring lemah di sebuah sofa.

Gray terdiam beberapa detik untuk mengingat-ingat.

"Claire?" bisiknya pelan dan terdengar ragu, "Astaga! Claire!" teriaknya begitu saja dan langsung melompat turun dari kasur. Berlari cepat menyambar pintu yang kini terbanting keras di belakangnya. Gray tak peduli.

Tanpa mengenakan alas kaki ia terus berlari.

Gray tak peduli.

Dengan denyut di kepala yang kembali terasa sakit.

Gray tetap tak peduli.

Tujuannya hanya satu.

Claire.

'Bagaimana keadaannya? Ya Tuhan, semoga gadis itu baik-baik saja, semoga dia baik-baik saja,' batin Gray terus berharap dalam hati.

Rasa khawatir, cemas dan panik bercampur jadi satu, menimbulkan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

Kakinya terus berlari membawanya memasuki perkarangan perkebunan luas yang ada di Mineral Town.

Gray berhenti di depan pintu rumah Claire. Mengatur nafasnya yang terengah-engah, juga mengatur hatinya. Ia terus berharap dalam hati.

Tangannya terulur untuk memutar kenop pintu dan... pintu terbuka.

[Gray POV]

Aku terdiam, menatap ke dalam rumah Claire.

Kenapa?

Kenapa Mary dan Jack ada disana?

Aku menatap mereka yang sepertinya hendak menyantap sarapan dengan heran. Begitu juga mereka yang balas menatapku dengan tatapan tak kalah herannya.

"Yo... Pagi, Gray!" sapa Jack yang membuatku tersadar akan tujanku datang ke tempat ini.

"Dimana Claire?" tanyaku.

Mary terlihat tersentak dan dengan segera bangkit dari duduknya. Ekspresinya terlihat bingung tapi juga terlihat panik. Ia berjalan cepat menghampiriku.

"Gray... kau?" tanya Mary tidak aku mengerti maksudnya.

Aku mengalihkan tatapan ke seluruh penjuru ruangan, mencari gadis berambut pirang, pemilik mata seindah permata safir.

"Dimana Claire?" aku mengulang pertanyaan yang sama.

Namun Mary menundukkan kepalanya, menimbulkan suatu rasa takut dalam diriku.

"Mary... jawab aku!"

Aku memegang kedua bahu gadis itu, sedikit mencengkram dan sedikit menggoyangkan tubuhnya.

"Dimana Claire? Katakan padaku!" tanyaku dengan emosi yang bercampur aduk.

Aku takut. Aku sangat takut.

Mary yang saat ini meneteskan air matanya membuatku semakin takut. Ia akhirnya menggeleng, menjawab dengan suara getir, "Claire pergi... menghilang... kembali ke tempatnya berasal."

Kalimat terbata Mary sungguh menohokku.

Aku membeku di tempat dengan perasaan tak karuan.

Sakit? Ya, hatiku sakit.

Sesak? Ya, dada ini terasa sangat sesak.

Bayang-bayang Claire yang menahan sakit kembali berputar di pikiranku.

"Claire..."

Aku memanggilnya lirih.

"Claire..."

Aku memanggilnya semakin lirih.

"Maafkan aku," bisikku.

.

.

.

Angin malam di musim gugur terasa sangat menusuk kulit. Tapi aku tak peduli. Di dermaga ini aku berbaring, menatap langit malam bertabur bintang. Tidak, tatapanku bukan pada bintang, melainkan bulan dengan bulat sempurna yang memantulkan sinar berwarna oranye.

Sangat indah.

Tangan kananku terulur ke atas, seakan menggapai bulan. Berusaha menangkapnya dalam genggaman tanganku. Tapi tidak bisa.

Aku tak akan pernah bisa menggapai bulan. Tak akan pernah bisa.

Rasa sesak itu kembali muncul. Aku membiarkannya. Biar saja perasaan ini membuncah. Perasaan rindu dan rasa bersalah.

Apa kau disana? Apa kau melihatku saat ini?

Apa kau baik-baik saja?

Wajah pucat Claire seketika melintas di memoriku, membuat dada ini berdenyut sakit. Tanganku kembali terulur, seolah membelai wajah bulan dengan perlahan.

"Claire..." panggilku pelan, teramat pelan, "Kau harus baik-baik saja."

Setetes air mataku terjatuh membasahi pipi.

Aku merindukannya. Aku mencemaskannya. Aku...

Tetes lainnya kembali terjatuh.

"God... Tolong jaga dia... Bidadariku, yang sangat aku cintai."

Tetes demi tetes lain terus terjatuh membuat sebuah aliran kecil di pipi.

Aku menutup mata dengan lengan kananku. Membiarkan air mata ini mengalir begitu saja. Membiarkan kesedihan ini menguar ke seluruh tubuh.

Bayangan akan wajah Claire kembali melintas. Mata birunya yang indah dan senyumnya yang manis.

Seakan mimpi.

Ya, mimpi pertama tentang dirinya yang bisa membuatku gila.

Dan aku teringat akan tiga permintaan yang pernah di bahas Claire.

Aku ingin memilikimu.

Aku ingin kau membalas cintaku.

Aku ingin... kau kembali.

.

.

.

END...?

.

.

Yosh! Untuk yang sudah membaca fanfic ini hingga akhir dan untuk yang menyempatkan diri meninggalkan review saya ucapkan terimakasih banyak. Itu sangat berarti bagi saya :")

Kepada: -YellowMoonFlower, Pink green, Myu Amagi, ainagihara, Kei Fuyumi, Wanda Grenada- Terimakasih atas review di chapter sebelumnya ^^

Dan maafkan saya yang terlambat update sangat lama *bows*

Apakah berakhir disini? Tenang, masih ada lanjutannya~

.

.

-EPILOG-

.

.

.

[Gray POV]

Tang! Tang! Tang! Crash!

"Gray! Apa yang kau lakukan?!"

Aku mengerjap saat mendengar suara melengking milik kakek. Kulirik hasil karyaku yang membuat berlian paling langka hancur berkeping-keping.

Aku menghela nafas berat. Salahkan bayang-bayang gadis itu yang terus melekat di pikiranku. Salahkan rasa rindu yang teramat sangat ini.

Ku pungut kepingan berlian, bermaksud membuangnya. Namun kakek menangkap lenganku, menatap mataku dalam. Ada yang aneh dari tatapan matanya.

"Apa?" tanyaku datar.

"Lupakan gadis itu," ucap kakek pelan tapi terasa menusuk tepat di hatiku.

Reflek aku menghentakkan tangan membuat kepingan berlian tadi berjatuhan di lantai.

Melupakannya? Tak akan! Tak akan pernah!

"Jangan campuri urusanku!" ujarku dingin.

Kulihat kakek mulai geram, ia kembali berteriak, "Gray! Pekerjaanmu semakin tidak beres jika seperti ini terus!"

Tch

"Aku bisa mengatasinya!" bantahku.

"Kapan? Ini bahkan sudah berlalu satu bulan!"

Satu bulan ya?

Sudah selama itukah Claire pergi? Membawa hatiku bersamanya?

"Itu semua tak ada urusannya denganmu," gumamku pelan masih kuselipkan nada dingin disana.

Kakiku melangkah keluar menimbulkan bunyi 'Kling' pelan saat pintu terbuka.

Bruk.

Seseorang yang hendak memasuki toko sepertinya ku tabrak.

Aku tidak memperhatikannya.

Hanya sekilas yang kulihat rambut pirang panjang miliknya.

Tunggu...

Rambut pirang panjang?!

Aku dengan segera membalikkan badan dan seketika membeku di tempat.

Di hadapanku berdiri seseorang dengan senyum manis terhias di bibirnya.

Kakiku dengan cepat melangkah, menariknya ke dalam pelukanku dengan sangat erat. Membenamkan wajahku pada bahunya.

"Gray..." panggilnya pelan.

Suara itu, terdengar sangat nyata di telingaku. Suara yang aku rindukan dari pemilik yang sangat kurindukan.

Aku semakin mengeratkan pelukan, semakin membenamkan wajahku di bahunya. Air mataku mengalir tak tertahankan.

Sebuah sentuhan lembut mengusap punggungku, memberikanku ketenangan.

"Kau kembali..." bisikku pelan.

"Ya, aku kembali," ucapnya dengan suara lembutnya.

Aku melonggarkan dekapanku, mengusap air mata sebelum melepaskan pelukan.

Ku tatap wajahnya seakan takut jika berpaling, ia akan pergi lagi. Tanganku terulur untuk membelai lembut pipinya.

"Kau kembali..." ucapku dengan kalimat yang sama.

Ia mengangguk, "Aku kembali... Terimakasih, Gray," bisiknya yang kini memegang tanganku yang berada di pipinya.

"Claire..." panggilku pelan seiring dengan tanganku yang menangkup kedua pipinya. Menatap kedua mata safir miliknya dalam, "Kau kembali..."

"Aku kembali, Gray. Aku kembali untukmu. Maaf aku pergi terlalu la..."

Aku menariknya mendekat dengan cepat membuat ucapannya terhenti. Wajahnya kini hanya berjarak satu centi dengan wajahku. Aku menatap safir biru itu semakin dalam.

"Claire..." panggilku pelan, "Aku mencintaimu," bisikku pelan lalu ku daratkan bibirku pada bibirnya. Mengecupnya dengan lembut tanpa nafsu.

Biarkan dia merasakan rasa rindu yang teramat dalam ini.

Merasakan bahwa aku benar-benar mencintainya.

.

.

.

END! ^^