=Disclaimer=

Seventeen belongs to God and his family. Seventeen's heart belongs to his fans. And this storyline / plot belongs to me.

=Genres=

Romance, Fluff, Friendship, Brothership, Hurt

=Rated=

Around K, K+, T, and T+ (?)

=Warn=

This story contains full of boys love and his cheesy things. If you don't like the pairing or the story, just love them juseyo XD

WONWOOCAPER Proudly Present

.

.

.

Seokmin, atau lengkapnya Lee Seokmin berjalan gontai dengan raut muka yang terbilang berantakan menuju kelasnya di 11-2. Masih terngiang dengan jelas pembicaraan singkat antara dirinya dan Jeon Wonwoo si berandal sekolah beberapa menit yang lalu.

Flashback

"Untuk apa kau ikut campur urusanku dengan namja tadi?"

"Katakan apa maumu Jeon Wonwoo."

Sebuah smirk indah tercetak di bibir Wonwoo, "Apa pedulimu?"

"Dia sahabatku jelas aku peduli apapun yang terjadi padanya."

"Begitukah? Aku tak begitu yakin pedulimu hanya sebatas itu."

"Apa maksudmu?"

"Aku dengar kau dan dia memiliki hubungan spesial."

Seokmin membuang nafasnya dan dengan ketus menjawab, "Itu cerita lama."

"Hohoho jadi benar rupanya kalian memiliki hubungan lebih dari sekedar teman." –nada mengejek.

Alih-alih menanggapi perkataan Wonwoo, Seokmin hanya menghembuskan nafas berat kemudian berbalik hendak meninggalkan Wonwoo setelah sebelumnya berkata, "Jika kau memanggilku hanya untuk hal ini, aku permisi dulu."

"Menghindar hm?"

Seokmin menghentikan langkah kakinya namun tak berbalik. Samar-samar ia lihat Wonwoo terkekeh pelan.

"Sudahlah. Aku dan kau tidak saling mengenal dengan baik. Jadi sebelum ada pertumpahan darah, kuminta kau tidak usah mencampuri urusanku dengan namja itu. Mengerti?"

"Semua yang berhubungan dengan Soonyoung akan berhubungan denganku juga."

"Hmmph– baiklah terserahmu. Semakin kau ikut campur semakin berbahaya nasibnya di tanganku. Lagipula–" Wonwoo sengaja menggantung kalimatnya dan berjalan santai kearah Seokmin sambil berbisik tepat ditelinganya.

"–dia tipe kesukaanku." dan Jeon Wonwoo melenggang meninggalkan Seokmin yang masih mematung di tempat. Tanpa sadar kedua tangan Seokmin mengepal dan matanya seakan mengeluarkan sinar laser yang mana dapat membelah apapun yang ditatapnya.

"Soonyoung hyung…"

Flashback end.

.

= WONWOOCAPER =

.

Akhirnya bel pulang berbunyi nyaring dan entah mengapa kali ini Jeon Wonwoo sangat betah berada di dalam kelas mengingat kebiasaannya yang selalu kabur dari pelajaran dan membuat guru-guru yang mengajar di jam-jam terakhir berteriak marah karena ulahnya yang selalu datang tiba-tiba. Seharian ini kerjaannya hanya duduk tenang di tempat duduknya walau sesekali membuat huru-hara dengan teman-temannya di kelas. Teman-temannya yang heran segera mengerubunginya dan mulai berceloteh.

"Oy Jeon, tidak biasanya kau betah berlama-lama dikelas?"

"Benar. Apalagi kau tidak beranjak sama sekali dari tempat dudukmu huh?"

"Jangan-jangan dia sedang menderita ambeyen. Bahahahah"

"Sembaranngan kau Jun. Mana ada orang ambeyen malah betah duduk. Dasar idiot."

"Eh enak saja kau. Bukankah IQ mu jauh lebih rendah daripada aku? Woo!"

Suasana kembali ricuh karena saling tuduh IQ siapa yang paling rendah ckckck. Tunggu dulu. Suasana riuh seperti ini kenapa tidak terdengar suara seorang Jeon Wonwoo sedikitpun? Padahal dia ada di sana kan, di antara teman-temannya yang cerewet bukan main. Iya, dia masih disana. Duduk tenang sambil tersenyum memandangi teman-temannya satu persatu dan terkadang tertawa.

"Ya! Wonwoo-ya jawab kami. Apa kau sudah mulai tobat huh? Berandal sekolah berhenti mengacau dan berubah menjadi siswa teladan. How cute bahahhaa."

"Ah aku rasa tak masalah mengencanimu setelah kau berubah menjadi cute hahaha."

Mendengar hal itu, dengan sangat sopan khas Jeon Wonwoo menendang bokong namja yang mengatakan bersedia mengencaninya itu, kemudian tersenyum –ah bukan, lagi-lagi seringai yang menawan.

"Aku berhenti karena bosan mengerjai guru-guru, lagipula mereka membosankan dan gampang sekali tunduk padaku. Kenapa aku betah sekali duduk di bangku milikku yang sangat nyaman ini? Hm mungkin karena aku sudah menemukan sebuah objek baru untuk kujadikan 'teman' bermain disini?" Seperti disengaja, Wonwoo mengatakannya dengan jelas dan lantang penuh penekanan di kata 'teman' sehingga semua yang berada di kelas itu mendengar.

Hening.

"Y-ya! Jeon kau jangan bercanda."

"Haha benar…masa kau akan menarget salah satu dari kami? Haha" tawa hambar terdengar dari seluruh penjuru kelas.

"O ow. Kau salah Dongjin-ah statusnya bukan hanya 'akan' tetapi 'sudah'. Lagipula–" lagi-lagi Wonwoo mengggantung kalimatnya –dan memandang kearah seseorang yang terlihat pucat– yang membuat seisi kelas menahan napas. Oh God! Memang sebegitu menakutkannya kah dirimu Jeon Wonwoo?

"–dia sudah mengolok aku. Sepertinya dia namja yang menarik. "

Dingin. Tubuh Soonyoung terasa sangat dingin dan kaku di saat sang berandal sekolah yang juga sialnya sekelas dengannya selesai mengatakan perihal 'teman baru'nya itu. Dia terus menundukkan kepalanya dan sebisa mungkin tidak melakukan pergerakan yang berarti. Sebenarnya dia paham, dia sangat mengerti kalau 'teman' yang dibicarakan barusan adalah dirinya. Tanpa sadar dia menggenggam erat ujung seragam milik Seungcheol yang memang sedari tadi dipegangnya.

"Soonyoung-ah, kau tidak apa-apa?"

Namja manis itu hanya menggeleng lemah.

"Mukamu pucat. Apa kau ingin ke UKS? Biar aku antar ."

Masih menggeleng. Sekarang ekspresi wajahnya seperti sedang menahan tangis. Melihat itu, mau tak mau Seungcheol segera berdiri dan membawa Soonyoung keluar dari kelas yang mulai terlihat riuh kembali setelah suasana mencekam beberapa waktu lalu. Soonyoung hanya menurut saja ditarik lembut oleh sahabatnya itu.

Wonwoo yang melihat adegan 'mari menggandeng tangan target Jeon Wonwoo' itu segera berhenti tertawa dan melihat kepergian kedua namja itu dengan tatapan datar. Cukup lama ia terdiam tanpa berekspresi terlihat sedang memikirkan sesuatu, hingga lima menit berlalu akhirnya ia memutuskan untuk menyusul kedua namja tadi.

.

= WONWOOCAPER =

.

Cukup lama Wonwoo mengitari gedung sekolah yang terbilang luas itu, namun tak ditemukanya sesosok namja yang sedang dicarinya. Hanya ada satu tempat yang belum dijamahnya, taman halaman belakang sekolah. Tanpa pikir panjang ia segera melangkahkan kaki-kaki kurusnya ke sana.

Tak lama ia sudah menapakkan kaki di halaman belakang sekolah yang lumayan teduh itu. Sedang kaki-kakinya berjalan menyusuri taman belakang yang cukup cantik oleh pohon-pohon rindang yang menaungi jalan setapak di bawahnya dan jangan lupakan sebuah kolam kecil yang semakin menambah suasana keindahan di salah satu SMA terkenal di Seoul itu, Jeon Wonwoo mendengar suara dua orang –atau lebih?– sedang bercakap tak jauh dari tempatnya berdiri.

Seakan familiar dengan salah satu suara itu, ia segera mendekat sekedar ingin memuaskan rasa penasarannya.

"Mworago?"

"Aish aku menyukaimu. Jadilah kekasihku Lee Jihoon?"

Sontak Wonwoo menyembunyikan dirinya di balik pohon besar yang untunglah ada di dekat situ. Sejenak ia bertanya-tanya mengapa ia harus sembunyi? Ini terlihat ia sedang menguntit. Oh heol demi Tuhan, ia –Jeon Wonwoo– menguntit saudara kembar idiotnya sendiri? Tidak, tidak, ia kan hanya tidak sengaja lewat dan mendengarkan saja… benar! Ia hanya mendengarkan. Mendengarkan saudara kembarnya itu –Jeon Mingyu– sedang menyatakan cinta pada teman sekelasnya. Lee Jihoon?

Pffft demi apapun Jeon Wonwoo sudah akan melompat keluar dari balik pohon itu dan menendang Mingyu sekuat yang ia bisa. Heol! Mana ada orang menyatakan perasaan dengan ekspresi seperti itu. Bayangkan Mingyu berucap kata cinta pada Lee Jihoon dan meminta menjadi kekasihnya dengan ekspresi…blank setengah bodoh? Oh ayolah Jeon Mingyu, mana ada yang akan menerima cintamu jika seperti itu? Yang ada kau akan langsung ditolak dan–

"Mianhae Mingyu-ya."

Wonwoo melongo. Mingyu memasang tampang idiot khasnya. Kemudian hening sesaat, hanya terdengar suara hembusan angin yang menambah kesan dramatis akan apa yang akan keluar dari bibir namja mungil itu.

"Aku…ada seseorang yang sudah lama ku kagumi– ah tidak, tapi aku sukai. Jadi…mian." Kata-kata itu meluncur dengan sedikit ragu dari bibir mungil Jihoon.

"Apa– aku boleh tahu siapakah namja beruntung itu?"

Terjadi jeda beberapa saat.

"Choi Seungcheol. Siswa 11-7." Jihoon mengatakannya dengan mantap.

"Ah…aku mengerti. –tersenyum– Berbahagialah Jihoon-ah dan raih cintamu. Maaf jika kau terganggu dengan pernyataanku barusan. Anggap saja –menghela napas berat– anggap saja aku tak mengatakan apapun." –masih tersenyum namun senyuman yang sarat akan kesakitan. Entahlah rasanya baru kali ini putra keluarga Jeon itu merasakan perasaan rumit dan sakit seperti ini.

Dengan segera Mingyu meninggalkan namja mungil itu dan bergegas menuju ke– kemana? Ia tak tahu. Yang ia tahu adalah pergi sejauh-jauhnya dari hadapan namja yang barusan mengoyak hatinya itu.

Jihoon yang melihatnya hanya melongo dan kemudian mengedikkan bahu acuh.

"Dasar idiot! Bagaimana bisa dia meninggalkan aku duluan sementara dia yang memintaku kesini. Aish sialan kau Jeon Mingyu!"

Kemudian terdengar suara langkah kaki menjauh, meninggalkan seorang bocah lelaki yang tadi masih bersembunyi di balik pohon rindang itu. Bocah lelaki itu menerawang jauh ke depan sambil memegang dada kirinya yang berdenyut nyeri. Hah, ada apa Jeon Wonwoo? Hei apa kalian lupa jika mereka adalah saudara kembar? Dan saudaranya itu baru saja ditolak mentah-mentah oleh sang pujaan hati. Entahlah rasanya Wonwoo bisa ikut merasakan rasa sakit yang kini mendera hebat hati saudaranya itu.

.

= WONWOOCAPER =

.

Sementara itu di atap gedung sekolah.

"Sebenarnya kau itu kenapa Soonyoung-ah? Bukannya ke UKS kau malah menarikku kesini."

Soonyoung masih terdiam, sebagai jawaban sebuah pelukan hangat menghampiri tubuh Seungcheol. Sejenak namja bertubuh atletis itu membatu, namun sedetik kemudian ia segera membalas pelukan si namja manis dan membelai surai pirang miliknya lembut.

"Sudah…ada aku disini. Kau bisa menangis selama kau mau Soonyoung-ah"

"Ani…aku bukannya mau menangis. Enak saja kau! Aku hanya– aku emm…"

Seungcheol tersenyum. Tidak heran dengan sifat sahabatnya itu yang akan berpikir seribu kali dulu sebelum mengutarakan isi hatinya. Benar, mereka sudah saling mengenal sejak dari masa kanak-kanak mereka dan how lucky ternyata rumah mereka pun hanya dipisahkan oleh tembok pagar yang tak terlalu tinggi. Maka hanya dengan melihat saja, Seungcheol tahu betul apa yang sedang mengganggu pikiran namja manis itu. Ia mengulum senyum nakalnya sebentar sebelum menyeletuk,

"Jeon Wonwoo?"

Soonyoung mengejang sepersekian detik sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan meninju pelan dada sahabatnya itu.

"Ya!" bibirnya mengerucut imut.

Tawa Seungcheol pecah diiringi protesan manja dari namja di sebelahnya.

"Hahaha mian –mencoba menghentikan tawanya– jadi, kenapa dengan dia?"

"Aniya…aku hanya merasa setelah ini hari-hari indahku di SMA ini akan menjadi neraka sampai aku lulus –menghembuskan napas– kurasa."

Seungcheol memilih diam mendengarkan.

"Tentang target barunya itu– entah mengapa aku merasa ada yang tak beres dengan nada bicaranya. Lagipula apa-apaan tatapannya itu saat memandangku! Oke katakan aku kegeeran tapi demi Tuhan dia tadi memandang kearahku saat berkata tentang target barunya! Belum lagi masalah aku mengoloknya. Heol! Siapa yang mengoloknya? Sensitif sekali sih jadi orang seenaknya menyuruhku berlutut. Memang dia pikir dia siapa hah? Kepala sekolah? Menteri? Presiden? Heol! Menyebalkan!"

"Pfffttt– bagus Soonyoung-ah akhirnya keluar juga kata-kata itu. Hahahaha"

"Yaa! Kau membuat suasana hatiku makin keruh saja Choi Seungcheol!"

Seungcheol masih tertawa keras sambil bertepuk tangan seolah itu adalah hal terlucu selama dia hidup mengenal Kwon Soonyoung. Sementara yang ditertawakan hanya bisa manyun sambil berulang kali merapalkan kata-kata kutukan untuk sahabatnya itu. Puas tertawa selama hampir hm…lima menit? Heol! Namja bersurai hitam pekat itu menyeka ujung matanya sebelah kanannya yang mengeluarkan setitik bening air mata saking kerasnya dia tertawa. Kemudian dia memegangi perutnya yang terasa kram.

"Ahahaha aduh perutku rasanya mati rasa– aaw!" –memegangi perutnya yang terasa nyeri terkena cubitan sayang dari Soonyoung.

"Rasakan!"

"Appo~" Heol? Ini adalah suara seorang Choi Seungcheol yang merajuk? Jangan lupakan bibirnya yang mengerucut sempurna. OH.

"Apa? Berhenti memasang tampang menjijikkan itu tuan Choi kau. sama. sekali. tidak. imut."

"Siapa bilang aku imut? Aku manly dan aku tampan."

"Benar. Tampan setelah aku." –tersenyum lebar sambil berpose ala Idol Korea.

"Kau manis bukan tampan. Dan kau imut. Kalau tidak, mana mungkin kita bertahan selama itu?"

Deg.

Soonyoung segera memalingkan wajahnya kearah lain dan berdehem pelan. Ia menggeser duduknya sedikit dan setelahnya bangkit berdiri, berjalan kearah pagar pembatas, dan mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat pemandangan di bawah sana. Ini masih jam istirahat, jadi terlihat banyak manusia yang berlalu-lalang sibuk dengan urusan masing-masing.

Tiba-tiba badannya membeku saat merasakan nafas seseorang di samping wajahnya mengalir begitu jelas. Dan dia harus menahan nafas karena suara seseorang tersebut berbisik tepat ke telinganya.

"Sedang melihat apa? Tiba-tiba saja meninggalkanku sendirian."

Yang ditanya hanya menggeleng sebgai jawaban. Bukan bermaksud mengacangi, tapi– ayolah! Mana ada orang yang akan tetap membuka suaranya dengan posisi terlampau dekat seperti itu? Belum lagi suasana langit Korea yang memang sedang sedikit mendung semakin mendukung suasana romantis ini. Apa? Romantis?

"Soonyoung-ah…"

Namja manis itu masih bungkam menahan nafas. Tak lama sebuah tangan terulur menyentuh kedua telapak tangan Soonyoung dan merentangkannya bersamaan dengan tangannya yang tepat berada di belakangnya persis seperti adegan paling romantis di Film terkenal Titanic –ketika Jack dan Rose merentangkan tangan mereka bersama-sama seolah menantang angin untuk menerpanya di ujung kapal pesiar yang megah itu–.

"Eh?" –Soonyoung.

Seungcheol tertawa pelan karena mengetahui wajah terkejut milik Soonyoung yang demi apapun imut setengah mati. Yang ditertawakan hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya ikut tersenyum. Angin semilir membelai lembut wajah keduanya dan membuat mereka terhanyut dalam suasana romantis itu. Iya. Suasana romantis kalau saja suara pintu yang berderit dan suara deheman –yang amat sangat mengganggu– seseorang menginterupsi kegiatan mereka.

Sontak keduanya segera melepaskan tautan tangan masing-masing dan menolehkan kepala mereka untuk mendapati seorang namja kurus bersurai hitam sedikit berantakan sedang bersandar di tembok dekat pintu dengan tangan menyilang di depan dada.

'Huh sok keren sekali!' itu adalah kalimat pertama yang terpikir di otak seorang Kwon Soonyoung ketika melihat gaya angkuh namja itu.

"Maaf mengganggu kemesraan kalian tapi Lee Seongsaenim mencarimu Tuan Ketua Kelas. Dan aku yang sibuk ini harus rela berlarian kesana kemari demi untuk mencarimu yang ternyata sedang sibuk berpacaran disini ckckck"

"Ah maaf merepotkanmu Wonwoo-ssi. Aku segera menemui Lee ssaem. Permisi."

Seungcheol bergegas meninggalkan atap sekolah dan sebelum melewati berandal sekolah itu, dia malah sempat-sempatnya tersenyum sambil menganggukkan kepala menggumamkan kata terima kasih padanya. Ckck tidak sadarkah kau Tuan Choi kalau lawan bicaramu itu sedang kebakaran jenggot dan– bodoh sekali kau meninggalkan sahabat imutmu sendirian di atap gedung sekolah bersama dengan Tuan Muda Jeon. Hah.

Sedang sepeninggal Seungcheol, Soonyoung yang sadar alarm tanda bahayanya berbunyi segera melangkahkan kaki bermaksud meninggalkan tempat angker itu. Belum sempat kakinya berjalan dua langkah, sebuah suara berat menginterupsinya.

"Mau kemana hm? Bukankah aku baru saja tiba?"

Seringai tampan tercetak sekali lagi di bibir pemuda kurus itu dan semakin lebar ketika mendapati wajah sang mangsa mulai memucat dan mata sipit yang bergerak gelisah. Sepertinya bermain-main sedikit tidak masalah, pikirnya.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Baahahaha chapter 3 dateng nih walaupun dengan alur yang sedikit maksa dan jalan cerita serta pairing yang semakin random. Saya sadar ini pairingnya masih blur ya reader-nim tapi ditunggu aja chapter depan saya usahain udah ada yang terang kok :')

Nah mau balas ripiu duluuu~~

Kalo kembar kenapa dear? ;;; (apriyaninf1) aaa ada mingyu jihoon shipper ulala saya bahagia :'v terus ripiu yaa biar saya semangat juga nulisnya chan-ssi(?) (nickchan9095) pen namenya….saya speechless :') mas wonwoo kayaknya ga doyan juga sama seokmin jadi ga akan diapa-apain kok ;;; lol (wonwooganteng) terima kasih ;) (oktivani12) aslinya juga idiot kok, nasty pula makanya saya seneng banget pas nulis part Mingyu :'v #dibakar (kurokurakwayun) ini sudah update dear ;)(oktivani12) pada nebak ini meanie yah? Maafin kenistaan sayah ;A; (Anna-Love 17Carats) HunGyu nanti saya banyakin deh buat kamu XD ini sudah panjang belum? (Jung Eun Ri714) OMG! Baru ini ada yang suka WonShi moment huwee pengen mewek sayah :'v ah iya sebenernya moment mereka banyak dan rated 17+ cuman sepenggal-sepenggal wkwk (Xiao Chims)

Ini sudah 2K masih kurang panjang? ;A; saya minjem anu bang Wonu dulu ya biar dipanjangin ama dia lololol. Terima kasih buat yang sudah mengapresiasi dengan pencet tombol foll, fav, dan ripiu. Juga para silent reader-nim yang naujubilah angkanya mumumu~ :**

Kalo ada kritikan atau mungkin kasih ide chapter selanjutnya mau dibuat gimana, bisa bilang saya ne ;;; akhir kata bijak dari sayah

Salam Caper dan Maho,

=WONWOOCAPER=