Author © Ryusuke Akarkay ... Ehh Akairyuu
Rate : M (For Safety)
Genre : Adventure, Supernatural, Family, Friendship, Romance, Mistery, ETC.
Pair : Naruto X Rias, Slight Other Pairing
Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, Ancur, GaJe, OOC, OC, Etc.
Dislaimer © I don't own Naruto and Highschool DxD, unfortunately. Those Rights belong to Masashi Kishimoto and Ichiei Ishibumi. Wheter it's Character, Names or Ability that might appear in this Story. And so, without delay ... Sit Back, relax and Enjoy This Story
.
CHAPTER 9
Langit Jingga mulai menghiasi langit di atas sebuah kawasan perbukitan dimana Naruto, Rias dan Keluarga Iblis mereka akan berlatih. Namun belum sempat mengistirahtakan tubuh mereka karena perjalanan menaiki bukit untuk mencapai Vila milik keluarga Rias. Mereka semua terlebih dahulu harus mencari dua orang yang keberadaannya tidak diketahui.
"Ini semua gara-gara kau Naru!" Karin menunjuk lurus Naruto dengan ekspresi sebal karena kebodohan dari Naruto membuat mereka keduanya menghilang.
"Aku ... " Naruto menunjuk dirinya sendiri sambil memasang wajah polos. " ... Issei dan Alis Tebal yang membuat masalah, aku yang disalahkan." Tambah Naruto masih dengan wajah polos bagaikan anaka kecil.
"Memang kau bodoh." Tukas Shikamaru malas. Ia kemudian memposisikan kedua lengannya sejejar dengan dada sambil berkata. "Siapa lagi kalau bukan kau? Madara 'kah? atau Obito?"
"Ya mereka berdua." Jawab Naruto asal-asalan.
"Mendokusei." Shikamaru kemudian melanjutkan langkahnya yang terhenti. "Lebih baik kita segera mencari kedua orang merepotkan itu." Kata Shikamaru diikuti anggukan oleh yang lain. Mereka semua pun melanjutkan pencariannya. Begitupula anggota Rias yang memilih berpisah agar mempercepat pencarian.
.
Sementara itu jauh di tengah-tengah hutan, terlihat dua orang yang tengah kebingungang karena nyasar ke tempat entah-berantah. Sudah hampir 2 jam mereka pusing mencari keberadaan Vila milik Keluarga Rias maupun rekan-rekan mereka yang lainnya. Mereka berdua baru sadar kalau mereka berdua tidak mengetahui lokasi dari Vila setelah berlari selama 1 jam lebih. Dan jika ditotal, mereka berdua telah berpisah dari yang lain selama 3 jam lebih.
Salah satu dari mereka yang memiliki ciri-ciri berambut coklat dan memakai kaos merah polos berlengan panjang serta training putih sebagai bawahannya serta sebuah sepatu kets hitam juga. Pemuda yang diketahui bernama Hyoudou Issei tengah membungkuk 90 derajat, kedua tangannya ditaruh pada lutut sebagai tumpuan. " KUSOOO!" Teriakan kekesalan pun dikeluarkan oleh pemuda itu kemudian menegakkan tubuhnya.
Pemuda itu lalu mengacak-ngacak rambut kecoklatan miliknya menandakan kalau kini ia benar-benar kesal ditambah pusing yang melanda kepala berisikan hal-hal yang tidak jauh kata 'mesum'. "Bagaimana ini Lee-senpai?" Tanyanya sambil menoleh ke arah pemuda berambut model mangkok yang diketahui bernama Rock Lee.
Mendengar dirinya diberi pertanyaan, Lee langsung menoleh ke arah Issei. " Bersemengatlah Issei-kun!" Kekesalan dan pusing yang melanda Issei kini berganti menjadi Sweatdrop di tempat mendengar ujaran penuh semangat dari sang 'Pawn' Uzumaki Naruto itu. "Kita akan segera menemukan yang lain." Lee mengacungkan jempolnya ke Issei dan tidak lupa memamerkan dereten gigi putihnya yang berkilau sejenak.
"Andai saja aku bisa menggunakan sihir teleport." Issei pun merutuki kelemahannya yang tidak mampu menggunakan salah satu kemampuan dasar dari Iblis. Mendengar pemuda disampingnya itu merutuki kelemahannya, Lee langsung menepuk pundak Issei sambil berkata dengan nada yang terdengar bersemangat. "Tenang saja Issei-kun! kita pasti akan menemukan yang lainnya."
Issei mengangguk pelan sambil berkata. "Kau benar Lee-senpai, Ayooo!" Keduanya pun melanjutkan pencarian mereka. Selama perjalanan Lee terus-terusan berkoar-koar menyerukan semangat muda yang membuat Issei kembali dilanda Sweatdrop. "Sebenarnya seberapa banyak semangat yang dipunya Lee-senpai?" Batin Issei dengan sweatdropnya.
"Seharusnya kau juga mempunyai semangat seperti orang itu Bocah." Issei langsung terkejut dan menghentikan langkahnya ketika sebuah suara yang lumayan mengerikan bagi Issei terdengar dari dalam Mindscape-nya. "Siapan itu?" Tanya Issei kepada pemilik suara yang barusan ia dengar. Lee yang berjalan di sampingnya menjadi kebingungan dan ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa Issei-kun?"
"Kau lupa denganku bocah?" Mahluk yang bersemayam di dalam tubuh Issei mencoba untuk membuat pemuda itu mengingat kejadian dimana dirinya akhirnya bisa berkomunikasi untuk pertama kalinya kepada Partnernya ketika emosinya benar-benar memuncak. (Di Arc penyelamatan Asia, tapi ane lupa menulis scan-nya :v). "Hey brengsek! tunjukan dirimu?" TItah Issei dengan nada meninggi membuat Lee semakin kebingungan dengan tingkah Issei yang berbicara entah pada siapa.
"Untuk saat ini, kau tidak perlu melihat wujudku bocah." Ucap suara itu dan akhirnya mahluk sumber dari suara yaitu Ddraig, salah satu dari dua Heavenly Dragon itu memutus kontaknya dengan Issei. "Siapa sebenarnya pemilik dari suara itu dan kenapa ia mengatakan hal itu." Batin Issei bertanya-tanya.
Beberapa menit berlalu dan Issei masih memikirkan hal barusan hingga mengidahkan panggilan dari Lee yang sudah beberapa kali memanggilnya. "Issei-kun! ... Issei-kun! ...ISSEEEEEIIII-KUUUUNNN!"
Gubrak!
Issei langsung terjungkal kebelakang ketika Lee meneriaki namanya dengan nada sangat keras. "Apa-apa kau Lee-senpai?" Issei melontarkan pertanyaan Retoris yang sudah tentu ia mengetahui jawabannya sambil berdiri setelah terjungkal kebelakang. Setelah berdiri tegap, ia langsung menatap garang Lee agar Lee menjawab pertanyaannya barusan.
"Kau sendiri yang tidak menjawab panggilanku Issei-kun." Jawab Lee yang sama sekali tidak terpengaruh tatapan garang dari Issei.
"Aree ... aku?" wajah garang Issei tergatikan dengan wajah polos sambil melontarkan pertanyaan barusan.
"Siapa yang kalau bukan kau Issei-kun." Tanya balik Lee membuat Issei tertawa kikuk karena menyadari kalau dia penyebab Lee sampai berteriak.
"Sebaiknya kita melanjutkan pencarian kita." Ajak Lee dan dibalas anggukan oleh Issei, setelah itu keduanya pun melanjutkan pencarian mereka yang sempat tertunda karena percakapan singkat Issei dan Ddraig.
.
Kembali ke tempat Naruto dan yang lainnya, sambil berteriak memanggil nama Lee dan Issei, mereka tidak menghentikan langkah mereka untuk menyusuri area demi area perbukitan lokasi mereka saat ini. 20 menit kemudian, orang termalas di antara mereka yaitu siapa lagi kalau bukan Sang 'Bishop' bernama Nara Shikamaru menghela nafas berat kemudian berjalan ke sebuah pohon. Sontak yang lainnya langsung memandang penasaran Shikamaru karena tiba-tiba saja berpisah dari mereka dan berjalan menuju ke sebuah pohon.
"Hey Shikamaru!" Panggil sang King yaitu Naruto, namun pemuda berambut nanas itu menyahut melainkan mengambil posisi duduk dengan punggung yang disandarkan pada batang pohon itu sedangkan kedua kakinya ia luruskan untuk meregangkan otot-ototnya yang mulai kaku karena sudah berjalan selama hampir 3 jam.
"Aku sudah lelah Naruto!" Urat-urat kekesalan langsung bermunculan di kening Naruto ketika mendengar perkataan malas dari Shikamaru. Nampaknya kelakuan menjengkelkan Shikamaru menurut Naruto kembali muncul. "Kalian lanjutkan saja pencariannya tanpaku saja, ... lagipula aku sudah mengetahui lokasi vilanya." Shikamaru pun menutup kedua matanya yang membuat Naruto semakin kesal dengannya.
"Haaa ... Tipikal Klan Nara lagi ... Selalu saja seperti itu." Komen Kakashi melihat kemalasan tingkat akut Shikamaru, ia kemudian memegang kepalanya dengan tangan kanan lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hn!" Entah apa maksud dari gumaman yang terdiri dari dua huruf konsonan yang dikeluarkan oleh 'Rook' keluarga Naruto.
"Apa Shikamaru-san memang semalas ini?" Tanya Raynare memastikan kemalasan dari Shikamaru, mengingat dirinya belum genap sebulan bergabung bersama keluarga Iblis Naruto. Kakashi dan Gaara yang mendengar pertanyaan dari Raynare pun mengangguk mengiyakan mengenai kemalasan dari Shikamaru, walaupun Rayanare sudah bisa memastikan jawabannya sendiri karena saat ini ia tengah menyaksikan jawaban dari pertanyaannya barusan.
Satu lagi perempuan di kelompok itu yaitu Karin yang mempunyai sifat agak pemarah atau emosian, berjalan mendekati Shikamaru dengan tangan kanan yang terkepal dan siap untukl dihantamkan ke wajah malas pemuda berambut nanas itu. Tetapi sebelum niat Karin kesampaian untuk memukulnya, Shikamaru langsung membuka mata kanannya. "Jika ingin mengamuk, ... jangan lampiaskan kepadaku."
"Lalu kepada siapa Baka!" Bentak Karin yang sudah tidak sabaran lagi untuk menghantamkan bogemnya.
Dengan ogah-ogahan, Shikamaru menunjuk Naruto yang berdiri dibelakang Karin. "Kenapa kepadaku Rusa sialan!" Bentak Naruto ketika dirinya ditunjuk oleh Shikamaru,
"Itu karena kau bodoh!" Balas Shikamaru, pemuda pirang itu hendak membalasnya namun Shikamaru keduluan berkata. "Bodoh karena kau lupa kalau kau sudah menandai Lee dengan tanda Hiraishin milikmu." Ternyata pemuda berambut model nanas itu tidak cuman duduk bersandar pada batang pohon tersebut, ia ternyata memikirkan cara untuk menemukan Lee dan Issei, ide tersebut muncul ketika ia sudah memejamkan kedua matanya.
Seketika dengan gerakan terpatah-patah empat orang yaitu Kakashi, Gaara, Karin dan Raynare menoleh ke Naruto yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Hey! ... ada apa dengan kalian?" Naruto pun meneteskan keringat dingin ketika melihat wajah menakutkan dari keempatnya yang mulai berjalan mendekatinya, ditambah background menyeramkan yang dapat Naruto lihat dari balik keempatnya.
"Naruto!" Panggil keempatnya penuh penekanan.
"I-Iya?"
Duag! Duag! Bumn! Brak! Brak!
"Dasar Bodoh!"
Duar!
"UAAAAHHHH ... FINAL ATTACK!" Teriakan memilukan dari Naruto pun menggema di area perbukitan itu hingga membuat puluhan burung beterbangan dari pepohonan.
.
Kelompok Rias, Issei dan Lee tengah memandang prihatin Naruto yang diseret paksa oleh Karin. Terdapat empat benjolan berasap serta beberapa luka lebam menghiasi kepala dan wajah Naruto. Itu karena setelah Ia menjemput Lee dan Issei dengan Hiraishin, keempat orang yaitu Kakashi, Gaara, Karin dan Raynare kembali menyerang Naruto tanpa memikirkan keaadaan dari King-nya tersebut.
"Anoo ... apa Naruto-kun tidak apa-apa?" Rias tampaknya khawatir melihat keadaan kekasihnya itu yang tengah diseret oleh kakak angkat Naruto.
"Tenang saja, ... Naruto sudah terbiasa babak belur." Kakashi melirik Naruto sejenak kemudian kembali manatap Rias dengan ey-smile miliknya. Naruto yang mendengar perkataan dari Knight-nya itu langsung mengutuk pria berambur silver melawan Gravitasi itu.
"Grrrrr ... aku sumpahin kau menjadi jomblo seumur hidupmu Kakashi-sensei."
"Ta-Tapi ... " Tampaknya jawaban dari Kakashi belum meyakinkan Rias sehingga kekhawatirannya kepada Naruto belum sepenuhnya menghilang.
"Aku sudah tahu kau sangat mengkhawatirkannya Rias." Untuk kedua kalinya Kakashi meyakinkan pewaris Klan Gremory itu untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Naruto. "Dan bukannya sudah kukatakan kalau Naruto itu sudah terbiasa babak belur."
"Kau dan kebohonganmu Kakashi-sensei." Celutuk Naruto dengan kesalnya kepada Kakashi yang hanya merespon celutukan Naruto itu dengan menatap King-nya itu dengan eye-smile seperti biasa. Tampaknya Kakakshi benar-benar membuat pemuda pirang ini kesal bukan main kepadanya.
Beralih ke bagian belakang dimana Peerage Rias ditambah Raynare berjalan dan sesekali melirik prihatin Naruto. Dan untuk kesekian kalinya, Asia Bishop dari Rias berkata kepada Issei. "Kau tidak apa-apa Issei-san?" Orang yang ditanya yaitu Issei, kembali menghela nafas untuk kesekian kalianya melihat Asia yang terus-terusan mengkhawatirkan dirinya.
"Astaga Asia-chan, ... bukannya sudah kutakan kalau aku tidak apa-apa." Jawab Issei dengan sweatdropnya yang kini menghinggapi dirinya dan Peerega Rias serta Raynare. Setelah Sweatdeop, Issei menundukan kepalanya sambil membatin. "Kecuali dimana aku tidak mendapatkan buku milik Kakashi-sensei."
"Issei-kun bodoh." Rutuk Raynare dalam hati melihat ketidakpekaan Issei mengenai kekhawatiran Asia. "Mesum tapi tidak peka." Tambahnya yang kinin sweatdrop karena sudah mengetahui Impian Nista Issei yaitu membangun kerajaan Harem miliknya sendiri.
"Ara~Ara ... itu artinya Asia-chan peduli padamu Issei-kun." Sahut Akeno sambil memandang Issei dengan tangan kanan yang ditaruh pada pipi. "Benarkan Asia-chan?" Akeno beralih menatap Asia yang kini wajahnya dihinggapi semburat merah karena perkataan dari Akeno. Detik selanjutnya Asia mengangguk kecil masih dengan semburat merah di pipinya yang membuat orang mesum sekaliber Issei maupun Azazel tidak tahan melihatnya.
"Apa itu benar Asia-chan?"
"T-Tentu saja Issei-san." Semburat merah semakin menjalar di kedua pipi mantan Biarawati Geraja itu.
...
Tak berselang lama, akhirnya mereka tiba di Vila milik keluarga Rias. Jika dilihat dari depan, Vila itu berukuran besar diimbangi dengan halaman yang lumayan luas dan terdapat sebuah air mancur pada bagian depan yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Tanpa menunggu lama, apalagi sang mentari mulai tenggelam di ufuk barat area perbukitan, mereka semua secara serentak memasukui Vila setelah sang empunya yaitu Rias membuka pintu masuk.
Scene Break
Saat ini di dalam sebuah ruangan yang lumayan besar dan pada bagian tengah-tengah terdapat sebuah meja berbentuk Oval yang dikelilingi sekitar 10 kursi yang masing-masingnya telah dua orang yang tidak kebagian tempat duduk yaitu Kakashi dan Lee, lebih memilih berdiri tidak jauh dari meja itu. Pria berambut silver melawan Gravitasi tengah membaca buku laknaknya sementara teman senasibnya yang tidak kebagian tempat duduk yaitu Lee terus-terusan berkata dengan nada keras mengenai ... ya tau sendirilah.
"Bisa kau diam kepala mangkok!" Bentak Karin yang duduk di samping kanan Naruto. Tampaknya gadis berambut merah itu mulai terganggu menyaksikan Lee. Seketika pemuda berambut model mangkok itu langsung diam ditempat, bukan karena bentakan Karin, melainkan aura tidak mengenakkan yang dikeluarkan oleh Karin. "Nah begitu lebih baik." Karin kemudian mengalihkan pandangannya ke Naruto.
"Ada apa?" Tanya pemuda pirang yang dipandangi. Karin mendesah pelan kemudian berkata. "Bisa kau memulainya."
"Karin benar ... " Kakashi membenarkan perkataan dari Karin kemudian menutup bukuk kramatnya. " ... Jadi, berapa lama kita berlatih dan seperti apa latihannya?" Tanyanya kemudian diikuti anggukan kecil oleh yang lain. Setelah itu secara serentak mereka semua beralih ke Naruto yang terlihat mengeluarkan sebuah kertas yang diketahui adalah jadwal latihan mereka yang ditulis oleh Shikamaru mengenai latihan yang mereka akan lakukan.
Naruto mengusap pelan dagunya ketika membaca isi kertas tersebut. "Hey Shikamaru!" Orang yang dipanggil langsung menoleh ke Naruto. "Ada apa?" Tanya Shikamaru dengan alis terangkat.
"Tulisanmu jelek sekali."
"Mendokusai." Shikamaru memberi isyarat kepada Naruto yang duduk di sebelah kananya agar kertas itu diberikan kepadanya, "Kau saja yang tidak bisa membacanya." Ujarnya malas kemudian mendesah pelan karena menurutkan menjelaskan apa yang tertulis di kertas adalah kegiatan yang merepotkan.
"Shikamaru-san!" Rias menegur pelan Bishop Naruto itu karena terlalu lama memandangi kertas itu. "Iya-Iya aku tahu ... Mendokusai!"
"Latihan ini akan berlangsung selama seminggu penuh ... " Keluarga Iblis Naruto mengangguk mengerti namun tidak untuk Rias dan yang lain. Dan sebelum Shikamaru melanjutkan perkataannya, Kiba langsung memotongnya.
"Anoo ... Shikamaru-senpai, apa itu terlalu singkat." Knight dari Rias itu tampaknya agak ragu dengan waktu latihan yang Shikamaru tetapkan mengingat lawan mereka adalah Riser yang merupakan pewaris dari Klan Phenex yang memiliki kemampuan Regenerasi ditambah Peerage yang lengkap pula. "Bukannya Rating Game akan dilaksanakan sepuluh hari lagi." Tambah Kiba.
"Seminggu menurutku sudah cukup untuk latihan." Kata Shikamaru memberikan pendapatnya yang diikuti anggukan kecil oleh keluarganya. "Dan sisanya kita gunakan untuk beristirahat serta mempersiapakan fisik dan mental."
"Itu benar." Ujar Kakashi membenarkan perkataan dari Shikamaru. "Walaupun kami sudah memiliki pengalaman bertarung yang lumayan banyak. Namun kali ini adalah pengalaman pertama kami dalam Rating Game, jadi kami harus mempersipkan fisik dan mental kami." Dengan tenang Kakashi menjelaskan, ia kemudian membuka kembali bukunya dan mulai membacanya.
"Kami mengerti." Ujar Rias mewakiili keluarganya yang terlihat menganggukkan kepala mereka. "Dan sekarang, bisa jelaskan mengenai latihannya." Tanya Rias setelahnya.
"Baiklah ... " Untuk kesekian kalinya Shikamaru mendesah malas. "Karena kalian juga ikut berlatih, maka latihannya aku bagi berdasarkan kemampuan kita masing-masing." Mereka mengangguk antusias sambil bersiap-siap mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Shikamaru.
"Untuk Lee, Issei dan Koneko. Kalian bertiga berlatih bersama-sama mengingat gaya bertarung kalian hampir sama yaitu pertarungan jarak dekat. Dan di hari keempat, Issei akan berlatih bersama dengan Naruto." Ketiga orang yang namanya disebut mengangguk mengerti.
"Untuk Kakashi-sensei, Kiba dan Raynare. Kalian bertiga berlatih bersama selama tiga hari dan setelah selesai. Kiba akan berlatih bersama Raynare untuk meningkatkan kemampuan Sacred Gear kalian yang mempunyai kemampuan yang hampir sama."
"Mengerti!" Jawab Kiba dan Raynare secara bersamaan.
"Bagaimana denganku?" Tanya Kakashi tanpa mengalihkan pandangannya dari halamana bukunya.
"Anda akan bergabung bersama Rias, Akeno dan Gaara untuk melatih kemampuan Sacred Gear anda. Dan untuk Rias dan Akeno, kalian berlatih meningkatkan serangan kalian melawan Gaara."
"Mengerti/Hn!" Jawab ketiganya.
"Dan untuk Si Wanita merepotkan dan Asia, kalian berdua berlatih bersama karena mempunyai kemampuan Sacred Gear yang sama."
"Apa katamu brengsek!" Bentak Karin karena dirinya dikatai wanita merepotkan.
"Wanita merepotkan!" Jawab Shikamaru malas.
"Grrrr ... kau akan kuhancurkan nanti Rusa Pemalas."
"Bagaimana denganmu dan Naruto-kun?" Tanya Rias karena kedua orang itu tidak disebutkan apa yang akan mereka lakukan seminggu ini. Mendengar pertanyaan dari Kekasihnya itu, Naruto mengukir senyum misterius yang membuat semunya bertanya-tanya. "Kalau aku cuman tidur dan melatih otakku." Rias pun mendesah pelan mendengar jawaban dari Bishop Naruto yang menurutnya sudah kelewat malas.
"Kalau aku. Bisa dibilang aku berlartih sendirian selama tiga hari ini ... Hehehehe." Jelas Naruto diakhiri tawa garing. Rias menaikkan sebelah alisnya lalu berkata. "Bisa kau katakan Naruto-kun." Pinta Rias.
"Itu rahasia Rias-chan."
"Mouuuu~ Naruto-kun ... beritahu kami dong." Rias memasang wajah memelas berharap agar Naruto memberitahukannya mengenai latihan yang akan dilakukan oleh Naruto, namun kali ini tatapan memelas Rias tidak berpengaruh pada Naruto karena Naruto merespon dengan gelengan pelan dan kembali mengukir senyum misterius.
"Kau juga akan melihatnya sendiri Rias-chan."
"Terserah." Jawab Rias ketus kemudian mengerucutkan bibirnya sambil berdiri dari tempat duduknya, tampaknya ia sebal kepada Naruto kekasihnya itu. Setelah itu ia kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut.
"Kau mau kemana Bochou?"
"Ke dapur untuk menyiapkan makan malam." Jawab Rias. Akeno selaku orang yang menanyakan hal itu kepada Rias hanya mengangguk kecil. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melirik sejenak ke Naruto dengan senyum palsu miliknya. "Ara~Ara ... " Setelah itu ia berjalan mengikuti Rias yang sudah berada di ambang pintu.
"Kami ikut!" Sahut Gadis Mantan Biarawati bernama Asia.
Asia dan gadis-gadis yang lain pun ikut berdiri dan berjalan mengikuti Akeno meninggalkan para pria di ruangan tersebut. Saat hanya ada pria di ruangan tersebut, Kakashi menutup bukunya kemudian menoleh ke Naruto. "Sepertinya Rias ngambek kepadamu Naruto." Pemuda pirang itu kemudian nyengir kuda di depan mereka yang terlihat bingung dengan cengiran itu.
"Haha ... nanti juga berhenti sendiri 'kok." Ucapnya dengan tenang.
"Apa yang membuat Naruto-senpai seyakin itu?" Tanya Pemuda pirang yang kedua di dalam ruangan tersebut, ia adalah Yuuto Kiba, Knight dari Rias yang nampaknya penasaran kenapa Naruto seyakin itu karena setahunya 'King-nya' lumayan susah jika dibujuk.
"Entahlah ... cuman firasatku saja." Jawaban yang terdengar asal-asalan terlontar dari mulut pemuda pirang bernama Naruto yang membuat semuanya sweatdrop di tempat. Issei yang pertama pulih dari sweatdropnya memasang ekpresi wajah senang yang membuat Naruto bertanya-tanya.
"Kuharap Naruto-senpai dan Bochou tidak baikan saja." Harapnya penuh ambisi membuat Naruto mendelik penasaran kepadanya. "Apa maksudmu Ero-Gaki, ... Haaa?" Tanya Naruto
"Tehe~ ... Kalau Naruto-senpai tidak baikan dengan Bochou, maka lama kelamaan ... "Sebuah Aura tidak mengenakkan dari Naruto langsung membuat Issei menghentikan ucapannya. Tidak lupa tubuhnya yang mulai merinding disko. Naruto tampaknya sudah mengerti apa arti ucapan dari Issei, masih mendelik Issei serta aura yang tidak mengenakkan menguar dari tubuhnya. Sementara yang lain hanya diam menyaksikan hal ini. Pemuda pirang itu kemudian bertanya kepada Issei."Jadi ... kau berharap agar aku dan Rias-chan putus?"
Issei menggeleng cepat tanda takut. "B-Bukan Naruto-senpai." Sanggahnya dengan nada gagap. "Sial! ... putuslah harapanku untuk memasukkan Bochou ke dalam Haremku." Batin Isseil lesuh karena tujuannya harus terhenti karena ia kalah bersaing melawan pemuda pirang kekasih dari 'King-nya' itu.
Mendengar sanggahan dari Issei, walaupun Naruto masih meragukan hal itu. Ia akhirnya menurunkan tekanan auranya kemudian memandang Gaara penuh selidik. "Bagaimana dengan Gaara?" Tanya pemuda pirang itu penuh selidik kepada pemuda berambut merah bata bernama Sabaku Gaara.
"Belum saatnya Naruto." Jawab Gaara datar. Naruto hanya merespon dengan anggukan kecil tanda mengerti walaupun jawaban dari Gaara belum sepenuhnya meyakinkan bagi Naruto begitupula yang lain kecuali Issei yang belum sepenuhnya mengetahui perihal Gaara dan Akeno dikarenakan ia sangat jarang melihat keduanya berdekatan.
"Ano ... Memangnya apa yang apa yang Gaara-senpai ingin lakukan?" Tanya Issei penuh rasa penasaran. Ia pun menatap Naruto dan Gaara secara bergantian. Melihat gelagat Issei, kedua orang itu pun mengukir seringai tipis yang membuat yang lain geleng-geleng kepala karena mengetahui maksud dari seringai tipis keduanya. "Apa kau yakin ingin mendengarnya Issei?" Tanya Naruto memastikan, setidaknya ia perlu meyakinkan Issei untuk mendengar hal ini, kalau tidak Ia pasti akan syok mendengarnya. Pikir Naruto. Issei pun meresponnya dengan anggukan antusias tanda yakin.
"Hmmn baiklah ... " Naruto menjeda kalimatnya sedangkan Issei terlihat menahan nafasnya untuk menunggu kelanjutan dari Naruto. " ... Gaara mau menyatakan perasaannya ke Akeno."
Jdeer!
"NAAANIIIIII!" Secara serentak seisi ruangan tersebut langsung menutup telinga mereka mendengar teriakan Issei yang menggema pada ruangan tersebut. Tampaknya dugaan Naruto mengenai Issei yang akan syok mendengar hal terbukti benar.
Naruto menyingkirkan kedua tangan miliknya yang ia gunakan untuk menutup telinganya karena teriakan dari Issei barusan. "Hey Issei memangnya kenapa kalau Gaara menyatakan perasaan ke Akeno, toh mereka aku lihat saling menyukai satu sama lain." Perkataan dari Naruto pun membuat Issei semakin syok karena targer Harem-nya kembali direbut oleh orang lain.
"KUSOOO ... Dunia benar-benar tidak adil ... Terkutuklah kalian para lelaki tampan sedunia." Umpat Issei penuh amarah membuat yang lain dibuat sweatdrop di tempat untuk kedua kalinya.
"Jangan salahkan dunia dan para lelaki tampan Ero-Gaki ... Salahkan kemesuman tingkat akutmu yang membuat para wanita tidak mau mendekatimu." Kata Naruto masih dengan sweatdropnya.
"Hn!" Gaara bergumam ambigu tanda bahwa ia setuju dengan pendapat Naruto mengenai Issei begitupula seisi ruangan yang hanya menganggukkan kepala mereka.
.
Skip Time
"Gila! ... Kakashi-sensei ingin membunuh kita." Keringat yang lumayan banyak mengucur deras pada tubuh pemuda berambut coklat yang mengumpat karena Kakashi memberikan pemanasan yang cukup ekstrim sebelum mereka memulai latihannya. Pemanasan itu berupa mengelilingi Vila keluarga Rias yang seluas dua lapangan sepakbola sebanyak 15 kali. "Dan apa-apaan itu Push-up dan Sit-up sebanyak 200 kali. Benar-benar sebuah penyiksaan fisik, punggungku serasa mau terbang." Tambah pemuda itu kemudian duduk bersilah di atas hamparan rerumputan hijau setelah ia menyelesaikan Push-up.
"Kau terlalu banyak mengeluh Issei-kun." Pemuda yang diketahui bernama Issei itu menoleh kebelakang ketika mendengar seseorang menasehatinya. Setelah menoleh ia mendapati sang penasehat yaitu seorang pemuda berambut pirang berjalan ke arahnya sambil mengelap wajahnya menggunakan handuk merah dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa handuk lain yang terlihat masih baru. Issei mendecih pelan kemudian mengembalikan pandangannya ke arah depan mengacuhkan pemuda yang berjalan ke arahnya itu.
"Menurutku ... pemanasan ini juga ada manfaatnya." Walaupun ucapan dari pemuda itu terdengar tidak terlalu mempermasalahkan pemasan yang diberikan Kakashi, namun keringat di sekujur tubuhnya mengatakan hal sebaliknya. Setelah tiba di samping kanan Issei, pemuda itu duduk dan menyodorkan handuk di tangan kirinya kepada Issei. Tanpa memandang pemuda itu, Issei menerima handuk tersebut kemudian memulai mengelap keringat di tubuhnya.
"Kau tidak perlu sok pamer Kiba, aku tahu kau juga tersiksa dengan pemanasan ini." Pemuda yang diketahui bernama Kiba itu tersenyum menanggapi ucapan dari Issei.
"Kau benar!" Kiba masih mempertahankan senyumannya dan ikut melakukan apa yang Issei lakukan yaitu mengelap keringat di tubuhnya. Beberapa menit kemudian, sebagian banyak keringat pada tubuh kedua pemuda itu. Kiba mengalihkan pandangannya menuju ke arah kanan dimana ia mendengar banyak suara feminim serta suara langkah kaki. Sumber suara itu adalah para gadis yang hampir menyelesaikan putaran terakhir mereka mengelilingi Vila yaitu sebanyak 7 kali.
"Sepertinya Bochou dan lainnya juga hampir selesai." Ujar Kiba. Mendengar ucapan dari Kiba, seketika Issei ikut menoleh ke kanan.
"UUUUOHHHHHH!" Teriak Issei dengan mata berbinar melihat Oppai para gadis yang bergerak naik turun karena berlari. Kiba hanya bisa tersenyum miring menyaksikan pemuda pewaris [Bosted Gear] disamping itu.
Beralih ke para gadis yang tengah berlari. Koneko yang mempunyai alarm anti mesum milik Issei seketika merasakan hal aneh. Koneko menyipitkan mata. "Aku merasakan ada seseorang memperhatikan kita." Ujar Koneko membuka suara dengan nada datar mengenai hal yang barusan.
"Ara~Ara ... Kau benar Koneko-chan." Timpal Akeno membenarkan.
"Sudah kuduga, dasar mahluk nista." Kata Koneko ketika menerawang ke tempat Kiba dan Issei.
Rias yang tidak terlalu memperdulikan hal itu malah sibuk mencari keberadaan seseorang. "Dimana Naruto-kun?" Tanyanya kepada yang lain karena ia tidak mendapati orang dicari diantara para lelaki yang sudah menyelesaikan pemanasan mereka (Kecuali Shikamaru yang tidak pemanasan).
"Heee ... Bukannya kau sedang tidak mau membahas mengenai Naru karena ngambek dengannya." Bukannya menjawab pertanyaan Rias mengenai keberadaan adik angkatnya, Karin malah melempar balik perntanyaan penuh selidik karena setahunya Naruto maupun Rias tidak ada yang berbicara bahkan bertegur sapa satu sama lain saat makan malam.
"Ara~Ara ... Karin-san benar." Untuk keduanya kalinya Sang Pendata petir Queen dari Rias, menimpali perkataan dari seseorang untuk membenarkannya.
"Ano ... I-Itu ... Be-Begini, aku hanya ingin tahu apa yang dilakukan oleh Naruto-kun sekarang ini." Sanngah Rias. "Itu saja kok ... "
Dan tanpa mereka sadari karena keasikan berbincang-bincang sambil berlari-lari kecil. Akhirnya mereka tiba di tempat yang lain Minus Naruto menunggu mereka. Asia dan Raynare langsung merebahkan tubuh mereka di atas rerumputan karena kelalahan, sedangkan Akeno dan Karin lebih memilih berbincang-bincang bersama Kakashi dan Gaara.
"Apa yang Naruto-kun lakukan?" Tanya Rias kepada yang lain ketika mendapati kekasihnya tengah duduk bersilah dibawah pohon tidak jauh dari mereka. Pemuda itu terlihat memejamkan mata, kedua tangannya terkepal dan saling bertemu satu sama lain di depan dada.
"Itu adalah cara Naruto berlatih." Jawab Pria berambut silver melawan Gravitasi yang memiliki hobi membaca Buku berjudul 'Icha-Icha Paradise'.
"Latihan?" Beo Rias masih memperhatikan Naruto dengan seksama. "Yang kulihat Naruto-kun hanya duduk dengan mata terpejam."
"Sudah-sudah!" Lerai Shikamaru dengan malasnya sambil menggaruk kepalanya. "Tidak usah memperdulikan si kuning bodoh itu." Tambah Shikamaru kepada yang lainnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan denganb kedua tangan digunakan sebagai bantalan.
Kakashi yang menyaksikan tingkah Bishop keluarga mereka itu pun sweatdrop sambil membatin. "Bilang saja kalau kau tidak mau diganggu."
"Shikamaru-kun benar. Mari kita mulai latihan ini." Sembur pemuda berambut model mangkok dengan semangatnya. Semuanya mengangguk paham dan akhirnya beranjak dari tempat itu meninggalkan Naruto dan Shikamaru. Tidak lupa mereka memanggil Issei dan Kiba yang duduk tidak jauh mereka.
...
Beralih ke Naruto yang kini telah berada di Mindscape miliknya. "Hmmmnn ... " Gumam Naruto sembari mengedarkan pandangannya. Tampaknya ada pemuda itu tengah dilanda keheranan setelah melihat apa yang terjadi dengan Minsdscape-nya. " ... Mungkin karena sekarang aku adalah seorang Iblis yaa?" Tanyanya entah pada siapa. Mindscape Naruto dan Kurama yang dulunya adalah sebuah tempat yang digenangi air kini berganti menjadi tempat yang beralaskan lantai keramik hitam tak berujung dan dibagian atasnya terlihat seperti langit malam yang dihiasi ribuan sesuatu berwarna kemerahan yang jika diperhatikan dengan seksama terlihat seperti sebuah gugusan bintang.
Setelah puas memandangi Mindscape barunya, ia berbalik sambil bertanya entah kepada siapa untuk kedua kalinya. "Dimana Kurama?" Setelah tubunya berputar 180 derajat, akhirnya Naruto menemukan sosok sahabat yang ia cari-cari, yaitu seekor rubah yang memiliki sembilan ekor dan bulu orang yang sedikit gelap dari biasanya tengah bersimpuh dengan mata tertutup.
"Malas seperti biasanya." Kata Naruto yang kini sweatdrop melihat Kurama. Tetapi setelah ia mengingat ucapan dari Satan dan Shinigami. Naruto pun mengerti kenapa sahabatnya itu tidak pernah menghubunginya. Pemuda itu awalnya ingin membangunkan Kurama, namun niatnya ia urungkan. "Sebaiknya aku memulai latihanku saja."
Naruto memutar kembali tubuhnya dan mulai berkonsentrasi untuk mengaktifkan Sharingan yang merupakan salah satu kekuatan dari Sacred Gear miliknya. Perlahan bagian tengah kedua iris biru Sapphire Naruto mengeluarkan 3 pola berbentuk koma. Ketiga pola yang dikenal dengan nama Tomoe terus berputar hingga akhirnya Iric Biru Sapphire Naruto terganti menjadi merah menyala. "Saatnya ke tingkat selanjuutnya." Ucapnya dengan nada semangat khas Uzumaki Naruto.
Ketiga Tomoe di bola mata Naruto kembali berputar cepat hingga membentuk pola Bintang Enam yang masing-masing ujungnya menyentuh garis luar Pupilnya. Dan di bagian tengah muncul pola lingkaran kecil. "Ternyata Mangekyou Sharingan benar-benar mata yang spesial." Puji Naruto kepada mata kebanggaan Klan Uchiha setelah merasakan kekuatan dari Mangekyo Sharingan yang merupakan kemampuan dari Sacred Gear miliknya.
"Nah ... mari kita mulai latihannya."
Skip Time
"Haaa ... Haaa ... Haaa ..." Suara nafas yang tersenggal-senggal terdengar dari pemuda pirang yang tengah berdiri menatap hasil latihannya berupa retakan beserta kawah yang tersebar di permukaan Mindscape miliknya. "Padahal cuman tulang rusuk dan tangan kanan. Ternyata Susano'o memang sangat susah dikontrol." Keluh pemuda itu sembari menonaktifkan Sacred Gear [Cursed Eyes] miliknya sehingga Iris Biru Sapphire kembali seperti semula.
"Sebaiknya aku kembali." Setelah berlatih selama hampir seharian penuh di Mindscape-nya, pemuda pirang itu pun memutuskan untuk meninggalkan Mindscape miliknya dan sebelum benar-benar kembali ke dunia nyata, ia melirik sejenak sahabatnya Kurama sambil bergumam pelan. "Ccepatnya sadar Bola Bulu, ada yang ingin aku tanyakan." Naruto akhirnya kembali ke dunia nyata meninggalkan Kurama yang tempaknya tersenyum dalam hati (?).
"Aku tahu apa yangh kau tanyakan Gaki." Batin Kurama kemudian kembali berkonsentrasi memulihkan kondisi tubuhnya yang sudah mencapai 50% efek dari pertarungan terkahir dirinya bersama Naruto melawan Rival abadi pemuda itu, Uchiha Sasuke.
.
Empty Dimension
Di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya dihiasi cahaya-cahaya berbeda warna yang terus bergerak tanpa henti sehingga orang-orang yang masuk kedalamnya mungkin tidak dapat keluar lagi. Namun hal adalah pengecualian bagi dua sosok berbeda gender yang tengah berjalan ke arah cahara berwarna kebiruan.
"Apa kau yakin itu jalan keluarnya Sasuke-kun?" Tanya sosok pertama bergender perempuan kepada sosok disamping yang diketahui bernama Sasuke atau lebih tepatnya Uchiha Sasuke, Rival Abadi dari Uzumaki Naruto sang Ultimate-Class Devil. Tampaknya perempuan itu masih ragu mengenai jalan yang dipilih Sasuke, mengingat banyak-nya cahaya di tempat mereka sekarang.
"Hn! aku yakin Sakura." Jawab Sasuke datar.
"Baiklah Sasuke-kun." Pasrah perempuan yang diketahui bernama Sakura itu.
Keduanya terus berjalan menuju ke cahaya berwarna kebiruan itu. Keduanya berhenti tepat didepan cahaya itu. Secara bersamaan keduanya menghela nafas sejenak dan akhirnya berjalan masuk ke dalam cahaya itu.
...
Di sebuah hutan di area Kyoto, sebuah cahaya berbentuk bekas cakaran melintang muncul dari kegelapan. Dari Cahaya itu keluar dua sosok yaitu Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Detik selanjutnya keduanya mengedarkan pandangannya ke segalah arah untuk mencari tahu dimana lokasi mereka saat ini. Namun belum sempat 5 lima menit Sasuke langsung merasakan keberadaan seseorang yang ia yakini telah mati di tangannya.
"T-Tidak mungkin." Kata Sasuke dengan nada ketidakpercayaannya ditambah kedua matanya yang membulat. Sakura yang berada di sampingnya menjadi penasaran karena melihat ekspresi terkejut dari Sasuke.
"Ada apa Sasuke-kun?" Tanya Sakura pada Sasuke. Namun pemuda raven itu sama sekali tidak merespon pertanyaan dari Sakura karena sibuk memastikan apa benar keberadaan orang ini merupakan sahabatnya yang telah mati, menurutnya.
...
Deg!
Dan secara bersamaan Naruto yang baru kembali dari Mindscape-nya merasakan hal yang sama dengan Sasuke walaupun jarak keduanya bisa dikatakan sangat jauh. Itu karena secara tidak langsung mereka masih berhubungan. Sasuke yang memiliki Sharinnegan pemberian Rikudou Sennin sedangkan Naruto yang dulunya memiliki Senjutsu Rikudou Sennin walaupun saat ini Naruto belum mengetahui apa Mode itu telah hilang bersama kematiannya atau mungkin masih terdapat di dalam tubuhnya.
"Perasaan ini ..."
.
.
.
.
.
.
" ... Naruto!"
" ... Sasuke!
.
TBC!
Haaa ... akhirnya ane bisa Update jga nih Fic walaupun di Chapter ini kagk ada yang menarik sama sekali. Untuk kesekian kalinya ane minta maaf kepada kalian para Readers karena keterlambatan Update ke-4 Fic ane (Udh tau alesannyha kan :v).
Dan mungkin saja Scan SasuSaku yang menemukan jalan keluar dari Empty Dimension terkesan dipaksakan menurut ane. Itu karena ane udh Pusing mikirin cara keluarnya bagaimana. Rencana awalnya sih saya mau menggunakan Jikkukan Ninjutsu, tapi mau pakai Media apa untuk berpindah, Kuchiyose?, Toh Kuchiyose keduanya mungkin udah pada mati (Mengarah ke pertarungan Sasuke vs Deidara). Pakai Shunshin ... ini malah makin ... ah sudahlah! abaikan ucapakan bodoh di atas itu.
Sekali lagi saya berterima kasih telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.
Akhir kata dari saya silahkan berikan komentar/saran/kritikan kalian mengenai Chapter ini di kolom Review dan akan saya balas melalui PM. Karena Review dari kalian merupakan bahan bakar saya untuk melanjutkan Fic.
.
.
.
Ryusuke Out!
