=Disclaimer=

Seventeen belongs to God and his family. Seventeen's heart belongs to his fans. And this storyline / plot belongs to me.

=Genres=

Romance, Fluff, Friendship, Brothership, Hurt

=Rated=

Around K, K+, T, and T+ (?)

=Warn=

This story contains full of boys love and his cheesy things. If you don't like the pairing or the story, just love them juseyo XD

WONWOOCAPER Proudly Present

.

.

.

At Jihoon's home.

"Sulit dipercaya. Kau takut pada Jeon Wonwoo? Oh God! Ayolah Soonyoung-ah aku tahu kau tak selemah itu. Dimana dirimu yang dulu sering melindungi aku dan Seungcheol saat anak-anak lain menjahili kami? Dimana dirimu yang mati-matian membela Dokyeom saat dia difitnah mencuri pakaian dalam anak perempuan–"

"EHEM!" Suara merdu milik Dokyeom menginterupsi perkatan Jihoon.

"Ehehehe Dokyeom-ah jangan begitu. Aku kan hanya berusaha menguatkan Soonyoung agar dia–"

"Tapi tak perlu mengungkit-ungkit masalah itu lagi kan Jihoon-ssi?"

"Ya! Hentikan perkataan sok formalmu itu Dokyeom-ssi!"

Lagi. Selalu suasana seperti ini yang terjadi di antara empat anak manusia ini jika sedang besama. Disaat kedua bocah itu masih sibuk berdebat masalah formal-tak formal yang memang tidak penting itu, dua bocah lelaki lainnya malah sibuk membaca-baca komik Kuroko no Basket milik Jihoon yang berserakan di sana-sini.

"Seungcheol-ah, kalau dipikir-pikir apakah sifat Jihoon yang selalu absolute itu karena terpengaruh komik ini?" tanya Soonyoung sambil tetap membaca.

"Hm…maksudmu?"

"Yah…seperti karakter bernama Akashi Seijuuro ini, Kapten dari Rakuzan. Apapun yang dikatakannya harus terjadi dan memang akan terjadi. Memang kau pikir kenapa dia tak pernah dihajar oleh Wonwoo cs padahal jelas-jelas dia selalu bertengkar dengan Mingyu setiap hari?" Soonyoung tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap Seungcheol yang terlihat tidak peduli dengan perkataan sahabatnya itu.

"Hmm mungkin karena Jihoon kecil. Jadi Wonwoo merasa kasihan."

"YA!"

Tubuh Seungcheol yang awalnya berbaring di kasur Jihoon berguling ke samping hingga dahinya berciuman mesra dengan lantai kamar karena terkejut dengan –suara dua orang? Empat orang?

"Haish! Kenapa berteriak hah? Kalian pikir suara kalian merdu?" –sambil mengusap-usap dahinya.

"Memang sih suara merdu disini hanya aku yang punya. Tapi kau jangan seperti itu dong Seungchol hyung membuat pipiku merona saja." Dokyeom sudah berada di samping Seungcheol dan melakukan aegyo.

Sontak ketiga bocah yang ada disana minus Dokyeom menendang tubuh Dokyeom jauh-jauh dan berteriak untuk mengambilkan minuman untuk mereka. Baiklah sebenarnya itu tindak penganiayaan. Tapi Dokyeom memang pantas untuk dianiyaya kan? Hiahaha /dibakar reader/

.

= WONWOOCAPER =

.

At another place.

"Mingyu-yaaa dimana kau? Aku pulaaang" teriak seorang lelaki bertubuh kurus begitu memasuki rumah megah yang diketahui milik keluarga Jeon.

Kepala Mingyu menyembul dari balik kamar bertuliskan 'Prince Mingyu's Room'. Heol umur berapa kau Jeon Mingyu masih menggunakan sebutan Prince seperti itu.

"Hei Jeon. Kemana saja kau? Apa kau sudah menemukan seseorang untuk kau kencani huh? Seenaknya saja meninggalkanku di parkiran. Kau pikir berapa lama aku harus berlari menghindari fans-fansku hah?" semprot Mingyu begitu melihat Wonwoo hendak memasuki kamar yang berada di sebelah kamarnya.

Wonwoo hanya tersenyum dan melemparkan bungkusan entah apa itu kearah Mingyu yang langsung ditangkap dengan sigap olehnya. Masih mengamati bungkusan apa yang dilemparkan Wonwoo padanya, sehingga ia tak sadar Wonwoo sudah mulai memasuki kamarnya sendiri. Sontak Mingyu segera akan menyusul masuk ke kamar saudaranya itu ketika sebuah suara menginterupsi dari dalam.

"Berhenti disana Jeon Mingyu. Apa kau tak membaca tulisan di depan kepalamu yang idiot itu huh?"

Mingyu mengernyit sebentar kemudian mendapati tulisan 'DO NOT ENTER! STAY AWAY!' tertempel manis di dekat lubang kunci kamar Wonwoo tersebut. Sambil memutar bola matanya malas, dan setelah mengucapkan kata 'haish' dengan cukup kencang, seakan tak perduli dengan perkataan saudaranya ia menerobos masuk ke dalam kamar Wonwoo.

"Berhenti menyebutku idiot Jeon. Kau pikir siapa yang akan membaca tulisan itu jika kau letakkan di sana? Dasar idiot!"

"Terserah. Yang pasti berhenti memanggilku Jeon Jeon Jeon, kau pikir apa margamu hah?"

"Hehe habisnya cocok sekali denganmu sih. Hahahahahahah"

Wonwoo hanya memutar bola matanya malas. Ingin sekali dia menendang kepala tak berisi milik saudara tampannya itu. Tapi ia tahu diri dia tak akan bisa hidup tanpa keidiotan Jeon Mingyu sehari saja. Jadi dia hanya menggeplak kepala Mingyu yang direspon dengan erangan oleh sang empunya kepala.

"Panggil aku hyung." –kata Wonwoo.

"Tidak mau."

"Jeon Mingyu!"

"Tidak mau Jeon Wonwoo. Kita itu kembar jadi kenapa aku harus repot-repot memanggilmu hyung." Katanya cuek.

"Hhh…meskipun begitu aku lahir lebih dulu jadi kau harus memanggilku hyung."

"Tidak."

"Harus."

"E em." –sambil menggeleng.

"Idiot."

"Berandal."

"Tiang."

"Kurus."

"Sok populer."

"Sok playboy."

"Manja."

"Tukang bolos."

"Tukang tidur."

"Aku tidur saat mengantuk saja kok." (Heol you don't say Jeon Mingyu-_-)

"Dasar jomblo."

"…" skakmat! Mingyu akhirnya mengatupkan mulutnya saat mendengar kata keramat itu. Wonwoo hanya tersenyum sinis mengetahui saudaranya sudah mati kutu.

"Dasar GAY!"

–hening. Kemudian hening tercipta di antara keduanya. Mingyu menyunggingkan smirknya mengetahui fakta bahwa ia bisa membalas kata-kata keramat yang terlontar dari bibir Wonwoo.

"Kau juga seorang gay Jeon Mingyu. Tidak ada yang normal di antara kita. Satu-satunya yang normal adalah aku jenius dan kau idiot. Terima kasih. Sekarang keluarlah dari kamarku. Hush hush!"

"Ya! Ya! Seenak jidat kau mengusirku. Bungkusan apa ini? Jangan-jangan kau nyabu ya? Astaga Eommaaaa!"

"Benar kan apa kataku. Dasar idiot kau. Itu oleh-oleh untukmu karena hari ini aku sedang bahagia."

"Hah? Bahagia kenapa?"

"Emm tidak tahu. Hanya bahagia saja. Memangnya tidak boleh? Yasudah sini kembalikan."

"Eetetetetet ehehe terimakasih 'hyung'." Mingyu masih cengengesan karena senang tumben-tumbenan saudara kembarnya itu memberinya sesuatu selain caci maki dan tendangan sayang di bokong tentunya.

"Jadi? Ada apa? Tumben kau membombardirku dengan pesan."

Mingyu hanya menggeleng lalu dengan nyaman merebahkan diri di kasur king size milik Wonwoo.

"Aku hanya sedikit merasa kesal karena seharian tadi si mungil sama sekali tak menggangguku. Biasanya setiap pagi dia akan segera menghampiriku untuk sekedar menendang kakiku atau memaksaku mem-piggy back-nya ke kantin."

"Lee Jihoon?" Wonwoo ikut merebahkan dirinya di kasur miliknya setelah melemparkan seragam sekolahnya ke segala arah. Toh ada pembantu, pikirnya.

"Hm. Dia hanya duduk tenang di depan meja ssaem dan mencatat apapun yang dituliskan ssaem di papan. Bahkan saat jam istirahat berbunyi dia masih diam di tempat duduknya dan hanya bermain smartphone." Pandangan Mingyu terlihat menerawang.

"PFFFTT –HAHAHAHHAHA bagus sekali Jeon Mingyu akhirnya kau jatuh cinta pffft aduh perutku sakit." Dengan tak berprikembaran Wonwoo malah tertawa berguling-guling di samping Mingyu yang menatapnya jengah.

"Berhentilah Jeon aku tidak sedang dalam mode bercanda."

"Fuhh –aku juga tidak bercanda Mingyu-ya. Kau sedang mengalami yang namanya sindrom Love-Hate Relationship mungkin?" kata Wonwoo setelah berhasil menghentikan tawanya.

"Hah? Bahasa apa itu? Jangan bicara bahasa Prancis."

PLAK –geplakan sayang lagi-lagi hinggap di kepala Mingyu. "Aku heran kenapa kau yang idiot ini punya banyak fans sih? Mereka hanya belum menyadari keberadaan seorang Jeon Wonwoo yang tampan dan jenius ini ckckck."

"Dan berandal. Jangan lupakan fakta penting itu hyung. Sudahlah, jadi…arti bahasa Prancis itu apa?"

"ITU BAHASA INGGRIS YA TUHAN JEON MINGYU!"

"Ehehehe mian aku kan tidak tahu." –Mingyu cengengesan.

"Lupakan. Yang pasti kau sedang jatuh cinta pada teman sekelasmu itu. Kau merasa kesepian karena dia tiba-tiba tidak mengganggumu kan?"

"Aku tidak–" perkataannya segera dipotong oleh Wonwoo.

"Kau merindukan saat-saat dia mengoceh hal tidak penting di depanmu kan?"

"Sudah kubilang kan a–" dipotong lagi.

"Kau merindukan tendangan kakinya dan sikap absolutenya kan?"

Kali ini Minggyu terdiam.

"Kau rela diperintah olehnya kan? Bahkan mem-piggy back-nya setiap hari?"

Minggyu mengangguk samar.

"Kau ingin dia selalu di sisimu kan?"

Mingyu ingin membantah namun entah mengapa mulutnya terkatup rapat dan hanya terdiam memandang wajah Wonwoo dengan pandangan sulit diartikan.

Wonwoo hanya tersenyum mendapati wajah Mingyu yang blank. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu kamarnya, sebelum tangannya meraih gagang pintu itu ia menolehkan kepalanya kearah saudara kembar yang sangat disayanginya itu.

"Tentukanlah kemana arah hatimu sebelum terlambat. Aku keluar dulu." –kemudian tubuh kurusnya menghilang dibalik pintu.

Mingyu hanya menerawang jauh ke langit-langit kamar Wonwoo memikirkan kata-kata saudara kembarnya.

.

= WONWOOCAPER =

.

Pagi ini suasana Pledis High School terlihat riuh. Gerbang sekolah bagian luar terlihat penuh sedangkan bagian dalam sangat sepi. Terlihat hanya segelintir siswa yang berada di dalam lapangan sekolah itu, sedangkan sebagian besar masih tertahan di depan gerbang sekolah.

Yah, memang jam masih menunjukkan pukul 06.33 sehingga belum banyak siswa yang datang ke sekolah namun tetap saja pemandangan ini mengundang tanya. Tidak mungkin gerbang sekolah masih ditutup sementara di dalam sudah ada beberapa siswa yang berkumpul di tengah lapangan melihat fenomena apa yang terjadi.

Rupanya si kembar dari keluarga Jeon. Bukan, ini bukan karena para fans yang mengerubungi Jeon Mingyu setiap hari, tapi saudara kembarnya. Ya, Jeon Wonwoo terlihat sangat angkuh berdiri di depan gerbang Pledis High School. Bukan, bukan. Ia tidak sedang dikerubungi para fans. Jangankan fans, beradu pandang dengannya saja tidak ada yang berani bagaimana bisa ngefans. Ckck.

"Kumohon Wonwoo-ssi biarkan aku masuk. Apa kau tak melihat semakin banyak siswa yang tak bisa masuk karenamu?"

"Lakukan dulu apa yang kusuruh." Wonwoo menggeleng santai.

"Tapi aku–"

Oh rupanya seorang namja manis bersurai pirang kotor sedang dihadang oleh berandal sekolah, Jeon Wonwoo. Ia mengatakan pada namja manis itu untuk berlutut di hadapannya karena telah mengoloknya kemarin. Karena namja manis yang bername tag Kwon Soonyoung itu menolak, maka Wonwoo menggunakan cara lama –mengancam. Ia tidak memperbolehkan siapapun melewati gerbang itu sebelum Soonyoung berlutut di hadapannya. Maka terjadilah pemandangan alam seperti sekarang ini.

Sorot matanya melemah dan matanya terpejam menahan tangis, akhirnya Kwon Soonyoung menetapkan pilihan setelah selama kurang lebih lima belas menit ia terus berdiam diri dan melihat semakin banyak siswa yang terhenti jalannya karenanya. Dengan tubuh yang bergetar ia menunduk dan mulai menekuk kakinya sedikit-sedikit. Seringai kejam mulai tercetak jelas di bibir Jeon Wonwoo melihat sang namja manis akhirnya mengaku kalah.

Belum sempat lututnya menyentuh bumi, lengannya segera ditarik paksa oleh seseorang sehingga dirinya tak jadi berlutut. Oh Tuhan terima kasih karena kau menyelamatkan harga diri seorang Kwon Soonyoung. Dengan sigap lelaki tinggi itu menggenggam erat pergelangan tangan Soonyoung dan menatap tajam namja di depannya –Jeon Wonwoo.

"Jangan berani menyentuh atau berinteraksi dengan Kwon Soonyoung atau kau akan berhadapan denganku." –namja tinggi itu berkata penuh penekanan dan terkesan tidak main-main.

"Kalian boleh masuk. Kajja Soonyoung-ah." Lanjutnya dengan mengedarkan pandangan pada siswa-siswa lain dan menarik lembut pergelangan tangan Soonyoung yang lemah untuk menjauh dari situ.

Masih terkejut dengan kejadian barusan membuat Wonwoo terdiam dengan pandangan kosong. Namun tak lama ia segera membalikan badan dan menatap marah kearah kedua namja yang mulai berjalan menjauhinya.

"YA! KAU LEE SEOKMIN!" Wonwoo berteriak marah memanggil nama namja tinggi tadi.

Lee Seokmin menghentikan langkahnya dan berbisik pelan ke telinga Soonyoung. "Masuklah duluan. Sebentar lagi Seungcheol hyung dan Jihoon hyung akan datang. Arraseo?"

Soonyoung hanya menatap mata Seokmin dalam diam. Jujur saja saat ini ia merasa takut berada dalam dekapan Seokmin karena baru kali ini ia melihat sisi lain dari Seokmin yang begitu tegas, dingin, dan…ia berdebar lagi. Ia mengangguk tipis dan segera melangkahkan kakinya menuju kelas meninggalkan seokmin yang masih setia dengan posisinya membelakangi Wonwoo.

Sebuah tangan dingin menepuk pundak lebar milik Seokmin dan sebuah bisikan tajam setajam pisau hinggap di indera pendengarannya.

"Ikut aku." –Ia tahu Jeon Wonwoo tidak akan melepaskannya begitu saja.

TO BE CONTINUED

.

.

.

Nyiahahahah akhirnya ngebut bikin chapter dua sebelum dihadang oleh UTS ;A; Saya mau mengucapkan terimakasih buat yang udah ninggalin jejak berupa follow, fav, atau ripiu. Termasuk para silent reader-nim terima kasih sudah meramaikan viewers FF ini ;;; Saya senang sekali ternyata FF nista ini lumayan diminati ;A; Sepertinya banyak yang berharap ini meanie ya? Hikz iya ini memang meanie tapi dalam konteks yang lain(?) Nyiahahaha. Oke saya mau balas ripiu dulu yepz.

Maafkan pen name saya nista ya u,u ini sudah panjang belum? (Yara Aileen) ini sudah updet dear ;) (apriyaninf1) yaampun saya seneng banget dengan ripiu alay xx-nim ;;; pairing? Mungkin sudah terbaca di chapter ini? Hehe. Iya Wonwoo demen caper sama Hoshi di SVT TV yaaampun xx-nim juga tau? ;A; ini sudah panjang belum? (lovexxlove) diusahakan bikin yang maniz-maniz deh buat kamu ;) (guest) maaf saya penganut meanie itu kembar ;;; (Guest) sebenernya mau diajakin curhat ampe malem sayangnya udah diskak mat duluan si Gyutem XD (270) ini sudah lanjut dear ;) (nickchan9095) emm….. #dihujat habis-habisan (Anna-Love 17Carats) sebenernya Mingyu kalem kok cuma idiot aja dia(?) emang Wonwoo garang bat nyiahaha (kurokurakwayun) maaf dear saya penganut wonwoo seme ;A; (Cutiepie Jimin)

Monggo dipencet kotak review-nya jika berminat memberi masukan ;A;

Salam Caper dan Maho,

=WONWOOCAPER=