Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto dan Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
Author : Ryusuke Akairyuu
Rate : M (Jaga-Jaga)
Genre : Adventure, Supernatural, Family, Friendship, Romance, Mistery, ETC.
Pair : Naruto X Rias, Slight Other Pairing
Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, Ancur, GaJe, OOC, OC, Etc.
Summary : Naruto diberi kesempatan kedua serta sebuah tugas menghentikan perang di dimensi yang berbeda setelah dirinya gagal di Dunia Shinobi. Naruto menyetujui hal tersebut dengan syarat beberapa temannya ikut dibangkitkan. Bagaimana kisah Naruto dan teman-temannya untuk menjalankan tugas mereka yang dipenuhi misteri, petualangan, persahabatan dan cinta...
...
...
Chapter 10
Hari ke lima pelatihan dari Peerage Naruto dan Rias. Bisa dibilang hasil latihan mereka cukup memuaskan dimana kemampuan bertarung serta [Sacred Gear] mereka lumayan berkembang, terutama untuk Issei dan Raynare. Dimana keduanya berhasil menciptakan sebuah tehnik baru dari [Sacred Gear] milik mereka.
Dan untuk Naruto sendiri, latihan juga lumayan memuaskan walaupun dirinya sempat terganggu oleh hal yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika dirinya kembali dari Mindscape miliknya. Itu adalah kemunculan seseorang yang ia rasakan karena ikatan mereka berdua yang sudah sangat kuat. Setelah hari itu, Naruto semalaman memikirkan hal ini. Apa benar yang ia rasakan sebelumnya benar-benar kemunculan dari sahabat yang telah membunuhnya itu, atau hanya sebatas perasaannya saja.
Bukan hanya itu yang ia pikirkan malam itu. Ia juga memikirkan kalau benar perasaannya waktu benar. Maka hal yang terlintas di pikiran Naruto adalah ... Apakah sahabatnya itu, Uchiha Sasuke berhasil selamat dari ledakan yang ia ciptakan sendiri dan membuat dirinya terkirim ke dimensi ini karena efek ledakan itu atau mungkin Sasuke juga mengalami apa yang dialaminya yaitu dipertemukan dengan Shinigami-sama lalu dibangkitkan menjadi Iblis atau mahluk supranatural lainnya.
Namun karena tak kunjung mendapatkan pemikiran yang logis bagaimana ia bisa mendeteksi hal tersebut walaupun otaknya sudah dipermak sedemikian rupa setelah dirinya menjadi Iblis. Naruto akhirnya memutuskan untuk melupakan sejenak masalah ini, karena semuanya pasti akan terbongkar dengan sendirinya dan lebih fokus ke masalah Rating Game yang kini tinggal menghitung jari dilaksanakan.
...
"Fiuhh ... lelahnya." Begitulah keluhan dari pemuda berambut coklat bernama Hyoudou Issei tanda bahwa dirinya benar-benar kelelahan sesaat setelah Kakashi menyudahi latihan hari ke lima mereka. "Kapan sih latihan bagaikan neraka ini selesai." Tambahnya dengan nada letih membuat beberapa dari mereka yang tidak sengaja mendengar ucapannya menganggukkan kepala membenarkan bahwa mereka juga kelelahan.
"Sudahi keluhan tidak bergunamu itu Ero-Gaki." Sembur Naruto setelahnya dengan nada agak kesal. "Lihat yang lain ... " Naruto yang berdiri di depan Issei menunjuk satu per satu dari mereka. " ... apa mereka mengeluh sepertimu?" Tanya Naruto setelahnya dibalas gelengan pelan oleh Issei tanda bahwa perkataan dari Naruto itu benar, walaupun sebenarnya baik Peerage Rias maupun Naruto ingin mengeluh seperti Issei tetapi mereka berpikir kedepan mengenai hasil bila mereka berlatih seperti ini. Mereka pasti akan bertambah kuat dan siap melawan musuh apabila nantinya ada pertarungan.
Naruto kemudian mengalihkan perhatiannya ke Rias, Akeno, Kakashi dan Gaara. "Bagaimana hasil latihan kalian bertiga?" Tanya Naruto pada keempatnya.
Mendengar Naruto bertanya pada mereka. Gaara menoleh ke Kakashi sambil mengangguk agar Kakashi saja yang menjelaskannya. Mantan Jounin itu pun menurunkan buku yang ia baca. "Untuk Akeno dan Rias, penggunaan Power Of Destruction dari Rias dan sihir petir dari Akeno semakin efektif sampai-sampai membuatku dan Gaara kewalahan melawan keduanya saat Sparring tadi sore." Jelas Kakashi panjang lebar.
Naruto mengangguk mengerti dengan senyum tipis yang ditujukan untuk Rias. Dan setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke Lee dan Koneko. "Hasilnya sama seperti hari-hari kemarin Naruto-senpai." Sebelum Naruto melontarkan pertanyaan yang sudah pasti diketahui oleh kedunya. Koneko mendahului Naruto dengan berujar datar mengenai hasil latihannya bersama si Maniak masa muda Rock Lee.
"Jangan bertanya lagi Naruto, ... hasil latihan dari kami juga sama seperti Koneko dan Lee." Untuk kedua kalinya Naruto didahului sebelum dirinya bertanya dan kali ini adalah Karin yang langsung mengucapkan hasil latihan mereka saat Naruto mengalihkan perhatiannya kepada dirinya dan Asia.
"Haaa ... " Naruto mendesah pelan kemudiab berkata. "Dan biar kutebak, ... Kiba dan juga Raynare sama kan?" Kedua orang yang ditanya pun mengangguk membenarkan. Dan kini perhatian Naruto tertuju pada Shikamaru yang terlihat menampilkan wajah tidak niatan untuk hidup. "Apa kau sudah memiliki strategi rusa pemalas?"
"Sudah dan jangan tanya apa itu strateginya ... aku lagi malas untuk menjelaskan." Jawab Shikamaru dengan nada malasnya kemudian menguap bosan membuat Naruto ingin menghantamkan Rasengan kepadanya kalau dirinya itu bukan anggota keluarga Iblis Naruto.
"Baiklah-baiklah ... kau dan kemalasan tingkat akutmu itu." Naruto membalas perkataan dari Bishop-nya itu dengan nada menyindir namun Shikamaru tampaknya tidak peduli dengan sindiran itu.
"Terserah ... apa kita boleh kembali ke vila sekarang? aku sudah ngantuk."
"Hn! ... Dan sekalian saja tidur untuk selama-lamanya." Balas Naruto lagi.
Shikamaru menaikkan sebelah alisnya kemudian bertanya. "Kau menyumpahi aku mati?"
"Antara ya dan tidak, kau cari tahu saja sendiri."
Sementara kedua mahluk itu melanjutkan perdebatannya, kita beralih ke Rias, Akeno, Kakashi dan Gaara yang terlihat tengah membicarakan sesuatu.
"Jadi ... latihan besok masih sama dengan hari ini?" Tanya Akeno. Ternyata yang mereka tengah bicarakan adalah latihan mereka esok hari. Kakashi selaku orang yang berwenang dalam kelompok mereka mengangguk mengiyakan. Sedangkan Gaara hanya ber'hn' datar.
"Tetapi ... " Rias dan Akeno mengalihkan pandangannya kembali ke Kakashi dengan alis terangkat tanda bahwa mereka penasaran apa yang akan pria berambut silver melawan gravitasi itu katakan selanjutnya. " ... Level-nya akan aku naikkan sedikit agar bisa kemampuan bertarung kita berkembang lebih cepat."
"Menaikkan level-nya?" Issei yang tidak sengaja mendengar ucapan dari Kakashi langsung bertanya dengan nada agak penasaran.
"Hmnn ... Menaikkan beberapa aspek seperti intensitas serangan, kecepatan dan sebagainya saat Sparring esok hari." Jelas Kakashi. "Dan mungkin saja Naruto juga akan melakukan hal itu kepadamu Issei." Seketika pemuda berambut coklat itu menelan ludah dengan susah payah apalagi setelah mengatakan hal barusan, Kakashi memandang Issei dengan eye-smile yang menurut pemuda itu adalah pertanda buruk.
Setelahnya, Issei terlihat menghela nafas berat. "Level yang sekarang saja, Naruto-senpai mau membunuhku." Ucapnya lesuh dengan kepala yang sudah tertunduk setelah ia menghela nafasnya.
"Dasar Issei, bagaimana kau bisa mewujudkan cita-citamu itu kalau kau terus-terusan saja mengeluh." Seorang pemuda berambut pirang dengan wajah cantiknya ikutan nimbrung dalam percakapan. Dan seperti biasa, ia langsung tersenyum setelahnya.
Kembali ke perdebatan kedua mahluk berbeda model rambut yang ternyata masih berlanjut dan hal yang mereka debatkan pun sudah melenceng dari topik awal dan perdebatan itu berlangsung hampir beberapa menit. Karena mereka tidak mau menunggu selesainya kedua orang itu apalagi masalah latihan yang baru saja mereka bahas telah selesai. Rias pun mengajak yang lain untuk kembali sementara keduanya masih melanjutkan tanpa mengetahui kalau yang lain sudah meninggalkan tempat itu.
"Hey kemana yang lain?" Tanya Naruto yang akhirnya sadar bahwa tinggal mereka berdua yang berada di tempat tersebut.
"Tidak tahu." Balas Shikamaru yang juga telah menyadari hal ini. Ia kemudian menyentuh pundak kiri Naruto dengan tangan kanannya kemudian berkata. "Cepat gunakan Hiraishin milikmu bodoh." Perintahnya kepada pemuda pirang itu.
"Baiklah!" Namun sebelum Naruto menggunakan tehnik teleportasi miliknya. Sebuah ide nista untuk mengerjai Shikamaru muncul di kepala pirang Naruto. Shikamaru yang melihat gelagat Naruto yang terlihat senyum-senyum sendiri layaknya orang stress membuat dirinya menjadi penasaran. Dan akhinya tanpa disadari oleh Shikamaru, perlahan Naruto menggerakkan tangan kanannya dan dengan gerakan cepat ia langsung menyingkirkan tangan Shikamaru. Dan detik selanjutnya Naruto langsung menghilang diikuti seberkah kilatang kuning.
"SIALAN KAU PIRANG!" Dan untuk pertama kalinya. Shikamaru berteriak keras menyumapahi Naruto karena pemuda berambut pirang dengan teganya meninggalkan dirinya sendirian di tempat tersebut. Namun karena ia sadar kalau hanya dia seorang saja yang berada disana. Shikamaru pun menghela nafas berat. "Mendokusei ... sepertinya aku harus meminta Rias atau Akeno untuk mengajariku sihir teleport." Ujarnya dengan malas dan jika saja Naruto atau yang lain mendengar ucapannya, meraka pasti akan menganga lebar dengan eksrepesi wajah ketidakpercayaan mendengar seorang Nara Shikamaru yang dikenal dengan kemalasan tingkat akut ingin belajar.
Tidak mau berada di tempatnya sekarang hingga malam menjelang. Shikamaru akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana Training yang ia gunakan tidak lupa mulutnya yang terlihat bergerak tanda bahwa ia tengah mengumamkan sesuatu yang pastinya tidak jauh-jauh dari si pemuda pirang bernama Uzumaki Naruto yang baru saja berhasil mengerjai orang jenius macam dirinya.
...
Malam harinya ketika semuanya sudah tertidur setelah membersihkan diri sehabis latihan serta menyantap makan malam. Namun berbeda dengan Naruto, di dalam kamarnya, ia terlihat berbaring sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar bergaya klasik itu dan jika diperhatikan lebih jelas, nampaknya pemuda pirang itu tengah memikirkan sesuatu.
"Jika yang benar kurasakan itu adalah kau Sasuke kuharap ... "
Tok! Tok! Tok!
Namun belum sempat melanjutkan gumamannya. Suara ketukan pintu terdengar sehingga membuat Naruto menoleh ke arah pintu. "Naruto-kun?" Terdengar suara feminim yang Naruto sangat kenali memanggil pemuda pirang itu dari balik pintu. "Hmnn ... Ada apa Rias-chan?" Tanya Naruto balik masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
"Mouuu ... setidaknya biarkanlah aku masuk sebelum bertanya Naruto-kun." Bukannya menjawab pertanyaan dari Naruto. Rias yang berada di balik pintu kamar Naruto malah berucap dengan nada merengek. Naruto yang setidaknya tahu kalau gadis di balik pintu kamarnya tengah merengek meminta agar dirinya membuka pintu itu. Dengan cepat pemeuda pirang itu turun dari ranjang tempatnya berbaring dan bergegas ke arah pintu.
"Iya-Iya tunggu sebentar." Setelah membuka pintu kamarnya. Naruto langsung mendapati gadis berambut merah crimson yang mengenakan piyama tengah menggembungkan pipi karena kejadian sebelumnya. "Hehehe ... Gomen Rias-chan." Naruto yang sadar akan apa yang dilakukannya barusan langsung meminta maaf agar kekasihnya tidak cemburet apalagi merajuk lagi seperti hari pertama mereka di vila. Dan sepertinya permintaan maaf pemuda itu akan diterima karena Rias kini tersenyum manis ke arah Naruto.
"Baiklah aku maafkan, tapi ... "
"Tapi apa ... jangan meminta yang macam-macam Rias-chan, aku sekarang lagi lelah." Kata Naruto sambil memasang wajah kelelahan yang dibuat-buat. Meski memang dirinya agak lelah karena seharian berlatih bersama Si Pemuda Mesum Hyoudou Issei.
"Tidak macam-macam kok Naruto-kun, aku tidak bisa tidur jadi aku butuh teman bicara. Dan ketika aku melihat kamarmu yang lampunya masih menyala ... "
"Baiklah-baiklah." Potong Naruto cepat dan hasilnya Rias langsung tersenyum cerah.
Scene Break
Saat ini mereka bertiga tengah berada di salah satu balkon di vila terseb. Bertiga? Ya ... Ketika mereka tengah berjalan menyusuri koridor vila tersebut, Naruto dan Rias bertemu dengan Kakashi. Ketika Naruto bertanya kenapa Kakashi berada di koridor. Pria berambut silver melawan gravitasi itu hanya menjawab 'tersesat saat ingin ke kamar kecil' dan hasilnya Naruto dan Rias pun sweatdrop. Bagaimana tidak, mereka sudah lima hari berada di vila itu tetapi entah kenapa Kakashi bisa tersesat. Salahkanlah luas dan rancangan bangunan vila itu yang membuat Kakashi bisa tersesat dan juga kebiasaan Kakashi membaca buku 'Icha-Icha Paradise' di waktu luangnya.
"Lain kali Kakashi-sensei jangan membaca buku laknat itu di waktu luangmu." Begitulah saran dari sang pemuda pirang kepada Guru-nya itu.
"Dan melakukan apa Naruto? It's Imposibble, buku ini ... " Kakashi memperlihatkan sampul buku itu kepada Naruto dan Rias. " ... sudah mendarah daging di tubuhku." Sambungnya membuat kedua pasangan itu kembali sweatdrop. Mendarah daging? apa buku itu sudah dianggap anak oleh Kakashi ... Itulah isi kepala dari Rias.
"Suatu saat akan kubakar buku laknat itu dengan Amaterasu yang baru kemarin aku kuasai Kakashi-sensei." Kata Naruto mengancam Kakashi.
"Dan jika kau melakukannya ... aku akan memusnahkan seluruh persedian ramen instant di dapur apartemen kita dengan petirku Naruto." Ancam balik Kakashi. "Beserta pabrik-pabriknya." Tambahnya membuat Naruto menelan ludah mendengarnya. Seketika Naruto langsung menepuk-nepuk pundak Kakashi sambil tersenyum kikuk.
"Aku bercanda Kakashi-sensei." Ucap Naruto karena takut makanan para dewa itu dimusnahkan oleh Kakashi. "Padahal belum kukatan kalau aku juga akan memusnahkan kedai-kedai ramen tapi sudah mengajak damai." Batin Kakashi sedikit sweatdrop.
"Bisa kita bicarakan hal lain." Rias yang sedari tadi cuman diam menyaksikan keduanya akhinya membuka suara. "Bagaimana kalau mengenai Rating Game nanti ... daripada harus membahas kedua benda kesukaan kalian itu." Tambahnya dengan nada sedikit kesal. Menyaksikan Naruto yang layaknya seorang anak kecil yang tidak mau kehilangan mainannya.
"Baiklah-baiklah." Kedua orang itu pun manggut-manggut paham. Setelah mendapatkan persetujuan dari keduanya. Naruto pun bertanya mengenai aturan-aturan yang berlaku ketika Rating Game. Dan setelah itu Rias mulai menjelaskan secara detail mengenai Rating Game. Setelah beberapa menit membicarakannya dan mengerti akan Rating Game. Kakashi pun berpamitan disertai sedikit godaan yang membuat keduanya sedikit memerah. Dan setelah puas menggoda, Kakashi pun meninggalkan keduanya di balkon tersebut.
"Grrrr ... suatu saat akan kusembunyikan semua novel laknat milikmu itu Kakashi-sensei." Naruto kembali menggurutu tidak jelas. Rias pun dibuat terkikik dengan kelakuan Naruto.
"Ada apa?" Tanya Naruto sambil memandangi Rias dengan alis terangkat.
"Kalian berdua itu terlihat seperti anak-anak saja." Rias kembali terkikik sambil membayangkan Naruto dan Kakashi melakukan ancaman mereka. Kakashi dengan tampang tidak berdosanya mengambil dan menyembunyikan ramen instant Naruto. Dan Naruto yang juga menyembunyikan novel Kakashi dengan tampang kesal. "Membayangkanya saja membuatku ingin tertawa."
"Membayangkan apa Rias-chan?" Naruto bertanya kembali.
"Kalian berdua."
Dan setelah ucapan singkat dari Rias, keheningan terjadi di antara keduanya. Suara pelan dari angin malam yang berhembus melewati keduanya dan membuat rambut berbeda warna mereka berdua melambai-lambai terkena hembusan angin. Dan dibalik diamnya Rias, ternyata ia tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya dan apalagi kalau bukan Rating Game yang akan berlangsung dimana masa depannya dipertaruhkan.
"Na-Naruto-kun ... " Panggil Rias dengan nada agak pelan namun bisa didengar oleh pemuda pirang tengah berdiri di samping kanannya. Pemuda itu Naruto, menoleh sambil bergumam memberi isyarat kalau ia mendengarkan panggilan dari Rias. "Apa kau yakin di Rating Game nanti, kalian bisa mengalahkan Riser dan Peerage-nya." agaknya gadis berambut merah crimson itu menyebut nama pemuda dari klan Phenex itu dengan nada ketidaksukaan. "Maksudku ... kalian cuman bertujuh sedangkan lawan kalian dua kali lipat dari kalian apalagi Riser yang berasal dari klan Phenex hampir mencapai yang namanya keabadian."
Mendengar uneg-uneg yang terdengar khawatir dari kekasihnya. Naruto mengalihkan pandangan ke Rias sambil tersenyum yang entah kenapa bisa membuat seorang Gadis yang bergelar 'Great One-sama' itu merona tipis melihatnya. "Jika mengenai yakin sih, aku dan yang lain yakin bisa menang. Itu karena kami bertarung demi seorang teman dan khusus untukku adalah gadis yang sangat spesial ... " Rona merah di wajah Rias semakin tampak jelas mendengar ucapan pemuda pirang itu. " ... seberapa banyak pun lawannya, jika kami berusaha keras maka kemenangan akan semakin mudah didapatkan." Sambung Naruto.
"Jadi ... apa kau masih ragu bahwa kami akan kalah Rias-chan?" Tanya Naruto memastikan.
Masih dengan rona merah yang hinggap di wajahnya. Rias menatap iris Biru Sapphire milik Naruto yang sama sekali tidak memperlihatkan keraguan sedikitpun mengenai ucapannya barusan. "Hmmnn ... " Rias mengangguk pelan kemudian tersenyum manis yang mampu membuat Trio Mesum Kuoh Akademi akan terkapar dengan hidung mengeluarkan darah.
Dan tanpa aba-aba Naruto langsung menarik gadis berambut crimson tersebut ke dalam dekapan hangat miliknya. Entah darimana Naruto mendapatkan keberanian untuk melakukan hal itu walaupun mereka sudah menjadi pasanga kekasih yang masih seumuran jagung. Sementara untuk Rias, gadis itu sedikit terkejut namun seketika lenyap ketika perasaan hangat penuh perlindungan dari dekapan pemuda meresap ke dalam tubuhnya.
"Arigatou Naruto-kun!" Ucap Rias.
"Doita!" Balas Naruto semakin mengeratkan dekapannya dan menghirup wangi rambut merah crimson milik Rias yang mengingatkan dirinya akan sosok Uzumaki Kushina sang Ibu yang hanya bisa bertemu dengannya sebanyak dua kali. Walaupun pertemuan kedua mereka hanya sebatas sebuah Genjutsu ciptaan dari Uchiha Obito.
Beberapa menit kemudian Naruto melepaskan dekapannya. "Sebaiknya kita segera beristirat. Besok mungkin akan menjadi hari yang lebih berat." Ucap Naruto dan dengan anggukan pelan Rias merespon ajakan pemuda pirang itu. Setelah mendapatkan persetujuan dari Rias, Naruto segera beranjak dari tempatnya dan tidak lupa menggandeng tangan sang Gadis pewaris klan Gremory.
...
Skip Time
Tak terasa tujuh hari pelatihan Keluarga Iblis Naruto dan Rias telah selesai. Dan dipenghujung hari itu, mereka melakukan Sparring terakhir mereka untuk mengetes seberapa berkembang kemampuan bertarung mereka dan hasilnya benar-benar memuaskan bagi Rias dan kelompoknya walaupun 'Pawn' dari Rias harus bertarung melawan Naruto yang membuat pemuda pewaris [Boosted Gear] itu hampir saja dikirim Naruto bertemu Shinigami pasalnya pemuda pirang bertarung dengan serius sampai-sampai menggunakan In-Complete Susano'o. Dan setelah Sparring berakhir Issei dengan wajah kesalnya menghujat Naruto dengan nama para hewan penghuni kebung binatang. Dan respon dari Naruto hanya sebuah cengiran tidak bersalah khas miliknya.
...
Pagi hari yang cerah kembali hadir untuk membangunkan semua mahluk hidup didunia dari mimpi indah ataupun buruk mereka. Dan diantara banyak tempat tinggal para mahluk hidup. di Sebuah apartemen berukuran besar dengan tiga lantai bergaya modern terdengar suara jam weker dari dalam salah satu kamar di apartemen itu yang sama sekali tidak memperdulikan sang empunya kamar yang masih tertidur pulas dengan pose menyamping dan memeluk bantal guling. Dan jika diperhatikan lebih jelas, pada guling itu terlihat sebuah jejak air liur yang mengarah ke satu titik dan berkumpul membentuk menyerupai pulau Jepang.
Kriiikkkk!
Jam weker yang sama sekali tidak mempunyai rasa pri-kewekaran masih terus berdering dengan kerasnya hingga membuat seisi apartemen tersebut bangun tanpa terkecuali. Dan kenapa hanya terdengar satu jam weker yang berbunyi, itu karena hanya satu orang tidak bisa bangun kecuali suara dari weker miliknya itu.
"NARUTOO ... MATIKAN JAM WEKERMU! INI MASIH JAM 6 PAGI!"
"HOII ... PIRANG BRENGSEK, KAU MENGGANGGU JAM TIDURKU YANG MASIH TERSISAH DUA PULUH MENIT LAGI!"
"BERISIK!"
"YARE~YARE ... KALIAN JUGA BERISIK HOII!"
"Hn!"
Teriakan dari beberapa penghuni apartemen itu pun menggema sampai-sampai membuat seorang balita yang tinggal di samping apartemen mereka menangis keras karena terbangun mendengar teriakan mereka kecuali satu orang yang cuman bergumam datar entah artinya ia juga terganggu atau tidak yang jelas ia cuman menanggapi kejadian pagi ini dengan gumaman datarnya saja. Alhasil sang empunya weker bangun dengan urat-urat kekesalan muncul di keningnya tanda bahwa tidurnya juga terganggu karena deringan weker miliknya serta teriakan dari keluarganya.
"HOIII ... BERISIK SEKALI! AKU JUGA MASIH NGANTUK!"
Duag! Prakk!
Dengan keras sebuah pukulan menghantam jam weker tersebut hingga membentur dinding dan hancur berkeping-keping. Dan kemudian dengan wajah setengah mengantuk sang empunya menguap. "Hoaammzzz ... " Dan hasilnya apa mau dikata lagi , pemilik weker yaitu pemuda pirang yang pagi hari indahnya terganggu dan sudah terlanjur bangun. Akhirnya pemuda itu memilih turun dari ranjang miliknya dan berjalan gontai menuju menuju ke dinding dimana terdapat sebuah handuk yang tergantung. "Weker sialan! padahal aku masih ngantuk dan lelah gara-gara sparring kemarin." Pemuda pirang itu menghujat tanpa memperdulikan jam wekernya yang sudah tewas mengenaskan (?) di sudut kamarnya.
"Dan apa-apaan si Rias-chan ... sudah tau kalau kita baru saja menyelesaikan latihan, malah disuruh kesekolah hari ini." Naruto kembali menggerutu tidak jelas mengenai permintaan dari kekasihnya itu sebelum mereka kembali dari Vila. Rias memberitahukan hal tersebut kepada mereka layaknya seorang ibu yang menasehati anaknya mengenai pentingnya bersekolah. Seketika Naruto dan Shikamaru langsung bertingkah layaknya orang yang hidupnya sudah berada di ujung tanduk mendengarnya.
Setelah adegan absurd serta keluhan bodoh dari tokoh utama kita hanya karena sebuah jam weker dan masalah sekolahan. Kegiatan penghuni apartemen itu pun dimulai seperti biasa. Dimulai dengan melakukan ritual sakral setiap mahluk hidup 'normal' setiap paginya, kemudian dilanjutkan dengan sarapan yang sebenarnya dapat berlangsung hikmat dan lancar tetapi salah satu dari mereka kembali meributkan masalah jam weker tersebut dan hasilnya sarapan pagi itu pun berlangsung layaknya Perang Dunia Shinobi ke-4. Dan setelahlah, mereka semua pun berangkat ke sekolah mereka yaitu Kuoh Akademi masih dengan suasana layaknya sebuah perang.
...
Sepertinya hari benar-benar sial bagi Naruto, Dimulai dari kejadian jam weker di pagi hari kemudian dilanjutkan acara sarapan dan perjalanan yang suasananya bagikan Perang Dunia Shinobi ke-4. Terakhir dan mungkin juga tidak, Sesampainya di Kuoh Akademi, Naruto dan yang lain langsung disambut oleh teriakan para gadis-gadis dan tiga mahluk nista yang mampu menembus lapisan ketujuh gendang telinga (?) sang empunya nama yang diteriaki.
"KYAAA ... NARUTO-KUN AKHIRNYA MASUK LAGI!"
"BEGITU JUGA DENGAN GAARA-SENPAI DAN SHIKAMARU-SENPAI!"
"AKU PENASARAN ... MEREKA BERTIGA SEMINGGU INI KEMANA!"
"SIALAN! AKHIRNYA MEREKA KEMBALI MASUK! TERKUTUKLAH KALIAN!"
"Ohh ... Shinigami-sama seberapa banyakkah kesalahan yang kubuat sampai engkau memberiku cobaan seperti ini." Kata Naruto dalam hati meratapi kesialannya hari ini. Dan disebuah tempat di entah-berantah, sesosok mahluk bertubuh besar yang hampir di semua bagian tubuhnya ditutupi jubah hitam yang tengah sibuk memperhatikan nama-nama peserta arisan 'kehidupan' di sebuah buku yang kira-kira setebal 2 meter (?), hampir saja terjengkal kebelakang ketika secara tidak sengaja mendengar keluhan dari pemuda pirang itu.
"Khukukuku ... Sudah jangan mengeluh dan nikmati saja kesempatan keduamu itu Durian Montok." Ujar sosok itu yang dikenal sebagai Shinigami. Setelah itu, ia kemudian kembali berfokus ke buku setebal 2 meter itu dan memulai mencari kembali nama yang arisannya akan segera naik.
Kita kembali ke Kuoh Akademi dimana Naruto and The Geng mulai menyusuri halaman kompleks akademi untuk menuju ke kelas mereka masing-masing disertai teriakan-teriakan dari para gadis yang entAh kapan berakhirnya membuat Naruto mau tidak mau harus menutup kedua telinganya. Sesampainya di depan salah satu gedung, dua gadis yang dikenal oleh kalangan para siswa dengan sebutan 'Two Great Onee-sama' menghampiri mereka.
"Ohayou Naruto-kun, Minna-san." Salah dari kedua Gadis itu yang bernama Rias Gremory menyapa mereka dengan nada riang dan tidak lupa memamerkan senyum manisnya ke siapa lagi kalau bukan si pemuda pirang Uzumaki Naruto.
"Ara-Ara~ ... Ohayou Gaara-kun, Minna-san." Tidak mau kalah dengan Bochou-nya. Gadis yang satu lagi yaitu Akeno Himejima menyapa mereka kemudian melakukan hal yang sama dengan Rias yaitu tersenyum khas miliknya sendiri.
"Ohayou/Hn." Balas mereka dengan nada normal kecuali dua orang yaitu Naruto yang membalas dengan raut wajah lesuh sedangkan yang satunya yaitu Gaara dengan wajah datarnya.
"Kau kenapa Naruto-kun?" Tanya Rias yang baru sadar bahwa wajah pemuda pirang kekasihnya itu terlihat lesuh.
"Masih bertanya kenapa ... " Naruto membalas masih dengan wajah yang semakin lesuh karena mendengar pertanyaan retoris yang sudah pasti gadis itu tau jawabannya. " ... Kita baru saja menyelesaikan latihan selama tujuh hari. Dan kau langsung menyuruh kami masuk hari ini juga." Tambah Naruto.
Rias terkikik sejenak mendengar uneg-uneg dari pemuda pirang itu. "Gomennasai Naruto-kun ... tapi aku sudah berjanji pada Sona dan kepala sekolah bahwa kita hanya mengambil cuti selama seminggu. Jika aku melanggarnya, reputasiku sebagai ketua Klub penelitian ilmu gaib akan tercoreng Naruto-kun." Jelas Rias.
"Dan kalian merupakan anggota dari klubku ... jadi Hontoi ni Gomennasai." Tambah Rias kemudian tersenyum ke arah Keluarga Naruto yang terlihat mengangguk tanda mereka memakluminya kecuali sang 'King' dan 'Bishop' yang sudah pasti kalian tau orangnya.
"Ara~Ara ... Lihat itu." Akeno menunjuk tiga mahluk nista yang tengah asik memandangi para gadis yang berlalu-lalang di halaman sekolah. "Issei sekarang sudah terlihat bersemangat kembali, berbanding terbalik denganmu Naruto." Tambah Akeno.
"Hey ... jangan banding-bandingkan aku dengan Ero-Gaki itu. Dia itu mahluk abnormal yang diciptakan dengan otak yang dipenuhi dengan hal-hal nista." Jelas Naruto yang tampaknya tidak suka dibanding-bandingkan dengan Issei khusus dalam hal kemesuman yang sebenarnya bukan itu yang Akeno bandingkan untuk Naruto dan Issei. Dan Naruto juga tidak lupa juga melirik sejenak ke pria berambut silver melawan gravitasi yang tengah asik membaca sebuah novel. "Dan juga yang satu itu." Batin Naruto yang ditujukan kepada pria yang ia lirik sejenak.
"Kau tahu Rias-chan ... sebenarnya kami membutuhkan istrihat yang cukup agar fisik dan mental kami siap saat Rating Game, tapi karena ini kau ... "
"Baiklah-baiklah ... aku akan membicarakan hal ini dengan Sona dan kepala sekolah." Potong Rias ketika mendengar ucapan Naruto yang sebenarnya ada benarnya juga. Jadi dengan agak terpaksa ia harus meliburkan keluarga Naruto. "Tapi untuk Kakashi-sensei mungkin tidak bisa." Tambah Gadis berambut merah crimson itu.
Dalam sekejap mata, Kakashi langsung menutup novel yang ia baca kemudian memandang Rias penuh tanda tanya. "Kenapa hanya aku?" Tanyanya.
"Itu karena satu dari tiga guru mata pelajaran Fisika sedang ada masalah dan tidak dapat hadir. Jadi cuman Kakashi-sensei dan guru satunya yang dapat melanjutkan pelajaran." Jelas Rias. Dan hasilnya membuat pria bernama Kakashi itu langsung tertunduk dengan aura suram muncul di kepalanya karena dengan ini, waktunya membaca novel-nya selama tiga hari penuh harus tertunda.
"Kenapa hanya aku." Ucap Kakashi yang kini gilirannya menampakkan raut wajah lesu berbeda dengan Naruto yang kini terlihat normal kembali dan tampaknya ia juga sedikit senang.
"Rasakan Kakashi-sensei ... nikmatilah tiga harimu di sekolah." Ujar Naruto penuh kemenangan.
"Naruto-kun ... jangan mengatai Kakashi-sensei seperti itu, apa kau juga mau sepertinya?" Dengan cepat Naruto langsung menggeleng mantab merespon ancaman Rias yang dirinya tidak mau hal yang dialami Kakashi juga akan terjadi padanya juga.
"Tolonglah Rias ... katakan saja kalau aku juga tengah ada masalah." Kata Kakashi.
"Kenapa tidak bilang langsung ke Seito-Kaicho atau Kepala Sekolah Kakashi-sensei." Ucap pemuda berambut model mangkok memberikan saran kepada Rival Abadi dari Sensei-nya sewaktu masih berada di Dunia Shinobi.
"Baiklah ... tapi anda juga harus ikut." Ucap Rias dan seketika Kakashi pun pulih dari keadaan sebelumnya walaupun ada kemungkinan permintaannya akan ditolak.
"Kuharap itu ditolak ... Ditolak ... Ditolak." Semuanya termasuk Kakashi mengalihkan pandangannya ke Naruto yang terlihat seperti sedang melakukan ritual layaknya seorang yang mau mengirim Santet kepada seseorang. Dan alhasil beberapa dari mereka pun sweatdrop menyaksikannya.
Suara bel masuk pun terdengar di segala penjuru Kuoh Akademi untuk mengisyaratkan agar seluruh siswa masuk ke kelas mereka untuk memulai pelajaran.
...
Skip Time
Dua hari kemudian tibalah waktu dilaksanakannya Rating Game antara Uzumaki Naruto melawan Riser Phenex yang hasilnya akan menentukan masa depan sang Crimson-Haired Ruin Princess Rias Gremory. Saat ini pihak Naruto tengah berkumpul di Dan dilihat dari ekspresi wajah Keluarga Naruto terutama Kakashi yang ternyata izin untuk cuti diterima oleh Seito-Kaichou dan Kepala Sekolah dengan alasan menderita penyakit Mag. Mereka semua sama sekali tidak terlihat tegang, toh mereka pernah menghadapi pertempuran yang bayarannya yang lebih besar yaitu masa depan sebuah dunia walaupun mereka semua gagal mencapainya. Berbanding terbalik dengan Rias dan kelompoknya yang terlihat tegang walaupun bukan mereka yang akan bertanding.
Dan untuk menghandapi Rating Game ini. Naruto dan keluarganya mengenakan Kaos Hitam berlengan melewati siku mereka dan di bagian punggung terdapat gambar pusaran air. Untuk bawahan, mereka celana hitam panjang dan khusus untuk Karin dan Raynare yang merupakan perempuan, celana mereka sedikit pendek dari para pria dimana celana mereka hanya sebatas 10 cm dibawah lutut. Dan untuk alas kaki, mereka semua mengenakan sepatu boot hitam.
"Berjuanglah Naruto-senpai ... Minna-san!" Sang 'Knight' dari Rias memberikan semangat kepada mereka lalu tersenyum seperti biasa.
"Kiba benar ... Bejuanglah, walaupun kalau kalian menang Bochou tetap tidak akan masuk ke dalam Harem ku." Keluarga Naruto yang awalnya sudah bersemangat, sweatdrop sejenak mendengarkan keluhan dari satu-satunya 'Pawn' dari Rias. "Dan Raynare-chan ... jangan sampai kalah yaa." 'Pawn' Naruto yang merupakan mantan Da-Tenshi bernama Raynare mengangguk mantab sambil tersenyum menanggapi ucapan penyemangat dari kekasihnya itu.
Tak berselang lama sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory muncul di area yang cukup luas pada ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib tempat mereka sekarang. Dari lingkaran sihir itu muncul Wanita berambut silver yang mengenakan pakaian Maid lengkap.
"Apakah anda sudah siap Naruto-sama, Minna-san?" Tanya Wanita itu yang dikenal bernama Grayfia, Istri sekaligus Queen dari Sirzechs sang Maou Lucifer.
Keluarga Naruto saling memandang satu sama lain dan mengangguk mantab. "Baiklah ... Kami siap!" Jawab Naruto mewakili keluarganya.
"Baiklah ... aku akan segera mengirim kalian ke-"
"Tunggu Grayfia-neesama!" Seketika Naruto dan keluarganya berbalik ketika mendengar Rias memotong perkataan dari Grayfia. Gadis berambut merah crimson itu kemudian berjalan ke arah Naruto dan memberikan kecupan singkat di pipi yang terdapat tiga guratan halus milik Naruto. "Itu sebagai penyematmu Naruto-kun." Dengan rona merah tipis di pipinya, Naruto mengangguk pelan.
"Arigatou Rias-chan!" ucap Naruto singkat. Dan dibalas senyum manis dari kekasihnya itu.
"Baiklah ... Sekarang aku akan mengirim kalian ke Dimensi berlangsung-nya Rating Game ini." Kata Grayfia mengatakan hal untuk kedua kalinya karena sebelumnya ucapannya dipotong oleh Rias. Dan setelah itu, Grayfia pun mulai melakukan proses pemindahan keluarga Naruto ke dimensi tempat dilaksanakannya Rating Game.
"Berjuanglah Minna-san!" Ucap beberapa anggota Rias menyemati keluarga Naruto sebelum mereka sepenuhnya berpindah dimensi.
...
At Student Council Room
Di dalam sebuah ruangan terlihat dua gadis cantik tengah duduk manis gaya khas bangsawan pada sebuah sofa panjang. Dan di depan mereka terdapat sebuah proyektor yang menampilkan Dimensi dimana Rating Game antara Naruto dan Riser akan berlangsung.
"Menurut anda ... siapa yang akan keluar sebagai pemenang Kaicho?" Tanya salah dari mereka berwajah cantik dengan rambut panjang serta sebuah kacatamata yang bertengger manis pangkal hidungnya.
"Aku tidak Tsubaki ... itulah kenapa aku mau menonton Rating Game ini." Jawab Gadis yang dipanggil Kaichou yang tidak kalah cantiknya dengan gadis yang dipanggil Tsubaki itu. Gadis itu kemudian memperbaiki kacamata yang ternyata ia kenakan. "Dan aku juga ingin melihat kekuatan Iblis dari keluarga Naruto terutama Bishop-nya itu yang Onee-sama pernah bilang ia mengalahkan Falbium-sama dalam permainan catur." Tambahnya dengan nada datar.
"Begitukah ... kalau begitu mari kita saksikan saja sendiri." Kata Tsubaki.
"Kau seperti pembawa acara saja Tsubaki."
"So-Sona ... " Gadis bernama Tsubaki itu agaknya sedikit malu dipanggil seperti oleh gadis yang diketahui bernama Sona.
...
At Underworld
Di sebuah ruangan pada salah satu bangunan besar yang berada di Underworld tempat para tinggal resmi bersetifikat para Iblis beserta pemimpin mereka yaitu Daiyondai Maou. Terlihat empat orang tengah duduk di sebuah meja berbentuk oval. Dan perhatian keempat orang itu tertuju pada sebuah layar proyektor yang menampilkan lokasi dari Rating Game dimulai.
"Sepertinya Rating Game kali ini akan menarik." Ujar salah dari mereka yaitu pria berambut merah criomson yang mengenakan baju Zirah lengkap. "Dan ini adalah kesempatan untuk melihat kekuatan dari orang-orang yang dikirim Maou Satan-sama." Tambahnya dan direspon anggukan oleh dua orang lain yang ada di ruangan tersebut.
"Aku hanya tertarik pada pemuda berambut nanas itu. Aku penasaran strategi apa yang akan ia gunakan." Orang yang tadinya cuman ia seorang yang tidak mengangguk, berujar malas mengenai alasannya menonton. Karena menurutnya lebih baik bersantai daripada menonoton pertandangan macam ini.
"Berjuanglah Naru-tan!" Satu-satunya orang bergender perempuan di ruangan itu berkata dengan nada Childiss khas miliknya.
"Sekeras apapun suaramu, mereka tidak akan dengar Serafall." Orang terakhir yang belum berbicara, langsung mengomentari perkataan dari perempuan bernama Serafall itu.
"Mouu ... setidaknya aku bisa memberikan dukungan pada mereka." Balas Serafall dengan masih dengan gaya bicara ala Childiss
"Sudah-sudah ... sepertinya akan segera dimulai tuh." Ujar Pria berambut merah crimson bernama Sirzechs.
...
Rating Game Dimension
Di ruangan yang sama persis dengan tempat sebelumnya yaitu ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib. Sebuah lingkaran sihir muncul dan menampilkan tujuh orang yang mengenakan pakaian serba hitam layaknya sekelompok Geng Mafia yang hendak menyerang kelompok Mafia lain muncul dari lingkaran sihir itu. Setelah itu beberapa dari mereka mengedarkan pandangan dan terlihat bingung dengan apa yang mereka lihat.
"Aree ... katanya dipindahkan tapi kita masih di tempat yang sama?" Tanya 'King' mereka Uzumaki Naruto yang terlihat bingung dengan apa yang ia lihat.
"[Rating Game antara Uzumaki Naruto-sama melawan Riser Phenex-sama akan segera dimulai]" Sebuah suara langsung terdengar di segala penjuru lokasi dilangsungkannya pertandingan itu. Pemilik dari suara barusan itu adalah Grayfia yang merupakan pengamat dari Rating Game kali ini.
"[Lokasi pertarungannya adalah Kuoh Akademi. Itu karena lokasi ini menurut analisis kami kedua belah pihak sudah mengetahui seluk beluk lokasi ini]"
"Sepertinya kali ini akan sulit ... karena ini pertama kalinya kita bertarung di area seperti ini." Naruto berkomentar tenang menanggapi ucapan Grayfia yang entah dari mana asalnya. "Jadi Shikamaru ... kami bergantung pada Strategimu kali ini." Tambah Naruto direspon anggukan kecil dengan wajah malas oleh Shikamaru.
"[Pertanding dimulai!]" Ujar Grayfia memulai.
Setelah mendapatkan isyarat untuk memulai. Keluarga Naruto tidak langsung melakukan pergerakan melainkan mereka terlihat tengah berdiskusi mengenai strategi apa yang akan mereka gunakan. Selang beberapa menit secara serentak mereka semua mengangguk paham. Naruto kemudian maju selangkah ke depan kemudian balik badan dan memandang keluarganya dengan senyum tipis.
"Rock 'n' Roll!"
Naruto berujar mengucapkan semboyan yang para penggemar musik aliran Rock seantero bumi pasti mengetahuinya. Arti dari ucapannya itu adalah 'mari beraksi' dan dengan anggukan mantab seluruh keluarganya pun ikut mengatakan hal yang sama. Naruto mendapatkan kata itu ketika dirinya tengah menonton konser di TV apartemen mereka.
"Rock 'n' Roll!"
.
.
.
TBC
Oke ... Sekian dulu Chapter 10 Fic GaJe milik saya ini
Balasan Review para Guest
raya djatnika : Entar saya pikirin tujuh keliling dulu :v
MATAkami : Hmnn ... Tsunade ? ... bagaimana caranya Naruto menemukan dan mereinkarnasi Wanita ber'aset' jumbo itu?
12senpai12 : Lihat saja nanti hehehe ...
Untuk kesekian kalinya Author berterima kasih kepada kalian karena telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.
Akhir kata dari saya tinggalkanlah jejak berupa Review ... Baik tanggapan atau berupa sebuah saran dan akan saya balas melalui PM. Karena Review anda merupakan bahan bakar/penyemangat untuk saya agar melanjutkan Fic ini.
.
.
.
.
.
Ryusuke RootWood Out!
