Naruto And Highschool DxD © Bukan punya saya
Second Chance in Another Dimension © Ryusuke Akairyuu
Rate : M (Jaga-jaga)
Genre : Adventure, Supernatural, Family, Friendship, Romance, Mistery, ETC.
Pair : Naruto X Rias, Slight Other Pairing
Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, Ancur, GaJe, OOC, OC, Etc.
Summary :Naruto diberi kesempatan kedua serta sebuah tugas menghentikan perang. Naruto menyetujui hal tersebut dengan syarat beberapa temannya ikut dibangkitkan. Bagimanakah kisah perjalan mereka yang dipenuhi misteri, petualangan, persahabatan dan cinta ...
.
CHAPTER 8
Dua hari kemudian. Setelah jam pelajaran berakhir, Naruto diikuti anggota keluarganya menaiki tangga menuju ke Klub Penelitian Ilmu Gaib. Dengan tampang lesunya, Naruto berjalan di barisan paling depan. Dibelakangnya Karin dan Raynare berjalan beriringan disusul Gaara dan Lee. Dan dibarisan paling belakang adalah Shikamaru dengan tampang malas dan Kakashi yang berjalan sambil memegang buku kramatnya.
"Jadi, ... selama kami tidak mengawasimu banyak hal yang terjadi Naruto?" Shikamaru langsung membuka suara yang membuat Naruto yang berjalan paling depan langsung menoleh ke arahnya.
"Cuman satu hal yang terjadi ... kita akan mengikuti hal yang merepotkan." Jawab Naruto, ia kemudian mengembalikan pandangannya kedepan.
"Mendokusei!" Umpat Shikamaru dengan malasnya, sambil berjalan ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Kakashi menutup buku kramat miliknya kemudian menatap lurus Naruto yang berjalan di depannya. "Walaupun nantinya akan merepotkan ... aku bangga padamu Naruto." Ujarnya, semua keluarga Naruto yang mendengar hal itu mengangguk setuju. Mereka memang seharusnya bangga karena King mereka melakukan hal ini demi kekasihnya, Rias Gremory.
"Terserah kalian saja." Balas Naruto acuh tak acuh ketika ia sudah berada di depan pintu masuk ke dalam Club Penelitian Ilmu Gaib.
Setelah membuka pintu Naruto mendapati seluruh anggota Peerage Rias, sang ketua Rias duduk di meja kerjanya, Kiba dan Issei berdiri dan menoleh ke arah Naruto. Akeno, Koneko dan Asia duduk di sofa yang sama. "Biar kutebak! ... kita belum mendapat balasan dari pihak Phenex." Ujar Naruto, ia kemudian berjalan masuk diikuti anggota keluarganya yang masuk disertai sapaan ringan.
"Ya ... kita belum mendapatkan balasaan dari pihak Phenex, tapi aku yakin balasannya akan datang." Rias membalas perkataan dari Naruto yang terlihat berjalan ke arah mejanya dengan senyum mengembang. Sementara keluarga Naruto memilih untuk duduk di sofa minus Kakashi dan Shikamaru yang lebih memilih bersandar pada dinding di dekat jendela.
"Apa Naruto-kun yakin kalau, mereka akan menyetujui hal ini?" Naruto yang sudah menyandarkan pantatnya pada bagian samping meja Rias menoleh ke arah kekasihnya itu.
"Jika orang bernama Riser Phenex yang kau maksud itu, masih punya kebaggaan mengenai klannya ... dia pasti menyetujui hal ini." Jawab Naruto, ia kemudian mengembalikan pandangannya ke arah depan.
Akeno yang mendengar perkataan Naruto, menoleh ke arah pemuda pirang itu sambil menaruh tangannya di pipi. "Tetapi, ... saya tidak pernah berpikir Naruto-san rela menggantikan kita untuk melakukan Rating Game demi pertunangan Bochou ... ~Fufufu." Kata Akeno diakhiri tawa khas miliknya. Semua orang minus Shikamaru mengangguk setuju dengan perkataan dari Queen Rias itu.
"Dan menyeret kami ke dalam hal yang merepotkan." Naruto langsung mendelik ke Shikamaru ketika menambahi perkataan dari Akeno dengan nada malasnya. Sementara yang lain langsung sweatdrop.
Naruto kemudian mengalihkan pandangannya ke Rias yang duduk di kursi miliknya. "Sebenarnya aku hanya ingin membantu Rias-chan dari masalah yang ia hadapi sekaligus menguji kekuatan dari keluarga Iblisku." Kata Naruto.
"Aku tahu itu Naruto-kun ... itulah sebabnya aku tidak keberatan jika Naruto-kun dan Peerage-nya mau menggantikan kami ... Arigatou Naruto-kun!" Balas Rias kemudian tersenyum manis ke Naruto kekasihnya itu.
"Koreksi sedikit ... " Semuanya kembali menoleh ke Shikamaru. " ... bukan membantu tetapi kau tidak ingin kekasihmu diambil'kan." Naruto dan Rias langsung blushing di tempat mendengarkan koreksi dari Shikamaru karena memang itulah yang diinginkan oleh Naruto maupun Rias.
"Apa aku salah?" Tanya Shikamaru dengan nada malasnya kepada yang lain. Peerage Rias dan Naruto pun menjawab dengan gelengan pelan. "Ya ... Shikamaru benar." Ujar Lee yang duduk pada sofa disamping Gaara
"Dan aku tidak sabar lagi untuk menguji kekuatan dari masa mudaku yang kini mencapai puncaknya !" Semua kembali sweatdrop mendengar deklarasi penuh semangat Lee ditambah dengan mata yang berapi-rapi.
Tak berselang lama sebuah lingkaran sihir muncul di dekat pintu masuk ruang Club Penelitian Ilmu Gaib dan sesosok wanita berambut silver memakai pakaian maid bernama Grayfia muncul dari lingkaran sihir itu. Setelah lingkaran sihir menghilang Grayfia berjalan menghampiri Rias, mengabaikan tatapan aneh (mesum) Issei.
"Bagaimana Grayfia-san? ... apa Lord-Phenex dan Riser Phenex menyetujuinya?" Tanya Naruto saat Grayfia sudah berada di dekat meja kerja Rias.
"Mereka menyetujuinya Naruto-sama!" Rias dan Naruto langsung menyungging senyum tipis saat mendengar bahwa Riser dan keluarga Phenex menyetujui Naruto dan keluarganya menggantikan Rias dan keluarganya dala Rating Game. "Dan Riser-sama akan mendatangi Naruto-sama untuk menyelesaikan sisanya." Tambah Grayfia.
Tak berselang lama sebuah lingkaran sihir kedua muncul di tempat yang sama. Kobaran api menguar di pinggiran lingkaran sihir itu dan memunculkan Riser (kagak tau jelasin penampilannya). "Ahh ... sudah lama aku tidak mengunjungi dunia manusia." Riser menggaruk bagian belakang lehernya kemudian menoleh ke arah Rias. "Kau rindu denganku ... Rias sayangku." Tambah Riser
Rias tidak merespon apapun mengenai perkataan Riser, bahkan raut wajahnya pun menandakan bahwa ia muak dengan orang yang satu ini. Sedangkan Naruto hanya memasang wajah tenang sambil mengamati Riser. Dan ia dapat mengetahui jika Riser adalah orang yang arogan.
Rias kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berhenti tepat di samping Naruto yang sudah berdiri. Naruto kemudian mendekatkan kepalanya ke Rias. "Hei Rias-chan ... apa dia tunanganmu?" Bisik Naruto, tetapi walaupun berbisik perkataan Naruto dapat didengar oleh semua orang yang berada termasuk Riser karena mereka semua adalah Iblis.
"Ya benar !" Respon Riser
Naruto menjauhkan kepalanya dari Rias kemudian mengangguk pelan. "Pantas saja kau tidak mau Rias-chan, masih muda saja sudah berkeriput, apalagi nanti kalau dia tua." Entah apa yang dipikirkan oleh Naruto karena tiba-tiba saja ia melempar sebuah ejekan yang ditujukan untuk Riser.
Semua orang yang berada di sana berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya, bahkan Grayfia dan Gaara yang selalu berekspresi datar ikut menahan tawa. Berbeda dengan Riser yang mulai agak emosi mendengar ejekan dari Naruto. "Siapa kau rendahan ... berani-beraninya mengejekku?" Riser bertanya dengan nada yang cukup keras.
"Uzumaki Naruto, ... orang yang menantangmu melakukan Rat ... Roti ... atau apalah itu untuk menggantikan Rias-chan dan yang lain."
"Rating Game." Rias membenarkan apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu.
Riser yang mendengar perkataan dari Naruto, langsung menatap remeh pemuda berambut pirang itu. "Ohh ... jadi kau orang yang akan kulawan ?" Naruto mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari Riser sedikit pun. "Dan satu lagi pirang, tolong menjauh dari cal-"
"Baru 'calon' belum tunangan, ... jadi terserah aku jika mau dekat-dekat dengan Rias-chan." Potong Naruto membuat Riser menggeram kesal.
"Anoo ... apa dia orang akan Naruto-senpai lawan?" Issei yang dari tadi cuman diam dan juga menahan tawanya akhirnya menanyakan mengenai Riser.
"Izinkan saya untuk memperkanlkan Riser Phenex, dia adalah Iblis berdarah murni-"
"Kami sudah mengetahuinya Grayfia-san." Naruto langsung memotong penjelasan mengenai Riser Phenex karena mereka semua memang sudah mengetahui tentang orang yang akan dijelaskan. Grayfia pun merespon dengan anggukan kecil.
"Jadi ... bisa kita langsung ke intinya saja." Tawar Naruto tenang.
"Tentu saja." Riser masih mempertahankan sifat arogansinya membuat Naruto dan keluarganya teringat akan seseorang di dimensi mereka sebelumnya.
.
"Teh buatan Queen Rias memang enak." Ujar Riser setelah ia menyeruput teh yang disuguhkan oleh Akeno. Saat ini ia sedang duduk di sofa dan didepannya Naruto dan Rias duduk pada sofa yang sama. Di belakang sofa keduanya, Peerage Rias dan Naruto berjejer minus Kakashi dan Shikamaru yang masih di posisi yang sama.
"Terima kasih atas pujiannya." Balas Akeno sambil membungkukkan badannya, nampan untuk membawa tehnya berada di depan perutnya agar tidak menghalangi dirinya untuk membungkuk.
"Baiklah ... " Naruto menghela nafas sejenak dengan mata terpejam. "Jadi kau setuju mengenai , Rias-chan dan Peeragenya digantikan?" Tanya Naruto the point setelah ia membuka kedua matanya.
"Aku setuju ... dan aku lihat dibelakangmu, Peerage milikmu terlihat lemah." Ujar Riser membuat Shikamaru, Gaara dan Karin mengerutkan kening mereka karena diremehkan oleh Riser. "Bahkan yang satu itu, aku merasakan aura Datenshi dari tubuhnya." Tambah Riser sambil menunjuk Raynare yang berdiri di samping Issei.
"Huuh ... dia pasti Datenshi yang sudah kehilangan arah." Ujar Riser dengan nada terdengar mengejek sambil mengankat kedua tangannya. Issei yang mendengar hal itu akhirnya ikut mengerutkan keningnya.
Issei hendak mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya ketika Raynare menggenggam erat lengannya dan menoleh ke dirinya seolah mengatkan –jangan memasnakan keadaan-. Issei pun menghela nafas berat. "Baiklah." Pasrah Issei.
"Lemah atau tidaknya keluarga Iblisku, bukan urusanmu." Riser langsung mendelik Naruto ketika mendengar balasan dari pemuda pirang itu.
"Baiklah ... baiklah ... sekarang giliranku untuk memperlihatkan para budak iblisku." Riser menjetikkan jarinya dan seketika kobaran api yang lumayan besar tercipta di belakang pewaris klan Phenek itu. Dari kobaran api itu terlihat lima perempuan yang mengenakan pakaian yang berbeda-beda.
Naruto dan Rias tidak mengatakan apa-apa ketika menatap para Peerage milik Riser, kedua lalu mengembalikan pandangannya ke Riser hendak menghampiri Peerage-nya. Begitu pula yang lain yang tidak mengatakan apa-apa, kecuali satu dari mereka yaitu Issei yang mulai menangis melihat Peerage Riser. "Lima belas keindahan, ia memiliki lima belas gadis-gadis cantik. Dia adalah pria sejati!" Ujar Issei membuat semuanya sweatdrop.
Alis Naruto dan Kakashi berkedut setelah ia mendengar perkataan dari Issei. "Issei ... kau mempermalukan dirimu sendiri." Ujar Kakashi.
"Impiannya adalah menjadi harem King." Ucap Rias sambil menggeleng beberapa kali melihat Pawn miliknya itu.
Riser yang mendegar impian dari Issei langsung menarik seorang gadis berambut ungu bergelombang dan langsung mencium panas wanita itu, tidak lupa tangan kanannya memainkan payudara milik wanita atau Queen-nya itu. Semua orang yang berada disana pun menatap jijik apa yang dilakukan oleh Riser. Setelah Riser dan Queen-nya berhenti berciuman panas. Riser memberikan tatapan arogan kepada Issei. "Kau tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti tadi."
Issei tidak dapat lagi menahan emosinya melihat Riser yang notabene adalah calon tunangan Rias bisa-bisanya mencium wanita lain di depan tunangannya itu. "Diam kau brengsek! ... bisa-bisanya kau mencium wanita lain di depan Bochou yang merupakan calon tunanganmu, itu mungkin salah satu alasan Bochou menolak bertunangan denganmu dan lebih memilih Naruto-senpai! Aku tidak sabar lagi melihat Naruto-senpai menendang bokongmu di Rating Game nanti." Semua orang tertegun mendengar perkataan marah dari Issei terutama Rias.
" ... Issei ...!"
"Kau ... !" Riser menunjuk Issei dengan raut wajah emosi. "Apa kau tidak tahu posisimu? ... seorang Iblis rendahan berani membentakku!" Riser berjalan menjauh dari Queen-nya kemudian mengakat tangan kanannya lalu menjentikkan jarinya. "Kau akan merasakan akibatnya! ... Mira!"
Salah satu Peerage Riser melompat keluar dari kelompok dan berlari ke arah Issei yang kini tidak lagi berdiri di belakang sofa melainkan di depan meja. Peerage Riser hendak menghantamkan tongkat miliknya ke parut Issei, namun sebuah kilatan kuning muncul di depan Issei dan menampakkan Naruto yang menahan tongkat tersebut.
"Kau boleh saja menghinaku dan keluargaku ... tetapi jangan harap kau bisa melukai salah satu orang yang berada di sini." Ucap Naruto menatap tajam ke arah Riser masih dengan menahan tongkat milik Mira.
Semua orang dibuat terdiam oleh kecepatan Naruto, padahal pemuda itu tadi duduk di sofa bersama Rias dan kini berada di depan Issei sambil menahan tongkat milik Mira. Rias langsung berlari menghampiri Issei. "Kau tidak apa Issei ... ?" Tanya Rias dibalas anggukan kecil oleh Issei.
Riser mendengus pelan mendengar perkataan dari Naruto. "Untuk apa aku peduli dengan perkataanmu itu? ... kau hanya seorang Iblis s-"
"Lanjutkan perkataanmu ... maka jangan salahkan aku jika yang pulang ke Underword, hanya nama dan kabar kematianmu." Kini giliran Kakashi yang mengancam Riser dengan sebuah pedang besar yang hampir menyentuh leher Riser, entah kapan ia munculkan pedang bernama Kubikiribochoitu serta kapan ia berada di samping Riser.
"Minna-sama tolong jangan bertindak gegabah, ini seharusnya menjadi pertemuan damai untuk membahas Rating Game ini." Lerai Grayfia yang memang tugasnya untuk menghentikan hal-hal seperti yang terjadi saat ini.
Kakashi langsung menghilangkan Kubikiribocho kemudian berjalan menjauh dari Riser. Begitupula Naruto yang juga melepaskan tongkat milik Mira. "Maaf atas kejadian tadi." Ucap Naruto dan Kakashi secara bersamaan kepada Grayfia.
"Baiklah, ... Uzumaki Naruto ..." Naruto menoleh ke arah Riser yang memanggilnya. "... kau saja yang menentukan waktunya." Sambung Riser.
"Sepuluh hari lagi!" Jawab Naruto singkat.
Riser menatap remeh Naruto dengan alis terangkat. "Apa kau yakin? Kau butuh waktu lebih dari sepeluh untuk berlatih agar bisa mengalahaknku." Ucap Riser dengan nada meremehkan. Naruto menganggguk pelan meyakinkan bahwa sepuluh hari sudah cukup untuk berlatih.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu Riser." Naruto menatap Riser dengan sebuah seringai bertengger di wajahnya. Pewaris klan Phenex itu pun berdecek kesal.
"Cih! Sebaiknya persiapkan dirimu dan Peeragemu untuk kujadikan abu saat Rating Game nanti pirang." Riser berjalan menuju ke Peerage-nya. Sesampainya di depan Peerage miliknya, Riser menoleh dengan seringai ke Rias.
"Dan Rias sayangku ..." Rias kembali mendelik Riser. "... segeralah mempersiapkan segala sesuatu untuk pertunangan kita. Dan aku tidak sabar lagi melihat tubuhmu tanpa memakai busana." Ujar Riser.
"Itu tidak akan pernah terjadi Pirang!" Naruto berjalan mendekati Rias, kemudian menarik kekasihnya ke dalam pelukannya. "Karena satu-satunya orang yang boleh melihat Rias-chan seperti itu adalah ... Aku." Rias langsung merona ketika mendengar perkataan dari Naruto ditambah pelukan penuh perlindungan oleh pemuda itu membuat wajahnya semakin memerah. Sementara Peerage Naruto dan Rias mendengar perkataan pemuda pirang itu. Terutama Issei yang sempat membayangkan tubuh telanjang Rias di pikirannya.
Namun pikiran negatif Issei langsung terhenti ketika Koneko memukul perutnya. "Mesum dilarang disini." Issei mengangguk sambil memegang perutnya. "Kau jahat Koneko-chan." Batin Issei.
Sedangkan di posisi Riser, ia terlihat menggertakan gigi lalu berdecak kesal kemudian mengaktifkan sihir teleportasi Klan Phenex. Ia dan Peerage-nya pun menghilang setelah kobaran api melahap mereka. Setelah kepergian Riser dan Peerage-nya, Grayfia berpamitan kepada mereka kemudian mengaktifkan sihir teleportasi miliknya.
Naruto melepaskan pelukannya kepada Rias. "Baiklah Rias-chan, ... mungkin aku dan keluargaku pamit dulu. Kita akan membahas mengenai hal ini besok saja." Rias menggeleng pelan kemudian menarik lengan kiri Naruto.
"Tidak! Aku akan ikut Naruto-kun dan keluargamu ke apartemen kalian. Kita membahasnya jika sudah sampai di apartemen kalian." Naruto langsung menghela nafas ringan mendengar permintaan dari Rias. Ia berniat menolak permintaan dari kekasihnya itu namun Naruto langsung teringat dengan tatapan tatapan dua orang sangat menankutkan baginya, walaupun yang satunya ia cuman bertemu sekali dalam kehidupannya.
"Huuft, ... baiklah Rias-chan." Naruto mendesah pasrah. "Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu dan yang lain untuk malam ini." Ujar Naruto setidaknya untuk mengingatkan kalau Rias dan yang lain mungkin akan mendapatkan tugas ataupun seseorang akan memanggil mereka untuk membuat kontrak.
"Malam ini kuliburkan!" Jawab Rias kemudian melepaskan tangan Naruto lalu berkacak pinggang di depan kekasihnya yang kembali mendesah melihat kegigihan Rias untuk pergi bersama dirinya ke apartemen mereka.
"Sudahlah Naruto-san, Bochou itu susah ditolak permintaannya, ... Fufufufu." Akeno berujar mengingatkan Naruto mengenai Rias mengenai sifatnya yang sedikit pemaksa. Kiba dan Koneko mengangguk setuju dengan Akeno.
"Benar Naruto, ... mungkin kekasihmu ingin bersama denganmu malam ini." Kakashi mengukir senyum mesum di balik masker setelah berkata demikian, Naruto dan Rias langsung memunculkan semburat tipis di wajah mereka karena tahu apa yang maksud oleh Kakashi.
"Haaa, ... baiklah Rias-chan, kau boleh ikut." Ujar Naruto untuk kedua pasrah yang membuat Rias tersenyum penuh kemenangan.
Setelah itu Rias langsung menyuruh semua Peerage-nya untuk kembali karena malam ini mereka akan diliburkan karena Rias ingin pergi bersama Naruto ke apartemennya. Satu per satu dari mereka pun berpamitan begitupula Naruto dan yang lain.
.
Naruto Apartement
Sesampainya di apartemen. Naruto dan yang lain langsung menuju ke ruang tengah untuk membahas apa yang akan mereka lakukan sepuluh hari ini sebelum Rating Game dimulai. Setelah membahas hampir setengah jam akhirnya mereka memutuskan untuk latihan di Vila milik keluarga Gremory karena Rias menyarankan dengan syarat Peerage-nya juga ikut berlatih dengan alasan untuk memperkuat kemampuan mereka.
"Besok aku akan mengurus semunya bersama Sona untuk meliburkan kita semua selama berlatih di Vila Gremory." Ujar Rias menutup pembahasan mengenai masalah ini. Semua mengangguk paham kecuali Shikamaru yang dari tadi tenggelam dalam mimpi indahnya dengan posisi duduk bersandar pada sofa di samping Kakashi.
Naruto yang melihat kelakuan dari Bishop-nya itu langsung menggeram. Ingin rasannya ia menghancurkan rusa pemalas itu dengan Rasengan. "Grrrr ... Rusa pemalas sialan!" Umpat Naruto.
Satu persatu dari mereka mulai beranjak dari tempatnya menuju kamar masing-masing yang berada di lantai dua. "Raynare!" Pawn dari Naruto itu langsung menoleh ketika King keluarganya memanggil.
"Ada apa Naruto?" Tanya Raynare yang sudah berada di depan tangga untuk menuju ke lantai dua.
"Tolong antar Rias-chan ke kamar kosong di samping kamarmu." Raynare mengangguk pelan kemudian memanggil pewaris dari Klan Gremory itu untuk diantar menuju kamarnya. Setelah kedua gadis itu naik ke lantai dua, kini di ruang tengah hanya tinggal Naruto dan Shikamaru.
Beberapa menit kemudian. Sang Bishop akhirnya bangun dari mimpi indahnya. Dengan malasnya ia menguap bosan lalu menoleh ke Naruto. "Ohayou!" Cibir Naruto dengan nada kesal kepada Shikamaru.
"Hmm, Ohayou." Shikamaru membalas masih dengan malasnya membuat Naruto semakin kesal kepadanya. Urat-urat di kening pemuda berambut pirang itu pun sudah terlihat. "Bagaimana tidurmu, Putri tidur?" Tanya Naruto dengan nada kesal.
"Lumayan, ... memangnya kenapa?" Tanya Shikamaru.
"Cuman nanya." Balas Naruto direspon Shikamaru dengan anggukan kecil. "Ohh." Ujar Shikamaru singkat.
"Oh ya ... " Shikamaru kembali menoleh ke Naruto. " ... apa kau tahu mengenai apa yang akan kita lakukan sepuluh hari sebelum melawan Riser?" Tanya Naruto. Nampaknya pemuda itu berniat mengintrogasi Shikamaru mengenai apa Bishop-nya ini mendengar apa yang mereka bahas sebelumnya.
"Tentu saja latihan dasar bodoh." Jawab Shikamaru dengan nada malasnya. "Apa aku salah lagi?" Tanyanya kemudian dibalas gelengan pelan oleh Naruto.
Shikamaru kemudian berdiri dari sofa dan beranjak menunggu ke tangga. "Hoaaammzzz ... aku mau melanjutkan tidurku." Ujarnya sebelum Naruto bertanya tujuannya. Sepeninggal Shikamaru, Naruto ikut berdiri dan menyusul Shikamaru. "TUNGGU AKU RUSA PEMALAS!" Teriak Naruto kepada Shikamaru yang sudah berada di tangga menuju lantai dua.
.
Skip Time
"Issei-san bersemangatlah!" Asia melambaikan tangan kepada Issei yang berjalan bersama yang lain. Rias dan Akeno yang berada di dekat Asia ikut melambaikan tangan mereka kepada rombongan itu.
"Anoo ... Rias-san, apa tidak apa Issei-kun dibiarkan seperti itu?" Tanya Raynare yang nampaknya agak khawatir melihat kekasihnya itu membawa tas ransel berukuran besar ditambah lagi jalan setapak yang mereka lewati sedikit menanjak menambah penderitaan dari Issei.
"Aku tahu kau khawatir pada kekasihmu itu Raynare, ... tapi ini demi kebaikan Issei agar nantinya ia menjadi kuat dan bisa melindungi orang-orang yang berharga untuknya." Jelas Rias mengapa ia melalukan ini. Raynare yang mengerti akan hal itu, hanya mengangguk kecil dengan rona tipis di wajahnya.
.
"Kuso! ... ini berat sekali." Rutuk Issei. Pewaris dari [Boosted Gear] itu kemudian memperbaiki posisi tali ranselnya dengan wajah penuh keringat. Detik selanjutnya, Kiba sang Knight dari Rias berjalan melewati Issei dengan santainya.
"Aku duluan Issei-kun." Ujar Kiba lalu melempar senyum kepada Issei.
"Dasar pamer!" Umpat Issei melihat Kiba dengan santainya berjalan membawa ransel miliknya.
"Permisi Issei-senpai!" Sapa Koneko yang berjalan melewati Issei dengan ransel berukuran besar yang membuat pemuda berambut coklat itu hampir terjengkal kebelakang jika Lee tidak menahan tubuhnya dengan dua tangan.
"Arigatou Lee-senpai!" Ujar Issei sambil menoleh dengan raut wajah lelah kebelakang.
Setelah Issei berhasil menyeimbangkan tubuhnya, Lee menarik kedua tangan yang menahan tubuh Issei. "Kau harus mengeluarkan semangat masa mudamu Issei-kun!" Lee mengacungkan jempolnya kepada Issei ditambah memperlihatkan giginya yang berkilau.
"Hei Issei!" Panggil Naruto yang berjalan di samping Kakashi. "Ada apa Naruto-senpai?" Tanya Issei.
"Kakashi-sensei, aku pinjam bukumu sebentar." Kakashi mengangguk mengerti kemudian memberikan buku yang baca kepada Naruto. Setelah mengambil buku Kakashi, Naruto menghampiri Issei.
"Apa kau tau buku apa ini Issei?" Tanya Naruto dibalas gelengan pelan oleh Issei. Naruto kemudian memperlihatkan salah satu halaman dari buku dan seketika Issei langsung mengeluarkan darah dari dalam hidungnya. "Kalau kau bisa mengalahkan Alis Tebal, kau akan kupinjamkan buku ini." Tawar Naruto kepada Issei.
"Benarkah?" Tanya Issei memastikan.
Naruto mengangguk mengiyikan. "Alis tebal! ... lawan Issei berlomba mencapai vila keluarga Rias-chan!" Ujar Naruto.
"TENTU SAJA! ... AYO ISSEI-KUN! ... SIAPA YANG PERTAMA SAMPAI, DIA ADALAH PEMENANGNYA!" Teriak Lee penuh semangat membara.
"TENTU SAJA LEE-SENPAI! ... DEMI BUKU ITU, AKU AKAN BERUSAHA!" Balas Issei tidak kalah semangatnya, mengingat buku yang sempat ia lihat berisi hal-hal yang sangat ia sukai.
"Baiklah ... " Naruto mengankat tangan kanannya tinggi-tinggi. " ... HAJIME!" Teriaknya sambil menurunkan tangan kanannya. Semua orang langsung sweatdrop termasuk para perempuan yang sudah menunggu di dekat sebuah pancuran air dari bambu di depan mereka ketika melihat Issei dan Lee berlari dengan kecepatan tinggi sampai-sampai membuat kepualan debu mengepul.
"Sudah kuduga." Gumam Naruto sweatdrop diikuti anggukan oleh keluarganya.
"Benar-benar gumpalan nafsu duniawi." Ujar Shikamaru dengan nada malasnya. Ia satu-satunya orang tidak membawa apapun kecuali tampang malas khas miliknya. "Hn." Gaara membenarkan perkataan Shikamaru dengan gumaman ambigu.
Naruto, Gaara, Shikamaru dan Kakashi. Langsung melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda karena adegan abstruk kedua orang. Setelah menyusul yang lain, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke Vila milik Rias.
"Tunggu dulu!" Semuanya menoleh ke Naruto.
"Ada apa Naruto-kun?" Tanya Rias.
"Apa mereka berdua melihat lokasi Vilanya." Jawab Naruto dibalas gelengan oleh semuanya. Semua langsung terdiam mengetahui hal ini. Di pikiran mereka semua langsung tergambar Lee dan Issei yang berlari dengan penuh semangat tanpa mengetahui tujuan mereka yaitu lokasi dari vila milik Rias.
"Mendokusei."
.
TBC!
Terima kasih telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.
Akhir kata dari saya silahkan berikan komentar/saran/kritikan kalian mengenai Chapter ini di kolom Review.
