Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Haruno Sarada menuduk dalam-dalam saat menerima tatapan tajam dari sang guru. Walau laki-laki dewasa di depannya masih belum mengatakan hal apapun, tapi Sarada sudah menebak kalau dia akan dimarahi mengenai masalah yang dia buat di pasar tadi.

"M-maafkan aku, Uchiha-Sensei. Aku tidak bermaksud m-menghancurkan semuanya," dia tergagap takut. Bibir bawah gadis kecil itu bergetar, dengan liquid bening membayang di kedua pelupuk matanya.

Itachi mendesah. Setelah menghentikan Sarada dengan membuat muridnya itu pingsan menggunakan salah satu jutsu ilusi dari mangekyou sharingan, Itachi membawanya ke rumah, menempatkan tubuh kecil Sarada di kamar tidur tamu, dan menyuruh seorang pelayan untuk merawatnya sampai sadar. Beruntung kedua orang tuanya dan juga Sasuke sedang tidak ada, dia belum siap menjelaskan keberadaan (Uchiha baru yang tidak diketahui asal-usulnya ini) di rumah mereka.

"Sarada ...," ucapnya lembut. Berusaha untuk tidak menakuti si Uchiha kecil bermarga Haruno di depannya.

"I-iya Sensei?"

"Boleh aku tanya sesuatu?"

Sarada mengangguk. Keningnya berkerut. Di balik lensa kacamata, sepasang manik kelam itu memandang Itachi bingung.

"Siapa Ayahmu?"

Wajah Sarada berubah suram. Dia menggeleng, dengan bibir mencebik dia menunduk menatap tangannya. "Aku tidak tahu," jawab Sarada pelan. Kesedihan terdengar jelas dari suaranya.

Sorot mata Itachi berubah sendu. Dia menatap Sarada iba. Itachi adalah sosok laki-laki penyayang yang hangat. Sebagai seorang guru, dia memiliki rasa sayang yang sama besarnya untuk semua murid, termasuk Sarada. Tapi dia tidak mengerti, kenapa rasa sayangnya terhadap Sarada berkembang lebih, bukan seperti rasa sayang seorang guru terhadap murid, melainkan perasaan sayang sebagai keluarga yang memiliki ikatan darah-seperti yang dia rasakan terhadap Sasuke. Rasa sayang yang menyenangkan, seakan Sarada itu sesuatu yang selama ini hilang dari keluarga kecilnya dan baru ditemukan kembali.

Ah. Mungkin ini hanya perasaan karena Sarada juga seorang Uchiha, yang sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh klan.

"Tapi menurut Ibu, Ayah ... Adalah seorang shinobi Konoha yang hebat."

Perkataan Sarada menarik Itachi keluar dari lamunan. Dia memperhatikan Sarada yang tengah duduk di depannya dengan seksama, mencoba membandingkan wajah Sarada dengan wajah para Uchiha lain (yang terdaftar sebagai shinobi hebat Konoha, dan masih lajang).

Beberapa wajah Shinobi Uchiha lajang yang dia tahu, sama sekali tidak mirip Sarada.

Uchiha Shishui? Tidak. Itachi sudah mengenal anak Paman Kagami itu sejak masih sama-sama memakai popok. Shishui cinta mati pada Mitarashi Anko sejak di Akademi, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk melirik perempuan lain karena terlalu terpaku pada murid Sanin jenius Orochimaru itu, jadi tidak mungkin dia menghamili dan bahkan punya anak dari perempuan lain.

Uchiha Rei? Hn. Dia terlalu pemalu, dan akan kabur jika bertemu, berpapasan, dan bahkan didekati oleh perempuan. Dia mungkin memiliki alergi terhadap lawan jenis. Jadi jelas dia bukan Ayah Sarada.

Uchiha Shin? Yang ini jelas-SANGAT-tidak mungkin. Walau mempunyai kelakuan flamboyan sok playboy dan tukang tebar pesona, tapi Itachi tahu betul kalau salah satu sepupunya ini memiliki kelainan orientasi seksual. Lebih suka terhadap sesama laki-laki daripada perempuan. Dan saat ini dia sedang menyusun rencana untuk mendekati dan menjerat Neji, shinobi jenius dari klan Hyuuga, untuk menjalin hubungan asmara dengannya. Yah, doakan saja semoga Neji tidak khilaf.

Uchiha Itachi, yang berarti dirinya sendiri? Itachi mendengus saat menyadari bahwa otaknya memasukan dirinya sendiri dalam daftar 'siapa ayah biologis Sarada'. Hn. Tentunya aku akan mengingat dengan jelas saat bagaimana keperjakaanku lepas. Jadi tidak mungkin, batinnya masam. Tentu saja tidak mungkin, karena sampai sekarang Itachi kan masih perjaka.

Kakek Madara? Itu bahkan lebih dari tidak mungkin. Karena meskipun masih lajang, awet muda, dan masih sangat tampan, para gadis dan perempuan selalu mengambil langkah seribu jika berhadapan dengan kakek Madara. Sudah muka judes, ekspresi sedatar papan kayu, dan pula sorot mata serta senyumnya dingin menyeramkan. Mana berani perempuan mendekat?

Itachi mendengus. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap semua pikiran absurdnya tentang siapa Ayah Sarada menguap.

"Sensei kenapa?" Tanya Sarada penasaran melihat tingkah aneh gurunya.

Itachi meringis. "Aku tidak apa-apa Sarada," sahutnya. "Oh ya ..." Dia tiba-tiba merasa bodoh karena tidak menanyakan pertanyaan ini sejak tadi. "Sarada, siapa nama ibumu?"

"Umm? Sakura. Haruno Sakura."

Itachi terdiam sebentar. Dan perlahan matanya melebar terkejut saat kerja otaknya mendapatkan memori dari satu nama tersebut. Sakura. Haruno Sakura ... Gadis periang yang dulu sering berkunjung ke kediaman mereka.

"Namaku Haruno Sakura. Aku teman sekelas Sasuke-kun di Akademi, salam kenal Oniisan." Seorang gadis kecil berusia lima tahun, dengan rambut merah muda dan pita merah di kepalanya, tersenyum lebar pada Itachi kecil yang waktu itu menjemput Sasuke di Akademi.

...

"Aku Haruno Sakura. Apa Itachi-nii lupa padaku?" Suatu hari Itachi membuka pintu untuk seorang remaja cantik berambut merah muda, yang datang ke rumah untuk menjenguk Sasuke yang waktu itu sedang sakit. "Aku teman Sasuke-kun di tim tujuh. Aku datang kemari untuk menjenguknya, apa dia masih sakit?"

...

"Kami akan berkencan." Haruno Sakura (yang berusia tujuh belas tahun) memberitahu Itachi, sambil menggelendot manja di lengan Sasuke. Waktu itu Itachi, yang baru pulang dari kantor Hokage tidak sengaja berpapasan dengan mereka berdua di depan warung Ichiraku.

"Oh ya?" Itachi menyeringai melihat wajah memerah Sasuke. Adiknya tampak malu-malu dan salah tingkah, dia berpura-pura tak peduli pada Sakura tapi tampak menikmati kedekatan mereka. "Kalian pacaran?"

"Iya," jawab Sakura riang. Menurut Itachi, Sakura gadis yang baik dan ceria. Dia tersenyum hampir setiap saat.

"Hn."

"Kalau begitu selamat Otouto."

"Hn."

...

"Niisaaaan. Hik." Itachi kemudian teringat malam disaat Sasuke pulang dalam keadaan mabuk, sebelum pernikahannya dengan Shion. "Aku sudah berbuat jahat Itachi-nii. Aku sudah berbuat jahat."

"Sasuke bangun. Kau mabuk. Apa yang terjadi denganmu?"

"Aku seharusnya bahagia karena dia mengandung anakku. Tapi aku malah menyuruh dia untuk menggugurkannya! Sakura. Hik."

"Menggunggurkan apa maksudmu?" Tanya Itachi kaget.

"Sakura. Hik. Dia hamil anakku. Tapi aku menyuruh dia untuk menggugurkannya karena klan Sialan ini menjodohkanku dengan perempuan lain."

"..."

"Itachi-nii. Hik. Aku Ayah yang buruk."

Dan kemudian Sasuke menangis dalam pelukan Sang Kakak.

.

.

Jangan-jangan ...

Itachi tertegun menatap Sarada.

... Dia anaknya Sasuke dan Sakura?

"Sensei kenapa?"

.

.

"Anak kecil yang baru satu bulan menjadi murid Akademi Ninja Konoha, mengacau di pasar dan menghancurkan banyak hal?" Uchiha Fugaku, kepala pasukan keamanan Konoha mengernyit saat mendapat laporan dari salah satu bawahannya. Apalagi saat mengetahui kerusakan yang dibuat oleh si gadis kecil dari Akademi itu. "Tidak masuk akal. Mana mungkin anak-anak bisa membuat kehancuran sebesar ini?" Meruntuhkan hampir semua bangunan di wilayah pertokoan Konoha.

Uchiha Rei meringis gelisah. "Ini benar ketua. Banyak saksi yang mengatakan bahwa pelakunya adalah seorang gadis kecil murid akademi yang mungkin baru berusia delapan tahun."

Fugaku masih enggan percaya.

"Itachi-san yang menghentikannya."

"Oh ya? Sekarang dimana anak kecil itu? Kita akan menangkapnya."

"Itachi-san ... Nnn, membawanyanya ke rumah anda."

Fugaku terdiam. "Hn. Baiklah. Ikut aku. Bawa beberapa orang dan kita akan menangkapnya."

"Ha'I."

"Oh ya. Jangan lupa hubungi wali atau orang tuanya."

"Baik ketua."

.

.

"Jadi apa maksudnya ini?"

Hatake Kakashi mengulum senyum saat melihat tim tujuh, yang terdiri dari tiga muridnya di masa lampau, Naruto, Sasuke, dan Sakura, ditambah Yamato dan Sai, berkumpul kembali. Menjadi lebih lengkap.

"Senang rasanya melihat kalian lengkap dan akur seperti ini." Mata Kakashi menyipit, pertanda senyumnya makin lebar.

Sasuke mendengus. Sakura meringis, masih kewalahan dengan reaksi sahabatnya, Naruto yang begitu gembira melihat kemunculanya. Naruto terlihat lebih bersemangat dari biasanya, karena timnya sekarang sudah lengkap setelah bertahun-tahun. Sai memamerkan senyum palsu seperti biasa, dan Yamato tampak berekspresi serius.

"Apa yang kau rencanakan untuk kami, Pak Tua?" Desak Sasuke masam.

Kakashi terkekeh. "Tidak sabaran seperti biasa, Sasuke."

"Hn."

"Oh ya. Aku memiliki misi Rank S, untuk tim tujuh yang baru ini." Kakashi mulai serius. Sikap main-mainnya menguap entah kemana.

"..."

"Aku ingin kalian menyusup ke Negeri iblis, dan menyusup menculik Ratunya."

Seketika beberapa pasang irish berlainan warna di depan warna di depan Kakashi melebar terkejut.

Apa katanya tadi? Menyusup ke Negara orang dan menculik Ratu Negeri Iblis? Menculik mantan mertua Sasuke? Yang benar saja!

Kakashi kemudian menjelaskan pada mereka berlima, alasan kenapa mereka harus menculik Miko negeri Iblis. Itu untuk mengamankan Ibu Shion tersebut dari niat jahat dari beberapa menteri dan penasihat yang ingin menggulingkannya dan memanfaatkan kemampuan mistis Miko untuk menguasai dunia. Kakashi mendapatkan informasi tersebut dari beberapa pengawal Shion, dan mata-mata yang dikirim kesana. Selain itu Shion secara resmi meminta bantuan pada Konoha untuk menyelamatkan ibunya.

Saat sedang asik membahas rencana misi. Tiba-tiba pintu diketuk. Seorang chunnin muda masuk, menghampiri Kakashi, lalu membisikan sesuatu di telinganya.

Kakashi mendengus. Dia kemudian melirik satu-satunya perempuan yang ada di ruangan tersebut.

"Sakura?"

"Iya Sensei?"

"Anakmu ditangkap otoritas keamanan Konoha."

"APAAA?!"

.

Bersambung