Naruto (c) Masashi Kishimoto
She's Back (c) Salada
Uchiha Sarada (c) Salada
. SasuSakuSara. InojinSara. Sekuel She's Back.
.
.
.
"MAMA BANGUUUNNN!" Haruno Sakura hampir terjungkal dari atas tempat tidur mendengar suara teriakan putri kesayangnnya. Mengeluh pelan, dia membuka mata, lalu cemberut menatap Sarada yang berlutut di atas kasur—di sampingnya.
"Apa?" respon Sakura malas. Dengan enggan dia bangkit dari posisi tidurnya. Duduk sebentar untuk mengumpulkan kesadaran. "Kenapa kau mengganggu tidur Mama sepagi ini, Sarada-chan?" dia menguap lalu menggeliutkan badan.
Bibir Sarada mengerucut sebal, "Mama bilang hari ini aku harus bangun pagi. Mama jadi mengantarku ke akademi kan?" melihat Sakura yang masih tak merespon, "Mama sudah janji~" dia mengingatkan.
Melirik jam weker yang ada di atas nakas di samping tempat tidur, Sakura mendengus. "Ini baru jam enam Sarada-chan. Masih terlalu pagi."
Turun dari tempat tidur, Sarada bersidekap menatap Mamanya dengan pandangan memperingatkan.
"Sarada~" Sakura mendengus melihat kelakuan menyebalkan anaknya.
Tak menjawab gadis kecil bersurai gelap itu mengetukan kakinya di lantai, bergaya bak seorang atasan yang menunggu bawahan memperbaiki sebuah kesalahan.
Sakura mencibir kelakuan Sarada. "Baiklah-baiklah. Mama akan masak dulu makanan untuk sarapan sebentar, setelah itu bersiap-siap." Dengan enggan Sakura turun dari tempat tidur, dia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu setelah selesai dia segera keluar dan melewati Sarada yang ekspresinya masih merajuk.
"Apa lagi Sarada-chan?"
"Tidak bisa kah kita makan diluar? Aku tidak sabar untuk belajar menjadi ninja di akademi," melihat ibunya yang melotot, Sarada menghela napas pasrah, "Baiklah-baiklah. Tapi yang cepat ya, Ma."
Sakura mendengus, tak menjawab dia segera keluar kamar dan beranjak ke dapur.
.
.
.
Antusiasme berlebihan Sarada mengenai ninja sedikit banyak membuat Sakura kewalahan. Bagaimana tidak? Selain dipaksa bangun pagi oleh anaknya, Sakura harus berkali-kali memperingatkan Sarada agar makan pelan-pelan supaya tidak tersedak tempura yang menjadi menu sarapan pagi ini. Dan Sarada sangat cerewet soal waktu, sehingga Sakura harus buru-buru mandi dan berpakaian. Dia menyelesaikan mandi hanya dalam waktu dua menit, dan kurang dari enam menit untuk berpakaian. Itupun tanpa make up.
"Mama cepat nanti kita terlambat!"
"Tidak akan terlambat Sarada-chan!" sahut Sakura sambil menyisir dan menguncir rambutnya buru-buru. Dia hanya memakai kaus putih biasa, dan celana pendek gombrang berwarna merah gelap.
"Tapi aku ingin menjadi yang pertama mendapatkan formulir pendaftaran akademi ninja, Mama."
"Hmm. Iya-iya."
Setelah melihat Mamanya selesai mengunci pintu apartemen. Dengan riang Sarada berlari mendahului ibunya ke jalanan, dan sesekali menoleh ke belakang.
Antusiasme Sarada mengingatkan Sakura pada dirinya sendiri saat seusia anaknya. Sarada pun memakai pakaian yang hampir sama dengan Sakura saat masih jadi murid akademi ninja. Yang membedakan keduanya hanyalah warna bola mata, rambut, kacamata, dan juga pita di kepala. Selain itu, Sakura kecil jauh lebih feminim daripada Sarada kecil.
"Mama, apa yang kau lakukan disana? Ayo!" teguran Sarada membuat Sakura tersadar dari lamunan. Tersenyum, dia kemudian berjalan menyusul putrinya.
.
.
.
Semangat Sarada makin meningkat saat mengetahui bahwa dia berada di barisan pertama yang berada di antrian formulir pendaftaran. Sesekali dia menatap dan melempar senyum pada sang ibu yang berdiri bersama kerumunan orang tua lain, Sakura membalas senyum anaknya dengan dua jempol teracung tinggi.
"Jidat? Kaukah itu?" sebuah suara yang cukup familiar di telinga membuatnya menoleh. Dan sebuah senyum lebar tersungging di bibirnya ketika mengenali siapa yang memanggil.
"Ino Babi?"
"Jadi ini benar-benar kau? Oh ya ampun. Aku pikir tadi aku salah lihat, tapi ... Ya Tuhan, aku merindukanmu." perempuan pirang cantik berseragam jounin itu langsung memeluk erat sahabat merah muda yang sudah sembilan tahun tidak bertemu dengannya.
"Aku juga merindukanmu Ino. Sangat." Sakura membalas pelukan Ino.
"Bagaimana khabarmu Jidat? Kapan kau pulang? Dan apa yang kau lakukan disini?" pertanyaan Ino yang bertubi-tubi, mau tak mau membuat Sakura merotasikan kedua bola matanya.
Melepaskan pelukan, Sakura kemudian menjawab, "Aku baik. Aku pulang dua hari yang lalu, dan ... aku kesini untuk mengantar anakku mendaftar."
Mata biru Yamanaka Ino membulat mendengar penjelasan Sakura. "K-kau sudah punya anak?" dia mengerjap tak percaya. "Kau serius?"
"Tentu saja aku serius Ino."
"Yang mana anakmu?" Ino celingak-celinguk, memperhatikan anak-anak yang sedang berbaris.
"Perempuan, berkacamata dan berbaju merah di barisan terdepan."
"Dia ..." sesaat Ino tertegun, "Kapan kau menikah, Jidat?"
Pertanyaan Ino kali ini membuat Sakura meringis masam. Dia tak menjawab.
Ino mengerucutkan bibir. "Oh. Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Nona."
Sakura mengangkat bahu. Berpura-pura tak peduli. "Oh ya, kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini Babi?"
Ino mendengus. "Aku kesini untuk mengantarkan putraku mendaftar, Jidat." Ino tampak mencari-cari sesuatu, lalu dia menunjuk ke salah satu anak dengan riang, "Itu dia. Rambut pirang, baju hitam. Yamanaka Inojin. Putraku," katanya bangga.
Sakura memperhatikan anak laki-laki yang ditunjuk Ino dengan seksama. Dia berdiri di tengah barisan. Cukup tampan. Memiliki kulit pucat, rambut pirang, dan mata biru. Sakura merasa dia pernah melihat pakaian hitam yang dikenakan oleh bocah itu, tapi dimana?
Mata hijau itu melebar menyadari sesuatu.
"Demi Kami-sama, jangan bilang kalau dia anaknya ... Sai."
Ino nyengir nakal. Dia menaik-turunkan alisnya bak seorang penjahat.
"Kau? Dan Sai? Oh Tuhan, aku tidak bisa membayangkannya." Ino yang enerjik, cerewet, dan setia kawan, menikah dengan Sai yang kelewat polos, tumpul emosi, terlalu jujur, dan tidak bisa membedakan yang mana hinaan dan yang mana pujian ... Sakura benar-benar tidak bisa membayangkannya. Dia berharap anak Sai dan Ino tidak mewarisi sifat menyebalkan orang tuanya. Terutama Sai, yang dulu selalu memanggil Sakura 'si Jelek'.
"Bayangkan saja jidat. Hasil malam pertama dari pernikahan kami, bahkan lebih bagus dari perkiraan. Aku dan Sai-kun berhasil membuat anak setampan Inojin."
Sakura mendengus. "Tutup mulut vulgarmu, Ino," katanya.
"Bagaimana kalau sepulang dari sini kau mampir dulu ke rumah untuk minum teh? Aku benar-benar merindukanmu Teman. Aku ingin berbicara banyak hal denganmu," ucap Ino sedih. "Dan Inojin anakku, dan anakmu mungkin bisa berteman. Atau bahkan bersahabat seperti kita."
"Tentu." Sakura mengangguk.
"Oh ya Jidat, nama anakmu siapa?"
"Sarada. U-nn Haruno Sarada."
Ino menatap sahabat lamanya itu dengan sorot sedih. Dia tahu Sakura pasti menyembunyikan sesuatu.
.
.
.
"Pemimpin Negeri Iblis marah. Walaupun perceraian ini merupakan keputusan dari kedua belah pihak. Mereka tetap menganganggap bahwa Sasuke yang salah, mereka pikir Sasuke memperlakukan Shion dengan buruk. Tidak seperti memperlakukan seorang istri," jelas Uchiha Fugaku pada putra sulungnya, Uchiha Itachi. Mereka sekarang sedang berada di halaman belakang rumah. Menyesap ocha, memakan kue kering, sambil membicarakan masalah yang menimpa keluarga Uchiha. Salah satunya adalah mengenai masalah perceraian Uchiha Sasuke, anak bungsu Fugaku, dengan anak Miko negeri iblis.
"Bagaimana bisa begitu? Sasuke memperlakukan Shion dengan sangat baik. Kita semua melihatnya selama ini. Dan ... Bukankah Shion yang lebih dulu mengungkit kata cerai?" Itachi tidak terima adiknya disalahkan. Dia sangat tahu bagaimana pengorbanan Sasuke ketika klan membuat keputusan untuknya agar menikah dengan Shion. Selama tiga bulan penuh, Sasuke selalu pulang dalam keadaan mabuk. Dia menangis, dan berteriak memanggil nama mantan kekasihnya memohon maaf atas apa yang terjadi. (Itachi tahu saat itu Sasuke menjalin hubungan dengan gadis merah muda manis, yang menjadi teman satu timnya saat masih genin, dibawah bimbingan Kakashi). Tapi walau Sasuke dan Shion menikah tanpa dasar cinta, tak pernah sekalipun dia melihat adiknya berlaku kasar pada anak Miko negeri iblis tersebut.
"Iya. Ayah juga tahu," kata Fugaku datar. "Ayah merasa ada sesuatu yang diinginkan oleh Negeri Iblis sampai mereka ngotot ingin mempertahankan pernikahan Shion dengan Sasuke seperti ini."
"Hn. Aku juga berpendapat begitu, Yah."
"Tolong kau selidiki," perintah Fugaku. Itachi mengangguk. "Kita akan membicarakan ini lagi setelah Sasuke pulang dari misi."
"Iya Ayah."
Sasuke sekarang memang sedang berada dalam misi. Dua hari yang lalu saat dia diam-diam mengikuti mantan kekasihnya, tiba-tiba seorang anbu mencegat dan mengatakan bahwa Rokudaime Hokage memiliki misi untuknya. Sasuke diperintahkan untuk pergi ke Suna, menyelidiki upaya pembunuhan terhadap Kazekage yang katanya dilakukan oleh ninja buronan dari Konoha. Sudah dua hari ini bungsu anak Fugaku Uchiha itu tidak berada di desa.
Fugaku dan Itachi saling melirik penuh arti. Ada orang yang menguping pembicaraan mereka, dan mereka tahu siapa dia.
Shion mengerutkan kening gelisah mendengarkan pembicaraan mantan mertua dan kakak iparnya. Negeri Iblis marah? Apa mereka ingin pernikahannya dengan Sasuke berlanjut? Ini pasti ulah penasihat Negeri Iblis yang sudah mempengaruhi Ibunya.
.
.
.
"Akimichi Chouchou! Salam kenal Sarada," gadis kecil gempal berkulit gelap itu memperkenalkan diri pada Sarada. Dia terlihat begitu bersemangat dan menyenangkan untuk dijadikan teman.
"Haruno Sarada. Salam kenal juga Chouchou." Sarada mengangguk kikuk. Dia tidak terbiasa dengan anak-anak yang mendekatinya, untuk berkenalan dan diajak sebagai teman. Anak-anak di kota tempat dia bersekolah dulu menjauhi dan tidak mau berteman dengannya. Alasan mereka (anak-anak kota) menjauhinya selalu karena dia tidak punya Ayah, atau karena dia punya kekuatan monster.
"Aku Nara Shikadai, senang berkenalan denganmu Sarada," anak laki-laki berambut nanas. Yang saat mengantri pengambilan formulir di akademi, Sarada lihat selalu menguap ngantuk, juga ikut memperkenalkan diri padanya dengan ramah.
"Sarada. Aku juga senang berkenalan denganmu Shikadai," jawab Sarada gembira. Perasaan gadis kecil itu membuncah oleh kebahagiaan, karena ini kali pertama dia mendapat teman. Dalam hati dia berterimakasih pada sang Mama, karena sudah menerima ajakan Bibi Ino untuk minum teh di rumah keluarga Yamanaka. Dia mendapatkan Inojin sebagai teman, dan bocah laki-laki tampan itupun mengajak Sarada keluar untuk diperkenalkan pada teman-temannya yang lain. Shikadai dan Chouchou.
"Nah. Semua sudah berkenalan kan? Bagaimana kalau sekarang kita pergi bermain?" ajak Inojin.
"Bermain menjadi ninja-ninjaan dan penjahat!" kata Chouchou kelewat bersemangat.
Sarada tersenyum, sementara Shikadai hanya menguap malas.
"Tapi ... Bagaimana dengan Mamaku?" tanya Sarada tiba-tiba ragu. Dia tidak terbiasa pergi bermain tanpa seijin Sakura. Sekarang Mamanya sedang berada di ruang tamu rumah keluarga Yamanaka, mengobrol akrab dengan Bibi Ino.
"Tenang saja. Ada Mamaku yang menemani Mamamu. Nanti aku juga akan mengantarmu pulang," kata Inojin sambil mengamit tangan Sarada dan mengajaknya pergi, disusul Shikadai dan Chouchou.
Perlahan semburat merah muda tipis menjalari pipi pucat Sarada kecil, dia tidak mengerti kenapa rasanya begitu menyenangkan saat dia bergandengan tangan dengan Inojin. Ah. Cinta monyet.
.
.
.
Sarada pulang dengan diantar oleh Inojin ketika hari menjelang petang. Setelah puas bermain sebagai ninja dan penjahat di lapangan Konoha, Sarada dan Inojin kadang berperan sebagai ninja, dan kadang juga berperan sebagai penjahat. Bergantian dengan Shikadai dan Chouchou.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang," kata Sarada malu-malu ketika mereka sudah sampai di depan gerbang geduang flat tempat tinggal Sakura dan Sarada. Tadi mereka sempat mampir ke rumah keluarga Yamanaka, tapi kata Bibi Ino, Mamanya Sarada sudah pulang.
"Iya. Sama-sama."
"..."
"Besok kita main lagi ya?"
Sarada mengangguk senang.
"Besok adalah hari pertama masuk akademi. Kita bisa berlatih dan belajar bersama di akademi."
"Iya," sahut Sarada. Lagi-lagi wajah imut gadis kecil itu kembali memerah.
"..."
"..."
"Sampai jumpa!" pamit Inojin sembari berbalik dan melangkah pulang menuju rumahnya.
"Sampai jumpa," ucap Sarada pelan. Dia terus mengamati punggung Inojin, sampai bocah Yamanaka Itu menghilang di tikungan jalan.
Saking asiknya melamun, menatap kepergian Inojin. Sarada tidak menyadari kalau Sakura ada di sampingnya. Perempuan bersurai merah muda itu tersenyum melihat ekspresi sang anak.
"Sarada-chan suka pada Inojin ya?" tegur Sakura sambil menjawil dagu anaknya. Membuat Sarada terkejut, dan wajahnya memerah sempurna.
"Mama!" Sarada memekik. "Itu tidak benar!" dia mengelak salah tingkah.
"Hayo Sarada-chan bohong. Kau menyukai Inojin kan?" Sakura tergelak menggoda putrinya.
"Mama hentikaaannn!"
Sakura berlari masuk ke gedung flat menghindari kejaran sang anak yang dia goda.
"Sarada-chan suka sama Inojin!"
"Mamaaa!"
.
.
.
Hari pertama Uchiha Itachi bekerja sebagai jounin pengajar di akademi ninja Konoha, setelah pensiun sebagai anbu. Dia menikmatinya, walau terkadang menguras kesabaran dan emosi karena tidak semua anak mau serius mendengarkan penjelasan yang dia sampaikan, ada yang sibuk sendiri seperti (anak kucing pirang, eh, maksudnya bocah pirang dari klan Uzumaki.) Anak Uzumaki Naruto si pahlawan Konoha, yang tampak mencorat-coret buku catatannya, kemudian merobek dan membuat pesawat-pesawatan. Selain itu ada juga yang tidur di kelas, seperti bocah dari klan Nara yang sekarang tampak pulas dengan wajah menempel di meja.
Ck. Like father like son. Dia menggerutu dalam hati.
Bel tanda jam pelajaran usai membuat Itachi menghela nafas lega. Menyuruh murid-muridnya bubar, dan memperingatkan mereka agar belajar. Karena besok dia akan mengevaluasi kembali materi yang sudah diberi hari ini.
"Sensei?"
Sebelah alis Itachi terangkat tinggi melihat salah satu muridnya menghampiri. Kalau tidak salah nama gadis kecil ini ... umm. Sarada. Ya, Haruno Sarada. Dia anak yang paling serius memperhatikan dan mencatat penjelasannya.
"Ada apa Sarada?" Itachi tersenyum ramah. Entah kenapa dia merasa familiar dengan mata gelap dan kening mungil yang berkerut, seperti memikirkan sesuatu.
"Aku ingin bertanya tentang spesifikasi chakra. Bagaimana cara mengetahui elemen chakra pada diri seseorang?"
Senyum Itachi melebar. Gadis kecil di depannya ini benar-benar cerdas dan teliti. Dia menyukainya. Dia kemudian menjelaskan beberapa hal tentang chakra yang tadi menjadi materi pengajarannya, dan juga yang berhubungan dengan pertanyaan Sarada. Mereka berdiskusi selama beberapa menit, lalu Sarada pamit pulang.
.
.
.
Haruno Sakura sedang berada di rumahnya. Membuat daftar bahan yang akan dia beli di pasar esok. Perempuan bersurai merah muda itu ingin membuat kerajinan tangan seperti tas tangan atau boneka yang bisa dijual (dia pernah mempelajari cara membuat dua benda ini saat bertahun-tahun tinggal di kota). Sakura mau menjadi wira usaha untuk menghidupi dirinya dan Sarada. Menurutnya kembali menjadi kunoichi bukan pilihan yang tepat, ketika dia masih belum bisa move on dari papa kandung Sarada.
Sialan. Padahal sudah sembilan tahun.
Sebuah suara ketukan di pintu depan mengalihkan perhatiannya. Sakura mengernyit mengenali chakra tamu yang mengetuk pintu flatnya.
"Kakashi-sensei?" sebelah alisnya terangkat, mencoba memikirkan alasan Rokudaime Hokage bertandang ke kediamannya sore ini. Apa ingin memarahinya mengenai keberadaan Sarada, sebagai anak yang lahir diluar nikah, seperti yang beliau lakukan beberapa hari yang lalu ketika Sakura pergi ke kantor Hokage untuk melapor dan mengurus ijin tinggal. Atau Kakashi ingin Sakura segera memberitahu Papa Sarada mengenai keberadaan anak itu? Untuk opsi kedua, hell no, Sakura tidak akan melakukannya. Dia sudah terlalu banyak menderita demi mempertahankan Sarada, sementara Sasuke dulu dengan seenaknya meminta dia menggugurkan kandungan.
Suara ketukan berikutnya yang terdengar tak sabaran membuat Sakura mendengus. "Iya, sebentar." meletakan catatannya di atas meja, Sakura segera bangun dari sofa dan beranjak menuju pintu.
Ketika pintu terbuka. Mata hijau Sakura melebar.
"Apa khabar Sakura?" Kakashi tidak datang sendiri. Dia bersama ...
"—Nenek Tsunade?"
.
.
To Be Continue
.
.
A/N : Konsepnya ini Cuma lima chapter. Dan saya harap perkembangan alurnya nanti benar-benar mengikuti konsep (kerangka cerita) yang sudah saya buat, tidak ada pengembangan alur yang bikin cerita jadi aneh.
Terimakasih buat yang sudah membaca, mereview, dan juga mem-fave prekuel fic ini/ She's Back. Maaf nggak bisa ngebalas satu-satu, tapi semua reviewnya tetap saya baca dan jadi penyemangat saya kok.
Dan buat Darling 'gakpunyaak
un' yang kemarin nitip surat cinta lagi. Hadewh Say, dirimu nggak lagi ngigo atau salah minum obat Dar? Aku ngefans sama kamu? Wkwkwkwk ngarep amat ya? dan sebelum kamu ngasih tantangan buat nyuruh aku bikin fiksi berkualitas, ngaca dulu Darling. Punya kaca nggak di kamar? Lebih berkualitasan mana fiksi saya yang jumlahnya tiga puluhan, atau 'surat cinta' kamu yang koar-koar kalau saya ini 'Karin Lovers Modus' dan kamu itu SSavers yang protes soal fiksi saya yang kata kamu nistain Sakura? Sebelum kamu ngasih tantangan bikin fiksi SasuSaku berkualitas ke saya, sebaiknya kamu tulis dulu seperti apa fiksi berkualitas itu. Sok atuh, ditunggu fict-nya. :p
