Disclaimer : Masashi Kishimoto
AU. OOC. Ficlet. Sekuel Kawin Lari.
.
.
Haruno Sakura mondar-mandir gelisah di sebuah toko roti yang tak jauh dari rumah. Berkali-kali dia menggerutu gelisah, menyumpahi seseorang karena sebuah keterlambatan, sambil melirik jam tangannya.
Darui masih belum juga tiba. Dia terlambat seperti biasa.
"Dasar jam karet." Sakura mengeluh sebal.
Sekali-kali dia ingin pacarnya itu jadi tepat waktu. Terutama dalam keadaan kepepet seperti sekarang. Si Om-Om pengacara tua yang disebut 'Uchiha Sasuke' yang bulan lalu resmi menikahinya (setelah insiden kawin lari unik yang memalukan) sudah memberi kesempatan padanya untuk pergi dengan orang yang dia cintai.
"Aku tahu kamu terpaksa menjalani pernikahan ini. Baiklah, aku memberimu dan pacarmu kesempatan. Aku akan melepasmu, kalau dia sungguh-sungguh mencintaimu dan mau berjuang untukmu," begitulah kata Sasuke beberapa waktu lalu. Dengan senang hati Sakura segera menelpon Darui, menyuruh pemuda itu datang ke Konoha untuk membawanya pergi dari sang suami. Darui menyanggupinya, dia juga senang mendengar penjelasan Sakura mengenai Sasuke yang mau melepasnya, kalau Darui mau berjuang untuk Sakura. (Walau kemarin-kemarin sempat dongkol setengah mati karena pernikahan Sakura dengan si lelaki pengacara tua).
Dan disinilah Sakura sekarang. Pada pukul setengah dua belas malam, masih berdiri di depan toko roti, menunggu sang pacar yang sudah enam jam yang lalu mengatakan bahwa dia telah berada di bandara Amegakure dan siap terbang ke Konoha. Seharusnya Darui sudah sampai. Perjalanan menggunakan pesawat dari Amegakure ke Konoha tidak memakan waktu lebih dari satu jam. Dan perjalanan dari Bandara Konoha menuju toko roti dekat rumah Sasuke, bahkan tidak lebih dari dua puluh menit.
Apa Darui kesasar?
Ah. Itu tidak mungkin! Sakura sudah mengirimkan alamat rumah Sasuke, lengkap dengan peta dan denah rumahnya (oke, denah ini dibutuhkan kalau Darui berniat sekalian menggasak isi rumah pengacara kondang tersebut.) Dan juga alamat toko roti tempat Sakura akan menunggu dia. Jadi dia tidak mungkin kesasar. Tapi bisa jadi juga sih, Darui itu kan buta arah dan tidak bisa membaca peta, bisa jadi dia memang kesasar.
.
.
Dua jam lagi menunggu. Sakura sudah hampir menangis. Berkali-kali dia coba menelpon Darui, namun nomernya tidak aktif. Sakura berpikir pacarnya itu sudah tidak lagi mencintai dia, dan bahkan Darui tidak lagi mau berjuang untuknya.
Duduk meringkuk di emperan toko, Sakura memasang tampang nelangsa sambil mengingat kenangan masa lalu indahnya dengan Darui. Tentang bagaimana cowok itu menembaknya, kencan pertama, dan bahkan ciuman pertama mereka.
"Ah. Mungkin Darui tidak datang karena terjadi sesuatu padanya!" Pemikiran itu membuat Sakura cemas. Dia membayangkan bahwa Darui terjebak dalam kecelakaan pesawat menuju Konoha. Mungkin pesawat yang Darui tumpangi terjatuh ke laut, menabrak gunung, atau bahkan tidak sengaja menabrak Superman yang lewat, atau mungkin juga sudah nyasar ke Markas SHIELD. Oke, dua opsi terakhir memang ngawur, tapi siapa tahu juga sih.
Khawatir, Sakura kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mencari berita di Internet. Tentang kecelakaan pesawat dari Amegakure menuju Konoha.
.
.
Sakura menangis sejadi-jadinya. Ini sudah hampir jam empat pagi, dan tidak ada berita tentang kecelakaan pesawat dari Ame ke Konoha di internet.
Darui tidak datang. Cowok itu tidak mau memperjuangkannya. Dia tidak lagi mencintainya. Kenyataan itu membuat hati Sakura sakit. Dia merasa menjadi gadis bodoh, seharusnya dia mendengar nasihat orang tuanya tentang pemuda itu, seharusnya dia tidak meninggalkan suaminya demi dia, dan seharusnya dia tidak dibutakan oleh cinta.
Sekarang Sakura kebingungan. Dia tidak tahu harus pulang kemana. Ke rumah orang tua? Ah, tidak. Ibunya akan membunuhnya kalau dia tahu alasan Sakura keluar dari rumah suaminya dan pulang ke Ame. Pulang ke rumah Sasuke? Itu lebih tidak mungkin lagi. Sakura malu. Dia sendiri yang memilih untuk meninggalkan suaminya demi Darui, dan lagipula kalau Sakura pulang ke rumah Sasuke ... Apa Sasuke mau menerimanya lagi?
"Dia tidak datang?"
Tubuh Sakura menegang mendengar suara berat yang belakangan ini familiar di telinganya. Dia mendongak, dengan manik hijau yang masih dipenuhi liquid bening, Sakura menatap sosok di depannya dengan sorot sedih dan malu. Sasuke mendesah. Lelaki berusia matang itu masih terlihat memakai setelan jas dan celana hitam, dipadu kemeja putih tanpa dasi, dengan dua kancing atas kemeja yang terbuka. Rambut gelapnya yang agak panjang acak-acakan.
"Ya sudah. Ayo kita pulang." Sasuke mengulurkan tangan pada Sakura, yang masih setia duduk meringkuk di emperan toko, "Kamu sudah lama kan nunggu dia di sini."
Sesengukan, Sakura hanya bisa mengangguk.
"Dia tidak akan datang. Dia tidak mau memperjuangkanmu."
Perkataan Sasuke membuat air mata Sakura mengalir lebih banyak.
"Jadi ayo pulang bersamaku. Dan tetap jadi istriku."
Sakura terdiam selama beberapa menit, dengan berbagai pertimbangan yang muncul di otaknya, akhirnya Sakura membalas uluran tangan Sasuke. Seketika dia bangkit dan masuk ke pelukan Sasuke, karena sedikit tarikan keras dari suaminya.
"Kamu tahu, sebagai istri seorang Uchiha, kamu tidak boleh lagi duduk di emperan toko dengan wajah seperti ini," dan juga menunggu laki-laki lain sambil menangis patah hati, "karena orang-orang akan mengira aku sudah melakukan kekerasan terhadap istriku." Karena aku bukan orang yang suka berbagi hati dan akan menjadi tidak masuk akal jika cemburu. "Jadi tetaplah di rumah dan bersikaplah sebagai seorang istri yang baik." Jadi tetaplah berada di sisiku agar aku bisa membahagiakanmu selamanya.
Sakura tak menjawab pernyataan Sasuke. Dia masih terisak pelan dalam pelukan suaminya. Sasuke mendesah. Tak berkata apapun lagi, dia mengambil koper berwarna merah muda yang tergeletak di sekitar kaki gadis itu, lalu menuntun istrinya untuk pulang ke rumah. Sakura ikut tanpa membantah.
Samar sebuah seringai licik yang amat tipis tersungging di bibir si pengacara kondang.
.
.
Pada saat yang sama di bandara di sebuah kota kecil di Otogakure. Ay Darui tampak linglung berbicara dengan petugas maskapai penerbangan yang jasanya dia gunakan. Dia bingung, kenapa tiket pesawatnya yang seharusnya bertujuan ke Konoha, berubah menjadi ke Otogakure? Dan lagi ... Kenapa petugas maskapai penerbangan di bandara Amegakure menuntunnya menuju pesawat yang salah?
Darui terus berdebat dengan si petugas, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang sejak di pesawat terus mengawasinya. Seorang lelaki bersetelan rapi seperti pebisnis, dengan rambut cokelat jabrik, dan sebuah senyuman malas yang senantiasa tersungging di bibirnya. Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dan menghubungi seseorang.
"Halo."
Sapaan bernada datar di seberang membuatnya terkekeh. "Sekarang dia berada di Otogakure. Sai berhasil menukar tiket dan menuntunnya ke pesawat yang salah. Saat ini aku sedang berada di Bandara Otogakure, menunggu penerbangan menuju Konoha, sambil mengawasi target."
"Pastikan dia tidak akan mendapat kursi di pesawat yang menuju Konoha ini."
Inuzuka kembali tertawa geli mendengar perintah dari atasannya. Sebagai seorang pengacara baru, dia tidak menyangka akan mendapat 'misi' aneh seperti ini dari pemilik firma hukum tempat dia bekerja.
"Tenang saja Bos, pesawatnya sudah ku-booking untuk diriku sendiri menggunakan uangmu. Jadi tidak perlu khawatir.
"Hn."
Sambungan telpon terputus. Inuzuka Kiba meringis. Memasukan kembali ponsel ke sakunya, dia menatap prihatin pada Darui yang kini (terdengar) sedang berusaha mendapatkan tiket ke Konoha, namun tidak berhasil. Hingga akhirnya pemuda itu terpaksa memesan tiket pesawat untuk kembali ke Amegakure.
Menurut Uchiha Sasuke, anak muda berbadan besar itu mencoba merebut istrinya, hingga dia harus 'disingkirkan'. Tidak boleh berada di Konoha untuk saat-saat sekarang (dan mungkin seterusnya). Sasuke mengirimkan dua bawahannya yang terpercaya, Sai dan Kiba, untuk memastikan Darui tidak menginjakan kakinya ke Konoha.
Dalam hati Kiba membuat catatan mental untuk tidak berurusan dengan laki-laki licik dan manipulatif seperti Sasuke.
.
.
Finish
